Selasa, 05 Januari 2010

Islam Penyambung Mata Rantai Intelektual Barat

SEJAUH ini, tidak banyak di antara para ilmuan modern mengenal karya-karya intelektual Muslim yang sanggup memaparkan secara komprehensif dan objektif terhadap warisan ilmu pengetahuan. Pahadal, hal itu telah memberikan kontribusi besar kepada dunia intelektual Barat.
Dalam konstelasi peradaban dunia, Islam tidak hanya menyumbangkan ilmu pengetahuan ke dunia Barat, tetapi Islam juga pernah menjembatani atau penyambung sekaligus penyelamat ilmu pengetahuan dari peradaban Persia, Yunani ke dunia Eropa (Barat). Abad keemasan Islam (Golden Age of Islam) merupakan bukti outentik yang telah membuka mata sejarah dunia bahwa di sanalah terdapat sejumlah ilmu pengetahuan yang di terjemahkan dari referensi Yunani dan Persia ke dalam Islam.
Menurut Mehdi Nakosteen, seperti yang tertuang dalam karya penelitiannya yang berjudul “History of Islamic Origins of Western Education A.D. 800-1350; With an Introduction to Medieval Muslim Education” dikatakan bahwa kebudayaan dan ilmu pengetahuan klasik yang demikian kompleks berasimilasi dengan kebudayaan Islam. Demikian pula spirit intelektualitas Muslim dalam proses interaksi dan asimilasi kultural tersebut hingga mencapai puncaknya yang kemudian berangsur-angsur surut dan memunculkan kebangkitan peradaban Barat. Dalam kontek inilah Islam kemudian dianggap ikut dalam prosesi ‘peletakan batu pertama’ bangunan budaya dan peradaban modern.
Dengan penuh cermat, sistematis dan disertai bukti-bukti ilmiah, Nokosteen memaparkan bahwa kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan dalam Islam ditopang oleh spirit skolastikisme, tidak seperti pada ilmu pengetahuan dan pendidikan Kristen Barat. Perkembangan selanjutnya, hasil dari skolastikisme ini berada ditangan teolog-cendikiawan Kristen Latin, terutama mereka berusaha mempertemukan dan menggabungkan filsafat Yunani, terutama Aristotelianisme dan Neo-Platonisme dengan doktrin Gereja, mencapai puncaknya masa St. Thomas Aquinas. Sementara skolastikisme Muslim berusaha mempertemukan pemikiran Greco-Helenistik dengan doktrin religius Muslim, mencapai puncaknya pada masa al-Ghazali.
Sebagimana banyak disinggung dalam literatur sejarah Islam, bahwa ilmu pengetahuan dalam Islam mengalami kemajuan yang mengesankan selama “abad pertengahan” adalah melalui orang-orang kreatif seperti al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibnu Sina, sampai Omar Khayyam, dan lain-lain. Pengetahuan Islam telah menginvestigasi dalam ilmu kedokteran, teknologi, matematika, geografi, dan bahkan sejarah. Semuanya ini dilakukan di dalam framework keagamaan dan skolastikisme.
Sedemikian cepatnya Islam menghasilkan ilmu pengetahuan merupakan bentuk sifat dasar Islam yang mendorong pelakunya agar kreatif, dinamis. Namun di sisi lain, agaknya kemajuan ini memperoleh tantangan, yakni sebuah reaksi yang menganggap bahwa Islam telah sempurna atas segala-galanya, atau disebut juga munculnya suatu faham finalistik. Akibatnya, pemikiran bebas menjadi terhalang, kemandekan intelektual menjadi gejala umum, dan taqlid buta menjadi sangat dominan dalam sejarah Islam.
Setelah itu, ada beberapa orang khalifah dan para crusader Islam membakar perpustakaan-perpustakaan dan membungkam para cendekiawan, sedangkan lainnya berbangga penyalin dan penyalur buku untuk dijadikan perpustakaan dan menjadikannya sebagai pusat pendidikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat umum. Secara praksis, perkembangan ilmu pengetahuan selanjutnya secara berangsur-angsur lari ke pihak dunia Barat. Sementara dalam Islam, ummatnya sedang merasakan nikmatnya dunia spiritualisme yang parsial dan tipikal itu.
Di saat Islam mengalami kemunduran, dunia Eropa (Barat) sedang gencarnya melakukan invasi terhadap Islam, terutama di bidang ilmu pengetahuan dan kekuasaan politik. Dengan demikian, Islam secara politis, mengalami banyak kekalahan atas invasi Barat tersebut. Satu demi satu negeri Muslim yang sebelumnya menjadi pusat dan sentral ilmu pengetahuan jatuh ke pelukan Barat. Dan yang tersisa hanya bekas puing-puing yang tinggal kenangan belaka.
Apa yang menjadi gambaran tersebut di atas, merupakan awal dari apa yang disebut abad renaisans di Eropa. Suatu era perubahan yang sangat dahsyat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa. Bahkan corak ilmu pengetahuan yang pernah menjadi nilai emas di dunia Islam, sudah menjadi milik dunia Barat. Karya-karya ilmuan Muslim banyak diterjemahkan kembali ke dalam bahasa mereka. Sama halnya ketika Islam melakukan penerjemahan karya-karya dari manuskrip Persia dan Yunani.
Kejayaan Islam yang sebelumnya menjadi sangkar emas, telah tertandingi oleh Eropa (Barat), bahkan selangkah lebih maju. Terutama pasca penemuan Mesin Uap yang melahirkan revolusi industri di Eropa. Teknologi perkapalan dan militer berkembang pesat, pusat perdagangan dan kelautan yang strategis berada dalam kekuasaannya. Bahkan tanpa hambatan, negeri-negeri Islam jatuh ke bawah kekuasaan Barat.
Namun demikian, menurut sebagian pemikir muslim mengatakan bahwa Islam tetap kreatif dan progresif sepanjang kebebasan berpikir dan investigasi dapat menandingi fatalisme. Sepanjang Islam menganggap bahwa dunia adalah buku yang terbuka untuk dapat dibaca dan dipahami oleh semua orang. Apabila unsur-unsur fanatisisme dan ortodoksi tertanam dalam skolastikisme, maka ia tidak dapat memberi pengaruh nyata. Dan apabila unsur-unsur dinamis dan liberal menyerah kepada kepatuhan total pada ortodoksi dan berganti menjadi kepasrahan pada konsep-konsep takdir dan nasip, serta mengalahkan semangat investigasi, berinovasi dan mencipta, maka obor tersebut telah diserahkan dari Islam kepada Renaisans Eropa.
Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar