Selasa, 06 April 2010

Fenomena Kebangkitan “Santri Bule”

Mujtahid*
SAAT Islam dipandang pejoratif oleh bangsa Barat, ternyata sebagian warganya sendiri tertarik untuk mempelajari Islam. Kepemelukan mereka terhadap Islam adalah gejala yang sangat fenomenal, yang sulit dijelaskan secara sosiologis maupun psikologis. Tak kalah menariknya lagi, sebagian besar yang terpesona dengan Islam, justru kaum wanita, suatu kaum yang sering didiskriditkan dalam Islam.
Ada sebuah buku yang isinya mengulas tentang fenomena kebangkitan umat Islam di Barat. Buku yang ditulis Dedi Mulyana itu merupakan himpunan dari luapan perasaan suka-duka “Santri Bule”, untaian perjalanan rohani mereka yang tengah belajar tentang Islam. Antusiasme mereka terhadap Islam ditunjukkan dengan berbagai cara yang mereka lakukan. Bahkan, cara sufi yang terkenal dengan zuhudnya (asketis) dilakukan oleh sebagian Santri Bule di Barat. Fenomena ini betul-betul membuka mata sejarah agama-agama dunia, bahwa Islam ternyata masih dapat dipandang sebagai agama yang mampu memberikan ketentraman bathin, kedamaian rohani dan kesejukan psikologis di mata orang Barat.
Sebagai gejala yang agak sulit disangka, Muslim Santri Bule memperlihatkan suatu prestasi tersendiri bagi dunia Islam. Sejak lama, minat orang Barat untuk mengkaji Islam memang sudah menjadi gejala umum, tetapi minat untuk menerima Islam sebagai agama mereka, merupakan “keberanian” sekaligus kepasrahan yang benar-benar misterius dan ajaib bagi orang Barat.
Seperti yang diungkap Dedi, minat orang Barat terhadap Islam dari tahun ke tahun menunjukkan grafik yang terus meningkat, terutama di Amerika, Eropa dan Australia. Sebagian besar mereka, yang tertarik Islam rata-rata adalah kaum terpelajar yang berpendidikan menengah ke atas, dan lebih didominasi kaum wanita. Bahkan, di Prancis pernah terjadi “gempa, goncangan” karena merajalelanya Islam di sana. Ada sebuah pergeseran persepsi kaum non Muslim terhadap kaum Muslim di negara itu. Seorang Muslim yang memasuki restoran biasanya akan ditanya terlebih dahulu, “Monseur, vous etes Musulman”? (Tuan, apakah Tuan seorang Muslim), untuk tidak diberi hidangan yang haram menurut Islam. Suatu “penghargaan agama” yang harus dihormati, sekalipun di tengah keyakinan mayoritas penduduk.
Lebih dari enam puluh Santri Bule menuturkan pengalaman religiusnya secara menarik dan beragam. Seperti yang disinyalir oleh Dedi Mulyana,melalu hasil risetnya, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi mereka masuk Islam. Selain menjadi hak mutlak Tuhan (atas hidayah Allah), mereka merasakan dalam jiwanya sebuah kekecewaan beragama dan kelaparan spiritual dari agamanya semula. Terutama menghadapi sebuah tekanan ideologi kapitalisme yang semakin akut.
Secara faktual, fenomena tersebut memang menarik ditelusuri secara mendalam. Karena, mereka pasti punya alasan dan argumentasi yang kuat untuk menjelaskan proses perindahan agamanya. Beberapa sebabnya pasti berkaitan dan berakumulasi. Suatu sebab yang lazim disebut oleh para pemeluk baru Islam adalah ketidakpuasan mereka terhadap agama lama mereka. Kristen sebagai agama dominan selama belasan abad telah gagal memberikan tuntunan mereka karena sebagian ajarannya dipandang tidak rasional dan mengandung pertentanngan-pertentangan seperti trinitas, dosa waris, kematian Tuhan dan kebangkitan-Nya kembali, dan jamuan kudus.
Di kalangan pendeta Kristen, mulai ada yang merisaukan sumber ajaran atau doktrin Kristen. Secara persentatif, hampir sepertiga Sekte Pendeta tidak lagi percaya bahwa Kristus benar-benar bangkit dari mati. Separo Sekte pendeta juga tak percaya Yesus lahir dari perawan Bunda Maria. Bahkan yang mengerikan lagi, lebih dari delapan puluh persen Sekte Pendeta tidak mempercayai bahwa Bibel merupakan Firman Tuhan. Di Barat, generasi muda juga pada enggan menghadiri Gereja. Penganut Katolik dan Protestan tidak lebih dari tiga puluh persen yang pergi ke gereja. Lebih dari itu, sebagian orang Barat menyebut nama Kristus, tetapi sekedar penghias saja, atau direduksi menjadi sumpah serapah.
Sumber lain yang meyebabkan mereka berpindah agama adalah tekanan kapitalisme Barat yang dekaden dan merosotnya moral keluarga. Kecenderungan ini terjadi sejak tahun 1960-an sebagian generasi Barat (Amerika, Inggris, Jerman, Australia dsb.) mengikuti gerakan the new age. Terutama anak-anak muda berasal dari keluarga kelas menengah. Mereka jenuh dengan sistem nilai mereka yang lama dan mencari nilai-nilai baru bagi hidup mereka. Tetapi yang mereka cari, justru yang aneh-aneh, bahkan juga irasional. Yang lebih parah lagi, mereka melibatkan diri dalam kejahatan moral, seperti seks bebas, mengkonsumsi obat terlarang, dan bahkan bunuh diri.
Melihat krisis moral di atas, sebagian mereka mulai sadar dan berusaha mencari alternatif pegangan hidup yang lebih baik. Islam dalam pandangan mereka, merupakan “tujuan” yang dapat menjadi harapan dan solusi untuk mengobati kegelisahan hidup yang mereka hadapi. Selain motif tersebut, ketertarikan Santri Bule terhadap Islam ada yang lewat mimpi, mendengar tilawah ayat al-qur’an, melihat prilaku Muslim yang kasih sayang dan lain sebagainya.
*) Mujtahid,Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar