Kamis, 13 Mei 2010

Menggugah Kembali Esensi Pendidikan

Mujtahid*

SECARA filosofis, pendidikan adalah proses pemanusian manusia. Disebut pemanusian, karena dalam diri manusia terdapat banyak potensi berharga yang jika tidak dikembangkan menurut fitrahnya, maka ia tidak akan jadi manusia seutuhnya. Potensi yang diberikan oleh Tuhan tersebut tidak akan berkembang dengan sendirinya, tanpa melalui proses rekayasa edukasi yang memadahi dan sistematis.
Pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana bertujuan untuk mengangkat derajat manusia pada wilayah kemanusian yang luhur. Pendidikan memiliki dimensi yang sangat kompleks dan universal, mulai dari aspek fisiologis, psikologis hingga merambah dimensi spiritual, serta nilai-nilai moral-etis (akhlak).
Saat ini kita perlu menegaskan kembali betapa pentingnya membuka makna substansial dan fungsional pendidikan dalam konteks yang dinamis. Sebab berbicara tentang pendidikan, berarti berbicara mengenai hakikat manusia secara substansi dan fungsional, yaitu sebagai pengemban amanat untuk mengelola alam semesta ini.
Pendidikan harus menyentuh dimensi substansi dan fungsi tersebut. Tanpa kedua dimensi itu, maka pendidikan sulit untuk menembus “pintu gerbang” yang mengantarkan manusia memiliki karakter dan jiwa yang utuh. Dalam konteks seperti saat ini, musuh nyata pendidikan adalah melawan dekadensi moral, kemerosotan spiritual dan rendahnya mutu pengetahuan serta kemampuan (skill) bagi warga pembelajar.
Ketika pendidikan telah menjelma sebagai institusi formal, misi luhur untuk menjalankan dimensi substansi dan fungsional manusia tersebut ternyata masih jauh dari harapan. Bahkan sebagian institusi pendidikan, kini mudah terjebak pada pragmatisme dan praktik komersialisme. Wajah pendidikan seperti ini justru akan melahirkan dehumanisasi bagi generasi penerus.
Sesuai dengan kompleksitas akar budaya Indonesia, pendidikan kita sangat dipengaruhi oleh ideologi dan nilai budaya yang kuat dan beragam. Dalam analisa penulis, pendidikan belum sepenuhnya menyentuh hal yang substansial seperti yang dikehendaki oleh ideologi bangsa maupun tingkat nilai budaya yang berkembang di masyarakat. Buktinya, tujuan pendidikan gagal membentuk budi pekerti para peserta didik, serta renggangnya relasi antara nilai budaya dengan kesadaran lingkungannya.
Padahal dari segi materi pelajaran yang diajarkan di sekolah, muatan mengenai wawasan ideologi bangsa dan budaya daerah sudah kenyang disampaikan. Proses pembelajaran belum sepenuhnya mampu menyentuh hakikat substansial dan fungsionalnya secara luas.
Padahal pendidikan merupakan kekuatan (power) yang ampuh untuk menghadapi wacana kehidupan yang lebih krusial. Ketika globalisasi menjadi bagian dari kehidupan manusia, persoalan-persoalan baru muncul dengan aneka ragam bentuknya. Tantangan semacam itu harus direspons secara apresiatif dengan cara merenovasi sistem pendidikan atau pembelajaran yang adaptif terhadap perubahan (change). Pendidikan anti terhadap kemapanan atau status quo, kalau tidak ingin dicap sebagai out of date (ketinggalan zaman).
Suparlan merekomendasikan bahwa apabila pendidikan kita tidak ingin ketinggalan zaman, maka harus ada perubahan paradigma yang berwawasan kekinian (up to date). Dalam kaca mata historis memang dibenarkan untuk melihat masa lalu sebagai pelajaran, tetapi kita jangan sampai lupa menaruh perhatian masa kini dan mendatang sebagai tujuan yang jauh lebih penting.
Melalui wawasan pendidikan yang terbuka, toleran, inovatif dan futuristik seperti inilah cita-cita besar bangsa yang berbudaya, unggul, dan berdaya saing (kompetitif) dapat diharapkan. Sehingga tugas bersama, baik pemerintah dan masyarakat harus mengimprovisasi semua kelemahan dan kekurangan selama ini. Mulai dari segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan sebagai bahan perbaikan selanjutnya.
Pendidikan harus mencari terobosan baru guna menjalankan fungsinya sebagai agent of change bagi kehidupan manusia agar lebih maju yang terbebas dari kebodohan dan kemiskinan. Sebab secara filosofis, antara kebodohan dan kemiskinan merupakan dua persoalan substansial kita yang hingga saat ini tetap jadi musuh setia, utama, bahkan bebuyutan bagi dunia pendidikan.
Dengan wawasan pendidikan yang luas, sistem pendidikan yang kita bangun tidak hanya terjebak pada aspek rutinitas, alami dan salah kaprah. Akan tetapi pendidikan yang kita format butuh sebuah terobosan baru dengan usaha dan kerja keras dan cerdas dalam menyikapi pelbagai perubahan dan perkembangan yang selalu berkembang, serta bersikap proaktif dan antisipasif dalam pengembangannya.
Secara normatif, khususnya bagi kaum muslim, diingatkan supaya kita senantiasa berlomba-lomba (kompetisi) dalam kebaikan (fastabiqu al-khairat), memperhatikan hal-hal apa yang hendak dilaksanakan untuk hari esok. Pesan moral inilah yang harusnya menjadi inspirasi sebagai kebangkitan kita untuk memperbaiki kekurangan sistem yang ada dalam pendidikan. Setiap keputusan dan kebijakan yang akan kita tentukan, maka harus memperhatikan masa depan, mempunyai pandangan yang progesif, dan realistik
Untuk menegaskan kembali akan pentingnya sebuah esensi pendidikan kiranya perlu kita sadari bagi semua pelaku pendidikan, baik konseptor maupun praktisi, agar selalu merekonstruksi secara terus menerus dan jangan sampai berhenti mengerjakan sesuatu yang terbaik bagi masa depan pendidikan. Kita wajib mengeksplorasi konsep dan ide-ide segar yang artikulatif, inspiratif dan inovatif bagi terselenggaranya mutu pendidikan yang sesuai konteks zaman
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar