Rabu, 26 Mei 2010

Mengasah Kecerdasan (otak) dengan Menulis

Mujtahid*

GURU selalu mengatakan kepada para muridnya “menulis adalah berpikir”. Para guru yang mencoba membuai mereka itu meyakini bahwa apabila mampu berpikir lebih jelas dan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, maka menulis dapat mengekspresikan pikiran, unek-unek di atas kertas.
Nasehat guru di atas, bisa menjadi “guru” yang berharga bagi insan yang berjiwa penulis. Dengan sentuhan menulis, pikiran atau otak akan menjadi lebih hidup. Sebab menulis telah melibatkan banyak potensi-potensi psikis yang ada dalam diri manusia. Dan aktifitas seperti ini merupakan salah satu ketrampilan atau keahlian langka yang dimiliki oleh orang lain. Lain halnya dengan bicara, sejak balita manusia sudah dilatih ngomong.
Menulis bukanlah sekadar merangkai huruf, frase dan kata-kata, melainkan cara untuk mengasah otak manusia agar jadi genius. Menulis merupakan pengerahan atas potensi pokok yang ada dalam benak pikiran/otak manusia. Menulis juga sebagai refleksi untuk mengubah dari sesuatu ide atau gagasan menjadi narasi ilmiah yang bisa dibaca oleh banyak orang.
Kecerdasan otak (genius) adalah anugerah tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tetapi, anugerah yang diberikan Tuhan itu tidak pernah ada dalam sekali jadi. Melainkan harus di bentuk dan diproses dengan sungguh-sungguh, berlatih secara terus menerus agar menjadi tumbuh dan berkembang. Seringkali sikap malaslah yang mengalahkan anugerah tersebut, sehingga sedikit saja orang yang dapat dipandang sebagai seorang yang benar-benar genius.
Mark Levy (2005) membuktikan kalau seseorang ingin genius dapat ditempuh melalui menulis. Seperti yang dikemukakan dalam karyanya yang berjudul“Menjadi Genius dengan Menulis.” Mark Levy mengajarkan pengalaman kepada kita tentang bagaimana cara memulai, menata dan mengembangkan cara menulis dengan cepat dan sistematis. Sekalipun berlatar-belakang pebisnis ternama, Levy tidak pernah berhenti menulis. Karena menulis merupakan kebutuhan untuk mengungkapkan pikiran dan pengalamannya kepada orang lain.
Mengapa menjadi genius harus dengan menulis? Karena menulis merupakan suatu aktivitas yang melibatkan banyak “pancaindra” manusia. Aktivitas menulis jelas memerlukan kesadaran tinggi dengan disertai penghayatan yang dalam. Orang menulis tidak bisa sambil tidur atau pun ngelamun, melainkan harus dengan keadaan sadar dan didukung sistematika yang teratur.
Kegiatan menulis selalu diawali dengan memusatkan pikiran terlebih dahulu hingga menggerakkan organ tangan. Inilah bedanya dengan ceramah, cerita atau dongeng. Jadi, keunikan menulis yaitu menyentuh sesuatu elan vital dalam diri manusia.
Menurut Levy ada enam “skenario rahasia” membuat tulisan. Pertama, lakukanlah menulis dengan santai. Artinya, aktivitas menulis jangan sampai menghabiskan energi hingga ketahanan tubuh menjadi lemah dan jatuh pingsan. Justru dengan ketegangan yang tinggi biasanya menulis cenderung kurang mengalir (seret) dan sulit keluar ide-ide yang cemerlang.
Kedua, berlatih menulis dengan cepat secara terus-menurus. Menulis merupakan bentukan ketrampilan yang dilakukan secara terus-menerus. Untuk menulis dengan cepat, Anda harus menyiapkan bahan yang memadahi untuk ditulis, dan reasoning itu sudah ada di benak dan pikiran Anda.
Ketiga, bekerjalah dengan tenggat waktu. Tenggat waktu menjadi sangat penting untuk membiasakan proses menulis. Mulailah dengan latihan menulis selama tiga menit, ambillah buku, majalah, koran atau mengakses media lainnya sebagai rangsangan untuk menghadirkan ide kembali. Tuangkan ide tersebut ke dalam tulisan yang sistematis dan enak dibaca. Setelah tiga menit, lakukanlah dengan menambah waktu yang cukup lama, hingga menjadi bagian dari aktivitas harian Anda.
Keempat, tulislah sesuai dengan yang Anda pikirkan. Kegiatan menulis adalah mentransfer sesuatu yang ada dalam benak pikiran Anda. Walau kadang disertai mengutip, tetapi harus tetap melewati pikiran dan otak terlebih dahulu. Gunakanlah bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, setidak-tidaknya bagi Anda sendiri. Karena hasil tulisan harus bermanfaat, sekalipun untuk diri sendiri. Anda harus memakai logika yang jelas, pilihan kata yang baku, dan sedikit menarik perhatian.
Kelima, ikutilah pemikiran Anda. Pada saat Anda menulis, pikiran dan ide harus dituangkan apa adanya sesuai dengan logika yang benar. Kalau butuh bandingan, pilihlah bandingan yang signifikan dengan fokus pikiran Anda. Carilah hubungan dengan sesuatu yang mungkin telah lebih dulu ditulis orang lain, tetapi cobalah tetap konsisten dengan pikiran yang Anda alami.
Keenam, arahkan kembali perhatian Anda dengan pengubah fokus. Menulis selalu membutuhkan evaluasi, yaitu untuk melihat sampai sejauhmana tingkat ketajaman dan kelemahan dari fokus apa yang hendak ditulis. Bila perlu, komentari tulisan Anda sendiri sebagai bentuk perhatian anda terhadap tulisan yang sudah anda dilakukan. Sebelum menulis, ajukanlah sebuah pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu, agar dapat memompa pikiran dan merangsang gairah untuk menulis Anda.
Dari keenam skenario tersebut, hanyalah sebuah teori saja. Yang penting adalah kita perlu mencoba dan membuktikan apakah dengan menulis mampu membuat otak kita cerdas. Tentu saja, butuh keberanian dan keajegan (istiqamah) agar apa yang dilakukan tidak menambah beban pikiran, yang justru akan menyebabkan stress.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar