Jumat, 02 April 2010

Relasi Sains dan Etika Lintas Agama

Mujtahid*

PERDEBATAN sains dan agama bukanlah hal baru dalam belantika kehidupan manusia. Agama dan sains telah menunjukkan perseteruan yang luar biasa ketika munculnya watak reduksionis dan parsialis dalam tubuh sains maupun agama. Keduanya seolah telah terisolasi dan sulit diharmoniskan secara utuh dan universal.
Dewasa ini, banyak tawaran baru agar sains dan agama harus diintegrasikan. Tujuannya supaya tidak terjadi ketegangan yang akut. Zainal Abidin Bagir (2007) menawarkan alternatif cemerlang untuk menyingkap watak kosmologis dan antropologis dengan mendasarkan pada nilai-nilai metafisika dan normatif (wahyu) lintas agama.
Jalan pencarian kearah titik temu (sintesis) yang harmonis tentu saja butuh metodologi, sistematika dan logika (penafsiran) yang tajam dan valid. Karena selama ini agama hanya cenderung difungsikan sebagai “alat pembenaran” atas temuan yang ada dalam realitas sains.
Problemnya adalah ketika temuan itu tidak memperoleh “justifikasi” dalam agama, maka sains atau teknologi dipandang tidak memiliki keabsahan dan sering berujung pada pertentangan dengan agama. Inilah salah satu bentuk kelemahan atau problem relasi sains dan agama yang terjadi selama ini.
Padahal kini agama harus menjawab temuan-temuan baru terhadap sains modern dan teknologi mutakhir yang berkembang sangat pesat. Secara eksplisit, sudah banyak temuan modern yang bertentangan dengan “kodrat” agama atau pun sunnatullah yang akhirnya menjadi wacana debateble (perdebatan). Di sinilah sentuhan nilai etika sangat dibutuhkan untuk mengasah dan menimbang hasil dari temuan-temuan tersebut.
Dewasa ini perlu menghadirkan masalah keilmuan (science) dan etika secara lintas agama dengan tujuan agar tidak terjadi eksklusifisme pada kelompok agama tertentu. Gagasan-gagasan tentang kosmologi, evolusi, penciptaan, etika dan masalah-masalah sosial yang disampaikan oleh para penulis memang sangat mendalam, karena selain didukung oleh kadar keyakinan agamanya masing-masing, juga dipengaruhi latar belakang penulis yang memadahi tentang wacana ini.
Selama ini yang sering terjadi adalah tampilnya para saintis yang kurang memahami nilai agama di satu pihak, dan munculnya para pemuka agama yang miskin pengetahuan kealaman di lain pihak. Tipologi semacam inilah yang justru menghambat terwujudnya reintegralisasi sains dan agama.
Isu-isu baru seputar sains dan teknologi telah memancing reaksi sporadis terhadap para pemeluk agama. Islam misalnya, telah mengelaborasi tatanan sains kearah normatif, yakni islamisasi sains. Agenda utama yang dikampanyekan yaitu menarik misi/tujuan ilmu ke dalam Islam. Padahal pikiran dan rumusan islamisasi sains sampai kini belum pernah mencapai titik final. Meski sudah tiga dekade berkembang, tetapi kenyataannya masih belum berdaya.
Zainal Abidin Bagir dalam sebuah acara bedah buku di UIN Malang (2007) menyatakan bahwa ilmu dalam termenologi filsafat, harus dirujuk pada tiga hal, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dengan ketiga kerangka analisis inilah ilmu sebenarnya bukanlah benda mati atau objek nihil yang dapat diotak-atik dengan tanpa dasar. Sebagai seorang yang aktif mengembangkan program di CRCS (Center for Religius & Cross-cultural Studies) Graduate School Gajah Mada University, ia menawarkan percikan gagasan kontribusi filsafat sebagai mainstream untuk mendudukkan ilmu sebagai ilmu yang menjunjung nilai-nilai holistik tidak pandang jenis agama.
Namun problem yang dihadapi selama ini adalah lemahnya pijakan dan sekaligus menghambat teleleologis ilmu itu sendiri. Indikasi ini muncul ketika unsur subjektifitas mendominasi dan memainkan peranan yang sangat signifikan. Sehingga kehadiran ilmu dimuka bumi ini jatuh pada segelintir orang saja.
Sisi menarik dari pembahasan karya ini yaitu mampu melibatkan kaum intelektual “santri” dari lintas agama yaitu Hindu, Kristen, Budha, dan Islam. Dari keempat perwakilan ini merekomendasikan bahwa agama harus mampu jadi sumber “nilai etis” yang dapat berperan untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang dimunculkan oleh perkembangan sains dan teknologi.
Kajian seperti ini memang harus terus-menerus diwujudkan agar dinamika perkembangan sains ke depan dapat lebih bermartabat dan menjunjung hak-hak manusia secara universal. Tanpa harus terjebak pada sikap fanatisme agama yang justru mengungkung dan pada gilirannya akan jatuh pada jurang keterpurukan. Sudah saatnya persoalan-persoalan “bersama” yang terjadi saat ini, baik itu menyangkut tatanan sains dan teknologi maupun masalah sosial harus diselesaikan dengan cara kerjasama melalui lintas agama.
Kontribusi dari kajian-kajian semacam ini diharapkan tidak saja berkutat pada dataran konseptual, tetapi dimungkinkan harus menyentuh pada wilayah yang lebih riil dan praktis dilapangan. Dengan munculnya ide-ide segar yang bernuansa “kemajemukan” dengan mengedepankan sikap terbuka dan toleransi yang tinggi, maka kemajuan di segala sisi kehidupan manusia akan lebih mudah diraih.

*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar