Senin, 07 Juni 2010

Gagasan Sosialisme Islam Ali Syari’ati

Mujtahid

BERBICARA mengenai sosialisme, tentu juga berbicara tentang suatu paham Marxisme. Sebab ajaran-ajaran sosialisme dipandang sebagai cikal bakal yang mengilhami --untuk tidak menyebut mewariskan-- cara berpikir selanjutnya pada Marxisme. Padahal, hingga kini masih terjadi polarisasi ekstrim antara agama di satu pihak, dengan Marxisme di pihak lain. Agama dan Marxisme adalah dua kekuatan kontradiktif yang cenderung bertolak belakang secara diametral. Lantas, mengapa bisa muncul gagasan sosialisme Islam seperti yang dikemukakan oleh Ali Syariati?
Memasuki masyarakat Dunia Ketiga, Ali Syari’ati dipandang sebagai tokoh yang revolusioner mengembalikan citra Islam dari tuduhan yang statis, anti kemajuan dan anti kemapanan. Sebab, Dunia Ketiga telah sepenuhnya terkena penyakit apa yang dikenal ”westruckness” (mabuk kepayang terhadap Barat dan materialism syndrom) kegilaan terhadap kemegahan materialistik. Padahal modernisme yang dibungkus dengan paham materialisme yang berkembang saat ini tidaklah mampu mengantarkan kebahagiaan dan ketentraman hidup manusia.
Menghadapi syndrom yang serba ke barat-baratan itu, Ali Syari’ati telah membuktikan kepada dunia, bahwa Islam tidaklah reaksioner, pasif, dan status quo. Islam pun menggerakkan manusia melawan berhala-berhala peradaban duniawi itu. Islam adalah revolusioner. Yaitu menata perubahan hidup dari sistem jahiliyah menuju sistem yang berkeadaban dan berkemanusiaan.
Sosok Ali Syari’ati dikenal sebagai intelektual Muslim yang spektrum pemikirannya telah melintas batas geografis dan batas waktu. Ketokohannya dilambangkan dengan berapi-api pidato dan berderet-deret karya tulis yang menggugah semangat, telah membuktikan bahwa dirinya adalah cermin seorang rausyan fikr, sosok manusia ideal yang menjadi cita-citanya.
Pandangan sosialisme Islam Syari’ati sangat berbeda dengan ajaran yang dikembangkan oleh Karl Marx (Marxisme). Marxisme menolak eksistensi agama. Bahkan lebih keras lagi, agama menurut Marx, adalah doktrin sesat yang tidak perlu diikuti. Marxisme menyatakan bahwa agama adalah candu masyarakat (religion is opium). Agama dianggap telah mengalienasi manusia sendiri. Sikap antipati Marxisme terhadap agama tersebut bahkan dijadikan sebagai salah satu pandangan Marxisme yang dikonsepsikan dalam The Alienating Effect of Religion.
Sementara sosialisme Islam seperti yang dinyatakan Syari’ati, adalah paham yang berpihak pada kaum terindas (mustadzafin), dan meluruskan perjalanan sejarah dari kekuasaan tiran menjadi kekuasaan kelompok tercerahkan, berpihak pada kelas bawah (proletar) bersama orang-orang yang berada di jalan Tuhan. Secara jelas, aspek ini berbeda sama sekali dengan padangan Marxisme.
Dengan berlatar belakang keagamaan yang kuat dan mendalam, Syari’ati mengemukakan beberapa ide-ide sosialisme Islam secara berani dan brilian. Gagasannya ditujukan kepada seluruh rakyat Iran, mulai dari lapisan intelektual, mahasiswa, ulama, sampai berbagai kelompok sosial-pekerja. Dari sanalah sosialisme Islam mendapatkan tempat dan mulai ada kesadaran akan perubahan bagi kondisi yang lebih baik, keberanian untuk bergerak, dan kesadaran kelas mulai geliat muncul.
Untuk mengubah tatanan sistem dunia yang serba ”Marxis” seperti itu dibutuhkan kesadaran tauhid, yaitu sebuah pandangan dunia mistik-filosofis yang memandang jagad raya sebagai sebuah organisme hidup tanpa dikotomisasi, semua adalah kesatuan (tauhid) dalam trinitas antara tiga hipotesis; Tuhan, Manusia dan Alam. Pandangan ini dengan sendirinya membantah eksistensi ajaran Marxisme, yang tidak mengakui kesatuan trinitas itu. Bagi Syari’ati, tauhid memandang dunia sebagai suatu imperium, sedangkan lawannya syirik memandang dunia sebagai suatu feodal. Dengan pandangan ini maka dunia memiliki kehendak, kesadaran diri, tanggap, cita-cita, dan tujuan.
Syari’ati juga punya concern terhadap nasip negara Dunia Ketiga, di mana mereka dijajah secara ekonomi, politik, dan kultural oleh Barat. Dalam konteks Iran, untuk menyerang imperium seperti itu, Syari’ati mengangkat ideologisasi Islam. Dengan mengekspresikan akar tradisi Islam, semua bentuk realitas kedzaliman pasti bisa teratasi sepanjang jiwa Islam dipahami secara benar. Barangkali sikap demikian ini, Syari’ati memanfaatkan warisan masa silam dari dinasti Shafawi, atau mungkin dari khalifah Ali, sebagai inspiratornya. Syari’ati tidak pernah diam berbuat dan berpikir demi kemajuan negaranya. Beliau ingin menghidupkan Rausyan fikr kembali, sebagai sosok yang mempunyai kesadaran dan tanggungjawab untuk menghasilkan lompatan besar dalam sejarah dunia.
Dalam dunia sosial-politik, Syari’ati dikenal memiliki komitmen luar biasa pada keadilan dan membela kaum rakyat tertindas. Bahkan diakui, Syari’ati telah memberikan kontribusi dan sekaligus sebagai inspirator terhadap gerakan-gerakan Islam radikal dipelbagai belahan dunia Islam, terutama dalam melawan rezim otoriter. Rezim otoriter yang dibawah pimpinan Syah Iran yang disetir Barat, di luluh-luntakkan oleh Syari’ati. Dengan demikian keberhasilan revolusi Iran pada 1979 telah memberikan dampak yang cukup besar pada dunia Arab.
Melihat sosoknya yang begitu meledak-ledak, sampai seorang pemikir Marxis terkenal bernama Fred Halliday mengakui bahwa kaum Marxis di seluruh dunia merasa iri dengan revolusi Iran 1979, oleh karena revolusi massal Iran mampu menarik berjuta-juta rakyat Iran turun ke jalan menumbangkan rezim Syah yang sedang berkuasa dengan otoriternya. Padahal secara “revolution en massre”, yaitu revolusi yang benar-benar diledakkan oleh massa seperti Iran itulah –suatu revolusi yang didorong oleh ide-ide Islam revolusioner- suatu revolusi yang diimpi-impikan oleh Karl Marx dan Engels selama ini.
Sosialisme Islam seperti yang digubah oleh Syari’ati memiliki visi yang cemerlang bagi peningkatan kesadaran masyarakatnya. Islam sebagai agama tidak hanya dipahami sekadar aktivitas ritual dan fiqh yang tidak menjangkau wilayah politik, apalagi masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Islam harus dikonstruk sebagai sumber inspirasi emansipasi dan pembebasan. Yaitu nilai-nilai yang menjungjung tinggi keadilan dan kesamaan derajat. Islam tidak mengenal kelas/kasta yang membelenggu tatanan sosial, yang sebagaimana itu diciptakan dalam paham Marxisme.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar