Selasa, 04 November 2014

Dzikir Mengasah Kesadaran Nurani



Judul Buku    : Zikrullah; Urgensinya dalam Kehidupan

Penulis          : Usman Said Sarqawi
Penerbit        : Rosdakarya, Bandung
Cetakan       : I (Pertama),  2013
Tebal            : 196 halaman
Peresensi      : Mujtahid *

DZIKIR adalah upaya membangun dimensi kesadaran jiwa, hati dan nurani antara makhluk (manusia) dengan Sang Khaliq (Tuhan). Secara bahasa, dzikir berarti mengingat, memperhatikan, mengambil pelajaran, atau mengenal.  Sebagai pengangan hidup kaum mukmin, al-Qur’an menyerukan supaya kita selalu berdzikir dalam keadaan apa pun (QS. 33: 41; QS.4: 103).

Secara fungsional, makna dzikir yaitu sebagai ”kompas hidup” yang menuntun jalan hidup manusia. Dzikir harus menjadi kekuatan bathiniyah dalam membangun kualitas perilaku, watak dan tindakan yang sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai al-Qur’an dan al-Sunnah. Dzikir bukanlah sekadar sebagai ritual seremonial esoteris (ruhani) yang diucapkan berkali-kali, melainkan sebagai panduan dan kendali gerak tindakan empiris (eksoteris) manusia di muka bumi.

Dzikir dalam al-Qur’an dikaitkan dengan ciri utama ulul albab (QS. 3: 190-191). Yaitu sosok manusia yang pikirannya cerdas, hatinya lembut, pandangannya tajam dan beramal shaleh (profesional). Melalui dzikir, seharusnya manusia mawas diri, tidak berbuat jahat, korupsi, melanggar hukum, dan segala bentuk kejahatan lainnya.

Merespon isu-isu mutakhir mengenai merosotnya kualitas hidup manusia di tanah air, Usman Said Sarqawi, melalui karya ini menawarkan gagasan konstruktif, bahwa dzikir adalah solusi nyata yang menyadarkan nurani manusia supaya hidupnya selaras dengan cita-cita, tujuan, haluan dan taqdir dari Sang Pencipta (khaliq).

Hakikat dzikir yaitu menghadirkan ”keagungan Allah” dalam setiap detak napas diri kita. Sepanjang jiwa raga ini masih bernapas, maka dzikir itu tiada henti diamalkan, baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Posisi manusia di muka bumi ini pasti tiga hal itu, yakni berdiri, duduk dan berbaring. Ilustrasi dalam al-Qur’an itulah mengapa ungkapan ”dzikran katsiran” (dzikir sebanyak-banyaknya) tidak hanya dimaknai sebatas kuantitas (jumlah), melainkan jauh lebih penting dari itu ialah nilai kualitas (kebermaknaan) dzikir itu sendiri.

Dalam menjalani hidup di alam semesta ini, dzikir adalah kebutuhan. Dzikir dapat menenangkan jiwa (batin). Dzikir mempengaruhi kualitas dan produktifitas kinerja (profesi). Kualitas dzikir sejatinya menjadi ”equlibrium” (penyeimbang) antara gerak jiwa (nafs) dan raga (jism). Dzikir dapat menyehatkan, baik jasmani maupun ruhani. Dzikir juga dipersepsi mampu memperpanjang umur, sebab terdapat keselarasan (koneksitas) yang holistik (utuh) antara ruh, otak, jiwa, hati dan tindakan. Dzikir membuat sel-sel saraf, urat nadi, dan organ-organ fisik lainnya bekerja secara teratur dan seimbang.

Begitu urgennya makna dzikir, kita harus selalui mengamalkan setiap saat untuk mencerahkan jiwa (tanwirul nafs) dan menyehatkan jasmani. Orang berdzikir semestinya selalu berpikir positif (husnudhan), hidupnya bermanfaat bagi sesama, dan tidak mecelakai orang. Perilaku mudzakir (orang yang berdzikir) harusnya menampakkan kebaikan di manapun mereka berada. Dzikir mestinya menjadi ”monitor” yang selalu mengawasi dirinya saat beraktivitas ditempat kerja, berbicara dengan orang lain di manapun dan kapanpun. Misalnya, dzikir merupakan manifestasi ”kemuliaan Tuhan” tatkala kita melayani ”konsumen”, rapat/sidang di kantor, jual-beli di pasar, mengajar di sekolah, menangkap ikan di laut, mengatur lalu lintas di jalan, dan di mana saja.

Sejalan dengan misi dan tujuan hidup manusia, dzikir sejatinya sebagai penguat jiwa (nafs) dan ruhani manusia agar selalu dalam naungan kebenaran ilahi. Amalan dzikir harus dipahami sebagai ”pembangkit” atau motivasi yang menggerakkan seluruh potensi yang kita miliki untuk berbuat secara arif dan bijaksana (wisdom). Pendek kata, dzikir sebagai peredam setiap tindakan destruktif, baik berupa amarah (penjahat), musawwilah (penipu), lawwamah (pencela) dan bentuk lainnya. 
 
Nilai spiritual edukatif dzikir yaitu ber-takhalli (membersihkan diri dari sifat yang tercela/maksiat lahir maupun batin, dan ber-tajalli (mengisi dengan sikap ihlas (niat tulus/murni), muraqabah (merasa diawasi oleh Sang Khaliq), muhasabah (memperhitungkan kualitas tindakan), hubb (cinta kepada Allah), serta sifat-sifat mulia lainnya.

Dari nilai-nilai hakikat dan makna tersebut, dzikir tidak berarti ditempuh dengan cara uzlah/khalwat (mengasingkan diri) di tempat-tempat dan seremonial tertentu, tetapi justru harus tetap aktif melibatkan diri dalam aktivitas duniawi. Penghayatan dzikir tidak berhenti sebatas pemuas batiniah, melainkan seharusnya memancarkan aura tindakan yang memadukan antara kedalaman spiritual dengan perbuatan nyata (action) yang produktif dan kontributif bagi kemakmuran alam raya.

Sebagai bahan renungan sekaligus pelajaran (ibrah) yang begitu inspiratif dan mendalam, buku ini selayaknya menjadi remote yang menghidupkan kesadaran jiwa, hati dan nurani kita yang barangkali tertidur. Sejuta anugerah potensi pada diri kita, selayaknya perlu diasah, disentuh dan dilatih secara istiqamah supaya hadir penuh makna, baik untuk diri sendiri, orang lain, alam semesta, dan tentu ujungnya ialah memperoleh keridhaan dan kecintaan dari Sang Khaliq Dzat yang Maha Agung dan Kekal. Selamat membaca!

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang


Minggu, 15 Juni 2014

Mengemas Dakwah sebagai Edukasi Sosial


Judul Buku   : Kajian Dakwah Multiperspektif

Penulis         : Asep Muhyiddin, dkk

Penerbit       : Rosdakarya, Bandung

Cetakan       : I (Pertama),  2014

Tebal           : 336 halaman

Peresensi      : Mujtahid *


DAKWAH adalah seruan atau ajakan yang dilaksanakan para penda’i untuk mengajak dan ”mengilhami” semua orang agar mereka senantiasa berbuat baik. Umumnya, pandangan tentang dakwah, masih dimaknai sebatas kegiatan keagamaan (memuaskan dimensi spiritualitas), pengajian (syukuran, peringatan hari besar Islam), dan siraman rohani yang hanya bermuara dakwah bil lisan (ceramah) melalui mimbar, takshow, atau orasi bebas.  


Padahal, dakwah era kontemporer saat ini tidak cukup hanya dengan lisan (ceramah), melainkan harus dengan aksi nyata (bil hal) dan media tulisan (bil kalam). Model dakwah yang menyentuh dan berdampak positif akan membuat masyarakat lebih merasakan langsung ketimbang dengan ceramah melalui mimbar-mimbar, walaupun hal itu penting.


Dakwah merupakan jalan penerang kehidupan manusia. Para nabi dan rasul diutus untuk menjadi penerang (tanwir) yang mengajak umatnya untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan (fastabiqul khairat). Secara historis, kesuksesan dakwah para nabi/rasul adalah karena pilihan format dan tindakan dakwahnya yang sangat menyentuh dan adaptif terhadap kebutuhan umatnya. Dakwah para nabi/rasul tidak mengambil jalan konfrontatif, apalagi menggunakan cara-cara anarkhis. Strategi dakwah profetik (kenabian) selalu mengedepankan nilai-nilai ”keadaban” dan ”kemanusian” yang agung dan mulia.


Misi besar Islam yang diterjemahkan para nabi, rasul serta para penda’i adalah membuat tatanan masyarakat menjadi cerdas, unggul dan maju. Dakwah sebagai tugas mulia, memiliki makna penting yang luarbiasa dalam membangun alam kesadaran intelektual dan perilaku sosial umat manusia yang etis dan luhur.

Merespon cita-cita mendasar seperti hal di atas, Asep Muhyiddin, dkk melalui buku ini, menghadirkan konstruksi teoritis dan praktis mengemas model dakwah yang solutif. Para pegiat dakwah akan melihat fenomena sosial, membaca realitas masyarakat serta mengaitkan isu-isu global dengan nilai-nilai Islam. Selain berlandaskan teoritis dan praktis, karya ini juga menyuguhkan kajian akademik bersumber pada riset-riset ilmiah tentang problem-problem kajian dakwah.


Misi Dakwah: Edukasi Sosial

Dakwah dapat dimaknai sebagai proses edukasi (pembelajaran) oleh pendidik (nabi/rasul, guru, mursyid) kepada semua orang.  Dakwah merupakan wahana untuk mencerdaskan pikiran (otak), menumbuhkan-suburkan spiritual (jiwa/hati), serta membekali ketrampilan (skill) kepada umat. Peran nyata yang diakibatkan oleh kegiatan dakwah, yaitu melakukan misi edukasi sosial yang terus menerus sepanjang zaman.


Dakwah  era kontemporer sekarang ini membutuhkan metode yang tepat sasaran dan efektif. Mengatasi hal itu, kita perlu mengemas strategi dakwah dengan pendekatan multidimensional, yakni melalui cara-cara adaptif-efektif yang relevan dengan kondisi dan situasi masyarakat. Strategi dakwah yang melintas batas bidang kehidupan, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya, keagamaan, politik, pendidikan, pertanian, kelautan, kesehatan  dan seterusnya. Dakwah bil hal akan semakin manjur dan efektif dalam membangun akselerasi tatanan kehidupan sosial lebih baik.


Dakwah era kontemporer dapat dilakukan dengan bentuk pendidikan dan latihan (diklat) yang hasilnya lebih kontributif dan nyata (riil). Selain dakwah yang sifatnya monolog (ceramah), kiranya perlu dipikirkan terobosan baru dengan aksi dan kreasi yang kompatibel dengan persoalan umat. Dakwah adalah solusi mengentaskan persoalan (problem solving) umat, dan bukan malah menambah beban umat. Dakwah menjadikan umat ”teredukasi” (tercerahkan, terpelajar) yang dampaknya mereka mampu mengatasi problematika masing-masing.

Upaya hal tersebut memerlukan peran dakwah secara kolektif, yaitu melalui organisasi masyarakat (ormas), terutama Ormas Islam (Muhammadiyah, Al-Irsyad, Nahdlatul Ulama, Persis, Hidayatullah, dll) sebagai pilihan utama untuk mencerdaskan dan membangun kualitas masyarakat terpelajar. Gerakan dakwah perlu diubah dari bersifat monolog (seremonial), menuju aksi (tindakan) nyata, misalnya memperbesar porsi dakwah dibidang pendidikan, kesehatan, pertanian dan kelautan melalui pembinaan budidaya tanaman dan perikanan, ekonomi melalui pelatihan usaha kecil dan menengah (UKM), serta bentuk-bentuk usaha kreatif lainnya.


Dakwah masa depan diangankan menjadi kebutuhan edukatif umat dan sebagai jalan solusi problem sosial keagamaan. Sebagai rujukan para juru dakwah, sumber bacaan seperti ini diharapkan menjadi inspirasi dan bekal praktis untuk merespons isu-isu strategis dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.


Gagasan para akademisi ini meneguhkan semangat akademik untuk terus mematangkan dan mengembangkan konstruksi ilmu dakwah, baik secara metodologis maupun ketegasan batasan dan wilayah kajiannya, termasuk menggambarkan ragam problem dan tantangan yang dihadapinya. Selamat Membaca!


*) Mujtahid, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang



Senin, 10 Februari 2014

Meneladani Spirit Hidup Nabi Muhammad SAW

Mujtahid*

SUDAH menjadi tradisi turun temurun di tanah air, bahwa setiap 12 Rabiul Awwal hijriyah umat Islam memperingati kelahiran (milad) Nabi Muhammad Saw. Tradisi itu bahkan dilembagakan oleh kelompok thariqat atau majelis dzikir tertentu dengan memperingatinya berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan hingga berbulan-bulan.

Nabi Muhammad Saw lahir sebagai seorang anak yatim [QS. 93:6] di tanah Jazirah Arab 14 abad yang silam. Kelahiran tersebut telah disetting oleh Sang Khaliq sebagai aktor pencerah (tanwir) yang agung dan mengagungkan peradaban umat manusia. Jejak perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw telah mampu mengubah tatanan masyarakat jahiliyah (awwam) menjadi masyarakat yang cerdas (khawas), beradab dan berakhlak mulia dalam lintasan ruang dan waktu.

Sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad Saw berhasil mengubah kultur dari perilaku warga yang suka perpecahan (konflik/skisme) menjadi warga yang bersaudara (ukhuwah) antar bani, suku dan ras. Misi besar kerasulan berikutnya adalah menata sistem keyakinan (keimanan) umat manusia dari yang bercorak aninisme atau dinamisme menjadi pengikut yang monotheisme (tauhid). Perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad Saw hingga mencapai keberhasilan seperti itu memakan rentang waktu lebih kurang 22 tahun lamanya.
           
Teladan Umat Manusia
Nabi Muhammad Saw ditunjuk oleh Allah sebagai panutan, suri tauladan dan pemimpin umat manusia. Sungguh tidak ada manusia di muka bumi ini yang mampu menandingi budi pekerti, kepribadian dan watak perangainya itu. Dari berbagai sumber referensi shirah nabawiyyah, Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai pemimpin yang jujur (shidiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah) dan komunikatif (tabligh) kepada siapa saja melintas batas hereditas, primordialisme maupun sekat-sekat kesukuan, ras dan keyakinan sekalipun.

Pentingnya memperingati milad Nabi Muhammad Saw setiap tahun itu adalah agar kita dapat meneladani “nilai-nilai kepribadian agung”  tersebut menjadi sumber energi jiwa raga pemeluk umat Islam. Peringatan miladurrasul bukan berhenti sebatas seremonial belaka, melainkan kita peringati melalui aksi nyata dengan mencontoh spirit keluhuran budi pekerti dan perangai Rasulullah itu dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw (Muhammadiyah), umat Islam harus tampil sebagai pelaku atau aktor penggerak kemajuan dan keunggulan komunitas, masyarakat, dan negara (khaira ummah) [QS. 3:110]. Kunci-kunci meraih kesuksesan hidup, baik di alam dunia maupun akhirat, juga sudah banyak diperagakan oleh Nabi Muhammad Saw. Pertanyaanya, apakah kita sudah sepenuhnya “memperingati” miladurrasul secara sungguh-sungguh, masuk menjadi bagian dari kepribadian kita?

Gambaran ideal sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw adalah orang yang dapat menjalankan ritme hidupnya bermanfaat bagi orang lain, keterpaduan antara ucapan dan perbuatannya, keberadaan dirinya dirindukan oleh sesamanya, seimbang antara kesalehan ritual (ibadah) dan sosialnya, serta menjadi sosok yang mampu membaca tanda-tanda perubahan zaman.

Sebagai teladan umat manusia, kehebatan Nabi Muhammad Saw adalah mampu memadukan pandangan integralistik Islam secara komprehensif (utuh/holistik) dalam menjaga hubungan dirinya dengan Sang Khaliq (Hablum Minaallah) dan hubungan dirinya dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Cara pandang inilah sebagai kata kunci (keyword) untuk menjadikan diri sebagai manusia pilihan, manusia mulia dan agung, yang terbalut oleh budi pekerti, akhlak mulia dan cerdik cendikia.

Menjaga hubungan dekat antara diri kita dengan Allah dan sesama manusia bukanlah hal yang ringan. Sebab godaan dan rintangan selalu menghadang di mana pun dan kapan pun. Mungkin, kita tidak terasa telah berkongsi (bersekutu) dengan syetan dan Iblis, sehingga jauh dari Allah dan manusia. Nabi Muhammad Saw sukses dan berhasil dalam mengemban misinya, karena teguh dan istiqamah dalam menjaga keseimbangan (equilibrium) hidup antara dekat dengan Tuhan dan Manusia.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw, sepantasnya kita perlu merenungkan kembali seraya menata diri untuk memperbaiki kualitas hidup sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai ajaran Islam. Kalau hari ini kita belum dapat merubah diri secara menyeluruh, maka kita mulai lakukan dari hal-hal yang mudah dan sederhana terlebih dahulu.  Setelah yang mudah dan sederhana terlewati, kemudian berikutnya kita gerakkan jiwa, pikiran dan hati untuk berkarya yang lebih besar dan berbobot.

Melalui momentum miladurrasul 1435 hijriah, marilah kita sinergikan antara antara gerak pikiran, jiwa dan hati nurani untuk menebarkan kebaikan, kemanfaatan bagi sesama (rahmatan lil ’alamin) sesuai profesi (bidang pekerjaan) kita masing-masing. Tujuan besar dan misi mulia itu akan terwujud, manakala fungsi kesadaran jiwa hidup, kepekaan hati hidup, dan kecerdasan akal juga hidup seperti teladan Nabi Muhammad Saw. Tidak ada bekal yang kekal yang akan kita miliki, kecuali amal shalih dan ketaqwaan kepada Allah serta mencintai dengan cara meneladani spirit hidup Rasulullah Saw.

*) Dosen PAI FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang



Senin, 13 Mei 2013

Posisi Ilmu dalam Pendidikan Islam

BERBICARA pendidikan adalah berbicara tentang keyakinan, pandangan dan cita-cita tentang hidup dan kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi (Fadjar, 1999). Statemen tersebut dapat digali maknanya lebih luas lagi, bahwa pendidikan tidak hanya dipahami sebatas “proses pengajaran” mentransfer pengetahuan, melainkan proses menanam nilai-nilai sikap dan tingkah laku (akhlaq), melatih dan memekarkan pengalaman, serta menumbuh-kembangkan kecakapan hidup (life skill) manusia. 

Pendidikan Islam merupakan proses pendewasaan dan sekaligus ‘memanusiakan’ jati diri manusia. Dikatakan ”memanusiakan,” karena manusia lahir hanya membawa bekal potensi. Melalui proses pendidikan, potensi manusia diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sempurna, sehingga ia dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai manusia. 

Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah kerja akal budi untuk mengembangkan fitrah yang dibekalkan Allah kepada diri manusia. Potensi yang diberikan oleh Tuhan memang dapat dikatakan masih setengah jadi, sehingga butuh sentuhan dan rekayasa ilmiah melalui proses pendidikan Islam agar potensi tersebut tumbuh dan berkembang maksimal. Dalam Islam, mengenyam pendidikan dipandang sebagai kewajiban personal sepanjang hayat manusia (life long education). 

Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia dibekali oleh sang khaliq dengan potensi kodrat yang sempurna, yaitu potensi cipta, rasa dan karsa. Potensi berharga inilah yang mengantarkan bahwa manusia adalah khalifah di dunia ini. Dengan dukungan potensi tersebut, manusia dididik agar memiliki orientasi yang tinggi untuk mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan yang terkandung pada realitas yang ada di alam semesta ini. Melalui proses pendidikan Islam itulah hidup manusia akan mencapai sebuah kehidupan yang baik dan seimbang. 

Segala sesuatu yang tergelar di jagat raya ini pasti membutuhkan ilmu, baik ilmu duniawi maupun ukhrawi. Kedua ilmu tersebut harus dikuasai secara seimbang, karena “masa depan” manusia juga ditentukan oleh seberapa jauh manusia menguasainya. Keberhasilan menggapai duniawi maupun ukhrawi akan sangat ditentukan kadar keilmuan yang diraihnya. Posisi Ilmu dalam Pendidikan Islam Objek utama dalam pendidikan Islam adalah ilmu, pengalaman dan keteladanan. Sementara manusia adalah subjek yang mencerna dan mengembangkan ilmu, mengasah pengalaman dan mempraktikkan dalam kehidupan. Ilmu merupakan pancaran cahaya kehidupan manusia yang dapat menerangi dan mengarahkan jalan hidupnya ke arah yang lurus. 

Di dunia ini ilmu dipetakan menjadi tiga bagian, ialah ilmu alam, ilmu sosial dan ilmu humaniora. Ilmu alam bersumber tiga pokok yaitu biologi, kimia, fisika. Dari ketiga pokok itu melahirkan cabang ilmu beraneka ragam seperti matematika, arsitektur, kedokteran, pengairan, astronomi, geografi, farmasi, peternakan, teknik, kelautan, perikanan, dan seterusnya. Ilmu sosial bersumber pada empat pokok yaitu sejarah, antropologi, sosiologi dan psikologi. Dari keempat ilmu tersebut kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang, seperti ilmu pendidikan, ekonomi, politik, hukum, komunikasi, manajemen dan seterusnya. Sedangkan ilmu humaniora bersumber pada tiga hal yaitu ilmu filsafat, bahasa, sastra dan seni. 

Selama ini oleh mayoritas orang memandang bahwa ketiga corak ilmu tersebut, yakni ilmu alam, sosial dan humaniora adalah ilmu yang digolongkan sebagai ilmu umum. Sedangkan ilmu agama (Islam), adalah ilmu yang meliputi al-Qur’an, hadits, fiqih, aqidah akhlak, tarikh (sejarah Islam) dan bahasa Arab. Tragisnya, bahwa umat Islam belum sepenuhnya menjadikan apa yang disebut ”ilmu umum” itu sebagai sesuatu yang urgen (berguna) bagi tata laksana kehidupan, sehingga terkesan boleh ditinggalkan. Sementara ilmu agama adalah ilmu yang wajib dipelajari karena berhubungan dengan tatacara mengabdi kepada Allah. Akibat mindset ini akhirnya terjadi dikhotomi yang sulit disatukan seperti saat ini, baik lembaga pendidikan maupun pandangan masyarakat. Kekeliruan menempatkan tatanan keilmuan itu mengakibatkan umat Islam tidak dapat berkembang dan maju. 

Umat Islam menjadi ketinggalan zaman, karena upaya menggali dan mempelajari ilmu-ilmu umum kurang mendapat perhatian, baik dari orangtua, lembaga pendidikan maupun para pemimpin umat Islam itu sendiri. Untuk meluruskan mindset itu dibutuhkan langkah dan strategi yang mampu membangkitkan pendidikan Islam yang bermutu dan unggul, yaitu dengan mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Ilmu agama (Islam) sebagaimana tersebut di atas dijadikan sebagai pondasi dan penguat untuk menyanggah ilmu umum yang bermacam-macam cabang tersebut. Sehingga seorang yang berprofesi guru, pedagang, politikus, dokter, pengacara, dan seterusnya memiliki nilai etis religius yang kuat karena mereka telah memiliki ilmu agama sebagai bekal dan modal dasarnya. Seringkali yang kita saksikan adalah ilmu itu adalah bebas nilai, sehingga profesi itu menjadi bebas dan tak terikat dengan nilai-nilai ilahiyah dan insaniah serta norma-norma ajaran Islam (al-qur’an dan hadits). Integrasi ilmu semacam ini perlu dikonsep secara matang dan dipraktikkan ke dalam penyelenggaraan pendidikan yang unggul. 

Begitu pentingnya kedudukan ilmu, sehingga Islam menganjurkan manusia agar meraihnya sampai titik paripurna. Ilmu juga dipandang ikut mengiringi atau menentukan nasib atau kadar baik buruk kualitas manusia. Dan pembicaraan ilmu dalam hadits mencakup dimensi hidup dan kehidupan, mencakup semua unsur, yaitu pendidikan keilmuan, keimanan (spiritualitas), etika (akhlak), fisik (jasmani), rasio (akal), kejiwaan (hati nurani), skill (ketrampilan), sosial kemasyarakatan, dan seksual. 

Kegiatan pendidikan atau mencari ilmu harus dimulai dari pendidikan pribadi atau keluarga, lembaga sekolah, dan masyarakat. Ketiganya harus terjalin dan berlangsung secara terpadu, selaras, serasi, seimbang, dan harmonis. Pendidikan tidak akan berfungsi dengan baik bila hanya berjalan parsial dan tidak menyeluruh. Karenanya dibutuhkan pengelolaan secara integratif dengan memadukan semua unsur yang mendukungnya. Dari sinilah pendidikan akan menghasilkan sosok pribadi yang tangguh. 

Pendidikan harus dimulai dari institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara sinkron dan integrated dalam memberikan pengaruh pendidikan kepada anak. Problemnya kini banyak keluarga yang kurang perhatian dan tidak memberikan reference person (suri tauladan) kepada anak. Begitu pula dengan aturan-aturan masyarakat yang sangat longgar sehingga memunculkan pergaulan bebas yang mutatif. 

Padahal pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan pendidikan yang bersifat pembentukan karakter dan tabi’at, ketimbang kognitif. Selain pembentukan sosok pribadi di atas, tujuan pendidikan diharapkan mampu mencetak manusia berjiwa tauhid (berkedalaman spiritual), beramal shalih (berbuat dengan ilmunya), ulil albab (pemikir, ahli dzikir dan amal shaleh), serta berakhlak mulia. Untuk mewujudkan pendidikan yang ideal tersebut diperlukan usaha dan kerja keras serta dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Trilogi institusi itu ke depan harus menjadi kekuatan untuk membangun kualitas sumber daya manusia yang cerdas, berkarakter dan menghargai kultur dan bangsanya. 

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Jumat, 19 April 2013

Islam dan Cita-cita Hidup Manusia

SEBAGAI sebuah agama, Islam adalah ajaran yang menekankan bentuk kepasrahan totalitas. Seperti namanya, sebuah kata dalam bahasa Arab bahwa makna Islam ialah sikap pasrah kepada Allah secara keseluruhan, karena menaruh kepercayaan dan menambatkan hidupnya hanya kepada Allah Swt. Dalam kitab suci al-qur’an ditegaskan bahwa manusia tidak dibenarkan bertindak setengah-setengah. Sebagai makhluk Allah, manusia harus tunduk taat dan patuh kepada Sang Pencipta (Allah), terhadap segala perintah dan larangannya. Allah dengan rahmat-Nya akan membimbing manusia beriman---orang yang hati, lisan dan perbuatannya---berbuah kebajikan untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat dan negaranya. Islam memberikan jalan yang menyelamatkan dirinya agar hidupnya bersih, bahagia dan selamat. Islam sebagai agama terakhir yang dibawa Nabi Muhammad Saw memiliki dimensi kesejarahan yang sangat menarik. Menarik bukan saja dari segi doktrin dan risalahnya, namun juga tidak kalah pentingnya adalah dari sudut peristiwa-peristiwa kenabian (profetik) yang dialaminya sebagai rasul terakhir. Islam memuat segala bidang kehidupan. Al-Qur’an membiarakan agar orang mukmin itu selalu berdzikir kepada Allah, berpikir untuk melahirkan ilmu pengetahuan, menggali dan mengeksplorasi ciptaan Allah, serta mengantarkan bahwa ciptaan Allah itu benar-benar membuktikan keagungan-Nya. Jika dilihat dari sudut ajarannya, Islam adalah agama yang memiliki banyak piranti, diantaranya; dimensi pembaruan (tajdid), pembebasan (tauhid) dan universal (rahmatan lil alamin). Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-qur’an bahwa misi kerasulan Muhammad Saw adalah titah universal, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu (QS. 21:107). Mengemban misi universalisme Islam, berarti dalam kerasulannya bukan hanya mendemontrasikan aspek-aspek kehidupan yang bersifat ukhrawi (sakral), melainkan juga memberikan tauladan kemanusiaan, bahwa Nabi Muhammad sendiri menekankan betapa pentingya aspek-aspek kehidupan duniawi (profan) yang tidak bisa diabaikan begitu saja (QS. 28:77). Karena aspek yang kedua ini merupakan bagian dari sekian banyak pilar yang akan ikut memformat kehidupan kehidupan jangka panjang atau eskatologis (ukhrawi). Hijrah sebagaimana yang dikenal dalam sejarah kenabian (Muhammad) adalah rangkaian dari misi kerasulannya sebagai figur mujaddid (reformer, pembaru) akhlak dan moral manusia. Muhammad Saw. melakukan tranformasi kehidupan besar-besaran, dari sosio-kultural yang otoritatif, yang dzalim dan musyrik, menuju tatanan masyarakat madani (civil society). Seorang rasul itu mengemban tugas menyalakan lentara keadilan dan kerahmatan semua manusia. Pesan moral Islam yang digubah rasulullah itu dimaksudkan untuk membuka tatanan baru yang telah kehilangan makna, dengan menawarkan cara hidup yang berkualitas dan berbuah kebaikan. Semangat hijrah dapat dimengerti sebagai perubahan dari tatanan semula yang kurang beradab menjadi beradab, baik menyangkut masalah keyakinan maupun masalah kaidah-kaidah kemasyarakatan. Hijrah mengadung pesan moral yang sangat tinggi untuk merespons ancaman terhadap kelangsungan hidup dan keamanan sosial (QS. 2:218). Pesan hijrah diantaranya adalah telah melahirkan sendi-sendi kehidupan yang berprinsip pada tauhid (liberty). Semula orang Arab menganggap bahwa benda patung adalah Tuhan mereka, yang dianggap mampu memberikan kepastian dan keselamatan hidup. Dengan kedatangan Muhammad, masyarakat Arab berubah keyakinan menjadi monotheisme, meski tidak semua penduduk mempercayainya. Di samping itu, pesan moral hijrah adalah adanya pengakuan prinsip equality (persamaan). Kehadiran Nabi Muhammad di tengah-tengah masyarakat, tidak pernah menomorduakan warganya, lantaran sentimen agama, kelompok, ras dan budaya. Semua warga memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperhatikan sebagaimana yang lain, selama tidak saling mengganggu dan memusuhinya. Kesaksian hijrah ditunjukkan dengan sikap moral yang luhur bahwa betapa pentingnya sikap tasamuh (toleransi) dalam kehidupan sosial. Kemauan bertasamuh merupakan sikap moral yang sadar dan terbuka. Kemauan ini berarti menuntut keberanian dalam menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Seruan moral selanjutnya adalah adanya negara hukum. Sebagai sebuah perangkat kehidupan masyarakat, hukum merupakan jantung dari sendi-sendi kedamaian dan keadilan. Rasa kedamain dan keadilan merupakan tujuan kehidupan manusia dalam membangun cita-cita masyarakat, bangsa dan negara. Jadi hijrah merupakan kemauan dalam menegakkan hukum untuk melindungi segala kedzaliman yang terjadi. Tujuan ini adalah melindungai jiwa dan agama sekaligus mengurangi penderitaan kaum tertindas akibat perbuatan yang melanggar hukum (QS. 3:195, 4:100). Seruan ini dipraktekkan Muhammad selama dalam proses kenabiaannya. Dengan ketegasannya itu ia mengatakan bahwa ‘’jika Fathimah (putrinya) mencuri, maka ia akan dipotong tangannya”, seruan ini benar-benar tegas dan lugas tidak memangdang status sosial apapun. Tidak heran kalau kebanyakan pakar melihat bahwa semangat profetik, jika dikaji dari kacamata akademis bukanlah hal yang berlebihan. Namun, pada kenyataannya Nabi Muhammad sebagai figur historis tidak hanya diakui oleh penganutnya sendiri, tetapi juga diakui orang atheis sekalipun. Maxim Rodinson misalnya, ilmuan atheis yang memiliki andil besar dalam memperkenalkan ketokohan Muhammad kepada masyarakat Barat. Belum lagi ilmuan lain seperti Montgomery Watt, Annemarie Schimmel, Martin Lings, ataupun Karen Armstrong yang selama 9 tahun aktif sebagai biarawati. Mereka itu, melalui karya tulisannya dengan segala kelebihan dan kekurangan telah melakukan pembelaan historis-akedemis terhadap reputasi Nabi Muhammad sebagai salah seorang dari sekian tokoh sejarah yang meletakkan dasar, pedoman dan spirit bagi pembangunan peradaban manusia. Karena itu, merupakan keharusan ilmiah belaka jika ilmuan semacam Philip K. Kitti ataupun Marshall G. Hodgson melihat Nabi Muhammad dan agama Islam yang diwariskannya telah sanggup menyulap dunia Arab dari padang pasir gundul menjadi mata air peradaban yang pada gilirannya secara signifikan ikut mewarnai wacana dan perjalanan panjang sejarah dunia. Dari sekian banyak ilmuan Barat di atas mengakui bahwa Muhammad tidak hanya menjadi panutan umat muslim, tetapi merupakan manusia pilihan yang memiliki integritas moral kemanusiaan yang sangat luhur dan bijak. yang menjunjung tinggi moral kemanusiaan. Dengan demikian, hijrah merupakan tahap paling peting dalam perjalanan spiritual manusia kepada jalan ilahi (ketentraman dan kedamaian). Begitu juga, implikasi sosialnya sangat luas dalam membersihkan bentuk-bentuk kemunkaran dan kedzaliman menuju proses pembersihan diri demi tegaknya agama, sebagai pandangan hidup dalam memformat sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan ketatanegaraan. *) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Senin, 14 November 2011

Karakteristik Kepemimpinan Profetik

KEPEMIMPINAN adalah upaya menggerakkan, mempengaruhi, mengelola, dan membawa berita gembira kepada semua orang. Seorang pemimpin itu merupakan tauladan (contoh), inspirator, motivator dan pembangkit semangat bagi para pengikutnya untuk tergerak hatinya, pikirannya dan perbuatannya mencapai harapan, cita-cita dan tujuan hidup yang ter baik dan mulia.

Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan yang digali dari cara rasul/nabi memimpin ummatnya. Para nabi dan rasul, sebagai pemimpin umat manusia di muka bumi ini, memiliki beberapa karakter dan sifat yang sangat agung dan mulia. Berbekalkan sifat dan karakter tersebut, maka semua nabi dan rasul sukses membawa perubahan dan kemajuan membangun sikap hidup pengikut dan masyarakatnya sesuai dengan zamannya masing-masing.

Kepemimpinan profetik dipandang sebagai pola kepemimpinan yang paling sukses dalam membentuk sebuah tatanan kehidupan manusia yang berkualitas. Nilai-nilai kepemimpinan profetik seyogyanya dapat ditransformasikan ke dalam model kepemimpinan pada lingkup organisasi sosial keagmaan, pendidikan, bahkan tata pemerintahan sekalipun.

Setidaknya ada tujuh karakteristik kepemimpinan profetik yang bisa saya uraikan dalam tulisan ini, yaitu antara lain;

1. Memiliki karakter shidiq (jujur). Kepemimpinan profetik mengedepankan integritas moral (akhlak), satunya kata dan perbuatan, kejujuran, sikap dan perilaku etis. Sifat jujur merupakan nilai-nilai transedental yang mencintai dan mengacu kepada kebenaran yang datangnya dari Allah SWT (Shiddiq) dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Perilaku pemimpin yang ”shiddiq” (shadiqun) selalu mendasarkan pada kebenaran dari keyakinannya, jujur dan tulus, adil, serta menghormati kebenaran yang diyakini pihak lain yang mungkin berbeda dengan keyakinannya, bukan merasa diri atau pihaknya paling benar.

2. Memiliki karakter amanah. Kepemimpinan profetik mengahadirkan nilai-nilai bertanggungjawab, dapat dipercaya, dapat diandalkan, jaminan kepastian dan rasa aman, cakap, profesional dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Karakter tanggungjawab, terpercaya atau trustworthy (amanah) adalah sifat pemimpin yang senantiasa menjaga kepercayaan (trust) yang diberikan orang lain. Karakter amanah dapat menajamkan kepekaan bathin seorang pemimpin untuk bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik/organisasi.

3. Memiliki karakter tabligh. Kepemimpinan profetik menggunakan kemampuan komunikasi secara efektif, memiliki visi, inspirasi dan motivasi yang jauh ke depan. Seorang pemimpin itu memerlukan kemampuan komunikasi dan diplomasi dengan bahasa yang mudah dipahami, diamalkan, dan dialami orang lain (tabligh). Sosok pemimpin (seperti karakter nabi dan rasul) bahasanya sangat berbobot, penuh visi dan menginspirasi orang lain.

4. Memiliki karakter fathanah (cerdas). Kepemimpinan profetik itu mempunyai kecerdasan, baik intelektual, emosional maupun spiritual, kreativitas, peka terhadap kondisi yang ada dan menciptakan peluang untuk kemajuan. Sosok pemimpin itu harus cerdas, kompeten, dan profesional (fathanah). Pemimpin yang mengacu sifat fathonah nabi adalah pemimpin pembelajar, mampu mengambil pelajaran/hikmah dari pengalaman, percaya diri, cermat, inovatif tetapi tepat azas, tepat sasaran, berkomitmen pada keunggulan, bertindak dengan motivasi tinggi, serta sadar bahwa yang dijalankan adalah untuk mewujudkan suatu cita-cita bersama yang akan dicapai dengan cara-cara yang etis.

5. Memiliki karekter istiqamah (konsisten/teguh pendirian). Kepemimpinan profetik mengutamakan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement (Istiqamah). Pemimpin yang istiqomah adalah pemimpin yang taat azas, tekun, disiplin, pantang menyerah, bersungguh-sungguh, dan terbuka terhadap perubahan dan pengembangan.

6. Memiliki karakter mahabbah (cinta, kasih-sayang). Kepemimpinan profetik mengutamakan ajaran cinta (mahabbah) bukan kebencian dan pemaksaan. Karakter pemimpin profetik selalu peduli (care) terhadap moral dan kemanusiaan, mudah memahami orang lain/berempati, suka memberi tanpa pamrih (altruistik), mencintai semua makhluk karena Allah, dan dicintai para pengikutnya dengan loyalitas sangat tinggi.

7. Memiliki karakter shaleh/ma’ruf (baik, arif, bijak). Kepemimpinan profetik adalah wujud sebuah ketaatan kepada Allah dan mendarmabaktikan dirinya untuk kesalehan, kearifan dan kebajikan bagi masyarakatnya. Ketaatan dan keshalehan para nabi atau rasul berpedoman pada wahyu dan mu’jizat dari Allah. Karakter shaleh/arif dapat melahirkan pesona kharismatik yang merupakan ilham dari ilahi, yang terpancar pada permukaan kulit, tutur kata, pancaran mata, sikap, tindakan, dan penampilan. Seorang pemimpin yang shaleh mempunyai kualitas kepribadian individu yang utuh sehingga menyebabkan orang lain menaruh simpati, percaya dan menganut apa yang diinginkannya. Pemimpin shaleh berarti pemimpin yang dirinya diakui pengikut, karena ketaatannya kepada Allah.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Selasa, 06 September 2011

Mengenal Budaya dan Kemajuan Lamongan

Mujtahid

LAMONGAN adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang mengalami pembangunan sangat cepat, terutama infrastruktur, industri dan wisata. Sejak satu dasawarsa terakhir, Lamongan dikenal sebagai daerah yang beberapa kali meraih penghargaan otonomi award dari propinsi Jawa Timur dan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Keberhasilan lainnya adalah merebut sebagai kabupaten yang mampu menciptakan good goverment.

Lamongan memiliki tradisi dan budaya yang beragam (multi culture). Warga lamongan sangat dikenal memiliki etos yang tinggi, pekerja keras, dan tidak mudah menyerah. Orang Lamongan sangat menghargai kesempatan dan waktu untuk digunakan hal-hal produktif. Orang Lamongan, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja di sektor apa pun. Namun yang lebih mengesankan adalah adanya kerjasama dan komunikasi yang baik antara suami dan istri yang rela saling berbagi pekerjaan demi menunjang kesuksesan keluarga.

Mayoritas mata pencarian warga Lamongan adalah petani dan nelayan. Sisanya ada yang menjadi pedagang, Guru, PNS, dan TKI di negara jiran Malaysia. Budaya warga Lamongan adalah tidak selalu menggantungkan seorang suami sebagai kepala keluarga, tetapi suami-istri sama-sama mengambil peran masing-masing. Dalam soal pekerjaan untuk mendapatkan rezeki, suami-istri kerja di sawah adalah hal yang biasa. Suami pergi ke laut dan istri membetulkan jala/jaring adalah hal yang lumrah. Itulah hidup kebersamaan yang tampak sehat dan harminis. Hal lain yang dapat ditemui yaitu jarang terjadi perceraian suami-istri, sebagaimana orang yang hidup diperkotaan, apalagi perilaku seorang artis di ibu kota.

Resep hidup kebersamaan itulah menjadi modal utama bagi orang Lamongan untuk membangun sebuah keluarga sakinah mawaddah warahmah. Orang Lamongan suka hidup apa adanya, tanpa harus menunjukkan sesuatu yang bukan menjadi milik dan kepunyaannya. Kehebatan budaya Lamongan ialah semangat menghargai dan mencintai kebersamaan dalam berbagai keberbedaan yang ada. Budaya seperti itu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam lingkup keluarga, dan lebih-lebih di tengah masyarakat.

Wilayah Lamongan terbagi menjadi beberapa bagian, yakni pesisir, tengah kota dan pedalaman. Ketiga wilayah itu selain memiliki kesamaan juga memiliki kharakteristik dan ciri berbeda. Biasanya, budaya pesisir dikenal sebagai budaya yang keras dan orang-orangnya bermental pantang menyerah. Warga pesisir dijuluki sebagai warga yang berperilaku religius. Paham keagamaan mereka sangat kuat dan rajin menjalankan ibadah. Shalat jama'ah lima waktu dibeberapa masjid dan mushalla tampak ramai seperti shalat jum'at. Demikian halnya dengan puasa, walau mereka bekerja sangat berat dan menantang karena sengatan matahari begitu panas, akan tetapi mereka jarang sekali meninggalkan puasanya hanya gara-gara pekerjaan dan sengatan terik matahari. Hal ini sangat berbeda sekali dengan perilaku orang kota---- yang terbiasa hidup manja dan enak---- mereka mudah menggugurkan sebuah perintah dan kewajibannya hanya sebuah halangan dan tantangan yang tidak begitu berat.

Sentuhan Pemimpin Kreatif
Sejak kepemimpinan Bupati Masfuk sepuluh tahun silam, Lamongan bagaikan disulap menjadi daerah yang maju, inovatif dan terkelola dengan baik. Potensi daerah yang selama ini masih belum tergali dan dimanfaatkannya, kini dioptimalkan dengan sangat luar biasa. Sebut saja misalnya, Masfuk membangun Wisata Bahari Lamongan (WBL), melengkapi Goa Maharani dengan binatang yang saat ini menjadi Maharani Zoo dan mendirikan hotel yang startegis di pesisir Laut Tanjung Kodok, membangun pelabuhan, pusat-pusat perbelanjaan, hingga sampai penciptaan becak bermotor, agar orang yang meraik becak tidak lagi bermodalkan "dengkul" tatapi dengan mesin.

Meski potensi itu sudah ada sejak dulu kala, bahkan takdir sunnahtullah serasa tidak seperti sekarang ini yang kita bayangkan. Tanjung Kodok sebagai kelebihan bibir pantai Lamongan sama sekali tidak pernah dipikirkan. Melalui tangan dingin Masfuk, semua potensi tersebut dimanfaatkan sebagai objek wisata dengan menggandeng investor asing untuk menginvestasikan modalnya di Lamongan. Jadilah Wisata yang menawan para pengunjung dan penziarah untuk melihat keindahan yang Allah takdirkan berjuta-juta tahun yang silam.

Saat ini ikon Lamongan terpusat pada WBL, sebagai tempat jujukan wisata para datang dari mana pun. Sekalipun lamongan memiliki wisata yang begitu eksotik, tetapi Lamongan tidak mau meninggalkan buadanya, yaitu religius. Lihat saja, di area WBL dibangun sebuah Masjid yang megah dan strategis bagi para pengunjung yang akan menunaikan shalat. Para wisatawan yang hendak shalat tidak perlu lagi menemui kesulitan mencari tempat shalat sebagaimana tempat wisata lainnya. Itulah sebuah ciri khas Lamongan yang sekalipun mengusung budaya modern, tetapi tetapi menghargai nilai-nilai yang religius yang masih kental diyakini orang.

Keberadaan WBL tidak lepas dari sebuah masyarakat pesisir Paciran-Lamongan. Masyarakat ini dikenal sangat kuat mempertahankan nilai-nilai religiusnya. Bahkan, untuk hari libur saja, orang Paciran lebih memilih hari jum'at ketimbang hari minggu. Tentu saja budaya tersebut lahir, bukan tanpa maksud. Bahwa hari jum'at adalah hari yang harus di hormati, karena seorang laki-laki wajib shalat jum'at. Sehingga sekolah/madrasah liburnya memilih hari jum'at, beberapa pekerja (nelayan dan buruh), memilih jum'at sebagai hari libur.

Keberhasilan Lamongan yang perlu diapresiasi adalah dari kabupaten yang sama sekali tidak diperhitungkan dan dikunjungi orang, kini menjadi kabupaten yang rata-rata perharinya tidak kurang dari 5000 pengunjung menengok keindahan wisata Lamongan, baik itu WBL, Maharani Zoo, maupun Makam Sunan Drajat. Bisa kita bayangkan, berapa putaran roda ekonomi yang terjadi dimasyarakat sekitarnya, yang mampu memberi penghidupan masyarakat.

Selain itu, Lamongan juga dikenal sebagai tempat makam salah satu walisongo, yaitu Sunan Drajat. Sunan Drajat adalah seorang wali yang hidupnya sangat sederhana dan memiliki kekhasan dalam berdakwah. Sunan Drajat berhasil mengislamkan daerah pesisir tanpa harus konfrontasi (berkonflik) dengan adat istiadat dan budaya setempat. Islam yang diajarkan Sunan Drajat adalah Islam mengayomi dan melindungi semua warga masyakatnya.

Tidak luput perhatian dari pemimpin Lamongan, Masfuk memainkan Makam Sunan Drajat sebagai potensi religi yang sangat penting untuk dikelola sebagai tempat wisata yang menguntungkan daerah dan masyarakat sekitar. Potensi ekonomi menjadi hidup berdampingan dengan wisata budaya religi yang menyatu dengan daerah setempat. Setelah dibangun dan dilengkapi dengan berbagai pusat perbelanjaan, kini pengunjung Makam Sunan Drajat datang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Lamongan juga membangun sebuah pelabuhan bernama PT. Lamongan Integrated Shorebase (LIS). Pelabuhan ini akan difungsikan untuk menyediakan sentra logistik terpadu bertaraf internasional. Dengan adanya pelabuhan itu, maka sentra logistik akan mampu melayani industri Migas yang beroperasi di Jawa Timur dan Indonesia Timur dengan konsep One Stop Hypermarket. Capaian ini merupakan keberhasilan Lamongan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.
Sumber potensi lamongan lainnya adalah padi dan ikan. Untuk Propinsi Jawa Timur, Lamongan telah surplus menyumbangkan beras untuk masyarakatnya dan kelebihannya di ekspor ke luar daerah Lamongan. Lamongan termasuk lumbungnya padi. Demikian halnya dengan ikan, Lamongan memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Jawa Timur, yaitu pelabuhan Brondong yang dulu diresmikan oleh Presiden Soeharto Tahun 1980an. Ikan yang bongkar muat di pelabuhan Brondong mampu mesuplai semua warga Lamongan hingga dapat dikomsumsi sampai ke berbagai daerah di pulau Jawa dan keluar pulau Jawa.

Dari cabang olah raga, Lamongan juga dikenal dengan sepak bolanya. Persatuan Sepak Bola Lamongan (Persela) mampu mengangkat reputasi nama Lamongan di pentas nasional. Persela beberapa kali telah menorehkan juara I Propinsi Jawa Timur. Tahun 2011 ini, persela U21 telah menyabet juara I Nasional. Prestasi demi prestasi yang lahir tentu bukan lahir dari sebuah ketidaksengajaan, akan tetapi merupakan upaya yang dirancang, dipersiapkan dan dikelola dengan baik.

Dari sekian banyak kemajuan yang ditorehkan Lamongan tersebut, yang perlu mendapat aksentuasi (perhatian/penekanan) yaitu adanya sikap mau maju, serius dan komitmen dalam memegang tugas dan amanah. Warga Lamongan tidak suka hidup kepura-puraan, akan tetapi menyukai hidup yang lugas, apa adanya dan tanpa pamrih.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.