Rabu, 21 April 2010

Konstribusi SI Bagi Pendidikan Bangsa

Mujtahid*

SUDAH tidak diragukan lagi, bahwa Sarekat Islam (SI) dalam pentas nasional telah memberikan konstribusi yang sangat berharga. Sebagai ormas Islam tertua, SI banyak melahirkan tokoh besar yang ikut mewujudkan cita-cita bangsa ini menjadi bangsa merdeka, berdaulat yang setaraf dengan bangsa-bangsa lain.
Selama ini dari sisi sejarah, gerakan SI seolah-olah hanya dipandang sebagai gerakan sosial ekonomi. Padahal, selain SI bergerak dalam bidang tersebut ia konsisten terhadap perjuangan hak-hak rakyat dari penindasan kolonial, tak ketinggalan juga ikut memperjuangkan kepentingan rakyat supaya memperoleh kemampuan intelektual yang sempurna lewat pendidikan. Tokoh pendiri SI, HOS Tjokroaminoto, memperjuangkan hak-hak warga pribumi dari segala penindasan Belanda, termasuk di dalamnya adalah pendidikan.
Memang, selain gerakan politik, sosial dan ekonomi, SI berjuang untuk masyarakat agar mereka mendapat pendidikan yang layak. Sebab, bagi SI, sarana paling tepat untuk membebaskan diri dari segala kelemahan dan keterpurukan adalah melalui pendidikan. Ketidakberdayaan itu hanya bisa dilakukan lewat pendidikan, yang berlandaskan tiga filosofis SI, yaitu sepandai-pandai siyasah (politik), dan setinggi-tinggi ilmu pengetahuan (pendidikan), hanya akan terwujud apabila dilandasi dengan sebersih tauhid (Islam).
Pendidikan di mata SI, merupakan alat yang ampuh untuk membebaskan dari hal-hal yang tidak manusiawi. Pendidikan dapat diformulasikan sebagai upaya pemanusiaan manusia dengan cara berlajar yang sungguh-sungguh agar berkembang kemampuan intelektual, kepribadian dan ketrampilannya. Jadi dengan pendidikan, SI berharap bisa mengentaskan manusia dari kemiskinan, kemalasan, serta kebodohan menjadi manusia yang kretif dan produktif.
Sarana pendidikan- seperti yang dicita-citakan SI, mengantarkan manusia dari yang semula pasif, statis dan regresif menjadi aktif dinamis dan progesif. Pendidikan bangsa sangat ditentukan seberapa tinggi tingkat pengetahuan warganya. Dengan pendidikan, membawa manusia ke konteks yang lebih adil serta demokratis.
Tentu saja, perjuangan SI tidak terlepas dari problem rakyat utama umat Islam. Artinya tidak berangkat dari ruang yang kosong sama sekali. Tetapi karena banyak penyimpangan yang terkandung dalam hubungan sosial di tengah-tengah masyarakat kolonial sebagai hal yang tidak wajar dan menyinggung rasa harga diri umat. Terutama dalam hal ketidakwajaran untuk mendapat kesempatan pendidikan bagi kaum pribumi. Dari kaca mata sejarah, pendidikan kaum pribumi banyak yang dimarginalkan. Bahkan pendidikan hanya berlaku bagi kalangan yang elit yang setia terhadap kolonial.
Meski secara organisatoris SI bukan semata-mata bergerak pada pendidikan, tetapi ia sangat berkomitmen dalam memperjuangkan kaum pribumi untuk memperoleh hak-hak pendidikan mereka yang hilang. Sebab, hanya dengan pedidikan masyarakat dapat menjadi sadar, kritis, dan dinamis dalam beriteraksi dengan realitas temporal waktu itu.
Tujuan pendidikan SI diarahkan pada dua hal, yaitu terbentuknya kepribadian muslim sejati dan berjiwa nasionalis yang berjiwa besar. Dua ranah tujuan tersebut dimaksudkan supaya warga pribumi memiliki kemampuan yang seimbang, antara ilmu modern (duniawi) dengan ilmu agama. Maka di samping memiliki otak yang cerdas, juga diharapkan mempunyai budi pekerti yang luhur, mandiri dan rasa cita tanah air yang mendalam.
Selain itu, SI berusaha keras agar pendidikan itu menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral. Kedua bobot nilai ini memiliki pengaruh yang besar terhadap pembentukan prilaku dan tindak tanduk manusia. Setinggi apapun pengetahuannya, jika moralnya jelek maka juga tidak berguna. Justru, kadang-kadang menjerumuskan ke dalam perbuatan yang menyimpang dari semestinya.
Dari gerakan SI, khususnya pendidikan, mengkolaborasikan dua model yakni model modern dan model tradisional. Karena ketika itu SI berada dalam suatu realitas yang kedua-duanya harus dikerjakan, antara realitas pendidikan Islam yang diwakili pendidikan pesantren dan realitas pendidikan umum (modern) yang dikelola kolonial. Jadi, SI meramu dengan cara memadukan nilai positifnya dari dua model pendidikan yang berkembang waktu itu.
Dalam pandangan SI, pendidikan bergerak secara dialektis. Pendidikan tidak bisa bergerak satu arah, tetapi harus akomodatif terhadap realitas sepanjang mengandung nilai positif. Artinya, realitas itu berdayaguna bagi kepentingan dan kemaslahatan manusia, maka realitas itu dapat di diakomodasi sebagai bagian dari kelangsungan pendidikan.
Meski demikian, SI belum sepenuhnya memiliki sebuah konsep sosial ekonomi yang utuh, demikian juga tanpaknya belum mempunyai konsepsi demokrasi pendidikan yang secara sistematis. Hal ini karena dalam perjalanannya, gerakan SI diwarnai dengan sedikit konflik dan keretakan internal organisasi. Sehingga sebagai gerakan yang seharusnya bertambah maju dan kukuh malah semakin tidak stabil dan akhirnya pecah. Walau begitu, SI tetap memberi warna tersendiri di antara organisasi yang lain.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar