Mujtahid
MESKI telah meninggal tujuh abad yang silam, namun penyair ulung Jalaluddin Rumi masih terasa hangat di peredaraan zaman. Hal ini terbukti dengan sejumlah karya-karya Masterpiece Rumi yang masih diminati banyak kalangan, baik kaum Muslim maupun non Muslim. Daya magnit yang ia tinggalkan, seolah sekeping emas yang dicari-cari banyak orang. Selain itu, reputasi Rumi agaknya sulit ditandingkan dengan penyair-penyair lain.
Sosok Rumi yang begitu populer mampu menyedot perhatian semua klas masyarakat dunia, mulai dari rakyat jelata hingga kalangan istana atau raja. Bahkan, tak sedikit karya-karya Rumi menjadi koleksi perpustakaan kerajaan pada era keemasan Islam (Golden Age of Islam) abad 13 hingga abad pertengahan.
Lebih dari itu, peminat karya sastra Rumi semakin terus meningkat dari waktu ke waktu, kini karya sastra Rumi justru menggemparkan di dunia Barat. Di mana saat-saat orang Barat banyak mengalami “kekeringan” spiritual, warisan karya Rumi bagaikan “hujan” di musim kemarau yang mampu membasahi dan menghidupkan kembali spiritual mereka.
Menurut catatan tabloid Christian Science Monitor tahun 1970 di Amerika, karya ‘penyair sufi’ tersebut menjadi “idola” yang membanjiri dan memenangi pasar karya sastra. Banyak orang terheran-heran mengapa bahasa intuitifnya, humanitas, dan ramalan kosmosnya masih terus berpengaruh secara mendalam dan ditafsirkan tiada henti secara beragam. Tak hanya itu, kini ada kecenderungan para pengagum Barat cenderung mencabut Rumi dari konteks sejarahnya dan merangkulnya sebagai miliknya sendiri.
Sosok Rumi merupakan salah seorang penyair langka. Ia dipuja karena punya bakat dan kemampuan beda. Artinya, kemampuannya yang langka itu sekaligus membedakan dirinya dengan penyair lazimnya. Letak beda dan kekhasannya yaitu ia memiliki empati yang sangat tinggi terhadap manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan. Kemurnian pribadinya mengantarkan sampai menuju puncak ajaran wahdah al wujud (peleburan/manunggaling) dengan Allah swt. Suatu maqam ajaran tasawuf tertinggi.
Karya Rumi itu, kini terus dibaca dan diteliti sejumlah sastrawan dan siapa pun yang meminatinya. Sebuah buku yang ditulis Leslie Wines (2004) berjudul “Menari Menghampiri Tuhan; Biografi Spiritual Rumi”, termasuk bagian dari penelitian terhadap sejumlah karya Rumi yang berserakan di mana-mana. Tak kurang dari sepuluh tema, Wines menyuguhkan tentang sejarah biografi almarhum Rumi secara komprehensif.
Masa hidup Rumi, kata Wines, lebih banyak di perantauan ketimbang di kampungnya sendiri. Dari kecil hingga dewasa, Rumi biasa keluar masuk kota. Dalam benak Rumi, tak ada kehidupan tanpa perubahan. Perubahan adalah tanda kehidupan, begitulah keyakinan Rumi. Karena dengan mau berubah, seseorang akan berpikir dan bertindak maju dan kreatif. Tak hanya masalah duniawi yang maju, tetapi spiritual juga harus semakin kokoh.
Jadi, Rumi terbiasa hidup malang-melintang ditengah sengatan Gurun Sahara. Dengan semangat yang tinggi, Rumi menelusuri perjalanan spiritualnya tanpa menyerah, berkeluh kesah dan tanpa batas. Penjelajahan inilah yang mempertemukan Rumi dengan para tokoh ternama. Ia berusaha banyak belajar dari pengalaman orang lain. Karena belajar adalah wajib dilakukan setiap Muslim, mulai dari lahir sampai akhir hayat. Begitulah doktrin yang dipengangi Rumi.
Kondisi yang nomadis akhirnya mempengaruhi sikap spiritual Rumi. Kehidupan spiritual, kata Rumi, merupakan perjalanan tanpa akhir, suatu pencarian akan kebenaran Ilahi, yang terus menerus disadarinya. Keharusan untuk berpindah-pindah, dan bukannya menancapkan akar yang dalam disuatu tempat, pasti sekali waktu terasa menyakitkan. Bahkan, ia rela berpisah dari istri dan anak-anaknya dalam waktu yang relatif lama demi mencapai kesempurnaan spiritualnya
Hampir semua karya Rumi mengusung dimensi spiritual yang amat tinggi. Pikiran-pikiran Rumi ibarat“ice breaking” (pemecah kebekuan) spiritual yang banyak dialami manusia dewasa ini.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang.
Tampilkan postingan dengan label sastra dan budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra dan budaya. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 29 Mei 2010
Selasa, 23 Maret 2010
Kisah Pendaki Menuju Puncak Everest
Mujtahid
EVEREST merupakan salah satu gunung bersejarah yang beberapa kali pernah menggemparkan dunia. Gempar, karena gunung yang hingga ratusan tahun sulit tertaklukkan para pendaki, akhirnya bisa dicapai. Selain itu, gempar karena gunung tersebut telah merenggut puluhan jiwa pendaki yang mencoba menaklukannya. Gunung yang memiliki ketinggian hingga 29.028 kaki dengan cuaca yang mematikan dapat ditaklukkan oleh berbagai tim ekspedisi, tak terkecuali oleh tim Jon Krakauer.
Everest terletak di perbatasan Nepal dan Tibet, yang menjulang bagaikan piramid tiga sisi terbetuk dari es yang mengilat dan batu berwarna gelap yang carut-marut. Puncak XV-begitulah nama sebelumnya-, menjadi sesuatu yang sangat penting. Hampir setiap musim, para pendaki dari berbagai benua ingin mencoba menaklukkannya. Nama Everest diambil dari nama seorang gubernur pengukuran untuk wilayah India, yakni Sir George Everest. Setelah Everest dinobatkan sebagai gunung tertinggi di bumi, orang-orang memutuskan bahwa Everest layak didaki.
Setelah penjelajah Amerika, Robert Peary, menaklukkan Kutub Utara pada 1909 dan Ronald Amundsen memimpin para penjelajah Norwergia menaklukkan Kutub Selatan pada 1911, Everest –yang dijuluki Kutup Ketiga- menjadi objek yang paling menarik dalam dunia penjelajahan. Mencapai puncaknya, kata Gunther O Dyrenfurth-seorang pendaki ternama dan pencatat sejarah pendakian Himalaya- seperti yang dikutip Krakauer, menyatakan “merupakan upaya manusia yang bersifat mendunia, sebuah sasaran yang layak diraih, apapun risiko dan kerugian yang harus dihadapi”.
Dari data himpuan Sikhdar pada tahun 1852, Everest telah merenggut 24 orang korban, dari 15 tim ekspedisi, dan rentang 101 tahun, sebelum akhirnya Everest berhasil ditaklukkan. Menurut pakar geologi, Everest sebenarnya bukanlah gunung yang indah. Namun keanggunan arsitektural yang dimiliki Everest itu diimbangi dengan massanya yang besar dan menakjubkan.
Pada 1924, Everest-kurang 900 kaki dari puncak- dapat ditaklukkan tim ekspedisi dari Inggris, Edward Felix Norton. Prestasi itu benar-benar menakjubkan dan mungkin tak tertandingi hingga dua puluh sembilan tahun kemudian. Namun, tak lama kemudian, mereka berusaha kembali menuju puncak. Hingga akhirnya Mallory-tokoh utama di balik tim ekspedisi pertama- yang menaklukkan Everest, bahkan namanya sering dikaitkan dengan Everest. Pada fase ini, setiap pendaki yang ingin menuju puncak Everest hanya diperkenankan dari Tibet wilayah jalur Utara.
Setelah itu, mulai 1949 hingga sekarang, jalur Selatan (Nepal) mulai dibuka. Para pencinta pendaki mulai mengalihkan perhatian mereka ke jalur selatan puncak Himalaya itu. Pada musim semi 1953, sebuah tim ekspedisi besar dari Inggris, menjadi tim ekspedisi ketiga yang berusaha menaklukkan Everest dari wilayah Nepal dalam waktu selama dua setengah bulan. Hillary dan Tenzing adalah menjadi orang pertama ygberdiri dipuncak gunung Everest pada 1953.
Dengan jalur berbeda sebelumnya, puncak Everest kembali ditaklukkan pada 1963, oleh Tom Horbein, seorang dokter dari Missouri, dan Willi Unsoeld, seorang profesor teologi dari Oregon, melalui wilayah tepi Barat gunung. Jalur ini disinyalir sebagai jalur yang paling berat dilalui, dan dinobatkan sebagai prestasi terbesar dalam dunia pendakian gunung.
Everest di mata pendaki, merupakan tantangan sekaligus kehormatan. Karena tak semua pendaki dapat melakukannya, bahkan tergolong pendaki elit saja yang mampu mengukir prestasi ke sana. Pendaki yang sampai puncak Everest termasuk pendaki yang elit dan cenderung dikomersialkan. Hal inilah yang menyedot perhatian Krakauer untuk mencobanya. Ia ingin menjadi pendaki elit seperti orang-orang sebelumnya. Inspirasinya itu baru terwujud pada 1996.
Ajang komersial pendaki gunung Everest menjadi tak terelekkan. Karena disamping biaya perizinan yang cukup mahal, juga perlu ada jaminan khusus yang menyengkut persedian bahan dan keselamatan yang relatif tinggi. Mendaki Everest tidak hanya mengandalkan “bonek” (modal nekat) dan khayalan belaka, seperti yang terbenak para pendaki tradisional.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
EVEREST merupakan salah satu gunung bersejarah yang beberapa kali pernah menggemparkan dunia. Gempar, karena gunung yang hingga ratusan tahun sulit tertaklukkan para pendaki, akhirnya bisa dicapai. Selain itu, gempar karena gunung tersebut telah merenggut puluhan jiwa pendaki yang mencoba menaklukannya. Gunung yang memiliki ketinggian hingga 29.028 kaki dengan cuaca yang mematikan dapat ditaklukkan oleh berbagai tim ekspedisi, tak terkecuali oleh tim Jon Krakauer.
Everest terletak di perbatasan Nepal dan Tibet, yang menjulang bagaikan piramid tiga sisi terbetuk dari es yang mengilat dan batu berwarna gelap yang carut-marut. Puncak XV-begitulah nama sebelumnya-, menjadi sesuatu yang sangat penting. Hampir setiap musim, para pendaki dari berbagai benua ingin mencoba menaklukkannya. Nama Everest diambil dari nama seorang gubernur pengukuran untuk wilayah India, yakni Sir George Everest. Setelah Everest dinobatkan sebagai gunung tertinggi di bumi, orang-orang memutuskan bahwa Everest layak didaki.
Setelah penjelajah Amerika, Robert Peary, menaklukkan Kutub Utara pada 1909 dan Ronald Amundsen memimpin para penjelajah Norwergia menaklukkan Kutub Selatan pada 1911, Everest –yang dijuluki Kutup Ketiga- menjadi objek yang paling menarik dalam dunia penjelajahan. Mencapai puncaknya, kata Gunther O Dyrenfurth-seorang pendaki ternama dan pencatat sejarah pendakian Himalaya- seperti yang dikutip Krakauer, menyatakan “merupakan upaya manusia yang bersifat mendunia, sebuah sasaran yang layak diraih, apapun risiko dan kerugian yang harus dihadapi”.
Dari data himpuan Sikhdar pada tahun 1852, Everest telah merenggut 24 orang korban, dari 15 tim ekspedisi, dan rentang 101 tahun, sebelum akhirnya Everest berhasil ditaklukkan. Menurut pakar geologi, Everest sebenarnya bukanlah gunung yang indah. Namun keanggunan arsitektural yang dimiliki Everest itu diimbangi dengan massanya yang besar dan menakjubkan.
Pada 1924, Everest-kurang 900 kaki dari puncak- dapat ditaklukkan tim ekspedisi dari Inggris, Edward Felix Norton. Prestasi itu benar-benar menakjubkan dan mungkin tak tertandingi hingga dua puluh sembilan tahun kemudian. Namun, tak lama kemudian, mereka berusaha kembali menuju puncak. Hingga akhirnya Mallory-tokoh utama di balik tim ekspedisi pertama- yang menaklukkan Everest, bahkan namanya sering dikaitkan dengan Everest. Pada fase ini, setiap pendaki yang ingin menuju puncak Everest hanya diperkenankan dari Tibet wilayah jalur Utara.
Setelah itu, mulai 1949 hingga sekarang, jalur Selatan (Nepal) mulai dibuka. Para pencinta pendaki mulai mengalihkan perhatian mereka ke jalur selatan puncak Himalaya itu. Pada musim semi 1953, sebuah tim ekspedisi besar dari Inggris, menjadi tim ekspedisi ketiga yang berusaha menaklukkan Everest dari wilayah Nepal dalam waktu selama dua setengah bulan. Hillary dan Tenzing adalah menjadi orang pertama ygberdiri dipuncak gunung Everest pada 1953.
Dengan jalur berbeda sebelumnya, puncak Everest kembali ditaklukkan pada 1963, oleh Tom Horbein, seorang dokter dari Missouri, dan Willi Unsoeld, seorang profesor teologi dari Oregon, melalui wilayah tepi Barat gunung. Jalur ini disinyalir sebagai jalur yang paling berat dilalui, dan dinobatkan sebagai prestasi terbesar dalam dunia pendakian gunung.
Everest di mata pendaki, merupakan tantangan sekaligus kehormatan. Karena tak semua pendaki dapat melakukannya, bahkan tergolong pendaki elit saja yang mampu mengukir prestasi ke sana. Pendaki yang sampai puncak Everest termasuk pendaki yang elit dan cenderung dikomersialkan. Hal inilah yang menyedot perhatian Krakauer untuk mencobanya. Ia ingin menjadi pendaki elit seperti orang-orang sebelumnya. Inspirasinya itu baru terwujud pada 1996.
Ajang komersial pendaki gunung Everest menjadi tak terelekkan. Karena disamping biaya perizinan yang cukup mahal, juga perlu ada jaminan khusus yang menyengkut persedian bahan dan keselamatan yang relatif tinggi. Mendaki Everest tidak hanya mengandalkan “bonek” (modal nekat) dan khayalan belaka, seperti yang terbenak para pendaki tradisional.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang
Kamis, 18 Maret 2010
Pers dan Hati Nurani
Mujtahid
SALAH satu tanda era globalisasi (dunia ketiga) adalah adanya pers dan jurnalistik. Di katakan masyarakat global (global society), karena mereka mengikuti denyut nadi perkembangan dan perubahan dunia. Meski mereka bertempat tinggal di satu kawasan, tetapi mereka bisa mengerti lintas kawasan. Hal ini berkat dukungan media pers dan jurnalistik.
Kini, kualitas dan keunggulan pers tidak luput dari kerja wartawan, reporter dan jurnalisnya. Suatu profesi yang berkaitan dengan peliputan berita, pencarian fakta, dan pelaporan peristiwa. Esensi dan eksistensi pers atau jurnalistik sangat ditentukan oleh kinerja wartawan atau jurnalis. Sudah menjadi hukum alam bila media pers ingin berkualitas dan berprestasi, maka para pengelolanya pun harus kualitas dan profesional.
Tak dapat disangkal lagi, bahwa media-media pers sekarang menuntut para wartawan atau pun jurnalisnya melakukan tugasnya secara profesional. Alasannya, karena media sebagai wahana informasi harus menyajikan “pemberitaan” yang sesuai dengan kelas masyarakat. ketidakobjektifan dan ketidakseimbangan berita seringkali diawali dari wartawannya yang kurang profesional.
Menurut Hikmat K. & Purnama K., (2005) bahwa profesi jurnalistik (wartawan) harus berlandaskan hati nurani. Di sampaing mengerti seluk beluknya, memiliki pengetahuan dan ketrampilan memadahi. Pemutarbalikan berita merupakan contoh kecil wartawan yang mudah ‘dibeli’ dan dipengaruhi pihak-pihak tertentu.
Selain modal dasar self-perception (persepsi diri), para profesi wartawan wajib tahu tentang dunia jurnalistik. Karena, ia berhubungan dengan informasi yang dibutuhkan masyarakat mengenai apa yang dilakukan orang lain dalam masyarakat. Informasi yang akan disampaikan berarti harus dikelola, dikemas dan disajikan dalam bentuk berita yang enak dibaca dan mudah dipahami khalayak umum.
Pemberitaan membutuhkan profesionalisasi wartawan. Tanpa profesionalitas, media pers akan mudah kalah saing, serta sulit meraih positioning di tengah era kompetesi media. Di negara-negara maju, media atau pers dapat berkembang pesat karena ditopang oleh pengelola profesional.
Setidaknya ada lima hal yang harus dimengerti oleh calon wartawan. Yaitu pengetahuan teknis dan praktis, pemahaman substansial terhadap objek pemberaitaan, wawasan mengenai perilaku masyarakat pembacanya, penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa lainnya, dan etika profesi.
Memahami jurnalistik adalah kebutuhan wartawan. Ketrampilan menulis dan kecakapan memilih kata sangat menentukan bobot seorang wartawan. Tak ada cara lain untuk meningkatkan menulis, kecuali dengan melakukannya secara terus menerus. Ibarat kita mau belajar berenang, tak ada resep mujarab untuk bisa berenang, kecuali terjun langsung ke dalam air, kemudian mencobanya berkali-kali.
Seperti kita tahu, bahwa pers di Indonedia masih banyak kita jumpai penulisan-penulisan berita yang amat rendah tingkat kemudahannya untuk dibaca. Padahal, ada ungkapan ‘The art of writing? Make it simple’ gunakan kata-kata yang sederhana, yang mudah dimengerti pembaca.
*) Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
SALAH satu tanda era globalisasi (dunia ketiga) adalah adanya pers dan jurnalistik. Di katakan masyarakat global (global society), karena mereka mengikuti denyut nadi perkembangan dan perubahan dunia. Meski mereka bertempat tinggal di satu kawasan, tetapi mereka bisa mengerti lintas kawasan. Hal ini berkat dukungan media pers dan jurnalistik.
Kini, kualitas dan keunggulan pers tidak luput dari kerja wartawan, reporter dan jurnalisnya. Suatu profesi yang berkaitan dengan peliputan berita, pencarian fakta, dan pelaporan peristiwa. Esensi dan eksistensi pers atau jurnalistik sangat ditentukan oleh kinerja wartawan atau jurnalis. Sudah menjadi hukum alam bila media pers ingin berkualitas dan berprestasi, maka para pengelolanya pun harus kualitas dan profesional.
Tak dapat disangkal lagi, bahwa media-media pers sekarang menuntut para wartawan atau pun jurnalisnya melakukan tugasnya secara profesional. Alasannya, karena media sebagai wahana informasi harus menyajikan “pemberitaan” yang sesuai dengan kelas masyarakat. ketidakobjektifan dan ketidakseimbangan berita seringkali diawali dari wartawannya yang kurang profesional.
Menurut Hikmat K. & Purnama K., (2005) bahwa profesi jurnalistik (wartawan) harus berlandaskan hati nurani. Di sampaing mengerti seluk beluknya, memiliki pengetahuan dan ketrampilan memadahi. Pemutarbalikan berita merupakan contoh kecil wartawan yang mudah ‘dibeli’ dan dipengaruhi pihak-pihak tertentu.
Selain modal dasar self-perception (persepsi diri), para profesi wartawan wajib tahu tentang dunia jurnalistik. Karena, ia berhubungan dengan informasi yang dibutuhkan masyarakat mengenai apa yang dilakukan orang lain dalam masyarakat. Informasi yang akan disampaikan berarti harus dikelola, dikemas dan disajikan dalam bentuk berita yang enak dibaca dan mudah dipahami khalayak umum.
Pemberitaan membutuhkan profesionalisasi wartawan. Tanpa profesionalitas, media pers akan mudah kalah saing, serta sulit meraih positioning di tengah era kompetesi media. Di negara-negara maju, media atau pers dapat berkembang pesat karena ditopang oleh pengelola profesional.
Setidaknya ada lima hal yang harus dimengerti oleh calon wartawan. Yaitu pengetahuan teknis dan praktis, pemahaman substansial terhadap objek pemberaitaan, wawasan mengenai perilaku masyarakat pembacanya, penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa lainnya, dan etika profesi.
Memahami jurnalistik adalah kebutuhan wartawan. Ketrampilan menulis dan kecakapan memilih kata sangat menentukan bobot seorang wartawan. Tak ada cara lain untuk meningkatkan menulis, kecuali dengan melakukannya secara terus menerus. Ibarat kita mau belajar berenang, tak ada resep mujarab untuk bisa berenang, kecuali terjun langsung ke dalam air, kemudian mencobanya berkali-kali.
Seperti kita tahu, bahwa pers di Indonedia masih banyak kita jumpai penulisan-penulisan berita yang amat rendah tingkat kemudahannya untuk dibaca. Padahal, ada ungkapan ‘The art of writing? Make it simple’ gunakan kata-kata yang sederhana, yang mudah dimengerti pembaca.
*) Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
Senin, 22 Februari 2010
Memahami Komunikasi Antarbubaya
*) Mujtahid*
TIDAK banyak orang menyadari bahwa bentuk-bentuk interaksi antarbudaya sesungguhnya secara langsung atau tidak melibatkan sebuah komunikasi. Pentingnya komunikasi antarbudaya mengharuskan semua orang untuk mengenal panorama dasar-dasar komunikasi antarbudaya itu.
Dalam kenyataan sosial, manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi. Dapat dikatakan pula bahwa interaksi antar-budaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Maka dari itu kita perlu tahu apa-apa yang menjadi unsur-unsur dalam terbentuknya proses komunikasi antarbudaya, yang antara lain adalah adanya komunikator yang berperan sebagai pemrakarsa komunikasi; komunikan sebagai pihak yang menerima pesan; pesan/simbol sebagai ungkapan pikiran, ide atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol.
Komunikasi itu muncul, karena adanya kontak, interaksi dan hubungan antar warga masyarakat yang berbeda kebudayaannya. Sehingga “kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan, begitulah kata Edward T. Hall. Jadi sebenarnya tak ada komunitas tanpa kebudayaan, tidak ada masyarakat tanpa pembagian kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. Dengan kata lain, tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa komunikasi. Di sinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya itu.
Menurut Alo Liliweri (pakar komunikasi antarbudaya) mengatakan bahwa sebagai bagian dari tuntutan glabalisasi yang semakin tidak terkendali seperti saat ini, mendorong kepada kita terjadinya sebuah interaksi lintas budaya, lintas kelompok, serta lintas sektoral. Belum lagi perubahan-perubahan global lainnya yang semakin deras dan menjadi bukti nyata bahwa semua orang harus mengerti karakter komunikasi antarbudaya secara mendalam.
Lebih lanjut, Alo Liliweri menjelaskan bahwa esensi komunikasi terletak pada proses, yakni sesuatu aktivitas yang “melayani” hubungan antara pengirim dan penerima pesan melampaui ruang dan waktu. Itulah sebabnya mengapa semua orang pertama-tama tertarik mempelajari komunikasi manusia (human communication), sebuah proses komunikasi yang melibatkan manusia kemarin, kini, dan mungkin di masa yang akan datang.
Sedangkan budaya atau kebudayaan menurut Burnett Taylor dalam karyanya yang berjudul Primitive Culture, adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Di samping mengetahui pengertian kebudayaan kita juga harus mengetahui unsur-unsur kebudayaan manusia yang antara lain adalah sejarah kebudayaan, identitas sosial, budaya material, peranan relasi, kesenian, bahasa dan interaksi, stabilitas kebudayaan, kepercayaan atas kebudayaan dan nilai, etnosentrisme, perilaku non-verbal, hubungan antar ruang, konsep tentang waktu, pengakuan dan ganjaran, pola pikir, dan aturan-aturan budaya.
Jadi yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya ialah komunikasi antarpribadi yang dilakukan mereka yang berbeda latarbelakang kebudayaan. Jadi, suatu proses kumunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang (karena memiliki keragaman) memberikan interpretasi dan harapan secara berbada terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan.
Secara alamiah, proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi antarbudaya yang menghendaki adanya interaksi sosial. Menurut Jackson (1967), menekankan bahwa isi (content of communication) komunikasi tidak berbeda dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) esensial dalam bentuk relasi (relations).
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Tingkat ketidakpastian itu akan berkurang manakala kita mampu meramalkan secara tepat proses komunikasi. Karena itu, dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi.
Demikian pula, dapat dikatakan bahwa interaksi antarbudaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Konsep ini sekaligus menerangkan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai (komunikasi yang sukses) bila bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi untuk memperbarui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manejemen komunikasi yang efektif, lahirnya semangat kesetiakawanan, persahabatan, hingga kepada berhasilnya pembagian teknologi, mengurangi konflik yang seluruhnya merupakan bentuk dari komunikasi antarbudaya.
Karena itu, terjadinya kesenjangan dalam masyarakat seringkali disebabkan oleh datangnya perubahan dari luar. struktur sosial baru berdasarkan profesi dan fungsi yang lebih rasional mengakibatkan perubahan relasi. Dalam kaitannya dengan komunikasi antar budaya, perubahan-perubahan yang datang dari dalam maupun dari luar sangat berpengaruh terhadap perubahan relasi antar budaya. Akibat kontak, interaksi dan hibingan antar anggota masyarakat yang berbeda kebudayaannya, muncullah komunikasi antarbudaya.
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada komunitas tanpa budaya, tidak ada masyarakat tanpa pembagian kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. Dengan kata lain tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa adanya komunikasi. Disinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya. Semua fenomena itu, selain karena disebabkan perubahan yang ada, juga karena kurangnya komunikasi. Akhirnya, memerlukan sebuah komunikasi antarbudaya guna mengurangi kesalahpahaman di antara sesama manusia.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
TIDAK banyak orang menyadari bahwa bentuk-bentuk interaksi antarbudaya sesungguhnya secara langsung atau tidak melibatkan sebuah komunikasi. Pentingnya komunikasi antarbudaya mengharuskan semua orang untuk mengenal panorama dasar-dasar komunikasi antarbudaya itu.
Dalam kenyataan sosial, manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi. Dapat dikatakan pula bahwa interaksi antar-budaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Maka dari itu kita perlu tahu apa-apa yang menjadi unsur-unsur dalam terbentuknya proses komunikasi antarbudaya, yang antara lain adalah adanya komunikator yang berperan sebagai pemrakarsa komunikasi; komunikan sebagai pihak yang menerima pesan; pesan/simbol sebagai ungkapan pikiran, ide atau gagasan, perasaan yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol.
Komunikasi itu muncul, karena adanya kontak, interaksi dan hubungan antar warga masyarakat yang berbeda kebudayaannya. Sehingga “kebudayaan adalah komunikasi dan komunikasi adalah kebudayaan, begitulah kata Edward T. Hall. Jadi sebenarnya tak ada komunitas tanpa kebudayaan, tidak ada masyarakat tanpa pembagian kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. Dengan kata lain, tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa komunikasi. Di sinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya itu.
Menurut Alo Liliweri (pakar komunikasi antarbudaya) mengatakan bahwa sebagai bagian dari tuntutan glabalisasi yang semakin tidak terkendali seperti saat ini, mendorong kepada kita terjadinya sebuah interaksi lintas budaya, lintas kelompok, serta lintas sektoral. Belum lagi perubahan-perubahan global lainnya yang semakin deras dan menjadi bukti nyata bahwa semua orang harus mengerti karakter komunikasi antarbudaya secara mendalam.
Lebih lanjut, Alo Liliweri menjelaskan bahwa esensi komunikasi terletak pada proses, yakni sesuatu aktivitas yang “melayani” hubungan antara pengirim dan penerima pesan melampaui ruang dan waktu. Itulah sebabnya mengapa semua orang pertama-tama tertarik mempelajari komunikasi manusia (human communication), sebuah proses komunikasi yang melibatkan manusia kemarin, kini, dan mungkin di masa yang akan datang.
Sedangkan budaya atau kebudayaan menurut Burnett Taylor dalam karyanya yang berjudul Primitive Culture, adalah keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum, adat istiadat, dan setiap kemampuan lain dan kebiasaan yang dimiliki oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Di samping mengetahui pengertian kebudayaan kita juga harus mengetahui unsur-unsur kebudayaan manusia yang antara lain adalah sejarah kebudayaan, identitas sosial, budaya material, peranan relasi, kesenian, bahasa dan interaksi, stabilitas kebudayaan, kepercayaan atas kebudayaan dan nilai, etnosentrisme, perilaku non-verbal, hubungan antar ruang, konsep tentang waktu, pengakuan dan ganjaran, pola pikir, dan aturan-aturan budaya.
Jadi yang dimaksud dengan komunikasi antarbudaya ialah komunikasi antarpribadi yang dilakukan mereka yang berbeda latarbelakang kebudayaan. Jadi, suatu proses kumunikasi simbolik, interpretatif, transaksional, kontekstual yang dilakukan oleh sejumlah orang (karena memiliki keragaman) memberikan interpretasi dan harapan secara berbada terhadap apa yang disampaikan dalam bentuk perilaku tertentu sebagai makna yang dipertukarkan.
Secara alamiah, proses komunikasi antarbudaya berakar dari relasi antarbudaya yang menghendaki adanya interaksi sosial. Menurut Jackson (1967), menekankan bahwa isi (content of communication) komunikasi tidak berbeda dalam sebuah ruang yang terisolasi. Isi (content) dan makna (meaning) esensial dalam bentuk relasi (relations).
Salah satu perspektif komunikasi antarbudaya menekankan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya adalah mengurangi tingkat ketidakpastian tentang orang lain. Tingkat ketidakpastian itu akan berkurang manakala kita mampu meramalkan secara tepat proses komunikasi. Karena itu, dalam kenyataan sosial disebutkan bahwa manusia tidak dapat dikatakan berinteraksi sosial kalau dia tidak berkomunikasi.
Demikian pula, dapat dikatakan bahwa interaksi antarbudaya yang efektif sangat tergantung dari komunikasi antarbudaya. Konsep ini sekaligus menerangkan bahwa tujuan komunikasi antarbudaya akan tercapai (komunikasi yang sukses) bila bentuk-bentuk hubungan antarbudaya menggambarkan upaya yang sadar dari peserta komunikasi untuk memperbarui relasi antara komunikator dengan komunikan, menciptakan dan memperbaharui sebuah manejemen komunikasi yang efektif, lahirnya semangat kesetiakawanan, persahabatan, hingga kepada berhasilnya pembagian teknologi, mengurangi konflik yang seluruhnya merupakan bentuk dari komunikasi antarbudaya.
Karena itu, terjadinya kesenjangan dalam masyarakat seringkali disebabkan oleh datangnya perubahan dari luar. struktur sosial baru berdasarkan profesi dan fungsi yang lebih rasional mengakibatkan perubahan relasi. Dalam kaitannya dengan komunikasi antar budaya, perubahan-perubahan yang datang dari dalam maupun dari luar sangat berpengaruh terhadap perubahan relasi antar budaya. Akibat kontak, interaksi dan hibingan antar anggota masyarakat yang berbeda kebudayaannya, muncullah komunikasi antarbudaya.
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada komunitas tanpa budaya, tidak ada masyarakat tanpa pembagian kerja, tanpa proses pengalihan atau transmisi minimum dari informasi. Dengan kata lain tidak ada komunitas, tidak ada masyarakat, dan tidak ada kebudayaan tanpa adanya komunikasi. Disinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya. Semua fenomena itu, selain karena disebabkan perubahan yang ada, juga karena kurangnya komunikasi. Akhirnya, memerlukan sebuah komunikasi antarbudaya guna mengurangi kesalahpahaman di antara sesama manusia.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang
Kamis, 07 Januari 2010
Pasang Surut Estetika Islam
Mujtahid *
KARYA seni Islam dalam deretan khazanah pengetahuan tergolong karya cukup langka. Berbeda dengan manuskrip bidang keislaman lainnya seperti tafsir, teologi, fiqh dan tasawuf, perkembangan estetika Islam, agaknya, jauh tertinggal daripada bidang kajian di atas.
Perhatian kaum muslim terhadap nilai estetika Islam tampaknya juga tidak begitu antusias. Buktinya masyarakat Indonesia, sebagai pemeluk mayoritas Islam, masih minim pengetahuannya terhadap aspek-aspek estetika Islam monumental yang pernah tercipta saat peradaban Islam berkembang spektakuler, baik di kawasan Arabia maupun Timur Tengah, khususnya Persia dan Bagdad.
Sekalipun terdapat buku yang mungkin agak berharga bagi Islam, yakni Atlas Budaya Islam, karya Ismail Raji al-Faruqi dan Seni Islam dan Spiritualitas, karya Seyyed Hossein Nasr belumlah mewakili untuk memaparkan nilai-nilai estetika Islam yang pernah terukir di zaman keemasan Islam.
Stagnasi peradaban seni Islam hampir tak kunjung bangkit. Krisis karya seni Islam tentu ada sebuah somethink lack-untuk tidak menyebutnya sebagai something wrong-- dalam memahami makna dan hakikat seni dalam konteks Islam. Akibatnya, kini generasi muslim terasa kehilangan jejak dan akar-akar tradisi estetika Islam yang sangat berharga.
Pada tahun 1999 di Mesir, ada sebuah buku--sebelumnya ditulis hasil penelitian Disertasi--yang sangat kontroversial. Buku tersebut berjudul “al-Fannu fi al-qur’an al-Karim” karya Muhammad Khalafullah, yang intinya adalah bahwa kisah-kisah sastra atau seni dalam al-qur’an bukanlah sepenuhnya benar terjadi, tetapi hanya sebagai ‘metafor’ yang dapat diambil makna atau pesan (sosial, moral, spiritual) dibalik kisah tersebut dari salah satu nilai estetik yang diungkap al-qur’an.
Karena dianggap kontroversial, beberapa saat ditangguhkan, karya tersebut harus dikonsultasikan lewat badan fatwa agama (Mufti negara). Dan akhirnya, karya ini dicap sebagai karya yang provokatif dan berlawanan dengan kalangan mufassir tradisional dan revivalis. Para mufassir menyatakan bahwa kisah sastra atau seni dalam al-qur’an merupakan kebenaran multak yang tidak bisa diotak-atik lagi.
Dari fenomena di atas, dapat kita pahami bahwa kesadaran estetika kaum muslim masih rendah. Secara akedemis temuan yang jelas berlandaskan metodologi yang sah, ternyata dikalahkan dengan jalur agama, yang notabenenya tidak menggunakan kerangka berfikir rasional dan tidak berkompetensi pada wilayah “seni atau sastra”.
Ada sebuah buku yang ditulis Oliver Leaman, mengenai “Islamic Aesthetics” ia mengajak kaum muslim agar mau melihat kembali akar sejarah estetika Islam. Estetika Islam yang hanya diwujudkan dalam bentuk kaligrafi arabes (arabesque), lukisan atau gamabar (picture), musik dan seterusnya bukalah satu-satunya ekspresi seni Islam, melainkan bisa ditampilkan secara modern sesuai dengan konteks zamannya.
Dalam tulisannya, ia mengkritik terhadap ekpresi seni yang selama ini ditampilkan yaitu tidak adanya corak dan kekhasan yang dimiliki oleh seni Islam. Citra seni Islam, kata Leaman, tak jauh beda dengan seni-seni umumnya. Lalu apa yang menjadi titik beda dari seni yang lain?
Di sinilah pentingnya melacak kembali akar-akar estetika Islam. Relasi estetika Islam dan sejarah sosial harus dipahami secara utuh dan komprehensif. Dulu, seni Islam dicipta dari multiaspek, yakni menyiratkan aspek sosial, moral, spiritual (teologis) yang memiliki pesan-pesan tersirat sangat tinggi. Tetapi belakangan ini, seni cenderung manampilkan diri sebagai “nilai seni”, tidak lagi mengemban nilai positif.
Leaman berani mengemukakan alasan bahwa ada sebelas kesalahan umum tentang seni Islam. Setidaknya, terlihat bahwa seni Islam masih dibanyang-banyangi oleh dua sumbu utama, yaitu antara nilai esoteris dan nilai eksoteris. Kaum sufisme misalnya, lebih mengekspresikan nilai seninya lewat jalur esoteris. Sementara di luar itu, ada yang menginginkan bahwa seni Islam harus tampil dengan wilayah eksoteris saja.
Diakui atau tidak, seni dalam istiadat apa pun selalu memiliki kaitan agama, begitu pula halnya dalam Islam. Namun, tidak semua seni Islam memiliki nilai estetika yang sebagaimana sejatinya diharapkan oleh cabang filsafat itu. Estetika adalah cara pandang sesuatu sebagai sesuatu yang lain. Artinya, bahwa sesuatu itu tidak sekedar sesuatu, tetapi juga menyimpulkan atau berkaitan dengan yang lain, yang lebih besar, lebih kecil, yang lebih luas, atau lebih dalam.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
KARYA seni Islam dalam deretan khazanah pengetahuan tergolong karya cukup langka. Berbeda dengan manuskrip bidang keislaman lainnya seperti tafsir, teologi, fiqh dan tasawuf, perkembangan estetika Islam, agaknya, jauh tertinggal daripada bidang kajian di atas.
Perhatian kaum muslim terhadap nilai estetika Islam tampaknya juga tidak begitu antusias. Buktinya masyarakat Indonesia, sebagai pemeluk mayoritas Islam, masih minim pengetahuannya terhadap aspek-aspek estetika Islam monumental yang pernah tercipta saat peradaban Islam berkembang spektakuler, baik di kawasan Arabia maupun Timur Tengah, khususnya Persia dan Bagdad.
Sekalipun terdapat buku yang mungkin agak berharga bagi Islam, yakni Atlas Budaya Islam, karya Ismail Raji al-Faruqi dan Seni Islam dan Spiritualitas, karya Seyyed Hossein Nasr belumlah mewakili untuk memaparkan nilai-nilai estetika Islam yang pernah terukir di zaman keemasan Islam.
Stagnasi peradaban seni Islam hampir tak kunjung bangkit. Krisis karya seni Islam tentu ada sebuah somethink lack-untuk tidak menyebutnya sebagai something wrong-- dalam memahami makna dan hakikat seni dalam konteks Islam. Akibatnya, kini generasi muslim terasa kehilangan jejak dan akar-akar tradisi estetika Islam yang sangat berharga.
Pada tahun 1999 di Mesir, ada sebuah buku--sebelumnya ditulis hasil penelitian Disertasi--yang sangat kontroversial. Buku tersebut berjudul “al-Fannu fi al-qur’an al-Karim” karya Muhammad Khalafullah, yang intinya adalah bahwa kisah-kisah sastra atau seni dalam al-qur’an bukanlah sepenuhnya benar terjadi, tetapi hanya sebagai ‘metafor’ yang dapat diambil makna atau pesan (sosial, moral, spiritual) dibalik kisah tersebut dari salah satu nilai estetik yang diungkap al-qur’an.
Karena dianggap kontroversial, beberapa saat ditangguhkan, karya tersebut harus dikonsultasikan lewat badan fatwa agama (Mufti negara). Dan akhirnya, karya ini dicap sebagai karya yang provokatif dan berlawanan dengan kalangan mufassir tradisional dan revivalis. Para mufassir menyatakan bahwa kisah sastra atau seni dalam al-qur’an merupakan kebenaran multak yang tidak bisa diotak-atik lagi.
Dari fenomena di atas, dapat kita pahami bahwa kesadaran estetika kaum muslim masih rendah. Secara akedemis temuan yang jelas berlandaskan metodologi yang sah, ternyata dikalahkan dengan jalur agama, yang notabenenya tidak menggunakan kerangka berfikir rasional dan tidak berkompetensi pada wilayah “seni atau sastra”.
Ada sebuah buku yang ditulis Oliver Leaman, mengenai “Islamic Aesthetics” ia mengajak kaum muslim agar mau melihat kembali akar sejarah estetika Islam. Estetika Islam yang hanya diwujudkan dalam bentuk kaligrafi arabes (arabesque), lukisan atau gamabar (picture), musik dan seterusnya bukalah satu-satunya ekspresi seni Islam, melainkan bisa ditampilkan secara modern sesuai dengan konteks zamannya.
Dalam tulisannya, ia mengkritik terhadap ekpresi seni yang selama ini ditampilkan yaitu tidak adanya corak dan kekhasan yang dimiliki oleh seni Islam. Citra seni Islam, kata Leaman, tak jauh beda dengan seni-seni umumnya. Lalu apa yang menjadi titik beda dari seni yang lain?
Di sinilah pentingnya melacak kembali akar-akar estetika Islam. Relasi estetika Islam dan sejarah sosial harus dipahami secara utuh dan komprehensif. Dulu, seni Islam dicipta dari multiaspek, yakni menyiratkan aspek sosial, moral, spiritual (teologis) yang memiliki pesan-pesan tersirat sangat tinggi. Tetapi belakangan ini, seni cenderung manampilkan diri sebagai “nilai seni”, tidak lagi mengemban nilai positif.
Leaman berani mengemukakan alasan bahwa ada sebelas kesalahan umum tentang seni Islam. Setidaknya, terlihat bahwa seni Islam masih dibanyang-banyangi oleh dua sumbu utama, yaitu antara nilai esoteris dan nilai eksoteris. Kaum sufisme misalnya, lebih mengekspresikan nilai seninya lewat jalur esoteris. Sementara di luar itu, ada yang menginginkan bahwa seni Islam harus tampil dengan wilayah eksoteris saja.
Diakui atau tidak, seni dalam istiadat apa pun selalu memiliki kaitan agama, begitu pula halnya dalam Islam. Namun, tidak semua seni Islam memiliki nilai estetika yang sebagaimana sejatinya diharapkan oleh cabang filsafat itu. Estetika adalah cara pandang sesuatu sebagai sesuatu yang lain. Artinya, bahwa sesuatu itu tidak sekedar sesuatu, tetapi juga menyimpulkan atau berkaitan dengan yang lain, yang lebih besar, lebih kecil, yang lebih luas, atau lebih dalam.
*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Selasa, 15 September 2009
Menanti Sastra yang Mencerdaskan
Mujtahid*
SASTRA merupakan salah satu cara mengungkapkan ekpresi jiwa, perasaan, pikiran di tengah suasana yang hidup, bukan ruang kosong. Sastra bukan hanya mencitrakan nilai estetis, tetapi memiliki nilai pesan moral yang sangat dalam, mengena dan lugas. Tak hanya itu, sastra dipandang paling ampuh dalam melakukan kritik sosial, kekuasaan dan sebuah tatanan yang menyimpang dari kelaziman.
Relasi sastra dengan keadaan masyarakat merupakan hubungan dialektis, yang saling mempengaruhi perkembangannya. Posisi sastra harus menempatkan tema pesan sesuai dengan tingkat peradaban masyarakat.
Dalam sastra mengandung dimensi makna yang sangat luas, tergantung pelakunya. Seperti sastrawan atau budayaman Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Nadjib, apa yang dikaryakan memantik pesan sosial dan religius. Sumber inspirasinya adalah bermula dari sikap, ide dan pandangan dia terhadap realitas yang mengitarinya.
Menurut Jabrohim, seorang sastrawan “akademis” menyatakan bahwa sebuah hasil karya sastra yang genuin (asli) adalah karya yang memiliki hubungan timbal balik antara sastrawan melalui karya sastranya dengan masyarakat.
Memang suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa seorang penyair senantiasa dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Setiap penyair pasti tidak hidup dalam ruang yang hampa, tetapi dinamis dan kompleks. Sehingga hasil sebuah sastra bukanlah berdiri sendiri (otonom), melainkan sesuatu yang terikat erat dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat karya itu dilahirkan.
Untuk menyelami siratan makna sastra, kata Jabrohim, dapat melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan sosiologis dan religius. Dengan pendekatan sosiologis, maka akumulai dari konteks sosial sastrawan, cermin masyarakat dan fungsi sosialnya dapat terbaca secara komprehensif. Sedangkan dengan apendekatan religius, maka nilai-nilai sastra terlihat menyiratkan inti (core) kualitas hidup manusia, dan harus dimaknakan sebagai rasa rindu, rasa ingin bersatu, rasa ingin berada bersama dengan sesuatu yang abstrak (Tuhan).
Kalau kita mau baca kumpulan puisi-puisi yang ditulis oleh Cak Nun, misalnya, kita akan mendapatkan siratan makna yang bersifat sosio-religius. Siratan makna puisi tersebut berupa ekspresi dari kegelisahan, penderitaan, dan keprihatinan seorang penyair yang melihat berbagai ketimpangan sosial yang melingkupinya.
Selain itu, puisi semacam itu juga menampilkan kegelisahan religius penyairnya sebagai akibat interaksi sosial dan kerinduan kepada Tuhan serta sikap-sikap religius yang lain.
Lahirnya sebuah sastra tentu berangkat dari alam pikir yang cerdas dan hati yang lembut. Sebab sastra yang mencerdaskan merupakan sarat dengan nilai-nilai yang dihayati penyair atau sastrawan serta keyakinannya yang melandasi pikiran terhadap lingkungannya, hidup dan kehidupannya. Semua pengalaman menjadi ide karya untuk dikembangkan melalui kemampuan imajinasi, dengan pendalaman masalah, lewat wawasan pemikiran dan sebagainya, sehingga melahirkan suatu karya yang benar-benar utuh dan bulat.
Sastra yang mencerdaskan harus mengungkap segi-segi sosial yang bersifat etis, terapis, konseptualis, dan kritis yang memihak pada golongan yang lemah. Dengan demikian, sastra yang bernilai tinggi adalah cermin dari kultur masyarakat, bahkan bagian dari karakter masyarakat itu sendiri.
*) Dosen UIN Maliki Malang
SASTRA merupakan salah satu cara mengungkapkan ekpresi jiwa, perasaan, pikiran di tengah suasana yang hidup, bukan ruang kosong. Sastra bukan hanya mencitrakan nilai estetis, tetapi memiliki nilai pesan moral yang sangat dalam, mengena dan lugas. Tak hanya itu, sastra dipandang paling ampuh dalam melakukan kritik sosial, kekuasaan dan sebuah tatanan yang menyimpang dari kelaziman.
Relasi sastra dengan keadaan masyarakat merupakan hubungan dialektis, yang saling mempengaruhi perkembangannya. Posisi sastra harus menempatkan tema pesan sesuai dengan tingkat peradaban masyarakat.
Dalam sastra mengandung dimensi makna yang sangat luas, tergantung pelakunya. Seperti sastrawan atau budayaman Cak Nun, sapaan akrab Emha Ainun Nadjib, apa yang dikaryakan memantik pesan sosial dan religius. Sumber inspirasinya adalah bermula dari sikap, ide dan pandangan dia terhadap realitas yang mengitarinya.
Menurut Jabrohim, seorang sastrawan “akademis” menyatakan bahwa sebuah hasil karya sastra yang genuin (asli) adalah karya yang memiliki hubungan timbal balik antara sastrawan melalui karya sastranya dengan masyarakat.
Memang suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa seorang penyair senantiasa dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Setiap penyair pasti tidak hidup dalam ruang yang hampa, tetapi dinamis dan kompleks. Sehingga hasil sebuah sastra bukanlah berdiri sendiri (otonom), melainkan sesuatu yang terikat erat dengan situasi dan kondisi lingkungan tempat karya itu dilahirkan.
Untuk menyelami siratan makna sastra, kata Jabrohim, dapat melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan sosiologis dan religius. Dengan pendekatan sosiologis, maka akumulai dari konteks sosial sastrawan, cermin masyarakat dan fungsi sosialnya dapat terbaca secara komprehensif. Sedangkan dengan apendekatan religius, maka nilai-nilai sastra terlihat menyiratkan inti (core) kualitas hidup manusia, dan harus dimaknakan sebagai rasa rindu, rasa ingin bersatu, rasa ingin berada bersama dengan sesuatu yang abstrak (Tuhan).
Kalau kita mau baca kumpulan puisi-puisi yang ditulis oleh Cak Nun, misalnya, kita akan mendapatkan siratan makna yang bersifat sosio-religius. Siratan makna puisi tersebut berupa ekspresi dari kegelisahan, penderitaan, dan keprihatinan seorang penyair yang melihat berbagai ketimpangan sosial yang melingkupinya.
Selain itu, puisi semacam itu juga menampilkan kegelisahan religius penyairnya sebagai akibat interaksi sosial dan kerinduan kepada Tuhan serta sikap-sikap religius yang lain.
Lahirnya sebuah sastra tentu berangkat dari alam pikir yang cerdas dan hati yang lembut. Sebab sastra yang mencerdaskan merupakan sarat dengan nilai-nilai yang dihayati penyair atau sastrawan serta keyakinannya yang melandasi pikiran terhadap lingkungannya, hidup dan kehidupannya. Semua pengalaman menjadi ide karya untuk dikembangkan melalui kemampuan imajinasi, dengan pendalaman masalah, lewat wawasan pemikiran dan sebagainya, sehingga melahirkan suatu karya yang benar-benar utuh dan bulat.
Sastra yang mencerdaskan harus mengungkap segi-segi sosial yang bersifat etis, terapis, konseptualis, dan kritis yang memihak pada golongan yang lemah. Dengan demikian, sastra yang bernilai tinggi adalah cermin dari kultur masyarakat, bahkan bagian dari karakter masyarakat itu sendiri.
*) Dosen UIN Maliki Malang
Langganan:
Postingan (Atom)