Kamis, 01 September 2011

Menanam Kebajikan dengan Bersilaturrahim

Mujtahid

SETELAH sebulan berpuasa di bulan ramadhan, tradisi umat Islam tanah air adalah merayakan hari raya idul fitri. Hari raya idul fitri merupakan momentum saling kunjung mengunjungi dan bersalam-salaman, serta saling maaf memaafkan. Tradisi sangat mulia itu sudah turun temurun sejak zaman dahulu kala.

Suasana silaturrahim seperti itu menjadi sangat indah dan mengesankan. Mengesankan karena silaturrahim sangat dianjurkan oleh Islam, bahkan menjadi sumber rezeki dan panjang umur seseorang. Tidak sebatas menjadi sumber rezeki dan memperpanjang umur, tetapi bahkan juga dikaitkan dengan melengkapi bulan suci ramadhan, yaitu sebagai penutup dan menyempurnakan ibadah puasa.

Manfaat silaturrahim ialah menjadikan umat Islam agar bisa hidup bersatu dan saling menjaga kebersamaan. Kelebihan lainnya yaitu untuk mengenal lebih dekat para keluarga, sanak kerabat, teman sejawat, dan para kolega yang selama ini kita mengenalnya sebatas melalui bentuk formal, atau acara-acara tertentu yang serba terbatas. Silaturrahim dapat menyambungkan hati ke hati, pikiran ke pikiran dan obsesi-obsesi selama ini belum terjalin atau karena satu hal yang menyebabkan putus kontak.

Sebagai sebuah tradisi yang begitu mensejarah di negeri ini, silaturrahim belum dapat tergeser oleh arus teknologi informasi. Sekalipun sudah banyak handphone sebagai penggati alat komunikasi, tetapi rasanya masih kurang afdhal bila belum berkunjung dan berjabat tangan. Sebab, sebagai nilai-nilai tradisi di masyarakat, seseorang belum dikatakan silaturrahim manakala belum mengulurkan tangan dan bertemu langsung sebagai tanda permohonan maaf.

Begitu pentingnya makna silaturrahim sebagai penyatu keluarga, mempererat ikatan kerabat, dan kolega ditempat kita bekerja, maka hari raya idul fitri menjadi ajang untuk saling kunjung mengunjungi, saling memberi dan menerima maaf satu sama lain. Bahkan tradisi jawa sebelum ramadhan dan hari raya tiba, biasanya ada ater-ater (mengantarkan nasi atau kuwe) dari rumah ke rumah sebagai tanda jalinan kemanusiaan untuk memupuk hati dan sanubari menjadi lebih subur.

Rasa penuh kekerabatan dan persaudaraan itu mestinya tidak sebatas seremonial dan berbasa-basi di kulit luarnya (lahiriyah) saja, akan tetapi harus tumbuh secara utuh antara yang diucapkan/ditampakkan dan dihayati dan tercermin dalam hati sanubarinya. Sebab dengan begitu, makna silaturrahim akan memberikan kemantapan dan keberkahan mendalam sesama kita. Budaya saling memaafkan dan mendo'akan adalah anjuran yang sangat mulia yang perlu kita gerakkan dalam kehidupan sehari-sehari.

Tali silaturrahim membuka kesempatan untuk mengukuhkan sifat kemanusiaan yang paling mendasar untuk saling menjalin hubungan satu sama lain. Manusia diciptakan Allah tidak mungkin ada yang sempurna seperti halnya malaikat, karena dalam dirinya masih ada sifat jahat, riya', takabbur, dan seterusnya. Sehingga tali silaturrahim adalah upaya untuk membersihkan noda-noda dan segala macam sifat tercela yang pernah dilakukan oleh bani adam itu.

Semangat silaturrahim juga mengukuhkan bahwa hubungan sesama manusia itu sangat penting. Barangkali karena kita kurang berhubungan dengan sesema manusia, kita tidak dapat mengalami kemajuan yang cukup berarti. Sebab dimensi silaturrahim itu sangat luas---- tidak saja dalam konteks minal aidin wal faizin atau mohon maaf lahir dan batin ---akan tetapi berkaitan dengan segi pendidikan, moral, sosial, ekonomi dan lain-lain.

Itulah dulu banyak orang berhasil dan sukses karena ada suasana silaturrahim yang tumbuh dan berkembang secara alamiah. Para santri atau murid dulu sering bersilaturrahim kepada guru atau ulama untuk menimba ilmu kepadanya. Tidak saja ilmu yang ditimba, tetapi juga sifat dan perilaku gurunya. Inilah yang sekiranya perlu ditumbuhkan untuk memperbaiki generasi saat ini.

Pada zaman dulu, para santri rela menelusuri jalan yang berbelok dan gelap gulita demi mendapatkan ilmu dengan cara bertemu atau bersilaturrahim kepada guru yang didengarnya. Sebagai tamu (murid) maka selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh gurunya. Sebab tamu itu bagaikan mayit (al-dhuyuf kal mayyit). Seorang tamu tidak boleh mengatur tuan rumah (shahibul bait), apalagi sampai memerintah tuan rumahnya. Itu artinya sebagai tamu yang transaksional, suka mengatur dan hanya ingin untuknya sendiri.

Sehingga makna silaturrahim bila dikaitkan dengan panjang umur, itu memang benar karena silaturrahim yang berkualitas. Silaturrahim yang tidak saja sekedar berjabat tangan lalu pulang, akan tetapi yang mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu lalu seseorang akan dapat hidup yang bermutu dan sangat panjang jika ilmunya itu diamalkan kepada sesamanya.

Silaturrahim tidak boleh hanya untuk kepentingan politik (karena atasan, atau orang memiliki kuasa), apalagi untuk hal-hal yang sifatnya transaksional. Hidup ini harus dibangun antara gerak badan dan suara hati harus seirama. Tidak boleh kalau hati berbicara iya, lalu tangan dan mulut bicara tidak. Itu artinya hidup belum seirama dan sebangun antara luar dan dalamnya. Silaturrahim sesungguhnya menyatukan antara yang luar (lahiriyah) dan yang dalam (batiniyah).

Untuk menyatukan lahiriyah dan batiniyah membutuhkan sikap wara'. Banyak orang yang secara luar terasa tampak indah dan manis, akan tetapi di dalamnya masih menyimpan rasa dendam dan musuh. Sifat inilah oleh Allah akan menjadi bahaya karena bertolak belakang dengan kehidupan sejatinya. Silaturrhamim harus mampu menghapus rasa dendam dan musuh yang selalu mengganjal dalam hati sanubarinya.

Semoga silaturrahim pada tahun ini dapat membuka lembaran baru guna melangkah hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Silaturrahim memberikan jalan kemudahan bagi siapapun untuk mendapatkan pertolongan dan bantuan. Silaturrahim dapat menghempaskan segala macam sifat keburukan dan menanamkan kebajikan untuk sesama manusia. Sehingga manusia dapat mencapai kehidupan yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana do'a yang selalu kita ucapkan "rabbana atina fi dunya hasanah wafil akhiratina hasanah". Itulah sesungguhnya silaturrahim yang hendak kita bangun agar hidup kita mampu menyeimbangkan kemuliyaan antara dimensi hidup di dunia dan di akhirat.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar