Minggu, 21 Maret 2010

Menyapa Tuhan Lewat Sains

Mujtahid
SEJAK tiga abad yang lalu, ketika Isac Newton membacakan bukunya yang berjudul Principhiae Philosophiae Matematica, di depan Royal Society of London, perkembangan sains melesat tajam. Tak kalah populernya, Charles Darwin memunculkan The Origin of Species pada abad 19, yang melahirkan konsep evolusi makhluk hidup, karya ini sekaligus mempertajam pemisahan perkembangan iptek dengan pemahaman keagamaan.
Namun pada dekade terakahir ini, hubungan sains dan agama menguat kembali. Hal ini terutama menyangkut soal temuan-temuan ilmiah oleh para sarjana muslim. Setelah sekian lama, sains dipandang mengancam keberadaan agama pada satu sisi, dan agama dipandang sebagai penghambat perkembangan sains di sisi lain, akhirnya dapat di pertemukan kembali melalui interpretasi yang sehat baik pada teks-teks kitab suci maupun lewat dimensi alam semesta ini.
Kekhawatiaran dan kecurigaan yang berlebihan terhadap saintis modern itu sesungguhnya terlalu berlebihan. Sebab, sains tidak akan pernah menjerumuskan manusia, sebagai kreator yang mengendalikan sains. Sains yang terbentuk pasti juga akan tunduk pada pemiliknya. Hanya saja, persoalan yang terjadi adalah pelaku itu sendiri yang menyalahgunakan sains.
Sebagai tanda bangkitnya kesadaran dan perhatian kaum muslim terhadap dunia sains, Mehdi Golshani (2004) menyuguhkan sebuah interpretasi bahwa semua bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta ini adalah sebuah jalan untuk menuju Tuhan. Seperti yang tersurat salah satu karyanya yang berjudul “Melacak Jejak Tuhan Dalam Sains”. Mehdi Golshani secara lugas memberikan pembacaan ayat-ayat Tuhan melalui sains modern.
Dalam Islam, Tuhan menurunkan pengetahuan (sumber informasi) kepada manusia melalui dua kategori. Kategori pertama, yaitu pengetahuan itu lewat wahyu yang sifatnya “given” dan dalam bentuk kata verbal. Pengetahuan ini berupa ayat suci al-Qur’an yang menjadi rujukan dan doktrin ajaran yang menyemangati kualitas hidup manusia ke jalan yang lurus. Sementara ketegori yang kedua, yaitu pengetahuan yang berasal dari hamparan alam semesta (kauniyah). Sumber pengetahuan kauniyah termasuk ‘‘adah al-alam” yang berhubungan dengan fungsi dan kemanfaatan alam ini diciptakan untuk manusia. Dua pengetahuan ini sama-sama menjadi perantara manusia untuk meyakini bahwa Tuhan itu benar-benar eksis.
Dari sumber teks-teks normatif, Islam sangat menjunjung tinggi serta menghargai pengetahuan. Bahkan salah satu ‘kualitas ibadah’ seseorang dapat dilihat dari segi kesalehan dan kualitas keilmuannya. Islam sendiri tidak membeda-bedakan antara sains yang umum maupun keagamaan. Kedua-duanya merupakan media manusia dalam melacak jejak Tuhan yang menurunkan-Nya. Jadi, untuk menuju Tuhan, tidak mesti pakai pengetahuan keagamaan, pengetahuan umum juga bisa. Dengan begitu, berarti Islam tidak menyediakan ruang terjadinya dikotomi sains.
Islam menghargai bahwa pencarian sains merupakan bentuk ibadah. Dari sudut ajaran Islam yang paling dalam sering diungkapkan bahwa “mencari ilmu adalah wajib bagi muslim mulai lahir hingga akhir ajal”. Tak kalah menariknya, kaum muslim dianjurkan mencari ilmu sampai ke negeri Cina, bahkan di kaum musyrik sekalipun. Jelas sekali, bahwa Islam menempatkan sains itu sebagai puncak dari sesuatu yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Pantas jika “jejak Tuhan” itu dapat di lacak dalam sains.
Cara menyapa Tuhan bukan hanya melewati jalan ritual. Namun, pengkajian sains pada hakikatnya metode lain untuk mendekat Tuhan. Metode ini pasti melakukan eksperimentasi, obserbasi, penalaran teoritis, intuisi untuk membuka seluk beluk alam semesta ini. Terlebih, alam sampai saat ini, masih menjadi lahan strategis yang bisa digali secara terus-menerus dan tiada habis. Karenanya, kejayaan peradaban Islam masa silam, kata Golshani, bukan semata-mata dilandasai ajaran normatif, tetapi karena ada semangat dan motivasi yang tinggi mencari ilmu-ilmu kealaman dan matematis yang Tuhan sediakan di muka bumi ini.
Kesadaran dan perhatian terhadap pengkajian sains oleh sarjana muslim terus bergulir. Hasil temuan-temuan mereka semakin menambah tingkat “kedekatan” kaum muslim dengan Tuhan. Selama ini, sains yang didominasi oleh temuan para saintis modern telah merenggangkan hubungan sains dengan agama, sekarang menjadi semakin mengukuhkan bahwa keduanya saling terjadi keteraturan.
Konteks keteraturan merupakan hal yang dikehendaki Tuhan. Sebab, diri Tuhan selalu bisa menjelma dengan apa yang Ia ciptakan, termasuk pada alam. Jadi dengan penguasaan sains, berati mendorong penguatan spiritualitas pada level yang tinggi. Bahkan, Golshani mengaskan bahwa sains dapat membawa ilmuan kepada Tuhan, jika sains ditafsirkan dalam kerangka metafisis yang tepat.
Sebagai seorang fisikawan, Golshani menggunakan penalarannya untuk menafsirkan sains ke dalam kerangka metafisis Islami. Upaya kreatif ini tentu berbeda dengan sebagian pemikir yang sering mencocok-cocokkan “keterkaitan” antara dimensi wahyu dengan dimensi alam. Usaha seperti itu, kata Golshani, merupakan kerja yang tanggung dan kurang percaya diri.

Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar