Minggu, 14 Agustus 2011

Asah Kreativitas Guru Melalui PLPG


Mujtahid*)

SEJAK seminggu yang lalu Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekolah umum dan Islam. Pelatihan yang diikuti oleh para guru SD hingga SMA itu merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah sebagai lembaga LPTK yang berhak untuk mensertifikasi guru PAI dilingkungan Kementerian Agama RI.
Berbeda dengan format tahun sebelumnya, saat ini sertifikasi guru langsung mengikuti PLPG tanpa melalui tahap uji penilaian portofolio guru seperti biasanya. Portofolio guru adalah kumpulan dokumen outentik yang pernah dilaksanakan atau diraih guru sepanjang menjabat tugas sebagai guru dan ditunjang dengan bukti-bukti administrasi lain yang sah. Sertifikasi guru melalui jalur penilain portofolio guru pada tahun ini sepertinya dihentikan karena beberapa alasan yang kurang efektif dan kredibel.
Memang sejak awal digulirkan, sertifikasi guru melalui penilaian portofolio dipandang kurang efektif dan fokus untuk melihat dan mengukur kompetensi guru. Kalau ukurannya peningkatan kompetensi, rasanya sulit jika alat ukurnya adalah hanya melalui penilaian dokumen. Apalagi, akhir-akhir ini, tidak sedikit para guru yang berhasil lulus sertifikasi jalur portofolio itu justru bukan dari upayanya sendiri, melainkan atas sentuhan pihak lain atau dari upaya biro jasa (penyedia bukti-bukti fiktif) yang menjajakan kepada guru. Jadi tingkat kredibilitas kelulusan sertifikasi guru dianggap kurang mantap, karena ulah sebagian guru yang merekayasa dokumen palsu tersebut.
Perubahan kebijakan seperti itu biasanya selalu membawa dampak atau pengaruh bagi pelaku, yakni para guru dan asesor. Bagi guru, perubahan tersebut berimplikasi positif atau menyenangkan karena mereka tidak lagi bersusah payah menghimpun lembar demi lembar berkas dokumen serta bukti-bukti administrasi yang begitu berat. Belum lagi penggadaan dokumen tersebut yang tentu saja akan merogoh kocek tidak sedikit yang harus mereka keluarkan untuk penggandaan portofolio.
Sementara bagi asesor, kebijakan tersebut tentu saja tidak menggembirakan karena dapat mengurangi ‘pemasukan' yang biasanya lumayan besar. Meski demikian, kebijakan itu harus disambut dengan penuh rasa syukur dan gembira karena asesor masih memperoleh ‘berkah' dari kegiatan PLPG. Seperti biasanya, kegiatan PLPG dilaksanakan 10 hari sekali angkatan, yang tentu saja dapat mengganti penilaian berkas portofolio itu.

Asah Kreativitas dan Tumbuhkan Inspirasi
Kebijakan sertifikasi guru yang kini melalui jalur PLPG merupakan pilihan yang tepat dan efesien. Sebab, PLPG yang menggantikan penilaian dokumen adalah penilaian berbasis proses yang jauh lebih riil bermanfaatnya bagi para guru. Sekalipun hanya sepuluh hari lamanya, mereka dilatih dan dibimbing untuk memahami aspek kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian sebagaimana amanat PP. 19 tahun 2005.
Pelaksanaan PLPG di LPTK Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang diformat sesuai dengan visi-misi dan tujuan universitas, yaitu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan akhlak, serta menyebarluaskan ilmu dan ketrampilan. Tak ketinggalan, semua peserta juga diajari shalawat irfan, yang merupakan ciri khas shalawat UIN Maliki Malang. Peserta PLPG juga diajak shalat jama'ah bersama, terutama shalat tarawih yang secara bergantian dari kelompok ke kelompok yang menjadi petugas adzan, imam, penceramah dan seterusnya adalah para guru itu sendiri. Pelatihan tersebut tanpak indah sekali dan benar-benar proses pendidikan yang mengajarkan kedisiplinan, ketulusan, serta menumbuhkan kebiasaan-kebiasan yang berbudi pekerti luhur.
Untuk mengasah kompetensi pedagogi, para peserta PLPG diajak mempelajari model/pendekatan dan strategi pembelajaran. Materi ini dikemas dengan pendekatan pembelajaran yang memadukan antara teori dan praktik. Para guru dibekali teori pembelajaran oleh masing-masing asesor dan kemudian dipraktikkan. Yang menyenangkan adalah mereka dapat saling bekerjasama, berbagi pengalaman, dan saling membantu dalam setiap kegiatan praktik mengajar.
Target dari materi model pembelajaran ialah untuk meningkatkan kemampuan mendesain dan mempraktikkan pembelajaran yang kreatif, inovatif serta inspiratif. Melalu materi tersebut para guru dapat memacu kreatifitasnya guna memperoleh pengalaman baru dalam menggali bentuk-bentuk pembelajaran yang kontekstual dan unggul. Tujuannya materi ini ialah semua peserta diklat dapat menerapkan model dan strategi itu pada sekolahnya masing-masing. Dari PLPG itu dapat dipetik pelajaran bahwa mengasah "kreativitas" dan energi potensi positif agar tumbuh dan berkembang secara efektif, ternyata membutuhkan jiwa kebersamaan, kerjasama, saling percaya, berberjuang keras dan berkorban. Para peserta itu sepanjang yang saya lihat memiliki jiwa itu, walau mereka berasal dari berbagai daerah kabupaten/kota dan sekolah yang berbeda-beda pula.
Sekalipun status mereka guru tetapi merasa dirinya tidak canggung walau jadi murid (peserta), yang siap menerima dan diminta untuk mempraktikkan model dan strategi pembelajaran. Tatkala salah seorang peserta diminta praktik/tampil untuk mencoba beberapa strategi pembelajaran, meraka juga dapat memposisikan diri sebagai murid, walau yang tampil adalah temannya sendiri. Modal kebersamaan dan kerjasama itulah sesungguhnya kekuatan sekaligus cara mulia untuk membangun kompetensi guru.
Selain itu, para peserta PLPG juga mendapat materi pengembangan materi PAI, perencanaan pebelajaran, evaluasi pembelajaran dan penelitian tindakan kelas (PTK). Sama seperti materi model dan strategi pembelajaran, para guru juga lebih ditekankan pada praktik. Matari Pengembangan PAI misalnya, para guru membuat peta konsep tentang masing-masing kompetensi dasar PAI yang perlu dikembangkan secara luas dan integral dengan pengetahuan lain. Seperti membahas tentang binatang halal dan haram. Dalam sebuah diskusi kelompok itu ada yang mempresentasikan bahwa binatang haram seperti babi, sekarang ini menjadi halal. Halal karena daging babi diproses terlebih dahulu dan dicapur dengan bahan lain untuk digunakan makanan binatang lainnya, seperti ayam, bebek, ikan, dan seterusnya. Ternyata ikan, bebek, ayam tersebut menjadi lebih sehat dan cepat pertumbuhannya karena berkat asupan daging babi itu. Pengembangan seperti itu merupakan terobosan baru untuk memperluas materi fiqih yang selama ini memandang bahwa binatang babi adalah binatang haram dan secara serta merta kita sangat benci. Itulah gambaran inspirasi guru bagaimana membicarakan soal pengembangan materi yang biasanya sulit diterjemahkan oleh para guru PAI, dan masih banyak hal lagi yang mereka hadirkan pada kegiatan PLPG itu.
Begitu halnya dengan materi-materi lainnya, para narasumber/instruktur mengasah mereka menumbuhkan sikap kreatif dan inspirasi kegiatan pembelajaran di PLPG. Kegiatan pembelajaran, apapun tingkatannya memang membutuhkan pergumulan, transfer pengalaman, serta keberanian dalam mengekspresikan potensi yang dimilikinya, tak terkecuali para guru itu sendiri. Semoga para guru yang telah mengikuti PLPG selama 10 hari itu mampu menggerakkan inovasi sekolahnya, menjadi pelopor para rekan sejawatnya, serta yang tidak kalah pentingnya ialah sebagai contoh tauladan bagi murid-muridnya.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar