Senin, 05 April 2010

Memahami Teologi; Upaya Tansformasi Antroposentris

Oleh: Mujtahid
WILAYAH keagamaan yang paling sensitif, empiris dan bertendensi inklusif adalah wilayah teologis. Meskipun pada mulanya teologi merupakan tataran normatif, tetapi pesan yang terkandung di dalamnya bukan sesempit dan separsial yang dipahami orang. Wacana teologis tidak dapat dilepaskan dengan berbagai aspek kehidupan. Hal ini bisa kita lihat bahwa banyaknya proyek kehidupan yang tidak berpijak pada landasan teologis.
Makna teologi sebagaimana dipahami banyak orang, biasanya hanya berkisar pada tataran normatif dan berputar pada masalah-masalah ritualistik. Padahal, wilayah teologi merupakan bentuk bangunan pemikiran keagamaan yang seharusnya membumi secara historis-empiris. Sampai saat ini, bangunan teologi keagamaan dapat ditemui di sana-sini, rasanya masih enggan menyentuh wilayah yang semestinya menjadi bidang garapnya.
Kenyataan ini, sudah mewabah pada setiap pemeluk agama, khususnya kaum abangan dan kelompok tradisionalis. Berbagai diskusi dan dialog mengenai teologi, yang dilakukan oleh semua pihak, baik kalangan akademis maupun kalangan praktisi menyebutkan bahwa teologi bukan sesuatu yang dijadikan pijakan aktivitas. Antara kelompok abangan (tradisionalis) dan kelompok terdidik (modern) terjadi kesenjangan terhadap pemahaman tersebut.
Sebagaimana yang terlihat, nampaknya kaum abangan dan tradionalis lebih mengedepankan simbol-sibol artificial daripada makna kontekstual yang merupakan sumber semangatnya itu. Mereka lebih memegangi teologi secara tekstual, parsial dan dijadikannya sebagai wadah dan alat perjuangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang pemahamannya amat sempit dan pendek ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa dangkalnya pemahaman dan tipisnya wawasan keilmuan yang mereka miliki.
Dalam memasuki wilayah praksis kenegaraan misalnya, teologi keagamaan dipandang sebagai simbol utama yang ikut memainkan peran politiknya. Peran “ketuhanan” dalam dimensi politik sebagaimana yang mereka pahami, amat kental dengan nilai-nilai normatif yang berjangka dekaden dan temporal. Kelompok ini dapat kita temui seperti, kelompok yang mengakui bahwa ketika naiknya Gus Dur sebagai presiden, mereka menganggap ia naik semata-mata karena atas kehendak Tuhan, bukan atas hasil rekonsialisasi dari berbagai elemen partai politik yang juga ikut memainkan peran kunci terpilihnya Gus Dur.
Pemahaman inilah sebenarnya yang dapat menjustifikasi dirinya terhadap kedangkalan artikulasi teologis. Kelompok tradisionalis dalam memahami teologi hanya berpusat pada bangunan kalam klasik. Jauh dari sentuhan budaya dan pemikiran modern. Aktifitas keagamaan yang mereka refleksikan sehari-hari merupakan inspirasi yang di dapat dari doktrin-doktrin mentah dan tekstual.
Karena itu, kita tidak heran kalau mereka bersi keras menolak peremajaan budaya, informasi modern sering menyerang kemapanannya. Sebetulnya, bukan terletak pada mau tidaknya menerima, tetapi karena dangkalnya pengetahuan dan pemahaman teologi mereka.

Peran Teologis di Era Global
Dalam wacana global sekarang, tentu sulit melepaskan dari ikatan budaya global yang menjadi bagian integral terhadap seluruh aspek kehidupan. Budaya asing (baru) tidak lagi bisa kita bendung dengan hanya mengandalkan besic agama, melainkan juga harus disambut dengan basic keilmuan modern. Karena bentuk budaya apapun, selagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, maka sudah sepatutnya mendapat ruang untuk bisa hidup, meskipun budaya tersebut datangnya dari bangsa asing. Menghadapi era global, upaya yang harus dipersiapkan adalah membangun dua kekuatan yang saling melengkapi yaitu bangunan ilmu agama dan ilmu modern.
Selama ini, dua bangunan keilmuan tersebut --agama dan umum-- kurang berjalan secara harmoni, akur dan malah terjadi dikhotomi wilayah. Bagi ilmu-ilmu agama hanya memegangi dan berputar-putar pada wilayah agama semata-mata. Begitu juga wilayah ilmu-ilmu umum (modern) juga berjalan tanpa melibatkan agama sebagai landasan dan pijakannya, sehingga hasil yang diperoleh biasanya dikesankan agak sekuler. Lalu bagaimana mungkin kita dapat memetik buah keilmuan yang utuh, sedangkan dua keilmuan tadi dalam batas-batas tertentu tidak pernah bisa kompromi secara haromis. Inilah kendala yang dialami oleh umat dalam memadukan antara nilai religiositas dan intelektualitas. Sulit memang, memadukan antara intelektualitas dan religiositas menjadi entitas.
Sebagai bukti bahwa di negara-negara Barat ilmu pengetahuan modern dapat berkembang sangat pesat, dan kadang-kadang hampir sampai melampui batas agama dan nilai kemanusiaan. Sebaliknya negara-negara Timur, ilmu agama bisa berjalan dengan spektakuler, namun karena tidak ditopang dengan ilmu-ilmu umum maka hasilnya kurang representatif bagi kehidupan ini. Fenomena ini menjadi bukti sejarah dunia yang tidak bisa terlupakan.

Teologi; Transformasi Antroposentris
Untuk mengakhiri fenomena di atas, upaya rekonstruksi teologi harus menjadi tema sentral untuk mencarikan alternatifnya. Sebab teologi merupakan dasar dan landasan terhadap seluruh aktivitas. Lebih-lebih dalam membangun dan menekuni bidang keilmuan. Rekontruksi teologi pada tataran empiris seharusnya disentuhkan dengan wacana antroposentris. Apapun hasilnya, upaya ini menjadi keharusan bagi pemeluk agama agar bisa survive di tengah era glabal.
Selama ini, teologi dalam pandangan tradisionalis adalah suatu janji-janji atau balasan indah yang digambarkan dengan sorga dengan segala isinya, serta bentuk larangan yang kemudian mempersempit aktifitas geraknya. Teologi bukannya sebagai satu bentuk kesadaran atau daya kreatif, justru mematikan dan membuat rasa takut yang menyelimuti garis hidupnya. Padahal, teologi tidaklah apa yang ada dibenaknya itu. Misi teologi adalah membentuk misi kemanusian universal dan bukan mementingkan subyektifitas. Teologi dalam arti sebenarnya harus memasuki wilayah universalitas secara totalitas. Tidak dikenal adanya dikhotomi antara profanitas dan sakralitas. Begitu pula tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Kedua urusan tersebut harus berjalan sealur, seirama dan saling memperkaya.
Sepanjang sejarah peradaban yang lahir di muka bumi ini, konsep teologi macam apapun tidak pernah mengajarkan bahwa kepentingan individu mengalahkan kepentingan sosial. Meskipun dari “kaca mata” non teologis, agaknya sangat sulit kita menerima formulasi tersebut. Aspek kemanusiaan universal merupakan tujuan utama yang harus dihargai dan dijunjung tinggi. Prinsip teologi adalah prinsip kemanusiaan. Sedangkan nilai ketuhanan merupakan landasan utama dalam mengejawantahkan tatanan universalitas.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kesalahan pemahaman terhadap teologi juga mengakibatkan buramnya peta umat dan keringnya inovasi yang lebih segar dan kreatif. Inovasi konsep teologi harus dilakukan secara berlahan-lahan namun pasti agar dapat menghasilkan prinsip kehidupan yang anggun. Hasil yang diperoleh, di samping menguntungkan secara pribadi, juga menguntungkan bagi umat, dan manusia secara keseluruhan. Satu pihak dapat meningkatkan kehidupan seseorang dan di lain pihak menguntungkan kehidupan sosial.
Teologi hendaknya dibangun di atas pondasi nilai kemanusian universal. Dan dapat menjadi kekuatan yang ampuh untuk memfilter arus budaya yang masuk. Teologi harus dipahami secara konstektual sehingga dapat membumi pada lapisan historis-empiris.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar