Minggu, 23 Mei 2010

Jalan Memahami Islam

Mujtahid

SEJAK dulu, umat Islam dalam memahami ajaran Islam tak pernah surut. Segala potensi dan metodologis digunakan untuk memberi jalan kemudahan mengenal Islam dari dalam. Singkatnya, banyak jalan bagaimana memahami Islam secara utuh dan komprehensif.
Islam adalah denyut nadi yang mensejarah sepanjang peradaban manusia. Sampai kapan pun, Islam tak pernah kering dari perhatian orang. Studi-studi agama menempatkan Islam sebagai kajian menarik yang dilakukan setiap orang. Lebih dari itu, kini Islam di Barat menjadi perhatian orang-orang yang tengah kehilangan pegangan hidup yang pasti. Tidak sedikit, orang Barat tertarik mempelajari Islam, bahkan memeluknya sebagai pegangan hidup.
Intensitas pengkajian terhadap Islam sungguh di luar dugaan. Tidak saja di pesantren-pesantren, sebagai basis mendalami ajaran Islam, melainkan di perguruan tinggi ramai mempelajari Islam. Meski ajaran Islam terkesan doktriner dan final, tetapi justru membuat banyak orang tertarik melakukan pengkajian terhadapnya. Cara pandang seseorang pun bisa berbeda, orang awam berbeda dengan kaum cendikiawan, orang kaya berbeda dengan orang miskin, politikus berbeda dengan ekonom, dan begitu seterusnya.
Memang, dari dulu ajaran Islam tetap sama. Namun setiap kepala berbeda mengartikulasikan Islam. Hal ini karena Islam mengandung nilai universalitas yang cukup memberi peluang setiap pemeluknya untuk berbeda. Meski berbeda memahami Islam, semangat untuk menghayati dan mengamalkan Islam justru semakin dinamis. Hal ini bisa terlihat dari semangat banyaknya organisasi Islam yang tak pernah sepi dari upaya kreatif memahami Islam.
Kita mengajak pembaca untuk melakukan sebuah refleksi baru mengenai apa yang disebut Kuntowijoyo sebagai “reinterpretasi ajaran Islam”. Tugas ini merupakan suatu keniscayaan, sebagai salah satu upaya dalam rangka peningkatan kualitas dakwah dan pendidikan Islam, baik dilingkungan formal, informal, maupun nonformal.
Salah satu tugas dakwah dan pendidikan Islam yang paling berat adalah “mengislamkan orang-orang Islam”. Tantangan ini semakin gamblang ketika penelitian Martin Van Bruinessen menyebutkan bahwa orang Islam yang masuk ke nusantara ini cenderung bercorak kefiqhian. Realita sejarah seperti itu, disadari atau tidak, telah membentuk karakter Islam tersendiri. Sehingga oleh Nurcholis Madjid menyebutnya dengan Islam Indonesia, sebuah ciri khas Islam lokal.
Islam perlu dihadirkan kembali sesuai dengan sejatinya. Berbagai alternatif memahami Islam banyak ditampilkan cendikiawan muslim. Apalagi Islam masuk ke nusantara banyak melewati babakan sejarah panjang dengan berbagai motif budaya lokal yang kental. Tidak ada cara lain kecuali menerjemahkan kembali Islam sebagai ajaran murni sesuai dengan petunjuk kitab suci. Pendek kata, perlu semacam recoveri strategi dalam memahami Islam yang betul-betul otentik dari sumber aslinya.
Memahami ajaran Islam membutuhkan rujukan aslinya. Dari sumber itu baru dapat dipahami secara korelatif, integratif dan berkesinambungan. Dengan melibatkan berbagai pendekatan (interdisipliner), secara utuh Islam dapat dipahami lebih terbuka dan kontekstual sesuai dengan tingkat peradaban umat manusia.
Aktualisasi ajaran Islam adalah penting. Hal ini seperti pesan Qur’an maupun hadits yang menyuruh umat Islam agar selalu mengerahkan ‘aql atau pemikiran dan sekaligus menyesuaikan perkembangan dan perubahan zaman.
Islam sebagai agama sekaligus doktrin, setidaknya ada tiga hal yang pertu dipetik, yakni Islam sebagai sumber kekuatan dan keyakinan spiritual, Islam sebagai wawasan dan pandangan hidup (world view) dan Islam sebagai komitmen hidup dan perjuangan. Pemahaman seperti inilah akan memberikan jawaban terhadap persolaan di tengah tantangan kehidupan manusia dewasa ini. Islam menjadi petunjuk yang selalu up to date sepanjang masa.

*) Mujtahid, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar