Minggu, 11 April 2010

Pendidikan Islam; dari Paradigma Menuju Rekonstruksi

oleh Mujtahid*

Pendahuluan
Tulisan ini berusaha untuk menawarkan sebuah format sistem pendidikan Islam dalam kaitannya memasuki gelombang ketiga, yang ditandai dengan derasnya tuntutan kemajuan teknologi informasi dan sekaligus menjawab tantangan modernitas. Telaah ini mencoba melakukan penelusuran terhadap paradigmatik dan rekonstruksi Pendidikan Islam yang berkembang selama ini.
Tema ini bermaksud memberikan eksplorasi tentang bagaimana pendidikan Islam dalam kaitannya dapat membentuk masyarakat religius dalam peradaban modern. Karena itu, persoalan pokok yang kita hadapi adalah bagaimana menyiapkan SDM yang modern dan religius, yang mampu bersaing dan tidak tersesat dalam menghadapi kehidupan yang diwarnai budaya iptek. Pertanyaannya, apakah sistem pendidikan Islam yang ada sekarang masih akomodatif terhadap tantangan itu, ataukah kita harus berfikir alternatif tentang sistem pendidikan Islam?
Sebelum menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu harus memahami tentang pendidikan Islam itu sendiri. Dasar pendidikan Islam adalah identik dengan dasar ajaran Islam . Hakikat pendidikan Islam adalah usaha untuk mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (Kemampuan Dasar) anak didik melalui ajaran Islam kearah maksimal perkembangan dan pertumbuhannya.
Adapun sasaran Pendidikan Islam adalah sejalan dengan misi Islam yang bertujuan memberikan rahmat bagi sekalian mahkluk di alam ini. Karena itu, sasaran itu sejalan dengan pengembangan fungsi manusia. Diantaranya ;
1) Menyadarkan manusia secara individual pada posisi dan fungsinya ditengah mahkluk lain, serta tanggung jawab dalam kehidupannya, sebagai Khalifatullah di muka bumi ini.
2) Menyadarkan fungsi atas hubungannya dengan masyarakat, serta tanggung jawabnya terhadap ketertiban masyarakat itu.
3) Menyadarkan manusia terhadap pencipta alam dan mendorongnya untuk beribadah kepadanya.
4) Menyadarkan manusia tentang kedudukannya terhadap mahkluk lain dan membawanya agar memahami hikmah Tuhan menciptakan mahkluk lain, serta memberikan kemungkinan kepada manusia untuk mengambil manfaatnya .
Model kelembagaan Pendidikan Islam yang berkembang dalam masyarakat Islam dipelbagai tempat itu, merupakan wadah yang akomodatif terhadap aspirasi umat Islam yang berorientasi kepada pelaksanaan Misi Islam dalam tiga dimensi Pengembangan Kehidupan Manusia, Yaitu :
1) Dimensi kehidupan duniawi yang mendorong Manusia sebagai hamba Allah untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan yaitu nilai-nilai Islam.
2) Dimensi kehidupan Ukhrawi yang mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan Tuhannya.
3) Dimensi kehidupan antara duniawi dan ukhrawi mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang utuh dan paripurna dalam Ilmu Pengetahuan dan keterampilan, sekaligus menjadi pendukung serta pelaksana (Pengawal) nilai-nilai agamanya .
Untuk menjawab pertanyaan di atas, pada kenyataannya cenderung pada yang kedua, yakni bahwa kita melakukan rekonstruksi sistem pemikiran dan pendidikan Islam, dalam kaitannya melahirkan SDM yang modern dan religius. Hal ini sangat tergantung pada dasar paradigma yang digunakan untuk memandang berbagai persoalan yang kita hadapi. Persoalan itu diantaranya ; 1) Profil kehidupan masyarakat yang religius dalam peradapan modern yang diwarnai budaya IPTEK, 2) Kualifikasi atau profil SDM yang modern dan religius, dan 3) Strategi mewujudkan profil SDM tersebut melalui pendidikan .
Abdul Hamid A. Sulaiman, mengemukakan bahwa dunia Islam saat ini tengah menghadapi krisis Ilmu Pengetahuan, yang menyebabkan terjadinya degresi, dekadensi dan keterbelakangan umat. Krisis tersebut terjadi disebabkan : Keterbelakangan, kelemahan dan kelesuan umat di semua lini kehidupan, stagnasi intelektual, tidak adanya ijtihat, tidak adanya kemajuan di bidang budaya dan sekat yang membatasi umat dengan norma-norma dasar peradapan Islam .
Sekat persoalan di atas menunjukkan memang ada krisis di dunia Islam. Tidak disangkal lagi bahwa krisis tersebut merupakan penyebab dan bukti terjadinya dekadensi dan impotensi umat dan menghambat umat untuk mewujudkan budaya dan peradaban modernnya secara konstruktif .
Pada dasarnya, pendidikan adalah kerja budaya. Pengertian ini menyadarkan bahwa pendidikan tidak identik dengan penyelenggaraan proses belajar mengajar di sekolah. Sebagai kerja kebudayaan, pendidikan mencakup semua ruang lingkup belajar yang lebih luas, yaitu bagaimana seorang anak melakukan reproduksi kebudayaannya dalam proses zaman yang berubah. Dalam kaitan ini, anak adalah aktor dan subyek (agency) yang melakukan akulturasi dan lukulturasi kebudayaannya.
Sebagai subyek kebudayaan, seorang anak tidak hanya berusaha mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai, norma-norma dan kebiasaan masyarakat (Sharing of values), tapi juga dalam proses itu adakalanya mempertanyakan, meragukan, bahkan kalau perlu memberontak terhadap kemapanan. Itulah sebabnya mengapa kebudayaan kelompok masyarakat selalu berubah. Selalu diciptakan terus menerus(invented and constructed) oleh para pendukungnya, terutama generasinya sendiri
Gagasan untuk mewujudkan cita-cita peradaban yang sesuai dengan misi agama, maka dalan uraian berikut ini merupakan sumbangan pemikiran untuk menawarkan bentuk dan model yang segera dikembangkan.
1. Masyarakat Religius dalam Peradaban Modern
Corak dari pendidikan Islam yang paling sentral adalah Structure Of Religious Person. Suatu peradaban manusia ditentukan oleh individu-individunya ataupun dalam masyarakat juga tidak lepas dengan individu sebagai kumpulan personel yang mewarnai masyarakat tersebut. Profil of religious structure menggambarkan personalita seseorang atau manusia yang merupakan internalisasi nilai-nilai religiusitas secara utuh, yang diperoleh dari sosialisasi nilai-nilai religius itu sepanjang kehidupannya. Sehingga kalu seseorang itu religius, mestinya personalitanya menggambarkan bangunan integral atau struktur integral dari manusia yang religius tersebut,yang akan nampak dari wawasannya, motivasinya, cara berfikirnya, sikap prilakunya maupun tingkat kepuasan pada diri seorang yang merupakan produk organisasi sistem psiko-fisik orang tersebut.
Salah satu paradigma untuk mewujudkan peradaban di atas, adalah bahwa manusia itu dikembangkan secara natural dan kultural. Peradapan masyarakat modern yang diharapkan tentunya bukan sekedar produk evolusi natural budaya yang “coditioning” yang disosialisasikan dengan kondisi yang diwarnai oleh nilai-nilai budaya tertentu yang menggambarkan aktualisasi nilai-nilai religius .
Profil masyarakat yang belum mencapai tingkat peradapan modern yang religius, tentunya kepuasan materil yang akan menjadi pilihan dominan. Sedangkan bagi masyarakat yang telah mencapai tingkat peradapan religius, nilai-nilai yang mampu mempertinggi derajat peradapan kemanusiaanlah yang akan menjadi ukuran kepuasan mereka.
Structured person, Dalam pandangan (Perspektif education Islamic) tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, sistem pendidikan Islam harus mampu menghasilkan manusia-manusia yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai religius yang sekaligus menggambarkan masyarakat dengan peradapan modern.

2. Kualifikasi Profil SDM Modern – Religius.
Kualifikasi SDM modern bukan merupakan satu-satunya ukuran kualitas SDM, Banyak faktor yang terkait, diantaranya :
1. Bebas dari kebodohan dan kemiskinan.
2. Mencerminkan masyarakat yang modern yang berbudaya.
3. Memiliki motivasi untuk maju.
4. Memiliki paradigma hidup perspektif.
5. Memiliki potensi sebagai subyek pembangunan.
6. Memiliki keahlian jelas.
7. Mencerminkan individu terpelajar.
8. Memiliki etos kerja dan disiplin tinggi.
9. Memiliki budaya kerja tuntas.
10. Memiliki komitmen kebersamaan tinggi .
Aktifitas pendidikan yang dilakukan, dan paradigma pendidikan dalam menghasilkan SDM tidak terlepas dari paradigma-paradigma, diantaranya : Pertama, Paradigma proses yaitu yang akan mewarnai sosialisasi manusia itu sehingga terjadi profil budaya sesuai dengan yang kita harapkan. Paradigma proses ini dalam pendidikan yang ditekankan bukan pada produk, tapi lebih pada proses. Karenanya, Pendidikan yang mementingkan proses akan menghasilkan manusia yang berbudaya, baik budaya ilmu maupun dimilikinya nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Paradigma kedua yaitu Inquery atau discovery. Paradigma ini diharapkan mampu menghasilkan budaya iptek yang lebih lanjut dapat diharapkan menjadikan SDM menjadi penghasil iptek. Paradigma lain (ketiga) adalah berfikir sistemik yang dilandasi oleh kreatifitas menjadi dambaan masyarakat modern. Berfikir linear umumnya merupakan produk pendidikan verbal, cenderung hanya mampu mengembangkan kemampuan berfikir logis yang dipandang tidak lagi akomodatif untuk menghadapi kehidupan yang semakin kompleks.
Paradigma lainnya adalah fleksilidita atau kahregidita. Fleksilidita merupakan salah satu karakteristik pilihan paradigma dalam kehidupan yang semakin kompleks dan yang cepat berubah. Regidita akan menghasilkan kesempitan, keterbatasan dan kesesatan. Dalam regidita, segala sesustu selalu ditangkap secara pasti, bukan sampai guru-guru, yang namanya kurikulum itu resep, harus begitu karena regidita menggambarkan kematian .
3. Strategi Pewujudan SDM Modern-Religius.
Strategi untuk mewujudkan pendidikan Islam, dapat dilihat melalui beberapa pendekatan, yaitu segi kelembagaan, substansi dan proses.
Paradigma proses pendidikan yang diharapkan memenuhi tuntutan pendidikan Islam telah diajukan beberapa alternatif. Paradigma substantifsi pendidikan Islam telah disampaikan di atas, yakni mengandung muatan untuk menimbuhkan kemampuan iptek yang sekaligus diwarnai oleh internalisasi nilai-nilai Islami. Pemikiran substansi diharapkan dapat menghasilkan produk pendidikan Islam yang bisa mengambil peran dalam iptek.
Sedangkan untuk menentukan bentuk kelembagaan pendidikan yang sekarang ada dari dimensi pemikiran pendidikan Islam yang telah diuraikan di atas, khususnya dari dimensi pemikiran yang paling akomodatif untuk menghasilkan SDM yang memiliki kriteria di atas, yang mampu berperan sebagai penghasil iptek, menampilkan internalisasi nilai-nilai Islami dan sekaligus mampu mewujudkan masyarakat yang menampilkan tingkat peradaban manusia modern.

Metodologis Pendidikan Islam
Selama ini pendidikan Islam masih menggunakan atau bersikukuh pada metodologi dengan pola konvensional-tradisional. Sudah barang tentu harus dicari terobosan baru sehingga isi dan metodologi pendidikan Islam menjadi aktual-kontekstual. Dengan demikian, pelaksanaan pendidikan Islam akan relevan dan sesuai dengan gerak perubahan dan tuntutan zaman .
Kajian epistemologis dalam wilayah keilmuan apapun tidak bisa dihindarkan dari mempersoalkan konstuksi cara berfikir dan mentalitas keilmuan. Sedang cara berfikir itu, dipengaruhi oleh gerak perubahan zaman yang melingkarinya serta corak tantangan kehidupan yang dihadapi oleh setiap generasi.
Konstruksi epistemologis yang bergerak inilah yang membutuhkan corak pemikiran dan mentalitas yang kreatif – inovatif – positif seperti yang diisyaratkan Fazlur Rahman , sehingga secara aktif konstruktif akan selalu berupaya dan berusaha membangun kerangka metodologis baru, lantaran tidak puas dengan anomali-anomali yang melekat pada kerangka metodologis yang selama ini telah berjalan secara konvensional – tradisional.
Dalam tahapan pendidikan Islam dikenal tiga dominan yaitu kognitif, Afektif dan psikomotorik. Tahapan pertama adalah mentranfer atau memberikan ilmu agama sebanyak-banyaknya kepada anak didik. Dalam kegiatan ini aspek kognisi anak didik menjadi sangat dominan.
Kedua, selain memenuhi harapan pada tahapan pertama, proses internalisasi nilai agama diharapkan dapat juga terjadi. Aspek ini lebih diutamakan dari pada yang pertama.
Selanjutnya tahapan yang hendak dicapai oleh pendidikan Islam ialah aspek psikomotorik. Aspek ini lebih menekankan kemampuan anak didik untuk dapat menumbuhkan motivasi dalam diri sendiri sehingga dapat menggerakkan, menjalankan dan mentaati nilai-nilai dasar agama yang telah terinternalisasi dalam dirinya lewat tahapan kedua. Keberhasilan pendidikan Islam harus tercermin pada tindakan individu dan tindakan sosial yang konkrit dalam kehidupan individu, keluarga dan masyarakat. Pendidikan agama tidak boleh hanya terkait dengan nilai-nilai fundamental dalam kehidupan sehari-hari dan pandangan hidup (Weltans-Chaung) keagamaan yang terkait dengan prilaku dan persoalan –persoalan praktis dalam kehidupan keseharian.
Amin Abdullah mengemukakan bahwa pendidikan Islam terasa kurang terkait atau kurang concern terhadap persoalan bagaimana mengubah pengetahuan agama yang bersifat kognitif menjadi “makna dan nilai” yang perlu di internalisasikan dalam diri seseorang lewat berbagai cara, media dan forum. Selama ini metodelogi pengajaran agama berjalan secara konvensional- tradisional, yakni menitik beratkan pada aspek korespodensi-tekstual yang lebih menekankan yang sudah ada pada kemampuan anak didik untuk menghapal teks-teks keagamaan daripada isu-isu sosial keagamaan yang dihadapi manusia pada era modern seperti kriminalitas, white callar crime, kesenjangan sosial, penggusuran tanah, keadilan, hak asasi manusia,hak warga negara, yang dapat membangkitkan pemikiran kritis perlu juga disinggung dalam ruang lingkup pendidikan agama Islam. Pengajaran agama yang bersandar pada bentuk metodologi yang bersifat statis indoktrinatif – doktriner, tidak menarik lagi bagi anak didik dan sekaligus tidak mengantarkan anak didik sampai pada tahapan afektif, apalagi sampai pada tahapan psikomotorik.
Agar pendidikan agama tidak kehilangan daya tarik, perlu diangkat topik-topik, isu-isu, tema-tema, problema-problema sosial keagamaan dan problema kemasyarakatan yang konkrit dan relevan sehingga problema-problema tersebut dapat berbicara dengan sendirinya, tanpa berpretensi dan menggurui. Dengan cara ini siswa atau mahasiswa di manusiakan (dipedulikan dan dihargai eksistensinya), dan terasa pula lebih demokratis.

Rekonstruksi Pendidikan Islam
Azyumardi Azra telah mencoba memberikan beberapa alternatif kearah rekonstruksi pemikiran dan pendidikan Islam, dengan melalui pendekatan historis . Pertama, berkenaan dengan situasi riil sistem pemikiran, juga sistem pendidikan Islam. Kedua, berkenaan dengan upaya rekonstruksi ilmu sebagai alternatif apa yang harus kita lakukan di dalam merekonstruksi sistem pendidikan Islam ini.
Permasalahan pertama berkaitan dengan situasi obyektif pendidikan Islam, yaitu adanya krisis konseptual (Tentang pembagian ilmu-ilmu di dalam Islam). Biasanya disebut dengan istilah Ilmu Profan (keduniawian) dan ilmu sakral (Ukhrawi). Krisis ini berimplikasi pada keilmuan dan sekaligus pada kelembagaan. Dalam Islam sebenarnya tidak dikenal istilah dikotomi apapun, termasuk bidang pendidikan .
Krisis kelembagaan ini adalah adanya dikotomisasi antara lembaga-lembaga pendidikan yang menekankan pada salah satu aspek dari ilmu-ilmu yang ada, baik ilmu agama maupun ilmu umum.
Persoalan lain adalah konflik antara tradisi pemikiran dan pendidikan Islam modernitas. Dalam konteks Indonesia, krisis ini paling jelas dapat dilihat di pesantren. Di pesantren paling jelas terjadi krisis akibat konflik antara tradisi pemikiran dan praktek pendidikan Islam dengan modernitas.
Persoalan selanjutnya yaitu krisis metodologi atau krisis pedagogik. Sekarang ini kecendrungan di kalangan lembaga-lembaga pendidikan Islam, yang terjadi sekarang ini adalah lebih merupakan proses teaching, proses pengajaran ketimbang proses learning proses pendidikan. Dengan demikian proses pengajaran, hanya mengisi aspek kognitif dan tidak membentuk pribadi dan watak.
Persoalan terakhir adalah krisis orientasi. Lembaga-lembaga pendidikan Islam atau sistem pendidikan pada umumnya lebih berorientasi ke masa silam ketimbang masa depan. Sebagaimana kita rasakan dalam perkuliahan, mata kuliah hampir seluruhnya pengajaran orientasinya kebelakang .
Dari persoalan di atas, dapat di kemukakan beberapa alternatif kearah rekonstruksi pemikiran dan praktek pendidikan Islam. Pertama, adalah berkaitan dengan persoalan yang pertama, yaitu Formulasi, merumuskan kembali tentang ilmu-ilmu Islam. Mengingat hal di atas, formulasi ilmu-ilmu Islam sangatlah penting.
Kedua, pengembangan sikap penerimaan kultural yang sadar terhadap perubahan. Dengan demikian, maka arah dari penerimaan kultural yang sadar, penambahan sikap kultur yang sadar terhadap perubahan, hasil akhirnya akan menciptakan sistem pendidikan yang lebih berorientasi ke masa depan ( future oriented ), tidak hanya sekedar berorientasi ke masa lalu ( past oriented ).
Ketiga, rekonstruksi kelembagaan pendidikan seperti Al-Azhar, perguruan tinggi semacam IAIN harus di kembangkan fakultas-fakultas umum. Karena itu, diberikan banyak alternatif kepada mahasiswa untuk memilih yang sesuai dengan minatnya.
Pada prinsipnya, konsep pendidikan Islam yang ideal dan praktis adalah apa yang di sebut paradigma Tauhid. Dalam hal ini paradigma tauhid bukan berarti hanya mengesakan Tuhan, tetapi mengintegrasikan seluruh aspek, seluruh pandangan dan aspek kehidupan di dalam sistem dan lapangan kehidupan sosial kita.
Dalam konteks pendidikan, antara aspek esoteris (batin) dengan eksoteris (lahir) harus ada keselarasan dan kesatuan.
Keempat, rekonstruksi perumusan kembali makna pendidikan. Proses pendidikan Islam yang kita tempuh lebih baik menggunakan ta’dib ketimbang Tarbiyah, karena kata ta’dib lebih mengandung proses inkulturasi, proses pembudayaan, tidak hanya proses intelektualisasi. Dengan proses ta’dib maka akan muncul dari sistem pendidikan manusia yang betul-betul berbudaya, berkarakter dan berakhlak.
Rekonstruksi terakhir adalah keharusan di lakukannya pendekatan baru dalam proses pendidikan itu sendiri. Pendidikan harus di pahami sebagai proses yang berkelanjutan atau berkesinambungan .
Demikian makalah ini kami tulis, terlepas dari kekurangan kami mengharapkan masukan-masukan sebagai koreksi sehingga makalah ini menjadi sempurna.


Daftar Pustaka
Azra, Azyumardi.
Abdurrahman, Muslim, Pendidikan Islam dan Etika Masa Depan di Indonesia, (Catatan Untuk Perbaikan Kurikulum), Ulumuddin, No. 3 Th II April 1998.
Arifin, HM., Ilmu Pendidikan Islam, (Suatu Tinjauan Teoritis dan Prakis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner), Bumi Aksara, Jakarta, 1994.
Donohue, John J. dan John L. Esposito, Islam dan Pembaharuan, (Ensiklopedi Masalah-masalah), Raja Grafindo, Jakarta, 1994.
Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1996.
Malik, Dedy Jamaluddin dan Idi Subandy Ibrahim, Zaman Baru Islam, Zaman Wacana Mulia, Bandung, 1996.
Mulkhan, Abdul Munir, ed al., Religiousitas Iptek (Rekontruksi Pendidikan dan Tradisi Pesantren), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1998.
Rahman, Fazlur, Islam, Mizan, Bandung, 1979.
Sulaiman, Abdul Hamid A., Krisis Ilmu Pengetahuan, SALAM, edisi 2&3/Th. II Desember 1997- Juni 1998.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar