Kamis, 28 Januari 2010

Mendidik Anak Berakhlak Al-Qur’an

Mujtahid*
Al-QUR’AN adalah kitab petunjuk bagi seluruh umat manusia dimuka bumi. Janji Allah, barang siapa yang hidupnya berpedoman Al-Qur’an maka ia dijamin tidak akan sesat. Dan Al-Qur’an sebagai petunjuk mengajarkan akhlak yang mulia.
Dalam sejarah, semua negara yang hancur selalu disebabkan oleh kehancuran akhlak. Rumah tangga, negara, akan kuat bila penduduknya berakhlak mulia. Rumah tangga, negara akan hancur, oleh karena kinerja akhlak yang buruk. Untuk itu, memahami Al-Qur’an sejak dini merupakan sebagian dari cara yang patut ditempuh dalam mendidik anak agar berakhlak mulia.
Mendidik anak merupakan tugas yang teramat mulia. Karena anak merupakan anugerah ilahi yang wajib disyukuri, sekaligus amanah dari-Nya yang patut dijaga serta mendidiknya dengan baik agar menjadi generasi yang berkualitas. Dalam salah satu hadis Nabi, “jika amanah itu disia-sikan, tunggulah saat kehancurannya”.
Dalam Al-Qur’an, keturunan adalah bagian penting dalam kelanjutan misi kekhalifahan manusia di bumi. Anak-anak yang saleh, berkualitas merupakan generasi penerus kekalifahan dan tumpuan masa depan kemakmuran bumi.
Anak seharusnya mendapatkan pendidikan yang baik agar menjadi insan yang berorientasi pada kemaslakhatan manusia dan alam semesta. Jika bumi ini diwariskan pada generasi-generasi yang tidak bertanggung jawab, yang terjadi hanyalah eksploitasi alam, kemaksiatan, serta kemungkaran.
Mengajar anak membaca, menulis al-Qur’an sangatlah penting, dilanjutkan dengan mengajar anak cara memahaminya dengan baik dan benar. Adalah kesalahan jika mengajarkan kebenaran Al-Qur’an baru dimulai setelah anak-anak tumbuh dewasa.
Membelajarkan tafsir Al-Qur’an pada anak merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kecintaan anak-anak kepada Al-Qur’an. Dengan cinta terhadap Al-Qur’an, maka anak akan cinta terhadap isi serta kandungan Al-Qur’an, dan selanjutnya anak akan akan mengetahui dan memahami Allah, Nabi Muhammad, para Imam, sahabat, Keadilan-Nya dan hari akhir. Dengan itu semua maka anak-anak diharapkan bisa mengerti dan memahami ajran-ajaran Allah, bahwa ajaran itu akan menghantarkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an lewat pembelajaran tafsir, menuntut orang tua untuk kembali memperhatikan perkembangan moralitas, agama, serta spiritual anak. Hal ini mensyaratkan bahwa para orang tua, ustadz, ustadzah dan siapa saja yang peduli terhadap perkembangan anak harus ikut andil dalam memperdalam khazanah keilmuan dan pengetahuan nya terhadap isi dan kandungan Al-Qur’an.
Petunjuk orangtua dalam mengajarkan tafsir terhadap anaknya, misalnya membiasakan anak untuk berdialog atau berdiskusi untuk menggali kandungan Al-Qur’an sesuai dengan gejolak keingintahuan yang dimiliki anak. Ajak anak untuk tidak sekedar membaca dan menulis Al-Qur’an, tetapi juga menghayati dan memahami isi kandungannya.
Pilih waktu yang tepat, seperti setelah shalat maghrib atau menjelang mereka tidur. Gunakan teknik bercerita atau mendongeng dalam menyampaikan isi tafsir Al-Qur’an terutama untuk anak yang berusia dibawah sembilan tahun. Agar kesan bisa diangkat secara kuat, usahakan buku tersebut dibaca secara bertahap misalnya cukup satu pertemuan satu atau beberapa ayat sesuaikan dengan kondisi anak.
Sediakan waktu khusus untuk menghafal kosakata Al-Qur’an yang tersedia. Manfaatkan halaman akhir sebagai media mengevaluasi tingkat penyerapan anak terhadap isi buku tetapi usahakan agar anak tidak merasa sedang diuji. orang tua dianjurkan memberikan hadiah atas hasil yang dicapai sianak.
Sungguh sayang seribu sayang, bila kita terlambat mengajarkan nilai-nilai Al-Qur’an terhadap anak-anak kita. Sebagaimana kata pepatah, mengajar anak ibarat mengukir di atas batu, ia akan lama bertahan karena anak adalah fitrah yang suci, yang dengan kesuciannya akan mudah menghafal, memahami terhadap sesuatu yang sampai pada mereka.
Memahami sifat dan karakteristik anak sangatlah penting, tidak hanya untuk pembelajaaran tafsir al-Qur’an saja tetapi untuk mendidiknya secara keseluruhan. Dengan memahami sifat dan karakteristik anak, maka kita akan bisa membantu mereka mengatasi kesulitan yang dihadapi dalam hal penalaran serta pemahaman.
Untuk melatih ketajaman penalaran, maka mau tidak mau anak harus dilatih logika. Untuk itu ustadz, ustadzah, atau orangtuanya harus juga menajamkan logika-logikanya, terutama induksi, deduksi, dan silogisme. Tiga logika ini sangat bermanfaat bila diterapkan sebagai metode pembelajaran anak.
Agar para ustadz dan ustadzahnya dapat memahamkan pembelajaran Al-Qur’an terhadap anak-anak didiknya, maka mereka dapat menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
Pertama, mengerti ulumul Qur’an. Hal yang paling pokok dari ulumul Qur’an adalah asbabun nuzul dan tafsiran Al-Qur’an. Mengetahui asbabun nuzul sangat penting, karena kita akan mengetahui bahasa sebuah al-Qur’an dengan konteks turunnya ayat tersebut. dan dengan tafsir Al-Qur’an sangat erat kaitannya untuk mengajarkan anak-anak didik memahami isi dan kandungan Al-Qur’an.
Kedua, menciptakan rasa senang dan nyaman dalam pembelajaran, sehingga objek pelajaran itu mampu menarik dan memikat sianak. Misalnya dengan menggunakan media baik visual maupun audio visual.
Ketiga, memahami ilmu psikologi perkembangan, terutama psikologi anak. Karena dengan ilmu tersebut pendidik akan mengetahui bagaimana sifat, karakter anak sesungguhnya, daya kognitifnya, afektif, serta psikomotorik anak. Sehingga memudahkan seorang pendidik untuk memberikan pelajaran sesuai dengan kemampuan serta pengetahuan sianak.
Keempat, menilai metode pengajaran sendiri. Para pendidik hendaknya selalu mengevaluasi dirinya tentang metode pengajaran yang digunakan kepada anak didiknya apa sudah tepat atau belum, sehingga pendidik tidak akan kesulitan melakukan tranformasi pengetahuan kepada anak didiknya.
Kunci untuk menghantarkan nalar anak pada nalar Al-Qur’an, misalnya dengan menajamkan nalar anak dulu dengan mengaktualkan potensi-potensi otak, terutama otak kiri, sehingga daya afektif, kognitif, dan psikomotorik nya bisa berkembang dan anak akan mampu melakukan hal-hal yang ‘diluar kebiasaan anak’.
Ketika nalar telah tajam, baru mengarahkan nalar itu pada nalar Al-Qur’an, setelah itu nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an menjadi dasar bagi perkembangan kehidupannya kemudian.
Dengan mengikuti langkah-langkah seperti diatas, diharapkan anak-anak mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, kecintaannya, serta sebagai petunjuknya disaat dunia semakin bengis dan kejam dengan panggung sandiwaranya.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar