Sabtu, 22 Mei 2010

Menuju Rektualisasi Ajaran Islam

Mujtahid*

ISLAM adalah agama monoteisme yang mengandung ajaran paling lengkap. Sampai-sampai HAR. Gibb menyatakan “Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap”. Pernyataan di atas, berarti Islam merupakan agama yang aktual, relevan dengan segala urusan manusia.
Islam tidak pernah sepi dan padam dari pandangan hidup (way of life). Islam diturunkan memang bertujuan agar menjadi pegangan dan keyakinan hidup manusia di muka bumi ini. Karena sifat dasarnya yang demikian, maka kaum pemikir Muslim, bahkan sebagian non Muslim- tertarik mempelajari Islam. Akhirnya, berbagai metodologis muncul hanya semata-mata untuk memudahkan memahami Islam.
Untuk memaknai Islam memang butuh pendekatan atau metode yang tepat agar proses mempelajari Islam dan penghayatan dan pengamalannya dapat aktual. Umat Islam perlu menengok kembali keberagamaannya dengan cara memahami Islam secara up to date. Dengan begitu, Islam menjadi lebih bermakna bagi kehidupan, baik secara individu maupun komunitas sosial.
Kehadiran Islam di muka bumi ini membawa misi atau tujuan tertentu bagi manusia. Ajaran Islam memuat banyak pesan normatif serta mengandung sarat nilai-nilai ilahiyah yang permanen maupun immanen. Sebab, Islam adalah sumber peradaban manusia. Dari hakikat inilah, seharusnya umat Islam lebih kreatif mempelajari ajaran Islam dengan tiada henti.
Dewasa ini, Islam baik secara doktriner maupun institusional, menjadi kajian menarik. Pengkajian itu ada yang secara bersifat formal maupun nonformal. Secara formal, seperti dilakukan di dunia akademis (pendidikan), sedangkan nonformal seperti lewat pengajian-pengajian dakwah kultural di majelis, kampung, masjid dan tempat-tempat lain.
Beberapa kecenderungan mutakhir menunjukkan bahwa Islam merupakan salah satu lahan studi agama-agama di pelbagai universitas-universitas yang membuka studi konsentrasi agama. Selain itu, kini terlihat hampir setiap bidang keilmuan di dunia akademis Islam selalu mengkaitkan dengan perspektf Islam. Jadi, dengan ramainya orang memahami Islam, baik secara personal maupun kolektif, berarti sangat positif menambah angin segar terhadap perkembangan Islam.
Dulu, dalam masyarakat kita, kalau ingin mempelajarai Islam secara mendalam harus masuk ke sebuah pesantren. Nah, sekarang Islam tidak lagi identik dengan pesantren, tetapi setiap lembaga-lembaga pendidikan telah menempatkan Islam sebagai materi pokok yang wajib di pelajari oleh setiap peserta didik Muslim, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.
Meski sudah empat belas abad ajaran Islam dilahirkan, ia tetap memerlukan pemahaman yang cerdas dan kritis. Sebab, tanpa pemahaman yang cerdas dan kritis akan mengakibatkan ummat Islam terjerembab kepada pemahaman dan pengamalan yang keliru.
Kehadiran Islam sesungguhnya cocok bagi siapa saja. Tidak mengenal perbedaan tempat, status, usia maupun jenis kelamain. Siapa saja boleh mempelajari Islam asal tujuannya baik dan benar. Anjuran belajar seperti yang terungkap dalam salah sastu hadits ditujukan kepada semua manusia dengan tidak mengenal perbedaan.
Menyadari bahwa Islam sampai kapan pun, bisa dipelajari dengan metode berbeda, maka Islam harus relevan dengan perubahan zaman. Karenanya, reinterpretasi ajaran Islam merupakan keharusan ilmiah yang tidak boleh surut dari perhatian umat Islam. Sebab, hal ini menjadi tanggungjawab setiap seorang Muslim. Jika dapat dilakukan, maka kualitas dakwah dan pendidikan Islam akan jauh lebih baik.
Hingga kini, tantangan terberat tugas dakwah dan pendidikan Islam adalah bagaimana cara mengislamkan orang-orang Islam. Aneh rasanya, tetapi bukan tanpa sebab. Pemikir-pemikir ternama menyuguhkan bukti bahwa Islam masuk ke wilayah ini memang cenderung bercorak fiqh. Seperti yang diakui oleh Van Bruinessn dan Nurcholish Madjid, bahwa kedatangan Islam ke Nusantara sangat toleran dengan budaya lokal, bahkan sebagian jaran tercampur (sinkritisme) dengan sistem kepercayaan nenek moyang. Jadinya, Islam selain cenderung sangat kefiqhian, juga terkontaminasi dengan budaya lokal.
Melihat corak Islam yang demikian ini, memunculkan ghirah penulis untuk menghadirkan kembali Islam yang sesuai dengan ajaran pokoknya. Meski sudah sering dilakukan pemikir Muslim sebelumnya, namun pekerjaan mempelajari Islam adalah tugas yang tak pernah berhenti.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar