Senin, 26 April 2010

Menaklukkan Penyakit Hati

Mujtahid*

HATI adalah salah satu unsur vital yang yang ada dalam diri manusia. Dari lubuk hati, kita pasti bisa merasakan segala perasaan; suka-duka, cinta-benci, senang-marah, dan sebagainya. Namun, namanya juga hati, perasaan-perasaan itu selalu bisa berubah setiap saat sesuai dengan situasi dan kondisi. Perubahan itu akan mengantarkan pada dua hal, yakni kebaikan (positif) dan keburukan (negatif).
Ada tujuh penyakit hati yang sangat mudah menjangkiti hati manusia. Tanda-tanda penyakit hati itu, menurut Muhammad Nuh, adalah membanggakan diri (al-ujb), teperdaya oleh perasaan sendiri (al-ghurur), sombong atau congkak (takabbur), pamer karena ingin dipuji (al-riya’), buruk sangka tanpa alasan (su’ al-zhan), kikir atau enggan menolong (al-shuh), dan mendendam (al-hiqd). Dari ketujuh penyakit ini ada beberapa resep yang tawarkan Nuh untuk mengobatinya.
Resep untuk mengobati penyakit yang pertama (al-ujb), yaitu kita dianjurkan menyadari hakikat diri, bahwa pada jiwa pasti ada sifat kelalain dan kesesatan, kelemahan dan keterbatasan sehingga kita dapat kembali memposisikan sebagai makhluk yang serba lalai dan terbatas. Menjenguk orang sakit juga ampuh untuk mengurangi rasa ujb (membanggakan diri), dan masih banyak cara lain yang dikemukakan Nuh untuk menerapi jenis penyakit kronis ini.
Penyakit kedua (al-ghurur) bisa dibasmi dengan cara menyibukkan diri dengan urusan yang penting (manfaat). Dengan cara ini akan mengurangi penyakit ghurur dalam diri kita. Sebab kita tidak akan lagi punya waktu untuk melakukan hal-hal yang tidak berbobot. Cara lainnya, sebaiknya menjauhi orang yang terjangkit ghurur, dan sebaliknya, harus bergaul dengan orang yang peduli dengan kita. Dengan begitu, bisikan setan tidak mampu untuk menggoda kita dan akhirnya jiwa kita dapat lepas dari penyakit ini. Selain di atas, kita dianjurkan selalu introspeksi dan melatih diri dari sifat ghurur, serta memohon pertolongan dan petujuk dari Allah agar dijauhkan dari penyakit tersebut.
Cara mengobati penyakit ketiga (takabur), yaitu kita harus “bergaul” dengan orang fakir-miskin. Dari cara ini kita akan dengan sendirinya merasakan bahwa takabur itu adalah sifat yang semestinya dijauhi dan bertolak belakang dengan jati diri kita sendiri, terutama dihadapan kaum fakir-miskin. Selain itu, kita bisa mengambil pelajaran dari kisah sejarah masa silam seperti Fir’aun dan Qarun, mengenai dampak negatif yang ditimbulkan dari sifat takabur mereka. Tentu saja, masih banyak cara lain yang bisa ditempuh.
Mengobati penyakit keempat (al-riya’ dan sum’ah) yaitu kita bisa menggantikan dengan sifat keikhlasan. Dilihat dari segi bahasa, ikhlas berakar dari khalasha yang berarti bersih, jernih, murni; tidak tercampur. Ikhlas bagaikan air bening yang belum tercapur oleh zat apapun. Sikap ikhlas berarti membersihkan atau memurnikan dari setiap kemauan, keinginan yang didasarkan bukan kepada Allah. Ikhlas mengajarkan supaya kita berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah. Karenanya, setiap perbuatan harus diawali dengan kata niat. Seperti yang dianjurkan Nabi: “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya.”
Terapi penyakit kelima su’ al-zhan (buruk sangka) adalah menjauhkan dari dari bisik-bisik atau ngerumpi, menghindari perkara syubhat, mengekang hawa nafsu dan syahwat serta yang paling penting adalah mencari lingkungan yang kondusif. Dengan cara demikian, kita akan terbebas dari sifat buruk sangka pada orang lain.
Resep mengobati penyakit keenam (kikir), yaitu kita bisa meneladani sifat kedermawanan Rasulullah dan para sahabat. Mereka meski dermawan tidak pernah sampai menjadi miskin, tetapi justru semakin bertambah rezekinya. Selain itu, kita mengingat kematian, atau mengantar jenazah ke kuburan. Resep ini penting, karena sifat kikir itu muncul di luar kesadaran teologis.
Sedangkan mengobati penyakit mendendam (al-hiqd) yaitu kita harus mengingat bahwa manusia diciptakan untuk saling bersilaturrahim (menjaga hubungan) sekalipun telah dicederai oleh orang lain. Di samping itu, muhasabah (introspeksi diri) memungkinkan kita untuk mengurungkan niat dendam. Kita punya kesadaran bahwa selalu berada pengawasan Allah di manapun berada, baik siang maupun malam. Dengan demikian, kita akan terdorong untuk melakukan evaluasi diri terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap yang akan diperbuat. Dengan Muhasabah, kita dapat merencanakan sesuatu secara tepat dan matang. Mempertimbangkan terlebih dahulu baik-buruk dan manfaat perbuatan.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar