Kamis, 06 Mei 2010

Upaya Reformulasi Pendidikan Islam

Mujtahid*

DINAMIKA pendidikan Islam sampai kapan pun selalu memancing perhatian banyak orang, baik dari kalangan institusi pendidikan maupun dari luar institusi pendidikan/masyarakat. Bahkan tidak sedikit dari kaum ilmuan luar negeri ikut membicarakan, meneliti dan merespon eksistensi pendidikan Islam ini. Sebut saja misalnya, Karel A. Steenbrink yang meneliti keberadaan pendidikan Islam, mulai asal usul pertumbuhan, perkembangan, dan proses modernisasinya di Nusantara ini.
Pendidikan Islam sebagai agen pencerahan dan penyelematan hidup manusia sangat membutuhkan pondasi yang kuat, arah yang jelas dan tujuan yang utuh. Melalui pondasi, arah dan tujuan tersebut diharapkan idealitas pendidikan Islam seperti yang tersirat dalam sumber ajaran Islam (al-qur’an dan hadits) senantiasa mendorong umatnya menjadi orang atau kelompok yang berkualitas (berilmu), beriman, dan punya kesalehan yang tinggi.
Meskipun secara konseptual pendidikan Islam masih mengalami perbedaan pandangan, akan tetapi dalam implementasi dan tujuan yang dicita-citakannya sama. Perbedaan tersebut terjadi karena cara pandang mereka juga berbeda-beda dalam memahami hakikat, ruang lingkup dan fungsi Islam. Paling tidak ada empat versi pandangan. Pertama, Islam sebagai agama terakhir dan penyempurna dari agama-agama wahyu sebelumnya. Kedua, Islam hanya mengatur hubungan antara manusia dan Tuhan. Ketiga, Islam bukanlah sebuah sistem kehidupan dan praktis dan baku, melainkan sebuah sistem nilai dan norma secara dinamis. Keempat, Islam adalah agama petunjuk hidup yang menghidupkan.
Seiring dengan perubahan zaman, pendidikan Islam kini harus berbenah diri dalam rangka menghasilkan generasi baru yang mempunyai kekokohan spiritual, keluhuran akhlak, kematangan profesional dan keluasan ilmu, di samping menyiapkan memenuhi standar kebutuhan lapangan kerja.
Secara filosofis, pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi manusia ke arah yang maksimal. Potensi yang diberikan oleh Tuhan tidak akan berkembang sendirinya tanpa dukungan pendidikan yang memadahi. Sehingga orientasi pendidikan tidak hanya memasuki wilayah fisiologis, melainkan juga harus merambah kawasan spiritual, psikologis serta nilai-nilai etis (akhlak).
Ide dasar terbangunnya pendidikan Islam yaitu keseluruhan aktivitas pedagogi yang dilatari oleh hasrat, motivasi dan semangat untuk memanifestasikan nilai-nilai Islam, baik nilai-nilai ketuhanan maupun nilai-nilai kemanusiaan, melalui kegiatan pendidikan.

Visi dan Misi Pendidikan Islam
Menurut Tobroni (2008) menjelaskan bahwa visi dan misi pendidikan Islam itu harus mampu membawa cita-cita mulia yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam, menghargai ilmu dan orang yang berilmu, membangun peradaban di era informasi dan penyelamat peradaban umat manusia.
Manusia sebagai makhluk yang dinamis yang dibekali dengan petunjuk wahyu yang jelas diharapkan tercipta kedamaian, kerahmatan dan kemakmuran baik secara lahiriyah maupun batiniyah. Pendidikan Islam sebagai poros utama untuk mendorong perubahan prilaku dan watak manusia agar menjadi khaira ummah (kaum yang berkualitas). Melalui pendidikan Islamlah sosok generasi akan terwujud kesadaran sebagai abdullah dan sekaligus khalifatullah secara utuh. Suatu generasi yang berilmu pengetahuan, berakhlak mulia, terampil dan istiqamah kepada nilai-nilai kebenaran, keadilan, kasih sayang, dan selalu berkarya kebajikan untuk sesama.
Islam sebagai agama yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, mendorong ummatnya untuk menuntut ilmu sampai ajal datang. Para ahli hikmah mengilustrasikan bahwa ilmu adalah kekuatan, mukjizat, perisai, yang akan melindungi pemiliknya dari kehancuran. Dalam panggung sejarah kita menyaksikan bahwa bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu mengusai ilmu pengetahuan, yang dapat menciptakan kemakmuran, kesejahteraan dan kehormatan. Karena itu pendidikan Islam sangat menghargai ilmu, tidak saja ilmu agama tetapi juga ilmu dunia/umum. Misi integralistik sebagai cara untuk mendekonstruksi dikotomi yanag terjadi selami ini harus dibangun secara kuat agar tidak melahirkan manusia yang berat sebelah.
Setelah memiliki ilmu yang kuat, generasi nanti diharapkan mampu membangun peradaban baru yang elegan di percaturan dunia informasi. Budaya dan transformasi nilai-nilai sosial harus lebih baik dengan didukung oleh teknologi informasi yang sedemikian pesat. Melalui pendidikan Islam diangankan tercipta sebuah peradaban baru yang etis dan humanis. Suatu peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai fitrah kemanusian yang sesuai dengan aturan ilahi. Kemajuan teknologi informasi yang saat ini berkembang secara pesat di muka bumi ini dalam banyak hal telah menyumbangkan nilai positif bagi kehidupan manusia, selain terdapat dampak negatifnya. Dengan peradaban yang etis dan humanis itulah diharapkan seseorang dapat menjalankan amanat kehidupan ini menjadi kerajaan dunia yang makmur, dinamis dan harmoni atas dasar nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan itu.
Pendidikan Islam membawa misi untuk menjadikan manusia dengan bekal fitrah yang hanif atau dengan ruh, kalbu dan akal sehatnya selalu berpihak pada kebenaran. Manusia yang setiap waktu sadar untuk berbuat kebajikan, keadilan, kasih sayang dan bermanfaat bagi orang lain. Misi tersebut juga selaras dengan tujuan yang dirumuskan pendidikan nasional tentang sosok manusia sempurna. Profil manusia Indonesia yang berkepribadian tangguh secara lahiriyah dan batiniyah, mampu menjalin hubungan vertikal dengan Tuhan-Nya dan hubungan horizontal kepada sesama manusia, memberikan makna positif bagi kemajuan dan keharmonisan hidup bangsa dan umat manusia.

Formulasi Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan diartikan sesuatu yang dicita-citakan dimasa yang akan datang dan ingin diwujudkan dengan berbagai daya dan upaya. Membahas tujuan pendidikan Islam sangatlah penting untuk melahirkan formulasi yang gamblang untuk memberikan pencerahan di masa yang akan datang.
Formulasi tujuan pendidikan Islam biasanya dilihat dari dua perspektif, yaitu perspektif manusia (pribadi) dan perspektif masyarakat (makhluk sosial). Perspektif manusia ideal digambarkan seperti manusia kamil, insan cita, manusia paripurna, manusia berkualitas, manusia unggul, manusia bertaqwadan lain sebagainya. Sedangkan dalam perspektif manusia sebagai makhluk sosial tujuan pendidikan diformulasikan dalam bentuk citra masyarakat ideal seperti: warga masyarakat, masyarakat madani, masyarakat utama, dan lain sebagainya.
Agar tujuan pendidikan Islam efektif, dibutuhkan pendekatan-pendekatan yang terpadu, seperti pendekatan melalui normatif filosofis, pendekatan melalui analisa historis, dan pendekatan melalui analisa ilmiah tentang realita kehidupan yang aktual. Pendekatan normatif-filosofis mengajak semua manusia komitmen menegakkan nilai kebenaran dan keadilan dalam berbagai dimensinya, baik bidang sosial, ekonomi, politik dan budaya. Dengan merujuk pada ajaran wahyu dan sunnah, setiap manusia harus bisa berlaku adil dan benar. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya mengedepankan aspek akhlak sebagai pondasi pendidikan. Misi kerasulan Muhammad saw diantaranya adalah membangun akhlak bagi pengikutnya agar menjadi manusia seutuhnya. Selain itu, juga membangun fondasi aqidah/spiritual yang kuat sebagai sentral keyakinan seseorang.
Tujuan pendidikan Islam merupakan kelanjutan misi besar yang terkadung dalam wahyu ilahi dan sunnah Nabi Muhammad saw. Merujuk pada dua sumber utama itulah, pendidikan Islam harus bersentuhan dengan segala dimensi kehidupan. Tidak hanya seputar pendidikan agama, melainkan juga menyentuh persoalan-persoalan sosial, kultural, ekonomi, politik, dan sebagainya. Pendidikan tidak ingin melahirkan generasi yang berat sebelah. Artinya suatu genarasi yang hanya mementingkan satu dimensi keilmuan, sementara yang lain dipandang tidak penting. Model pendidikan Islam semacam ini justru akan terjebak pada formulasi yang mengarah terjadinya dikhotomi ilmu.
Untuk menghindari model formulasi dikhotomi tersebut, pendidikan Islam harus kontekstual sesuai dengan persoalan hidup seperti yang diajarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Kontekstualisasi pendidikan dengan persoalan zaman adalah pilihan strategis dan rasional yang relevan dengan semangat dan spirit doktrin Islam. Pendidikan Islam harus mengambil pola-pola yang modern, tetapi tidak mengesampingkan nilai-nilai spiritualitas dan akhlakul karimah.

Kurikulum Pendidikan Islam
Berbicara tentang kurikulum adalah berbicara tentang kontens dan struktur keilmuan dalam pendidikan. Kurikulum sebagai komponen utama harus mendapat aksentuasi yang mendalam bagi setiap pengembang dan praktisi di setiap satuan pendidikan. Kurikulum pendidikan Islam, seperti yang diinginkan para pakar dan ahli pendidikan Islam, harus dibangun dari formulasi pemahaman terhadap wahyu dan realitas empirik yang memadahi.
Kurikulum pendidikan Islam diarahkan bagaimana menyiapkan lulusan yang memiliki karakter dan jiwa yang utuh. Selain itu, mereka juga punya ketrampilan dan keahlian yang handal yang dibutuhkan untuk hidup dan kehidupan ini. Dalam konteks seperti saat ini, kurikulum pendidikan Islam diorientasikan secara adaptif dan benar-benar nyata untuk memberikan perlawanan terhadap dekadensi moral, kemerosotan spiritual dan rendahnya mutu pengetahuan serta kemampuan (skill).
Kurikulum pendidikan Islam memiliki misi untuk menjabarkan pesan kitab suci dan sunnah Nabi agar dapat membenahi kuliatas hidup manusia ke arah lebih baik. Suatu misi (risalah) kemanusiaan yang sangat mulia dalam rangka membentuk sikap mental lulusan yang berperadaban dan menjunjung tinggi nilai insani.
Sesuai dengan konteks Indonesia, pendidikan Islam sangat dipengaruhi oleh budada, ideologi dan cara keberagamaan yang kuat. Oleh karenanya, kurikulum pendidikan Islam diformat yang mampu menyentuh sesuatu yang substansial seperti yang dikehendaki oleh nilai-nilai budaya, ideologi dan tingkat keberagamaan yang terdapat dalam bangsa ini. Kontekstualisasi kurikulum pendidikan Islam diharapkan memberikan kontribusi yang positif terhadap prilaku peserta didik, terutamapembetukan budi pekerti, kesadaran spiritualitas keagamaan, serta kematangan intelektual dan profesional.
Secara keseluruhan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, merupakan jabaran dari kurikulum yang hakikatnya tidak ada yang terpisah dari konteks ajaran wahyu dan sunnah. Kalau pendidikan Islam hanya mengajarkan masalah ubudiyah saja, maka akan melahirkan kesalehan pribadi saja. Sedang tujuan pendidikan Islam tidak menghendaki seperti itu.
Kurikulum pendidikan Islam harus dibangun secara integral antara dimensi kewahyuan, dimensi kealaman dan dimensi sosial kemanusiaan. Melalui integralisasi dimensi-dimensi tersebut, kurikulum pendidikan Islam dimaksudkan untuk memecahkan problematika dalam dunia pendidikan (Islam). Secara filosofis, tingkat kemajuan hidup manusia sangat ditentukan oleh rekayasa pendidikan yang berbasis kurikulum unggul, maju dan integral. Atas dasar itulah kurikulum pendidikan Islam tidak boleh mengalami stagnasi inovasi dan memikirkan masa depan yang akan berkembang.
Kurikulum Pendidikan Islam harus menjadi kekuatan (power) yang ampuh untuk menghadapi wacana kehidupan yang lebih krusial. Ketika globalisasi menjadi bagian dari kehidupan manusia, persoalan-persoalan baru muncul dengan aneka ragam bentuknya. Tantangan semacam harus direspons secara apresiatif agar kurikulum pendidikan Islam tidak dikatakan sebagai out off date (ketinggalan zaman).
Refleksi pemikiran dan rumusan kurikulum pendidikan Islam harus bernafaskan kekinian (up to date). Dalam kaca mata historis memang boleh melihat masa lalu sebagai pelajaran (ibrah), tetapi jangan sampai lupa menaruh perhatian masa kini dan mendatang sebagai modal untuk melakukan improvisasi dan perubahan yang mendasar.
Supaya pendidikan Islam tidak terpelosok ke dalam lubang kehancuran, maka proses improvisasi kurikulum harus dilakukan terus-menerus setiap waktu. Perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum pendidikan Islam jangan pernah berhenti, jika memang ingin menjaga kepercayaan (amanat) dan menegakkan kemajuan masyarakat.
Kurikulum pendidikan Islam harus mencari terobosan baru yang sesuai dengan nafas pola hidup umat manusia yang menitik beratkan nilai kemajuan dan terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Sebab secara substantif, antara kebodohan dan kemiskinan itu merupakan dua sifat manusia yang mengkristal dan menjadi lawan nyata bagi dunia pendidikan pada umumnya.

Catatan Akhir
Sistem pendidikan Islam diharapkan tidak terjebak pada aspek rutinitas, alami dan salah kaprah. Sehingga dibutuhkan kerja extra keras dan cerdas dalam menyikapi pelbagai perubahan dan perkembangan yang selalu berkembang, serta bersikap proaktif dan antisipasif dalam pengembangannya.
Dalam ayat-ayat al-qur’an, selalu diingatkan supaya kita senantiasa berlomba-lomba (kompetisi) dalam kebaikan (fastabiqu al-khairat), memperhatikan hal-hal apa yang hendak dilaksanakan untuk hari esok. Hal ini berarti agar setiap kegiatan pendidikan Islam mesti memperhatikan masa depan, mempunyai pandangan yang progesif, dan hal itu dapat ditempuh, manakala dengan melakukan pengembangan atau pembenahan yang sadar dan cerdas.
Dari uraian di atas, ada sebuah catatan menarik yang perlu disampaikan dalam kesempatan ini yaitu pentingnya formulasi pendidikan Islam. Pembenahan sistem pendidikan Islam yang harus dilakukan secara holistik. Dengan merombak pendidikan Islam secara holistik maka akan memunculkan paradigma baru yang kontekstual dan relevan dengan perubahan zaman. Karena itu, pendidikan Islam harus selalu merekonstruksi secara terus menerus dan jangan sampai berhenti untuk mengerjakan sesuatu yang terbaik bagi masa depan.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar