Sabtu, 20 Maret 2010

Hakikat Hermeneutika

Mujtahid

SEBAGAI pendekatan dalam memahami teks, hermeneutika telah menyumbangkan metodologis untuk mengatasi kesulitan interpretasi. Meski semula hermeneutik ditujukan hanya untuk “tafsir teks kitab suci”, tetapi oleh para tokoh hermeneutik, mereka memakainya tidak hanya seputar teks, melainkan sebagai metode untuk menjelaskan ilmu-ilmu kemanusiaan (geisteswissenschaften).
Term hermeneutika juga dijelaskan sebagai studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi. Namun, sekilas penjelasan itu agaknya memang kurang memuaskan bagi pemikir hermeneutik. Karena lebih dari itu, hermeneutika ingin mengatasi kesulitan-kesulitan pemahaman terhadap realitas yang sulit disentuh oleh metode lain, seperti fenomenologis, teori tindakan Weber, dekonstruksi dan lain-lain.
Tujuan hermeneutika adalah “untuk menangkap pikiran yang ditulis atau bahkan yang dikatakan pengarang seperti yang dia inginkan”. Interpretasi itu adalah bentuk dialog, maksudnya yaitu dialog dengan pengarang. Richard E. Palmer dalam buku ini, telah menjelaskan konsep hermeneutika dengan segala perbedaannya, sekaligus memaparkan empat kritikus utama yang erat disebut-sebut sebagai pelopor dan tokoh hermeneutik, seperti Schleimacher, Dilthey, Heidegger, dan Gadamer.
Dalam sejarahnya, menurut Richard E. Palmer (2003), menyatakan bahwa istilah “hermeneutika” mempunyai beberapa definisi. Definisi pertama, kata Palmer, yaitu merujuk kepada prinsip-prinsip interpretasi Bibel. Hermeneutik menjadi kebutuhan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan interpretasi, terutama terhadap kaidah-kaidah eksegesis (komentar) kitab suci (skripture). Jadi kehadiran hermeneutik, difungsikan untuk mengungkap pikiran Tuhan (teks suci).
Kedua, hermeneutik sebagai metodologi filologis. Ketika kitab suci telah di tafsirkan, bisa jadi hasil penafsiran itu perlu dinalar lagi, sehingga untuk memahami penafsir, diperlukan terobosan hermeneutika.
Ketiga, hermeneutika sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial. Tokoh yang mengungkap definisi ini yaitu Martin Haidegger. Analisis Haidegger mengindikasikan bahwa “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan model fondasional keberadaan manusia. Hermeneutika Dasein Haidegger mempresentasikan ontologi pemahaman, terutama yang bersifat hermeneutis Being and Time. Pemikiran Haidegger selanjutnya diikuti oleh Gadamer, bahkan selangkah lebih maju. Gadamer dengan menghadirkan sebuah kosa kata “linguistik” ke dalam hermeneutika, telah membuat kontroversial tetapi cukup berhasil. Ia menyatakan bahwa hermeneutika merupakan pertemuan dengan Ada (Being) yang dapat dipahami dengan bahasa. Puncaknya, Gadamer menyatakan karakter linguistik relaitas manusia itu sendiri, dan hermeneutika larut ke dalam persoalan-persoalan yang sangat filosofis dari relasi bahasa dengan ada, pemahaman, sejarah, eksistensi dan realitas.
Keempat, hermeneutika sebagai sistem interpretasi untuk menemukan makna. Paul Ricoeur, dalam De I’intretation mendefinisikan hermeneutika mengacu pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distingtif dan sentral dalam hermeneutika. Jadi sebuah kaidah-kaidah yang menata sebuah eksegesis, atau sebuah interpretasi teks partikular, yang merupakan tanda-tanda keberadaan yang dipandang sebuah teks.
Kelima, hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenschaften (semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia). Dilthey sebagai tokohnya, menyatakan untuk menafsirkan ekspresi manusia, baik yang menyangkut hukum, karya seni, maupun kitab suci, membutuhkan tindakan pemahaman historis. Apa yang dibutuhkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, dalam keyakinan Dilthey, merupakan “kritik” nalar lain yang akan mengurusi pemahaman historis bagi kritik akal murninya Kant yang telah mengurusi ilmu-ilmu alam.
Keenam, hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik. Schleiermacher menerjemahkan hermeneutika sebagai “ilmu” atau “seni” pemahaman. Hermeneutika berhasil mengembalikan keutuhan dan keotentikan makna teks, baik dipandang dari asal-usulnya maupun dari interpretasi-interpretasi yang pejoratif.
Dari definisi tersebut, hermeneutika hadir untuk melakukan pembongkaran terhadap teks, interpterasi teks, dan sekaligus penafsirnya. Sebab hanya dengan hermeneutik, tujuan makna yang tersembunyi dibalik semua itu dapat dipahami sesuai dengan tujuannya.

Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar