Sabtu, 30 Januari 2010

Agama dan Problematika Global

Mujtahid *
MEMASUKI era millenium ketiga, penghuni penduduk dunia kini telah mencapai enam milyar. Suatu pertumbuhan populasi yang sangat pesat dan ironisnya justru bumi ini sedang dilanda krisis ekosistem dan energi yang mengancam kelangsungan hidup manusia.
Krisis besar yang terjadi saat ini memerlukan energi besar pula untuk menghadapinya. Problem ini tidak cukup hanya diatasi para ilmuan saja, melainkan harus melibatkan para teolog untuk bersama-sama mengerim lajunya krisis ekologi, gaya hidup dan konsumsi yang berlebihan serta melonjaknnya angka pertumbuhan penduduk yang tak terkendali.
Konsumsi berlebihan dan pertambahan penduduk yang tidak terkendali adalah dua faktor utama yang membebani daya-dukung bumi secara berlebihan. Persoalan global ini kini tengah dirasakan oleh semua negara, baik itu negara maju maupun negara taraf berkembang.
Problem empiris yang terasa saat ini, yaitu terjadinya penurunan cadangan air, pengrusakan hutan, kepunahan ribuan spesies setiap tahunnya serta berbagai pencemaran akibat limbah industri. Hal serupa juga terjadi pada pola konsumsi dan gaya hidup manusia yang mendorong munculnya teknologi yang tidak ramah lingkungan. Teknologi modern yang dikembangkan untuk mendukung produksi konsumsi yang berlebihan sehingga menghasilkan bahaya ekosistem yang sangat besar terhadap ozon dan iklim yang tidak menentu.
Dalam konferensi dunia tahun 1995 di Weston yang melibatkan lebih dari 250 ilmuan dan pakar agama-agama, pernah membahas tentang pentingnya mengatasi masalah konsumsi, populasi dan lingkungan dalam perspektif religius dan ilmiah yang akhir-akhir ini menjadi tema penting bagi semua negara. Pada pertemuan itu visi yang dikedepankan ialah ditemukannya sistem nilai alternatif tata ekonomi dan teknologi yang lebih berkeadilan serta melahirkan komunitas religius dalam rangka mengembangkan masa depan berkelanjutan.
Fokus kajian dalam tulisan ini adalah pertama, mengapa kita perlu memiliki dialog antara komunitas religius dan ilmiah dalam hubungannya dengan masalah lingkungan; kedua, mengapa dialog semacam itu difokuskan dalam masalah-masalah konsumsi dan kependudukan?
Sejak kurun waktu 30 tahun terakhir ini terdapat kolaborasi pakar (ilmuan dan teolog) mulai mengkaji dampak global yang muncul dewasa ini. Mereka menemukan lima faktor utama (jumlah penduduk, modal, makanan, konsumsi, sumber daya yang tidak bisa diperbaharui, serta polusi) tumbuh secara eksponensial dengan laju yang sangat cepat.
Kesadaran untuk mengembangkan ekologi dan konsumsi yang etis perlu menjadi perhatian bersama. Sebab eksploitasi lingkungan dan penggunaan konsumsi yang berlebihan dapat menyebabkan efek negatif bagi kelangsungan masa depan. Di sinilah entry point yang diusung secara kolektif agar nilai-nilai etis dan keagamaan dapat memengaruhi kebijakan dalam mengubah arah perkembangan masyarakat saat ini.
Masalah populasi, konsumsi dan ekologi tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa campur tangan semua kalangan. Bahkan, yang perlu dikembangkan saat ini adalah kajian multidisiplin atau lintas disiplin. Komunitas ilmiah dan religius harus bertemu untuk menyebrangi batas-batas historis yang membelahnya.
Mengapa kedua komunitas yang berbeda itu harus bertemu? Menurut Rodney L. Petersen (2007), ia menandai bahwa dengan pandangan ilmiah dan nilai etis-religius yang integral akan melahirkan pendekatan lebih natural, mekanistik dan humanis. Tidak ada ilmu yang bisa berdiri sendiri tanpa harus berkolaborasi dengan ilmu-ilmu lain.
Gejala positif belakangan ini semakin menguatkan bahwa minat untuk mengintegrasikan kedua komunitas itu guna menanggulagi masalah-masalah besar yang muncul. Komunitas religius (teolog) mulai meminati dan mengkaji sains, dan komunitas sains (ilmuan) juga telah memikirkan masalah-masalah asal-usul, sifat, nasib akhir alam semesta, yang secara tradisional berada dalam lingkup agama.
Hubungan ini diharapkan lebih bermakna dan membangun. Sebab tidak selamanya kedua komunitas tersebut sukses mewujudkan impian damai tanpa persoalan. Biasanya masalah itu muncul pada tataran metodologis dan kepatuhan terhadap hasil temuan yang “kontroversial”. Zona inilah yang memicu perseteruan antar keduanya, yang harus diantisipasi dengan sistem kompromi yang sinergis.
Gagasan integrasi antara kaum teolog dan ilmuan perlu diusung guna membaca formuasi kekuatan besar, yakni sejauhmana sains dan agama mampu menjawab problematika global secara konkret. Pikiran ini sekaligus menepis seperti lazimnya, bahwa agama seringkali hanya berhenti pada wilayah teologis, sementara sains hanya menyentuh wilayah teoritis-filosofis.
Upaya alternatif ini dapat dijadikan sebagai sejarah singkat dialog antara sains dan agama mengenai masalah-masalah lingkungan dan memberikan garis besar tentang sumbangan bagi komunitas religius. Dari perspektif agama dan ilmiah, saatnya mereka menawarkan visi keadilan bagi makhluk yang berubah, dinamis dan progresif.
Kelompok agamawan dan ilmuan harus memikirkan ancaman yang datang pada lingkungan akibat kepadatan penduduk dan konsumsi yang terlalu berlebihan sehingga unsur keselamatan dan keadilan dapat terwujud di masa depan. Tanpa pandang bulu, siapa pun harus memiliki kepekaan dan kesadaran ekologis, demografis dan dilandasi nilai-nilai etis religius yang tinggi.
Gagasan cemerlang ini tidak saja sangat penting diwacanakan melainkan juga harus diformulasikan secara sistematis. Kontribusi dari pikiran ini diharapkan tidak saja berkutat pada dataran konseptual, tetapi dimungkinkan harus menyentuh pada wilayah yang lebih riil dan praktis dilapangan. Dengan munculnya ide-ide segar yang bernuansa “kemajemukan” dengan mengedepankan sikap terbuka dan toleransi yang tinggi, maka kemajuan di segala sisi kehidupan di atas muka bumi ini diharapkan akan lebih mudah diraih.
*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar