Rabu, 17 November 2010

Memahami Etos Pembaruan Pendidikan Muhammadiyah

Mujtahid*

SECARA geneologis, kelahiran Muhammadiyah diilhami oleh dua hal, yaitu pemahaman terhadap sumber ajaran Islam yakni al-qur’an dan hadits serta keprihatinan atas fenomena sosial keagamaan yang mendera kehidupan umat Islam. Dua hal itulah menjadi spirit KH. Ahmad Dahlan dan kawan-kawan mendirikan organisasi Muhammadiyah yang didalamnya melahirkan amal usaha di bidang pendidikan. Menurut kisah sejarah, pendidikan yang kini menjadi amal usaha terbesar Muhammadiyah itu, konon lebih tua ketimbang usia gerakan Muhammadiyah itu sendiri.
Kemunculan pendidikan Muhammadiyah merupakan perjuangan yang gigih dan tak kenal kelah para pendirinya, yang tanpa pamrih mereka rela mengorbankan apa saja demi tercapainya misi pendidikan modern dan mampu menjawab tantangan zaman. Pendidikan Muhammadiyah memiliki ciri khas, yaitu mensintesakan antara pendidikan yang dikelola kolonial Belanda yang mengajarkan ilmu-ilmu alam dan sosial (profan) dengan pendidikan berciri khas Islam, seperti madrasah, pesantren atau sejenisnya yang mengajarkan masalah agama (sakral). Bagi Muhammadiyah, keduanya sangat penting untuk diraih agar umat Islam hidupnya berkualitas, baik di dunia maupun akhirat kelak.
Dari sisi landasannya, sesungguhnya pendidikan Muhammadiyah sudah sangat tepat, karena mengintegrasikan antara al-Qur’an dan Hadits dengan pemikiran pembaruan, antara muatan keilmuan umum yang berguna untuk meraih keunggulan duniawi dengan muatan ilmu agama yang menjadi basis kekuatan spiritual dan moral. Paradigma tersebut adalah spirit etis yang menjadi inti perjuangan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah untuk merancang, mendesain pendidikan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan masyarakat global.
Memenuhi tuntutan global saat ini, pendidikan Muhammadiyah perlu kembali mereformulasi konsep baru yang relevan dengan kebutuhan stakeholders, memunculkan ide-ide yang inspiratif, hingga strategi dan cara-cara inovatif untuk mengembangkan pendidikan. Dengan begitu pendidikan yang mengemban misi peradaban ummat mampu melahirkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan keadaan zaman.
Pendidikan Muhammadiyah sesungguhnya bukanlah pendidikan yang baru kemarin berdiri, melainkan telah mengarungi rentang masa yang cukup lama, yakni lebih dari satu abad lamanya. Bahkan, sebelum pendidikan nasional berkiprah, pendidikan Muhammadiyah telah lebih dulu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun, akhir-akhir ini pendidikan Muhammadiyah tengah menghadapi problematika yang tidak ringan. Dikatakan tidak ringan, karena selain gempuran sekolah atau madrasah negeri yang tidak memberikan ruang gerak pada pendidikan swasta, kebijakan pemerintah yang kurang menguntungkan pendidikan swasta, juga ditambah dengan semangat dan kreasi para pelaku pendidikan Muhammadiyah agak mulai menurun. Beberapa sekolah Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah yang dulu tampak sangat maju dan ramai peminatnya, kini mengalami suasana yang cukup rawan dan mengkhawatirkan, bahkan tidak sedikit mengalami stagnasi.

Etos Pembaruan
Peta persoalan tersebut di atas, perlu dipikirkan dan dicarikan jalan pemecahannya agar pendidikan Muhammadiyah terus berkibar dan survive di tengah persaingan yang kompetitif itu. Saatnya para pimpinan Muhammadiyah mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah hingga cabang dan ranting memusatkan perhatian pada bidang pendidikan, selain bidang-bidang lainnya untuk terus mengembangkan etos pembaruan yang selama ini dipahami dan diyakini oleh warga Muhammadiyah.
Tatkala dulu KH. Ahmad Dahlan masih aktif berkecimpung dalam pendidikan, pesan yang beliau ajarkan adalah etos kemajuan. Melalui etos kemajuan itulah setapak demi setapak pendidikan Muhammadiyah menunjukkan keberhasilan yang membanggakan umat Islam. Nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang dibarengi dengan jiwa tulus ikhlas yang dulu tampak menjadi spirit etis pendiri Muhammadiyah, kini perlu dipupuk kembali dan dijadikan tema besar untuk membangkitkan pendidikan Muhammadiyah yang cemerlang.
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah perlu memetakan sebuah gerakan yang sesuai dengan konteks zaman saat ini. Menjelang muktamar ke 46 di Yogyakarta, ada tema yang cukup menarik yang sering dibahas pada forum-forum diskusi terbatas, baik di kantor-kantor PDM maupun di amal usaha Muhammadiyah, yaitu gerakan ilmu. Dan pendidikan merupakan salah satu gerakan yang relevan untuk mewujudkan gerakan ilmu tersebut, yang sekaligus menandai dan menjadi ciri utama gerakan Muhammadiyah.
Membangun gerakan ilmu atau pendidikan adalah membangun peradaban, melahirkan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas, serta menumbuhkan sikap dewasa dan kearifan manusia. Supaya gerakan itu berhasil, maka membutuhkan spirit perjuangan bagi semua pihak, baik para pimpinan Muhammadiyah maupun pelaku di masing-masing sekolah atau madrasah. Spirit perjuangan dan etos pembaruan itu sesungguhnya modal utama untuk membangun prestasi pendidikan Muhammadiyah.
Dibanding dengan organisasi lain, Muhammadiyah telah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik. Artinya, itu merupakan modal yang sangat berharga untuk diajak membenahi pendidikan Muhammadiyah. Namun pertanyaannya, apakah mereka yang secara SDM sangat baik, mau dan mampu meluangkan waktunya, tenaganya serta segala yang dimilikinya untuk memajukan pendidikan Muhammadiyah.
Menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita renungkan pepatah yang pernah diwariskan oleh sang pendiri Muhammadiyah, yaitu ”hidup hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah”. Pepatah itu relevan bahwa tidak sedikit saat ini orang cenderung serba transaksional, suka jabatan dan cari kesempatan, yang ujung-ujungnya akan jadi penghambat pendidikan Muhammadiyah itu sendiri. Berbekal dengan nilai-nilai etos pembaruan diharapkan semua pelaku pendidikan Muhammadiyah mampu menghayati dan mengamalkan dalam setiap aktivitasnya untuk mengambil kebijakan dan keputusan.

*) Mujtahid, Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) PPs UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar