Jumat, 10 September 2010

Beda Fakultas, Beda Egoisme

Mujtahid*

SAMPAI sekarang ini, masih dirasakan bahwa pada sebuah Perguruan Tinggi terdapat dikotomi antar fakultas yang luar biasa. Dikotomi itu akhirnya melahirkan sikap egoisme, bahkan juga mendorong timbulnya konflik. Rasa egoisme muncul, karena kesadaran pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing personal masih bersifat parsial. Hal itu terjadi karena cara pandang mereka dalam memandang disiplin ilmu tidak sama, alias berbeda mind set.
Jika egoisme itu muncul, maka yang lahir adalah berpikir parsial (sempit dan tertutup). Berpikir parsial itu terjadi, karena kesalahpahaman dalam melihat “ilmu pengetahuan” yang dikaji dan mungkin akibat salah dalam menempatkan kerangka filosofis bidang “ilmu pengetahuan” itu sendiri. Sehingga lahirlah sentimen antar fakultas, antar mahasiswa, antar dosen dan seterusnya.
Hampir di setiap Perguruan Tinggi (PT) terjangkit sesuatu yang namanya gejala sindrom egoisme fakultas (syndrom faculty). Fakultas-fakultas besar (favorit) merasa lebih “berkuasa” menentukan arah kebijakan di tingkat atas ketimbang fakultas-fakultas kecil. Jika hal ini terjadi, maka diversity (keberagaman) fakultas merupakan cermin yang tidak sehat lagi. Artinya egoisme fakultas bisa menyebabkan kehancuran masa depan PT itu sendiri. Bahkan, yang menjadi korban berikutnya adalah mahasiwa. Mahasiswa juga mengkait-kaitkan dengan nama fakultasnya masing-masing. Mahasiswa “fakultas elit” sampai tidak mau bergelut dengan mahasiwa “fakultas bawah”. Sehingga lahirlah sindrom mahasiswa (syndrom student) dalam memilih teman bergaul, diskusi sampai bertempat tinggal.
Gejala tidak sehat itu, sudah bisa dilihat ketika mahasiswa menjatuhkan pilihannya terhadap fakultas atau program studi jurusan. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang memilih fakultas dengan pertimbangan yang kurang logis, tetapi lebih karena pertimbangan sensual “fakultas favorit” yang mereka anggap menjanjikan masa depannya kelak.
Kuatnya sindrom “fakultas favorit” jika diimbangi dengan substansi semangat keilmuan, penelitian dan pengabdian yang baik tentu saja tidak masalah, tetapi jika tidak, maka akan menjadi keropos. Sikap egoisme dan cara berpikir parsial ini banyak terjadi di kalangan mahasiswa. Mereka lebih memilih “gengsi” dengan cara mengekor pada fakultas tertentu, ketimbang harus menerima fakultas yang bercorak kelas ekonomi dengan semangat belajar yang tinggi.
Cara berpikir parsial seperti itu mudah kita temukan. Salah satu contoh konkritnya adalah fakultas kedokteran. Mereka menganggap bahwa dengan masuk pada fakultas tersebut, keberhasilan dan kesuksesan masa depan sudah diambang pintu. Pikiran egoisme ini muncul karena fakutas tersebut, dipandang lebih cepat menghasilkan materiil (uang). Namun kenyataannya tidak demikian, lulusan kedokteran belum tentu bisa melakukan praktek langsung, dan harus menempuh ke jenjang berikutnya sampai menjadi dokter spesialis, dan baru bisa buka prkatek.
Cara berpikir parsial itu muncul juga karena animo publik atau legalitas, yang belum tentu benar. Banyak mahasiswa yang terjebak masuk PT karena ingin mencari simbol gelar akademis untuk mencari pekerjaan. Padahal, kesempatan dunia kerja saat ini, tidak hanya berpatokan kepada legalitas, tetapi harus ditunjukkan dengan ketrampilan dan kemampuan, dan di sinilah justru yang sangat menjanjikan itu.
Bila cara berpikir egois dan parsial itu menjadi karakter mahasiswa, maka secara terang-terangan bertentangan dengan keadaan pendidikan (being educated). Sebab, suatu pendidikan tidak bisa terpisah dari aspek sosial, ekonomi, politik dan budaya. Hal ini yang perlu dipikirkan ke depan ketimbang harus mengklaim bahwa pilihan (fakultas) seolah-olah mampu mengatasi segala permasalahan yang ada. Karena itu, tugas fakultas adalah menempatkan kerangka di atas sebagai wujud kepedulian terhadap keadaan masyarakat (being society). Nilai-nilai strategis inilah yang sejatinya dilakukan oleh setiap fakultas untuk mencetak lulusan yang benar-benar berkualitas.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar