Rabu, 02 Juni 2010

Menyelami Problema Kehidupan Remaja

Mujtahid
DUNIA remaja selalu identik dengan problem. Bukan remaja kalau bukan punya problem, begitulah kira-kira ungkapan yang tepat. Akibatnya, kini banyak orangtua yang bingung menghadapi anaknya ketika memasuki usia remaja. Bahkan, kadangkala orangtua ikut larut stress lantaran anaknya yang sedang menghadapi usia-usia transisi (remaja).
Di Amerika Serikat, pernah dilakukan sebuah penelitian tentang kehidupan remaja. Dari penelitian itu merekomendasikan bahwa kaula muda (remaja) adalah tempat berseminya sebuah problem. Bev Cobain misalnya, seperti yang terungkap dalam bukunya “When Nothing Matters Anymore: a Survival Guide for Depressed Teens” menyatakan, ada sekitar 18 juta penduduk Amerika mengalami problem depresi. Dua puluh persennya adalah Siswa Menengah Atas (SMA) atau usia remaja, yang rata-rata punya masalah psikiatris. Remaja yang terus menerus sedih, marah, kalut, salah paham, atau memberontak, kemungkinan besar adalah mengalami problem.
Tidak ada orangtua yang tidak sedih ketika melihat anaknya diterpa tekanan batin, patah semangat, free sex, pecandu narkotika, suka tawuran dan lain-lain. Lebih-lebih, kini kehidupan di kota-kota besar sangat mengerikan. Metropolitan sebagai simbol kota yang bebas dan “serba ada” cenderung mengiring keadaan menjadi problem remaja. Tidak salah, kalau problematika usia remaja kini semakin komplek. Akibatnya, menyebabkan keprustasian, kegagalan, bahkan kematian remaja.
Dalam bukunya “Menyentuh Hati Remaja: Bimbingan Islami untuk Mengatasi Problem-problem Remaja” Ruqayyah Waris Maqsood dengan tekun dan jeli bagaimana menerapi problem anak pada umumnya. Melalui sentuhan-sentuhan Islam, Ruqayyah berhasil mengatasi segudang problema yang dihadapi anak-anak remaja. Pengalaman terapi islami inilah membuka mata hati para remaja yang terbalut permasalahan, akhirnya keluar dan kini menjadi anak yang ditanganinya itu menjadi anak yang menyenangkan, berbahagia dan bisa menikmati usia remaja sejatinya.
Semua orang pasti pernah melewati dan merasakan usia remaja. Namun, semua orang berbeda ketika memasuki usia gejolak itu. Saat-saat kakek-nenek kita dulu remaja, sangat berbeda dengan remaja sekarang. Jadi, standar problem remaja tempo dulu berbeda sama sekali dengan problem remaja kini. Sehingga pendekatan yang dipakai harus secara up to date sesuai dengan problem yang dihadapi remaja modern.
Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah Islam sebagai keyakinan hidup telah memberikan terapi yang sangat bijak. Dan, jarang potensi ini dimanfaatkan orangtua untuk mendekati problem anaknya. Padahal, jika berbicara dengan nuansa bathin agama, anak akan dengan mudah menerima dan bangkit kembali ke jalan yang benar. Yang sering kita jumpai justru sebaliknya. Anak berbuat salah kadang-kadang malah ditekan, dihukum bahkan ada yang kelewat batas hingga diusir keluar dari rumah. Dari sudut pandang apa pun, cara seperti ini kurang tepat untuk mengatasi problem remaja. Bahkan, hal ini akan menambah problem orangtua dan bagi remaja itu sendiri
Mengatasi problem remaja memang membutuhkan kesabaran, pengalaman, dan kondisi yang tepat. Sebagai orangtua harus mengerti kapan ia harus berlaku lunak dan lemah lembut, juga kapan ia harus bersikap tegas dan didisiplin. Tidak bisa orangtua hanya bersikap kasar terus-terusan, atau sebaliknya. Pendek kata, orangtua harus sering-sering menjalin komunikasi secara dialogis. Proses dialogis yang santun dengan sentuhan agama akan menambah harmonisasi antara orangtua dan remaja.
Orangtua adalah teladan pertama bagi anak. Baik buruknya anak sangat tergantung orangtua dalam membimbing dan mengarahkan anaknya. Bahkan, ada sebuah ungkapan yang ekstrim menyatakan “anak merupakan cermin orangtua”. Meski ungkapan ini tidak bisa dijadikan pegangan, tetapi menyiratkan arti bahwa anak adalah bagian dari identitas orangtua. Sehingga orangtualah yang pertama memecahkan problem anaknya sebelum orang lain ikut mengatasinya.
Keberhasilan anak sangat tergantung orangtua. Karena orangtualah yang banyak mengerti kondisi psikis dan fisiologis seorang anak. Setidaknya, ada lima kiat yang dapat dilakukan orangtua dalam mengatasi problem dunia remaja. Pertama, otangtua dapat mencari cara untuk mengembangkan potensi remaja itu dan mengarahkannya menjadi lebih optimal. Dengan cari ini potensi anak akan tersalurkan pada kegiatan-kegiatan yang positif, bermanfaat dan disertai dengan arahan orangtua. Selama ini banyak orangtua yang justru memberikan kebebasan anaknya, tanpa diiringi dengan bimbingan dan arahan yang tepat. Akibatnya anak menjadi salah pergaulan, salah menyalurkan kegiatan sehingga yang muncul justru persoalan-persoalan baru.
Kedua, cara mengajarkan kedisiplinan, kemandirian, dan tanggungjawab. Setiap anak sejatinya dididik agar dapat mandidi dan tanggungjawab. Orangtua tidak perlu sering “memanjakan” anak agar tidak terjadi ketergantungan dengan orang lain. Orangtua dapat memberikan tanggungjawab dan berbagi peran dalam urusan keluarga. Dengan begitu anak akan terbiasa lebih disiplin pada pekerjaanya, punya rasa tanggungjawab dan mandiri.
Ketiga, cara menanamkan nilai-nilai akhlak karimah pada diri anak/remaja. Lingkungan keluarga adalah sarana penanaman dasar-dasar moral atau akhlak pada usia anak. Sebagai pendidikan pertama dan utama, di keluarga anak mulai dikenalkan sikap, perilaku hubungan dalam keluarga. Orangtua dapat menamkan sifat-sifat empati, rasa saling menolong, membantu, memberi dan sebagainya. Begitu pula remaja menjalin hubungan dengan kerabat, tetangga, dan teman-teman mereka. Tak jarang remaja salah pergaulan dalam menjalin hubungan tersebut.
Keempat, metode membangun komunikasi yang efektif bersama remaja. Seiring dengan pertumbuhan usia remaja, biasanya orangtua mulai berkurang hubungan komunikasi dengan anaknya. Karena memasuki remaja, biasanya anak tersebut mulai banyak memiliki teman dan dalam proses mencari pengakuan/identitas diri agar tidak dicap sebagai remaja yang tidak gaul. Disaat inilah peran orangtua dibutuhkan tetap menjalin komunikasi yang intensif, untuk menanyakan hal-hal mendasar yang semestinya orangtua ketahui. Faktanya, justru seringkali orangtua membiarkan dan terkadang bangga kalau anaknya sudah memiliki banyak teman. Padahal itu sangat berbahya jika orangtua membiarkan tanpa campur tangan.
Kelima, mengajarkan pendidikan seks yang benar dan islami kepada remaja. Munculnya pergaulan bebas dikalangan remaja, menimbulkan rasa cemas orangtua dan siapa saja yang memiliki anak remana. Orangtua berkewajiban menanamkan pendidikan seks pada anak-anaknya sejak usia dini dalam lingkup keluarga. Kebebasan yang diberikan orangtua kepada anaknya seringkali menjadikan tidak terarah dengan baik. Meski begitu, orangtua juga tidak boleh terlalu kaku dan keras untuk mengekang anaknya tanpa penjelasan pemahaman yang menyadarkannya.
Dari kelima cara tersebut, barangkali masih belum cukup. Karena tingkat problema remaja saat ini begitu kompleks. Sehingga upaya pemecahannya sangat mungkin bisa variasi sesuai dengan kadar persoalan yang dihadapinya. Mengekplorasi problematika remaja memang butuh kejelian dan kesabaran yang tinggi. Sebab berbagai persoalan remaja, terutama memasuki tahap pertumbuhan, baik fisik maupun psikis, dengan segala keunikannya memerlukan pengetahuan dan pengalaman yang memadahi. Barangkali orangtua juga perlu membaca buku-buku, majalah, atau mengikuti seminar tentang remaja agar dapat menyelami berbagai problem remaja dewasa ini. Dengan bekal itulah, orangtua diharapkan bertambah pengetahuan dan pengalamannya.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar