Senin, 12 April 2010

Membekali diri dengan Komunikasi Efektif

Oleh: Mujtahid *

SEJALAN dengan akselerasi teknologi informasi (komunikasi), kini peradaban manusia mencapai kemajuan yang sangat pesat. Dengan dukungan teknologi tersebut, batas interaksi manusia semakin tak terbatas, mulai dari lintas budaya, lintas negara, bahkan lintas Benua, akibat kecanggihan alat komunikasi. Hampir setiap ada kejadian baru atau event penting di belahan dunia ini, kita bisa langsung melihatnya dalam tempo waktu itu juga. Luar bisa kemujuan teknologi komunikasi saat ini.
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan nonverbal. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respons pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk non-verbal (non kata-kata), tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa kedua belah pihak punya sistem simbol yang sama.
Menurut Deddi Mulyana, seperti yang diunkap dalam karyanya “Komunikasi Efektif”, ia mengenalkan berbagai jenis, gaya dan karakter komunikasi di muka bumi ini. Sebagai seorang pakar komunikasi yang ulung, ia menyuguhkan informasi segar yang mungkin sangat bermanfaat bagi kita, khusunya untuk membangun citra diri ketika akan berhadapan dengan ‘orang Asing’, terutama mereka yang punya latar belakang berbeda-beda.
Model komunikasi, kata Mulyana, dapat dipetakan menjadi dua hal, yaitu komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri. Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Ciri komunikasi model ini yaitu kalau mau mengutarakan sesuatu pesan cenderung dengan basa-basi terlebih dahulu, bahkan sering menggunakan kata-kata kiasan yang sekiranya bisa menyentuh, dengan tidak menyebutkan pesan secara langsung.
Model semacam ini, sering digunakan Gus Dur ketika memberi keterangan atau tuduhan kepada lawan bicaranya. Akhirnya, pesan itu sering tidak jelas apa yang sesungguhnya dimaksud. Model komunikasi demikian, dapat dijumpai dari budaya Jawa dan Timur Tengah yang sering ditandai dengan menggunakan bahasa kiasan/sindiran dengan ungkapan halus, tapi sebenarnya menegur/memuji.
Sementara komunikasi konteks rendah adalah komunikasi yang bersifat langsung, apa adanya, lugas tanpa berbelit-belit ngalor-ngidul. Karakter komunikasi semacam ini biasa terjadi di Barat, mereka sukanya to the point tidak suka basa-basi seperti orang Jawa. Pokok pembicaraan (pesan) yang dituju sangat mudah diterima oleh lawan bicaranya (penerima pesan), tanpa harus menafsirkan lagi dari pokok pembicaaran yang berlangsung. Komunikasi model ini, kata mulyana, sering dipakai Amien Rais atau Nurcholish Madjid ketika melakukan kritik atau tanggapan pada lawan-lawannya. Cukup alasan, karena keduanya kedua tokoh tersebut merupakan jebolan Barat (Amerika). Komunikasinya jelas tanpa tedeng aling-aling (ditutup-tutupi) lagi bahwa yang dimaksud memang apa adanya seperti itu.
Nah, lalu apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif itu? Mulyana mendefinisikan bahwa komunikasi efektif adalah bentuk kolaborasi antara sisi-sisi positif komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Gaya komunikasi efektif lebih mencerminkan ketulusan, keterbukaan, kejernihan, keterus-terangan, kesederhanaan dan kesantunan dalam berbicara. Komunikasi fektif, lanjut Mulyana, bukan suatu komunikasi yang pesan-pesannya penuh humor dan kiasan, begitu juga bukan komunikasi yang menohok.
Komunikasi efektif dibangun berdasarkan sistem kepercayaan dan sistem nilai. Karena itu, komunikasi akan menjadi bermakna, manakala Anda dapat menempatkan diri pada situasi dan kondisi berdasarkan sitem kepercayaan dan sistem nilai itu. Jika kedua hal tersebut, dapat Anda dikuasai dan hayati, maka Anda akan mudah melakukan interaksi dengan siapa pun dan di mana pun. Komunikasi efektif menjadikan sarana Anda untuk memahami segala karakter budaya di jagad raya ini.
Komunikasi efektif tidak selalu identik dengan verbal (kata-kata). Komunikasi efektif bisa saja menggunakan isyarat (gesture), seperti gerakan tubuh, gerakan kepala, ekspresi wajah, kontak mata merupakan perilaku-perilaku yang semuanya disebut bahasa tubuh yang mengandung makna pesan yang potensial. Di antara sekian banyak perilaku non-verbal, senyuman, pandangan mata, atau sentuhan seseorang sering merupakan perilaku non-verbal paling berpengaruh.
Konon, di Eropa bahasa tubuh merupakan indikator dari tingkat pendidikan dan kesopanan seseorang-suatu hubungan yang agak diabaikan di Amerika Serikat. Dengan komunikasi non-verbal, orang dapat membaca keadaan emosional orang lain lewat pengamatan atas perilaku non-verbal dengan tingkat kecermatan yang memadahi. Dengan demikian, komunikasi non-verval tetap harus diperhatikan sebagai cara membangun komunikasi efektif.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar