Rabu, 05 Mei 2010

Menanamkan Kecerdasan Spiritual Anak Melalui Pendidikan

Mujtahid*
SEJAK memasuki milenium ketiga, ada perubahan spektakuler mengenai pengembangan kecerdasan pada diri manusia. Dulu, istilah kecerdasan itu seolah-olah hanya monopoli akal, rasio (intelektual) saja. Saat ini, sehubungan temuan-temuan mutakhir di bidang psikologi modern, bahwa kecerdasan itu ternyata kompleks atau majemuk. Howard Gardner menyebutnya dengan istilah Multiple Intelligences.
Kalau selama ini kecerdasan diartikan sebagai olah akal atau logika, sekarang merambah pada olah emosi dan spiritual. Daniel Goleman telah mempopulerkan EQ (Emotional Quotient) sebagai terobosan baru untuk mengukur sejauhmana kecerdasan manusia dalam mengendalikan emosi, memunculkan rasa empati, memahami perasaan diri dan orang lain, serta cara mengendalikan dirinya. Sementara SQ (Spiritual Quotient) yang dipopulerkan Danah Zohar dan IAN Marshall, seorang Ahli Fisika dan Psikologi, menambahkan bahwa kecerdasan manusia paling puncak adalah spiritual.
Menurut Jalaluddin Rakhmat atau yang sering dipanggil Kang Jalal, menjelaskan bahwa kecerdasan spiritual merupakan potensi inheren yang perlu dikembangkan melalui bangku pendidikan atau sekolah. Potensi yang dahsyat itu harus di latih secara sistematis dengan melibatkan kurikulum, guru, dan lingkungan yang sehat. Tujuan lembaga pendidikan tidak hanya menjadikan kecerdasan otak dan emosi para peserta didik, akan tetapi tugas lain yang juga lebih penting adalah kecerdasan spiritual. Dengan meningkatkan kecerdasan spiritual anak berarti melatih anak memiliki kemampuan meraih kebahagiaan.
Alasan mengapa kecerdasan spiritual itu penting, karena tantangan masa kini tidak lagi bisa dihadapi hanya mengandalkan skill intelektual (IQ). Dunia semakin kompleks dan menuntut kearifan bukan hanya intelektualitas dan kecerdasan emosi (EQ), tetapi butuh dukungan kecerdasan spiritual (SQ).
Lalu apa yang dimaksud dengan SQ itu? Kang Jalal membuat karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, yaitu 1). Kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material (the capacity to transcend the physical and material). 2). Kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak (the ability to experience heigtened states of consciousness). 3). Kemampuan untuk menyakralkan pengalaman sehari-hari (the ability to sanctify everyday experience). 4). Kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual untuk menyelesaikan masalah. 5). Kemampuan untuk berbuat baik (the ability to utilize spiritual resources to solve problem).
Untuk dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniah disekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual, mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan ia dengan seluruh alam semesta sehingga merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indriawinya.
Ciri yang ketiga merupakan sanktifikasi (pengudusan) pengalaman sehari-hari, bisa terjadi bila kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja, tapi ia menggabungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual.
Karakter yang keempat tersirat dalam Al-Qur’an yang artinya “Orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” (QS Al-Ankabut: 69). Sedangkan menurut Heinrich Heine, seperti yang dikutip Kang Jalal, memberikan inspirasi dengan kalimatnya: “Den Menschen macht seiner Wille gross und klein,” yang artinya ”kemauanlah yang membuat manusia besar atau kecil.”
Karakteristik yang kelima dapat disimpulkan dalam sabda Nabi Muhammad Saw ”Amal yang paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia” dan menurut Robert A. Emmons, “Memberi maaf, bersyukur, atau mengucapkan terima kasih, bersikap rendah hati, menunjukkan kasih sayang kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan.”
Menurut Kang Jalal, kiat-kiat mengembangkan SQ Anak adalah sebagai berikut:
1. Jadilah kita “gembala spiritual” yang baik. Orangtua dan guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga, sehingga sudah mengakses sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya, dan harus sudah menemukan makna hidupnya serta mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang disekitarnya sebagai “orang yang berjalan dengan membawa cahaya” (QS. Al-An’am: 122). Maksudnya, ia harus tetap menunjukkan bahagia ditengah topan dan badai yang melanda.
2. Bantulah anak untuk merumuskan misi hidupnya. Nyatakan kepada anak ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita. Misalnya dengan menggunakan teknik “setelah itu apa?” Dalam anekdot Danah Zohar, kita bisa membantu anak untuk menemukan misinya jika sudah sekolah, kamu mau apa, setelah itu apa, ”Aku mau jadi orang pintar.” Jika sudah pintar mau apa? Setelah itu apa? Dan seterusnya.
3. Baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita. Di antara pemikir besar Islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam adalah Muhammad Iqbal. Walaupun dibesarkan dalam tradisi intelektual Barat, tetapi ia melakukan pengembalaan ruhaniah bersama Jalaludin Rumi dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Dan boleh jadi yang membawa Iqbal ke arah itu adalah pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai shalat subuh, ia membaca Al-Qur’an. Pada suatu hari, bapaknya berkata: “Bacalah Al-Qur’an seakan-akan Ia diturunkan untuk-mu!” Dan Iqbal berkata: “Aku merasakan Al-Qur’an seakan-akan berbicara kepadaku.
4. Ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh spiritual. Anak-anak bahkan orang dewasa sangat terpengaruh cerita, “Manusia” adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya. Para Nabi mangajari umatnya dengan cerita perumpamaan. Para sufi, seperti Al-Attar, Rumi, dan Sa’di mengajarkan kearifan parenial dengan cerita.
5. Diskusikan berbagai persoalan dengan dengan perspektif ruhaniah. Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada rencana agung Ilahi (The Devine Grand Design). Maka libatkan anak dalam kegiatan ritual keagamaan tetapi tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal formal. Misalnya, menjelaskan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi merupakan kehormatan untuk menghadap Dia yang Maha Kasih dan Maha Sayang.
6. Bacakan Puisi-puisi atau lagu-lagu yang spiritual inspirasional. Manusia mempunyai dua fakultas untuk menyerap hal-hal material dan spiritual, yakni mata lahir dan mata batin. Misalnya kita bisa berkata masakan ini pahit (kita sedang menggunakan indera lahiriyah), tetapi ketika berkata keputusan ini pahit (kita sedang menggunakan indera batiniah). Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerapdg fakultas spiritual kita yang disebut dengan SQ. Untuk itu kita harus melatihnya dengan menyanyikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi.
7. Bawa anak untuk menikmati keindahan alam. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama anak-anak untuk menikmati ciptaan Tuhan. Bawalah anak-anak kepada alam yang relatif belum tercemari, misal ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk, dengarkan burung-burung berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpah tubuh, celupkan kaki mereka dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya dan seterusnya.
8. Bawa anak ke tempat-tempat orang menderita. Nabi Musa pernah berjumpa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemua dengan Tuhan. Ia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau? “Allah Berfirman: Temuilah aku ditengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya.” Dari sepenggal cerita Nabi Musa di atas kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa mulai dini anak harus dilatih untuk merasakan penderitaan sesama.
9. Ikut sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Sejak dini anak-anak harus diikutsertakan dalam acara atau kegiatan sosial, yang bertujuan melatih anak sebagai makhluk sosial sejak dini. Ada cerita dari Jack Canfield dalam Chicken Soup for the Teen. Ia bercerita tentang seorang anak yang catatan kejahatannya lebih panjang daripada tangannya. Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti oleh guru dan kawan-kawannya.
Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan, selimut dan alat-alat rumah tangga untuk disumbangkan pada penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikannya dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama itu. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu menjadi anak yang baik, rajin, penyayang, lembut, penuh kasih dan penuh tanggung jawab.

Komunikasi Suportif untuk Kecerdasan Spiritual
Penggunaan komunikasi suportif akan melejitkan potensi spiritual anak, dan sebaliknya kecerdasan spiritual anak dapat terhambat karena komunikasi defensif yang dilakukan oleh salah satu atau kedua orangtuanya. Penulis juga berpendapat bahwa komunikasi suportif membuat anak lebih sehat dan bahagia, dengan hubungannya dengan sesama manusia dapat mengembangkan sikap saling menghormati, mencintai, dan menerima.
Tanda-tanda komunikasi suportif ketika kita berbicara kepada anak-anak:
a. Deskripsikan
 Hindari kata sifat dan gunakan kata kerja. Misalnya, jangan berkata, “kamu pemalas!” Katakan, ”kamu tidak mengerjakan pekerjaan rumahmu berkali-kali”. Sebagai ganti kalimat “Kamu ngelantur”, Anda katakan, “Kamu berpindah-pindah topik,” dan lain-lain.
 Gunakan pernyataan yang spesifik dan konkret. Misalnya: “Saya keluar rumah satu jam saja” lebih baik daripada, “Saya keluar sebentar”
 Gunakan “I-Message”, pesan-aku. Misalnya: Pembicaraan bapak tidak sistematis (disebut komunikasi defensif), “Saya tidak dapat mengikuti pembicaraan bapak” (disebut you-message/komunikasi suportif).
b. Orientasi Masalah
 Perhatikan sumbangan gagasan dari siapa pun. “Menurut pendapatmu, apa cara terbaik untuk memecahkan masalah ini?”
 Berikan kesempatan kepada pembicara untuk menyelesaikan pembicaraannya.
 Hindari kata-kata yang mengancam, memaksa, dan menyudutkan
 Berikan apresiasi paling tidak pada keberaniannya menyampaikan pendapat.
c. Spontan
 Terus terang agar terang terus. Orangtua jujur tidak akan mengalami kesulitan dalam meyakinkan anaknya.
 Hindari segala macam teknik memanipulasi kawan komunikasi kita, yang berarti tidak berbohong kecuali dalam situasi yang betul-betul mendesak.
d. Empatis
 Usahakan secara emosional “mengalami” apa yang dialami anak. Rasakan apa yang dirasakannya dan letakkan posisi anda pada posisinya.
 Berkomunikasilah dengan setiap orang dengan menghadirkan seluruh dirimu. Berikan perhatian tulus dan tunjukkan reaksimu pada kalimat-kalimat yang disampaikannya.
e. Demokratis
 Dorong umpan balik (komunikasi dua arah). Lakukanlah dialog, hindari monolog. Anak harus “dipancing” untuk memberikan umpan balik pada pembicaraan kita dan tanyakan apakah mereka memahami istilah atau kata-kata yang kita gunakan.
 Berikan kesempatan bicra yang sama. Periksa apakah anda tidak kebanyakan berbicara
 Tunjukkan penghormatan dan penghargaan kita kepada anak. Kita perlakukan anak sebagai pesona, bukan sebagai objek.
 Tegaskan persamaan dalam bersikap dan berbicara, perlakukan mereka secara merata.
f. Profesional
 Tunjukkan sikap terbuka dan kesediaan untuk menerima perbedaan pendapat
 Yakini bahwa pendapat kita bersifat tentatif, yang berarti kesediaan kita untuk menerima kritik
 Bahas setiap masalah dan hindarkan pemihakan pada setiap pendapat.
Hindari Komunikasi Defensif
Di bawah ini merupakan tanda-tanda komunikasi defensif yang harus dihindari oleh orangtua atau pendidik:
1. Mangevaluasi, artinya: menghakimi, mengkritik, mencemoohkan, memaki sehingga membuat orang menilai dirinya lebih rendah.
2. Mengendalikan, dalam hal ini ditandai dengan pembicaraan pada anak dengan selalu mendominasi, memerintah, memaksa, dan mengancam, sehingga yang memegang tali kendali dalam berkomunikasi adalah anda.
3. Memanipulasi, sebuah cara komunikasi yang dilakukan dengan menipu.
4. Apatis, sebuah cara komunikasi yang dingin, beku, membosankan, dan menyebalkan.
5. Superior, yang berarti menonjolkan posisi kita (sebagai orangtua) diatas anak tersebut.
6. Dogmatis, memaksakan keyakinan mutlak akan kebenaran pendapat kita.
Dari uraian di atas dapat disimpilkan bahwa mendidik anak perlu sebuah modelling yang ditampilkan bagi orangtua atau pendidik. Sifat anak masih sangat mudah meniru dan meneladani apa yang ada disekelilingnya. Ada sebuah pameo bahwa: ”Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Hal ini pulalah yang mengambarkan bahwa peran orangtua atau gurulah yang mampu mengembangkan kecerdasan spiritual anak. Tingkah laku anak cenderung mengimitasi orangtua atau orang-orang yang dekat.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Mailiki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar