Senin, 07 September 2009

Kisah Rasul dan Spirit Perubahan


Judul Buku : Revolusi Sejarah Manusia; Peran Rasul Sebagai Agen Perubahan
Penulis : Munzir Hitami
Penerbit : LKiS, Jogjakarta
Edisi : I, 2009
Tebal : xii +286 halaman
Peresensi : Mujtahid*


MEMBACA kisah-kisah sejarah dalam al-Qur’an, sebagian kalangan masih terjadi interpretable (multi tafsir) yang begitu ragam. Perbedaan ini muncul, karena pendekatan yang digunakan mereka dalam memahami ayat-ayat al-Qur’an, pisau analisisnya berbeda-beda. Ada yang memakai metode sastra, semantik-tematik, seni dan sebagainya. Kecenderungan subjektifitas penafsiran seperti itu dapat maklumi karena dilatari oleh kemampuan mufassir itu sendiri.
Buku yang berjudul ”Revolusi Sejarah Manusia” ini adalah karya ilmiah yang ditulis oleh Munzir secara serius dan mendalam. Dengan mengedepankan pendekatan semantik-tematik penulis menjelaskan ide-ide perubahan yang diangkat dari kisah para rasul dalam al-Qur’an. Secara garis besar telaah tentang sejarah yang dapat digali dari al-Qur’an dapat digolongkan dua macam, yakni perubahan sebagai substansi dan perubahan sebagai fenomena. Perubahan yang pertama lebih mengenai hakikat dan bentuk perubahan, sedangkan yang kedua lebih sebagai gejala dalam perjalanan masyarakat manusia dari suatu umat, baik simbol-simbol, maupun dalam bentuk ajaran-ajaran normatif (hal. 231).
Kisah para Rasul dalam al-Qur’an memang pada umumnya membangkitkan makna perubahan. Itulah mengapa sampai penulis berkesimpulan bahwa kisah para Rasul dalam al-Qur’an itu merupakan agen perubahan pada sejarah umat manusia. Al-Qur’an sebagai Kitab Suci menerangkan betapa penting para rasul dalam mengubah suatu masyarakat bangsa dari masyarakat tribal tak bermoral menjadi masyarakat yang religius berkeadaban.
Berdasarkan hasil kajian Munzir, perubahan umat manusia dalam al-Qur’an maupun dalam realitas empiris di alam dunia ini merupakan peran penting rasul sebagai agen perubahan. Kisah para rasul dalam al-qur’an dapat berfungsi sebagai peringatan (al-Ibrah) bagi umat manusia. Selain itu, kisah tersebut juga sebagai konfirmasi (al-Tashdiq) terhadap kitab-kitab terdahulu, sehingga dimaksudkan untuk memperjelas ajaran kebenaran yang dibawakannya.
Para rasul yang digambarkan dalam kisah al-Qur’an sebagai figur atau tokoh yang lahir dari umatnya adalah pencipta sejarah. Yaitu sebagai agen perubahan dalam sejarah yang terjadi pada kurun waktu di mana peran-peran individual atau pribadi masih dominan sesuai dengan zamannya. Pesan moral yang perlu dimunculkan dari kisah tersebut ialah masyarakat zaman sekarang dapat belajar untuk menangkap berbagai cerminan dibalik simbol-simbol pengalaman umat-umat itu yang pada hakikatnya tetap hidup sepanjang zaman sehingga orang dapat bertindak secara benar pada situasi yang mirip.

Pesan Moral Kisah Para Rasul
Adalah figur-figur transformator ulung yang kuat dan tabah menghadapi cobaan dari umatnya atau komunitasnya kalau bukan Nabi/rasul, seperti Nuh, Hud dan Shalih. Ketiga rasul ini dikenal sebagai figur pemimpin sangat ulet, sabar dan tabah terhadap tantangan dan rintangan yang menghadangnya. Seperti yang dikisahkan dalam al-qur’an, ketiga rasul itu mendapat campur tangan (pertolongan) Tuhan dalam menghadapi tekanan dari kaumnya.
Sebagai contoh, cobalah kita belajar kepada Nabi Nuh sebagaimana kisah al-Qur’an, untuk memperjuangkan ajaran agama dan meluruskan dari kesesatan dan kekufuran butuh waktu yang sangat lama, yakni tidak kurang dari 950 tahun. Risalah yang dibawa Nuh mendapat penolakan massal dari kaumnya. Sehingga Tuhan harus campur tangan untuk menguji kaumnya dengan banjir untuk menyadarkan mereka. Pandangan al-Qur’an tentang bangkit dan hancurnya suatu kaum adalah sebagai akibat dari kezaliman mereka sendiri dan hal tersebut sudah menjadi hukum alam atau sunnatullah dalam sejarah manusia.
Hal yang tak jauh beda juga diperankan Nabi Hud dan Shalih. Kedua rasul beserta umatnya itu mengajak pada jalan kebenaran dan keimanan. Nabi Hud sebagai penentu perubahan pada kaum Ad, dan Nabi Shalih sebagai pendobrak kaum Tsamud kembali dari jalan kehancuran, kekacauan dan ketidakadilan. Kaumnya yang sudah kelewat batas akhirnya sedikit demi sedikit meninggalkan penyembahan berhala (simbol) sesembahan lain yang menyimpang. Kegigihan kedua rasul itu membuahkan perubahan untuk menyelamatkan manusia dari segala keingkaran dan kemunafikan.
Selain ketiga Nabi di atas yang dikenal tabah/tahan cobaan, Nabi Ibrahim, Ismail dan Ishaq juga dikenal sebagai rasul yang menemukan hakikat fitrah dan ketundukan murni pada Tuhan. Jiwa pengorbanan dan kepasrahan menjadi tauladan yang menggugah pengikutnya. Lawan-lawan antagonis Nabi Ibrahim, Ismail dan Ishaq sangat kuat dan jahat. Tetapi dengan do’a dan ihtiar yang tak pernah lelah akhirnya mereka mampu menjadi penentu perubahan itu sendiri.
Tak kalah menariknya dengan kisah di atas, Nabi Ya’kub dan Yusuf dikenal sebagai nabi yang pandai ”menyelamatkan dan penuh perencanaan”. Ketokohannya membuat para penganutnya simpatik. Simbol keberhasilan, ketabahan membawa perubahan pada masyarakat Mesir pada zamannya.
Nabi Luth juga demikian, ia diuji dengan kaumnya yang kebanyakan melakukan penyimpangan seks. Prinsip ketidakwajaran, seperti yang diungkap al-Qur’an, selalu muncul pada diri Nabi, termasuk Nabi Luth. Homoseksual merupakan kasus unik yang belum terjadi sebelumnya. Kasus ini adalah bentuk kejatuhan manusia pada kehancuran jiwa dan moral masyarakat. Terapi yang digubah Nabi Luth yaitu dengan cara tazkiyah (penyucian). Mengajak kaumnya sadar akan fenomena fasad (kerusakan) dengan cara kembali ke kodrat penciptaan manusia yang semestinya.
Gambaran tentang perubahan yang diperankan oleh para rasul di atas dapat kita maknai dan diambil pesan moralnya untuk konteks kekinian. Kita harus belajar dari semangat kisah tersebut untuk mendiagnosa kompleksitas kehancuran dan kezaliman yang terjadi saat ini. Kita meski butuh sifat ketokohan, keteladanan, serta kepemimpinan yang ditunjukkan para rasul itu ketika mereka dengan caranya sendiri menyelesaikan cobaan, rintangan dan segala bentuk kerusakan lainnya.
Kisah rasul yang diangkat dalam al-Qur’an dimaksudkan agar para pembaca dapat merenungi dan menggugah ”suatu gerakan perubahan” yang terstruktur dan terencana. Semangat kisah dalam al-Qur’an adalah menciptakan suasana lahir dan batin seseorang untuk melahirkan inspirasi futuristik dan inisiatif yang positif. Jatuh bangunnya suatu bangsa, sangat tergantung pada pergerakan pemimpin dan kaumnya, seperti halnya kisah para rasul di atas.
*) Mujtahid, Dosen Universitas Islam Negeri Maliki Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar