Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2015

MEMBANGUN PENDIDIKAN TINGGI ISLAM BEREPUTASI DUNIA (Menggalang Prestasi dan Aksi UIN Maliki Malang Menuju World Class University)



A.     Sketsa Awal: Prestasi dan Aksi
Memasuki usia satu dasawarsa (sepuluh tahun), sejak berubah status dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) pada 21 Juni 2004 lalu, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengalami lompatan historis yang sangat ekspektatif di tengah arus persaingan perguruan tinggi di tanah air. Capaian dan prestasi gemilang tersebut telah menggugah pikiran, membuka pandangan, serta mengundang perhatian banyak kalangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
            Sebagai perguruan tinggi Islam yang bermula sangat kecil dan belum masuk perbincangan skala nasional, kini UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memiliki kekuatan dan keunikan yang luar biasa. Sentuhan kepemimpinan Imam Suprayogo selama empat periode berturut-turut atau enam belas tahun, mampu memainkan peranan universitas ini menjadi referensi atau ”rujukan utama” bagi semua pihak, tidak saja bagi perguruan tinggi Islam melainkan juga perguruan tinggi umum dari segala penjuru dunia.
            Kesuksesan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan dan takdir belaka, akan tetapi karena dibangun atas tekad, spirit dan motivasi yang kuat untuk menjabarkan ”Islam yang sesungguhnya”. Yaitu menjabarkan ajaran Islam yang mendorong umatnya, agar menjadi umat yang unggul, terdepan dan berkontribusi bagi pembangunan peradaban masyarakat, negara dan dunia yang bernilai tinggi.
            Alhasil, kini UIN Maliki Malang ditunjuk oleh Menteri Agama RI bersama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, untuk diproyeksikan menuju World Class University (WCU). Amanah sekaligus kepercayaan itu adalah tantangan baru yang harus dilewati dan dijawab dengan kerja sungguh-sungguh secara sistemik dan penuh dedikatif oleh seluruh sivitas akademika. Seperti pada masa transisi perubahan (transformasi) dari STAIN ke UIN, semua warga kampus harus ambil bagian sesuai dengan bidang pekerjaan masing-masing.
Semangat juang, pengorbanan serta dedikasi selama ini yang telah ”mendarah daging”, menyatu jiwa raga,  bagi semua warga kampus sepertinya akan ”diuji kembali” demi tercapainya tujuan dan cita-cita menjadikan universitas Islam negeri ini bereputasi dunia. Untuk menggapai keinginan itu sebenarnya tidaklah ringan, akan tetapi sivitas akademika telah memiliki modal historis, modal intelektual serta modal sosial yang luar biasa untuk memenuhi harapan itu.
Melalui beberapa modal di atas, spirit untuk menjadikan UIN Maliki Malang sebagai ”kampus nomor 1” di dunia sepertinya mendapat titik terang. Kini sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki universitas jauh mengalami peningkatan secara signifikan, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Sebagai modal intelektual, universitas saat ini memiliki dosen yang bergelar doktor lebih dari 35 persen. Semakin bertambahnya SDM yang berkelas itu, tentu dampaknya ialah detak jantung dan urat nadi kampus akan bergerak secara normal. Kompas perjalanan dan kemajuan universitas ini ke depan sangat ditentukan oleh SDM yang hebat dan unggul dengan ditopang kearifan spiritual dan moral (akhlak).
Sementara itu, modal sosialnya adalah universitas ini telah menjalin kerjasama dengan berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri, baik berasal dari negara tetangga (ASEAN), negara Timur Tengah maupun negara Barat. Selain itu, universitas juga menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga terkait, misalnya; Islamic Development Bank (IDB), JICA, serta beberapa lembaga lainnya. Belum lagi kepercayaan dari organisasi Islam dunia, organisasi Islam tanah air, serta para ulama’ dania, para tokoh, para ahli dan para ilmuwan.
            Adapun yang tidak kalah penting untuk menjadikan jalan mulus universitas ini menuju WCU adalah modal historis. Sejak sepuluh tahun terakhir, kampus ini dikenal oleh ”orang luar” sebagai kampus yang ”serba bisa” untuk mengubah dari yang tidak mungkin menjadi mungkin, dari yang tidak percaya menjadi percaya dan begitu seterusnya. Melalui modal historis itulah kebangkitan ”jilid dua” UIN Maliki Malang perlu disentuh dan dihidupkan kembali. Kesuksesan historis universitas ini bukanlah kebetulan dan keajaiban belaka, melainkan ada kobaran semangat, lembaran jiwa ikhlas (altruistik), serta ketulusan hati dari para aktor, pelaku dan penggerak kemajuan kampus ini.
GAMBAR 1:
TIGA MODAL UTAMA MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY


 
           









Melalui tiga modal tersebut di atas, prestasi dan aksi menuju universitas bertaraf internasional terbuka lebar. Kebangkitan UIN Maliki Malang ”jilid dua” ditentukan peran-peran strategis dan taktis oleh semua pihak, baik dari pimpinan tertinggi hingga pada lapisan paling bawah. Sesuai dengan slogan dan jargon pada saat launching WCU yang digelar bersamaan dengan peringatan Hari Jadi Kementerian Agama RI ke-68 (3/1/2014), bahwa kampus ini memerlukan gerakan massif ”one heart”, ”one spirit”, ”one vision”, dan ”one teamwork”. Energi dan kekuatan sumber daya yang dimiliki universitas harus diorganisir, dikelola dan diberdayakan secara optimal.
Cita-cita menuju universitas bereputasi dunia merupakan tonggak penting sekaligus menandai sejarah baru bagi kampus UIN Maliki Malang. Saatnya semua warga kampus membuka lembaran baru agar konsentrasi dan fokus dalam menjalankan aksi dan kreasi yang tepat sasaran dan tujuan. Kampus yang memiliki trademark perpaduan antara perguruan tinggi dan ma’had aly, pusat sekaligus pelopor pembelajaran bahasa asing (bilingual) bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta pengakaderan tahfidz al-Qur’an ini merupakan keunikan sekaligus distingsi (daya beda) dari perguruan tinggi lain yang ada di dunia. Sebagai pijakan awal, barangkali keunggulan, prestasi dan daya beda (distingsi) itulah sebagai pintu masuk menuju WCU.

B.     Ukuran Tradisi Akademik Bertaraf Internasional
Sejak berdiri tahun 1960-an yang silam, tradisi akademik di kampus ini telah cukup dikenal oleh kalangan luas, baik secara regional maupun nasional.  Sekalipun berstatus cabang dari IAIN Sunan Ampel Surabaya, perguruan tinggi ini memiliki reputasi yang sangat luar biasa. Tidak sedikit para dosen IAIN/STAIN Malang telah melahirkan karya tulis, baik berupa buku, modul, maupun diktat yang terbit dan digunakan sebagai bahan referensi dan rujukan di pelbagai perguruan tinggi lain.
Tradisi akademik melalui budaya menulis atau membuat karya tulis ilmiah itu sulit terbantahkan di UIN Maliki Malang (d/h. IAIN/STAIN). Dari sekian jumlah dosen yang ada, hampir semua dosen memiliki karya berupa buku masterpis (monumental) sesuai bidang keahliannya masing-masing. Padahal, para dosen tersebut hidup di era kegelapan, yang jauh berbeda dengan sekarang. Dulu, mereka berkarya saat belum ada listrik, alat komputer, internet, Ipad dan segala bentuk kecanggihan teknologi lainnya. Walaupun begitu, tanpa menyurutkan semangat dan mengurangi kreasi mereka, tradisi dan spirit akademik tetap tumbuh dan berkembang secara luar biasa.
 Hal lain yang menandai tradisi akademik yaitu proses pembelajaran yang dilakukan para dosen dan mahasiswa. Para dosen IAIN/STAIN, sekalipun mereka mengajar dengan cara dan metode seadanya,---- belum ada dukungan media elektronik modern seperti akhir-akhir ini,--- tetapi proses pembelajaran itu berjalan dengan sangat mengesankan, dan dapat melahirkan lulusan yang hebat dan handal.  Hasil pembelajaran seolah-olah bukan ditentukan oleh seberapa canggih dan modernnya alat dan media ajar, melainkan oleh ruh dan jiwa mengajar yang menyatu dan melebur pada diri dosen. Model seperti itulah sesungguhnya kekuatan, kearifan serta sebagai bentuk menandai kedalaman dan keluasan ilmu para dosen tempo dulu.
Proses pembelajaran yang dilaksanakan para dosen begitu disegani dan dihormati oleh para mahasiswa. Proses penilaian kegiatan akademik juga berlangsung sangat jujur dan terbuka, tidak ada budaya tawar menawar apalagi jual beli nilai antara dosen dan mahasiswa. Tradisi pembelajaran yang berupa penilaian hasil akhir akan kembali kepada capability (kemampuan) diri masing-masing mahasiswa. Kalau dirinya tidak mampu dan tidak lulus, maka ia akan berusaha belajar lebih giat lagi untuk mengulang ujian hingga sampai mendapatkan predikat lulus. Kewibawaan akademik sangat terjaga dan menjadi sangat sakral bagi semua orang yang belajar di perguruan tinggi.
            Gambaran dua hal di atas, antara budaya menulis dan budaya proses pembelajaran adalah ciri khas tradisi akademik tingkat tinggi.  Empat paragraf sebelumnya, merupakan sebuah ”narasi historis” betapa gigih dan kuatnya para dosen dalam menjaga dan menghormati tradisi akademik. Mulai tahun 1960-an hingga 1990-an, menurut hemat penulis, adalah era pertumbuhan menuju terwujudnya cita-cita menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Sebelum berubah menjadi universitas, atau berlangsung lebih kurang 30-an tahun, bibit-bibit peninggalan atau warisan tradisi akademik yang luar biasa tersebut telah ditanamkan oleh para dosen pendahulu kita.
GAMBAR 2:
Cycle DiagramGENERASI PERINTIS (MASA PERTUMBUHAN) UIN MALIKI MALANG











Seperti yang telah dicontohkan para pendahulu (generasi perintis) di atas, kiranya patut menjadi pelajaran dan bekal berharga bagi semua warga kampus untuk menggerakkan jiwa, pikiran dan hati guna mencapai cita-cita WCU. Tradisi akademik adalah iklim keilmuan yang harus dijunjung tinggi universitas. Keterpaduan visi-misi, dan tujuan akademik yang dikembangkan oleh universitas itu kiranya perlu disadari dan dijalankan secara bersama-sama, baik para dosen PNS, dosen BLU, maupun dosen luar biasa.  
            Peran dan fungsi dosen sangat dibutuhkan dalam mengawal tradisi akademik ini. Untuk menuju WCU tenaga pengajar (dosen) yang harus dimiliki universitas yaitu tidak kurang dari 40 persen bergelar doktor, dari jumlah dosen yang ada. Bagi UIN Maliki Malang, syarat ini tidaklah terlalu sulit, karena hingga tahun 2014 ini para dosen yang bergelar doktor hampir mendekati angka 40 persen. Belum lagi ditambah puluhan dosen yang tengah menyelesaikan studi program doktor (S3) di berbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri.
            Ciri tradisi akademik bertaraf internasional adalah adanya publikasi internasional. Hingga saat ini, karya ilmiah dosen UIN Maliki Malang masih tergolong minim, untuk tidak mengatakan hampir tidak ada. Perhatian dari pimpinan bidang akademik perlu menstresingkan kembali (memfokuskan) lebih tajam lagi untuk mendorong para dosen agar menulis, meneliti, dan mempublikasikan melalui jurnal-jurnal dan proseding-proseding internasional. Kehebatan dan kewibawaan dosen UIN Maliki Malang bukan saja ukurannya rajin mengajar di kampus, namun akan dinilai seberapa besar sumbangsih pemikiran melalui publikasi di media jurnal atau media lainnya yang bertaraf internasional.
Begitu juga halnya dengan jurnal terakreditasi nasional dan internasional yang harus dimiliki UIN Maliki Malang. Hingga awal tahun 2014, baru ada dua buah jurnal yang terakreditasi nasional (jurnal el-Harakah dan Jurnal Lingua), sementara jurnal terakreditasi internasional belum ada. Padahal, jurnal yang terbit di kampus ini, baik dikelola ditingkat universitas, fakultas, dan jurusan jumlahnya lebih dari 20 Jurnal. Media yang sangat strategis dan memiliki nilai sangat tinggi ini perlu mendapat sentuhan dan perhatian para pimpinan yang ada sebagai sarana publikasi karya ilmiah dosen.
            Untuk mendukung para dosen UIN Maliki Malang agar memiliki publikasi internasional, maka gerakan membaca, menulis, diskusi dan riset harus dihidupkan ulang, baik di dalam kampus dan luar kampus. Budaya yang serba formalitas, gugur kewajiban, serta memenuhi syarat aturan yang tidak sejalan dengan tradisi akademik itu, harus diubah dan dikembangkan sesuai dengan tujuan dan haluan WCU yang dicanangkan universitas. Banyak hasil riset para dosen UIN Maliki Malang yang belum terpublikasikan. Padahal, hasil temuan riset merupakan ”genuinisasi keilmuan” yang dihasilkan peneliti berdasarkan prosedur ilmiah yang sangat dipertanggungjawabkan, yang semestinya patut disebarluaskan melalui media-media nasional maupun internasional.
            Selain itu, upaya yang perlu pikirkan adalah pendanaan riset perlu ditingkatkan secara signifikan. Berdasarkan pengalaman beberapa kampus yang berpredikat WCU, bahwa anggaran riset yang disediakan minimal US$ 1300/ dosen per tahun. Melalui pendanaan yang cukup dan kompetitif, maka diharapkan para dosen UIN Maliki Malang mampu melahirkan tradisi riset yang benar-benar unggul dan pada akhirnya dapat ditransformasikan melalui publikasi media jurnal terakreditasi baik tingkat nasional maupun internasional.
Riset yang bermutu akan dijadikan sebagai pijakan pihak lain atau pengguna sebagai terobosan baru dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (sciences) dan teknologi terapan (melahirkan produk baru). Melalui hasil riset yang berkualitas dan bernilai tinggi itu kemudian dipatenkan pada lembaga hak paten dan akan menjadi nilai tambah dan keunggulan luar biasa yang dimiliki universitas. Ukuran universitas yang berkelas dunia, selain akan dilihat berapa banyak penelitian yang dihasilkan juga yang lebih penting lagi adalah akan dinilai seberapa tinggi dampak riset yang dihasilkannya bagi pengembangan peradaban dan kemajuan masyarakat.
            Sebagai ciri universitas berkelas dunia yaitu adanya manajemen pengembangan ICT (Information Communication Technology) yang handal untuk mendukung kegiatan-kegiatan akademik. Proses kegiatan pembelajaran dosen dan mahasiswa saat ini tidak luput dari pendayagunaan ICT yang telah disediakan universitas. ICT menjadi sarana akademik (academic atmosphere) yang sangat urgen guna menumbuhkan budaya belajar, budaya membaca, alat komunikasi serta menjadi alat yang memudahkan pencarian informasi, sumber belajar yang di akses oleh dosen, mahasiswa, maupun seluruh staff akademik. Melalui ketersediaan ICT yang modern dan handal, tentu akan menambah lingkungan akademik semakin nyaman, betah, dan enjoy yang dinikmati oleh seluruh warga kampus.
            Untuk mengembangkan manajemen ICT yang benar-benar unggul dan berkualitas tinggi, sistem yang dibangun selain sebagai alat untuk pemograman kartu rencana studi (KRS), pelayanan pendaftaran mahasiswa baru (MABA), pendaftaran wisuda, media lelang barang/jasa (barjas), dan sebagai sarana informasi seputar kampus, semestinya ICT harus memuat seluruh hasil temuan penelitian (riset) dan karya ilmiah lainnya, baik berupa artikel, jurnal, buku dosen dan mahasiswa yang dalam bentuk publikasi. ICT yang terintegrasi ke semua fakultas, lembaga dan unit yang sangat mudah diakses oleh para pengguna. Sebagai ukuran perguruan tinggi yang bertaraf WCU, kemudahan akses ICT yang perlu disediakan universitas sekurang-kurangnya harus 10/KB per mahasiswa dan dosen.
            Masih dalam mengukur tradisi akademik bertaraf internasional, bahwa total populasi mahasiswa yang aktif kuliah, 40 persennya adalah mahasiswa pascasarjana, program magister (S2) dan program doktor (S3). Selain itu, WCU juga mensyaratkan sekalipun tidak wajib, bahwa sebutan universitas berkelas dunia itu manakala jumlah mahasiswanya tidak kurang 20 persennya mahasiswa asing. Untuk syarat ini sepertinya UIN Maliki Malang tidak terlalu sulit, sebab mahasiswa pascasarjana terus mengalami peningkatan secara signifikan, hanya perlu penambahan prodi-prodi baru untuk program studi yang belum ada. Sementara itu, mahasiswa asing yang belajar di kampus ulul albab ini juga bertambah terus dan sekarang telah melewati angka lebih dari 25 negara dari berbagai belahan dunia.
            Hal lain yang menandai ukuran kampus berkelas WCU adalah suburnya penulisan buku. Tradisi akademik yang unggul akan selalu dilihat dari sisi kuantitas dan kualitas buku yang dihasilkan para dosen. Buku yang ditulis para dosen UIN Maliki Malang, bukan saja untuk bahan perkuliahan mahasiswanya sendiri, tetapi dapat digunakan secara umum oleh semua dosen dan mahasiswa di manapun mereka berada.
Buku yang ditulis dosen UIN Maliki Malang tersebut diperbincangkan, dikutip dan dijadikan acuan referensi orang lain. Untuk ukuran ini, UIN Maliki Malang agak bernafas lega, karena beberapa tahun terakhir secara kuantitas buku-buku karya dosen yang diterbitkan UIN-Maliki Press tidak kurang dari 60 judul buku per tahun. Untuk skala nasional, UIN Maliki Malang termasuk salah satu universitas yang paling subur dalam penulisan buku. Selain karya buku dosen yang terbit dalam kampus, juga tidak sedikit karya buku dosen diterbitkan oleh berbagai penerbit luar. Kreativitas dan produktivitas karya ilmiah berbentuk buku merupakan penanda kewibawaan akademik kampus amat sangat terjaga.
GAMBAR 3:
UKURAN TRADISI AKADEMIK BERTARAF WCU
 






           

Berdasarkan ukuran tradisi akademik yang bertaraf WCU di atas, maka semua pelaku yang ada dalam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang harus kerja keras, disiplin dan sesuai roadmap yang dikembangkan oleh universitas. Tidak pernah ada sejarah yang menunjukkan bahwa lembaga pendidikan sukses dan berhasil itu langsung dimulai dari skala yang tinggi, melainkan dimulai dari yang kecil, sederhana, dan urgen. Dan tradisi sukses yang pernah diukir UIN Maliki Malang selama ini nampaknya telah teruji oleh zaman.

C.      Membangun Mutu Kinerja (Integritas, Etika dan Kebersamaan)
Pola kinerja yang harus dibangun ke depan dalam rangka menuju World Class University (WCU) adalah perlunya integritas, etika dan kebersamaan yang dimiliki oleh semua aktor dan pelaku di UIN Maliki Malang. Dalam waktu yang relatif singkat, universitas ini berhasil membangun sistem, budaya dan organisasi perguruan tinggi yang kokoh. Nampaknya UIN Maliki Malang berhasil menerobos fenomena ini dan menghasilkan fakta baru bahwa kampus ini tidak hanya berkompetisi tingkat nasional tetapi merasuk tingkat dunia. Hal ini karena hadirnya integritas yang tinggi dari semua warga sivitas akademika.
UIN Maliki Malang akan menjadi pertama kalinya masuk peringkat WCU ditengah percaturan kompetisi perguruan tinggi Islam di Indonesia. Upaya ini sekaligus mematahkan dominasi dan kekuatan kampus lain di era persaingan yang super ketat ini untuk menggapai kemajuan dan keunggulan sebagai universitas terbaik di dunia. Nilai keyakinan dan kepercayaan harus diusung dan dijadikan spirit dalam menggalang prestasi dan aksi menuju WCU tersebut.
            Kunci sukses meraih impian WCU tersebut adalah terbentuknya integritas mental semua warga kampus, baik kepribadian yang tampak pada pola pikirnya, perilakunya maupun tindakannya. Integritas adalah kesungguh-sungguhan (sincerety) atau dalam bahasa Jepang disebut ”makoto”.  Menarik untuk kita kaitkan dengan filosofi Jepang, bahwa sikap ”makoto” merupakan sikap yang menjunjung tinggi kemurnian dalam batin dan motivasi. Nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ”makoto” itulah yang menjadi kunci sukses Jepang menjadi ”negara nomor 1” di Asia.
 Sebagaimana suksesnya Jepang, integritas dari semua warga UIN Maliki Malang sangat diperlukan karena ingin mencetak ”kesuksesan baru” yang membutuhkan pikiran besar, jiwa yang luas, hati yang tulus, dan kesungguh-sungguhan yang luarbiasa. Sikap integritas secara otomatis menolak adanya tujuan yang semata-mata hanya berguna bagi dirinya sendiri, kelompok dan berjangka sesaat. Sikap integritas juga tidak menyukai cara berpikir dan berbuat yang semata-mata bersifat pragmatis. Melainkan sikap integritas ialah sesuatu tindakan yang diperbuat oleh seseorang dengan penuh kejujuran dan kesungguh-sungguhan untuk memberikan pelayanan yang terbaik.
Bagi orang yang memiliki integritas, dirinya akan tahan uji dan tahan cobaan. Integritas bukanlah ciri orang yang suka mengeluh, menuntut dan bahkan melemahkan cita-cita yang sedang dibangun dan direncanakan oleh lembaga. Untuk memajukan UIN Maliki Malang ke depan, kita membutuhkan sosok yang berani, jujur, tanggungjawab dan pantang menyerah. Universitas ini harus dihuni sosok/figur pegawai yang berjiwa besar, pemikir sekaligus pekerja.
            Jika kita maknai dari perspektif sosio-teologis, sikap kesungguh-sungguhan (integritas) merupakan buah dari ”keimanan” seseorang dalam menjalankan ajaran agama. Islam mengenalkan doktrin tentang ”mujahadah”, yang artinya adalah kesungguh-sungguhan. Sikap seperti ini ialah kesempunaan hidup. Oleh karena itu, profesi apapun adalah penting. Jadi, tidak hanya rektor, para wakil rektor, dekan dan wakil dekan itu penting, tetapi juga pekerjaan tukang sapu, satpam dan seterusnya adalah penting. Semua pelaku (pegawai) menjadi penting, demikian halnya semua pekerjaan sama pentingnya, sehingga yang menjadi ukuran bagi seseorang bukanlah pekerjaan apa yang dilakukan, tetapi bagaimana ia melakukan pekerjaan itu. Apakah ia dengan kesungguh-sungguhan atau tidak melakukan pekerjaannya tersebut.
            Dalam sebuah mahfudhat (ungkapan) disebutkan bahwa ”man jadda wajada” (barangsiapa bersungguh-sungguh, maka ia akan sukses) adalah tepat untuk menggambarkan sikap integritas yang kita maksud. UIN Maliki Malang tidak membutuhkan sikap yang setengah-setengah, apalagi sikap antagonistik, melainkan yang diperlukan adalah totalitas dan loyalitas. Untuk mendorong kemajuan kampus harus dibangun di atas pondasi niat, kemauan kerja keras dan kesungguh-sungguhan yang mendalam. Dari beberapa uraian paragraf di atas, dapat kita rangkum dengan satu kata yang indah, ialah integritas.
            Sementara itu, perjalanan UIN Maliki Malang ke depan selain bermodalkan integritas, juga berbekalkan etika (akhlak) yang tinggi. Secara semantik, antara integritas dan etika memang sulit dipisahkan. Integritas berbuah etos (semangat/motivasi), sementara etika berbuah etik (tampilan/ perilaku). Sebagai universitas berkelas dunia, kita akan diikat oleh nilai-nilai etika universal yang berlaku dalam pergaulan lokal, regional maupun global.
            Dalam arus globalisasi sekarang ini etika tingkat tinggi (high moral dan high dignity) harus menjadi acuan semua orang dalam menjalankan pekerjaannya, terutama etika akademik (moral academic). Seorang pendidik (dosen) misalnya, harus bertindak secara objektif, ilmiah, serta sesuai norma-norma etik dalam kegiatan keilmuan. Tidak sedikit para dosen dibeberapa kampus lain terjerumus plagiasi (penjiplakan) karya orang lain, yang merupakan pelanggaran berat etika akademik. Sikap kejujuran dan keobjektifan harus dijaga dan dijunjung tinggi oleh semua dosen.
            Sikap ilmiah harus dibarengi dengan etika yang baik. Sebab tidak sedikit para ilmuan, termasuk pendidik/dosen, melakukan riset-riset pengembangan kebijakan yang terkadang hasilnya bertentangan dengan kebenaran objektif, hanya karena ada titipan pesan sponsor tertentu. Kebenaran ilmiah harus ditopang dengan etika yang kuat. Dalam level internasional, etika harus menjunjung kejujuran dan kebenaran secara universal, bukan mementingkan kepentingan lembaga tertentu, apalagi perseorangan. Etika akademik adalah ”martabat universitas” dalam upaya menyambung dan menyumbangkan nilai kontribusi positif bagi pembangunan masyarakat, bangsa dan dunia.
            Dalam proses pembelajaran misalnya, apakah seorang dosen mampu menjunjung tinggi kejujuran dibidang keilmuan yang ditekuninya. Seorang dosen tidak boleh melakukan illegal teaching atau illegal learning, melalui cara duplikasi dan replikasi ilmu yang diperoleh dengan cara tidak jujur dan tidak objektif. Etika menjadikan patokan bersama, supaya kita berhati-hati dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. Universitas-universitas besar di dunia, selalu menumpahkan perhatiannya agar semua pegawai memiliki etika yang baik, dan dijadikan sebagai pijakan sebelum berbuat dan bertindak.
            Begitu pentingnya etika (akhlak), UIN Maliki Malang menjadikan pilar tersebut sebagai salah satu pilar utama yang dikembangkan dan menjadi tujuan bersama, selain pilar kedalaman spiritual, keluasan ilmu dan kematangan profesional.  Etika yang dibangun oleh UIN Maliki Malang adalah kepribadian yang utuh, kepribadian yang digali dari nilai-nilai keyakinan dan kitab suci (al-Qur’an dan Hadis). Melalui etika yang tinggi, diharapkan semua penghuni universitas (dosen, karyawan dan mahasiswa) dapat menampilkan dirinya sebagai sosok yang berperilaku dan bertindak alim, arif dan bijaksana.
Adapun yang tidak kalah penting dalam mengembangkan UIN Maliki Malang menuju WCU adalah membangun sikap kebersamaan. Kata ”kebersamaan” berasal dari kata sama, yaitu menunjuk sebuah arti keterpaduan, kesepahaman dan kesaudaraan dari setiap diri yang berbeda-beda untuk mencapai sebuah tujuan dan cita-cita bersama. Kebersamaan adalah kunci kesuksesan dalam memajukan UIN Maliki Malang selama ini, tidak terkecuali juga untuk meraih reputasi skala internasional.
            Sikap kebersamaan merupakan energi yang dibutuhkan dalam mengembangkan sistem organisasi dan tatakelola UIN Maliki Malang yang akan kita bangun secara profesional. Sikap kebersamaan membuat lingkungan kerja menjadi nyaman dan saling percaya. Posisi satu dengan posisi lainnya saling melengkapi dan menopang kinerja masing-masing. Kebersamaan membuat seseorang bekerja tanpa rasa curiga, prasangka dan beban.
            Sistem kinerja yang perlu kita bangun dalam mengembangkan UIN Maliki Malang menuju WCU ialah menempatkan dan menghargai orang sesuai dengan tingkat kemampuan dan dedikasinya, bukan berdasarkan kesukaan dan sektarianisme. Melalui sikap kebersamaan itu, kita dapat melepaskan diri dari ego sektoral dan komunal masing-masing. Kebersamaan senantiasa berpikir untuk membahagiakan orang lain, bukan untuk mengintimidasi dan mendiskriminasi orang lain.
            Ciri kebersamaan ialah kita merasa bahagia manakala kita membuat orang lain sukses atau bahagia. Membahagiakan orang lain merupakan ruh terpenting dalam semua agama. Bahkan, dalam Islam karakter ini sebagai salah satu ciri utama keimanan. Seperti dalam hadis dijelaskan; ”Tidak beriman seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri” (HR. Al-Bukhari, Muslim dan Baihaqi).
            Sebagai ciri universitas berkelas dunia, kebersamaan akan sangat menentukan, bahkan sebagai kekuatan (power). Kita harus terbuka dan menerima pendapat lintas batas dari mana saja sumbernya asalkan mengandung kebenaran dan manfaat, tanpa harus melihat tentang siapa asal muasal sumbernya, sekalipun itu penting. Sebagai kode etik universal, ada sebuah pepatah yang menyatakan sebagai berikut: (a) kita harus memperlakukan orang lain sesuai dengan bagaimana orang lain untuk memperlakukan diri kita; (b) perlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan; (c) kita seharusnya tidak memperlakukan orang lain dengan cara yang tidak ingin kita diperlakukan seperti itu; dan (d) jangan memperlakukan orang lain, dengan cara kita tidak ingin diperlakukan.
            Kebersamaan memerlukan hati mulia dan jiwa besar. Orang yang berjiwa besar dan mulia disebut sebagai the great people. Yaitu manusia pilihan yang bersedia berjuang dan berkorban untuk kepentingan bersama, berjuang demi kebahagiaan dan kesuksesan bersama, mengutamakan kepentingan orang banyak ketimbang kepentingan diri sendiri, memberikan energi positif dan manfaat di manapun ditempatkan, serta sebagai perjalanan diri yang teguh dan konsisten. UIN Maliki Malang harus menjadi tenda besar untuk melahirkan manusia besar (great people), serta menjadi miniatur peradaban Islam terkemuka di dunia.
            Sesuai dengan slogan UIN Maliki Malang, kebersamaan terbangun atas kesatuan hati, spirit, visi dan tim kerja. Jargon tersebut maknanya sangat mulia dan sangat dalam. Kebersamaan yang dibangun atas kerendahan hati (egaliter), tidak ambisius, memiliki integritas akan membuahkan energi positif bagi semua warga dan seluruh sivitas akademika. Sikap kebersamaan adalah sikap utama yang harus diteladankan UIN Maliki Malang kepada semua pihak, khususnya bagi perguruan tinggi Islam di tanah air. Tidak sedikit kampus Islam sulit berkembang dan maju, karena dilanda konflik di dalam kampus itu sendiri.

GAMBAR 4:
MUTU KINERJA UIN MALIKI MALANG MENUJU WCU










Melalui ilustrasi gambar di atas, maka pola kinerja para pegawai UIN Maliki Malang harus berlandaskan pada nilai-nilai pokok utama, yaitu integritas, etika dan kebersamaan. Tiga kekuatan tersebut diharapkan mampu mengawal dan melapangkan proses universitas yang baru saja meraih akreditasi institusi ”A” dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) ini menuju world class university. Pemahaman dan penghayatan nilai-nilai ketiga hal pokok dimaksud diangankan mampu menginspirasi dan menggugah seluruh warga kampus agar terus menjalankan tanggungjawab dan dedikasi (perjuangan dan pengorbanan) yang tinggi dengan penuh kelapangan hati dan kesadaran jiwa.
             
D.     Kontribusi dan Layanan (contribution and service)
Peran global perguruan tinggi Islam, salah satunya UIN Maliki Malang, dalam merespon tuntutan modernisasi masyarakat sangat dinanti dan dibutuhkan oleh semua orang. Gagasan WCU sebenarnya lebih pada memberikan perhatian ”nilai kontribusi” sesuatu yang nyata untuk kebaikan demi kelangsungan kehidupan manusia di dunia yang lebih baik.
            Pemikiran pokok mengenai reputasi universitas berkelas WCU, sebetulnya bukanlah sekadar sebagai “gagah-gagahan”, atau “mewah-mewahan” melainkan berbicara sumbangsih peradaban nyata bagi kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, kampus yang menyandang WCU adalah kampus yang mapan, baik secara kelembagaan maupun secara pendanaan untuk pengelolaan universitasnya.
            Kontribusi nyata (riil) adalah ukuran universitas berkelas dunia. Sebagai ilustrasi misalnya, universitas Harvard University, Oxford University, dan Cambridge University, sesungguhnya kampus tersebut berdiri tidak dirancang untuk menjadi WCU, tetapi dengan sendirinya sebagai universitas besar (WCU), karena nilai kontribusinya luar biasa. UIN Maliki Malang akan menyusul daftar urutan berikutnya dengan catatan harus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pusat peradaban negeri dan dunia.
Untuk menjadi universitas yang memiliki kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu, teknologi dan seni harus dimulai dari membangun mindset para dosen dan seluruh aktor lainnya. Nilai kontribusi dapat dilihat dari jumlah dan bobot riset (penelitian) yang dihasilkan, kualitas buku yang diterbitkan, jurnal-jurnal yang bermutu, bentuk-bentuk binaan sosial (pengabdian masyarakat) yang diberikan univeritas kepada masyarakat.
            Inovasi dan kreasi yang dilakukan oleh para dosen, baik berupa pikiran, temuan penelitian serta terapan bidang ilmu tertentu kepada masyarakat merupakan kontribusi nyata. UIN Maliki Malang mengabdi untuk kemajuan bangsa dan dunia, melalui sumbangsih gagasan, ide-ide fantastis serta aksi nyata yang dirasakan bagi masyarakat luas.
            Selain tuntutan peran dan kontribusi universitas bagi kemajuan peradaban manusia, hal lain yang tidak kalah penting untuk dipersiapkan menuju world class university ialah pelayanan (service). Pelayanan prima (excellent service) adalah ukuran yang menggambarkan keseluruhan jiwa (ruh) bahwa universitas itu pertanda baik. Sistem pelayanan di lembaga resmi, seperti universitas misalnya, memang berbeda dengan sebuah perusahaan, sebab universitas lebih kompleks dan luas cakupannya. Walapun begitu, bukanlah sesuatu yang tepat untuk kita jadikan sebagai alibi (alasan) untuk berkelit dan menghindar dari upaya memberikan nilai excellent service kepada semua pelanggan, yaitu mahasiswa, mitra kerjasama, tamu pengunjung (visitor), stakeholders, hingga orang tua atau wali mahasiswa.
            Dalam era modern seperti sekarang ini, service memainkan peran yang sangat penting. Melalui service yang tepat kepada mereka, tentu akan membuat mereka menjadi “pelanggan” yang loyal dan yakin. Bahkan tak jarang berkat service (layanan) yang baik dan berkualitas, mereka menjadi “pembela institusi” kita, semisal membantu proses promosi dan memberikan citra positif kepada siapa saja.
            Untuk menggapai impian menuju WCU, UIN Maliki Malang harus belajar dan mengambil impirasi dari sistem “perusahan besar” dunia yang mapan dan berkelas, misalnya perusahan maskapai penerbangan, perusahan otomotif, perusahan telekomunikasi, dan sebagainya. Dari sistem pelayanan yang diberikan oleh macam-macam perusahan tersebut banyak hal yang dapat kita tiru sebagai inspirasi baru untuk kita dikembangkan dalam pelayanan di universitas.
            Sebagai upaya melihat kembali posisi UIN Maliki Malang menuju tangga universitas berkelas WCU, service merupakan solusi sekaligus kebutuhan  mendasar yang sulit diabaikan. Apakah standar akademik (academic standard) yang kita rancang dan terapkan itu sudah sesuai dengan kebutuhan dan selaras dengan zaman? Layanan bukan hanya sekadar memberikan dengan cara terbaik, namun lebih dari itu adalah menawarkan solusi untuk membantu mengurangi permasalahan yang dihadapi oleh manusia.
            Service merupakan nilai tambah. Sebuah nilai yang terus menerus diberikan kepada pelanggan tanpa kita pikirkan kapan dampaknya akan kembali pada lembaga. Dengan memberikan pelayanan memuaskan kepada seluruh sivitas akademika, tamu pengunjung serta mitra kerjasama, otomatis universitas akan menciptakan positioning yang kuat dibenak mereka sebagai tempat tujuan yang menyenangkan dan memuaskan.
            Perjalanan selama sepuluh tahun menyandang status UIN Maliki Malang, sangatlah penting sebagai pengalaman/pelajaran berharga untuk menentukan bentuk pelayanan yang benar-benar bernilai tinggi. UIN Maliki Malang dikenal sebagai kampus yang “sering tak terduga” dalam memberikan layanan. Jadi, ketika orang berkunjung ke UIN Maliki Malang, yang sekiranya mempersepsi biasa-biasa saja, ternyata di luar “dugaan” mereka, bahwa layanan yang kita berikan jauh lebih baik dari yang mereka impikan sebelumnya. Layanan semacam itu menciptakan sebuah pengalaman (experience) yang tak terlupakan kepada orang lain, dan menjadi nilai tambah berupa emotional benefit (manfaat emosional) dan functional benefit (manfaat fungsional). Itulah sebabnya, mengapa beberapa tamu pengunjung, merasa “ketagihan” untuk datang kembali ke kampus hingga berulang-ulang kali, karena bentuk layanan yang mengesankan.
            Sejalan dengan nilai-nilai yang dikembangkan UIN Maliki Malang, bahwa melayani harus melibatkan hati. Pelayanan dengan menggunakan hati akan berdampak pada kualitas layanan. Kita bekerja bukan sekadar menjalankan tugas dan kewajiban sebagai pegawai, melainkan lebih dari itu ialah kerja merupakan panggilan hati, panggilan jiwa dan panggilan hidup. Layanan berstandar tinggi akan menjadi kharisma tersendiri, yang memperlakukan mereka sangat dihormati, dihargai dan “di-orangkan”. Upaya seperti inilah cara-cara “berinvestasi” berjangka panjang. Sekaligus menjadi “kekuatan siluman” yang bakal medorong kemajuan universitas ke depan.
            Secara umum, tolak ukur WCU adalah menekankan pentingnya excellent secara totalitas yang terjadi dalam kehidupan perguruan tinggi, khususnya dalam hal riset dan teaching. Dalam hal teaching misalnya, seorang tenaga pendidik (dosen) harus memberikan layanan yang berkualitas kepada mahasiswa. Perkuliahan yang menyenangkan, ramah, empati, dan materi yang sampaikan berbobot dan mudah dipahami oleh para mahasiswa. Sehingga, para mahasiswa begitu terkesan, dan apabila mereka tidak masuk, dirinya akan merasa menyesal dan merugi, sebab tidak dapat mengikuti perkuliahan.
            Universitas sebagai lembaga yang bergerak di bidang jasa (pendidikan), maka sesuatu yang patut kita jaga dalam memberikan layanan antara lain; (a) reliability, yakni kita harus memenuhi semua janji atau harapan yang pernah kita tawarkan kepada orang lain, (b) responsiveness, yaitu kemampuan untuk menyikapi adanya tuntutan perubahan dan perkembangan, seperti perubahan kurikulum, perubahan sosial dan budaya, kebijakan pemerintah, kebutuhan pasar atau permintaan stakeholders, serta lainnya. (c) emphaty, ialah upaya memahami orang lain secara mendalam dan memperlakukannya secara baik. Layanan bersifat empati pada ujungnya adalah “tabungan” yang  berbuah “credit-point” (membuat orang lain puas) ataukah “debit-point” (membuat orang lain kecewa). (d) tangible, menjaga penampilan fisik secara elegan, menarik, dan mengesankan orang. Orang akan mudah menilai dari performa luar terlebih dahulu, kemudian akan merasakan performa dari dalam (intangible). Tampilan fisik kampus sangat mudah dipersepsi orang lain, dengan cara menafsirkan keseluruhan sistem yang ada di dalamnya. Misalnya, soal kebersihan, keindahan lingkungan, menyediakan eco green (lingkungan yang hijau), keramahan para penghuninya, dan seterusnya.





GAMBAR 5:
NILAI-NILAI EXCELLENT SERVICE YANG HARUS DIKEMBANGKAN


Organization Chart
 




           
            Berdasarkan gambar di atas, makna service (layanan) bukan sebatas layanan biasa, melainkan bagaimana kita dapat bertindak sesuai dengan janji yang kita tawarkan (visi, misi dan tujuan), bergerak cepat dan tepat dalam merespon perubahan dan pekembangan zaman, menciptakan memorable experience pada semua orang, sehingga mereka ketagihan dan kecanduan untuk datang kembali, serta menjaga performa lahir (tangible) sekaligus batin (intangible) secara konsisten, arif, bijak, secara terus menerus.
           
E.      Penutup
Dari uraian di atas dapat kita tegaskan bahwa membangun pendidikan tinggi Islam bereputasi dunia memerlukan aksi nyata melalui langkah-langkah strategik, sistemik dan holistik dari semua pelaku dan aktor dalam institusi UIN Maliki Malang.  Melalui tulisan ini, ada empat hal yang dapat penulis simpulkan sebagai berikut:
Pertama, sebagai ruh (jiwa) dan jati diri UIN Maliki Malang, paling tidak untuk memasuki pintu WCU, terdapat tiga modal utama, adalah (a) modal intelektual, yaitu bertambahnya kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) yang berkualifikasi tinggi, (b) modal sosial, melalui mitra kerjasama, kepercayaan baik dari lembaga maupun personal; dan (c) modal historis, adanya spirit, semangat, motivasi yang kuat untuk menentukan perubahan dan kemajuan universitas dari para aktor dan pelaku.
Kedua, tradisi akademik bertaraf internasional meliputi beberapa syarat, antara lain: (a) Dosen yang dimiliki perguruan tinggi minimal 40 persen bergelar doktor; (b) Kuantitas dan kualitas publikasi internasional karya ilmiah dosen; (c) pendanaan yang cukup untuk pengembangan riset-riset unggul dan  berkualitas bagi dosen, sekurang-kurangnya US$ 1300/dosen per tahun; (d) adanya dukungan manajemen pengembangan ICT (information communication technology) yang modern, minimal 10 KB/ mahasiswa; (e) proporsi mahasiswa pascasarjana sekurangnya 40 persen dari populasi mahasiswa; (f) mahasiswa asing (manca negara) yang kuliah di universitas itu tidak kurang dari 20 persen; dan (g) tumbuhnya budaya menulis karya ilmiah bagi dosen melalui publikasi buku (paperless) maupun e-book (electronic book) yang dapat dijadikan sebagai rujukan bagi semua kalangan.
            Ketiga, langkah nyata UIN Maliki Malang menuju WCU memerlukan pola kinerja yang unggul yaitu: (a) pentingnya integritas bagi seluruh pegawai, ialah kesungguh-sungguhan, kejujuran, semangat/motivasi tinggi, dan kerja keras; (b) adanya etika yang menjadi acuan bersama agar dapat  berperilaku luhur, objektif, ilmiah, profesional serta dapat menjaga nama baik pribadi maupun lembaga; (c) adanya sikap kebersamaan dan kerja kolektif yang secara massif untuk berbuat yang seoptimal mungkin.
Keempat, dampak atau efek dari cita-cita UIN Maliki Malang ingin menggapai WCU harus memperbesar porsi dua hal pokok, yakni: (a) peran dan kontribusi, melalui temuan-temuan riset ilmiah, memperbanyak penulisan karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional, serta sumbangsih pengabdian nyata untuk memajukan tatanan kehidupan sosial yang lebih baik, dan (b) memberikan excellent service (layanan prima) kepada semua pelanggan, meliputi mahasiswa, mitra kerjasama, tamu pengunjung (visitor), stakeholders, wali mahasiswa maupun masyarakat sekitar.
*) Mujtahid, Dosen Tetap Jurusan PAI-FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Senin, 13 Mei 2013

Posisi Ilmu dalam Pendidikan Islam

BERBICARA pendidikan adalah berbicara tentang keyakinan, pandangan dan cita-cita tentang hidup dan kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi (Fadjar, 1999). Statemen tersebut dapat digali maknanya lebih luas lagi, bahwa pendidikan tidak hanya dipahami sebatas “proses pengajaran” mentransfer pengetahuan, melainkan proses menanam nilai-nilai sikap dan tingkah laku (akhlaq), melatih dan memekarkan pengalaman, serta menumbuh-kembangkan kecakapan hidup (life skill) manusia. 

Pendidikan Islam merupakan proses pendewasaan dan sekaligus ‘memanusiakan’ jati diri manusia. Dikatakan ”memanusiakan,” karena manusia lahir hanya membawa bekal potensi. Melalui proses pendidikan, potensi manusia diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sempurna, sehingga ia dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai manusia. 

Pendidikan Islam pada hakikatnya adalah kerja akal budi untuk mengembangkan fitrah yang dibekalkan Allah kepada diri manusia. Potensi yang diberikan oleh Tuhan memang dapat dikatakan masih setengah jadi, sehingga butuh sentuhan dan rekayasa ilmiah melalui proses pendidikan Islam agar potensi tersebut tumbuh dan berkembang maksimal. Dalam Islam, mengenyam pendidikan dipandang sebagai kewajiban personal sepanjang hayat manusia (life long education). 

Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia dibekali oleh sang khaliq dengan potensi kodrat yang sempurna, yaitu potensi cipta, rasa dan karsa. Potensi berharga inilah yang mengantarkan bahwa manusia adalah khalifah di dunia ini. Dengan dukungan potensi tersebut, manusia dididik agar memiliki orientasi yang tinggi untuk mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan yang terkandung pada realitas yang ada di alam semesta ini. Melalui proses pendidikan Islam itulah hidup manusia akan mencapai sebuah kehidupan yang baik dan seimbang. 

Segala sesuatu yang tergelar di jagat raya ini pasti membutuhkan ilmu, baik ilmu duniawi maupun ukhrawi. Kedua ilmu tersebut harus dikuasai secara seimbang, karena “masa depan” manusia juga ditentukan oleh seberapa jauh manusia menguasainya. Keberhasilan menggapai duniawi maupun ukhrawi akan sangat ditentukan kadar keilmuan yang diraihnya. Posisi Ilmu dalam Pendidikan Islam Objek utama dalam pendidikan Islam adalah ilmu, pengalaman dan keteladanan. Sementara manusia adalah subjek yang mencerna dan mengembangkan ilmu, mengasah pengalaman dan mempraktikkan dalam kehidupan. Ilmu merupakan pancaran cahaya kehidupan manusia yang dapat menerangi dan mengarahkan jalan hidupnya ke arah yang lurus. 

Di dunia ini ilmu dipetakan menjadi tiga bagian, ialah ilmu alam, ilmu sosial dan ilmu humaniora. Ilmu alam bersumber tiga pokok yaitu biologi, kimia, fisika. Dari ketiga pokok itu melahirkan cabang ilmu beraneka ragam seperti matematika, arsitektur, kedokteran, pengairan, astronomi, geografi, farmasi, peternakan, teknik, kelautan, perikanan, dan seterusnya. Ilmu sosial bersumber pada empat pokok yaitu sejarah, antropologi, sosiologi dan psikologi. Dari keempat ilmu tersebut kemudian berkembang lagi menjadi cabang-cabang, seperti ilmu pendidikan, ekonomi, politik, hukum, komunikasi, manajemen dan seterusnya. Sedangkan ilmu humaniora bersumber pada tiga hal yaitu ilmu filsafat, bahasa, sastra dan seni. 

Selama ini oleh mayoritas orang memandang bahwa ketiga corak ilmu tersebut, yakni ilmu alam, sosial dan humaniora adalah ilmu yang digolongkan sebagai ilmu umum. Sedangkan ilmu agama (Islam), adalah ilmu yang meliputi al-Qur’an, hadits, fiqih, aqidah akhlak, tarikh (sejarah Islam) dan bahasa Arab. Tragisnya, bahwa umat Islam belum sepenuhnya menjadikan apa yang disebut ”ilmu umum” itu sebagai sesuatu yang urgen (berguna) bagi tata laksana kehidupan, sehingga terkesan boleh ditinggalkan. Sementara ilmu agama adalah ilmu yang wajib dipelajari karena berhubungan dengan tatacara mengabdi kepada Allah. Akibat mindset ini akhirnya terjadi dikhotomi yang sulit disatukan seperti saat ini, baik lembaga pendidikan maupun pandangan masyarakat. Kekeliruan menempatkan tatanan keilmuan itu mengakibatkan umat Islam tidak dapat berkembang dan maju. 

Umat Islam menjadi ketinggalan zaman, karena upaya menggali dan mempelajari ilmu-ilmu umum kurang mendapat perhatian, baik dari orangtua, lembaga pendidikan maupun para pemimpin umat Islam itu sendiri. Untuk meluruskan mindset itu dibutuhkan langkah dan strategi yang mampu membangkitkan pendidikan Islam yang bermutu dan unggul, yaitu dengan mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu umum.

Ilmu agama (Islam) sebagaimana tersebut di atas dijadikan sebagai pondasi dan penguat untuk menyanggah ilmu umum yang bermacam-macam cabang tersebut. Sehingga seorang yang berprofesi guru, pedagang, politikus, dokter, pengacara, dan seterusnya memiliki nilai etis religius yang kuat karena mereka telah memiliki ilmu agama sebagai bekal dan modal dasarnya. Seringkali yang kita saksikan adalah ilmu itu adalah bebas nilai, sehingga profesi itu menjadi bebas dan tak terikat dengan nilai-nilai ilahiyah dan insaniah serta norma-norma ajaran Islam (al-qur’an dan hadits). Integrasi ilmu semacam ini perlu dikonsep secara matang dan dipraktikkan ke dalam penyelenggaraan pendidikan yang unggul. 

Begitu pentingnya kedudukan ilmu, sehingga Islam menganjurkan manusia agar meraihnya sampai titik paripurna. Ilmu juga dipandang ikut mengiringi atau menentukan nasib atau kadar baik buruk kualitas manusia. Dan pembicaraan ilmu dalam hadits mencakup dimensi hidup dan kehidupan, mencakup semua unsur, yaitu pendidikan keilmuan, keimanan (spiritualitas), etika (akhlak), fisik (jasmani), rasio (akal), kejiwaan (hati nurani), skill (ketrampilan), sosial kemasyarakatan, dan seksual. 

Kegiatan pendidikan atau mencari ilmu harus dimulai dari pendidikan pribadi atau keluarga, lembaga sekolah, dan masyarakat. Ketiganya harus terjalin dan berlangsung secara terpadu, selaras, serasi, seimbang, dan harmonis. Pendidikan tidak akan berfungsi dengan baik bila hanya berjalan parsial dan tidak menyeluruh. Karenanya dibutuhkan pengelolaan secara integratif dengan memadukan semua unsur yang mendukungnya. Dari sinilah pendidikan akan menghasilkan sosok pribadi yang tangguh. 

Pendidikan harus dimulai dari institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara sinkron dan integrated dalam memberikan pengaruh pendidikan kepada anak. Problemnya kini banyak keluarga yang kurang perhatian dan tidak memberikan reference person (suri tauladan) kepada anak. Begitu pula dengan aturan-aturan masyarakat yang sangat longgar sehingga memunculkan pergaulan bebas yang mutatif. 

Padahal pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan pendidikan yang bersifat pembentukan karakter dan tabi’at, ketimbang kognitif. Selain pembentukan sosok pribadi di atas, tujuan pendidikan diharapkan mampu mencetak manusia berjiwa tauhid (berkedalaman spiritual), beramal shalih (berbuat dengan ilmunya), ulil albab (pemikir, ahli dzikir dan amal shaleh), serta berakhlak mulia. Untuk mewujudkan pendidikan yang ideal tersebut diperlukan usaha dan kerja keras serta dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Trilogi institusi itu ke depan harus menjadi kekuatan untuk membangun kualitas sumber daya manusia yang cerdas, berkarakter dan menghargai kultur dan bangsanya. 

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Minggu, 14 Agustus 2011

Asah Kreativitas Guru Melalui PLPG


Mujtahid*)

SEJAK seminggu yang lalu Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekolah umum dan Islam. Pelatihan yang diikuti oleh para guru SD hingga SMA itu merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah sebagai lembaga LPTK yang berhak untuk mensertifikasi guru PAI dilingkungan Kementerian Agama RI.
Berbeda dengan format tahun sebelumnya, saat ini sertifikasi guru langsung mengikuti PLPG tanpa melalui tahap uji penilaian portofolio guru seperti biasanya. Portofolio guru adalah kumpulan dokumen outentik yang pernah dilaksanakan atau diraih guru sepanjang menjabat tugas sebagai guru dan ditunjang dengan bukti-bukti administrasi lain yang sah. Sertifikasi guru melalui jalur penilain portofolio guru pada tahun ini sepertinya dihentikan karena beberapa alasan yang kurang efektif dan kredibel.
Memang sejak awal digulirkan, sertifikasi guru melalui penilaian portofolio dipandang kurang efektif dan fokus untuk melihat dan mengukur kompetensi guru. Kalau ukurannya peningkatan kompetensi, rasanya sulit jika alat ukurnya adalah hanya melalui penilaian dokumen. Apalagi, akhir-akhir ini, tidak sedikit para guru yang berhasil lulus sertifikasi jalur portofolio itu justru bukan dari upayanya sendiri, melainkan atas sentuhan pihak lain atau dari upaya biro jasa (penyedia bukti-bukti fiktif) yang menjajakan kepada guru. Jadi tingkat kredibilitas kelulusan sertifikasi guru dianggap kurang mantap, karena ulah sebagian guru yang merekayasa dokumen palsu tersebut.
Perubahan kebijakan seperti itu biasanya selalu membawa dampak atau pengaruh bagi pelaku, yakni para guru dan asesor. Bagi guru, perubahan tersebut berimplikasi positif atau menyenangkan karena mereka tidak lagi bersusah payah menghimpun lembar demi lembar berkas dokumen serta bukti-bukti administrasi yang begitu berat. Belum lagi penggadaan dokumen tersebut yang tentu saja akan merogoh kocek tidak sedikit yang harus mereka keluarkan untuk penggandaan portofolio.
Sementara bagi asesor, kebijakan tersebut tentu saja tidak menggembirakan karena dapat mengurangi ‘pemasukan' yang biasanya lumayan besar. Meski demikian, kebijakan itu harus disambut dengan penuh rasa syukur dan gembira karena asesor masih memperoleh ‘berkah' dari kegiatan PLPG. Seperti biasanya, kegiatan PLPG dilaksanakan 10 hari sekali angkatan, yang tentu saja dapat mengganti penilaian berkas portofolio itu.

Asah Kreativitas dan Tumbuhkan Inspirasi
Kebijakan sertifikasi guru yang kini melalui jalur PLPG merupakan pilihan yang tepat dan efesien. Sebab, PLPG yang menggantikan penilaian dokumen adalah penilaian berbasis proses yang jauh lebih riil bermanfaatnya bagi para guru. Sekalipun hanya sepuluh hari lamanya, mereka dilatih dan dibimbing untuk memahami aspek kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian sebagaimana amanat PP. 19 tahun 2005.
Pelaksanaan PLPG di LPTK Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang diformat sesuai dengan visi-misi dan tujuan universitas, yaitu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan akhlak, serta menyebarluaskan ilmu dan ketrampilan. Tak ketinggalan, semua peserta juga diajari shalawat irfan, yang merupakan ciri khas shalawat UIN Maliki Malang. Peserta PLPG juga diajak shalat jama'ah bersama, terutama shalat tarawih yang secara bergantian dari kelompok ke kelompok yang menjadi petugas adzan, imam, penceramah dan seterusnya adalah para guru itu sendiri. Pelatihan tersebut tanpak indah sekali dan benar-benar proses pendidikan yang mengajarkan kedisiplinan, ketulusan, serta menumbuhkan kebiasaan-kebiasan yang berbudi pekerti luhur.
Untuk mengasah kompetensi pedagogi, para peserta PLPG diajak mempelajari model/pendekatan dan strategi pembelajaran. Materi ini dikemas dengan pendekatan pembelajaran yang memadukan antara teori dan praktik. Para guru dibekali teori pembelajaran oleh masing-masing asesor dan kemudian dipraktikkan. Yang menyenangkan adalah mereka dapat saling bekerjasama, berbagi pengalaman, dan saling membantu dalam setiap kegiatan praktik mengajar.
Target dari materi model pembelajaran ialah untuk meningkatkan kemampuan mendesain dan mempraktikkan pembelajaran yang kreatif, inovatif serta inspiratif. Melalu materi tersebut para guru dapat memacu kreatifitasnya guna memperoleh pengalaman baru dalam menggali bentuk-bentuk pembelajaran yang kontekstual dan unggul. Tujuannya materi ini ialah semua peserta diklat dapat menerapkan model dan strategi itu pada sekolahnya masing-masing. Dari PLPG itu dapat dipetik pelajaran bahwa mengasah "kreativitas" dan energi potensi positif agar tumbuh dan berkembang secara efektif, ternyata membutuhkan jiwa kebersamaan, kerjasama, saling percaya, berberjuang keras dan berkorban. Para peserta itu sepanjang yang saya lihat memiliki jiwa itu, walau mereka berasal dari berbagai daerah kabupaten/kota dan sekolah yang berbeda-beda pula.
Sekalipun status mereka guru tetapi merasa dirinya tidak canggung walau jadi murid (peserta), yang siap menerima dan diminta untuk mempraktikkan model dan strategi pembelajaran. Tatkala salah seorang peserta diminta praktik/tampil untuk mencoba beberapa strategi pembelajaran, meraka juga dapat memposisikan diri sebagai murid, walau yang tampil adalah temannya sendiri. Modal kebersamaan dan kerjasama itulah sesungguhnya kekuatan sekaligus cara mulia untuk membangun kompetensi guru.
Selain itu, para peserta PLPG juga mendapat materi pengembangan materi PAI, perencanaan pebelajaran, evaluasi pembelajaran dan penelitian tindakan kelas (PTK). Sama seperti materi model dan strategi pembelajaran, para guru juga lebih ditekankan pada praktik. Matari Pengembangan PAI misalnya, para guru membuat peta konsep tentang masing-masing kompetensi dasar PAI yang perlu dikembangkan secara luas dan integral dengan pengetahuan lain. Seperti membahas tentang binatang halal dan haram. Dalam sebuah diskusi kelompok itu ada yang mempresentasikan bahwa binatang haram seperti babi, sekarang ini menjadi halal. Halal karena daging babi diproses terlebih dahulu dan dicapur dengan bahan lain untuk digunakan makanan binatang lainnya, seperti ayam, bebek, ikan, dan seterusnya. Ternyata ikan, bebek, ayam tersebut menjadi lebih sehat dan cepat pertumbuhannya karena berkat asupan daging babi itu. Pengembangan seperti itu merupakan terobosan baru untuk memperluas materi fiqih yang selama ini memandang bahwa binatang babi adalah binatang haram dan secara serta merta kita sangat benci. Itulah gambaran inspirasi guru bagaimana membicarakan soal pengembangan materi yang biasanya sulit diterjemahkan oleh para guru PAI, dan masih banyak hal lagi yang mereka hadirkan pada kegiatan PLPG itu.
Begitu halnya dengan materi-materi lainnya, para narasumber/instruktur mengasah mereka menumbuhkan sikap kreatif dan inspirasi kegiatan pembelajaran di PLPG. Kegiatan pembelajaran, apapun tingkatannya memang membutuhkan pergumulan, transfer pengalaman, serta keberanian dalam mengekspresikan potensi yang dimilikinya, tak terkecuali para guru itu sendiri. Semoga para guru yang telah mengikuti PLPG selama 10 hari itu mampu menggerakkan inovasi sekolahnya, menjadi pelopor para rekan sejawatnya, serta yang tidak kalah pentingnya ialah sebagai contoh tauladan bagi murid-muridnya.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Jumat, 18 Maret 2011

Peran Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Mujtahid*
DINAMIKA pendidikan Islam atau yang sering disebut dengan istilah sekolah yang berlabelkan Islam, nampaknya masih menjadi kajian menarik. Pada dekade terakhir ini, sekolah yang bernafaskan Islam seringkali mendapat sorotan yang cenderung kurang menggembirakan dan membanggakan bagi semua pihak. Secara kolektif, hampir rata-rata mutu sekolah Islam rendah, bahkan lulusan sekolah Islam tergolong minoritas yang bisa masuk perguruan tinggi.
Menurut pengamatan A. Malik Fadjar, bahwa kenyataan mendasar dari sebagian dari lembaga pendidikan Islam kini telah kehilangan “mekanisme alokasi posisional”. Artinya, bahwa sistem kelembagaan pendidikan Islam telah kehilangan kepercayaan dari masyarakat untuk menyalurkan peserta didiknya ke dalam posisi-posisi ideal tertentu. Berdasarkan pengamatan ini, penulis semakin percaya bahwa lembaga pendidikan Islam pasti ada “sesuatu” yang tidak berjalan secara wajar dan fungsional.
Lebih jauh lagi, sorotan yang lebih menukik ke dalam dataran sistem pendidikan dan pengajaran yang terjadi pada sejumlah lembaga pendidikan Islam di kesankan bahwa kelembagaan pendidikan Islam tanpaknya masih dalam posisi “cagar budaya” untuk menumbuhkan faham-faham keagamaan tertentu, belum berorientasi pada “taraf dan mutu”. Artinya, dalam kerangka pembelajaran belum menempatkan peserta didik atau lulusannya pada “taraf dan mutu”, serta pada konteks kemasyarakatan yang lebih luas.
Masalah kualitas, mulai dari raw-in put, proses maupun out put dinilai sangat rendah. Salah satu indikatornya adalah rata-rata nilai NEM siswa hasil didikan sekolah Islam tertinggal jauh dari sekolah negeri ataupun sekolah lain yang dikelola orang luar Islam. Kehadiran lembaga pendidikan seperti itu, secara tidak sadar akan menempatkan dirinya pada “kelas pinggiran”, yang satu persatu mengalami penyusutan karena kehilangan kepercayaan dari ummat maupun peminatnya. Kalau sistem pendidikan semacam ini masih tetap dipartahankan, maka boleh jadi pendidikan bukan saja tidak menolong masa depan peserta didik, tapi lebih jauh dari itu dapat dinilai sebagai perbuatan yang merugikan. Pendidikan yang tidak dikelola dan didasarkan pada orientasi yang jelas dapat mengakibatkan kegagalan dalam hidup secara berantai dari generasi ke genarasi. Oleh karena itu, persoalan mendasar ini termasuk bagian dari masalah yang peka dan rawan.
Sebagai lembaga pendidikan yang mengemban misi pencerahan peradaban umat masa depan, biasanya pendidikan Islam mudah terjebak pada determinisme-ideologis sehingga mengabaikan proporsionalitas dan profesionalitas serta proses-proses pengelolaannya. Dalam pandangan A. Malik Fadjar, bahwa ada sementara pihak dari kalangan umat Islam yang tidak risau menyaksikan masih lemahnya daya saing mutu lulusan sekolah-sekolah Islam dibanding dengan lulusan sekolah umum lainnya. Jika fenomena tersebut masih menjadi sikap umum sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan Islam, maka dalam perspektif metodologis-pedagogis jelas demikian itu telah menyimpang dari aspek-aspek fundamental dalam dunia pendidikan.
Dari pelbagai penilaian pakar pendidikan, ada yang menyatakan bahwa sistem pendidikan Islam, baik yang bernaung dalam Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, maupun Yayasan-yayasan Islam lainnya, tengah mengalami penurunan kreativitas, metodologis, dan kekaburan orientasi pengajaran. Bahkan sebagian pendapat mensinyalir bahwa pendidikan Islam kurang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM). Orientasi pendidikan Islam lebih terjebak pada kegiatan yang formalistik, dan tidak ada sedikitpun terlihat nuansa pengembangan keilmuan.
Ironisnya, pada setiap level kehidupan, hampir semua sektor lembaga formal maupun non-formal, termasuk di dalamnya lembaga pendidikan (sekolah) sedang mengembangkan suatu sikap tentang adanya tuntutan utama yakni profesionalisme dan modernisme. Di samping itu, bagi lembaga pendidikan diharuskan mencari model dan pola baru yang lebih inovatif guna memberikan nuansa segar bagi penyelenggaraan proses belajar-mengajar di sekolah.
Jika inovasi lembaga pendidikan Islam selalu dilakukan setiap saat, maka kemungkinan besar dirinya akan bertahan kokoh dalam menghadapi perubahan-perubahan dan perkembangan mutakhir yang semakin kompleks ini. Karena itu, pada batas-batas tertentu sesuatu yang sebelumnya sudah dianggap mapan, kini hal itu bisa menjadi ketinggalan zaman.

A. Eksistensi Guru
Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam dunia pendidikan. Ruh pendidikan sesungguhnya terletak dipundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan hakikatnya ada di tangan guru. Sebab, sosok guru memiliki peranan yang strategis dalam ”mengukir” peserta didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berpengetahuan luas.
Namun kini banyak gelombang aksi tuntutan mengenai profesionalisme guru. Eksistensi guru menjadi bagian inheren yang tidak dapat dipisahkan dari satu kesatuan interaksi pedagogis dalam sistem pengelolaan pengajaran pendidikan (sekolah). Dalam pengamatan penulis, tuntutan tersebut sejalan dengan cita-cita yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3, yang berbunyi:
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Karena itu, sikap profesionalisme dalam dunia pendidikan (sekolah), tidak sekadar dinilai formalitas tetapi harus fungsional dan menjadi prinsip dasar yang melandasai aksi operasionalnya. Tuntutan demikian ini wajar karena dalam dunia modern, khususnya dalam rangka persaingan global, memerlukan sumber daya manusia yang bermutu dan selalu melakukan improvisasi diri secara terus menerus. Sehingga dapat dikatakan bahwa tenaga pendidik atau guru merupakan cetak biru (blueprint) bagi penyelenggaran pendidikan.
Seorang guru yang baik adalah mereka yang memenuhi persyaratan kemampuan profesional baik sebagai pendidik maupun sebagai pengajar atau pelatih. Di sinilah letak pentingnya standar mutu profesional guru untuk menjamin proses belajar mengajar dan hasil belajar yang bermutu.
Seperti yang terungkap di atas, bahwa salah satu “kejenuhan” yang di alami pendidikan Islam akhir-akhir ini adalah kualitas guru. Sejalan dengan tuntutan dunia kerja modern, termasuk lapangan kerja dalam bidang pelayanan jasa seperti sekolah, secara kualitatif menuntut seseorang mengusai metode, cara dan alat kerja yang efesien, efektif, dan canggih (modern). Metode pelayanan yang masih menggunakan cara lama harus diubah dengan cara pelayanan baru yang memperoleh daya guna secara efektif dan efesien sehingga tercapainya tujuan yang maksimal.
Sebagai tenaga edukatif dalam lingkup sekolah, guru harus memiliki kompetensi-kompetensi dasar kependidikan. Sebab dalam interaksi pembelajaran peserta didik, seorang guru harus bisa melakukan demonstrasi yang hidup dan menyenangkan bagi peserta didik. Sehingga kompetensi tersebut menyebabkan pembelajaran semakin bertambah baik.
Untuk menuju proses kegiatan belajar yang baik, maka tugas pokok guru adalah mempersiapkan rancangan-rancangan pembelajaran yang sistematis dan berkelanjutan. Membuat perangkat pembelajaran tersebut merupakan bagian dari tugas pendidik. Di samping ia juga harus memiliki kemampuan tertentu yang sesuai dengan nilai dan norma yang seharusnya dimilikinya. Misalnya, berkepribadian dewasa, mandiri dan bertanggung jawab terutama secara moral sehingga dapat dijadikan identifikasi peserta didiknya.
Itulah mengapa seorang guru harus memiliki jiwa profesionalisme. Keberadaan guru yang sangat strategis tersebut diharapkan melalui jiwa profesionalisme dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran yang berkualitas dan menjadi tonggak yang kokoh bagi lembaga pendidikan. Oleh karena itu, kata profesionalisme perlu kita kaji secara mendalam guna melahirkan pemahaman yang holistik dan komprehensif.
Kata dasar profesionalisme sesungguhnya berakar dari kata profesi, yakni memerlukan kepandaian khusus untuk menjelaskannya. Sutisno mendefisikan profesional adalah menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaannya, terikat oleh pandangan hidup (world view atau weltanschaung) tertentu yang dalam hal ini ia memerlukan pekerjaannya sebagai seperangkat norma, kepatuhan terhadap perilaku, dan terikat pada syarat-syarat kompetensi serta kesadaran berprestasi dan pengabdian. Dengan demikian, istilah profesional yang dimaksud adalah serangkaian keahlian yang dipersyaratkan untuk melakukan suatu pekerjaan yang dilakukan secara efesien dan efektif dengan tingkat keahlian yang tinggi dalam mencapai tujuan pekerjaan tersebut.
Maksud dari sikap profesionalisme tersebut paling tidak mencerminkan empat ciri mendasar berikut ini, yakni pertama, tingkat pendidikan spesialisasinya menuntut seseorang melaksanakan jabatan/pekerjaan dengan penuh kapabilitas, kemandirian dalam mengambil keputusan (independent judgement), mahir dan terampil dalam mengerjakan tugasnya. Kedua, motif dan tujuan utama seseorang memilih jabatan/pekerjaan itu adalah pengabdian kepada kemanusiaan, bukan imbalan kebendaan (bayaran) yang menjadi tujuan utama. Ketiga, terdapat kode etik jabatan yang secara sukarela diterima mejadi pedoman perilaku dan tindakan kelompok profesional yang bersangkutan. Kode etik tersebut menjadi standar perilaku pekerjaannya. Keempat, terdapat kesetia-kawanan seprofesi, yang diwujudkan dengan saling menjalin kerja sama dan tolong menolong antar anggota dalam suatu komunitas tertentu.
Seseorang dikatakan profesional, bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbarui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zaman di masa depan.
Sesuai dengan UU RI No. 14 tahun 2005 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dari rumusan tersebut di atas bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan perpaduan antara bimbingan, pengajaran dan latihan. Kegiatan bimbingan lebih ditekankan pada proses pengembangan mental spiritual (rohaniah, moral dan sosial). Kegiatan pengajaran ditekankan pada proses pengembangan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Guru sebagai pendidik yang profesional, berarti harus mempunyai keahlian dalam mengelola ketiga kegiatan tersebut.
Sebagai sebuah institusi, lembaga sekolah dalam prosesnya harus selalu berupaya meningkatkan profesionalisme guru dan inovasi pembelajaran. Salah satu upaya untuk meningkatan mutu pembelajaran di sekolah adalah terbentuknya kultur dan sikap profesionalisme guru yang dedikatif tinggi.
Sudah menjadi kewajiban bagi suatu lembaga pendidikan (sekolah), bahwa pengembangan profesionalisme guru merupakan tanggung jawab besar yang tidak bisa ditunda lagi. Sebab, menunda hal ini berarti mengorbankan generasi masa depan yang notabenenya sebagai cagar peradaban umat. Karenanya, proses peningkatan kualitas bagi lembaga pendidikan seharusnya menyadari dan melakukan pembenahan sedini mungkin supaya pengembangan kualitas kelembagaan sekolah dan lulusannya dapat memenuhi harapan masyarakat luas. Mutu tidaknya sebuah sekolah akan dapat dilihat dari mekanisme struktural di dalamnya, apakah ada rencana yang terstruktur, sistematis, terprogram dan berkelanjutan.
Dari paparan tersebut, sudah sepatutnya lembaga pendidikan/sekolah untuk lebih meningkatkan pada orientasi mutu, termasuk salah satu di dalamnya mutu profesi guru dan sistem kegiatan belajar mengajarnya. Orientasi pendidikan yang berjalan saat ini, bukan tidak mungkin akan kehilangan elan vital-nya di masa depan, sebab kurang didukung oleh pengelola pendidikan yang profesional. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa guru merupakan faktor penting yang menetukan keberhasilan mutu pendidikan. Hasil ini menunjukkan bahwa sampai saat ini betapa eksisnya peran guru diperlukan dalam dunia pendidikan.
Salah satu upaya untuk mengatasi kebutuhan tersebut adalah mengubah orientasi sekolah yang masih berpola lama dengan inovasi yang berpola baru. Artinya, kalau sekolah masih dikelola dengan cara lama maka sudah saatnya digantikan dengan cara baru. Hal ini penting, mengingat peran lembaga pendidikan akan selalu berdialektika dengan perubahan yang terus berkembang.
Karena itu, sudah saatnya lembaga pendidikan harus mempertegas visi dan misi yang akan dikembangkan di masa mendatang, supaya tidak terjadi kekaburan orientasi dan kehilangan arah yang pasti. Sebab, jika tidak dilakukan maka akan berdampak pada kualitas sekolah itu sendiri. Salah satu ukuran kualitas lembaga pendidikan dapat dilihat dari proses kegiatan (non fisik), selain sarana fisiknya juga mendukung. Sehingga berbagai upaya peningkatan mutu perlu ada komitmen yang kuat dari pihak penyelenggara sekolah.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang