Mujtahid*
TAMPILNYA filsafat Islam di arena pemikiran merupakan hasil interaksi agama Islam dengan faktor ekstern. Faktor ekstern yang dimaksud adalah budaya dan tradisi non Islam yang sepanjang sejarah diwakili oleh Eropa dibelahan Barat, serta India, Iran, dan Cina di belahan Timur.
Kalau kita lacak dalan khazanah Islam, buku-buku yang menguraikan ihwal filsafat Islam, memang sudah cukup banyak ditulis. Akan tetapi hampir selalu saja terkesan adanya beberapa aspek yang terasa kurang puas. Akhirnya, setiap karya seperti itu memuat daftar panjang istilah-istilah filsafat Islam yang patut di dihargai dan harus apresiasi secara mendalam.
Haidar Bagir tidak mau ketinggalan, ia pernah menghadirkan sebuah karya yang dijuduli “Buku Saku Filsafat Islam” (2005), yang sekalipun dinamai “saku” namun buku tersebut cukup memadahi untuk mengantarkan kita memahami filsafat Islam secara holistik. Islam sebagai sebuah sumber peradaban, dipandang ikut meletakkan “prosesi batu pertama” bangunan budaya dan peradaban modern yang saat ini berkembang pesat di Barat. Di abad pertengahan itulah Islam merupakan juru ‘penyelamat’ bagi peradaban Yunani, Persia dan Romawi dengan cara menerjemahkannya ke dalam bahasa dan tradisi Islam.
Kemajuan Islam era pertengahan tidak saja mewarisi pengetahuan Yunani-Romawi, akan tetapi telah memodifikasi dan menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil usaha kreatif cendikiawan muslim seperti al-Kindi, Ibn Sina, al-Farabi, al-Razi dan setelahnya, selain mengadopsi kekayaan pengetahuan mereka, juga melahirkan teori dan pengetahuan orisinil yang sama sekali baru.
Peradaban Yunani, Persia dan Romawi jelas menyumbangkan peradaban yang sangat berharga bagi Islam. Peradaban Zoroastrian (Sassanian) telah mencapai puncak renaisan kebudayaannya pada abad ke enam, sebelum Islam datang di tanah Arab. Hal ini yang kemudian menjadi pembawa obor bagi peradaban Barat, bersama-sama membawa sebuah sinkronisme kreatif baru pemikiran ilmiah dan filosofis Yunani, Hebrew, India (Hindu), Syirian, dan Zoroaster.
Pusat urat syarafnya berada di akademi terbesar pada masa itu, yaitu Akademi Jundi Shapur, di Persia bagian Tenggara. Bahkan bukan itu saja, setelah lahirnya Islam dan penaklukan Persia oleh orang-orang Arab, perkembangan kebudayaan terpenting dalam Islam, misalnya bidang sains, teknologi, matematika, logika, filsafat, kimia, musik, etika, geografi, bahkan teologi dan sastra, adalah kontribusi pemikir dan cendikiawan Persia yang pada permulaan Abad-abad Islam telah menulis dalam bahasa Arab dan atas nama Islam.
Filsafat Islam memiliki karakteristik sekaligus sebagai keunikan tersendiri. Setidaknya, terdapat tiga karakteristik yang dapat kita diketemukan dalam khazanah ini, yaitu peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ketiga karakteristik tersebut sudah sering dikaji oleh para sarjana muslim.
Filsafat peripatetisme adalah paham kelanjutan dari pengaruh ide-ide Aristotelian yang bersifat diskursif-demontrasional. Corak dari Aristotelian yaitu hylomorfisme, suatu paham yang cenderung bersifat material. Peripatetisme dimulai sejak al-Kindi, yang melewati antara lain, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Thufail dan Ibn Bajjah hingga Ibn Rusyd. Mungkin, hanya Ibn Rusyd saja yang agak berani membersihkan Aristotelianisme dari Neo-Platonisme.
Filsafat iluminasi (Israqiyyah) berbicara mengenai suatu kilatan-mendadak dalam bentuk pemahaman atau ilham sebagai suatu arus cahaya. Asal mulanya, teori ini berakar dari pola-pola Platonik, yang selama periode Hellenistik dan Romawi aliran ini diserap dan tergabungkan dalam pikiran Kristiani dan Yahudi.
Tokoh yang ternama dalam corak filsafat iluminasi yaitu Surawardi. Sebagai pencetus paham iluminasi, dia telah membuka jalan suatu dialog dengan wacana-wacana dan upaya-upaya religius atau mistis dalam dunia ilmiah. Dia juga termasuk filosof yang meyakini adanya perennial wisdom. Sebuah jalan kebenaran yang dijadikan ukuran adalah pengalaman “intuitif” yang kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis-rasional.
Sementara filsafat hikmah di perkenalkan oleh Mulla Shadra. Dia membangun aliran baru filsafat dengan semangat untuk mempertemukan berbagai aliran pemikiran yang berkembang di kalangan kaum muslim. Yakni tradisi Aristotelian cum Neo platonis yang diwakili figur-figur al-Farabi dan Ibn Sina, filsafat Israqiyyah, pemikiran Irfani Ibn ‘Arabi, serta tradisi kalam (teologi dialektis).
Filsafat hikmah cenderung berbicara masalah esensi (wujud), sehingga sering disebut-sebut sebagai eksistensialisme Islam. Aliran ini mempercayai bahwa pengetahuan diperoleh tidak melalui penalaran rasional, tetapi hanya melalui sejenis intuisi, yakni penyaksian bathin (syuhud, inner witnessing), cita rasa (dzauq, tasting), pencerahan (hudhur, presence).
Menurut Muthahhari, seorang pengagum Mulla Shadra yang juga menulis buku tentang “Filsafat Hikmah; Pengantar Pemikiran Mulla Shadra” mengakui bahwa Filsafat Hikmah (Hikmat Muta`aliyah) berupaya memadukan metode-metode wawasan spiritual dengan metode-metode deduksi filosofis. Untuk mencapai kebenaran yang hakiki, harus melebur metode-metode pencerah (illumination) ruhani dan perenungan intelektual. Seperti yang dikemukakan Baqir dalam buku ini, bahwa Filsafat Hikmah berusaha menyatukan empat aliran yang berbeda-beda. Melalui filsafat hikmat ini menawarkan sebuah jalan keluar yang sangat argumentatif.
Haidar Bagir sebagaimana yang diulas pada karya di atas, id berusaha memotret secara gamblang babakan kronologis sejarah filsafat Islam dan aliran-alirannya. Tak hanya itu, dia juga menghadirkan bahwa filsafat Islam bukanlah “pengetahuan absurd”, tetapi ia memiliki manfaat yang begitu besar bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Filsafat Islam dapat menjadi diagnosis atas ragam persoalan kemanusiaan. Karena hakikat dari filsafat itu adalah menjawab dan memecahkan setiap problem manusiawi yang secara kodrati pasti tidak bisa lepas dari permasalahan.
Kehadiran filsafat, menurut Bagir, berpotensi untuk membantu penyelesaian problem-problem dasar kemanusiaan. Bahkan, dikatakan bahwa filsafat bisa menyelesaikan problem-problem konkret dalam kehidupan manusia. Mengingat, berbagai krisis yang tengah kita hadapi saat ini bermula dari—setidaknya berkorelasi dengan-- krisis persepsi yang terjadi dibenak kita.
Dengan berpijak kembali kepada filsafat Islam, diharapkan bisa meretaskan pengetahuan dan kearifan religus yang bernilai tinggi. Akar-akar persoalan modernitas yang menyeret manusia ke dalam dunia “tanpa wajah” dapat disadarkan lewat penelusuran filsafat Islam. Atas dasar itulah filsafat perlu dihadirkan kembali sebagai sebuah cara pandang dunia di mata umat Islam.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malili Malang
Jumat, 26 Maret 2010
Kamis, 25 Maret 2010
Sabar dan Murah Hati
Mujtahid
SALAH satu senjata untuk menggapai “kemenangan” adalah sabar. Secara etimologis, sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena semata-mata mengharap ridha Allah. Sabar dan murah hati merupakan salah satu sifat orang cerdik yang menjadi perhiasan yang paling baik untuk mengurangi kesulitan.
Menurut al-Ghazali, sabar merupakan ciri khas manusia, binatang dan malaikat tidak memerlukan sabar. Binatang tidak sabar, karena ia tunduk dan dikendalikan oleh hawa nafsu. Malaikat tidak sabar, kerana ia senantiasa tunduk pada dzat kesuciannya. Berbeda dengan manusia, ia dibekali dua sifat yang saling tarik-menarik, antara kesucian (fithrah) dan kegelapan (dzulm), sehingga ia harus mengeluarkan jurus baru, yakni bersabar dan murah hati.
Menurut Ibn Abi Dunya, dalam buku yang berjudul “Menjinakkan Marah dan Benci” mencoba memberikan nasihat-nasihat (tausiyah) kepada kaum Muslim untuk membekali hidup ini dengan sabar dan murah hati. Tidak ada nilai yang berharga bagi manusia, kalau kesabaran dan bermurah hati itu hilang. Bermodal dari kedua hal itulah seorang dapat menuai kesuksesan menjalani kehidupan ini.
Ibn Abi Dunya adalah seorang ulama yang hidup pada dinasti Umayyah, suatu dinasti yang dikenal “Golden Age of Islam” (era kejayaan, keemasan Islam). Kepakaran dan kautamaannya mengantarkan ia menjadi pendidik di lingkungan istana. Selain dikenal sebagai pendidik, ia adalah penulis buku-buku tentang kezuhudan dan kelembutan hati.
Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, dengan berbagai keutamaan, di antaranya kesabaran dan murah hati (hilm). Rasulullah menegaskan bahwa kesabaran dan kemurahhatian dapat membawa manfaat di dunia dan menghasilkan pahala berlimpah di akhirat. Menurut Ibn Abi Dunya, sabar dan murah hati merupakan puncak keutamaan, sumber kebaikan, dan pokok ketentraman hidup manusia.
Sabar terkait erat dengan akhlaq. Begitu pula dengan murah hati. Kedua hal ini menjadi nilai penting untuk mempertajam dan memupuk kepribadian akhlaq seseorang. Kedua nilai pokok ini tidak terbatas oleh ruang dan waktu, kapan dan di mana pun tetap diperlukan. Sedemikian pentingnya, Rasulullah mengilustrasikan bahwa sebagai salah satu bentuk akhlaq individu, menjadi ukuran kualitas iman seseorang. Seperti dalam sabdanya: “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya” (HR. Tirmidzi).
Relasi antara sabar dan akhlaq adalah relasi yang mengikat. Seseorang tidak bisa dikatakan berakhlaq apabila dirinya tidak punya kesabaran. Sehingga relasi ini menjadi kunci utama keberadaan akhlaq seseorang. Artinya, sesuatu yang berkaitan dengan tingkah laku, tabiat serta perangai seseorang harus dikendalikan dengan sabar. Menurut Ibn Abi Dunya, tidak ada sinergi positif yang lebih baik melebihi sinergi kecerdasan emosional (sabar) dan kecerdasan intelektual. Yang mengendalikan akal dan perbuatan adalah sabar dan murah hati, akhir dari suatu urusan adalah sabar, dan sebaik-baik perbuatan adalah memaafkan.
Marah dan benci adalah lawan dari kesabaran dan murah hati. Menjinakkan marah dan benci hanya cukup dengan sabar dan murah hati. Sebab, jika marah dan benci menyelimuti manusia, maka bencana pasti tak dapat dihindarkan. Kemarahan dan kebencian, kata Ibn Abi Dunya, hanya dapat diobati dengan sabar dan murah hati. Lebih dari itu, al-Qur’an sendiri, sebagai kitab rujukan yang utama, memberi peringatan; “apabila mereka marah, mereka memberi maaf” (QS. 42:37).
Dengan sabar dan murah hati, seorang akan terangkat derajat kemulyaannya, baik di sisi Allah, maupun di sisi manusia. Sifat sabar dan murah hati senantiasa membuat hidup seseorang menjadi indah dan sejuk, menjadi lapang dan luas, serta semua terasa menjadi nikmat apa yh dihadapi di dunia ini.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
SALAH satu senjata untuk menggapai “kemenangan” adalah sabar. Secara etimologis, sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena semata-mata mengharap ridha Allah. Sabar dan murah hati merupakan salah satu sifat orang cerdik yang menjadi perhiasan yang paling baik untuk mengurangi kesulitan.
Menurut al-Ghazali, sabar merupakan ciri khas manusia, binatang dan malaikat tidak memerlukan sabar. Binatang tidak sabar, karena ia tunduk dan dikendalikan oleh hawa nafsu. Malaikat tidak sabar, kerana ia senantiasa tunduk pada dzat kesuciannya. Berbeda dengan manusia, ia dibekali dua sifat yang saling tarik-menarik, antara kesucian (fithrah) dan kegelapan (dzulm), sehingga ia harus mengeluarkan jurus baru, yakni bersabar dan murah hati.
Menurut Ibn Abi Dunya, dalam buku yang berjudul “Menjinakkan Marah dan Benci” mencoba memberikan nasihat-nasihat (tausiyah) kepada kaum Muslim untuk membekali hidup ini dengan sabar dan murah hati. Tidak ada nilai yang berharga bagi manusia, kalau kesabaran dan bermurah hati itu hilang. Bermodal dari kedua hal itulah seorang dapat menuai kesuksesan menjalani kehidupan ini.
Ibn Abi Dunya adalah seorang ulama yang hidup pada dinasti Umayyah, suatu dinasti yang dikenal “Golden Age of Islam” (era kejayaan, keemasan Islam). Kepakaran dan kautamaannya mengantarkan ia menjadi pendidik di lingkungan istana. Selain dikenal sebagai pendidik, ia adalah penulis buku-buku tentang kezuhudan dan kelembutan hati.
Tuhan menciptakan manusia di muka bumi ini, dengan berbagai keutamaan, di antaranya kesabaran dan murah hati (hilm). Rasulullah menegaskan bahwa kesabaran dan kemurahhatian dapat membawa manfaat di dunia dan menghasilkan pahala berlimpah di akhirat. Menurut Ibn Abi Dunya, sabar dan murah hati merupakan puncak keutamaan, sumber kebaikan, dan pokok ketentraman hidup manusia.
Sabar terkait erat dengan akhlaq. Begitu pula dengan murah hati. Kedua hal ini menjadi nilai penting untuk mempertajam dan memupuk kepribadian akhlaq seseorang. Kedua nilai pokok ini tidak terbatas oleh ruang dan waktu, kapan dan di mana pun tetap diperlukan. Sedemikian pentingnya, Rasulullah mengilustrasikan bahwa sebagai salah satu bentuk akhlaq individu, menjadi ukuran kualitas iman seseorang. Seperti dalam sabdanya: “orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya” (HR. Tirmidzi).
Relasi antara sabar dan akhlaq adalah relasi yang mengikat. Seseorang tidak bisa dikatakan berakhlaq apabila dirinya tidak punya kesabaran. Sehingga relasi ini menjadi kunci utama keberadaan akhlaq seseorang. Artinya, sesuatu yang berkaitan dengan tingkah laku, tabiat serta perangai seseorang harus dikendalikan dengan sabar. Menurut Ibn Abi Dunya, tidak ada sinergi positif yang lebih baik melebihi sinergi kecerdasan emosional (sabar) dan kecerdasan intelektual. Yang mengendalikan akal dan perbuatan adalah sabar dan murah hati, akhir dari suatu urusan adalah sabar, dan sebaik-baik perbuatan adalah memaafkan.
Marah dan benci adalah lawan dari kesabaran dan murah hati. Menjinakkan marah dan benci hanya cukup dengan sabar dan murah hati. Sebab, jika marah dan benci menyelimuti manusia, maka bencana pasti tak dapat dihindarkan. Kemarahan dan kebencian, kata Ibn Abi Dunya, hanya dapat diobati dengan sabar dan murah hati. Lebih dari itu, al-Qur’an sendiri, sebagai kitab rujukan yang utama, memberi peringatan; “apabila mereka marah, mereka memberi maaf” (QS. 42:37).
Dengan sabar dan murah hati, seorang akan terangkat derajat kemulyaannya, baik di sisi Allah, maupun di sisi manusia. Sifat sabar dan murah hati senantiasa membuat hidup seseorang menjadi indah dan sejuk, menjadi lapang dan luas, serta semua terasa menjadi nikmat apa yh dihadapi di dunia ini.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
Rabu, 24 Maret 2010
Positioning Ala Hermawan Kartajaya
Mujtahid
SETIAP usaha, apapun jenisnya pasti ingin sukses. Tapi, sukses belum saja cukup, karena banyak hal yang harus dipikirkan, tak terkecuali adalah positioning. Istilah positioning, dalam arena kompetisi marketing sering disebut sebagai strategi untuk memenangi dan menguasai benak pelanggan melalui produk yang ditawarkan.
Hermawan Kartajaya mendefinisikan positioning sebagai “the strategy to lead your customer credbly”, yaitu upaya mengarahkan pelanggan Anda secara kredibel. Jadi positioning itu tak lain adalah upaya kita untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan di mata pelanggan. Tak salah, jika muncul sebuah kaidah “semakin kredibel Anda di mata pelanggan, maka semakin kukuh pula positioning Anda”.
Di mata pangsa pasar (customer), positioning sangat menentukan produk, merek, dan perusahaan Anda. Positioning seperti yang dikemukakan Michael Porter, merupakan core (intinya) strategi. Maksudnya yaitu upaya untuk menghasilkan posisi yang unik dan valuable bagi pelanggan. Upaya ini sangat menentukan awal hingga akhir dari strategi marketing perusahaan Anda.
Di saat kerasnya persaingan produk yang dihasilkan oleh perusahaan, menuntut kita agar bermain cantik dan meraih simpatik sebaik-baiknya dari pelanggan. Di sinilah pentingnya positioning itu dibangun. Sebab, sebaik apa pun kualitas produk anda, kalau pelanggan tidak mengenal informasi yang cukup, apalagi produk baru, maka produk Anda akan sia-sia. Selain itu, persaingan (perang) merek juga bak jamur di musim hujan, bahkan sering terjadi “tubrukan” secara frontal satu sama lain. Karenanya, positioning akan memposisikan citra merek produk tetap terjaga.
Dalam hal ini, Kartajaya menyontohkan persaingan merek sabun Lux vs Lifebuoy. Jika Anda nendengar sabun lux, apa yang ada di kepala anda? Pasti foto Tamara Bleszynski, Dian Sastro, atau Mariana Renata. Wajar saja karena Lux memposisikan diri sebagai sabunnya para bintang. Lalu, jika Anda mendengar Lifebuoy, bayangan apa yang ada di kepala Anda? Pasti tak akan jauh-jauh dari kata sehat atau keluarga karena memang lifebuoy adalah sabun kesehatan untuk seluruh anggota keluarga.
Seperti yang terkafer dalam karya Kartajaya, ia menawarkan empat kiat jitu agar positioning Anda tetap efektif. Pertama, positioning Anda haruslah dipersepsi secara positif oleh para pelanggan dan menjadi reason to buy mereka. Artinya, positioning Anda adalah mendeskripsikan value di mata pelanggan. Value yang di maksud adalah “keunggulan” produk yang Anda dimiliki, sehingga value akan menjadi bekal untuk memutuskan mereka membeli produk Anda. Intinya, positioning Anda terletak pada value yang menjadi reason to buy bagi customer.
Kedua, positioning mencerminkan kekuatan dan keunggulan kompetitif perusahaan. Maksudnya, jangan sampai Anda merumuskan positioning, tapi tidak bisa melakukannya. Banyak produk hancur karena setelah rumusan positioning tidak sesuai dengan kenyataannya. Ini justru berbahaya, bahkan bisa membunuh karakter Anda sendiri. Yang jelas jangan sampai terjadi over-promise under promise. Jika sampai terjadi, pelanggan akan mengecap Anda sebagai tukang bohong, hancurlah kredibilitas Anda di mata pelanggan.
Ketiga, positioning itu mencerminkan “keunikan”, yang berarti dengan mudah mendiferensiasikan (membedakan) diri dari para kompetitor. Cara seperti ini sangat efektif di dunia pasar. Karena positioning Anda akan sulit ditiru (diduplikat) oleh pesaing Anda. Dari positioning ini akan mengangkat citra Anda dan sekaligus akan menjaga sutainable lebih lama lagi. Contoh ini bisa Anda amati dari dunia periklanan, meraka pasti mencari hal-hal yang “unik” sekaligus menempatkan sifat itu menjadi pembeda dari kompetisi lainnya.
Keempat, positioning harus berkelanjutan dan selalu relevan dengan berbagai perubahan dalam lingkungan bisnis, seperti perubahan persaingan, perilaku pelanggan, perubahan sosial budaya, dan sebagainya. Jika positioning Anda merasa tidak relevan dengan kondisi lingkungan, maka Anda harus segera merubahnya (repositioning) agar tidak di cap kuno.
Dari keempat kiat di atas, sampai saat ini positioning masih dipahami sebagai cara yang efektif dalam membangun citra Anda di mata pelanggan. Karenanya, positioning akan menempatkan usaha Anda lebih dikenal pelanggan. Jika terjadi demikian, maka Anda termasuk berhasil dalam membangun kesan, image, di benak konsumen, bahwa produk Anda layak dipercaya dan kompeten.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
SETIAP usaha, apapun jenisnya pasti ingin sukses. Tapi, sukses belum saja cukup, karena banyak hal yang harus dipikirkan, tak terkecuali adalah positioning. Istilah positioning, dalam arena kompetisi marketing sering disebut sebagai strategi untuk memenangi dan menguasai benak pelanggan melalui produk yang ditawarkan.
Hermawan Kartajaya mendefinisikan positioning sebagai “the strategy to lead your customer credbly”, yaitu upaya mengarahkan pelanggan Anda secara kredibel. Jadi positioning itu tak lain adalah upaya kita untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan di mata pelanggan. Tak salah, jika muncul sebuah kaidah “semakin kredibel Anda di mata pelanggan, maka semakin kukuh pula positioning Anda”.
Di mata pangsa pasar (customer), positioning sangat menentukan produk, merek, dan perusahaan Anda. Positioning seperti yang dikemukakan Michael Porter, merupakan core (intinya) strategi. Maksudnya yaitu upaya untuk menghasilkan posisi yang unik dan valuable bagi pelanggan. Upaya ini sangat menentukan awal hingga akhir dari strategi marketing perusahaan Anda.
Di saat kerasnya persaingan produk yang dihasilkan oleh perusahaan, menuntut kita agar bermain cantik dan meraih simpatik sebaik-baiknya dari pelanggan. Di sinilah pentingnya positioning itu dibangun. Sebab, sebaik apa pun kualitas produk anda, kalau pelanggan tidak mengenal informasi yang cukup, apalagi produk baru, maka produk Anda akan sia-sia. Selain itu, persaingan (perang) merek juga bak jamur di musim hujan, bahkan sering terjadi “tubrukan” secara frontal satu sama lain. Karenanya, positioning akan memposisikan citra merek produk tetap terjaga.
Dalam hal ini, Kartajaya menyontohkan persaingan merek sabun Lux vs Lifebuoy. Jika Anda nendengar sabun lux, apa yang ada di kepala anda? Pasti foto Tamara Bleszynski, Dian Sastro, atau Mariana Renata. Wajar saja karena Lux memposisikan diri sebagai sabunnya para bintang. Lalu, jika Anda mendengar Lifebuoy, bayangan apa yang ada di kepala Anda? Pasti tak akan jauh-jauh dari kata sehat atau keluarga karena memang lifebuoy adalah sabun kesehatan untuk seluruh anggota keluarga.
Seperti yang terkafer dalam karya Kartajaya, ia menawarkan empat kiat jitu agar positioning Anda tetap efektif. Pertama, positioning Anda haruslah dipersepsi secara positif oleh para pelanggan dan menjadi reason to buy mereka. Artinya, positioning Anda adalah mendeskripsikan value di mata pelanggan. Value yang di maksud adalah “keunggulan” produk yang Anda dimiliki, sehingga value akan menjadi bekal untuk memutuskan mereka membeli produk Anda. Intinya, positioning Anda terletak pada value yang menjadi reason to buy bagi customer.
Kedua, positioning mencerminkan kekuatan dan keunggulan kompetitif perusahaan. Maksudnya, jangan sampai Anda merumuskan positioning, tapi tidak bisa melakukannya. Banyak produk hancur karena setelah rumusan positioning tidak sesuai dengan kenyataannya. Ini justru berbahaya, bahkan bisa membunuh karakter Anda sendiri. Yang jelas jangan sampai terjadi over-promise under promise. Jika sampai terjadi, pelanggan akan mengecap Anda sebagai tukang bohong, hancurlah kredibilitas Anda di mata pelanggan.
Ketiga, positioning itu mencerminkan “keunikan”, yang berarti dengan mudah mendiferensiasikan (membedakan) diri dari para kompetitor. Cara seperti ini sangat efektif di dunia pasar. Karena positioning Anda akan sulit ditiru (diduplikat) oleh pesaing Anda. Dari positioning ini akan mengangkat citra Anda dan sekaligus akan menjaga sutainable lebih lama lagi. Contoh ini bisa Anda amati dari dunia periklanan, meraka pasti mencari hal-hal yang “unik” sekaligus menempatkan sifat itu menjadi pembeda dari kompetisi lainnya.
Keempat, positioning harus berkelanjutan dan selalu relevan dengan berbagai perubahan dalam lingkungan bisnis, seperti perubahan persaingan, perilaku pelanggan, perubahan sosial budaya, dan sebagainya. Jika positioning Anda merasa tidak relevan dengan kondisi lingkungan, maka Anda harus segera merubahnya (repositioning) agar tidak di cap kuno.
Dari keempat kiat di atas, sampai saat ini positioning masih dipahami sebagai cara yang efektif dalam membangun citra Anda di mata pelanggan. Karenanya, positioning akan menempatkan usaha Anda lebih dikenal pelanggan. Jika terjadi demikian, maka Anda termasuk berhasil dalam membangun kesan, image, di benak konsumen, bahwa produk Anda layak dipercaya dan kompeten.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
Selasa, 23 Maret 2010
Kisah Pendaki Menuju Puncak Everest
Mujtahid
EVEREST merupakan salah satu gunung bersejarah yang beberapa kali pernah menggemparkan dunia. Gempar, karena gunung yang hingga ratusan tahun sulit tertaklukkan para pendaki, akhirnya bisa dicapai. Selain itu, gempar karena gunung tersebut telah merenggut puluhan jiwa pendaki yang mencoba menaklukannya. Gunung yang memiliki ketinggian hingga 29.028 kaki dengan cuaca yang mematikan dapat ditaklukkan oleh berbagai tim ekspedisi, tak terkecuali oleh tim Jon Krakauer.
Everest terletak di perbatasan Nepal dan Tibet, yang menjulang bagaikan piramid tiga sisi terbetuk dari es yang mengilat dan batu berwarna gelap yang carut-marut. Puncak XV-begitulah nama sebelumnya-, menjadi sesuatu yang sangat penting. Hampir setiap musim, para pendaki dari berbagai benua ingin mencoba menaklukkannya. Nama Everest diambil dari nama seorang gubernur pengukuran untuk wilayah India, yakni Sir George Everest. Setelah Everest dinobatkan sebagai gunung tertinggi di bumi, orang-orang memutuskan bahwa Everest layak didaki.
Setelah penjelajah Amerika, Robert Peary, menaklukkan Kutub Utara pada 1909 dan Ronald Amundsen memimpin para penjelajah Norwergia menaklukkan Kutub Selatan pada 1911, Everest –yang dijuluki Kutup Ketiga- menjadi objek yang paling menarik dalam dunia penjelajahan. Mencapai puncaknya, kata Gunther O Dyrenfurth-seorang pendaki ternama dan pencatat sejarah pendakian Himalaya- seperti yang dikutip Krakauer, menyatakan “merupakan upaya manusia yang bersifat mendunia, sebuah sasaran yang layak diraih, apapun risiko dan kerugian yang harus dihadapi”.
Dari data himpuan Sikhdar pada tahun 1852, Everest telah merenggut 24 orang korban, dari 15 tim ekspedisi, dan rentang 101 tahun, sebelum akhirnya Everest berhasil ditaklukkan. Menurut pakar geologi, Everest sebenarnya bukanlah gunung yang indah. Namun keanggunan arsitektural yang dimiliki Everest itu diimbangi dengan massanya yang besar dan menakjubkan.
Pada 1924, Everest-kurang 900 kaki dari puncak- dapat ditaklukkan tim ekspedisi dari Inggris, Edward Felix Norton. Prestasi itu benar-benar menakjubkan dan mungkin tak tertandingi hingga dua puluh sembilan tahun kemudian. Namun, tak lama kemudian, mereka berusaha kembali menuju puncak. Hingga akhirnya Mallory-tokoh utama di balik tim ekspedisi pertama- yang menaklukkan Everest, bahkan namanya sering dikaitkan dengan Everest. Pada fase ini, setiap pendaki yang ingin menuju puncak Everest hanya diperkenankan dari Tibet wilayah jalur Utara.
Setelah itu, mulai 1949 hingga sekarang, jalur Selatan (Nepal) mulai dibuka. Para pencinta pendaki mulai mengalihkan perhatian mereka ke jalur selatan puncak Himalaya itu. Pada musim semi 1953, sebuah tim ekspedisi besar dari Inggris, menjadi tim ekspedisi ketiga yang berusaha menaklukkan Everest dari wilayah Nepal dalam waktu selama dua setengah bulan. Hillary dan Tenzing adalah menjadi orang pertama ygberdiri dipuncak gunung Everest pada 1953.
Dengan jalur berbeda sebelumnya, puncak Everest kembali ditaklukkan pada 1963, oleh Tom Horbein, seorang dokter dari Missouri, dan Willi Unsoeld, seorang profesor teologi dari Oregon, melalui wilayah tepi Barat gunung. Jalur ini disinyalir sebagai jalur yang paling berat dilalui, dan dinobatkan sebagai prestasi terbesar dalam dunia pendakian gunung.
Everest di mata pendaki, merupakan tantangan sekaligus kehormatan. Karena tak semua pendaki dapat melakukannya, bahkan tergolong pendaki elit saja yang mampu mengukir prestasi ke sana. Pendaki yang sampai puncak Everest termasuk pendaki yang elit dan cenderung dikomersialkan. Hal inilah yang menyedot perhatian Krakauer untuk mencobanya. Ia ingin menjadi pendaki elit seperti orang-orang sebelumnya. Inspirasinya itu baru terwujud pada 1996.
Ajang komersial pendaki gunung Everest menjadi tak terelekkan. Karena disamping biaya perizinan yang cukup mahal, juga perlu ada jaminan khusus yang menyengkut persedian bahan dan keselamatan yang relatif tinggi. Mendaki Everest tidak hanya mengandalkan “bonek” (modal nekat) dan khayalan belaka, seperti yang terbenak para pendaki tradisional.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
EVEREST merupakan salah satu gunung bersejarah yang beberapa kali pernah menggemparkan dunia. Gempar, karena gunung yang hingga ratusan tahun sulit tertaklukkan para pendaki, akhirnya bisa dicapai. Selain itu, gempar karena gunung tersebut telah merenggut puluhan jiwa pendaki yang mencoba menaklukannya. Gunung yang memiliki ketinggian hingga 29.028 kaki dengan cuaca yang mematikan dapat ditaklukkan oleh berbagai tim ekspedisi, tak terkecuali oleh tim Jon Krakauer.
Everest terletak di perbatasan Nepal dan Tibet, yang menjulang bagaikan piramid tiga sisi terbetuk dari es yang mengilat dan batu berwarna gelap yang carut-marut. Puncak XV-begitulah nama sebelumnya-, menjadi sesuatu yang sangat penting. Hampir setiap musim, para pendaki dari berbagai benua ingin mencoba menaklukkannya. Nama Everest diambil dari nama seorang gubernur pengukuran untuk wilayah India, yakni Sir George Everest. Setelah Everest dinobatkan sebagai gunung tertinggi di bumi, orang-orang memutuskan bahwa Everest layak didaki.
Setelah penjelajah Amerika, Robert Peary, menaklukkan Kutub Utara pada 1909 dan Ronald Amundsen memimpin para penjelajah Norwergia menaklukkan Kutub Selatan pada 1911, Everest –yang dijuluki Kutup Ketiga- menjadi objek yang paling menarik dalam dunia penjelajahan. Mencapai puncaknya, kata Gunther O Dyrenfurth-seorang pendaki ternama dan pencatat sejarah pendakian Himalaya- seperti yang dikutip Krakauer, menyatakan “merupakan upaya manusia yang bersifat mendunia, sebuah sasaran yang layak diraih, apapun risiko dan kerugian yang harus dihadapi”.
Dari data himpuan Sikhdar pada tahun 1852, Everest telah merenggut 24 orang korban, dari 15 tim ekspedisi, dan rentang 101 tahun, sebelum akhirnya Everest berhasil ditaklukkan. Menurut pakar geologi, Everest sebenarnya bukanlah gunung yang indah. Namun keanggunan arsitektural yang dimiliki Everest itu diimbangi dengan massanya yang besar dan menakjubkan.
Pada 1924, Everest-kurang 900 kaki dari puncak- dapat ditaklukkan tim ekspedisi dari Inggris, Edward Felix Norton. Prestasi itu benar-benar menakjubkan dan mungkin tak tertandingi hingga dua puluh sembilan tahun kemudian. Namun, tak lama kemudian, mereka berusaha kembali menuju puncak. Hingga akhirnya Mallory-tokoh utama di balik tim ekspedisi pertama- yang menaklukkan Everest, bahkan namanya sering dikaitkan dengan Everest. Pada fase ini, setiap pendaki yang ingin menuju puncak Everest hanya diperkenankan dari Tibet wilayah jalur Utara.
Setelah itu, mulai 1949 hingga sekarang, jalur Selatan (Nepal) mulai dibuka. Para pencinta pendaki mulai mengalihkan perhatian mereka ke jalur selatan puncak Himalaya itu. Pada musim semi 1953, sebuah tim ekspedisi besar dari Inggris, menjadi tim ekspedisi ketiga yang berusaha menaklukkan Everest dari wilayah Nepal dalam waktu selama dua setengah bulan. Hillary dan Tenzing adalah menjadi orang pertama ygberdiri dipuncak gunung Everest pada 1953.
Dengan jalur berbeda sebelumnya, puncak Everest kembali ditaklukkan pada 1963, oleh Tom Horbein, seorang dokter dari Missouri, dan Willi Unsoeld, seorang profesor teologi dari Oregon, melalui wilayah tepi Barat gunung. Jalur ini disinyalir sebagai jalur yang paling berat dilalui, dan dinobatkan sebagai prestasi terbesar dalam dunia pendakian gunung.
Everest di mata pendaki, merupakan tantangan sekaligus kehormatan. Karena tak semua pendaki dapat melakukannya, bahkan tergolong pendaki elit saja yang mampu mengukir prestasi ke sana. Pendaki yang sampai puncak Everest termasuk pendaki yang elit dan cenderung dikomersialkan. Hal inilah yang menyedot perhatian Krakauer untuk mencobanya. Ia ingin menjadi pendaki elit seperti orang-orang sebelumnya. Inspirasinya itu baru terwujud pada 1996.
Ajang komersial pendaki gunung Everest menjadi tak terelekkan. Karena disamping biaya perizinan yang cukup mahal, juga perlu ada jaminan khusus yang menyengkut persedian bahan dan keselamatan yang relatif tinggi. Mendaki Everest tidak hanya mengandalkan “bonek” (modal nekat) dan khayalan belaka, seperti yang terbenak para pendaki tradisional.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
Senin, 22 Maret 2010
Membedah Krisis Sejarah Muslim
Mujtahid
“ISLAM adalah agama yang memiliki sense sejarah yang sangat kuat”, demikianlah kata Bernard Lewis dalam bukunya, Historians of the Middle East. Agama Islam diakui sebagai inti yang pokok dari kepribadian dan harga diri setiap muslim. Maka pengetahuan tentang agama Islam, mutlak diperlukan untuk memberikan penilaian terhadap krisis sejarah Muslim, yang mempengaruhi peta sejarah politik umat Islam belakangan ini.
Sejarah Islam merupakan hasil interpretasi dan rekonstruksi masa lalu yang bersumber pada fakta dan memiliki makna atau arti. Sehingga mengulas sejarah harus pandai mengkait-kaitkan antara satu dimensi dengan dimensi lainnya. Namun dari masing-masing dimensi tersebut harus terdapat keterkaitan erat dan saling menguatkan satu sama lain.
Kini, hadir kembali sebuah interpretasi baru tentang sejarah Islam. M. Ayoub dalam bukunya yang berjudul “The Crisis of Muslim History” (2004) menyuguhkan fakta mengenai krisis sejarah Muslim. Terutama dalam perdebatan apakah Nabi itu seorang kepala negara atau bukan, ketika berada di Madinah. Begitu pula dengan sistem kekhilafahan yang dianggap sebagai sistem “semi otokrasi”. Masalah ini sempat menjadi perdebatan pro-kontra yang begitu panjang dan melelahkan, seperti gagasan Al-Maududi bertolak belakang dengan Ali Abdur Razik.
Tetapi, modal utama yang penting adalah mereka sama-sama berpegang teguh pada landasan al-Qur’an dan Sunnah. Jadi jelas bahwa ada dua interpretasi mengenai sistem sosio politik dalam sejarah Muslim, bahwa pada satu pihak, ia mengarahkan tatanan sistem politik itu berakar pada sumber wahyu, sementara di lain pihak, ia menghendaki bahwa sistem politik itu bukan terkait dengan masalah wahyu.
Memang, agak aneh kiranya kalau dikatakan, bahwa dalam Islam persoalan-pertama-tama timbul adalah soal politik dan bukan soal teologi. Ketika Nabi wafat 623 M, sama sekali beliau tidak mengisyaratkan mengenai bentuk dan model pemerintahan. Sehingga tidak mengherankan kalau masyarakat Madinah waktu itu, sibuk memikirkan pengganti beliau untuk mengepalai negara, ketimbang harus mengubur jenazah Nabi. Di sinilah format pertama bentukan kaum Muslim sendiri ketika menggantikan tugas Nabi sebagai pemimpin negara waktu itu, dengan sebutan khilafah. Tugas sebagai Nabi atau Rasul, Nabi tentu tidak dapat digantikan.
Melihat kenyataan di atas, M. Ayoub berusaha mengkritisi kembali sejarah Muslim seperti yang dibangun oleh sejarawan Muslim masa silam. Sebab mempelajari pengetahuan sejarah bukan saja penting, tetapi keharusan bagi ummat Islam untuk mengetahui esensi dan eksistensi kepribadian Muslim itu sendiri. Perbedaan-perbedaan interpretasi sejarah itu adalah hal wajar yang justru menjadikan Islam dapat berkembang secara dinamis.
Meski karya sejarah Muslim telah banyak bertebaran, tapi karya M. Ayoub ini lebih terfokus pada masalah hubungan antara agama dan politik, terutama masa-masa pembentukan dalam sejarah Muslim. Melalui karya ini, Ayoub memberikan konstribusi bagi umat Islam dalam melihat krisis politik dan sosio keagamaan pasca wafatnya Nabi. Seperti yang terpaparkan dalam sejarah munculnya teologi/ilmu kalam, bahwa perpecahan terjadi ketika masa khalifah Usman ibn Affan hingga masa Ali Ibn Abi Thalib. Di sinilah letak krisis sejarah Muslim itu.
Pertimbangan dalam mengusung calon pemimpin lebih dikaitkan dengan simbol-simbol indentitas, seperti faktor keturunan atau suku, kesenioran, dan kedekatan dengan Nabi dan lain sebagainya. Sementara pertimbangan “profesional” belum tampak mengemuka waktu itu. Hal ini terlihat secara nyata pada keempat masa khalifah memimpin masyarakat Madinah.
Jadi, catatan kritis yang dikemukakan M. Ayoub adalah bukan hal yang mengada-ada, tetapi justru menambahkan informasi yang belum terpaparkan secara terbuka oleh sejarawan sebelumnya, dan memang, menulis sejarah tidak bisa sekali jadi, tetapi tetap membuka selebar-lebarnya peluang koreksi secara terus menerus supaya lebih sempurna.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
“ISLAM adalah agama yang memiliki sense sejarah yang sangat kuat”, demikianlah kata Bernard Lewis dalam bukunya, Historians of the Middle East. Agama Islam diakui sebagai inti yang pokok dari kepribadian dan harga diri setiap muslim. Maka pengetahuan tentang agama Islam, mutlak diperlukan untuk memberikan penilaian terhadap krisis sejarah Muslim, yang mempengaruhi peta sejarah politik umat Islam belakangan ini.
Sejarah Islam merupakan hasil interpretasi dan rekonstruksi masa lalu yang bersumber pada fakta dan memiliki makna atau arti. Sehingga mengulas sejarah harus pandai mengkait-kaitkan antara satu dimensi dengan dimensi lainnya. Namun dari masing-masing dimensi tersebut harus terdapat keterkaitan erat dan saling menguatkan satu sama lain.
Kini, hadir kembali sebuah interpretasi baru tentang sejarah Islam. M. Ayoub dalam bukunya yang berjudul “The Crisis of Muslim History” (2004) menyuguhkan fakta mengenai krisis sejarah Muslim. Terutama dalam perdebatan apakah Nabi itu seorang kepala negara atau bukan, ketika berada di Madinah. Begitu pula dengan sistem kekhilafahan yang dianggap sebagai sistem “semi otokrasi”. Masalah ini sempat menjadi perdebatan pro-kontra yang begitu panjang dan melelahkan, seperti gagasan Al-Maududi bertolak belakang dengan Ali Abdur Razik.
Tetapi, modal utama yang penting adalah mereka sama-sama berpegang teguh pada landasan al-Qur’an dan Sunnah. Jadi jelas bahwa ada dua interpretasi mengenai sistem sosio politik dalam sejarah Muslim, bahwa pada satu pihak, ia mengarahkan tatanan sistem politik itu berakar pada sumber wahyu, sementara di lain pihak, ia menghendaki bahwa sistem politik itu bukan terkait dengan masalah wahyu.
Memang, agak aneh kiranya kalau dikatakan, bahwa dalam Islam persoalan-pertama-tama timbul adalah soal politik dan bukan soal teologi. Ketika Nabi wafat 623 M, sama sekali beliau tidak mengisyaratkan mengenai bentuk dan model pemerintahan. Sehingga tidak mengherankan kalau masyarakat Madinah waktu itu, sibuk memikirkan pengganti beliau untuk mengepalai negara, ketimbang harus mengubur jenazah Nabi. Di sinilah format pertama bentukan kaum Muslim sendiri ketika menggantikan tugas Nabi sebagai pemimpin negara waktu itu, dengan sebutan khilafah. Tugas sebagai Nabi atau Rasul, Nabi tentu tidak dapat digantikan.
Melihat kenyataan di atas, M. Ayoub berusaha mengkritisi kembali sejarah Muslim seperti yang dibangun oleh sejarawan Muslim masa silam. Sebab mempelajari pengetahuan sejarah bukan saja penting, tetapi keharusan bagi ummat Islam untuk mengetahui esensi dan eksistensi kepribadian Muslim itu sendiri. Perbedaan-perbedaan interpretasi sejarah itu adalah hal wajar yang justru menjadikan Islam dapat berkembang secara dinamis.
Meski karya sejarah Muslim telah banyak bertebaran, tapi karya M. Ayoub ini lebih terfokus pada masalah hubungan antara agama dan politik, terutama masa-masa pembentukan dalam sejarah Muslim. Melalui karya ini, Ayoub memberikan konstribusi bagi umat Islam dalam melihat krisis politik dan sosio keagamaan pasca wafatnya Nabi. Seperti yang terpaparkan dalam sejarah munculnya teologi/ilmu kalam, bahwa perpecahan terjadi ketika masa khalifah Usman ibn Affan hingga masa Ali Ibn Abi Thalib. Di sinilah letak krisis sejarah Muslim itu.
Pertimbangan dalam mengusung calon pemimpin lebih dikaitkan dengan simbol-simbol indentitas, seperti faktor keturunan atau suku, kesenioran, dan kedekatan dengan Nabi dan lain sebagainya. Sementara pertimbangan “profesional” belum tampak mengemuka waktu itu. Hal ini terlihat secara nyata pada keempat masa khalifah memimpin masyarakat Madinah.
Jadi, catatan kritis yang dikemukakan M. Ayoub adalah bukan hal yang mengada-ada, tetapi justru menambahkan informasi yang belum terpaparkan secara terbuka oleh sejarawan sebelumnya, dan memang, menulis sejarah tidak bisa sekali jadi, tetapi tetap membuka selebar-lebarnya peluang koreksi secara terus menerus supaya lebih sempurna.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
Minggu, 21 Maret 2010
Menyapa Tuhan Lewat Sains
Mujtahid
SEJAK tiga abad yang lalu, ketika Isac Newton membacakan bukunya yang berjudul Principhiae Philosophiae Matematica, di depan Royal Society of London, perkembangan sains melesat tajam. Tak kalah populernya, Charles Darwin memunculkan The Origin of Species pada abad 19, yang melahirkan konsep evolusi makhluk hidup, karya ini sekaligus mempertajam pemisahan perkembangan iptek dengan pemahaman keagamaan.
Namun pada dekade terakahir ini, hubungan sains dan agama menguat kembali. Hal ini terutama menyangkut soal temuan-temuan ilmiah oleh para sarjana muslim. Setelah sekian lama, sains dipandang mengancam keberadaan agama pada satu sisi, dan agama dipandang sebagai penghambat perkembangan sains di sisi lain, akhirnya dapat di pertemukan kembali melalui interpretasi yang sehat baik pada teks-teks kitab suci maupun lewat dimensi alam semesta ini.
Kekhawatiaran dan kecurigaan yang berlebihan terhadap saintis modern itu sesungguhnya terlalu berlebihan. Sebab, sains tidak akan pernah menjerumuskan manusia, sebagai kreator yang mengendalikan sains. Sains yang terbentuk pasti juga akan tunduk pada pemiliknya. Hanya saja, persoalan yang terjadi adalah pelaku itu sendiri yang menyalahgunakan sains.
Sebagai tanda bangkitnya kesadaran dan perhatian kaum muslim terhadap dunia sains, Mehdi Golshani (2004) menyuguhkan sebuah interpretasi bahwa semua bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta ini adalah sebuah jalan untuk menuju Tuhan. Seperti yang tersurat salah satu karyanya yang berjudul “Melacak Jejak Tuhan Dalam Sains”. Mehdi Golshani secara lugas memberikan pembacaan ayat-ayat Tuhan melalui sains modern.
Dalam Islam, Tuhan menurunkan pengetahuan (sumber informasi) kepada manusia melalui dua kategori. Kategori pertama, yaitu pengetahuan itu lewat wahyu yang sifatnya “given” dan dalam bentuk kata verbal. Pengetahuan ini berupa ayat suci al-Qur’an yang menjadi rujukan dan doktrin ajaran yang menyemangati kualitas hidup manusia ke jalan yang lurus. Sementara ketegori yang kedua, yaitu pengetahuan yang berasal dari hamparan alam semesta (kauniyah). Sumber pengetahuan kauniyah termasuk ‘‘adah al-alam” yang berhubungan dengan fungsi dan kemanfaatan alam ini diciptakan untuk manusia. Dua pengetahuan ini sama-sama menjadi perantara manusia untuk meyakini bahwa Tuhan itu benar-benar eksis.
Dari sumber teks-teks normatif, Islam sangat menjunjung tinggi serta menghargai pengetahuan. Bahkan salah satu ‘kualitas ibadah’ seseorang dapat dilihat dari segi kesalehan dan kualitas keilmuannya. Islam sendiri tidak membeda-bedakan antara sains yang umum maupun keagamaan. Kedua-duanya merupakan media manusia dalam melacak jejak Tuhan yang menurunkan-Nya. Jadi, untuk menuju Tuhan, tidak mesti pakai pengetahuan keagamaan, pengetahuan umum juga bisa. Dengan begitu, berarti Islam tidak menyediakan ruang terjadinya dikotomi sains.
Islam menghargai bahwa pencarian sains merupakan bentuk ibadah. Dari sudut ajaran Islam yang paling dalam sering diungkapkan bahwa “mencari ilmu adalah wajib bagi muslim mulai lahir hingga akhir ajal”. Tak kalah menariknya, kaum muslim dianjurkan mencari ilmu sampai ke negeri Cina, bahkan di kaum musyrik sekalipun. Jelas sekali, bahwa Islam menempatkan sains itu sebagai puncak dari sesuatu yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Pantas jika “jejak Tuhan” itu dapat di lacak dalam sains.
Cara menyapa Tuhan bukan hanya melewati jalan ritual. Namun, pengkajian sains pada hakikatnya metode lain untuk mendekat Tuhan. Metode ini pasti melakukan eksperimentasi, obserbasi, penalaran teoritis, intuisi untuk membuka seluk beluk alam semesta ini. Terlebih, alam sampai saat ini, masih menjadi lahan strategis yang bisa digali secara terus-menerus dan tiada habis. Karenanya, kejayaan peradaban Islam masa silam, kata Golshani, bukan semata-mata dilandasai ajaran normatif, tetapi karena ada semangat dan motivasi yang tinggi mencari ilmu-ilmu kealaman dan matematis yang Tuhan sediakan di muka bumi ini.
Kesadaran dan perhatian terhadap pengkajian sains oleh sarjana muslim terus bergulir. Hasil temuan-temuan mereka semakin menambah tingkat “kedekatan” kaum muslim dengan Tuhan. Selama ini, sains yang didominasi oleh temuan para saintis modern telah merenggangkan hubungan sains dengan agama, sekarang menjadi semakin mengukuhkan bahwa keduanya saling terjadi keteraturan.
Konteks keteraturan merupakan hal yang dikehendaki Tuhan. Sebab, diri Tuhan selalu bisa menjelma dengan apa yang Ia ciptakan, termasuk pada alam. Jadi dengan penguasaan sains, berati mendorong penguatan spiritualitas pada level yang tinggi. Bahkan, Golshani mengaskan bahwa sains dapat membawa ilmuan kepada Tuhan, jika sains ditafsirkan dalam kerangka metafisis yang tepat.
Sebagai seorang fisikawan, Golshani menggunakan penalarannya untuk menafsirkan sains ke dalam kerangka metafisis Islami. Upaya kreatif ini tentu berbeda dengan sebagian pemikir yang sering mencocok-cocokkan “keterkaitan” antara dimensi wahyu dengan dimensi alam. Usaha seperti itu, kata Golshani, merupakan kerja yang tanggung dan kurang percaya diri.
Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
SEJAK tiga abad yang lalu, ketika Isac Newton membacakan bukunya yang berjudul Principhiae Philosophiae Matematica, di depan Royal Society of London, perkembangan sains melesat tajam. Tak kalah populernya, Charles Darwin memunculkan The Origin of Species pada abad 19, yang melahirkan konsep evolusi makhluk hidup, karya ini sekaligus mempertajam pemisahan perkembangan iptek dengan pemahaman keagamaan.
Namun pada dekade terakahir ini, hubungan sains dan agama menguat kembali. Hal ini terutama menyangkut soal temuan-temuan ilmiah oleh para sarjana muslim. Setelah sekian lama, sains dipandang mengancam keberadaan agama pada satu sisi, dan agama dipandang sebagai penghambat perkembangan sains di sisi lain, akhirnya dapat di pertemukan kembali melalui interpretasi yang sehat baik pada teks-teks kitab suci maupun lewat dimensi alam semesta ini.
Kekhawatiaran dan kecurigaan yang berlebihan terhadap saintis modern itu sesungguhnya terlalu berlebihan. Sebab, sains tidak akan pernah menjerumuskan manusia, sebagai kreator yang mengendalikan sains. Sains yang terbentuk pasti juga akan tunduk pada pemiliknya. Hanya saja, persoalan yang terjadi adalah pelaku itu sendiri yang menyalahgunakan sains.
Sebagai tanda bangkitnya kesadaran dan perhatian kaum muslim terhadap dunia sains, Mehdi Golshani (2004) menyuguhkan sebuah interpretasi bahwa semua bentuk ciptaan Tuhan di alam semesta ini adalah sebuah jalan untuk menuju Tuhan. Seperti yang tersurat salah satu karyanya yang berjudul “Melacak Jejak Tuhan Dalam Sains”. Mehdi Golshani secara lugas memberikan pembacaan ayat-ayat Tuhan melalui sains modern.
Dalam Islam, Tuhan menurunkan pengetahuan (sumber informasi) kepada manusia melalui dua kategori. Kategori pertama, yaitu pengetahuan itu lewat wahyu yang sifatnya “given” dan dalam bentuk kata verbal. Pengetahuan ini berupa ayat suci al-Qur’an yang menjadi rujukan dan doktrin ajaran yang menyemangati kualitas hidup manusia ke jalan yang lurus. Sementara ketegori yang kedua, yaitu pengetahuan yang berasal dari hamparan alam semesta (kauniyah). Sumber pengetahuan kauniyah termasuk ‘‘adah al-alam” yang berhubungan dengan fungsi dan kemanfaatan alam ini diciptakan untuk manusia. Dua pengetahuan ini sama-sama menjadi perantara manusia untuk meyakini bahwa Tuhan itu benar-benar eksis.
Dari sumber teks-teks normatif, Islam sangat menjunjung tinggi serta menghargai pengetahuan. Bahkan salah satu ‘kualitas ibadah’ seseorang dapat dilihat dari segi kesalehan dan kualitas keilmuannya. Islam sendiri tidak membeda-bedakan antara sains yang umum maupun keagamaan. Kedua-duanya merupakan media manusia dalam melacak jejak Tuhan yang menurunkan-Nya. Jadi, untuk menuju Tuhan, tidak mesti pakai pengetahuan keagamaan, pengetahuan umum juga bisa. Dengan begitu, berarti Islam tidak menyediakan ruang terjadinya dikotomi sains.
Islam menghargai bahwa pencarian sains merupakan bentuk ibadah. Dari sudut ajaran Islam yang paling dalam sering diungkapkan bahwa “mencari ilmu adalah wajib bagi muslim mulai lahir hingga akhir ajal”. Tak kalah menariknya, kaum muslim dianjurkan mencari ilmu sampai ke negeri Cina, bahkan di kaum musyrik sekalipun. Jelas sekali, bahwa Islam menempatkan sains itu sebagai puncak dari sesuatu yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Pantas jika “jejak Tuhan” itu dapat di lacak dalam sains.
Cara menyapa Tuhan bukan hanya melewati jalan ritual. Namun, pengkajian sains pada hakikatnya metode lain untuk mendekat Tuhan. Metode ini pasti melakukan eksperimentasi, obserbasi, penalaran teoritis, intuisi untuk membuka seluk beluk alam semesta ini. Terlebih, alam sampai saat ini, masih menjadi lahan strategis yang bisa digali secara terus-menerus dan tiada habis. Karenanya, kejayaan peradaban Islam masa silam, kata Golshani, bukan semata-mata dilandasai ajaran normatif, tetapi karena ada semangat dan motivasi yang tinggi mencari ilmu-ilmu kealaman dan matematis yang Tuhan sediakan di muka bumi ini.
Kesadaran dan perhatian terhadap pengkajian sains oleh sarjana muslim terus bergulir. Hasil temuan-temuan mereka semakin menambah tingkat “kedekatan” kaum muslim dengan Tuhan. Selama ini, sains yang didominasi oleh temuan para saintis modern telah merenggangkan hubungan sains dengan agama, sekarang menjadi semakin mengukuhkan bahwa keduanya saling terjadi keteraturan.
Konteks keteraturan merupakan hal yang dikehendaki Tuhan. Sebab, diri Tuhan selalu bisa menjelma dengan apa yang Ia ciptakan, termasuk pada alam. Jadi dengan penguasaan sains, berati mendorong penguatan spiritualitas pada level yang tinggi. Bahkan, Golshani mengaskan bahwa sains dapat membawa ilmuan kepada Tuhan, jika sains ditafsirkan dalam kerangka metafisis yang tepat.
Sebagai seorang fisikawan, Golshani menggunakan penalarannya untuk menafsirkan sains ke dalam kerangka metafisis Islami. Upaya kreatif ini tentu berbeda dengan sebagian pemikir yang sering mencocok-cocokkan “keterkaitan” antara dimensi wahyu dengan dimensi alam. Usaha seperti itu, kata Golshani, merupakan kerja yang tanggung dan kurang percaya diri.
Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
Sabtu, 20 Maret 2010
Hakikat Hermeneutika
Mujtahid
SEBAGAI pendekatan dalam memahami teks, hermeneutika telah menyumbangkan metodologis untuk mengatasi kesulitan interpretasi. Meski semula hermeneutik ditujukan hanya untuk “tafsir teks kitab suci”, tetapi oleh para tokoh hermeneutik, mereka memakainya tidak hanya seputar teks, melainkan sebagai metode untuk menjelaskan ilmu-ilmu kemanusiaan (geisteswissenschaften).
Term hermeneutika juga dijelaskan sebagai studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi. Namun, sekilas penjelasan itu agaknya memang kurang memuaskan bagi pemikir hermeneutik. Karena lebih dari itu, hermeneutika ingin mengatasi kesulitan-kesulitan pemahaman terhadap realitas yang sulit disentuh oleh metode lain, seperti fenomenologis, teori tindakan Weber, dekonstruksi dan lain-lain.
Tujuan hermeneutika adalah “untuk menangkap pikiran yang ditulis atau bahkan yang dikatakan pengarang seperti yang dia inginkan”. Interpretasi itu adalah bentuk dialog, maksudnya yaitu dialog dengan pengarang. Richard E. Palmer dalam buku ini, telah menjelaskan konsep hermeneutika dengan segala perbedaannya, sekaligus memaparkan empat kritikus utama yang erat disebut-sebut sebagai pelopor dan tokoh hermeneutik, seperti Schleimacher, Dilthey, Heidegger, dan Gadamer.
Dalam sejarahnya, menurut Richard E. Palmer (2003), menyatakan bahwa istilah “hermeneutika” mempunyai beberapa definisi. Definisi pertama, kata Palmer, yaitu merujuk kepada prinsip-prinsip interpretasi Bibel. Hermeneutik menjadi kebutuhan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan interpretasi, terutama terhadap kaidah-kaidah eksegesis (komentar) kitab suci (skripture). Jadi kehadiran hermeneutik, difungsikan untuk mengungkap pikiran Tuhan (teks suci).
Kedua, hermeneutik sebagai metodologi filologis. Ketika kitab suci telah di tafsirkan, bisa jadi hasil penafsiran itu perlu dinalar lagi, sehingga untuk memahami penafsir, diperlukan terobosan hermeneutika.
Ketiga, hermeneutika sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial. Tokoh yang mengungkap definisi ini yaitu Martin Haidegger. Analisis Haidegger mengindikasikan bahwa “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan model fondasional keberadaan manusia. Hermeneutika Dasein Haidegger mempresentasikan ontologi pemahaman, terutama yang bersifat hermeneutis Being and Time. Pemikiran Haidegger selanjutnya diikuti oleh Gadamer, bahkan selangkah lebih maju. Gadamer dengan menghadirkan sebuah kosa kata “linguistik” ke dalam hermeneutika, telah membuat kontroversial tetapi cukup berhasil. Ia menyatakan bahwa hermeneutika merupakan pertemuan dengan Ada (Being) yang dapat dipahami dengan bahasa. Puncaknya, Gadamer menyatakan karakter linguistik relaitas manusia itu sendiri, dan hermeneutika larut ke dalam persoalan-persoalan yang sangat filosofis dari relasi bahasa dengan ada, pemahaman, sejarah, eksistensi dan realitas.
Keempat, hermeneutika sebagai sistem interpretasi untuk menemukan makna. Paul Ricoeur, dalam De I’intretation mendefinisikan hermeneutika mengacu pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distingtif dan sentral dalam hermeneutika. Jadi sebuah kaidah-kaidah yang menata sebuah eksegesis, atau sebuah interpretasi teks partikular, yang merupakan tanda-tanda keberadaan yang dipandang sebuah teks.
Kelima, hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenschaften (semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia). Dilthey sebagai tokohnya, menyatakan untuk menafsirkan ekspresi manusia, baik yang menyangkut hukum, karya seni, maupun kitab suci, membutuhkan tindakan pemahaman historis. Apa yang dibutuhkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, dalam keyakinan Dilthey, merupakan “kritik” nalar lain yang akan mengurusi pemahaman historis bagi kritik akal murninya Kant yang telah mengurusi ilmu-ilmu alam.
Keenam, hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik. Schleiermacher menerjemahkan hermeneutika sebagai “ilmu” atau “seni” pemahaman. Hermeneutika berhasil mengembalikan keutuhan dan keotentikan makna teks, baik dipandang dari asal-usulnya maupun dari interpretasi-interpretasi yang pejoratif.
Dari definisi tersebut, hermeneutika hadir untuk melakukan pembongkaran terhadap teks, interpterasi teks, dan sekaligus penafsirnya. Sebab hanya dengan hermeneutik, tujuan makna yang tersembunyi dibalik semua itu dapat dipahami sesuai dengan tujuannya.
Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
SEBAGAI pendekatan dalam memahami teks, hermeneutika telah menyumbangkan metodologis untuk mengatasi kesulitan interpretasi. Meski semula hermeneutik ditujukan hanya untuk “tafsir teks kitab suci”, tetapi oleh para tokoh hermeneutik, mereka memakainya tidak hanya seputar teks, melainkan sebagai metode untuk menjelaskan ilmu-ilmu kemanusiaan (geisteswissenschaften).
Term hermeneutika juga dijelaskan sebagai studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi. Namun, sekilas penjelasan itu agaknya memang kurang memuaskan bagi pemikir hermeneutik. Karena lebih dari itu, hermeneutika ingin mengatasi kesulitan-kesulitan pemahaman terhadap realitas yang sulit disentuh oleh metode lain, seperti fenomenologis, teori tindakan Weber, dekonstruksi dan lain-lain.
Tujuan hermeneutika adalah “untuk menangkap pikiran yang ditulis atau bahkan yang dikatakan pengarang seperti yang dia inginkan”. Interpretasi itu adalah bentuk dialog, maksudnya yaitu dialog dengan pengarang. Richard E. Palmer dalam buku ini, telah menjelaskan konsep hermeneutika dengan segala perbedaannya, sekaligus memaparkan empat kritikus utama yang erat disebut-sebut sebagai pelopor dan tokoh hermeneutik, seperti Schleimacher, Dilthey, Heidegger, dan Gadamer.
Dalam sejarahnya, menurut Richard E. Palmer (2003), menyatakan bahwa istilah “hermeneutika” mempunyai beberapa definisi. Definisi pertama, kata Palmer, yaitu merujuk kepada prinsip-prinsip interpretasi Bibel. Hermeneutik menjadi kebutuhan untuk mengatasi kesulitan-kesulitan interpretasi, terutama terhadap kaidah-kaidah eksegesis (komentar) kitab suci (skripture). Jadi kehadiran hermeneutik, difungsikan untuk mengungkap pikiran Tuhan (teks suci).
Kedua, hermeneutik sebagai metodologi filologis. Ketika kitab suci telah di tafsirkan, bisa jadi hasil penafsiran itu perlu dinalar lagi, sehingga untuk memahami penafsir, diperlukan terobosan hermeneutika.
Ketiga, hermeneutika sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial. Tokoh yang mengungkap definisi ini yaitu Martin Haidegger. Analisis Haidegger mengindikasikan bahwa “pemahaman” dan “interpretasi” merupakan model fondasional keberadaan manusia. Hermeneutika Dasein Haidegger mempresentasikan ontologi pemahaman, terutama yang bersifat hermeneutis Being and Time. Pemikiran Haidegger selanjutnya diikuti oleh Gadamer, bahkan selangkah lebih maju. Gadamer dengan menghadirkan sebuah kosa kata “linguistik” ke dalam hermeneutika, telah membuat kontroversial tetapi cukup berhasil. Ia menyatakan bahwa hermeneutika merupakan pertemuan dengan Ada (Being) yang dapat dipahami dengan bahasa. Puncaknya, Gadamer menyatakan karakter linguistik relaitas manusia itu sendiri, dan hermeneutika larut ke dalam persoalan-persoalan yang sangat filosofis dari relasi bahasa dengan ada, pemahaman, sejarah, eksistensi dan realitas.
Keempat, hermeneutika sebagai sistem interpretasi untuk menemukan makna. Paul Ricoeur, dalam De I’intretation mendefinisikan hermeneutika mengacu pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distingtif dan sentral dalam hermeneutika. Jadi sebuah kaidah-kaidah yang menata sebuah eksegesis, atau sebuah interpretasi teks partikular, yang merupakan tanda-tanda keberadaan yang dipandang sebuah teks.
Kelima, hermeneutika sebagai fondasi metodologi bagi geisteswissenschaften (semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia). Dilthey sebagai tokohnya, menyatakan untuk menafsirkan ekspresi manusia, baik yang menyangkut hukum, karya seni, maupun kitab suci, membutuhkan tindakan pemahaman historis. Apa yang dibutuhkan dalam ilmu-ilmu kemanusiaan, dalam keyakinan Dilthey, merupakan “kritik” nalar lain yang akan mengurusi pemahaman historis bagi kritik akal murninya Kant yang telah mengurusi ilmu-ilmu alam.
Keenam, hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik. Schleiermacher menerjemahkan hermeneutika sebagai “ilmu” atau “seni” pemahaman. Hermeneutika berhasil mengembalikan keutuhan dan keotentikan makna teks, baik dipandang dari asal-usulnya maupun dari interpretasi-interpretasi yang pejoratif.
Dari definisi tersebut, hermeneutika hadir untuk melakukan pembongkaran terhadap teks, interpterasi teks, dan sekaligus penafsirnya. Sebab hanya dengan hermeneutik, tujuan makna yang tersembunyi dibalik semua itu dapat dipahami sesuai dengan tujuannya.
Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
Langganan:
Postingan (Atom)