Senin, 20 September 2010

Manajerial Kepala Sekolah

Mujtahid*

PARADIGMA baru manajemen pendidikan di negeri ini, telah membuka peluang bagi kepala sekolah untuk melakukan perombakan dan pengembangan sekolahnya lebih kreatif dan progresif. Sebab, kini kepala sekolah memiliki kewenangan yang terbuka untuk merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, serta mengendalikan kemajuan sekolah.

Kunci agar kepala sekolah tetap eksis di tengah-tengah perubahan itu adalah ia harus memahami posisi dan kesiapan untuk menjadi bagian dari dunia baru yang berbeda dari pola dan paradigma selama ini. Perubahan yang demikian kompleks, terutama agenda penerapan model manajemen berbasis sekolah (MBS) dan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan tugas yang perlu dikerjakan kepala sekolah, selain agenda dan program lain yang harus mendapat perhatian lebih fokus lagi.
E. Mulyasa, dalam buku “Menjadi Kepala Sekolah Profesional” (2005) telah menyuguhkan pendekatan, strategi dan manajemen menangani sekolah secara modern. Selain itu, dia juga mengemukakan beberapa resep atau kiat menangani tugas-tugas sebagai pemimpin (kepala sekolah), seperti mengambil keputusan, memimpin rapat, memainkan manajemen konflik, mengatasi keuangan sekolah, menjalin hubungan masyarakat, dan lain sebagainya.

Dari salah satu hasil penelitian (2004), disebutkan bahwa ada indikasi pengaruh antara kepimimpinan (kepala) sekolah dengan produktivitas kerja. Antara prestasi sekolah (performent, lulusan) dengan profil kepemimpinan memiliki hubungan yang sangat erat, bahkan sebagai salah satu indikator justifikasi (pembenaran). Meski juga banyak faktor lain yang ikut mempengaruhi produktivitas itu. Pola kepemimpinan yang rendah/tinggi berimplikasi terhadap kualitas sekolah.

Peralihan paradigma desentraliasasi pendidikan memberi keluasan bagi kepala sekolah berkreasi dalam meningkatkan mutu lembaganya sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat global. Dipundak kepala sekolah terdapat sejumlah harapan wali siswa, masyarakat, stakeholder, serta bangsa dan negara. Atas dasar itulah, Mulyasa menyarankan agar momentum perubahan tersebut disadari sebagai angin keberuntungan untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan berbagai jalan yang efektif dan efesien.
Untuk melewati babakan tersebut di atas, kata Mulyasa, perlu digunakan jurus analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat), sebagai langkah awal pemetaan agar mudah mengenali sumber/potensi (kekuatan dan peluang), sekaligus memecahkan/mengantisipasi (kelemahan dan tantangan) yang seringkali terlupakan dari aktivitas kepala sekolah.

Setelah memahami analisis SWOT, jurus selanjutnya adalah membenahi sumber daya manusia (SDM) ke arah yang lebih baik. Di samping juga harus meningkatkan kualitas pelayanan (service), dan manajemen kontrol sekolah. Sedikitnya, ada lima sifat pelayanan yang harus diwujudkan agar “pelanggan” puas yaitu meliputi (1) kepercayaan (reliability); layanan sesuai dengan yang dijanjikan, (2) keterjaminan (assurance); mampu menjamin kualitas yang diberikan, (3) penampilan (tangible); iklim sekolah yang kondusif, (4) perhatian (emphaty); memberikan penuh kepada peserta didik, (5) ketanggapan (responsiveness); cepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik.
Tugas lain kepala sekolah yaitu menciptakan budaya mutu, teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, kemandirian, partisipasi warga sekolah dan masyarakat, keterbukaan manajemen, kemauan untuk berubah (psikologis dan fisik), evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, responsif dan antisipasif terhadap kebutuhan, akuntabilitas, dan sustainabilitas.

Sesuai dengan perkembangan masyarakat modern, setidak-tidaknya ada tujuh prasyarat bagi kepala sekolah, yaitu berperan sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator di sekolahnya. Ketujuh kreteria tersebut, ia wajib mendorong visi menjadi aksi, cita-cita menjadi realita, dan seterusnya.

Dari sinilah dapat terlihat bahwa untuk memenuhi standar mutu di atas memang membutuhkan kemampuan dan kerja keras. Kepala sekolah harus menjalankan visi dan misi sekolah serta menjabarkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas. Karena itu, tugas tersebut merupakan amanah peradaban yang tentu saja harus pandai-pandai bergumul dengan wacana peradaban itu sendiri.

Masih banyak lagi yang bisa kita gali dari buku ini, khususnya berkenaan dengan hal-hal teknis manajemen yang harus dilakukan kepala sekolah. Sukses tidaknya sekolah sangat tergantung oleh pemimpin yang menggerakkan setiap komponen yang ada di dalamnya. Dengan demikian, tawaran kreatif yang suguhkan Mulyasa dalam karya ini merupakan secercah harapan baru yang bisa kita petik bersama untuk memperkokoh sekolah .

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah Uinversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Jumat, 10 September 2010

Beda Fakultas, Beda Egoisme

Mujtahid*

SAMPAI sekarang ini, masih dirasakan bahwa pada sebuah Perguruan Tinggi terdapat dikotomi antar fakultas yang luar biasa. Dikotomi itu akhirnya melahirkan sikap egoisme, bahkan juga mendorong timbulnya konflik. Rasa egoisme muncul, karena kesadaran pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing personal masih bersifat parsial. Hal itu terjadi karena cara pandang mereka dalam memandang disiplin ilmu tidak sama, alias berbeda mind set.
Jika egoisme itu muncul, maka yang lahir adalah berpikir parsial (sempit dan tertutup). Berpikir parsial itu terjadi, karena kesalahpahaman dalam melihat “ilmu pengetahuan” yang dikaji dan mungkin akibat salah dalam menempatkan kerangka filosofis bidang “ilmu pengetahuan” itu sendiri. Sehingga lahirlah sentimen antar fakultas, antar mahasiswa, antar dosen dan seterusnya.
Hampir di setiap Perguruan Tinggi (PT) terjangkit sesuatu yang namanya gejala sindrom egoisme fakultas (syndrom faculty). Fakultas-fakultas besar (favorit) merasa lebih “berkuasa” menentukan arah kebijakan di tingkat atas ketimbang fakultas-fakultas kecil. Jika hal ini terjadi, maka diversity (keberagaman) fakultas merupakan cermin yang tidak sehat lagi. Artinya egoisme fakultas bisa menyebabkan kehancuran masa depan PT itu sendiri. Bahkan, yang menjadi korban berikutnya adalah mahasiwa. Mahasiswa juga mengkait-kaitkan dengan nama fakultasnya masing-masing. Mahasiswa “fakultas elit” sampai tidak mau bergelut dengan mahasiwa “fakultas bawah”. Sehingga lahirlah sindrom mahasiswa (syndrom student) dalam memilih teman bergaul, diskusi sampai bertempat tinggal.
Gejala tidak sehat itu, sudah bisa dilihat ketika mahasiswa menjatuhkan pilihannya terhadap fakultas atau program studi jurusan. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang memilih fakultas dengan pertimbangan yang kurang logis, tetapi lebih karena pertimbangan sensual “fakultas favorit” yang mereka anggap menjanjikan masa depannya kelak.
Kuatnya sindrom “fakultas favorit” jika diimbangi dengan substansi semangat keilmuan, penelitian dan pengabdian yang baik tentu saja tidak masalah, tetapi jika tidak, maka akan menjadi keropos. Sikap egoisme dan cara berpikir parsial ini banyak terjadi di kalangan mahasiswa. Mereka lebih memilih “gengsi” dengan cara mengekor pada fakultas tertentu, ketimbang harus menerima fakultas yang bercorak kelas ekonomi dengan semangat belajar yang tinggi.
Cara berpikir parsial seperti itu mudah kita temukan. Salah satu contoh konkritnya adalah fakultas kedokteran. Mereka menganggap bahwa dengan masuk pada fakultas tersebut, keberhasilan dan kesuksesan masa depan sudah diambang pintu. Pikiran egoisme ini muncul karena fakutas tersebut, dipandang lebih cepat menghasilkan materiil (uang). Namun kenyataannya tidak demikian, lulusan kedokteran belum tentu bisa melakukan praktek langsung, dan harus menempuh ke jenjang berikutnya sampai menjadi dokter spesialis, dan baru bisa buka prkatek.
Cara berpikir parsial itu muncul juga karena animo publik atau legalitas, yang belum tentu benar. Banyak mahasiswa yang terjebak masuk PT karena ingin mencari simbol gelar akademis untuk mencari pekerjaan. Padahal, kesempatan dunia kerja saat ini, tidak hanya berpatokan kepada legalitas, tetapi harus ditunjukkan dengan ketrampilan dan kemampuan, dan di sinilah justru yang sangat menjanjikan itu.
Bila cara berpikir egois dan parsial itu menjadi karakter mahasiswa, maka secara terang-terangan bertentangan dengan keadaan pendidikan (being educated). Sebab, suatu pendidikan tidak bisa terpisah dari aspek sosial, ekonomi, politik dan budaya. Hal ini yang perlu dipikirkan ke depan ketimbang harus mengklaim bahwa pilihan (fakultas) seolah-olah mampu mengatasi segala permasalahan yang ada. Karena itu, tugas fakultas adalah menempatkan kerangka di atas sebagai wujud kepedulian terhadap keadaan masyarakat (being society). Nilai-nilai strategis inilah yang sejatinya dilakukan oleh setiap fakultas untuk mencetak lulusan yang benar-benar berkualitas.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Rabu, 01 September 2010

Menalar Pendidikan Progresif John Dewey

Mujtahid*

Di antara tokoh pendidikan, John Dewey (1859-1952) merupakan salah seorang pakar yang sangat terkenal dibelantika pendidikan. Dia termasuk filosof yang sangat berpengaruh dari semua filosof Amerika. Karir akademisnya juga luar biasa dan dipercaya mengajar dibeberapa perguruan tinggi terkemuka, termasuk Chicago dan Columbia.
Sebelum meninggal tahun 1952, dia telah memperoleh reputasi internasional untuk pendekatan pragmatisnya dalam bidang filsafat, psikologi dan politik liberal. Bila kita telusuri hasil pemikirannya, setidaknya dapat ditemukanan karya-karyanya yang spektakuler, seperti How We Think (1910), Democracy and Education (1916), Reconstruction in Philosophy (1920), Experience and Natur (1925), dan Logic: The Theory Inquiry (1938).
Selain itu, gagasan-gagasan dan pemikirannya menghiasi sejumlah karya Masterpiece-nya, yang seringkali menjadi sumber rujukan utama oleh banyak tokoh pendidikan (pedagog) belakangan ini. Karya yang berjudul “Experience and Education” ini merupakan karya penutup (ihtit├óm) yang mengemukakan visi baru pendidikan progresif dan sekaligus mempertegas soal paham pragmatismenya.
Pendidikan Progresif
Dalam karya yang cukup padat itu, Dewey menegaskan bahwa pengalaman merupakan nilai yang sangat penting agar dijadikan sebagai paradigma untuk membangun pendidikan. Melalui karya inilah dia berusaha melengkapi dan menyempurnakan pondasi filsafat pendidikan, yang sebelumnya masih didominasi karya kaum tradisionalis-konservatif.
Problem mendasar yang dirasakan Dewey terhadap proses pendidikan pada kala itu adalah tidak adanya kesinambungan dan interaksi antara pelajar (siswa) dengan sesuatu yang ia dipelajari (materi). Sehingga sistem pendidikan (sekolah), seringkali mereduksi kenyataan, dan anehnya justru bertentangan dengan kenyataan itu sendiri. Karena itu, supaya tidak terjadi ‘salah didik’, kata Dewey, pendidikan harus berupaya dan bergerak secara progresif untuk mengakomodasi sisi-sisi pengalaman menjadi basis atau sumber pembelajaran yang dapat ditransfer ke dunia pendidikan.
Dalam tafsir (pemahaman) Dewey, bahwa proses pendidikan merupakan metode ilmiah untuk mempelajari dunia, memperoleh pengetahuan tentang makna dan nilai secara kumulatif. Maka dengan menggunakan pisau analisis filsafat pragmatisnya, Dewey ingin mengatakan bahwa pendidikan merupakan instrumen strategis yang betul-betul hidup dalam situasi sosial. Proses pendidikan bukan suatu instrumen kosong, terasing dan akontekstual.
Kritik pedas yang disuguhkan Dewey pada kaum tradisionalis, bahwa pendidikan tak ubahnya gerbong yang berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Dia menemukan suatu fenomena menarik yang terjadi di kalangan tradisional, ketika mata pelajaran sebagai standar tingkah laku yang diwarisi dari masa lalu, maka sikap para murid seluruhnya harus merupakan sikap kepatuhan, penerimaan, dan ketaatan.buku, terutama teks, menjadi represensati utama dari pengetahuan dan kebijaksanaan masa lampau, sedang guru adalah perangkat yang efektif menghubungkan murid dengan bahan pelajaran. Guru menjadi pelaku yang menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan, serta memaksakan peraturan kepada murid-muridnya.
Akibatnya, pelajaran menjadi tidak peka terhadap ide, dan berapa banyak kehilangan dorongan untuk belajar yang mereka alami. Begitu banyak yang menemukan apa yang mereka pelajari ternyata begitu asing dengan situasi kehidupan di luar sekolah, sehingga tidak memberi mereka kekuatan untuk mengendalikan dalam situasi tersebut. Selain itu, sistem pendidikan tradisional lebih memperlihatkan suasana otoritarian dalam proses pengajarannya. Sebuah sistem yang bertolak belakang dengan kebebasan fitrah manusia.
Fenomena di atas terjadi, karena kesalahan pandangan dalam meletakkan dasar dan fondasi filsafat pendidikan. Maka untuk meluruskan dasar filosofis pendidikan, kata Dewey, harus dilakukan pembenahan secara sistematis, dengan cara membangun dasar filosofis yang sistematis, positif dan konstruktif. Oleh karena itu, menurut Dewey, aspek pengalaman adalah nilai penting yang harus menjadi dasar filosofis pendidikan.
Pengalaman tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan, bahkan keduanya saling lengkap-melengkapi. Hubungan antara pengalaman dan pendidikan adalah hubungan yang afirmatif. Suatu hubungan (sinergi) yang saling menguatkan dan mengokohkan satu sama lain. Jadi dengan meletakkan pengalaman sebagai basis pendidikan, kata Dewey, akan memberi kecenderungan positif yang menjadi cita-cita setiap proses pendidikan yang hendak diinginkan. Sejalan dengan teori progresif, proses pendidikan dapat perpihak pada partisipasi aktif dan kontekstual.
Dalam hal ini, Dewey menegaskan bahwa rencana dan proyek pendidikan, yang melihat pendidikan dari segi pengalaman kehidupan, berkewajiban untuk membingkai dan mengadopsi teori yang cerdas, yakni teori filsafat pengalaman. Sebuah kategori kesinambungan, atau rangkaian kesinambungan pengalaman (experiental continuum), Prinsip ini dilibatkan dalam setiap usaha untuk memisahkan antara pengalaman edukatif yang bermanfaat dan yang tidak berguna sama sekali.
Dari uraian inilah pendidikan menjadi proses manusiawi yang menghargai kreatifitas dan kebebasan yang dimiliki setiap subyek didik. Mereka dapat tumbuh dan berkembang selalu dipengaruhi oleh pengalaman, baik perubahan fisik, intelektual maupun moral yang berlangsung secara kontinuitas. Dengan menempatkan pengalaman sebagai bagian dari pendidikan, maka setiap gerak pendidikan merupakan langkah untuk menentukan nasip sebuah generasi di masa depan. Sebab, masa depan generasi sangat ditentukan oleh kondisi pengalaman sebelumnya, dan hal ini dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi edukatif.
Benang Merah
Sebagai penegasan, Dewey menarik “benang merah” bahwa pengalaman sangat compatible dengan sarana dan tujuan pendidikan. Karena, tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan masyarakat. Sebuah tujuan yang didasarkan pada pengalaman kehidupan aktual individu dalam masyarakat. Dengan demikian, potensialitas pendidikan akan ditentukan oleh pengalaman.
Walau gagasan kreatif ini tumbuh dari percikan Barat (Amerika), apa yang digagas Dewey sejatinya merupakan keprihatinan dan sekaligus alternatif agar proses pendidikan itu tidak terasing dengan alam kenyataan. Dan rasanya, kenyataan itu tidak bisa ditutup-tutupi lagi bahwa pendidikan belum sepenuhnya jadi jaminan untuk meretaskan peserta didik mampu hidup mandiri sebagaimana teori dan praktek yang didapat dari bangku pendidikan. Dengan kata lain, unsur pengalaman harus menjadi bagian “senyawa” yang harus ditumbuhkan dalam dunia pendidikan ini.
Sebagai kekayaan khazanah di bidang pendidikan, pemikiran yang digagas John Dewey tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi setiap pelaku pendidikan di bumi Nusantara ini. Terlebih, untuk mencari tatanan baru yang sampai saat ini belum kunjung dapat, dan masih merambah jalan yang penuh terjal dan berduri.

*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang