Selasa, 13 Oktober 2015



Menjadi Penulis itu (Sungguh) Menguntungkan dan Mencerdaskan
  

SETIAP penulis pemula, sedikit banyak pasti pernah merasakan rasa minder dan tidak percaya diri. Apalagi, ketika tulisan dibaca banyak orang. Hal ini wajar saja. Namanya juga pemula, segala sesuatu serba amatir, namun setelah lama kelamaan juga akan terbiasa. Bahkan, akhirnya bisa menilai kadar kualitas tulisannya sendiri. Dulu ketika mengawali menulis, saya juga merasakan begitu. Tetapi setelah belajar dan melakukannya terus menerus akhirnya rasa itu mulai berkurang. Yang penting dijaga dalam menekuni menulis adalah bagaimana cara membangkitkan ruh menulis itu.

Hampir setiap penulis, pasti pernah mengalami saat-saat menghadapi keletihan atau kevacuman. Apalagi tulisannya sering tertolak terus oleh media, bagi yang memang tulisannya untuk publikasi media. Nah, yang seperti ini kalau tidak didorong oleh ruh menulis yang kuat, bisa-bisa kita berhenti menulis, akhirnya jadi “mantan penulis”.

Pengalaman ditolak media adalah hal biasa yang dialami oleh penulis. Ditolak ataupun diterima oleh media massa merupakan konsekuensi logis yang harus tetap disyukuri, karena kita telah melalukan refleksi otak yang itu justru menyehatkan ruhani dan menunda kepikunan. Yang terpenting adalah membangun motivasi diri agar tetap meluangkan kesempatan menulis untuk menyalurkan ide/gagasan agar menyumbangkan jalan pemecahan untuk orang lain. Karena itu janganlah sampai berhenti menulis, sebab menulis itu bagian dari aktivitas hidup.

Lalu mengapa kita terus-terusan ngotot menulis, sedangkan beberapa tulisan sebelumnya tidak dimuat media. Alasannya yaitu kita harus menerima kegagalan, tetapi butuh keyakinan kuat akan bisa dan tanpa takut. Jadilah diri Anda seperti Napoleon Hill, Patih Gajah Mada, K.J. Rowling, mereka ini tergolong orang yang ngotot dan akhirnya sukses menyulap sesuatu yang tidak nyata menjadi kenyataan. Artinya, bekal keyakinan kuat dan dibarengi usaha kreatif (ikhtiar) itu sangat penting dan menentukan kesuksesan seseorang.

Menulis = Investasi
Dalam setiap diri sebenarnya sudah ada ruh menulis. Tapi ruh itu perlu terlebih dahulu dibangunkan, dikelola, dan diperkuat. Membangunkan, mengelola dan memperkuat ruh menulis memang butuh rangsangan untuk membangkitkan motivasi yang tinggi. Yaitu dengan cara membaca tulisan orang lain, mengunjungi pameran atau toko-toko buku, terlibat pada diskusi-diskusi/seminar.

Banyak keuntungan yang diperoleh jadi penulis. Kalau jadi penulis berarti tergolong manusia langka. Bukan persoalan bakat,-seperti yang sering diomongkan orang- tetapi menulis merupakan aktivitas langka dan unik. Artinya, tidak semua orang bisa melakukannya, bukan karena sulit tetapi lebih disebabkan kebiasan dan keberanian saja. Dalam pandangan psikologis, masalah bakat atau minat hanya sepuluh persen saja, selebihnya adalah usaha berlatih dan kerja keras.

Keuntungan lainnya adalah pekerjaan menulis sama halnya dengan investasi atau menabung. Berbeda dengan menabung di bank, menabung tulisan akan jauh lebih besar manfaatnya. Selain yang ditabung berupa pengetahuan dan keahlian, menulis sebenarnya sama dengan menabung uang. Semakin kita produktif menulis, berati semakin berpeluang saldo tabungan kita bertambah besar. Pengalaman ini sudah pernah saya buktikan bertahun-tahun dan memang buktinya sangat riil.

Selain keuntungan tersebut, bahwa menulis merupakan sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Semangat berbagi merupakan ajaran mulia Islam. Bahkan, wahyu yang turun pertama kali memerintahkan agar kita membaca. Maknanya adalah kita diperintah untuk membaca gejala sosial/alam, yang itu merupakan anugerah ilahi untuk dieksplorasi melalui penelitian atau tulisan. Melalui kerja menulis inilah transformasi peradaban dan kebudayaan ini dapat berkembang secara cepat.


Penulis = Genius

Guru selalu mengatakan kepada para muridnya “menulis adalah berpikir”. Para guru yang mencoba membuai mereka itu meyakini bahwa apabila mampu berpikir lebih jelas dan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, maka menulis dapat mengekspresikan pikiran, ide, gagasan, unek-unek di atas kertas maupun di unggah di media elektronik.

Nas
ihat guru di atas, bisa menjadi “guru” yang berharga bagi insan yang berjiwa penulis. Dengan sentuhan menulis, pikiran atau otak akan menjadi lebih hidup. Sebab menulis telah melibatkan banyak potensi-potensi psikis yang ada dalam diri manusia. Dan aktifitas seperti ini merupakan salah satu keterampilan atau keahlian langka yang dimiliki oleh orang lain. Lain halnya dengan bicara, sejak balita manusia sudah dilatih ngomong cas cis cus.

Menulis bukanlah sekadar merangkai huruf, frase dan kata-kata, melainkan cara untuk mengasah otak manusia agar jadi genius. Menulis merupakan pengerahan atas potensi pokok yang ada dalam benak pikiran/otak manusia. Menulis juga sebagai refleksi untuk mengubah dari sesuatu ide atau gagasan menjadi narasi ilmiah yang bisa dibaca dan dinikmati oleh banyak orang.

Kecerdasan otak (genius) adalah anugerah tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tetapi, anugerah yang diberikan Tuhan tersebut tidak pernah ada dalam sekali jadi. Melainkan harus dibentuk dan diproses dengan sungguh-sungguh, berlatih secara terus menerus agar menjadi tumbuh dan berkembang. Seringkali sikap malaslah yang mengalahkan anugerah tersebut, sehingga sedikit saja orang yang dapat dipandang sebagai seorang yang benar-benar genius.

Mark Levy (2005) membuktikan kalau seseorang ingin genius dapat ditempuh melalui menulis. Seperti yang dikemukakan dalam karyanya yang berjudul “Menjadi Genius dengan Menulis.” Mark Levy mengajarkan pengalaman kepada kita tentang bagaimana cara memulai, menata dan mengembangkan cara menulis dengan cepat dan sistematis. Sekalipun berlatar-belakang pebisnis ternama, Levy tidak pernah berhenti menulis. Karena menulis merupakan kebutuhan untuk mengungkapkan pikiran dan berbagi pengalamannya kepada orang lain.

Mengapa menjadi genius harus dengan menulis? Karena menulis merupakan suatu aktivitas yang melibatkan banyak “pancaindra” manusia. Aktivitas menulis jelas memerlukan kesadaran tinggi dengan disertai penghayatan mendalam. Orang menulis tidak bisa sambil tidur atau pun ngelamun, melainkan harus dengan keadaan sadar dan didukung sistematika yang teratur.

Kegiatan menulis selalu diawali dengan memusatkan pikiran dan berimajinasi terlebih dahulu hingga menggerakkan organ jari-jari tangan. Inilah bedanya dengan ceramah, cerita atau dongeng. Jadi, keunikan menulis yaitu kegiatan alamiah yang menggerakkan otak, saraf, rasa, memory, serta organ fisik dalam diri manusia dalam waktu yang bersamaan.

Menurut Levy ada enam “skenario rahasia” membuat tulisan. Pertama, lakukanlah menulis dengan santai. Artinya, aktivitas menulis jangan sampai menghabiskan energi hingga ketahanan tubuh menjadi lemah dan jatuh pingsan. Justru dengan ketegangan yang tinggi biasanya menulis cenderung kurang mengalir (seret) dan sulit keluar ide-ide yang cemerlang.

Kedua, berlatih menulis dengan cepat secara terus-menurus. Menulis merupakan bentukan keterampilan yang dilakukan secara terus-menerus. Untuk menulis dengan cepat, Anda harus menyiapkan bahan yang memadahi untuk ditulis, dan reasoning itu sudah ada di benak dan pikiran Anda.

Ketiga, bekerjalah dengan tenggat waktu. Tenggat waktu menjadi sangat penting untuk membiasakan proses menulis. Mulailah dengan latihan menulis selama tiga menit, ambillah buku, majalah, koran atau mengakses media lainnya sebagai rangsangan untuk menghadirkan ide kembali. Tuangkan ide tersebut ke dalam tulisan yang sistematis dan enak dibaca. Setelah tiga menit, lakukanlah dengan menambah waktu yang cukup lama, hingga menjadi bagian dari aktivitas harian Anda.

Keempat, tulislah sesuai dengan yang Anda pikirkan. Kegiatan menulis adalah mentransfer sesuatu yang ada dalam benak pikiran Anda. Walau kadang disertai mengutip, tetapi harus tetap melewati pikiran dan otak terlebih dahulu. Gunakanlah bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, setidak-tidaknya bagi Anda sendiri. Karena hasil tulisan harus bermanfaat, sekalipun untuk diri sendiri. Anda harus memakai logika yang jelas, pilihan kata yang baku, dan sedikit menarik perhatian.

Kelima, ikutilah pemikiran Anda. Pada saat Anda menulis, pikiran dan ide harus dituangkan apa adanya sesuai dengan logika yang benar. Kalau butuh bandingan, pilihlah bandingan yang signifikan dengan fokus pikiran Anda. Carilah hubungan dengan sesuatu yang mungkin telah lebih dulu ditulis orang lain, tetapi cobalah tetap konsisten dengan pikiran yang Anda alami.

Keenam, arahkan kembali perhatian Anda dengan pengubah fokus. Menulis selalu membutuhkan evaluasi, yaitu untuk melihat sampai sejauhmana tingkat ketajaman dan kelemahan dari fokus apa yang hendak ditulis. Bila perlu, komentari tulisan Anda sendiri sebagai bentuk perhatian terhadap tulisan yang sudah Anda hasilkan. Sebelum menulis, ajukanlah sebuah pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu, agar dapat memompa pikiran dan merangsang gairah dalam menuangkan tulisan yang lebih segar dan tajam.

Dari keenam skenario tersebut, hanyalah sebuah teori saja. Yang penting adalah kita perlu mencoba dan membuktikan apakah dengan menulis mampu membuat otak kita cerdas (smart). Tentu saja, butuh keberanian dan keajegan (istiqamah) agar apa yang Anda lakukan tidak menambah beban pikiran, yang justru akan menyebabkan stres.
[]
Mujtahid, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)  UIN Maulana Malik Ibrahim Malang




Senin, 12 Oktober 2015

MEMBANGUN PENDIDIKAN TINGGI ISLAM BEREPUTASI DUNIA (Menggalang Prestasi dan Aksi UIN Maliki Malang Menuju World Class University)



A.     Sketsa Awal: Prestasi dan Aksi
Memasuki usia satu dasawarsa (sepuluh tahun), sejak berubah status dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) pada 21 Juni 2004 lalu, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengalami lompatan historis yang sangat ekspektatif di tengah arus persaingan perguruan tinggi di tanah air. Capaian dan prestasi gemilang tersebut telah menggugah pikiran, membuka pandangan, serta mengundang perhatian banyak kalangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
            Sebagai perguruan tinggi Islam yang bermula sangat kecil dan belum masuk perbincangan skala nasional, kini UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki kekuatan dan keunikan yang luar biasa. Sentuhan kepemimpinan Imam Suprayogo selama empat periode berturut-turut atau enam belas tahun, mampu memainkan peranan universitas ini menjadi referensi atau ”rujukan utama” bagi semua pihak, tidak saja bagi perguruan tinggi Islam melainkan juga perguruan tinggi umum dari segala penjuru dunia.
            Kesuksesan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan dan takdir belaka, akan tetapi karena dibangun atas tekad, spirit dan motivasi yang kuat untuk menjabarkan ”Islam yang sesungguhnya”. Yaitu menjabarkan ajaran Islam yang mendorong umatnya, agar menjadi umat yang unggul, terdepan dan berkontribusi bagi pembangunan peradaban masyarakat, negara dan dunia yang bernilai tinggi.
            Alhasil, kini UIN Maliki Malang ditunjuk oleh Menteri Agama RI bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk diproyeksikan menuju World Class University (WCU). Amanah sekaligus kepercayaan itu adalah tantangan baru yang harus dilewati dan dijawab dengan kerja sungguh-sungguh secara sistemik dan penuh dedikatif oleh seluruh sivitas akademika. Seperti pada masa transisi perubahan (transformasi) dari STAIN ke UIN, semua warga kampus harus ambil bagian sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing.
Semangat juang, pengorbanan serta dedikasi selama ini yang telah ”mendarah daging”, menyatu jiwa raga,  bagi semua warga kampus sepertinya akan ”diuji kembali” demi tercapainya tujuan dan cita-cita menjadikan universitas Islam negeri ini bereputasi dunia. Untuk menggapai keinginan itu sebenarnya tidaklah ringan, akan tetapi sivitas akademika telah memiliki modal historis, modal intelektual serta modal sosial yang luar biasa untuk memenuhi harapan itu.
Melalui beberapa modal di atas, spirit untuk menjadikan UIN Maliki Malang sebagai ”kampus nomor 1” di dunia sepertinya mendapat titik terang. Kini sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki universitas jauh mengalami peningkatan secara signifikan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sebagai modal intelektual, universitas saat ini memiliki dosen yang bergelar doktor lebih dari 35 persen. Semakin bertambahnya SDM yang berkelas itu, tentu dampaknya ialah detak jantung dan urat nadi kampus akan bergerak secara normal. Kompas perjalanan dan kemajuan universitas ini ke depan sangat ditentukan oleh SDM yang hebat dan unggul dengan ditopang kearifan spiritual dan moral (akhlak).
Sementara itu, modal sosialnya adalah universitas ini telah menjalin kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri, baik berasal dari negara tetangga (ASEAN), negara Timur Tengah maupun negara Barat. Selain itu, universitas juga menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait, misalnya; Islamic Development Bank (IDB), JICA, serta beberapa lembaga lainnya. Belum lagi kepercayaan dari organisasi Islam dunia, organisasi Islam tanah air, serta para ulama’ dania, para tokoh, para ahli dan para ilmuwan.
            Adapun yang tidak kalah penting untuk menjadikan jalan mulus universitas ini menuju WCU adalah modal historis. Sejak sepuluh tahun terakhir, kampus ini dikenal oleh ”orang luar” sebagai kampus yang ”serba bisa” untuk mengubah dari yang tidak mungkin menjadi mungkin, dari yang tidak percaya menjadi percaya dan begitu seterusnya. Melalui modal historis itulah kebangkitan ”jilid dua” UIN Maliki Malang perlu disentuh dan dihidupkan kembali. Kesuksesan historis universitas ini bukanlah kebetulan dan keajaiban belaka, melainkan ada kobaran semangat, lembaran jiwa ikhlas (altruistik), serta ketulusan hati dari para aktor, pelaku dan penggerak kemajuan kampus ini.
GAMBAR 1:
TIGA MODAL UTAMA MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY


 
           









Melalui tiga modal tersebut di atas, prestasi dan aksi menuju universitas bertaraf internasional terbuka lebar. Kebangkitan UIN Maliki Malang ”jilid dua” ditentukan peran-peran strategis dan taktis oleh semua pihak, baik dari pimpinan tertinggi hingga pada lapisan paling bawah. Sesuai dengan slogan dan jargon pada saat launching WCU yang digelar bersamaan dengan peringatan Hari Jadi Kementerian Agama RI ke-68 (3/1/2014), bahwa kampus ini memerlukan gerakan massif ”one heart”, ”one spirit”, ”one vision”, dan ”one teamwork”. Energi dan kekuatan sumber daya yang dimiliki universitas harus diorganisir, dikelola dan diberdayakan secara optimal.
Cita-cita menuju universitas bereputasi dunia merupakan tonggak penting sekaligus menandai sejarah baru bagi kampus UIN Maliki Malang. Saatnya semua warga kampus membuka lembaran baru agar konsentrasi dan fokus dalam menjalankan aksi dan kreasi yang tepat sasaran dan tujuan. Kampus yang memiliki trademark perpaduan antara perguruan tinggi dan ma’had aly, pusat sekaligus pelopor pembelajaran bahasa asing (bilingual) bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta pengakaderan tahfidz al-Qur’an ini merupakan keunikan sekaligus distingsi (daya beda) dari perguruan tinggi lain yang ada di dunia. Sebagai pijakan awal, barangkali keunggulan, prestasi dan daya beda (distingsi) itulah sebagai pintu masuk menuju WCU.

B.     Ukuran Tradisi Akademik Bertaraf Internasional
Sejak berdiri tahun 1960-an yang silam, tradisi akademik di kampus ini telah cukup dikenal oleh kalangan luas, baik secara regional maupun nasional.  Sekalipun berstatus cabang dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, perguruan tinggi ini memiliki reputasi yang sangat luar biasa. Tidak sedikit para dosen IAIN/STAIN Malang telah melahirkan karya tulis, baik berupa buku, modul, maupun diktat yang terbit dan digunakan sebagai bahan referensi dan rujukan di pelbagai perguruan tinggi lain.
Tradisi akademik melalui budaya menulis atau membuat karya tulis ilmiah itu sulit terbantahkan di UIN Maliki Malang (d/h. IAIN/STAIN). Dari sekian jumlah dosen yang ada, hampir semua dosen memiliki karya berupa buku masterpis (monumental) sesuai bidang keahliannya masing-masing. Padahal, para dosen tersebut hidup di era kegelapan, yang jauh berbeda dengan sekarang. Dulu, mereka berkarya saat belum ada listrik, alat komputer, internet, Ipad dan segala bentuk kecanggihan teknologi lainnya. Walaupun begitu, tanpa menyurutkan semangat dan mengurangi kreasi mereka, tradisi dan spirit akademik tetap tumbuh dan berkembang secara luar biasa.
 Hal lain yang menandai tradisi akademik yaitu proses pembelajaran yang dilakukan para dosen dan mahasiswa. Para dosen IAIN/STAIN, sekalipun mereka mengajar dengan cara dan metode seadanya,---- belum ada dukungan media elektronik modern seperti akhir-akhir ini,--- tetapi proses pembelajaran itu berjalan dengan sangat mengesankan, dan dapat melahirkan lulusan yang hebat dan handal.  Hasil pembelajaran seolah-olah bukan ditentukan oleh seberapa canggih dan modernnya alat dan media ajar, melainkan oleh ruh dan jiwa mengajar yang menyatu dan melebur pada diri dosen. Model seperti itulah sesungguhnya kekuatan, kearifan serta sebagai bentuk menandai kedalaman dan keluasan ilmu para dosen tempo dulu.
Proses pembelajaran yang dilaksanakan para dosen begitu disegani dan dihormati oleh para mahasiswa. Proses penilaian kegiatan akademik juga berlangsung sangat jujur dan terbuka, tidak ada budaya tawar menawar apalagi jual beli nilai antara dosen dan mahasiswa. Tradisi pembelajaran yang berupa penilaian hasil akhir akan kembali kepada capability (kemampuan) diri masing-masing mahasiswa. Kalau dirinya tidak mampu dan tidak lulus, maka ia akan berusaha belajar lebih giat lagi untuk mengulang ujian hingga sampai mendapatkan predikat lulus. Kewibawaan akademik sangat terjaga dan menjadi sangat sakral bagi semua orang yang belajar di perguruan tinggi.
            Gambaran dua hal di atas, antara budaya menulis dan budaya proses pembelajaran adalah ciri khas tradisi akademik tingkat tinggi.  Empat paragraf sebelumnya, merupakan sebuah ”narasi historis” betapa gigih dan kuatnya para dosen dalam menjaga dan menghormati tradisi akademik. Mulai tahun 1960-an hingga 1990-an, menurut hemat penulis, adalah era pertumbuhan menuju terwujudnya cita-cita menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Sebelum berubah menjadi universitas, atau berlangsung lebih kurang 30-an tahun, bibit-bibit peninggalan atau warisan tradisi akademik yang luar biasa tersebut telah ditanamkan oleh para dosen pendahulu kita.
GAMBAR 2:
Cycle DiagramGENERASI PERINTIS (MASA PERTUMBUHAN) UIN MALIKI MALANG











Seperti yang telah dicontohkan para pendahulu (generasi perintis) di atas, kiranya patut menjadi pelajaran dan bekal berharga bagi semua warga kampus untuk menggerakkan jiwa, pikiran dan hati guna mencapai cita-cita WCU. Tradisi akademik adalah iklim keilmuan yang harus dijunjung tinggi universitas. Keterpaduan visi-misi, dan tujuan akademik yang dikembangkan oleh universitas itu kiranya perlu disadari dan dijalankan secara bersama-sama, baik para dosen PNS, dosen BLU, maupun dosen luar biasa.  
            Peran dan fungsi dosen sangat dibutuhkan dalam mengawal tradisi akademik ini. Untuk menuju WCU tenaga pengajar (dosen) yang harus dimiliki universitas yaitu tidak kurang dari 40 persen bergelar doktor, dari jumlah dosen yang ada. Bagi UIN Maliki Malang, syarat ini tidaklah terlalu sulit, karena hingga tahun 2014 ini para dosen yang bergelar doktor hampir mendekati angka 40 persen. Belum lagi ditambah puluhan dosen yang tengah menyelesaikan studi program doktor (S3) di berbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
            Ciri tradisi akademik bertaraf internasional adalah adanya publikasi internasional. Hingga saat ini, karya ilmiah dosen UIN Maliki Malang masih tergolong minim, untuk tidak mengatakan hampir tidak ada. Perhatian dari pimpinan bidang akademik perlu menstresingkan kembali (memfokuskan) lebih tajam lagi untuk mendorong para dosen agar menulis, meneliti, dan mempublikasikan melalui jurnal-jurnal dan proseding-proseding internasional. Kehebatan dan kewibawaan dosen UIN Maliki Malang bukan saja ukurannya rajin mengajar di kampus, namun akan dinilai seberapa besar sumbangsih pemikiran melalui publikasi di media jurnal atau media lainnya yang bertaraf internasional.
Begitu juga halnya dengan jurnal terakreditasi nasional dan internasional yang harus dimiliki UIN Maliki Malang. Hingga awal tahun 2014, baru ada dua buah jurnal yang terakreditasi nasional (jurnal el-Harakah dan Jurnal Lingua), sementara jurnal terakreditasi internasional belum ada. Padahal, jurnal yang terbit di kampus ini, baik dikelola ditingkat universitas, fakultas, dan jurusan jumlahnya lebih dari 20 Jurnal. Media yang sangat strategis dan memiliki nilai sangat tinggi ini perlu mendapat sentuhan dan perhatian para pimpinan yang ada sebagai sarana publikasi karya ilmiah dosen.
            Untuk mendukung para dosen UIN Maliki Malang agar memiliki publikasi internasional, maka gerakan membaca, menulis, diskusi dan riset harus dihidupkan ulang, baik di dalam kampus dan luar kampus. Budaya yang serba formalitas, gugur kewajiban, serta memenuhi syarat aturan yang tidak sejalan dengan tradisi akademik itu, harus diubah dan dikembangkan sesuai dengan tujuan dan haluan WCU yang dicanangkan universitas. Banyak hasil riset para dosen UIN Maliki Malang yang belum terpublikasikan. Padahal, hasil temuan riset merupakan ”genuinisasi keilmuan” yang dihasilkan peneliti berdasarkan prosedur ilmiah yang sangat dipertanggungjawabkan, yang semestinya patut disebarluaskan melalui media-media nasional maupun internasional.
            Selain itu, upaya yang perlu pikirkan adalah pendanaan riset perlu ditingkatkan secara signifikan. Berdasarkan pengalaman beberapa kampus yang berpredikat WCU, bahwa anggaran riset yang disediakan minimal US$ 1300/ dosen per tahun. Melalui pendanaan yang cukup dan kompetitif, maka diharapkan para dosen UIN Maliki Malang mampu melahirkan tradisi riset yang benar-benar unggul dan pada akhirnya dapat ditransformasikan melalui publikasi media jurnal terakreditasi baik tingkat nasional maupun internasional.
Riset yang bermutu akan dijadikan sebagai pijakan pihak lain atau pengguna sebagai terobosan baru dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (sciences) dan teknologi terapan (melahirkan produk baru). Melalui hasil riset yang berkualitas dan bernilai tinggi itu kemudian dipatenkan pada lembaga hak paten dan akan menjadi nilai tambah dan keunggulan luar biasa yang dimiliki universitas. Ukuran universitas yang berkelas dunia, selain akan dilihat berapa banyak penelitian yang dihasilkan juga yang lebih penting lagi adalah akan dinilai seberapa tinggi dampak riset yang dihasilkannya bagi pengembangan peradaban dan kemajuan masyarakat.
            Sebagai ciri universitas berkelas dunia yaitu adanya manajemen pengembangan ICT (Information Communication Technology) yang handal untuk mendukung kegiatan-kegiatan akademik. Proses kegiatan pembelajaran dosen dan mahasiswa saat ini tidak luput dari pendayagunaan ICT yang telah disediakan universitas. ICT menjadi sarana akademik (academic atmosphere) yang sangat urgen guna menumbuhkan budaya belajar, budaya membaca, alat komunikasi serta menjadi alat yang memudahkan pencarian informasi, sumber belajar yang di akses oleh dosen, mahasiswa, maupun seluruh staff akademik. Melalui ketersediaan ICT yang modern dan handal, tentu akan menambah lingkungan akademik semakin nyaman, betah, dan enjoy yang dinikmati oleh seluruh warga kampus.
            Untuk mengembangkan manajemen ICT yang benar-benar unggul dan berkualitas tinggi, sistem yang dibangun selain sebagai alat untuk pemograman kartu rencana studi (KRS), pelayanan pendaftaran mahasiswa baru (MABA), pendaftaran wisuda, media lelang barang/jasa (barjas), dan sebagai sarana informasi seputar kampus, semestinya ICT harus memuat seluruh hasil temuan penelitian (riset) dan karya ilmiah lainnya, baik berupa artikel, jurnal, buku dosen dan mahasiswa yang dalam bentuk publikasi. ICT yang terintegrasi ke semua fakultas, lembaga dan unit yang sangat mudah diakses oleh para pengguna. Sebagai ukuran perguruan tinggi yang bertaraf WCU, kemudahan akses ICT yang perlu disediakan universitas sekurang-kurangnya harus 10/KB per mahasiswa dan dosen.
            Masih dalam mengukur tradisi akademik bertaraf internasional, bahwa total populasi mahasiswa yang aktif kuliah, 40 persennya adalah mahasiswa pascasarjana, program magister (S2) dan program doktor (S3). Selain itu, WCU juga mensyaratkan sekalipun tidak wajib, bahwa sebutan universitas berkelas dunia itu manakala jumlah mahasiswanya tidak kurang 20 persennya mahasiswa asing. Untuk syarat ini sepertinya UIN Maliki Malang tidak terlalu sulit, sebab mahasiswa pascasarjana terus mengalami peningkatan secara signifikan, hanya perlu penambahan prodi-prodi baru untuk program studi yang belum ada. Sementara itu, mahasiswa asing yang belajar di kampus ulul albab ini juga bertambah terus dan sekarang telah melewati angka lebih dari 25 negara dari berbagai belahan dunia.
            Hal lain yang menandai ukuran kampus berkelas WCU adalah suburnya penulisan buku. Tradisi akademik yang unggul akan selalu dilihat dari sisi kuantitas dan kualitas buku yang dihasilkan para dosen. Buku yang ditulis para dosen UIN Maliki Malang, bukan saja untuk bahan perkuliahan mahasiswanya sendiri, tetapi dapat digunakan secara umum oleh semua dosen dan mahasiswa di manapun mereka berada.
Buku yang ditulis dosen UIN Maliki Malang tersebut diperbincangkan, dikutip dan dijadikan acuan referensi orang lain. Untuk ukuran ini, UIN Maliki Malang agak bernafas lega, karena beberapa tahun terakhir secara kuantitas buku-buku karya dosen yang diterbitkan UIN-Maliki Press tidak kurang dari 60 judul buku per tahun. Untuk skala nasional, UIN Maliki Malang termasuk salah satu universitas yang paling subur dalam penulisan buku. Selain karya buku dosen yang terbit dalam kampus, juga tidak sedikit karya buku dosen diterbitkan oleh berbagai penerbit luar. Kreativitas dan produktivitas karya ilmiah berbentuk buku merupakan penanda kewibawaan akademik kampus amat sangat terjaga.
GAMBAR 3:
UKURAN TRADISI AKADEMIK BERTARAF WCU
 






           

Berdasarkan ukuran tradisi akademik yang bertaraf WCU di atas, maka semua pelaku yang ada dalam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang harus kerja keras, disiplin dan sesuai roadmap yang dikembangkan oleh universitas. Tidak pernah ada sejarah yang menunjukkan bahwa lembaga pendidikan sukses dan berhasil itu langsung dimulai dari skala yang tinggi, melainkan dimulai dari yang kecil, sederhana, dan urgen. Dan tradisi sukses yang pernah diukir UIN Maliki Malang selama ini nampaknya telah teruji oleh zaman.

C.      Membangun Mutu Kinerja (Integritas, Etika dan Kebersamaan)
Pola kinerja yang harus dibangun ke depan dalam rangka menuju World Class University (WCU) adalah perlunya integritas, etika dan kebersamaan yang dimiliki oleh semua aktor dan pelaku di UIN Maliki Malang. Dalam waktu yang relatif singkat, universitas ini berhasil membangun sistem, budaya dan organisasi perguruan tinggi yang kokoh. Nampaknya UIN Maliki Malang berhasil menerobos fenomena ini dan menghasilkan fakta baru bahwa kampus ini tidak hanya berkompetisi tingkat nasional tetapi merasuk tingkat dunia. Hal ini karena hadirnya integritas yang tinggi dari semua warga sivitas akademika.
UIN Maliki Malang akan menjadi pertama kalinya masuk peringkat WCU ditengah percaturan kompetisi perguruan tinggi Islam di Indonesia. Upaya ini sekaligus mematahkan dominasi dan kekuatan kampus lain di era persaingan yang super ketat ini untuk menggapai kemajuan dan keunggulan sebagai universitas terbaik di dunia. Nilai keyakinan dan kepercayaan harus diusung dan dijadikan spirit dalam menggalang prestasi dan aksi menuju WCU tersebut.
            Kunci sukses meraih impian WCU tersebut adalah terbentuknya integritas mental semua warga kampus, baik kepribadian yang tampak pada pola pikirnya, perilakunya maupun tindakannya. Integritas adalah kesungguh-sungguhan (sincerety) atau dalam bahasa Jepang disebut ”makoto”.  Menarik untuk kita kaitkan dengan filosofi Jepang, bahwa sikap ”makoto” merupakan sikap yang menjunjung tinggi kemurnian dalam batin dan motivasi. Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ”makoto” itulah yang menjadi kunci sukses Jepang menjadi ”negara nomor 1” di Asia.
 Sebagaimana suksesnya Jepang, integritas dari semua warga UIN Maliki Malang sangat diperlukan karena ingin mencetak ”kesuksesan baru” yang membutuhkan pikiran besar, jiwa yang luas, hati yang tulus, dan kesungguh-sungguhan yang luarbiasa. Sikap integritas secara otomatis menolak adanya tujuan yang semata-mata hanya berguna bagi dirinya sendiri, kelompok dan berjangka sesaat. Sikap integritas juga tidak menyukai cara berpikir dan berbuat yang semata-mata bersifat pragmatis. Melainkan sikap integritas ialah sesuatu tindakan yang diperbuat oleh seseorang dengan penuh kejujuran dan kesungguh-sungguhan untuk memberikan pelayanan yang terbaik.
Bagi orang yang memiliki integritas, dirinya akan tahan uji dan tahan cobaan. Integritas bukanlah ciri orang yang suka mengeluh, menuntut dan bahkan melemahkan cita-cita yang sedang dibangun dan direncanakan oleh lembaga. Untuk memajukan UIN Maliki Malang ke depan, kita membutuhkan sosok yang berani, jujur, tanggungjawab dan pantang menyerah. Universitas ini harus dihuni sosok/figur pegawai yang berjiwa besar, pemikir sekaligus pekerja.
            Jika kita maknai dari perspektif sosio-teologis, sikap kesungguh-sungguhan (integritas) merupakan buah dari ”keimanan” seseorang dalam menjalankan ajaran agama. Islam mengenalkan doktrin tentang ”mujahadah”, yang artinya adalah kesungguh-sungguhan. Sikap seperti ini ialah kesempunaan hidup. Oleh karena itu, profesi apapun adalah penting. Jadi, tidak hanya rektor, para wakil rektor, dekan dan wakil dekan itu penting, tetapi juga pekerjaan tukang sapu, satpam dan seterusnya adalah penting. Semua pelaku (pegawai) menjadi penting, demikian halnya semua pekerjaan sama pentingnya, sehingga yang menjadi ukuran bagi seseorang bukanlah pekerjaan apa yang dilakukan, tetapi bagaimana ia melakukan pekerjaan itu. Apakah ia dengan kesungguh-sungguhan atau tidak melakukan pekerjaannya tersebut.
            Dalam sebuah mahfudhat (ungkapan) disebutkan bahwa ”man jadda wajada” (barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan sukses) adalah tepat untuk menggambarkan sikap integritas yang kita maksud. UIN Maliki Malang tidak membutuhkan sikap yang setengah-setengah, apalagi sikap antagonistik, melainkan yang diperlukan adalah totalitas dan loyalitas. Untuk mendorong kemajuan kampus harus dibangun di atas pondasi niat, kemauan kerja keras dan kesungguh-sungguhan yang mendalam. Dari beberapa uraian paragraf di atas, dapat kita rangkum dengan satu kata yang indah, ialah integritas.
            Sementara itu, perjalanan UIN Maliki Malang ke depan selain bermodalkan integritas, juga berbekalkan etika (akhlak) yang tinggi. Secara semantik, antara integritas dan etika memang sulit dipisahkan. Integritas berbuah etos (semangat/motivasi), sementara etika berbuah etik (tampilan/ perilaku). Sebagai universitas berkelas dunia, kita akan diikat oleh nilai-nilai etika universal yang berlaku dalam pergaulan lokal, regional maupun global.
            Dalam arus globalisasi sekarang ini etika tingkat tinggi (high moral dan high dignity) harus menjadi acuan semua orang dalam menjalankan pekerjaannya, terutama etika akademik (moral academic). Seorang pendidik (dosen) misalnya, harus bertindak secara objektif, ilmiah, serta sesuai norma-norma etik dalam kegiatan keilmuan. Tidak sedikit para dosen dibeberapa kampus lain terjerumus plagiasi (penjiplakan) karya orang lain, yang merupakan pelanggaran berat etika akademik. Sikap kejujuran dan keobjektifan harus dijaga dan dijunjung tinggi oleh semua dosen.
            Sikap ilmiah harus dibarengi dengan etika yang baik. Sebab tidak sedikit para ilmuan, termasuk pendidik/dosen, melakukan riset-riset pengembangan kebijakan yang terkadang hasilnya bertentangan dengan kebenaran objektif, hanya karena ada titipan pesan sponsor tertentu. Kebenaran ilmiah harus ditopang dengan etika yang kuat. Dalam level internasional, etika harus menjunjung kejujuran dan kebenaran secara universal, bukan mementingkan kepentingan lembaga tertentu, apalagi perseorangan. Etika akademik adalah ”martabat universitas” dalam upaya menyambung dan menyumbangkan nilai kontribusi positif bagi pembangunan masyarakat, bangsa dan dunia.
            Dalam proses pembelajaran misalnya, apakah seorang dosen mampu menjunjung tinggi kejujuran dibidang keilmuan yang ditekuninya. Seorang dosen tidak boleh melakukan illegal teaching atau illegal learning, melalui cara duplikasi dan replikasi ilmu yang diperoleh dengan cara tidak jujur dan tidak objektif. Etika menjadikan patokan bersama, supaya kita berhati-hati dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. Universitas-universitas besar di dunia, selalu menumpahkan perhatiannya agar semua pegawai memiliki etika yang baik, dan dijadikan sebagai pijakan sebelum berbuat dan bertindak.
            Begitu pentingnya etika (akhlak), UIN Maliki Malang menjadikan pilar tersebut sebagai salah satu pilar utama yang dikembangkan dan menjadi tujuan bersama, selain pilar kedalaman spiritual, keluasan ilmu dan kematangan profesional.  Etika yang dibangun oleh UIN Maliki Malang adalah kepribadian yang utuh, kepribadian yang digali dari nilai-nilai keyakinan dan kitab suci (al-Qur’an dan Hadis). Melalui etika yang tinggi, diharapkan semua penghuni universitas (dosen, karyawan dan mahasiswa) dapat menampilkan dirinya sebagai sosok yang berperilaku dan bertindak alim, arif dan bijaksana.
Adapun yang tidak kalah penting dalam mengembangkan UIN Maliki Malang menuju WCU adalah membangun sikap kebersamaan. Kata ”kebersamaan” berasal dari kata sama, yaitu menunjuk sebuah arti keterpaduan, kesepahaman dan kesaudaraan dari setiap diri yang berbeda-beda untuk mencapai sebuah tujuan dan cita-cita bersama. Kebersamaan adalah kunci kesuksesan dalam memajukan UIN Maliki Malang selama ini, tidak terkecuali juga untuk meraih reputasi skala internasional.
            Sikap kebersamaan merupakan energi yang dibutuhkan dalam mengembangkan sistem organisasi dan tatakelola UIN Maliki Malang yang akan kita bangun secara profesional. Sikap kebersamaan membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan saling percaya. Posisi satu dengan posisi lainnya saling melengkapi dan menopang kinerja masing-masing. Kebersamaan membuat seseorang bekerja tanpa rasa curiga, prasangka dan beban.
            Sistem kinerja yang perlu kita bangun dalam mengembangkan UIN Maliki Malang menuju WCU ialah menempatkan dan menghargai orang sesuai dengan tingkat kemampuan dan dedikasinya, bukan berdasarkan kesukaan dan sektarianisme. Melalui sikap kebersamaan itu, kita dapat melepaskan diri dari ego sektoral dan komunal masing-masing. Kebersamaan senantiasa berpikir untuk membahagiakan orang lain, bukan untuk mengintimidasi dan mendiskriminasi orang lain.
            Ciri kebersamaan ialah kita merasa bahagia manakala kita membuat orang lain sukses atau bahagia. Membahagiakan orang lain merupakan ruh terpenting dalam semua agama. Bahkan, dalam Islam karakter ini sebagai salah satu ciri utama keimanan. Seperti dalam hadis dijelaskan; ”Tidak beriman seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Baihaqi).
            Sebagai ciri universitas berkelas dunia, kebersamaan akan sangat menentukan, bahkan sebagai kekuatan (power). Kita harus terbuka dan menerima pendapat lintas batas dari mana saja sumbernya asalkan mengandung kebenaran dan manfaat, tanpa harus melihat tentang siapa asal muasal sumbernya, sekalipun itu penting. Sebagai kode etik universal, ada sebuah pepatah yang menyatakan sebagai berikut: (a) kita harus memperlakukan orang lain sesuai dengan bagaimana orang lain untuk memperlakukan diri kita; (b) perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan; (c) kita seharusnya tidak memperlakukan orang lain dengan cara yang tidak ingin kita diperlakukan seperti itu; dan (d) jangan memperlakukan orang lain, dengan cara kita tidak ingin diperlakukan.
            Kebersamaan memerlukan hati mulia dan jiwa besar. Orang yang berjiwa besar dan mulia disebut sebagai the great people. Yaitu manusia pilihan yang bersedia berjuang dan berkorban untuk kepentingan bersama, berjuang demi kebahagiaan dan kesuksesan bersama, mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri sendiri, memberikan energi positif dan manfaat di manapun ditempatkan, serta sebagai perjalanan diri yang teguh dan konsisten. UIN Maliki Malang harus menjadi tenda besar untuk melahirkan manusia besar (great people), serta menjadi miniatur peradaban Islam terkemuka di dunia.
            Sesuai dengan slogan UIN Maliki Malang, kebersamaan terbangun atas kesatuan hati, spirit, visi dan tim kerja. Jargon tersebut maknanya sangat mulia dan sangat dalam. Kebersamaan yang dibangun atas kerendahan hati (egaliter), tidak ambisius, memiliki integritas akan membuahkan energi positif bagi semua warga dan seluruh sivitas akademika. Sikap kebersamaan adalah sikap utama yang harus diteladankan UIN Maliki Malang kepada semua pihak, khususnya bagi perguruan tinggi Islam di tanah air. Tidak sedikit kampus Islam sulit berkembang dan maju, karena dilanda konflik di dalam kampus itu sendiri.

GAMBAR 4:
MUTU KINERJA UIN MALIKI MALANG MENUJU WCU










Melalui ilustrasi gambar di atas, maka pola kinerja para pegawai UIN Maliki Malang harus berlandaskan pada nilai-nilai pokok utama, yaitu integritas, etika dan kebersamaan. Tiga kekuatan tersebut diharapkan mampu mengawal dan melapangkan proses universitas yang baru saja meraih akreditasi institusi ”A” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) ini menuju world class university. Pemahaman dan penghayatan nilai-nilai ketiga hal pokok dimaksud diangankan mampu menginspirasi dan menggugah seluruh warga kampus agar terus menjalankan tanggungjawab dan dedikasi (perjuangan dan pengorbanan) yang tinggi dengan penuh kelapangan hati dan kesadaran jiwa.
             
D.     Kontribusi dan Layanan (contribution and service)
Peran global perguruan tinggi Islam, salah satunya UIN Maliki Malang, dalam merespon tuntutan modernisasi masyarakat sangat dinanti dan dibutuhkan oleh semua orang. Gagasan WCU sebenarnya lebih pada memberikan perhatian ”nilai kontribusi” sesuatu yang nyata untuk kebaikan demi kelangsungan kehidupan manusia di dunia yang lebih baik.
            Pemikiran pokok mengenai reputasi universitas berkelas WCU, sebetulnya bukanlah sekadar sebagai “gagah-gagahan”, atau “mewah-mewahan” melainkan berbicara sumbangsih peradaban nyata bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, kampus yang menyandang WCU adalah kampus yang mapan, baik secara kelembagaan maupun secara pendanaan untuk pengelolaan universitasnya.
            Kontribusi nyata (riil) adalah ukuran universitas berkelas dunia. Sebagai ilustrasi misalnya, universitas Harvard University, Oxford University, dan Cambridge University, sesungguhnya kampus tersebut berdiri tidak dirancang untuk menjadi WCU, tetapi dengan sendirinya sebagai universitas besar (WCU), karena nilai kontribusinya luar biasa. UIN Maliki Malang akan menyusul daftar urutan berikutnya dengan catatan harus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pusat peradaban negeri dan dunia.
Untuk menjadi universitas yang memiliki kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu, teknologi dan seni harus dimulai dari membangun mindset para dosen dan seluruh aktor lainnya. Nilai kontribusi dapat dilihat dari jumlah dan bobot riset (penelitian) yang dihasilkan, kualitas buku yang diterbitkan, jurnal-jurnal yang bermutu, bentuk-bentuk binaan sosial (pengabdian masyarakat) yang diberikan univeritas kepada masyarakat.
            Inovasi dan kreasi yang dilakukan oleh para dosen, baik berupa pikiran, temuan penelitian serta terapan bidang ilmu tertentu kepada masyarakat merupakan kontribusi nyata. UIN Maliki Malang mengabdi untuk kemajuan bangsa dan dunia, melalui sumbangsih gagasan, ide-ide fantastis serta aksi nyata yang dirasakan bagi masyarakat luas.
            Selain tuntutan peran dan kontribusi universitas bagi kemajuan peradaban manusia, hal lain yang tidak kalah penting untuk dipersiapkan menuju world class university ialah pelayanan (service). Pelayanan prima (excellent service) adalah ukuran yang menggambarkan keseluruhan jiwa (ruh) bahwa universitas itu pertanda baik. Sistem pelayanan di lembaga resmi, seperti universitas misalnya, memang berbeda dengan sebuah perusahaan, sebab universitas lebih kompleks dan luas cakupannya. Walapun begitu, bukanlah sesuatu yang tepat untuk kita jadikan sebagai alibi (alasan) untuk berkelit dan menghindar dari upaya memberikan nilai excellent service kepada semua pelanggan, yaitu mahasiswa, mitra kerjasama, tamu pengunjung (visitor), stakeholders, hingga orang tua atau wali mahasiswa.
            Dalam era modern seperti sekarang ini, service memainkan peran yang sangat penting. Melalui service yang tepat kepada mereka, tentu akan membuat mereka menjadi “pelanggan” yang loyal dan yakin. Bahkan tak jarang berkat service (layanan) yang baik dan berkualitas, mereka menjadi “pembela institusi” kita, semisal membantu proses promosi dan memberikan citra positif kepada siapa saja.
            Untuk menggapai impian menuju WCU, UIN Maliki Malang harus belajar dan mengambil impirasi dari sistem “perusahan besar” dunia yang mapan dan berkelas, misalnya perusahan maskapai penerbangan, perusahan otomotif, perusahan telekomunikasi, dan sebagainya. Dari sistem pelayanan yang diberikan oleh macam-macam perusahan tersebut banyak hal yang dapat kita tiru sebagai inspirasi baru untuk kita dikembangkan dalam pelayanan di universitas.
            Sebagai upaya melihat kembali posisi UIN Maliki Malang menuju tangga universitas berkelas WCU, service merupakan solusi sekaligus kebutuhan  mendasar yang sulit diabaikan. Apakah standar akademik (academic standard) yang kita rancang dan terapkan itu sudah sesuai dengan kebutuhan dan selaras dengan zaman? Layanan bukan hanya sekadar memberikan dengan cara terbaik, namun lebih dari itu adalah menawarkan solusi untuk membantu mengurangi permasalahan yang dihadapi oleh manusia.
            Service merupakan nilai tambah. Sebuah nilai yang terus menerus diberikan kepada pelanggan tanpa kita pikirkan kapan dampaknya akan kembali pada lembaga. Dengan memberikan pelayanan memuaskan kepada seluruh sivitas akademika, tamu pengunjung serta mitra kerjasama, otomatis universitas akan menciptakan positioning yang kuat dibenak mereka sebagai tempat tujuan yang menyenangkan dan memuaskan.
            Perjalanan selama sepuluh tahun menyandang status UIN Maliki Malang, sangatlah penting sebagai pengalaman/pelajaran berharga untuk menentukan bentuk pelayanan yang benar-benar bernilai tinggi. UIN Maliki Malang dikenal sebagai kampus yang “sering tak terduga” dalam memberikan layanan. Jadi, ketika orang berkunjung ke UIN Maliki Malang, yang sekiranya mempersepsi biasa-biasa saja, ternyata di luar “dugaan” mereka, bahwa layanan yang kita berikan jauh lebih baik dari yang mereka impikan sebelumnya. Layanan semacam itu menciptakan sebuah pengalaman (experience) yang tak terlupakan kepada orang lain, dan menjadi nilai tambah berupa emotional benefit (manfaat emosional) dan functional benefit (manfaat fungsional). Itulah sebabnya, mengapa beberapa tamu pengunjung, merasa “ketagihan” untuk datang kembali ke kampus hingga berulang-ulang kali, karena bentuk layanan yang mengesankan.
            Sejalan dengan nilai-nilai yang dikembangkan UIN Maliki Malang, bahwa melayani harus melibatkan hati. Pelayanan dengan menggunakan hati akan berdampak pada kualitas layanan. Kita bekerja bukan sekadar menjalankan tugas dan kewajiban sebagai pegawai, melainkan lebih dari itu ialah kerja merupakan panggilan hati, panggilan jiwa dan panggilan hidup. Layanan berstandar tinggi akan menjadi kharisma tersendiri, yang memperlakukan mereka sangat dihormati, dihargai dan “di-orangkan”. Upaya seperti inilah cara-cara “berinvestasi” berjangka panjang. Sekaligus menjadi “kekuatan siluman” yang bakal medorong kemajuan universitas ke depan.
            Secara umum, tolak ukur WCU adalah menekankan pentingnya excellent secara totalitas yang terjadi dalam kehidupan perguruan tinggi, khususnya dalam hal riset dan teaching. Dalam hal teaching misalnya, seorang tenaga pendidik (dosen) harus memberikan layanan yang berkualitas kepada mahasiswa. Perkuliahan yang menyenangkan, ramah, empati, dan materi yang sampaikan berbobot dan mudah dipahami oleh para mahasiswa. Sehingga, para mahasiswa begitu terkesan, dan apabila mereka tidak masuk, dirinya akan merasa menyesal dan merugi, sebab tidak dapat mengikuti perkuliahan.
            Universitas sebagai lembaga yang bergerak di bidang jasa (pendidikan), maka sesuatu yang patut kita jaga dalam memberikan layanan antara lain; (a) reliability, yakni kita harus memenuhi semua janji atau harapan yang pernah kita tawarkan kepada orang lain, (b) responsiveness, yaitu kemampuan untuk menyikapi adanya tuntutan perubahan dan perkembangan, seperti perubahan kurikulum, perubahan sosial dan budaya, kebijakan pemerintah, kebutuhan pasar atau permintaan stakeholders, serta lainnya. (c) emphaty, ialah upaya memahami orang lain secara mendalam dan memperlakukannya secara baik. Layanan bersifat empati pada ujungnya adalah “tabungan” yang  berbuah “credit-point” (membuat orang lain puas) ataukah “debit-point” (membuat orang lain kecewa). (d) tangible, menjaga penampilan fisik secara elegan, menarik, dan mengesankan orang. Orang akan mudah menilai dari performa luar terlebih dahulu, kemudian akan merasakan performa dari dalam (intangible). Tampilan fisik kampus sangat mudah dipersepsi orang lain, dengan cara menafsirkan keseluruhan sistem yang ada di dalamnya. Misalnya, soal kebersihan, keindahan lingkungan, menyediakan eco green (lingkungan yang hijau), keramahan para penghuninya, dan seterusnya.





GAMBAR 5:
NILAI-NILAI EXCELLENT SERVICE YANG HARUS DIKEMBANGKAN


Organization Chart
 




           
            Berdasarkan gambar di atas, makna service (layanan) bukan sebatas layanan biasa, melainkan bagaimana kita dapat bertindak sesuai dengan janji yang kita tawarkan (visi, misi dan tujuan), bergerak cepat dan tepat dalam merespon perubahan dan pekembangan zaman, menciptakan memorable experience pada semua orang, sehingga mereka ketagihan dan kecanduan untuk datang kembali, serta menjaga performa lahir (tangible) sekaligus batin (intangible) secara konsisten, arif, bijak, secara terus menerus.
           
E.      Penutup
Dari uraian di atas dapat kita tegaskan bahwa membangun pendidikan tinggi Islam bereputasi dunia memerlukan aksi nyata melalui langkah-langkah strategik, sistemik dan holistik dari semua pelaku dan aktor dalam institusi UIN Maliki Malang.  Melalui tulisan ini, ada empat hal yang dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
Pertama, sebagai ruh (jiwa) dan jati diri UIN Maliki Malang, paling tidak untuk memasuki pintu WCU, terdapat tiga modal utama, adalah (a) modal intelektual, yaitu bertambahnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) yang berkualifikasi tinggi, (b) modal sosial, melalui mitra kerjasama, kepercayaan baik dari lembaga maupun personal; dan (c) modal historis, adanya spirit, semangat, motivasi yang kuat untuk menentukan perubahan dan kemajuan universitas dari para aktor dan pelaku.
Kedua, tradisi akademik bertaraf internasional meliputi beberapa syarat, antara lain: (a) Dosen yang dimiliki perguruan tinggi minimal 40 persen bergelar doktor; (b) Kuantitas dan kualitas publikasi internasional karya ilmiah dosen; (c) pendanaan yang cukup untuk pengembangan riset-riset unggul dan  berkualitas bagi dosen, sekurang-kurangnya US$ 1300/dosen per tahun; (d) adanya dukungan manajemen pengembangan ICT (information communication technology) yang modern, minimal 10 KB/ mahasiswa; (e) proporsi mahasiswa pascasarjana sekurangnya 40 persen dari populasi mahasiswa; (f) mahasiswa asing (manca negara) yang kuliah di universitas itu tidak kurang dari 20 persen; dan (g) tumbuhnya budaya menulis karya ilmiah bagi dosen melalui publikasi buku (paperless) maupun e-book (electronic book) yang dapat dijadikan sebagai rujukan bagi semua kalangan.
            Ketiga, langkah nyata UIN Maliki Malang menuju WCU memerlukan pola kinerja yang unggul yaitu: (a) pentingnya integritas bagi seluruh pegawai, ialah kesungguh-sungguhan, kejujuran, semangat/motivasi tinggi, dan kerja keras; (b) adanya etika yang menjadi acuan bersama agar dapat  berperilaku luhur, objektif, ilmiah, profesional serta dapat menjaga nama baik pribadi maupun lembaga; (c) adanya sikap kebersamaan dan kerja kolektif yang secara massif untuk berbuat yang seoptimal mungkin.
Keempat, dampak atau efek dari cita-cita UIN Maliki Malang ingin menggapai WCU harus memperbesar porsi dua hal pokok, yakni: (a) peran dan kontribusi, melalui temuan-temuan riset ilmiah, memperbanyak penulisan karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional, serta sumbangsih pengabdian nyata untuk memajukan tatanan kehidupan sosial yang lebih baik, dan (b) memberikan excellent service (layanan prima) kepada semua pelanggan, meliputi mahasiswa, mitra kerjasama, tamu pengunjung (visitor), stakeholders, wali mahasiswa maupun masyarakat sekitar.
*) Mujtahid, Dosen Tetap Jurusan PAI-FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Selasa, 04 November 2014

Dzikir Mengasah Kesadaran Nurani



Judul Buku    : Zikrullah; Urgensinya dalam Kehidupan

Penulis          : Usman Said Sarqawi
Penerbit        : Rosdakarya, Bandung
Cetakan       : I (Pertama),  2013
Tebal            : 196 halaman
Peresensi      : Mujtahid *

DZIKIR adalah upaya membangun dimensi kesadaran jiwa, hati dan nurani antara makhluk (manusia) dengan Sang Khaliq (Tuhan). Secara bahasa, dzikir berarti mengingat, memperhatikan, mengambil pelajaran, atau mengenal.  Sebagai pengangan hidup kaum mukmin, al-Qur’an menyerukan supaya kita selalu berdzikir dalam keadaan apa pun (QS. 33: 41; QS.4: 103).

Secara fungsional, makna dzikir yaitu sebagai ”kompas hidup” yang menuntun jalan hidup manusia. Dzikir harus menjadi kekuatan bathiniyah dalam membangun kualitas perilaku, watak dan tindakan yang sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai al-Qur’an dan al-Sunnah. Dzikir bukanlah sekadar sebagai ritual seremonial esoteris (ruhani) yang diucapkan berkali-kali, melainkan sebagai panduan dan kendali gerak tindakan empiris (eksoteris) manusia di muka bumi.

Dzikir dalam al-Qur’an dikaitkan dengan ciri utama ulul albab (QS. 3: 190-191). Yaitu sosok manusia yang pikirannya cerdas, hatinya lembut, pandangannya tajam dan beramal shaleh (profesional). Melalui dzikir, seharusnya manusia mawas diri, tidak berbuat jahat, korupsi, melanggar hukum, dan segala bentuk kejahatan lainnya.

Merespon isu-isu mutakhir mengenai merosotnya kualitas hidup manusia di tanah air, Usman Said Sarqawi, melalui karya ini menawarkan gagasan konstruktif, bahwa dzikir adalah solusi nyata yang menyadarkan nurani manusia supaya hidupnya selaras dengan cita-cita, tujuan, haluan dan taqdir dari Sang Pencipta (khaliq).

Hakikat dzikir yaitu menghadirkan ”keagungan Allah” dalam setiap detak napas diri kita. Sepanjang jiwa raga ini masih bernapas, maka dzikir itu tiada henti diamalkan, baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Posisi manusia di muka bumi ini pasti tiga hal itu, yakni berdiri, duduk dan berbaring. Ilustrasi dalam al-Qur’an itulah mengapa ungkapan ”dzikran katsiran” (dzikir sebanyak-banyaknya) tidak hanya dimaknai sebatas kuantitas (jumlah), melainkan jauh lebih penting dari itu ialah nilai kualitas (kebermaknaan) dzikir itu sendiri.

Dalam menjalani hidup di alam semesta ini, dzikir adalah kebutuhan. Dzikir dapat menenangkan jiwa (batin). Dzikir mempengaruhi kualitas dan produktifitas kinerja (profesi). Kualitas dzikir sejatinya menjadi ”equlibrium” (penyeimbang) antara gerak jiwa (nafs) dan raga (jism). Dzikir dapat menyehatkan, baik jasmani maupun ruhani. Dzikir juga dipersepsi mampu memperpanjang umur, sebab terdapat keselarasan (koneksitas) yang holistik (utuh) antara ruh, otak, jiwa, hati dan tindakan. Dzikir membuat sel-sel saraf, urat nadi, dan organ-organ fisik lainnya bekerja secara teratur dan seimbang.

Begitu urgennya makna dzikir, kita harus selalui mengamalkan setiap saat untuk mencerahkan jiwa (tanwirul nafs) dan menyehatkan jasmani. Orang berdzikir semestinya selalu berpikir positif (husnudhan), hidupnya bermanfaat bagi sesama, dan tidak mecelakai orang. Perilaku mudzakir (orang yang berdzikir) harusnya menampakkan kebaikan di manapun mereka berada. Dzikir mestinya menjadi ”monitor” yang selalu mengawasi dirinya saat beraktivitas ditempat kerja, berbicara dengan orang lain di manapun dan kapanpun. Misalnya, dzikir merupakan manifestasi ”kemuliaan Tuhan” tatkala kita melayani ”konsumen”, rapat/sidang di kantor, jual-beli di pasar, mengajar di sekolah, menangkap ikan di laut, mengatur lalu lintas di jalan, dan di mana saja.

Sejalan dengan misi dan tujuan hidup manusia, dzikir sejatinya sebagai penguat jiwa (nafs) dan ruhani manusia agar selalu dalam naungan kebenaran ilahi. Amalan dzikir harus dipahami sebagai ”pembangkit” atau motivasi yang menggerakkan seluruh potensi yang kita miliki untuk berbuat secara arif dan bijaksana (wisdom). Pendek kata, dzikir sebagai peredam setiap tindakan destruktif, baik berupa amarah (penjahat), musawwilah (penipu), lawwamah (pencela) dan bentuk lainnya. 
 
Nilai spiritual edukatif dzikir yaitu ber-takhalli (membersihkan diri dari sifat yang tercela/maksiat lahir maupun batin, dan ber-tajalli (mengisi dengan sikap ihlas (niat tulus/murni), muraqabah (merasa diawasi oleh Sang Khaliq), muhasabah (memperhitungkan kualitas tindakan), hubb (cinta kepada Allah), serta sifat-sifat mulia lainnya.

Dari nilai-nilai hakikat dan makna tersebut, dzikir tidak berarti ditempuh dengan cara uzlah/khalwat (mengasingkan diri) di tempat-tempat dan seremonial tertentu, tetapi justru harus tetap aktif melibatkan diri dalam aktivitas duniawi. Penghayatan dzikir tidak berhenti sebatas pemuas batiniah, melainkan seharusnya memancarkan aura tindakan yang memadukan antara kedalaman spiritual dengan perbuatan nyata (action) yang produktif dan kontributif bagi kemakmuran alam raya.

Sebagai bahan renungan sekaligus pelajaran (ibrah) yang begitu inspiratif dan mendalam, buku ini selayaknya menjadi remote yang menghidupkan kesadaran jiwa, hati dan nurani kita yang barangkali tertidur. Sejuta anugerah potensi pada diri kita, selayaknya perlu diasah, disentuh dan dilatih secara istiqamah supaya hadir penuh makna, baik untuk diri sendiri, orang lain, alam semesta, dan tentu ujungnya ialah memperoleh keridhaan dan kecintaan dari Sang Khaliq Dzat yang Maha Agung dan Kekal. Selamat membaca!

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang