Selasa, 25 Mei 2010

Relung-relung Sejarah Islam

Mujtahid*

ISLAM adalah agama yang menarik perhatian banyak orang. Islam tidak sekadar doktrin perintah dan larangan, melainkan juga mengandung sumber peradaban yang amat tinggi. Ungkapan HAR. Gibb, misalnya, bahwa “Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap”.
Meski Islam lahir di tanah Arab yang dipengaruhi oleh sistem budaya yang kuat, akan tetapi ia dapat menembus batas kultural, etnis serta geografis ke luar Arab. Kelenturan Islam menjadi daya tarik setiap orang. Misi Islam, selain membebaskan diri dari sekat-sekat kelas sosial, juga memberi kesempatan yang sama antar sesema manusia.
Perjalanan Islam dari konteks Arab (masa awal) hingga kini (masa modern) tetap memperlihatkan karakteristik yang sama. Pedoman al-qur’an dan sunnah, serta rasulnya tetap sama. Mungkin, yang terlihat berubah adalah cara orang menafsirkan doktrin. Sebab, realitas masa lalu berbeda dengan realitas sekarang.
Syed Mahmudunnasir (2006) menghadirkan tiga kajian Islam, yaitu prinsip Islam, aspek sejarah dan doktrin Islam. Ketiga kajian ini memang tidak boleh dipisah-pisahkan satu sama lain. Islam mengalami perkembangan yang pesat hingga ekspansi keberbagai penjuru dunia. Karenanya, kajian sejarah Islam pasti melibatkan aspek prinsip, sejarah dan doktrin.
Selain prinsip dan doktrin Islam, kaum muslim juga harus mengerti aspek sejarahnya. Dengan memiliki kesadaran sejarah yang komprehensif diharapkan pandangan umat islam akan luas, luwes mempraktikkan doktrin dan prinsip ajaran Islam. Sejarah akan selalu bertalian dari satu fase dengan fase berikutnya. Agama Islam akan berdialektika dengan kehidupan zaman yang terus berubah dari sejak Islam turun hingga akhir zaman.
Maju mundurnya umat Islam sangat ditentukan oleh sejarah. Sehingga perjalanan umat Islam sampai kapan pun sesungguhnya tidak terputus dari mata rantai sejarah masa silam. Karena itu, menafsir makna sejarah merupakan keharusan ilmiah bagi umat Islam. Sejarah adalah rekonstruksi realitas masa lalu, kini dan akan datang yang memiliki nilai dan makna yang amat berharga.
Dalam konteks saat ini, kita butuh sebuah kesadaran yang tinggi dalam memperkaya keutuhan sejarah Islam itu. Sebab, jika dilihat dari substansinya, sejarah Islam sarat dengan aspek kronologis dan warisan peradaban yang sangat tinggi. Sejarah Islam memuat rekaman dinamika kehidupan umat Islam dari masa kenabian atau kerasulan, Islam pra modern hingga modern dewasa ini.
Mahmudunnasir melalui ” Islam; Its Concept and History” menyuguhkan tentang pertumbuhan peradaban Islam masa Rasulullah dan Khulafa’ al-Rasidun. Pada masa kerasulan merupakan suatu tahapan penting di mana Nabi dan para shahabatnya meletakkan dasar-dasar peradaban Islam di Jazirah Arab, khususnya di Makkah dan Madinah.
Sementara era kekhalifahan, dapat diidentikkan dengan keberhasilannya yang disebut “ekspansi” atau perluasan daerah kekuasaan umat Islam. Namun akhirnya masa lebih dipengaruhi oleh suhu politik yang semakin memanas sehingga tidak dapat dibendung, sampai akhirnya membawa pada ‘skisme’ (perpecahan) di kalangan umat Islam sendiri.
Selanjutnya, dikupas mengenai perkembangan peradaban Islam masa Banu Umaiyyah dan Abasiyah. Peradaban Islam pada masa ini disebut juga dengan sistem dinasti (kerajaan) yang secara turun temurun kekuasaan didasarkan pada keturunan raja.
Banyak bentuk-bentuk kemajuan yang diperoleh dari kedua sistem dinasti tersebut, seperti lahirnya ilmuan-ilmuan muslim atau filosof muslim; lahirnya fatwa-fatwa hukum Islam (mazhab), munculnya aliran-aliran dalam Islam; khawarij, murjiah, syi’ah, jabariyah, qadariyah, mu’tazilah dan asy-Ariyah.
Di samping itu, upaya kodifikasi hadits yang dilakukan pada dinasti Umar ibn `Abd Aziz telah memperlihatkan kemajuan berpikir yang menangkap pesan Islam harus merujuk pada bukti-bukti otentik. Penerjemahan karya-karya Persia dan Yunani di masa al- Ma’mun, yang di wujudkan dengan pendirian laboratorium Bait al- Hikmah juga merupakan karya terbesar sepanjang sejarah perabadan umat Islam. Dan masih banyak lagi dinamika sejarah umat Islam yang monumental setelah itu.

*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar