Minggu, 10 Januari 2010

Menata Kembali Manajemen Perguruan Tinggi

Mujtahid *

MEMASUKI gelombang ketiga, secara makro perguruan tinggi akan mengahadapi tantangan yang tidak ringan. Akibat percepatan arus perubahan sosial yang drastis, akhirnya secara sadar atau tidak, telah memaksa berbagai penjual jasa, termasuk perguruan tinggi untuk lebih adaptif terhadap perubahan tersebut. Untuk mengantisipasi perubahan yang dinamis itu, maka perguruan tinggi harus sedianya menyiapkan manajemen yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan customer.
Perguruan tinggi (PT) dituntut memiliki misi, visi dan orientasi yang jelas, terbuka dan mempunyai tujuan jangka panjang yang dapat menciptakan produktifitas lulusan yang dapat diperhitungkan. Untuk memperoleh out put yang dapat berdaya saing ditingkat nasional, serta lebih-lebih bisa bersaing dengan lulusan dari pendidikan luar negeri. Gambaran yang dapat melukiskan tentang manajemen perguruan tinggi yang bagus, bisa kita gambarkan seperti aquarium; yang di dalamnya terdapat ikan-akan pilihan, produktifitas makanannya serba berkualitas unggul, sirkulasi udaranya sangat streril, dan majikan atau pengelolannya profesional. Sistem dari aquarium inilah yang seharusnya bisa dicontoh oleh PT dalam rangka untuk menyediakan iklim yang benar-benar kondusif.
Dalam perguruan tinggi, manajemen merupakan salah satu tuntutan yang tidak dapat dielak lagi. Karena itu, manajemen PT harus segera menjari jalan tengah untuk membingkai pengelolaanya secara elegan dan menyejukkan. Apapun yang akan dilakukan oleh pihak perguruan tinggi merupakan tuntutan masyarakat dan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan dan tantangan gobal. Sehingga agaknya menajemen merupakan jantung dari dunia pendidikan tinggi yang akan memberikan atmosfir bagi pemenuhan kebutuhan pasar, serta mampu menciptakan lapangan kerja.
Dalam tiga dasawarsa terakhir ini, memang banyak perguruan tinggi yang bermunculan, dan nota benenya adalah sebagai akumulasi dari perkembangan dan perubahan zaman. Akibat perubahan dan perkembangan zaman tersebut, bukan tidak mungkin akan ikut mempengaruhi eksistensi perjalanan perguruan tinggi. Sehingga kemunculan perguruan tinggi dalam kurun waktu tersebut telah memikul beban-beban budaya yang masih berat untuk ditanggalkan.
Kelahiran perguruan tinggi merupakan salah satu kebutuhan yang selalu diharapkan oleh kalangan masyarakat. Pada esensinya, letak dari semua sistem pendidikan secara makro, adalah sangat tergantung pada eksistensi perguruan tinggi itu sendiri. Oleh karena itu, beban yang ditanggug oleh perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada pengembangan ke dalam (intern) melainkan juga ke luar (ekstern).
Pengembangan ke dalam itu hanya terbatas pada proses pengajaran dan penelitian. Sementara, pengembangan keluar adalah lembaga yang mampu memproduksi ilmu pengetahuan. Dalam beberapa hal, perguruan tinggi dan pendidikan dibawahnya agaknya terjadi diskontinutas yang memprihantinkan. Indikasi tersebut bisa kita temukan misalnya, adanya sekolah-sekolah yang masih kurang memenuhi standar. Padahal, sebetulnya untuk memasuki pada perguruan tinggi seyogyanya adalah calon peserta didik yang pernah menempuh pada sekolah yang mempunyai akriditasi yang standar. Barangkali Inilah relaita yang bisa kita rasakan dan nampaknya belum ada upaya untuk memecahkan persoalan ini.
Salah satu alternatif yang dapat mengembangan perguruan tinggi adalah terciptanya wahana yang mampu memberikan iklim kondusif dan menjadi mitra pengembangan kependidikan ditingkat bawah. Sistem perguruan tinggi akan senantiasa survive apabila dapat menempatkan dirinya sebagai pencetak out put yang memiliki nilai tawar terhadap pasar kerja dan sekaligus mempunyai pegangan nilai moraldan etika
Pada dekade terakhir ini, perguruan tinggi banyak menggunakan analisis SWOT strength. Weaknesses, Opportunities and Threats (analisis lingkungan internal dan ekternal) dengan baik. umumnya mereka melihat kekuatan dan kesempatan ketika program studi baru. Dalam proses pertumbuhannya, perguruan tinggi paling tidak harus mengacu tiga model, yakni model Production Oriented, Market Oriented dan Sosiety Oriented Model.
Dalam Production Oriented perguruan tinggi menawarkan jasanya dengan suatu keyakinan bahwa PT tersebut mempunyai kapabilitas intelektual, sistem nilai yang cukup mapan, maupun pengalaman, kegunaan sosial (social utility), bagi pembeli jasa. Jadi sesuatu yang ditawarkan tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekarang. Upaya inovasi terhadap Production Oriented harus dilakukan secara terus menerus. Dewasa ini hampir semua PT melirik pada pasar kerja dan lapangan yang hendak menjadi sasaran bagi Production Oriented tersebut.
Sedangkan Market Oriented, PT harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Perguruan tinggi hanya menawarkan jasa pendidikan, jika hal tersebut dipandang perlu oleh stakeholders (baik pemilik maupun pengelola PT , customer- peserta didik, pemerintah maupun masyarakat luas).
Pembukaan studi perguruan tinggi tentu sangat dipengaruhi oleh persepsi stakeholder dalam memandang kondisi ekonomi yang terjadi saat itu terjadi. Sehingga kehadiran PT merupakan salah satu peningkatan human growt.
Adapun yang terakhir Society Oriented adalah model yang melihat kerangka filosofis lingkungan eksternal, baik dari sisi kesempatan maupun dari sisi ancaman yang mungkin muncul di masa mendatang. Tujuan Society Oriented ini adalah berjangka panjang, karena disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. Terlebih lagi Society Oriented merupakan antisipasi terhadap perkembangan sosial budaya yang datangnya dari dalam sendiri maupun luar.
Dari ketiga model yang telah penulis gambarkan di atas, bagi PT yang sekarang eksis harusnya dapat mengembangkan secara simultan, kalau tidak ingin kehilangan elan vitalnya. Letak elan vital PT adalah paling tidak ketiga model orientasi tersebut.
Perguruan tinggi setidaknya bisa menerapkan pola menejemen adaptif terhadap perubahan, menejemen partisipatif sesui dengan budaya lokal dan desentralisasi, dan membentuk organisasi yang flat tanpa hirarki yang berlebihan serta menejemen mengambil peranan moral dan etika dalam mengelola PT.
Langkah-langkah yang harus dilakukan PT adalah melakukan proses internalisasi yang dikemas dalam pembentukan budaya oraganisasi yang sesuai dengan misi, visi dan tujuan jangka panjang perguruan tinggi. Ahmad Sobirin (JPI FIAI, 1999) mengutip Stanley Davis (1998) mengemukakan bahwa budaya organisasiadalah pola keyakinan dan nilai-nilai yang dipahami dan dijiwai oleh anggota organisasi.
Budya organiasi setidaknya dapat membentuk karakteristik yang dapat membedakan satu PT dengan PT yang lain. Jika sebuah PT menginginkan hasil didik yang berwawasan pencipta kerja, maka budaya oraganisasi mendorong peserta didik yang inovatif, visioner dan mau peduli terhadap resiko dan punya self confidence yang tinggi harus diciptakan.
Tanggung jawab PT memang mengantarkan peserta didik supaya memiliki wawasan yang seimbang. Kerena itu, budaya organisasi akan berfungsi sebagai katalisator dan perekat bagi antar kepentingan yang berbeda dalam organisasi. Selain itu, anggota oraganisasi memiliki latar belakang yang majemuk, plural dan heterogen.
Kemajemukan budaya yang tampak, tentunya tidak bisa dieliminasi begitu saja, tetapi harus diselaraskan agar baik tujuan personal anggota organisasi, dan tujuan organisasi dapat tercapai.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar