Rabu, 11 Agustus 2010

Puasa dan Keseimbangan Diri

Oleh: Mujtahid*

TANPA diragukan lagi bahwa puasa merupakan ladang paling subur untuk mempertebal keimanan, ketaqwaan serta wahana penciptaan nilai moral serta tanggung jawab setiap kaum muslim. Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa puasa sesungguhnya mendidik orang supaya mawas diri, dan menghadirkan kemahabesaran dan keagungan Tuhan di tengah badai keseimbangan diri manusia yang sedang diuji.
Dalam kaitannya dengan aspek sosial misalnya, puasa merupakan jalan untuk meningkatkan sistem solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang selama ini dinilai renggang. Solidaritas ini bisa terwujud di bulan ramadhan karena mereka menyadari bahwa hakikat puasa bukan semata-mata menjalankan dimensi ritual ubudiyah semata, melainkan juga dimensi tasawuf/etis. Seperti kita lihat bahwa dengan puasa orang mudah mengelurkan rezkinya, ringan menjalankan shalat berjama’ah, bertadarrus, dan seterusnya. Keseimbangan diri inilah yang perlu dipupuk selama bulan ramadhan ini agar terbentuk jiwa raga yang kamil.
Secara kualitas, setiap amalan yang dikerjakan dibulan ramadhan banyak mengandung makna ibadah, dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga dalam bulan ramadhan dilukiskan bahwa puasa merupakan ibadah miliki Allah. Artinya, amalan-amalan yang dilakukan di bulan ini memiliki nilai yang tambah dihadapan-Nya, begitu juga kalau melakukan amalan-amalan yang berdimensi sosial.
Puasa sebagaimana yang diperintahkan Allah selain memiliki hubungan vertikal juga melambangkan hubungan horizontal. Perintah menjalankan puasa sejatinya menyeimbangkan antara dimensi teologis dan sosiologis. Karena itu, Allah membuka peluang bagi kaun aghniya’ (orang kaya) untuk memperbanyak ibadah baik secara bathiniyah maupun secara material. Janji Allah terhadap mereka yang mampu melaksanakan keseimbangan ibadah ini pasti pahalanya akan dilipatgandakan.
Untuk meraih janji-janji Tuhan itu, kemudian lahirlah keinginan dan semangat berlomba-lomba dalam melakukan amalan, baik amalan sunnah maupun wajib. Perlombaan inilah kemudian membentuk manusia memiliki kepedulian terhadap diri sendiri dan kepedulian bagi sesama. Kepedulian ini lahir bukan karena terpaksa, dipaksa namun lahir karena panggilan hati nurani. Jiwa atau hati yang bersih akan lahir sebuah perbuatan yang bersih dan begitu sebaliknya jiwa yang kotor akan menjerumuskan diri sendiri dan bukan tidak mungkin pada orang lain.

Pembentukan Moral
Moral merupakan nilai-nilai yang biasa dijadikan patokan, dasar dalam melakukan tindakan. Sehingga dalam prakteknya seorang tentu tidak terlepas dari apa yang disebut moral. Moral sangat kerap kali disebut dalam setiap perbuatan manusia. Pertanyaannya adalah apakah tindakan itu berdasarkan moral atau tidak? Pertanyaan inilah yang sering muncul dalam benak hati manusia. Dan bisikan-bisikan pasti itu pasti lahir di dalam jiwa manusia.
Moral dan puasa memiliki kaitan yang sangat erat serta tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lain. Karena puasa adalah sarana untuk membentuk moral kemanusiaan universal. Maka pendidikan moral secara tidak langsung dapat terwujud dengan baik di bulan puasa ini. Penyimpangan moral yang sering terjadi di luar bulan ramadhan merupakan manifestasi dari tipisnya kesadaran memiliki Tuhan, diri sendiri dan kemanusiaan. Rapuhnya moral karena tidak meletakkan dirinya sebagai pelaku sosial.
Tepatlah apa yang terkandung dalam sebuah hadits bahwa “dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka perbuatannya akan baik dan jika ia rusak maka perbuatannya akan rusak, ketauhilah bahwa itu adalah hati. Moral kaitannya dengan hati adalah sebuah pilihan-pilihan atau pertimbangan. Artinya hati merupakan timbangan yang akan menentukan pilihan antara kebenaran dan kebatilan. Jadi, keberadaan hati akan sangat berpengaruh terhadap pilihan.
Moral sesungguhnya pilihan-pilihan yang berdasar pada pertimbangan-pertimbangan. Dan pertimbangan itu tidak terlepas dari pertimbangan hati, akal serta pertimbangan rasa kemanusian. Jika pertimbangan ini tidak dilakukan, maka tidak mustahil pilihan dan tindakan yang akan dilakukan berdampak buruk. Dalam menjatuhkan pilihan, diri manusia selalu kembali pada kekuatan hati dan akal sebagai alat atau potensi yang bisa memberikan pilihan.
Puasa yang dilakukan berdasarkan imanan wa ihtisaban (atas kesadaran keimanan dan perhitungan) akan melahirkan nilai moral yang sesungguhnya. Dapat dipastikan bahwa puasa mendidik manusia untuk mewujudkan moral kemanusian itu. Sehingga yang tampak adalah sebuah tindakan yang mencerminkan nilai ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan.
Bobot puasa sesungguhnya terletak pada dua nilai tersebut di atas. Kesadasar vertikal harus imbangi dengan kesadaran horizontal. Karena kesadaran vertikal saja tidaklah cukup bagi kesalehan pribadi, sedangkan kesadaran horizontal terabaikan. Jadi puasa meletakkan nilai-nilai yang menjunjung kesadaran kolektif. Dan keharmonisan nilai ini sangat mudah terwujud dengan puasa.

Penguatan Tanggungjawab
Konsep tanggung jawab dalam al-qur’an biasa disebut dengan amanah. Yang artinya dapat dipercaya, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Lebih tepat lagi jika konsep amanah ini kemudian diterjemahkan dalam dimensi kehidupan, baik secara personal maupun kolektif (sosial). Karena dalam kehidupan manusia, tanggung jawab merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sehingga manusia tidak bisa menghindar dari tanggung jawab. Sebab, Allah menjadikan manusia di muka bumi ini disamping sebagai Abdullah, juga sebagai khalifahtullah (wakil atau duta) yang penuh dengan tanggung jawab sosial.
Pelajaran penting yang terkandung dalam puasa adalah membentuk tanggung jawab manusia. Karena puasa merupakan ibadah khusus yang salah satunya untuk melatih bertanggung jawab pribadi. Karena itu, hubungan pribadi dengan Tuhannya akan menciptakan kesucian jiwa (batin). Sedangkan tanggung jawab pribadi terhadap sosial bisa membentuk sistem tatanan sosial yang baik. Apabila kedua-duanya bisa dilakukan maka tatanan kehidupan dari yang kecil sampai yang besar akan tercipta sebuah sistem yang harmonis dan anggun.
Mestinya, puasa kaitannya dengan kehidupan sosial, politik, dan lainnya dapat dapat dimengerti sebagai suumbangan tata nilai kehidupan, baik secara individu maupun sosial. Karena dengan meletakkkan dasar tanggung jawab personal, tentu segala ucapan dan tindakan selalu akan dimintai laporan. Karena itu, orang yang tidak bertanggung jawab berarti tidak mengakui kesadaran bertuhan dan berkemanusiaan. Artinya tanggung jawab merupakan salah satu bagian yang memperteguh keimanan dan bukti kepercayaan terhadap beban yang dipikulnya.
Salah satu sarana yang paling tepat untuk melatih tanggung jawab adalah berpuasa. Puasa dan tanggungjawab merupakan entitas yang dapat membentuk kepribadian yang utuh. Kesempurnaan manusia bukan diukur dari kelebihan-kelebihan fisik melainkan banyak diukur dari kelebihan-kelebihan non fisik. Kesadaran ruhiyyah merupakan sentral aktivitas manusia yang mempengaruhi cara pandangnya.
Dari uraian di atas, puasa selain sebagai perintah Tuhan, juga membina terhadap pembentukan moral dan tanggung jawab. Dengan puasa berarti menuntut adanya penciptaan moral dan tanggung jawab bagi setiap orang supaya terbentuk integritas dalam dirinya nilai-nilai spiritual dan sosial yang sepadan. Karena itu, puasa selain menekankan hubungan vertikal juga menekankan hubungan horizontal.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar