Senin, 24 Mei 2010

Agama dan Eksistensi Tuhan

Mujtahid

KESADARAN masyarakat Barat dalam menelusuri eksistensi Tuhan tak pernah mengalami titik akhir. Tidak saja menggunakan kerangka agama sebagai sarana pencariannya, tetapi sains merupakan cara mutakhir untuk menapaki jati diri Tuhan yang sebenarnya dengan menguji dan meneliti kreasi-Nya melalui hasil penciptaan di alam semesta ini.
Berbagai karya dari sarjana, intelektual, dan ilmuan Barat telah menjadikan “sains” sebagai sebuah mediasi efektif untuk menemukan nilai kebenaran sejati yang tiada tara, yakni Tuhan. Dengan ketajaman rasio dan metodologi yang mumpuni, mereka dapat mencari keberadaan sang khalik dengan jalan dan sudut pandang sains yang dimilikinya.
Ian G Barbour misalnya, melalui karyanya memaparkan sebuah pergulatan ‘komunitas elit intelektual’ yang selama ini tak pernah berhenti ingin “menemukan” Tuhan. Sebuah pergolakan positif tentang hadirnya kembali kesadaran “ber-Tuhan” dengan memakai pendekatan kolaboratif yaitu agama dan sains sebagai basis mediatornya. Selama ini, Tuhan cenderung dipahami dari sisi normatif, yang akhirnya Tuhan itu terkesan ‘melangit’ sehingga jarang berbenturan dengan apa yang ada di ‘bumi’. Padahal semua yang tampak di muka bumi ini sesungguhnya bagian dari ‘wajah Tuhan’ itu sendiri.
Sains dengan segala objektifitasnya melahirkan suatu pandangan tentang ‘konsep Tuhan’ yang nampaknya lebih mudah dipahami oleh manusia. Walaupun secara tekstual (wahyu), Tuhan secara jelas dapat ditemukan dan harus diyakini, tetapi nuansanya agak kurang memuaskan jika tanpa ditopang oleh sarana ilmiah (sains). Karena saat ini, bahwa konsep Tuhan itu tidak sekadar hanya cukup dirasakan secara batini, melainkan juga bisa diterima dan memuaskan secara akal sehat.
Tak kalah menariknya, kini ada sebuah pesepsi dan apresiasi baru, bahwa eksistensi Tuhan adalah kekuatan supranatural yang tidak bisa digantikan dengan apapun sepanjang hidup dan zaman. Sains yang dulu dianggap mampu menggantikan Tuhan (agama), belakangan ini ia justru berubah menjadi sebuah bentuk ‘ancaman’ bagi keselamatan manusia. Atas dasar inilah Tuhan merupakan sosok yang terus-menerus tak pernah dilupakan manusia.
Secara kodrati, manusia diciptakan dan dididik oleh Tuhan. Manusia ditugasi hanya untuk memikirkan sesuatu ciptakan-Nya dan bukan malah memikirkan yang mencipta. Karena itu, Barbour merekomendasikan bahwa agama atau risalah Tuhan, merupakan sumber ajaran yang sejatinya menjadi pegangan, pedoman dan orientasi hidup serta sebagai jalan keselamatan. Hampir tak ada satu pun agama di dunia ini, yang mengajarkan bahwa Tuhan itu menyesatkan makhluknya, melainkan justru membimbingnya ke jalan yang lurus dan terhormat. Kalau toh manusia tersesat, itu merupakan kesalahannya sendiri karena tidak mau terikat oleh agama.
Barbour menegaskan bahwa agama dan sains terjadi suatu hubungan integralistik. Baik agama maupun sains, keduanya selalu melengkapi satu sama lain. Agama tidak bisa meyingkirkan sains, dan sains juga tidak bisa meninggalkan agama. Seperti kata fisikawan besar, Albert Einsten yang terkenal dengan semboyan “Religion without science is blind; science without religion is lame” Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama, sains menjadi lumpuh.
Merujuk pada ungkapan Albert Einsten tersebut, kini perkembangan sains mutakhir, gagasan mengenai Tuhan mulai kembali mendapat tempat. Seperti yang terungkap pada kerangka teoritisasi mutakhir melalui fisika kuantum, astrofisika, biologi molekuler, rekayasa genetika, hingga neurosains mempunyai implikasi teologis yang semakin positif.
Peta perkembangan mutakhir ini, kata Barbour, bahwa ada sebuah keinginan sains memberi kesempatan Tuhan agar ‘dirujukkan’ ke dalam hakikat-Nya. Dan fenomena ini disambut antusias oleh para ‘teolog progresif’, khususnya di kalangan Kristen. Melalui teolog progresif inilah lahir sebuah teologi baru yang disebut teologi proses. Yakni suatu pandangan utama, yang seperti, diformulasikan oleh Charles Hartshorne sebagai hasil pengaruh dari filsafat proses Alfred Whitehead.
Sebagai guru besar fisika dan teologi Carleton College Amerika, Barbour menyerukan agar terjadi sebuah integrasi sains dan agama berdasarkan teologi proses tersebut. Karena itu, melalui hasil-hasil temuan sains mutakhir kini menjadikan bukti dan landasan kuat eksistensi Tuhan. Dan berdasarkan teologi proses, dari hasil-hasil pencapaian sains mutakhir tersebut dijadikan sebagai jalan untuk mengintegrasikan sains dan agama.
Dari kaca mata teologi proses, bahwa Tuhan sesungguhnya telah “menghadiahkan” ilham pada makhluknya agar bertindak secara mandiri dengan kemampuan energi kreatifnya. Manusia memiliki qudrah (kreasi) guna menelusuri misteri yang terkandung di alam jagad raya ini. Antara kreasi Tuhan dan kreasi manusia sejatinya sama, akan tetapi jika terjadi benturan maka kreasi manusia harus di “rujukkan” kembali pada kreasi pertama (Tuhan).
Apa yang ditawarkan Barbour merupakan konsepsi teologi proses untuk melihat kesejatian hubungan antara sains dan agama. Sains yang diidentikkan dengan rasio tak selamanya bersebrangan dengan agama. Karena Tuhan sendiri yang menciptakan rasio dan sekaligus agama. Keeratan relasional antara sains dan dan agama semakin menunjukkan eksistensi Tuhan benar-benar tidak pernah menciptakan sesuatu ini bertolakbelakang.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar