Sabtu, 16 Januari 2010

Mengatasi Problematika ANJAL

Oleh Mujtahid*

MENGATASI anak jalanan (Anjal) dari berbagai sisi negatifnya memang butuh strategi jitu. Penyelesaian tidak cukup hanya diserahkan kepada keluarga atau instansi terkait, melainkan harus ditangani secara matang, cerpat, hingga pada titik penyelesaian yang sesuai dengan problematikanya.
Usia anak adalah usia yang seharusnya mendapatkan perhatian, bimbingan, didikan dan kasih sayang dari orangtua (keluarga). Namun, tak semua anak dapat menikmati uluran perhatian dan kasih sayang tersebut. Akibatnya, mereka ada yang lari ke alam “luar” untuk mengamen di pinggir jalan, mengemis di tempat keramaian, dan terlibat hal-hal tertentu yang terkadang “matang” sebelum waktunya. Nasip tragis ini telah lama menjadi gejala kurang sehat di tengah-tengah kehidupan sosial.
Mentalitas Anjal kini menjamur diberbagai kota-kota besar dan juga sudut daerah, khususnya nasip mereka yang kurang beruntung. Tak sulit untuk mendapatkannya, jika kita melintasi perempatan atau pertigaan stopan lampu merah, di situlah camp mereka berkeliaran mengais uang receh kepada para pengemudi.
Dari apa yang telah diungkapkan Tatik Chusniyati dalam kolom Tinjauan Buku, memang perlu dijalankan bagi pihak yang berwenang atau bertanggungjawab. Karena itu, tanggapan ini juga ingin menambahkan sebuah jurus ampuh bagaimana cara mengatasi secara tepat agar persoalan Anjal cepat teratasi.
Pertama, persoalan Anjal kini bukan hanya tanggungjawab miliki keluarga, melainkan harus ditangani pemerintah (pusat/daerah), dan khususnya bagi penegak aparat keamanan bisa “mengamankan” keselamatan jiwa dan fisik mereka. Tak jarang mereka menghiraukan keselamatn jiwanya, hanya karena ingin memperoleh sesuap nasi atau barang lainnya.
Kedua, persoalan Anjal perlu disolusikan dengan dibentuknya lembaga-lembaga pendidikan, ketrampilan (skill), serta pelatihan-pelatihan sebagai wadah mereka untuk mengajari dan mendidik mereka, agar lebih “manusiawi” ketimbang harus menggantungkan nasip yang kurang jelas itu. Institusi tersebut khusus diperuntukkan bagi mereka agar memperoleh hak-hak pendidikan, rasa aman, dan perhatian sebagaimana anak lainnya.
Ketiga, bagi Anjal perlu mendapatkan pelayanan kejiwaan dan bimbingan ruhani (religius) agar tercipta kepribadian yang shaleh dan memiliki kesadaran hidup yang lebih mantap dan berguna masyarakat, bangsa dan agama. Membentuk kesadaran keagamaan menjadi sangat penting, karena pada usia-usia seperti inilah mereka melangkah mencari proses keyakinan yang jadi pegangan hidupnya.
Peran psikolog atau pun ruhaniawan sangat berarti bagi mereka guna membekali dan mengarahkan jiwa dan fitrahnya. Sebab jika salah mengambil orientasi hidup, mereka bisa kehilangan pegangan dan keseimbangan hidup. Di sinilah psikolog dan ruhaniawan membimbing mereka ke jalan yang sebenarnya.
Keempat, dari sisi penjaminan gizi dan kesehatan, Anjal selayaknya juga mendapat perhatikan yang cukup. Banyak Anjal yang dari segi kesehatannya tidak terawat, saking seringnya berkeliaran ditengah terik panasnya matahari dan tusukan dinginnya udara pagi, serta menggigil saat basah kuyup akibat guyuran hujan.
Selain materi, gizi dan kesehatan adalah hal sangat penting bagi manusia. Kecerdasan dan keseimbangan jiwa manusia sangat dipengaruhi oleh cukupnya gizi dan kesehatan. Lebih-lebih pada pertumbuhan dan perkembangan anak, gizi dibutuhkan untuk mengimbangi dengan proses pertumbuhannya. Bahkan, sering dikaitkan antara gizi/kesehatan dengan daya kecerdasan punya hubungan yang erat, kedua saling punya pegaruh yang cukup signifikan.
Dari keempat “service” tersebut, persoalan Anjal akan dapat mudah teratasi, tidak hanya mengamankan, tetapi juga upaya menjamin kelayakan masa depan hidupnya agar jadi lebih baik. Tanggungjawab ini harus menjadi tugas pemerintah untuk mengentaskan kaum “miskin” yang semakin jelas akan membebani negeri ini selanjutnya.
Selain itu, bagi orangtua juga sangat penting dihadirkan untuk menyemangati dan memberi motivasi dan perhatiannya. Banyak kasus yang muncul, karena gara-gara ada orangtua tidak perhatian, anak seringkali terjerat pada perbuatan yang asusila, amoral dan tak sedikit yang terlibat Narkoba dan sebagainya.
Kerenanya, peran dan perhatian orangtua tetap menjadi perioritas utama dalam memberikan harapan masa depan anak. Dengan dukungan moral orangtua, anak akan mudah bangkit segala nasip naasnya.

*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar