Rabu, 07 April 2010

Pendidikan Unggulan berbasis Pesantren

Oleh: Mujtahid

BELAKANGAN ini, eksistensi pendidikan secara berlahan-lahan telah menunjukkan titik pencerahan. Meskipun kondisi bangsa belum mengalami peningkatan good goverment seperti sekarang ini tetapi pendidikan dapat berjalan sabagaimana mestinya. Anak-anak bangsa memiliki semangat untuk belajar mandiri dan diharapkan kelak nanti menjadi tokoh dan penerus pemimpin bangsa ini. Tidak hanya itu, tingkat kesadaran masyarakat mulai tergugah menyekolahkan anaknya demi masa depan mereka sendiri.
Wacana menarik yang sempat menjadi bahan perbincangan oleh pakar pendidikan adalah munculnya sekolah unggulan dan eksistensi pendidikan pesantren. Sebagaimana kita lihat bahwa di beberapa kota besar telah menjamur sekolah unggulan belakangan ini. Sementara sebagian di pedesaan masih kuatnya sistem pendidikan pesantren. Dua model pendidikan tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan yang melengkapi. Paling tidak, asumsi dasar penulis menganggap bahwa ada sebuah hubungan yang sinergis antara dua model pendidikan tersebut.
Potret Sekolah Unggulan
Sekolah unggulan yang lahir belakangan, tentu berdasar pada inovasi kekinian dan sengaja dipersiapkan terhadap kebutuhan modernitas yang berkembang sangat pesat. Sebagai salah sat alternatif pendidikan kontemporer, sekolah unggulan berusaha menampilkan visi orientasi pendidikannya pada dataran realitas. Berbagai kemungkinan masa depan yang bakal terjadi, pendidikan unggulan mencoba menawarkan “nilai jual”, daripada “jual nilai” yang kehilangan realitasnya. Sekolah unggulan tentu saja mengadopsi dari beberapa sistem pendidikan.
Sampai sekarang, sekolah unggulan masih tergolong langka dan tidak semua orang dapat ‘menyentuh’ model sekolah itu. Sekolah unggulan mencoba tampil beda dari yang lain. Sistem pendidikannya dikelola secara profesional dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadahi. Dari gedung sekolah sampai tempat pemondokan disediakan dengan sarana mewah. Alat-alat penunjang belajar tercukupi yang disediakan untuk anak didik. Bahkan lingkungannya pun memilih pada dataran yang benar-benar alami yang jauh dari polusi udara dan limbah kotoran.
Lain dari pendidikan pesantren, sekolah unggulan menekankan kedisiplinan belajar cukup tinggi. Karena itu, siswa yang tidak naik kelas atau nilainya rendah sudah barang tentu mendapat teguran (penyadaran). Model sekolah seperti ini memang ketat dan sangat formal yang tidak dimiliki pesantren atau sekolah lainya.
Model sekolah unggulan saat ini menjadi trend di tengah-tengah masyarakat. Menjamurnya model sekolah unggulan tidak lagi terdengar asing di telinga kita. Kebanyakan model sekolah tersebut terdapat kota-kota besar, seperti Jakarta, Bogor, tetapi sekarang sudah mulai merembet ke daerah-daerah tingkat II seperti yang ada di Jombang dan dibeberapa kota setingkat lainnya.
Seperti yang banyak dikemukakan oleh pakar pendidikan bahwa model sekolah unggulan merupakan terobosan baru untuk menjembatani antara dua sisi yakni kualitas ilmu-ilmu umum dan kualitas ilmu-ilmu agama. Di tengah era global yang sedang berjalan ini, dua nilai keilmuan tersebut harus dipadukan menjadi entitas yang utuh. Keilmuan umum (modern) tanpa dilandasi oleh nilai agama akan menyeret manusia kepada jurang kehancuran atau paling tidak bisa diklaim sebagai manusia sekuler. Sebaliknya nilai agama tanpa ditopang dengan nilai keilmuan umum akan tergilas oleh orang yang memiliki iptek yang canggih. Model semacam inilah yang seharusnya diterapkan oleh lembaga-lembaga pendidikan yang ada.

Model Pesantren
Pesantren sebenarnya termasuk pendidikan yang paling berjasa dalam pengkaderan ulama (orang yang berilmu). Namun kemudian karena pesantren diidentikkan dengan pendidikan kaum kiayi maka prosentase penminatnya semakin berkurang. Meskipun demikian pesantren telah membawa dampak yang berarti bagi dinamika pendidikan. Pesantren sebagai pendidikan non formal tentu sistem dan model belajar mengajarnya pun masih banyak memakai cara-cara konvensional, kecuali pesantren yang sudah agak tergolong modern.
Model pendidikan pesantren lebih banyak memakai cara-cara kultural dari pada cara-cara struktural. Dari perjalanannya, pesantren sedikit demi sedikit telah mengalami perubahan pada sistem manejerialnya, kecuali pesantren yang tergolong salaf. Ciri khas dari model pendidikan pesantren salaf adalah peserta didik kurang diajak terlibat secara aktif, hanya mendengar dan menirukan dan biasanya hanya menumbuhkan budaya “patuh” daripada proses penyadaran atau menumbuh-kembangkan daya kreativitas anak didik tersebut. Sementara ciri yang menonjol lainnya adalah kadar lamanya waktu ‘nyantri’ (belajar) yang menjadi patokan kesuksesan.
Namun, pesantren bukan berarti tidak mempnyai arti dalam realitas kehidupan masyarakat, justru pesantren banyak memberi andil dalam putaran pendidikan yang tergolong paling awal. Sebelum pendidikan formal muncul, pesantren terlebih dahulu menjadi miniatur belajar. Jadi pesantren merupakan cikal bakal lahirnya lembaga pendidikan. Sehingga kehadiran pesantren tidak hanya sebagai mediator proses belajar mengajar tetapi juga sebagai benteng kekuatan yang patut diperhitungkan ketika ikut mempelopori kemerdekaan bangsa ini.
Sebagai lembaga pendidikan, model pesantren sebenarnya dapat diambil ‘semangat’nya yang kemudian diterapkan pada suatu lembaga umum lainnya. Semangat itu adalah terletak pada ketekunan dan keuletan. Sebab pendidikan umum lainnya hanya mampu mengasilkan lulusannya dengan reputasi ilmu-ilmu umum. Sementara ilmu agama sangat sulit didapat di sekolah umum secara memadahi. Pendidikan model pesantren boleh jadi sebagai penopang terhadap pendidikan umum yang kurang memiliki besic keagamaan itu.
Model Konvergensi
Agaknya, kita juga berpikir bahwa untuk memadukan antara model pesantren dan sekolah umum memang tidak mudah. Kendala utamanya adalah bukan terletak pada proses belajar mengajar di dalam kelas, tetapi terletak pada proses pembinaan secara intensif di luar kelas. Oleh karena itu, salah satu alternatif yang berusaha untuk memadukan dua model tersebut hanyalah model sekolah unggulan. Model pendidikan unggulan sudah menjadi kebutuhan paling urgent yang segera dapat menjawab dan memenuhi tantangan global itu.
Sekolah unggulan lahir sebagai salah satu tuntutan zaman dan upaya untuk mengurangi kesenjangan antara mutu pendidikan agama dan mutu pendidikan umum. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan unggulan merupakan salah satu pendidikan memiliki daya saing dengan mutu luar negeri. Manejerial sekolah unggulan tertata rapi yang tersedia segala macam kebutuhan pendidikan. Memang, pendidikan semacam inilah yang sebetulnya kita harapkan supaya produktifitas dan tersedianya sumber daya manusia (SDM) secara berlahan-lahan terwujud dengan baik.
Namun model sekolah unggulan juga tidak terlepas dari kekurangan dan kelebihan. Misanya, biaya kurang terjangkau oleh kelompok masyarakat kelas menengah kebawah. Selama ini, yang mampu untuk menyekolahkan pada sekolah unggulan tergolong anaknya para pejabat dan pengusaha yang berhasil. Sementara untuk orang-orang yang penghasilannya pas-pasan tentu juga berpikir kali lipat, karena masih banyak kebutuhan pokok yang juga membutuhkan biaya. Sehingga timbul sebuah kesan bahwa sekolah unggulan hanya milik orang kaya atau paling tidak dimonopoli oleh segelintir orang elit.***
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Selasa, 06 April 2010

Fenomena Kebangkitan “Santri Bule”

Mujtahid*
SAAT Islam dipandang pejoratif oleh bangsa Barat, ternyata sebagian warganya sendiri tertarik untuk mempelajari Islam. Kepemelukan mereka terhadap Islam adalah gejala yang sangat fenomenal, yang sulit dijelaskan secara sosiologis maupun psikologis. Tak kalah menariknya lagi, sebagian besar yang terpesona dengan Islam, justru kaum wanita, suatu kaum yang sering didiskriditkan dalam Islam.
Ada sebuah buku yang isinya mengulas tentang fenomena kebangkitan umat Islam di Barat. Buku yang ditulis Dedi Mulyana itu merupakan himpunan dari luapan perasaan suka-duka “Santri Bule”, untaian perjalanan rohani mereka yang tengah belajar tentang Islam. Antusiasme mereka terhadap Islam ditunjukkan dengan berbagai cara yang mereka lakukan. Bahkan, cara sufi yang terkenal dengan zuhudnya (asketis) dilakukan oleh sebagian Santri Bule di Barat. Fenomena ini betul-betul membuka mata sejarah agama-agama dunia, bahwa Islam ternyata masih dapat dipandang sebagai agama yang mampu memberikan ketentraman bathin, kedamaian rohani dan kesejukan psikologis di mata orang Barat.
Sebagai gejala yang agak sulit disangka, Muslim Santri Bule memperlihatkan suatu prestasi tersendiri bagi dunia Islam. Sejak lama, minat orang Barat untuk mengkaji Islam memang sudah menjadi gejala umum, tetapi minat untuk menerima Islam sebagai agama mereka, merupakan “keberanian” sekaligus kepasrahan yang benar-benar misterius dan ajaib bagi orang Barat.
Seperti yang diungkap Dedi, minat orang Barat terhadap Islam dari tahun ke tahun menunjukkan grafik yang terus meningkat, terutama di Amerika, Eropa dan Australia. Sebagian besar mereka, yang tertarik Islam rata-rata adalah kaum terpelajar yang berpendidikan menengah ke atas, dan lebih didominasi kaum wanita. Bahkan, di Prancis pernah terjadi “gempa, goncangan” karena merajalelanya Islam di sana. Ada sebuah pergeseran persepsi kaum non Muslim terhadap kaum Muslim di negara itu. Seorang Muslim yang memasuki restoran biasanya akan ditanya terlebih dahulu, “Monseur, vous etes Musulman”? (Tuan, apakah Tuan seorang Muslim), untuk tidak diberi hidangan yang haram menurut Islam. Suatu “penghargaan agama” yang harus dihormati, sekalipun di tengah keyakinan mayoritas penduduk.
Lebih dari enam puluh Santri Bule menuturkan pengalaman religiusnya secara menarik dan beragam. Seperti yang disinyalir oleh Dedi Mulyana,melalu hasil risetnya, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi mereka masuk Islam. Selain menjadi hak mutlak Tuhan (atas hidayah Allah), mereka merasakan dalam jiwanya sebuah kekecewaan beragama dan kelaparan spiritual dari agamanya semula. Terutama menghadapi sebuah tekanan ideologi kapitalisme yang semakin akut.
Secara faktual, fenomena tersebut memang menarik ditelusuri secara mendalam. Karena, mereka pasti punya alasan dan argumentasi yang kuat untuk menjelaskan proses perindahan agamanya. Beberapa sebabnya pasti berkaitan dan berakumulasi. Suatu sebab yang lazim disebut oleh para pemeluk baru Islam adalah ketidakpuasan mereka terhadap agama lama mereka. Kristen sebagai agama dominan selama belasan abad telah gagal memberikan tuntunan mereka karena sebagian ajarannya dipandang tidak rasional dan mengandung pertentanngan-pertentangan seperti trinitas, dosa waris, kematian Tuhan dan kebangkitan-Nya kembali, dan jamuan kudus.
Di kalangan pendeta Kristen, mulai ada yang merisaukan sumber ajaran atau doktrin Kristen. Secara persentatif, hampir sepertiga Sekte Pendeta tidak lagi percaya bahwa Kristus benar-benar bangkit dari mati. Separo Sekte pendeta juga tak percaya Yesus lahir dari perawan Bunda Maria. Bahkan yang mengerikan lagi, lebih dari delapan puluh persen Sekte Pendeta tidak mempercayai bahwa Bibel merupakan Firman Tuhan. Di Barat, generasi muda juga pada enggan menghadiri Gereja. Penganut Katolik dan Protestan tidak lebih dari tiga puluh persen yang pergi ke gereja. Lebih dari itu, sebagian orang Barat menyebut nama Kristus, tetapi sekedar penghias saja, atau direduksi menjadi sumpah serapah.
Sumber lain yang meyebabkan mereka berpindah agama adalah tekanan kapitalisme Barat yang dekaden dan merosotnya moral keluarga. Kecenderungan ini terjadi sejak tahun 1960-an sebagian generasi Barat (Amerika, Inggris, Jerman, Australia dsb.) mengikuti gerakan the new age. Terutama anak-anak muda berasal dari keluarga kelas menengah. Mereka jenuh dengan sistem nilai mereka yang lama dan mencari nilai-nilai baru bagi hidup mereka. Tetapi yang mereka cari, justru yang aneh-aneh, bahkan juga irasional. Yang lebih parah lagi, mereka melibatkan diri dalam kejahatan moral, seperti seks bebas, mengkonsumsi obat terlarang, dan bahkan bunuh diri.
Melihat krisis moral di atas, sebagian mereka mulai sadar dan berusaha mencari alternatif pegangan hidup yang lebih baik. Islam dalam pandangan mereka, merupakan “tujuan” yang dapat menjadi harapan dan solusi untuk mengobati kegelisahan hidup yang mereka hadapi. Selain motif tersebut, ketertarikan Santri Bule terhadap Islam ada yang lewat mimpi, mendengar tilawah ayat al-qur’an, melihat prilaku Muslim yang kasih sayang dan lain sebagainya.
*) Mujtahid,Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Senin, 05 April 2010

Memahami Teologi; Upaya Tansformasi Antroposentris

Oleh: Mujtahid
WILAYAH keagamaan yang paling sensitif, empiris dan bertendensi inklusif adalah wilayah teologis. Meskipun pada mulanya teologi merupakan tataran normatif, tetapi pesan yang terkandung di dalamnya bukan sesempit dan separsial yang dipahami orang. Wacana teologis tidak dapat dilepaskan dengan berbagai aspek kehidupan. Hal ini bisa kita lihat bahwa banyaknya proyek kehidupan yang tidak berpijak pada landasan teologis.
Makna teologi sebagaimana dipahami banyak orang, biasanya hanya berkisar pada tataran normatif dan berputar pada masalah-masalah ritualistik. Padahal, wilayah teologi merupakan bentuk bangunan pemikiran keagamaan yang seharusnya membumi secara historis-empiris. Sampai saat ini, bangunan teologi keagamaan dapat ditemui di sana-sini, rasanya masih enggan menyentuh wilayah yang semestinya menjadi bidang garapnya.
Kenyataan ini, sudah mewabah pada setiap pemeluk agama, khususnya kaum abangan dan kelompok tradisionalis. Berbagai diskusi dan dialog mengenai teologi, yang dilakukan oleh semua pihak, baik kalangan akademis maupun kalangan praktisi menyebutkan bahwa teologi bukan sesuatu yang dijadikan pijakan aktivitas. Antara kelompok abangan (tradisionalis) dan kelompok terdidik (modern) terjadi kesenjangan terhadap pemahaman tersebut.
Sebagaimana yang terlihat, nampaknya kaum abangan dan tradionalis lebih mengedepankan simbol-sibol artificial daripada makna kontekstual yang merupakan sumber semangatnya itu. Mereka lebih memegangi teologi secara tekstual, parsial dan dijadikannya sebagai wadah dan alat perjuangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa mereka yang pemahamannya amat sempit dan pendek ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa dangkalnya pemahaman dan tipisnya wawasan keilmuan yang mereka miliki.
Dalam memasuki wilayah praksis kenegaraan misalnya, teologi keagamaan dipandang sebagai simbol utama yang ikut memainkan peran politiknya. Peran “ketuhanan” dalam dimensi politik sebagaimana yang mereka pahami, amat kental dengan nilai-nilai normatif yang berjangka dekaden dan temporal. Kelompok ini dapat kita temui seperti, kelompok yang mengakui bahwa ketika naiknya Gus Dur sebagai presiden, mereka menganggap ia naik semata-mata karena atas kehendak Tuhan, bukan atas hasil rekonsialisasi dari berbagai elemen partai politik yang juga ikut memainkan peran kunci terpilihnya Gus Dur.
Pemahaman inilah sebenarnya yang dapat menjustifikasi dirinya terhadap kedangkalan artikulasi teologis. Kelompok tradisionalis dalam memahami teologi hanya berpusat pada bangunan kalam klasik. Jauh dari sentuhan budaya dan pemikiran modern. Aktifitas keagamaan yang mereka refleksikan sehari-hari merupakan inspirasi yang di dapat dari doktrin-doktrin mentah dan tekstual.
Karena itu, kita tidak heran kalau mereka bersi keras menolak peremajaan budaya, informasi modern sering menyerang kemapanannya. Sebetulnya, bukan terletak pada mau tidaknya menerima, tetapi karena dangkalnya pengetahuan dan pemahaman teologi mereka.

Peran Teologis di Era Global
Dalam wacana global sekarang, tentu sulit melepaskan dari ikatan budaya global yang menjadi bagian integral terhadap seluruh aspek kehidupan. Budaya asing (baru) tidak lagi bisa kita bendung dengan hanya mengandalkan besic agama, melainkan juga harus disambut dengan basic keilmuan modern. Karena bentuk budaya apapun, selagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, maka sudah sepatutnya mendapat ruang untuk bisa hidup, meskipun budaya tersebut datangnya dari bangsa asing. Menghadapi era global, upaya yang harus dipersiapkan adalah membangun dua kekuatan yang saling melengkapi yaitu bangunan ilmu agama dan ilmu modern.
Selama ini, dua bangunan keilmuan tersebut --agama dan umum-- kurang berjalan secara harmoni, akur dan malah terjadi dikhotomi wilayah. Bagi ilmu-ilmu agama hanya memegangi dan berputar-putar pada wilayah agama semata-mata. Begitu juga wilayah ilmu-ilmu umum (modern) juga berjalan tanpa melibatkan agama sebagai landasan dan pijakannya, sehingga hasil yang diperoleh biasanya dikesankan agak sekuler. Lalu bagaimana mungkin kita dapat memetik buah keilmuan yang utuh, sedangkan dua keilmuan tadi dalam batas-batas tertentu tidak pernah bisa kompromi secara haromis. Inilah kendala yang dialami oleh umat dalam memadukan antara nilai religiositas dan intelektualitas. Sulit memang, memadukan antara intelektualitas dan religiositas menjadi entitas.
Sebagai bukti bahwa di negara-negara Barat ilmu pengetahuan modern dapat berkembang sangat pesat, dan kadang-kadang hampir sampai melampui batas agama dan nilai kemanusiaan. Sebaliknya negara-negara Timur, ilmu agama bisa berjalan dengan spektakuler, namun karena tidak ditopang dengan ilmu-ilmu umum maka hasilnya kurang representatif bagi kehidupan ini. Fenomena ini menjadi bukti sejarah dunia yang tidak bisa terlupakan.

Teologi; Transformasi Antroposentris
Untuk mengakhiri fenomena di atas, upaya rekonstruksi teologi harus menjadi tema sentral untuk mencarikan alternatifnya. Sebab teologi merupakan dasar dan landasan terhadap seluruh aktivitas. Lebih-lebih dalam membangun dan menekuni bidang keilmuan. Rekontruksi teologi pada tataran empiris seharusnya disentuhkan dengan wacana antroposentris. Apapun hasilnya, upaya ini menjadi keharusan bagi pemeluk agama agar bisa survive di tengah era glabal.
Selama ini, teologi dalam pandangan tradisionalis adalah suatu janji-janji atau balasan indah yang digambarkan dengan sorga dengan segala isinya, serta bentuk larangan yang kemudian mempersempit aktifitas geraknya. Teologi bukannya sebagai satu bentuk kesadaran atau daya kreatif, justru mematikan dan membuat rasa takut yang menyelimuti garis hidupnya. Padahal, teologi tidaklah apa yang ada dibenaknya itu. Misi teologi adalah membentuk misi kemanusian universal dan bukan mementingkan subyektifitas. Teologi dalam arti sebenarnya harus memasuki wilayah universalitas secara totalitas. Tidak dikenal adanya dikhotomi antara profanitas dan sakralitas. Begitu pula tidak ada pemisahan antara urusan dunia dan urusan akhirat. Kedua urusan tersebut harus berjalan sealur, seirama dan saling memperkaya.
Sepanjang sejarah peradaban yang lahir di muka bumi ini, konsep teologi macam apapun tidak pernah mengajarkan bahwa kepentingan individu mengalahkan kepentingan sosial. Meskipun dari “kaca mata” non teologis, agaknya sangat sulit kita menerima formulasi tersebut. Aspek kemanusiaan universal merupakan tujuan utama yang harus dihargai dan dijunjung tinggi. Prinsip teologi adalah prinsip kemanusiaan. Sedangkan nilai ketuhanan merupakan landasan utama dalam mengejawantahkan tatanan universalitas.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kesalahan pemahaman terhadap teologi juga mengakibatkan buramnya peta umat dan keringnya inovasi yang lebih segar dan kreatif. Inovasi konsep teologi harus dilakukan secara berlahan-lahan namun pasti agar dapat menghasilkan prinsip kehidupan yang anggun. Hasil yang diperoleh, di samping menguntungkan secara pribadi, juga menguntungkan bagi umat, dan manusia secara keseluruhan. Satu pihak dapat meningkatkan kehidupan seseorang dan di lain pihak menguntungkan kehidupan sosial.
Teologi hendaknya dibangun di atas pondasi nilai kemanusian universal. Dan dapat menjadi kekuatan yang ampuh untuk memfilter arus budaya yang masuk. Teologi harus dipahami secara konstektual sehingga dapat membumi pada lapisan historis-empiris.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Minggu, 04 April 2010

Menyoal Nasib Kaum Buruh

Oleh: Mujtahid

MENCERMATI aksi massa pada akhir-akhir ini, menunjukkan kepada kita bahwa seperti halnya gelombang air laut yang pasang surut. Issu-issu yang sering muncul kepermukaan adalah seputar persoalan perburuhan atau ketenagakerjaan yang menyangkut mengenai kenaikan gaji, peningkatan kesejahteran dan menuntut perlindungan hak-haknya. Aksi massa yang dilakukan sebagian besar kaum buruh atau pekerja tersebut biasanya diwujudkan melalui bentuk unjuk rasa, mogok kerja dan demontrasi. Aksi demikian ini selain banyak memicu berbagai elemen yang ada pada pemerintahan, sekaligus juga di lingkungan masyarakat. Dan barangkali cara inilah bagi mereka untuk menyampaikan tuntutan dan aspirasinya.
Dalam berbagai event, kaum buruh dan pekerja memilih jalur dengan unjuk rasa, mogok kerja dan demonstrasi merupakan salah satu media yang tepat untuk menyalurkan tuntutannya supaya langsung didengar dan dirasakan oleh atasannya, baik dihadapan pemerintah maupun lembaga atau perusahaan di mana mereka kerja. Hampir setiap ada unjuk rasa atau mogok kerja, yang dituntut adalah kenaikan upah dan hak-haknya yang kurang dipenuhi. Seperti yang pernah dilakukan oleh Marsinah pada pada tahun 1993 lalu, ia memperjuangkan hak-hak buruh supaya diperhatikan oleh perusahaannya. Marsinah merupakan tonggak sejarah yang memperoleh penghargaan internasional, dalam keberaniaannya mengungkapkan segala bentuk kebrobrokan kaum buruh dialami.
Selama ini, kaum buruh atau pekerja kurang diperhatikan secara serius. Apa yang menjadi tanggung jawab pemerintah, ternyata secara riil tidak mampu mengangkat kesejahteraan para kaum buruh. Hal terbukti bahwa para konglomerat gaya hidupannya semakin melangit dan berfoya-foya, sementara para buruh semakin tertindas dan memperhatinkan. Kesenjangan ini sebagai salah indikator yang menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat bawah masih sangat memprihatinkan. Harusnya pemerintah banyak memperhatikan dan memihak kepada kelompok bawah, ketimbang kelompok menengah ke atas yang hidupnya sudah mewah itu. Mengurangi tingkat kesenjangan antara kelompok buruh dan kelompok elit tidak ada cara lain kecuali mengangkat garis derajatnya.
Seharusnya pemerintah dalam mengambil kebijakan, yang perlu didahulukan adalah kepentingan kaum pinggiran, tertindas oleh deru mesin pembangunan. Jadi kebijakan tersebut harus menguntungkan bagi kelompok kelas bawah. Selain tidak mengurangi dan melanggar hak-hak kelompok atas. Dengan cara inilah kaum buruh akan merasa tersentuh dan tergugah bahwa dirinya telah diperjuangkan.
Masalah perburuhan memang sangat memprihatinkan. Dalam skala macro, penduduk Indonesia adalah kaum buruh. Jika kita lihat Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang ada di luar negeri, mereka adalah buruh. Mereka adalah salah satu korban dari sistem pemerintah yang kurang bisa menyediakan lapangan kerja baginya. Tingkat perkembangan ekonomi rakyat juga ditentukan oleh para TKI yang ke luar negeri. Mereka bisa membangun rumah, melengkapi kebutuhan skunder dan sampai barang yang serba mewah, lantaran telah memperoleh kesempatan kerja ke luar negeri.
Jadi image buruh dalam masyarakat, menilai bahwa kesuksesan baginya adalah menjadi buruh negara lain. Kalau hanya mengandalkan menjadi buruh negara sendiri, sangat sulit untuk bisa membangun. Sehingga standar hidup mereka adalah mengandalkan hasil menjadi buruh di negara orang lain. Di samping tingkat persaingan sangat ketat, di negara sendiri kurang menjamin kelayakan hidup yang memuaskan. Mereka banyak mengeluh yang karena salah satunya adalah rendahnya gaji yang diterima dan lebih-lebih harga dirinya yang selalu diabaikan.
Padahal, kita tahu bahwa cita-cita negara ini dibagun, perekonomian bangsa diatur oleh pemerintah berdasarkan azas kekuluargaan, bukan personal dan kelompok. Tetapi dalam prakteknya perekonomian yang terjadi, hanya dikuasai oleh segelintir dan sekelompok orang. Proses persaingan ekonomi menunjukkan gejala yang kurang sehat di tingkat masyarakat. Sehingga kemajuan perekonomian yang dicapai oleh Indonesia bukan pada tataran kualitas, tetapi hanya pada tataran kuantitas, yang biasa dihitung dengan material atau fisik.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah, meskipun dengan cara utang ke luar negeri untuk membangun Indonesia tetapi yang dihasilkan hanya terlihat secara fisik dalam bentuk gedung dan fasilitas saja. Sedangkan bangunan non materi (kualitas pemberdayaan SDM) misalnya, kurang diperhatikan. Oleh karena itu, hasilnya tidak sebanding dengan semangat utangnya yang dipinjam dari luar negeri itu.
Dari sisi inilah kita bisa menilai bahwa kauh buruh kurang diberdayakan secara baik. Mereka hanya dipasok untuk menemani tenaga mesim. Sedang upaya untuk menambah wawasan, kesejahteraan, serta hal-hal yang berhubungan dengan keselamatan jiwa tidak menjadi satu agenda kerja.
Bukan hal aneh lagi terdengar di telinga kita, bahwa persoalan perburuhan memang mengundang perbincangan ditingkat ketenagakerjaan ditingkat atas. Hasil dari beberapa pembicaran yang ditelorkan nampaknya belum cukup untuk menyelesaikan isu santer yang muncul belakangan kemudian. Sehingga persoalan satu dengan persoalan lain, menumpuk menjadi satu tak terpecahkan.
Memang, dalam tataran dunia kerja terlihat ada sebuah keterikatan antara atasan (majikan) dengan buruh. Namun nampaknya kedua pasangan ini selalu ada pihak yang selalu dikalahkan, yakni kaum buruh. Padahal dalam sudut pandangan apapun mereka adalah satu mitra untuk saling bekerja sama dan saling membutuhkan. Jika sikap atasan kurang menghormati kepada karyawannya dengan baik, maka tindakan buruh pun akan berakibat buruk kepada atasannya.
Sebagai bagian yang tak dapat dipisahkan, pihak buruh selalu dalam keadaan yang serba dilematis. Apalagi dalam percaturan dunia global sekarang ini. Dunia kerja di era informasi jauh lebih berat saingannya dibandingkan dengan dunia kerja pada masa lalu. Salah satu tuntutan yang harus dipenuhi oleh kaum buruh adalah kemampuan dan daya ketrampilannya. Dalam pasaran kerja, pihak produsen pasti secara langsung atau tidak, melihat dari sisi kualitas kinerja para karyawan itu. Sehingga perekrutannya juga didasarkan pada sisi kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Nilai jual karyawan semata-mata diukur dengan daya kemampuan (skill) bukan pada fisik.
Sebagai salah satu proyek yang sulit dilupakan adalah banyaknya para karyawan yang kurang memiliki keahlian khusus. Sehingga hal ini sangat mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan oleh perusahaan atau institusi yang lain. Pengembangan bidang keahlian saat ini menjadi sorotang bagi para pekerja yang hendak memasuki dunia kerja.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Sabtu, 03 April 2010

Portofolio Sebagai Proses Evaluasi Hasil Belajar

Oleh Mujtahid *
SEIRING dengan penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), portofolio merupakan lembar informasi hasil pembelajaran yang digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan dari agenda KTSP tersebut. Portofolio merupakan sebuah proses rekapitulasi berlangsungnya kegiatan pembelajaran secara detail peserta didik. Selain sebagai evidensi (dokumen) hasil proses belajar mengajar, portofolio juga menjadi sumber penting untuk menentukan kebijakan guru dan sekolah.
Menurut Surapranata dan Hatta, Penulis buku “Penilaian Portofolio” (2004), menyatakan bahwa portofolio dirancang untuk mengetahui kemajuan peserta didik dalam satu kompetensi dasar atau indikator pencapaian hasil belajar dalam kurun waktu tertentu. Portofolio berguna untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan peserta didik dan sekaligus seberapa jauh kurikulum dapat berjalan secara maksimal. Jadi antara implementasi kurikulum dengan hasil serap peserta didik setidaknya dapat diketahui dengan menggunakan portofolio.
Dalam proses pembelajaran, terdapat tiga hal yang saling berkesinambungan, yaitu materi (kurikulum), metode (cara, pendekatan) dan evaluasi (penilaian, pengukuran). Ketiga hal itu saling terkait satu sama lain dan sulit dipisahkan. Seperti yang terungkap dalam buku ini, bahwa penilaian merupakan tugas yang membutuhkan pencermatan, keobyektifan dan secara terus menerus. Penilaian bukanlah hasil rekaan, imajinatif atau catatan kosong, tetapi penilaian adalah suatu cacatan realitas yang penuh arti dan makna, baik bagi penilai maupun yang dinilai ataupun pengguna nilai. Sehingga penilaian itu harus menunjukkan kategorisasi yang lengkap dan utuh, dan hal itu terumuskan secara sistematis dalam bentuk portofolio.
Seperti yang terjadi pada perkembangan dekade terakhir, bahwa penilaian portofolio merupakan suatu pendekatan baru yang menjadi paket dari implementasi KTSP. Konsep ini, belajar dari keberhasilan pendidikan di negara-negara maju, bahwa portofolio digunakan sebagai bahan untuk standarisasi. Selama ini, standar capaian mutu pendidikan masih bersifat tradisional yakni menggunakan penilaian yang bersifat paket dari materi atau untuk mengejar materi habis. Dengan penilaian portofolio, interaksi edukatif akan terkontrol secara menyeluruh, karena penilaian ini berjalan mulai dari awal hingga akhir kontrak studi belajar.
Implementasi penilaian portofolio ini akan memudahkan guru melihat perkembangan peserta didik sampai batas-batas tertentu. Melalui penilaian portofolio, peserta didik juga bisa mengetahui tentang aspek-aspek apa saja yang mereka sudah kerjakan selama waktu belajar. Segala kelemahan dan keunggulannya mereka dapat mengakses melalui lembar portofolio. Selain itu, portofolio juga memungkinkan peserta didik dapat menunjukkan kelebihan yang mereka miliki dalam kelas-kelas yang heterogen.
Lebih dari itu, penilaian portofolio membantu guru dalam melakukan penempatan kelas peserta didik agar proses belajar mereka lebih dinamis dan kreatif, serta mendorong perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Tugas ini memacu guru untuk bertanggungjwab (akuntabilitas) terhadap konstituen (peserta didik) orang tua, dan masyarakat. Dengan adanya portofolio, akses peserta didik, orangtua, dan masyarakat dapat mengetahuinya secara transparan dan obyektif dari hasil belajar.
Satu hal lagi yang menjadi penekanan pada penerapan KBK adalah penilaian berbasis kelas. Konsep tersebut merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, yakni standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian belajar. Dari hasil penilaian tersebut, akan bermanfaat bagi peserta didik sendiri, orangtua, dan bagi masyarakat.
Sebagai upaya pembaruan proses kegiatan pembelajaran, penilaian berbasis kelas ataupun penilaian portofolio memberikan kerangka dasar yang lebih maju ketimbang sebelumnya. Upaya ini akan secara terus menerus menggali kompetensi peserta didik agar mereka dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan. Sehingga prinsip penilaian berbasis kelas atau juga portofolio berangkat dari kerangka motivasi, validitas, adil, terbuka, berkesinambungan, bermakna dan menyeluruh. Dari prinsip tersebut, tugas dan tanggung jawab guru di sekolah akan semakin jelas dan dapat dibedakan dengan profesi lain.

*)Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Jumat, 02 April 2010

Relasi Sains dan Etika Lintas Agama

Mujtahid*

PERDEBATAN sains dan agama bukanlah hal baru dalam belantika kehidupan manusia. Agama dan sains telah menunjukkan perseteruan yang luar biasa ketika munculnya watak reduksionis dan parsialis dalam tubuh sains maupun agama. Keduanya seolah telah terisolasi dan sulit diharmoniskan secara utuh dan universal.
Dewasa ini, banyak tawaran baru agar sains dan agama harus diintegrasikan. Tujuannya supaya tidak terjadi ketegangan yang akut. Zainal Abidin Bagir (2007) menawarkan alternatif cemerlang untuk menyingkap watak kosmologis dan antropologis dengan mendasarkan pada nilai-nilai metafisika dan normatif (wahyu) lintas agama.
Jalan pencarian kearah titik temu (sintesis) yang harmonis tentu saja butuh metodologi, sistematika dan logika (penafsiran) yang tajam dan valid. Karena selama ini agama hanya cenderung difungsikan sebagai “alat pembenaran” atas temuan yang ada dalam realitas sains.
Problemnya adalah ketika temuan itu tidak memperoleh “justifikasi” dalam agama, maka sains atau teknologi dipandang tidak memiliki keabsahan dan sering berujung pada pertentangan dengan agama. Inilah salah satu bentuk kelemahan atau problem relasi sains dan agama yang terjadi selama ini.
Padahal kini agama harus menjawab temuan-temuan baru terhadap sains modern dan teknologi mutakhir yang berkembang sangat pesat. Secara eksplisit, sudah banyak temuan modern yang bertentangan dengan “kodrat” agama atau pun sunnatullah yang akhirnya menjadi wacana debateble (perdebatan). Di sinilah sentuhan nilai etika sangat dibutuhkan untuk mengasah dan menimbang hasil dari temuan-temuan tersebut.
Dewasa ini perlu menghadirkan masalah keilmuan (science) dan etika secara lintas agama dengan tujuan agar tidak terjadi eksklusifisme pada kelompok agama tertentu. Gagasan-gagasan tentang kosmologi, evolusi, penciptaan, etika dan masalah-masalah sosial yang disampaikan oleh para penulis memang sangat mendalam, karena selain didukung oleh kadar keyakinan agamanya masing-masing, juga dipengaruhi latar belakang penulis yang memadahi tentang wacana ini.
Selama ini yang sering terjadi adalah tampilnya para saintis yang kurang memahami nilai agama di satu pihak, dan munculnya para pemuka agama yang miskin pengetahuan kealaman di lain pihak. Tipologi semacam inilah yang justru menghambat terwujudnya reintegralisasi sains dan agama.
Isu-isu baru seputar sains dan teknologi telah memancing reaksi sporadis terhadap para pemeluk agama. Islam misalnya, telah mengelaborasi tatanan sains kearah normatif, yakni islamisasi sains. Agenda utama yang dikampanyekan yaitu menarik misi/tujuan ilmu ke dalam Islam. Padahal pikiran dan rumusan islamisasi sains sampai kini belum pernah mencapai titik final. Meski sudah tiga dekade berkembang, tetapi kenyataannya masih belum berdaya.
Zainal Abidin Bagir dalam sebuah acara bedah buku di UIN Malang (2007) menyatakan bahwa ilmu dalam termenologi filsafat, harus dirujuk pada tiga hal, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dengan ketiga kerangka analisis inilah ilmu sebenarnya bukanlah benda mati atau objek nihil yang dapat diotak-atik dengan tanpa dasar. Sebagai seorang yang aktif mengembangkan program di CRCS (Center for Religius & Cross-cultural Studies) Graduate School Gajah Mada University, ia menawarkan percikan gagasan kontribusi filsafat sebagai mainstream untuk mendudukkan ilmu sebagai ilmu yang menjunjung nilai-nilai holistik tidak pandang jenis agama.
Namun problem yang dihadapi selama ini adalah lemahnya pijakan dan sekaligus menghambat teleleologis ilmu itu sendiri. Indikasi ini muncul ketika unsur subjektifitas mendominasi dan memainkan peranan yang sangat signifikan. Sehingga kehadiran ilmu dimuka bumi ini jatuh pada segelintir orang saja.
Sisi menarik dari pembahasan karya ini yaitu mampu melibatkan kaum intelektual “santri” dari lintas agama yaitu Hindu, Kristen, Budha, dan Islam. Dari keempat perwakilan ini merekomendasikan bahwa agama harus mampu jadi sumber “nilai etis” yang dapat berperan untuk mengatasi masalah-masalah sosial yang dimunculkan oleh perkembangan sains dan teknologi.
Kajian seperti ini memang harus terus-menerus diwujudkan agar dinamika perkembangan sains ke depan dapat lebih bermartabat dan menjunjung hak-hak manusia secara universal. Tanpa harus terjebak pada sikap fanatisme agama yang justru mengungkung dan pada gilirannya akan jatuh pada jurang keterpurukan. Sudah saatnya persoalan-persoalan “bersama” yang terjadi saat ini, baik itu menyangkut tatanan sains dan teknologi maupun masalah sosial harus diselesaikan dengan cara kerjasama melalui lintas agama.
Kontribusi dari kajian-kajian semacam ini diharapkan tidak saja berkutat pada dataran konseptual, tetapi dimungkinkan harus menyentuh pada wilayah yang lebih riil dan praktis dilapangan. Dengan munculnya ide-ide segar yang bernuansa “kemajemukan” dengan mengedepankan sikap terbuka dan toleransi yang tinggi, maka kemajuan di segala sisi kehidupan manusia akan lebih mudah diraih.

*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang

Kamis, 01 April 2010

Menguak Kekejaman Israil Atas Palestina

Mujtahid*

PADA Tahun 2007 yang lalu, ada sebuah terbitan buku yang sangat lugas, detail dan berani mengungkap kekejaman dan kedhaliman Israel atas negeri Palestina. Buku itu berjudul “Tears of Heaven“. Karya ini merupakan kisah nyata yang dialami oleh dr Ang Swee Chai di Kamp pengungsian Palestina. Ang Swee Chai mengisahkan secara rapi dan teliti pengalaman yang ia rekam atas kekejaman Israil terhadap rakyat palestina selama 20 tahun yang silam. Karya itu sempat saya baca, dan rasanya jiwa ini ikut merasakan betapa pedih dan pahitnya penderitaan yang dialami rakyat Palestina.
Sebuah karya yang sangat berani dan menantang terhadap arus hegemoni kekuasaan yang kini masih dikendalikan negeri adikuasa Amerika Serikat. Israil sebagai negeri super kisruh telah semakin merajalela karena dapat dukungan dan sokongan dari negeri super-power tersebut. Dengan terbitnya buku semacam itu sesungguhnya telah membuka aib dan kesalahan yang pernah dilakukan oleh Israil maupun Amerika Serikat atas Palestina. Sehingga buntutnya, pencetakan dan penerbitan karya yang monumental itu sempat dihentikan, tapi setahun kemudian barulah dapat terbit.
Dr. Ang Swee Chai adalah seorang dokter perempuan kelahiran Malaysia yang dibesarkan di Singapura. Sejak 1977, ia bersama suaminya Francis Khoo tinggal di Inggris. Ia bekerja di St. Bartholomew’s Hospital dan The Royal London Hospital. Ia adalah perempuan pertama yang menjabat sebagai Orthopaedic Colsultant setelah beberapa abad kedua rumah sakit itu berdiri.
Untuk membela rakyat yang tak berdosa, dr. Ang dan beberapa rekannya membentuk badan amal Medical Aid for Palestinians (MAP), setelah terjadinya pembantaian Sabra-Shatila 1982. Ia pernah mendapat penghargaan tertinggi “Star of Palestine” dari pemimpin PLO Yasir Arafat tahun 1987 sebagai pengabdian kepada rakyat Palestina.
Pengalaman yang tertuang dalam buku ini sangat menggetarkan hati. Pembantaian anak-anak, wanita, orangtua, dan orang-orang lemah yang tak bersenjata sungguh menyentakkan hati sukarelawan dokter bedah ini. Ia merasa sangat gusar karena harus menemukan kebenaran tentang orang-orang yang berani murah hati melalui kematian mereka.
Sebagai seorang fundamintalis Kristen, dulu ia mendukung Israil, membenci orang-orang Arab, dan menentang PLO sebagai teroris yang harus dikutuk dan ditakuti. Tetapi setelah datang dan menyaksikannya sendiri di Sabra-Shatila, membuatnya sadar bahwa orang Palestina adalah manusia yang harus dibela. Upaya pihak-pihak adikuasa yang berkonspirasi untuk menjelek-jelekkan mereka, pupus sudah. Bagaimana mungkin mereka adalah jahat, jika mereka adalah korban ketidakadilan yang amat besar? Seperti orang-orang lain, dr. Ang menghadapi kenyataan yang pahit, dan menjadikannya bertobat akibat kebodohan dan prasangkanya telah membutakan mata dari penderitaan bangsa Palestina.
Perjuangan dr. Ang melalui MAP telah membuahkan hasil dengan menyeru masyarakat Inggris dan masyarakat lainnya untuk menyumbangkan dukungan materi berupa obat-obatan bagi institusi- institusi kesehatan Palestina yang tengah terkepung.
Usaha perlawanan (intifada) terhadap ketidakadilan ini juga ditunjukkan dengan bentuk “protes” dihadapan rakyat Amerika. Orang-orang Barat harus tahu tentang pembantaian tersebut, mereka harus mengakui bahwa rakyat Palestina adalah korban ketidakadilan yang sangat besar.
Di tengah kesibukannya merawat para korban di kamp, dr. Ang menyaksikan langsung atas perjuang anak-anak Palestina yang tak bersenjata melawan keganasan tentara Israil. Itu adalah perang batu melawan tank-tank yang tak seimbang sama sekali.
Akibatnya, sungguh tak sebanding kata dr. Ang, ratusan warga Palestina gugur, ribuan terluka, penawanan besar-besaran, pemberlakuan tahanan rumah serta jam malam terhadap seluruh penduduk, penghancuran rumah-rumah secara sewenang-wenang, penutupan sekolah-sekolah, penggeledahan rumah sakit-rumah sakit. Kekejaman yang dilakukan demi menumpas gerakan perlawanan telah menlanggar hukum internasional, dilakukan di wilayah pendudukan, dan sebenarnya pendudukan itu sendiri ilegal.
Saat dr. Ang bertugas di rumah sakit al-Ahl di Gaza sebagai konsultan dokter bedah PBB dan merawat banyak dari mereka yang terluka. Bangunan rumah sakit itu sering diserang dari udara oleh para tentara yang memburu para pemuda, ibu-ibu hamil diserbu tentara Israil yang bersenjata lengkap. Ini suatu penghinaan terhadap ibu-ibu yang tengah melahirkan. Para pasien yang terbaring di meja-meja orasi dr. Ang juga sempat diancam.
Upaya perdamaian yang dipelopori PBB seringkali dilanggar Israil. Bagi Palestina maupun Lebanon jangan pernah optimis bakal terwujud sebuah perdamaian kalau negeri Israil itu masih ada. Sebab Israil tak pernah berhenti untuk melawan Palestina maupun Lebanon.
Kekejaman yang dialami Palestina maupun Lebanon terus bertambah. Pada tahun 2002, Amnesti Internasional mempublikasikan hasil-hasil penyelidikannya dan menuduh Israil telah melakukan pembunuhan ilegal, penyiksaan, serta penggunaan rakyat Paletina sebagai tameng manusia. Di antara pelanggaran-pelanggaran berat terhadap hukum internasional adalah perlakuan buruk terhadap para tahanan, penghancuran tanpa dasar rumah-rumah penduduk, serta pemblokiran bantuan medis para korban.
Kehancuran besar-besaran yang dialami rakyat Palestina di Gaza dan Tepi Barat sangat tidak manusiawi dan tidak berperadaban. Rumah-rumah di bom dan dilindas dengan boldoser, mobil-mobil ambulans yang mengangkut para pasien dalam kondisi kritis ditembaki, sekolah-sekolah juga di bom.
Rasa traumatis dan derita yang dialami rakyat Palestina hingga kini masih terus berlangsung. Ketentraman dan kedamain bagi rakyat Palestina maupun Lebanon telah dicabik-cabik Israil. Perang tak berkesudahan dan harus dibayar dengan kematian jiwa para rakyat yang tak berdosa.

*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Malang