Selasa, 09 Maret 2010

Menelisik Warisan Sejarah Muslim

Mujtahid*

PERJALANAN sejarah sosial muslim menyimpan magnit yang amat dahsyat. Kedahsyatan itu hingga kini masih saja memancing para pakar sejarawan, sosiolog, ahli politik serta agamawan menulis karya sejarah dengan pelbagai pendekatan dan perspektif beraneka ragam. Penulisan sejarah hingga kapan pun memancing minat dan daya tarik yang besar bagi sarjana dan ilmuan modern.
Tak terkecuali Albert Hourani, seorang ahli di bidang sosiologi asal Inggris yang mengkaji dan meneliti, di samping sebagai pengajar, yang sangat familier dan paham mengenai seluk beluk mata rantai sejarah dan budaya Timur Tengah. Sebagian besar karya-karyanya mengangkat tema-tema peradaban muslim, seperti “Arabic Thought in the Liberal Age 1789-1939, Syiria and Lebanon, Minorities in the Arab Wordl ” dan mengakhiri dengan menulis “A History of the Arab peoples”.
Karya yang terakhir itu, ditulis dua tahun sebelum dia meninggal dunia tahun 1993. Saat memanasnya suhu politik Timur Tengah, terkait dengan rencana Irak menginvasi Kuwait di satu pihak dan keinginan Amerika bersama sekutunya menghalangi rencana Irak tersebut di pihak lain. Momentum perseteruan itulah menjadikan ‘goresan tinta emas’ ini masuk daftar best-seller di New York.
Tidak diragukan lagi, bahwa karya monumental nan mutakhir tersebut merupakan hasil pengkajian komprehensif sejarah sosial muslim yang dinanti-nanti banyak orang. Paparan pokok pikiran dan konsep Hourani mengenai persoalan sejarah muslim sangat mudah ditangkap dan dipahami. Hal ini karena dia memulai dengan memetakan babakan sejarah bangsa-bangsa muslim itu ke dalam sebuah periodesasi (kurun waktu) yang sangat sistematis, mulai dari abad ke tujuh hingga abad dua puluh.
Kelahiran Islam di Tanah Arab merupakan awal dari sebuah embrio bangsa muslim, yang akhirnya mengekspansi hingga ke luar kawasan Jazirah Arab. Meskipun kedatangan Islam tidak diperuntukkan hanya untuk orang-orang Arab, namun kontribusi mereka terhadap Islam sangat besar, terutama pada masa awal penyebarannya.
Kedatangan Islam yang ditandai hadirnya nabi dan wahyu pasti berpijak pada suatu ruang dan waktu. Islam turun melalui perantaraan nabi keturunan Arab, dipeluk pertama kali oleh orang-orang Arab, kitab sucinya ditulis dalam bahasa Arab, dan kota suci utamanya terletak di jantung tahan Arab. Pantas, bila negeri Arab diidentikkan dengan Islam.
Rintisan karya sejarah muslim ini diawali mulai dari pra-Islam, tempat bersemainya Islam, sampai mencakup abad modern. Suatu bentangan waktu yang sangat panjang, setidaknya 12 abad lamanya. Hourani menceritakan hal ihwal bangsa Arab saat-saat turunnya Islam dan perkembangannya di negeri itu (abad ke-7 hingga ke-12), serta yang paling spektakuler adalah ia menjelaskan imperium-imperium muslim di era abad modern (1800-1939) dan era negara bangsa (1939 hingga yang mutakhir).
Berbeda dengan karya sejenisnya, buku ini menelisik warisan sejarah muslim dari pendekatan multi-perspektif. Meskipun sepintas terkesan berbau ‘politis’ dan ‘sosiologis’ karena menyebut dan meletakkan kata ‘bangsa’ atau ‘imperium’, namun penguraiannya tidak lepas dari aspek pemikiran keagamaan, doktrin Islam, tasawuf, budaya serta tokoh-tokoh muslim terkemuka.
Memang, secara garis besar pokok pembicaraan Hourani pada buku ini arahnya adalah aspek politik Islam (kekuasaan muslim). Namun, Ia selalu menghubungkan suatu pembahasan dengan aspek-aspek lain yang relevan guna menambah sumber kebenarannya. Inilah cara penyajian sejarah muslim yang mendalam berdasarkan realitas dan fakta yang empirik dan rasional.
Hourani mencatat secara kronologis pertumbuhan dan perkembangan kekuasaan di Tanah Arab. Ia juga berbicara tentang bentuk konfrontasi antara dunia muslim dengan dunia barat. Di penghujung karya ini, ia mengulas panjang lebar soal persatuan dan perpecahan Arab. Walau sesama bangsa muslim, mereka ada yang bersatu, tetapi juga ada yang berseteru.
Lengkapnya, Hourani menghadirkan lima kategori dalam buku ini. Yaitu menjelaskan tentang kerajaan dan negara muslim, mengulas struktur kemasyarakatan dan elitenya, menguraikan persoalan agama, seni dan kebudayaan, mengorek tentang kondisi rakyat kebanyakan, yang meliputi mobilitas penduduk, standar kehidupan, dan peranan wanita dalam masyarakat, dan memaparkan masalah gerakan politik, seperti kebijakan politik tentang pembentukan Palestina.

*) Mujtahid, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar