Minggu, 14 Maret 2010

Konsep al-Fana, al-Baqa dan al-Ittihad

oleh Mujtahid*

DI kalangan sufi, Abu Yazid al-Bustami[1] adalah orang pertama yang mencetuskan konsep al-Fana, al-Baqa dan al-Hulul. Karena untuk memasuki alam tasawuf yang disebut dengan Ittihad (mystical union) harus terlebih dahulu melewati tangga itu. Selama belum dapat mencapai itu, maka tidak akan bisa menyatu dengan Tuhan.
Konsep fana’ merupakan tahapan awal yang berarti meleburkan diri. Dari kata faniy, fana atau al-fana’ yang artinya hacur, hilang (disappear, perish, annihilate). Kalau seorang sufi ingin mencapai tingkat ittihad, maka tahapan al-fana’ ini merupakan bagian yang tidak dapat ditinggalkan oleh seorang sufi. Sedangkan makna yang dimaksud dari al-fana ini adalah menghilangkan segala yang berbentuk materi maupun sifat-sifat perbuatan jahat atau kemaksiatan. Setelah perbuatan buruk hilang, maka tinggallah yang sifat-sifat yang baik.
Sementara konsep al-baqa’ adalah kelanjutan dari pengertian al-fana yang berarti ‘tetap’, terus hidup (to remain persevere). Jadi kalau sesuatu yang tetap dan memiliki substansi yang sangat esensial. Sesuatu yang esensial adalah bagian apa sesungghunya ada pada diri Tuhan itu. Jadi konsep baqa’ dalam hal ini merupakan sesuatu sifat baik.
Untuk memahami lebih lanjut, dikatakan nahwa pengertian al-fana di sini bagi sufi adalah keinginan untuk menghancurkan diri (al-fana al-nafs) baik yang berbentuk perasaan maupun yang bersisifat fisiologis (tubuh kasar). Sebagaimana penjelasan Qusyairi yang dikutip Harun Nasutian berikut ini:
“Fana seseorang dari diriya dan dari makhluk lain terjadi dengan hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang makhluk lain itu…. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula makhluk lain itu ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya.”
Sehingga untuk menuju ke Tuhan perlu al-fana’ an al-nafs yakni kalau wujud jasmaniahnya tak ada lagi (dalam arti tak disadarinya lagi), maka akan tinggal (baqa’) wujud rahaniahnya saja, dan ketika itu pula ia dapat bersatu dengan Tuhan.
Adapun konsep ittihad adalah bersatunya seorang sufi dengan Tuhan. Yakni tingkatan yang tertinggi antara manusia dengan Tuhan sama. Sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang satu lagi dengan kata-kata “hai aku” (ya ana). Dalam ittihad kata A.R al- Baidawi seperti yang dikutip Nasutian, bahwa yang terlihat hanya satu wujud, sungguhpun benarnya ada dua wujud yang terpisah satu dari lain. Karena yang dilihat dan dirasakan hanya satu wujut, maka dalam ittihad bisa terjadi pertukaran peranan antara mencintai dan yang dicintai atau tegasnya antara sufi dan Tuhan. Dalam ittihad “identitas telah hilang, identitas telah menjadi satu”. Sehingga sampai-sampai sufi itu dapat berbicara dengan nama Tuhan, akibat dari proses al-fana tersebut.
Abu Yazid al-Bustami termasuk orang yang pernah melakukan proses fana dan baqa’ dalam tasawuf. Kemauan dan keinginannya untuk bersatu dengan Tuhan, maka ia menempuh dengan jalan fana dan baqa’ itu. Suatu hari, ia merasa rindu dengan Tuhannya, lalu mencari jalan untuk menuju ke hadirat Tuhan. Sampai ia bermimpi melihat Tuhan, berikut ini pengalaman mimpinya;
“Aku menlihat Tuhan Akupun bertanya: Tuhanku, apa jalannya untuk sampai kepada-Mu? Ia menjawab, “tinggalkan dirimu dan datanglah.”

Abu Yazid al-Bustami lalu meninggalkan dirinya dan pergi ke hadirat Tuhan. Bahwa ia telah berada dekat pada Tuhan, seperti yang terucap (syatahat) dari dirinya. Syatahad atau ucapan-ucapan yang dikeluarkan seorang sufi ketika ia mulai berada dipindtu gerbang ittihad. Ucapan demikian belum perah dengar dari sufi sebelum Abu Yazid, berikut ini contoh ucapan;
“Aku tidak heran cintaku pada-Mu
karena aku hanyalah hamba yang hina
Tetapi akuheran terhadap cinta-Mu padaku
karena Engkau adalah Raja Maha Kuasa.”
Yang kuhendaki dari Tuhan hanya Tuhan

Manusia tobat dari dosa-dosa mereka, tetapi akutobat dari ucapanku: “tiada Tuhan selain dari Allah,” karena dalam hal ini aku memakai alat dan huruf, yang Tuhan tidak dapat dijangkau dengan huruf dan alat.”

Masih banyak lagi kata-kata yang diucapkan oleh Abu Yazid dengan nada yang hampir tidak ada perbedaan antara dirinya dengan Tuhan. Bahkan sampai mengundang persepsi orang bahwa Abu Yazid telah gila, sebab dari kata-katanya ia mengucapkan:
“Maha Suci Aku, Maha Suci Aku, Maha Suci Aku.”
“Seorang lewat di rumah Abu Yazid dan mengetok pintu. Abu Yazid bertanya: “Siapa yang engkau cari?” Jawabnya: “Abu Yazid.” Lalu Abu Yazid mengatakan: “Pergillah di rumah ini tak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi.”
­
Kata-kata serupa di atas, bukan diucapkan oleh AbuYazid sebagai kata-katanya sendiri tetapi kata-kata itu diucapkan melalui diri Tuhan dalam ittihad yang dicapainya dengan Tuhan. Dengan kata lain Abu Yazid tidaklah mengaku dirinya Tuhan.[2]
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
[1] Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur Ibn ‘Isa al-Bustami. Ia lahir di Bistam, Persia pada tahun 874 M dan meninggal dalan usia 73 tahun. Ia seorang Zahid yang sangat terkenal dalam hal kesederhanaan dan kasih sayangnnya kepada kaum yang lemah. Ia sering melakukan perantauan dari satu tempat ke tempat lain, untuk mecari hakikat Tuhan. Sehingga sebagian besar waktunya digunakan untuk beribadah dan meuja Tuhan. Ia selalu zuhud demi mendekatkan diri kepada Allah dengan melalui beberapa fase, yakni zuhud terhadap dunia, akhirat dan terhadap selain Allah.
[2] Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1973, hal. 79-86.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar