Sabtu, 02 Januari 2010

Rendahnya Minat Baca Mahasiswa

Mujtahid*

DALAM diri manusia terdapat dua unsur pokok yang saling melengkapi kesempurnaannya, yakni unsur jasmaniah dan ruhaniyah. Unsur jasmaniah adalah sesuatu yang bersifat tampak, materi atau fisik; sedangkan unsur ruhaniyah adalah sesuatu yang tidak tampak, non fisik, atau immateriil. Secara fungsional, Keduanya saling melengkapi satu sama lain.
Supaya kedua unsur itu seimbang, maka membutuhkan suplai rutin sebuah “makanan bergizi” agar keduanya tumbuh sehat dan berkembang secara sempurna. Sayangnya, kebanyakan manusia tidak memberikan suplai yang seimbang kepada dua unsur yang dimilikinya itu. Kebanyakan manusia memang lebih memberikan suplai makanan yang diperlukan untuk tubuh (jasmani). Rata-rata manusia tidak banyak menaruh perhatian kepada “makanan” yang diperlukan bagi otak atau hati dalam arti bukan fisik.
Selain makanan yang bersifat fisik (untuk tubuh), makanan yang bersifat nonfisik (untuk ruhani) juga penting, misalnya membaca buku, informasi, dan sebagainya. Kesadaran ini belum banyak disadari oleh peserta didik akan pentingnya di masa depan. Kesadaran mereka hanya sekedar memenuhi ‘tugas’ dan hal itu pun tidak dikerjakan dengan sepenuh hati. Persoalan ini sebagian terlihat di dunia akademis.
Pada level pendidikan perguruan tinggi misalnya, seharusnya proses belajar-mengajar lebih menitik-tekankan pada budaya membaca daripada mendengar. Membaca adalah salah satu kegiatan manusia yang paling awal, sehingga ia dapat mengembangkan fungsi-fungsi jasmani maupun ruhaninya sesuai dengan cita-cita yang diinginkan.
Kalau kita belajar ke masyarakat Yunani (kota lahirnya para filosof), pada masa Sokcates para siswa diperkenalkan dengan budaya membaca, bukan budaya mendengar. Di antara sekian banyak aspek yang mendorong keberhasilan pendidikan pada masa itu adalah faktor budaya baca. Tidak heran kalau waktu itu, masyarakat Socrates adalah masyarakat yang memiliki kepekaan sangat tinggi dan budaya kritis, bahkan sampai melahirkan seorang ilmuan maupun seorang filosof.
Pada tahun 1930-an Jean Pieget telah menampilkan sebuah strategi baru dalam proses belajar-mengajar di Indonesia, yang dikenal dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Namun dalam operasionalnya belum juga cukup berhasil. Dengan demikian, bahwa keprihatinan mendasar yang masih dirasakan oleh dunia akademis sampai saat ini adalah rendahnya intensitas minat baca.
Empat tahun yang lalu, dari hasil sebuah penelitian (2005) tentang “intensitas minat baca mahasiswa” di beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jawa Timur ditunjukkan bahwa minat baca mahasiswa masih sangat rendah. Dari penelitian itu disimpulkan daya serap baca mahasiswa terhadap buku hanya berkisar 39,23% saja.
Ironisnya, slogan di mana-mana yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi lebih menitik beratkan pada kemandirian dalam proses belajar-mengajar. Sebagai sebuah lembaga yang sangat menentukan nasip hidup seseorang bagi masa depan, kesadaran membaca belum juga menjadi sebuah kebutuhan, namun mereka masih menganggap bahwa kecerdasan otak, kepandaian dan keahlian didapat selain dari membaca.
Betapa naifnya, jika generasi muda tidak lagi sadar tugas dan tanggungjawab dirinya sebagai komunitas akademis, masyarakat dan bangsa. Betapa nistanya jika para generasi tidak lagi menyadari eksistensinya sebagai cagar peradaban umat.
Padahal fenomena tersebut di atas ada di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), lalu bagaimana dengan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Minat memang sebuah persoalan perasaan. Sedangkan perasan akan menentukan seseorang berbuat aktif dalam suatu kegiatan. Dengan demikian, jika minat itu tidak ada, maka kegiatan membaca juga tidak ada. Minat dapat diartikan suatu moment dari kecenderungan yang terarah secara intensif pada suatu tujuan atau objek yang dianggap penting.
Minat mempunyai kaitan erat dengan motif, drive, need, desire dan incentive. Dalam tataran operasionalnya, minat adalah motif yang subyektif dan bahan bacaan adalah insentif yang bersifat objektif. Objek-objek yang menarik perhatian biasanya dapat membentuk minat, karena adanya dorongan dan kecenderungan untuk mengetahuinya, memperolehnya, atau menggalinya dan mencapainya.
Timbulnya minat pada diri seseorang disebabkan oleh adanya rasa ketertarikan, berkepentingan dan perhatian pada suatu obyek. Obyek itu bisa berupa alam sekitar, yang berupa lingkungan sosial maupun lingkungan material. Lingkungan menarik menyebabkan dorongan kepada manusia untuk memperhatikannya, mengetahuinya, selanjutnya ingin mencapainya. Untuk mencapai hal-hal demikian diperlukan beberapa syarat; pertama sesuatu itu harus ditampilkan dengan gaya menarik. Kedua, adanya kekuatan yang menyebabkan menarik. Dan ketiga sesuatu itu harus kontras, artinya membuat penasaran kepada pembaca sehingga mereka ingin tahu lebih mendalam.
Oleh karena itu, setiap lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi dituntut supaya memberikan “rangsangan” kepada peserta didik agar mereka mampu meningkatkan budaya membaca. Sebagai sebuah media pembelajaran, lembaga pendidikan seharusnya mendorong peserta didik agar termotifasi untuk membaca. Membaca bukan dalam arti sempit, namun membaca dalam arti seluas-luasnya. Dengan begitu akan lahir keseimbangan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan non fisik.
Seiring dengan datangnya era informasi, masyarakat masa depan akan dihadapkan pada persaingan yang lebih bersifat ‘pengetahuan’. Cara pandang masyarakat modern akan lebih banyak ditentukan oleh seberapa jauh penguasaan informasi. Bahkan Wittgenstein mensinyalir bahwa paradigma di era globalisasi ini akan ditentukan oleh cagar bahasa. Di mana manusia harus banyak melakukan proses membaca.
Dari pandangan di atas, setidaknya bagi kita bersama dapat memetik tentang ‘jalan berfikir’ bagi masa depan manusia. Dengan ditandainya era informasi dan pengetahuan, masyarakat masa depan berarti akan menuntut semua institusi pendidikan termasuk media cetak maupun elektonik, dapat memerankan dirinya sebagai sarana komunikasi yang efektif terhadap peningkatan budaya membaca bagi masyarakat.
Untuk mengakhiri uraian di atas, sekali lagi penulis mengharapkan supaya lembaga pendidikan dan media komunikasi memberikan rangsangan kepada khalayak agar menyadari akan pentingnya budaya membaca. Membaca dapat menggerakkan pikiran, menambah wawasan dan mendorong diri manusia untuk bersifat kritis.
Sebagaimana salah satu pesan dalam ajaran Islam, bahwa ungkapan iqra’ ayat pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. ini memerintahkan kepada umat manusia supaya sering membaca. Sekali lagi, proses membaca adalah bagian inheren yang tak terpisahkan dari dialektika kehidupan manusia dimana pun berada.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar