Jumat, 19 Maret 2010

Pergulatan Agama, Sains dan Cinta Sang Galileo

Mujtahid

SEBAGAI seorang ilmuan, Galileo adalah tokoh yang memiliki reputasi spektakuler dan dikenal punya ide-ide cerdas dalam melahirkan sains baru. Kecerdasan pikirannya itu tertuang dalam sejumlah karya Masterpiece-nya, yang sampai saat ini masih banyak dikaji oleh peminat saintis modern. Keluhuran namanya terlukis dalam lembaran tinta emas yang sulit terhapus, bahkan diabadikan menjadi nama pesawat luar angkasa.
Namun sayangnya, dari kaum agamawan (pihak gereja) mereka memandang dengan sinis terhadapnya. Sebab hasil temuan dari pikiran cerdas Galileo itu sering menimbulkan bertentangan dengan “takdir dan ayat-ayat Tuhan”. Bahkan, kaum Gereja sempat mengklaim Galileo sebagai tokoh yang anti agama “kafir”. Tetapi bukan Galileo namanya, kalau ia tidak tetap “bandel” menyuarakan kebenaran sains lewat pikiran geniusnya.
Padahal, menurut penceritaan lewat seorang putrinya (Suster Maria Celeste), Galileo adalah tokoh yang sangat taat dan menghargai agama, mencintai pengetahuan dan menyukai estetik. Kredibilitas dan kearifan Galileo kala itu, hampir sulit dapat ditandingi ilmuan-ilmuan lain. Setiap goresan tinta yang ia ditorehkan dalam sejumlah karya-karyanya, telah menyumbangkan peradaban sains yang luar biasa. Dari sinilah ia mulai merintis jalan pengembaraan untuk menciptakan “sains baru” yang dihasilkan menurut logika dan uji coba berulang-ulang kali. Hingga akhirnya, ia dijuluki sebagai bapak filsuf dan matematikawan oleh ilmuan sesudahnya, tak terkecuali Albert Enstein.
Dari sudut pandang agamawan, Galileo merupakan figur yang “menghebohkan” dataran keyakinan yang sudah mapan. Bahkan, lewat institusi Gereja raja Paus Urbanus VIII mengultimatumnya, terutama ketika ia mendukung sebuah teori Copernicus. Terori itu menurut pahan Gereja bententangan dengan Kitab Suci mereka. Karena tidak mungkin pusat alam semesta dan bumi berputar mengelilingi matahari. Dengan kearifannya, ia menerima koksekuansi walaupun dijatuhi dengan hukuman.
Dava Sobel (2004), berusaha meluruskan kenyataan pahit yang menyelimuti Galileo. Mungkin bisa dibilang satu “pembelaan” yang ditujukan kepada pihak lain yang berlaku tidak adil terhadap Galileo. Sobel menceritakan secara lengkap dan dibuktikan 124 surat Suster Maria Celeste yang ditujukan sang ayahandanya. Selain itu, Sobel juga “mencitrakan” sisi-sisi romantisme Galileo di depan anaknya tercinta, yang turut mengisahkan rerelungan Galileo yang selama ini kurang terekpos oleh banyak orang.
Tepatnya di kota Pisa, 15 Februari 1564, Galileo dilahirkan. Dari pasangan Vincecio Galileo dan Giulia Ammannati ini, ia diberkahi potensi daya otak yang cerdas dan brillian. Secara genetik, mungkin sifat keberaniannya itu mewarisi ayahnya, yang sering berbeda pendapat dengan guru dan mitra dialognya. Kontroversi tersebut tampak jelas sekali dalam sebuah buku yang berjudul Dialoque An-cient an Modern Music. Karya tersebut mengisahkan tentang elaborasi musik yang cenderung pada penataan keindahan bunyi alat musik, daripada aturan kuno yang kukuh dengan hubungan ketat antarnada.
Sejak usia muda, minat Galileo cenderung menyukai bidang matematika. Meski penah mampir mengenyam ilmu kedokteran di Universitas Pisa-lantaran paksaan orangtua-, Galileo tak pernah padam dari minat dan cita-citanya itu. Sampai akhirnya ia tidak merampungkan kuliahnya karena beda keinginan. Anehnya, ketika ia kembali ke kampung halaman, ia justru menulis paper perdananya yang bertajuk “geometri’ untuk mengisi seminar di Akademi Florentina. Dengan ketegasan, kemandirian dan keilmuannya, kemudian banyak Pendidikan Tinggi (universitas) melamarnya menjadi staf pengajar, termasuk di Universitas Pisa.
Pikiran Galileo untuk menguak semesta tak pernah berakhir. Dengan hasil temuannya sendiri berupa alat teropong, ia mampu menggali keajaiban alam semesta yang tak terbayangkan sebelumnya. Tepatnya pada 1610 M, ia berhasil menyuguhkan temuan baru berupa bulan Yupiter, temuan ini sekaligus memberi kontribusi penyempurnaan buku The Starry Messenger. Sebelumnya, pujaan Galialeo terhadap Teori Nicolaus Copernicus (1473-1543 M) dalam On the Revolusions of the Ceestial Orbs semakin menguatkan pendiriannya bahwa matahari adalah pusat alam semesta. Tak lama kemudian, ia menggoreskan karya terkenal “The Theory of The Tides” suatu karya yang mengkaji tentang gerak pasang surut, sekaligus juga mengukuhkan teori heliosentris.
Sejumlah temuan barunya mengoncang kemapanan masyarakat kala itu, sehingga kebenaran sains yang ia kembangkan harus berhadapan dengan kebenaran kitab suci. Tantangan terberatnya adalah kaum Gereja yang selalu mengintimidasi ide-ide kreatifnya. Tetapi dengan segala kearifan ilmunya, ia mampu menunjukkan sejumlah bukti dan teori secara nalar ilmiah. Lalu, ia mengarang sebuah buku yang sangat populer yakni “Dialoque Concerning the two Shief World Systems”. Buku Galileo satu ini, membakar kemarahan kaum agamawan. Akibat buku inilah, akhir riwayat Galileo akhirnya dijatuhi hukuman sel rumah hingga menjumpai ajalnya.

*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar