Rabu, 21 Juli 2010

Reimprovisasi Tujuan Pendidikan

Mujtahid*

PENDIDIKAN adalah kekuatan masa depan (future power). Tanpa pendidikan, dunia akan mengalami dekadensi ilmu pengetahuan dan akan menjadikan peradaban manusia suram. Pendidikan dipandang sebagai alat perubahan yang sangat ampuh untuk menyesuaikan cara berpikir dalam menghadapi tantangan dunia yang makin kompleks, cepat berubah, serta sulit diramalkan.
Edgar Morin (2006) melakukan beberapa kritik terhadap kontens (isi) pendidikan selama ini. Pendidikan kurang menyentuh hal-hal atau problem-problem mendasar yang itu sangat penting untuk dielaborasi kembali melalui kegiatan pendidikan. Untuk mengatasi problem tersebut, direktur Emeritus ini menghadirkan sebuah konsep yang beliau sebut dengan sebutan “Tujuh Pelajaran Komplek”, sebagai sebuah alat untuk mencermati ulang konsep dan praktik pendidikan selama ini.
Secara ideal, tujuan pendidikan (education goal) dimaksudkan sebagai penerusan atau alih pengetahuan (knowledge) dari generasi tua ke genarasi muda, ketrampilan (skill) dan sikap atau prilaku (attitude). Sasaran inilah sebagai sebuah tugas suci pendidikan untuk membangun generasi masa depan yang handal dan cemerlang. Selain ketiga hal itu, ada hal lain sangat penting yaitu nilai-nilai karakter, sikap, dan jiwa kreatif yang dapt tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.
Namun pada kenyataannya, pendidikan justru gagal menangkap realitas tersebut secara holistik dan integralistik. Selama ini, pendidikan baru mampu menghasilkan sosok manusia super dalam pengetahuannya, tapi gagal dalam membentuk watak dan karakter sifat dasar kemanusiannya itu. Padahal, manusia adalah makhluk yang unik, kompleks potensi fisik dan psikisnya yang itu merupakan anugerah yang harus digali dan ditumbuh-kembangkan secara maksimal.
Selain itu, pendidikan seharusnya memperlihatkan bahwa dalam derajat tertentu, belajar rentan akan kekeliruan dan ilusi. Teori informasi menunjukkan bahwa resiko kekeliruan akibat gangguan mesti ada dalam seluruh penyaluran informasi, serta semua penyampaian pesan-pesan komunikasi.
Itulah sebabnya, pendidikan masa depan dihadapkan pada masalah universal, bahwa proses belajar kita masih terkotak-kotak, sekelumit dan terpisah-pisah. Pola pembelajaran demikian ini tentu tidak memadai untuk menangkap realitas dan permasalahan yang makin global, trans-nasional, multi-dimensional, transversal, serta polidisiplin.
Menghadapi tuntutan yang sangat kompleks tersebut, pendidikan masa depan harus menjadi pendidikan utuh (universal), yang mengajarkan tentang kondisi manusiawi serta melakukan upaya untuk menyatukan kembali pengetahuan yang berserakan mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, dan mengintegrasikan ke dalam ilmu pengetahuan ilmiah, filsafat, sejarah, sastra, agama dan lain sebagainya.
Pendidikan harus menunjukkan dan menggambarkan berbagai wajah takdir manusia (takdir spesies manusia, individu, sosial, sejarah). Semua takdir tersebut bercampur tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Salah satu panggilan utama pendidikan masa depan adalah menggali dan mempelajari kompleksitas manusia yang akan mengantarkan cita-cita hidup dan kehidupannya.
Kesulitan yang dihadapi dalam mengelola dunia pendidikan seringkali diperburuk oleh cara berpikir kita yang cenderung membekukan kemampuan untuk mengkontektualisasi, mengglobalisasi, multidimensionalitas serta kompleksitas multikultural. Sikap kebekuan (jumud) ini jangan sampai menyelimuti pendidikan kita dan saatnya perlu mengubah cara berpikir untuk memahami makna konteks tersebut.
Berbicara soal pendidikan adalah berbicara mengenai interaksi belajar antar pendidik dan peserta didik. Belajar merupakan suatu petualangan untuk mengungkap segala bentuk ketidakpastian menjadi pasti dan nyata. Cara penyampaian materi yang bersifat dogmatis, doktriner, dan tidak toleran harus diakhiri dan diganti dengan cara-cara yang elegan yang mampu membangkitkan kreativitas dan performance anak didik yang bermutu.
Untuk mengatasi stagnasi itu, perlu sebuah upaya pembaruan model pendidikan yang sesuai dengan keadaan dan tingkat kebutuhan zaman sekarang ini. Yakni pendidikan masa depan yang diharapkan mampu membentuk kesadaran baru bagi munculnya generasi yang berkualitas, berkarakter dan berjiwa besar. Dalam prosesnya, pendidikan sebagai aksi nyata berkewajiban untuk menanamkan pengalaman empiris ke dalam jiwa generasi mendatang. Pendidikan harusnya mengajarkan materi yang relevan dengan kenyataan hidup di masyarakat dan bukan bententangan dengan kondisi empiris di lapangan.
Aksi berisiko pada kegagalan serta bisa mengakibatkan penyimpangan atau kebalikan dari tujuan awal. Maka cara efektif untuk untuk menghadapi ketidakpastian aksi adalah kesadaran penuh tentang taruhan yang terlibat dalam keputusan, dan bantuan strategi.
Dari kaca mata pedagogis, pembelajaran adalah proses manusiawi yang menghargai kreatifitas dan kebebasan yang dimiliki setiap subyek didik. Mereka dapat tumbuh dan berkembang selalu dipengaruhi oleh materi dan dipadukan dengan pengalaman, baik perubahan fisik, intelektual maupun moral yang berlangsung secara kontinuitas.
Dengan memilih materi yang sesuai dan dipadu dengan pengalaman yang cukup usaha pendidikan itu akan menemukan cahaya yang cerah. Membangun pendidikan yang handal harus menitiktekankan pada aspek keterbukaan, keluasan pemikiran dan kualitas metodologis, di samping tetap menghargai nilai-nilai luhur bangsa yang relevan harus perlu dipertahankan sebagai warisan sejarah
Itulah ulasan bagaimana cara menarik “benang merah” antara cita-cita dan tujuan pendidikan. Yaitu dengan cara mengelaborasi dan memperbaiki materi pendidikan yang dipadu dengan pengalaman (experience) yang compatible dan relevan akan sangat membantu mencapai tujuan dan cita-cita atau visi-misi pendidikan. Karena, tujuan pendidikan pada hakikatnya yaitu tujuan masyarakat atau bangsa. Sebuah tujuan yang didasarkan pada pengalaman aktual individu dalam bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian, potensialitas pendidikan akan ditentukan oleh seberapa berbobot materi dan seberapa luas pengalaman yang diusung dalam interaksi edukatif yang dapat diserap oleh peserta didik.

*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar