Minggu, 28 Maret 2010

Menggali Kearifan dari Profesor Energi

Mujtahid*

SANG surya adalah satu, untuk bumi. Energi memainkan peran besar untuk kemajuan ekonomi dunia. Oleh sebab itu, keadilan energi adalah tema yang sangat penting untuk diperjuangkan (Prof. TM Soelaiman)
Salah seorang di antara profesor yang lahir di Indonesia, TM Soelaiman merupakan tokoh yang memiliki kearifan dan keilmuan yang sangat luas. Romantika seorang profesor ini banyak meninggalkan gagasan-gagasan, ide-ide, bahkan obsesi-obsesi yang perlu kita teladani, sekaligus berupaya untuk merealisaikan visi-visinya demi kemajuan bangsa.
Dalam sebuah buku biografi, Soelaiman dikenal sebagai ilmuan (saintis) yang handal dan ulet. Berkawan Matahari, Romantika Seorang Profesor adalah judul buku yang terbit 2003 yang ditulis Soelaiman. Dalam catatan pinggir karya itu dijelaskan bahwa Soelaiman adalah seorang saintis yang telah menemukan ‘sesuatu’ yang sebelumnya dicari-cari oleh Albeth Einstein, yakni sebagai pakar atau ilmuan energi.
Sosok Soelaiman yang sebenarnya adalah figur guru besar yang tak mudah ditandingi kepiawiannya dalam memperkenalkan pikiran-pikiran yang revolusif, serta semangatnya yang tangguh tak kenal kata menyerah untuk menjual visi-visinya itu. Ketika mengawali kariernya di suatu Universitas tertua di Indonesia (ITB), dia dikenal sebagai seorang pendiri utama Masjid Salman di ITB, dia juga seorang intelektual Muslim yang tawadhu’ dan berani menampilkan dirinya secara terbuka, selain itu dia sebagai seniman ahli melukis dan puisi.
Sebagai ilmuan di bidang energi, Soelaiman menampilkan dirinya dengan semangat yang gigih untuk memperjuangkan konsep-konsep pengembangan energi yang terbarukan (Renewable Energy). Bahkan beliaulah yang merintis kerjasama antara BPPT dengan program pengkajian sumber daya energi laut melalui proyek OTEC (Ocean Thermal Energy Conversion) di Pulau Bali. Dengan sikap dan visionernya, dia mempromosikan dan memprakarsai Konversi Energi Panas Laut OTEC yang merupakan wujud pengalamannya yang diperoleh dari Washington.
Sungguh sangat tepat, jika buku “otobiografi” ini diberi judul “Berkawan Matahari”. Sebab matahari (sang surya) merupakan sumber energi. Sebagai energi, matahari memainkan peran besar untuk kemajuan ekonomi dunia. Oleh karena itu, percikan ide-ide TM Soelaiman, cenderung menekankan bahwa keadilan energi adalah tema yang sangat penting untuk diperjuangkan.
Tanpa energi, bagaimana wujud kehidupan? Bahkan sulit membayangkan bumi tanpa matahari. “Sang surya” adalah tolak segala kehidupan. Di tingkat dunia, ekonomi nyaris dikendalikan oleh energi, bukankah krisis energi pernah terjadi dan sempat membuat enonomi beberapa negara layu? Bukankah organisasi negara-negara penghasil dan pengekspor minyak OPEC memainkan peran penting untuk ekonomi? Demikian ungkapan TM Soelaiman dalam mengawali salah satu tulisannya dalam buku ini.
TM Soelaiman menyadari bahwa di negeri pertiwi ini masih hidup dibawah gelap, dalam arti sebenarnya. Sementara tanah air kita telah dikenal oleh dunia, sebagai negara yang memiliki sumberdaya energi yang melimpah. Tetapi, orang yang berada di negeri ini masih sedikit yang tahu akan hal itu, kata Soelaiman. Padahal, bukankah matahari tak berhenti bersinar, dengan lautan luas yang biru, dan semuanya adalah sumber terbarukan yang bersih? Sementara di Amerika, satu rumah bisa mengkonsumsi listrik 10 rumah di kota-kota pulau Jawa.
Perjuangan Soelaiman tiada henti untuk memiliki Jurusan Energi di ITB, tetapi tak seorangpun ada yang mendukung. Namun akhirnya, beliau menawarkan idenya tersebut ke Universitas Trisakti, Jakarta dan di sanalah dia disambut dengan respons positif. Setelah beberapa lama, dia melahirkan dua buah karya mengenai energi. Hasil upaya dari profesor ini akhirnya di warisi oleh para mahasiswa Trisakti. Mereka menciptakan pendingin interior mobil bertenaga surya yang tetap beroperasi bila mesin mobil mati saat parkir, mereka dapat memanfatkan limbah berupa serbuk gergaji dari prabrik penggergajian kayu menjadi pembangkit tenaga listrik.
Setelah melihat keberhasilan mahasiswa di Trisakti, kemudian ITB baru tergerak untuk memulai berpikir tentang energi. Bahkan sekitar tahun 1980-an, Universitas Sriwijaya Palembang telah mengangkat Soelaiman sebagai Koordinator Pembangunan Laboratorium Energi. Ketenaran selanjutnya, dia banyak di undang sebagai “dosen tamu” untuk memberi kuliah di berbagai Universitas, baik berada dalam maupun luar negeri.
Revolusi pemikiran TM Soelaiman perlu kita gali dan selayaknya patut kita eksplorasi kembali, guna mengobati krisis multidimensional saat ini, khususnya krisis pablik figur ilmuan yang memiliki kematangan intelektual, spiritual dan moral. Dia sangat pantas jika berkawan dengan matahari, karena diusianya yang sudah tiga perempat abad masih bekerja dengan penuh semangat dan bahkan dia selalu mengharap bertemu matahari lebih lama lagi, yakni untuk berkarya.
Meneladani visi-visi dan sosok TM Soelaiman profesor yang satu ini, kita akan terdorong untuk menggali peluang-peluang pengembangan sumberdaya energi yang bebas dari pencemaran, dan mewujudkan semberdaya energi yang ramah lingkungan.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar