Selasa, 01 Juni 2010

Mengenal Gaya Komunikasi Efektif

Mujtahid

SEJALAN dengan akselerasi teknologi informasi (komunikasi), kini peradaban manusia mencapai kemajuan yang sangat pesat. Dengan dukungan teknologi informasi, batas interaksi manusia semakin tak terbatas, mulai dari lintas budaya, lintas negara, bahkan lintas Benua, akibat kecanggihan alat komunikasi. Hampir setiap kejadian baru atau event penting di belahan dunia ini, kita bisa langsung melihatnya dalam tempo waktu itu juga. Luar bisa kemujuan teknologi komunikasi saat ini.
Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan nonverbal. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respons pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk non-verbal (non kata-kata), tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa kedua belah pihak punya sistem simbol yang sama.
Dalam karyanya, yang berjudul “Komunikasi Efektif,” Deddi Mulyana, menjelaskan bahwa komunikasi itu memiliki berbagai jenis, gaya dan karakter yang berbeda yang dapat kita temui di muka bumi ini. Sebagai seorang pakar komunikasi, Mulyana menjelaskan bagaimana seseorang mampu membangun citra dirinya melalui komunikasi efektif ketika akan berhadapan dengan ‘orang-orang Asing’, terutama mereka yang punya latar belakang berbeda-beda.
Model komunikasi dapat dipetakan menjadi dua hal, yaitu komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri. Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Ciri komunikasi model ini yaitu kalau mau mengutarakan sesuatu pesan cenderung dengan basa-basi terlebih dahulu, bahkan sering menggunakan kata-kata kiasan yang sekiranya bisa menyentuh, dengan tidak menyebutkan pesan secara langsung.
Model semacam ini, sering digunakan alm. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) sewaktu beliau masih hidup dalam memberi keterangan atau tuduhan kepada lawan bicaranya. Pesan atau makna yang terkandung dalam komunikasi beliau sering tidak mudah ditangkap oleh para masyarakat, terutama masyarakat awam. Karena pesan yang disampaikan menggunakan bahasa yang imlpisit dan banyak kiasan. Model komunikasi demikian, dapat dijumpai dari budaya Jawa dan Timur Tengah yang sering ditandai dengan menggunakan bahasa kiasan/sindiran dengan ungkapan halus, tapi sebenarnya menegur/memuji. Dalam hal komunikasi, orang Jawa dan orang Timur Tengah sesungguhnya memiliki kemiripan dalam mengungkapkan pesan dengan sering di dahului ”basa-basi” terlebih dahulu.
Sementara komunikasi konteks rendah adalah komunikasi yang bersifat langsung, apa adanya, lugas tanpa berbelit-belit ngalor-ngidul. Karakter komunikasi semacam ini biasa terjadi di Barat, mereka sukanya to the point tidak suka basa-basi seperti orang Jawa. Pokok pembicaraan (pesan) yang dituju sangat mudah diterima oleh lawan bicaranya (penerima pesan), tanpa harus menafsirkan lagi dari pokok pembicaaran yang berlangsung. Komunikasi model ini, sering dipakai Amien Rais atau Nurcholish Madjid ketika melakukan kritik atau tanggapan pada lawan-lawannya. Cukup alasan, karena kedua tokoh tersebut merupakan jebolan Barat (Amerika). Komunikasinya jelas tanpa tedeng aling-aling (ditutup-tutupi) lagi bahwa yang dimaksud memang apa adanya seperti itu.
Nah, lalu apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif itu? Menurut Mulyana, komunikasi efektif adalah bentuk kolaborasi antara sisi-sisi positif komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Gaya komunikasi efektif lebih mencerminkan ketulusan, keterbukaan, kejernihan, keterus-terangan, kesederhanaan dan kesantunan dalam berbicara. Komunikasi fektif bukan suatu komunikasi yang pesan-pesannya penuh humor dan kiasan, begitu juga bukan komunikasi yang menohok dan menyakitkan orang lain.
Komunikasi efektif dibangun berdasarkan sistem kepercayaan dan sistem nilai/tata krama. Karena itu, komunikasi akan menjadi bermakna, manakala kita dapat menempatkan diri pada situasi dan kondisi berdasarkan sistem kepercayaan dan sistem nilai itu. Jika kedua hal tersebut, dapat dikuasai dan dihayati, maka kita akan mudah melakukan interaksi dengan siapa pun dan di mana pun. Komunikasi efektif menjadikan sarana untuk memahami segala karakter budaya, kultur dan gaya interaksi manusia di jagad raya ini.
Komunikasi efektif tidak selalu identik dengan verbal (kata-kata). Komunikasi efektif bisa saja menggunakan isyarat (gesture), seperti gerakan tubuh, gerakan kepala, ekspresi wajah, kontak mata merupakan perilaku-perilaku yang semuanya disebut bahasa tubuh yang mengandung makna pesan yang efektif dan potensial dapat dimengerti oleh lawan bicara. Di antara sekian banyak perilaku non-verbal, senyuman, pandangan mata, atau sentuhan seseorang sering merupakan perilaku non-verbal paling berpengaruh.
Konon, menurut para alumni yang pernah belajar di negara-negara Eropa, bahwa bahasa tubuh merupakan indikator dari tingkat pendidikan dan kesopanan seseorang-suatu hubungan yang agak diabaikan di Amerika Serikat. Dengan komunikasi non-verbal, orang dapat membaca keadaan emosional orang lain melalui pengamatan atas perilaku non-verbal dengan tingkat kecermatan yang memadahi. Dengan demikian, komunikasi non-verval tetap harus diperhatikan sebagai sebuah cara membangun komunikasi efektif pada diri seseorang.
Sebagai sarana pengembangan diri, komunikasi efektif dapat dipraktikkan bagi siapa saja, baik itu profesinya sebagai marketing, pebisnis, politikus, ilmuan, birokrat, hingga para diplomat. Karena melalui gaya komunikasi itulah sesungguhnya cermin kredibilitas seseorang dapat dibaca dan diukur sejauhmana keefektifan dalam menempatkan pergaulan dengan para tamu dan koleganya.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar