Minggu, 29 Agustus 2010

Mewarisi Tradisi Intelektual Cak Nur

Oleh: Mujtahid

GENAP lima tahun sudah Nurcholish Madjid meninggalkan kita semua, sejak 29 Agustus 2005 yang lalu. Sebagai seorang Intelektual Muslim yang dibesarkan oleh pendidikan Barat, beliau tetap sangat mencintai, menghargai dan menjunjung tinggi tradisi, budaya, dan nilai-nilai sosial dan kultur keagamaan Indonesia.

Tak sulit bagi kaum intelektual muslim mengenal sosok Nurcholish Madjid, yang biasa akrap di sapa dengan sebutan “Cak Nur”. Kepulangannya lima tahun silam telah menggetarkan bagi bangsa ini, karena beliau adalah seorang pemikir muslim yang tetap konsisten terhadap gagasan dan ide-idenya sejak tahun 70-an. Cak Nur termasuk putra bangsa yang paling banyak menghiasi khazanah pemikiran keislaman, terutama lewat karya-karya monumentalnya.

Pemikiran Cak Nur yang khas, ikut mewarnai belatika ragam wacana yang melintasi batas-batas pemikiran keislaman pada umumnya. Hal inilah yang menjadi titik “keberanian” yang dimiliki sosok Cak Nur. Dia berani menerima “hujatan” atau tanggapan yang pedas, miring dan sporadis dari lawan-lawan pemikirnya dengan penuh kejernihan jiwa dan kematangan intelektual yang mapan.

Dalam tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa betapa ”besar pengaruhnya” pemikiran Cak Nur dalam belantikan pemikiran Islam abad ke-20 itu. Banyak kolega, kawan, lawan diskusi dan beberapa tokoh ternama, telah menulis tentang biografi beliau secara lengkap, yang tak sedikit yang dipublikasikan melalui buku, jurnal dan majalah, bahkan media massa. Yang perlu digarisbawahi adalah beliau merupakan sosok yang kukuh dalam mengembangkan kajian keislaman; yang mampu merambah Islam kemodernan yang akomodatif, dan penggerak moralitas publik.

Secara metodologis, kecenderungan kuat wacana Cak Nur adalah saikapnya terhadap modernisasi Barat. Pengamatan kualitatif ini menunjukkan bahwa sejak awal inspirasi modernisasi Barat ini begitu nyata dalam wacana pemikiran Cak Nur. Bahkan, dari gebrakan pembaharuan sampai gagasan pluralismenya juga disemangati oleh pencerahan wacana peradaban Barat. Pada Cak Nur, hasrat mempersambungkan Islam dengan tradisi setempat atau "Islam lokal" tampak dominan.

Cak Nur menyadari bahwa ancaman serius bagi setiap pemikiran keagamaan adalah kemandekan, kebuntuan, dan ketiadaan semangat inovasi. Kondisi semacam itu akan menyebabkan agama kehilangan relevansinya dengan zaman dan masyarakat yang terus berubah. Pemikiran keagamaan dalam bentuk tafsir, teologi, dan lebih-lebih hukum (fiqih), bagaimanapun merupakan hasil interaksi dengan semangat zamannya.

Maka, mandeknya pemikiran keagamaan akan berdampak langsung pada irelevansi agama dan akhirnya peminggiran agama dari denyut nadi kehidupan manusia. Itulah sebabnya, di setiap kurun waktu selalu ada orang atau kelompok yang gelisah bahwa agama mereka akan kehilangan elan vital untuk menyesuaikan diri dengan-atau menjawab-tantangan zaman. Mereka berusaha mempelopori perubahan dan melampaui pemikiran status quo. Namun, gerakan semacam itu tidak selalu berjalan mulus karena akan ditantang oleh mereka yang juga "cemas" dengan kemurnian iman mereka apabila perubahan dilakukan di wilayah-wilayah keagamaan.

Sejarah kemunculan gerakan-gerakan keagamaan (Islam) di Tanah Air dengan jelas menunjukkan hasrat kepada perubahan di satu kutub, dan pada saat bersamaan muncul perlawanan dari kutub lain yang mencoba mempertahankan apa yang mereka anggap "kebenaran mutlak" yang tidak bisa diganggu gugat. Cak Nur juga tidak ketinggalan, ketika pada dekade 1970-an, ia dan teman-temannya mendeklarasikan perlunya kelompok pembaru yang liberal, yang menjangkau kawasan lebih luas.

Melalui berbagai ceramah dan tulisannya, Cak Nur mengajak umat Islam untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendalam supaya dapat mengikuti perkembangan zaman. Ia mengajukan argumen bahwa organisasi-organisasi Islam yang selama ini mengklaim sebagai pembaru telah berhenti sebagai pembaru, karena mereka tidak sanggup menangkap semangat dari ide pembaruan itu sendiri, yaitu dinamika dan progresivitas. Lebih jauh, menurut dia, ide-ide dan pemikiran Islam yang diwadahi dan hendak diperjuangkan oleh partai-partai Islam ketika itu sudah memfosil, usang, kehilangan dinamika, sehingga tidak menarik lagi. Karena itu, kemudian ia mengajukan tesis: Islam Yes, Partai Islam No!

Mantan ketua umum PB HMI dua periode itu juga mengkritik ide Negara Islam yang menurutnya hanya merupakan suatu apologi, yaitu apologi terhadap ideologi-ideologi Barat modern seperti demokrasi, sosialisme,dan komunisme. Sebagai apologi, ujarnya, pikiran-pikiran itu hanya mempunyai efektivitas yang berumur pendek.

Dua tesis itulah (Islam Yes Partai Islam No, dan Tidak Ada Negara Islam), yang menyulut kontroversi berkepanjangan. Tetapi, ia juga banyak diakui telah menyegarkan kembali pemahaman Islam yang dianggap telah lama membeku, dan seraya itu memberikan "rasa aman teologis" bagi kaum Muslim tanpa harus bergabung dengan partai Islam atau mendirikan negara Islam.

Kalau akhir-akhir ini lahir kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal) yang kebanyakan dipelopori oleh anakanak muda NU, yang inspirasinya hampir tak jauh beda dengan Cak Nur, sesungguhnya tidaklah begitu membuat sesuatu yang baru dan eksplosif sebagaimana Cak Nur. Cak Nur dengan segala kearifannya masih kental dengan nuansa Islamnya seperti penggunaan istilah masyarakat madani, sementara JIL memakai istilah lain, seperti masyarakat sipil (civil Society). Sehingga keberadaan JIL, tak sebesar dan sedalam ide-ide Cak Nur.

Dari catatan di atas, apa yang telah dibangun dan digagas Cak Nur melalui gerakan pemikiran Islam modern, yang dimulai 1970-an bukanlah untuk menegaskan supremasi dan prestise. Karena sesuai informasi hadits, dalam setiap generasi, atau seratus tahun (seabad) akan muncul seorang pembaharu (mujaddid). Nah, untuk konteks Indonesia, gerakan pembaruan Cak Nur digulirkan pada masa transisi masyarakat dan bangsa dari era Orde Lama ke era Orde Baru, yang menyebabkan munculnya tuntutan-tuntutan baru yang perlu diberikan jawabannya.

*) Mujtahid, Dosen Fak. Tarbiyah UIN Maliki Malang

Jumat, 27 Agustus 2010

Puasa dan Renungan Bathin

Mujtahid

HAMPIR semua agama dan filsafat keagamaan sejak dahulu sampai sekarang mengajarkan puasa untuk tujuan penyucian jiwa. Aliran filsafat Greko- Romawi Kuno, Pythagorean, berpendapat bahwa puasa adalah salah satu jalan untuk meraih kembali sifat dasar kesempurnaan manusia. Puasa bagi pemuka agama Hindu dan Jain merupakan kelaziman khususnya pada saat mempersiapkan diri untuk memasuki upacara dan perayaan keagamaan. Demikian pula halnya dengan tradisi klasik agama-agama di Cina. Chai (ritual, puasa fisik), yang kemudian dimodifikasi oleh aliran China Taoisme menjadi Hsin Chai (puasa jiwa) merupakan anjuran khusus. Konsep serupa juga berlaku dalam tradisi Confusionisme yang mencanangkan praktik puasa sebagai persiapan dalam melakukan penyembahan terhadap ruh nenek moyang.
Agama Budha tidak ketinggalan. Walaupun Sidharta Gautama mengajarkan moderasi dalam pelaksanaan puasa, tidak sedikit dari biarawan dan biarawati penganut Budhisme yang melakukan praktik puasa pada hari-hari biasa (hanya makan sekali sehari), dan berpuasa penuh pada awal dan pertengahan bulan. Masa kini penganut Budha banyak yang berpuasa empat kali sebulan saat-saat mengadakan introspeksi atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.
Puasa merupakan salah satu arena yang sangat tepat untuk melakukan sebuah dialog batin (inner dialog). Dengan proses dialog batiniah, hakikat puasa adalah latihan kejiwaan (riyadlah al-nafsiyah) manusia yang menggiring kepada kesadaran fitrah. Tanpa dialog batin tersebut, mustakhil penyucian diri akan terwujud dengan baik. Sebab, dialog batini adalah dialog, diskusi dan disputasi yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan ritualitas keagamaan, khususnya ibadah puasa.
Sebagai sebuah dialog batin, kesadaran ini termotivasi dari surat al- Syam yang ditegaskan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10). Selepas keluar dari dialog batin (puasa), diharapkan tidak hanya potensi yang dimiliki oleh manusia akan kembali kepada jalan dan tugasya masing-masing, namun juga menambah rasa keimanan, kecintaan manusia kepada Allah dan lebih-lebih memperoleh predikat taqwa. Artinya bahwa diri manusia selalu dekat dengan keagungan-Nya dalam menatap realitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Dialog batin merupakan sarana yang paling monumental sebagai proses penyucian diri (tazkiyah al-nafs) bagi kaum muslim. Karena potensi kejiwaan (nafsiyah) hanya dapat didekati dengan dialog batin. Pendekatan tersebut diasumsikan bahwa unsur ruhani identik dengan senyawa halus yang tidak terlihat secara kasatmata.
Dalam struktur kejiwaan itu, Allah memberikan seperangkat dasar yang cenderung berkembang, hal ini dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran behaviorisme disebut prepotence reflexs (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berubah-ubah). Dengan proses dialog batin berarti belajar melibatkan stimulasi dan respon. Sehingga apa yang disebut “kapasitas dan potensialitas manusia” dapat terwujud secara utuh.
Melalui proses dialog batin yang terjadi pada diri manusia akan terbangun sebuah kesadaran diri sebagai manusia yang mengemban tanggungjawab, kemampuan memilih, kepekaan hati nurani, keluasan pandangan, dan memiliki kekayaan pengalaman transendental.
Penyakit jiwa jika kita telusuri, pangkal tolaknya adalah hati. Karena hati merupakan jantung kehidupan manusia. Hati adalah penggerak perbuatan manusia. Dari hati nurani timbul suara kebenaran dan kebaikan, dan dari lubuk hati pula muncul bisikan-bisikan dan hawa nafsu. Hati dapat dimengerti sebagai tempat terpadu dua kutup yang saling tarik menarik antara kejujuran dan kebohongan, antara kebenaran dan kepalsuan antara keadilan dan kedzaliman.
Mengenai fungsi hati ini, Rasulullah bersabda “sesungguhnya dalam diri (tubuh) setiap manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh gerak-gerik (perbuatan tubuh) akan baik. Jika ia rusak, seluruh perbuatan (manusia) juga rusak. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim). Seiring dengan hadits tersebut, seorang ahli psikoanalisa modern, Eric Fromm, menyatakan bahwa sebagian besar penyakit manusia modern adalah karena penyakit hati, bukan penyakit fisik (lahir). Dengan demikian, untuk mengobati penyakit tersebut yang diperlukan, bukanlah memeriksakan diri ke dokter spisialis, melainkan kepada agama kebenaran, kepada agama yang mampu memberikan nilai-nilai kasih sayang, kepada al- Qur’an yang merupakan syifa’ (obat penawar).
Proses penyucian hati hanya dapat dilakukan dengan dialog batin, berkomunikasi, mengingat (dzikir) kepada Allah. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat al- Ra’ad “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang dan damai (QS. 13:28). Proses dialog batin berarti melatih perasaan jiwa (diri) supaya terdorong hatinya kepada jalan dan ridha Allah. Sebab ridha merupakan salah satu bagian dari akhlak seorang muslim kepada Allah. Tuhan yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
Dialog batin berarti juga mendorong manusia pada sikap tawadhu’ (rendah diri). Tidak merasa dirinya yang paling benar dan semua yang datang selain dia dianggap salah. Sikap mulia ini termotivasi dari kesadaran batin yang bersih. Sehingga Allah mengingatkan kepada manusia dalam surat al Furqan “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah diri (tawadhu’) (QS. 25:63). Sikap tawadhu’ inilah yang mengangkat derajat manusia ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Sebagaimana Rasulullah bersabda; “Tawadhu’, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba keculai ketinggian (derajat). Oleh sebab itu tawadhu’lah kamu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu”. Orang yang tawadhu’ biasanya dibarengi dengan sikap muraqqabah (waspada). Dengan sikap ini berarti dialog batin mengajak hati manusia selalu melakukan muhasabah (introspeksi atau evaluasi diri), merenungkan sejauhmana kualitas amal yang diperbuat, seberapa jauh kepekaan hatinya terhadap realitas sosial, dan seterusnya.
Dari proses dialog batin, manusia diharapkan “kembali” kepada asalnya yakni keadaan fitrah (suci). Sikap kembali, bukan saja memerlukan sebuah loncatan keberanian, tetapi juga kesiapan segala perubahan dalam jiwa (diri) manusia. Dan puasa adalah waktu yang sangat tepat sebagai sarana untuk melakukan perubahan-perubahan (penyucian) diri itu. Puasa dianggap gagal kalau tidak membuahkan sebuah perubahan diri yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya. “Barang siapa yang hari ini sama seperti kemarin maka ia merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia pandai (beruntung), dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin, maka ia terlaknat (HR. Bahaqi). Semoga puasa yang kita jalankan pada bulan ini akan lebih baik dari puasa bulan kemarin.***

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Selasa, 17 Agustus 2010

Puasa: Dari Syari’at Menuju Hakikat

Oleh: Mujtahid
SALAH satu moment penting yang perlu kita renungkan dalam kaitannya dengan puasa adalah proses penyucian diri (tazkiyah al nafs). Bulan puasa tidak hanya dimengerti sebagai bulan suci, melainkan bulan penyucian diri. Puasa di samping sebagai kewajiban personal kepada Allah, juga berfungsi sebagai “kawah candradimuka” bagi umat muslim. Sebab kewajiban tersebut hanya datang satu bulan sekali dalam setahun. Sementara keadaan suci (fitrah) manusia telah ternodai dan berubah atas kuasa dan kelemahanya sendiri.
Hadirnya bulan puasa merupakan formulasi dan aktualisasi tentang fitrah pada diri manusia. Formulasi tersebut sebagaimana Allah firmankan dalam surat al- Rum ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalamciptaan llah, itulah agama yang lurus, tetapi kebayakan manusia tidak mengetahui” begitu juga disabdakan Nabi Muhammad, sebagaimana diriwayatkan Imam Bhukhari “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya yahudi, Nasrani dan Majusi”. Konsep fitrah tersebut dapat dipahami bahwa manusia itu lahir dalam keadaan kesucian, maka dia bersifat hanif. Artinya selalu cenderung kepada yang suci dan baik. Sebab struktur manusia dilengkapi dengan potensi-potensi ruhani. Allah selalu mengingatkan kepada manusia agar mengenal dirinya sendiri, sebagaimana tertera dalam surat al- Dzariyat “Dan di dalam dirimu apakah kamu tidak memperkatikan? (QS. 51: 21) dan dalam surat al Fusilat ditegaskan bahwa “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagai mereka bahwa al- Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwasesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu (QS. 41:53). Dengan mengenal dirinya manusia akan lebih mudah dapat melihat substansinya sendiri.
Sebagai makhluk yang paling unik, manusia merupakan karya Allah yang paling sempurna (complete) (QS. 95:4) dibanding dengan makhluk lainnya. Ia dibekali dengan potensi-potensi ruhani (al- Quwwah al- Ruhiyyah) yang berfungsi untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, ia juga potensi untuk memilih mana yang benar dan yang salah. Potensi tersebut merupakan salah satu kekuatan batin (inner bathin) yang paling berharga bagi manusia. Karena itu, setiap manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya “Dan orang-orang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anakcucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS. 52:21).
Dalam ajaran tasawuf, seruan agar manusia mengenal dirinya sendiri merupakan pilar utama menuju Tuhan, sebab dengan mengenal dirinya sendiri manusia akan mengenal Tuhannya, "Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, dia akan mengenal Tuhannya" demikian salah satu bunyi dalam ajaran tersebut. seiring dengan kalimat itu, al- Qur'an juga menyebutkan bahwa sebaiknya manusia merenungkan kembali dari mana ia diciptakan, "hendaklah memperhatikan dirinya sendiri, dari apa ia diciptakan"(QS. 86:5).
Menurut Ismail Raji al- Faruqi manusia merupakan karya Allah terbesar, dia satu-satunya makhluk yang perbuatannya mampu menciptakan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan dan menjadi sejarah, (QS. 5:56), dan ia makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan dalam kehidupan di dunia. Adapun kehidupan tersebut dalam diri manusia, jiwa (al- nafs) merupakan salah satu ciri khas yang tidak dapat dilihat dari luarnya, sehingga jiwa manusia dinamai jiwa rohani (spiritual soul).
Menurut Murtadha Mutahhari (1989:118-119), manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsur sorgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhhan dan benda-benda yang tak bernyawa, unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam nyata (materiil) dan metafisik (immateriil), antara rasa dan non rasa, antara jiwa dan raga, seperti yang termaktub dalam surat al- Sajdah; “yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (QS. 32:7-9).
Proses kejadian manusia terdiri dari dua substansi. Pertama, substansi jasad atau materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam ciptaan Allah. Dalam pertumbuhannya, ia tunduk pada dan pengikut sunnahtullah (antara ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta) kedua, substansi jiwa yaitu pengembusan roh (cipataan-Nya) ke dalam diri manusia, sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai berbagai alam potensial dan fitrah. Al Farabi menyebutnya ada unsur alam kholiq dan al amr (roh dari Tuhan). Dari kedua substansi tersebut, maka yang paling esensial adalah substansi immateri/jiwa. Manusia memang terdiri dari unsur jasad dan roh, tetapi yang hakikat dari kedua substansi itu adalah roh (jiwa).
Dengan demikian, manusia merupakan rangkain utuh antara substansi jasmani asan substansi rohani, komponen jasmani dari tanah (QS. 32:7) dan komponen rohani ditiupkan Allah (QS. 15:29). Dengan kata lain manusia adalah satu kesatuan dari mekanisme biologis, yang dapat dinyatakan berpusat pada jantung (sebagai pusat kehidupan) dan mekanisme kejiwaan yang berpusat pada otak (sebagai lambang berfikir, merasa, dan besikap).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merahnya, bahwa manusia pada dasarnya dapat ditempatkan dalam tida kategori. Pertama, manusia sebagai makhluk biologis (al- basyr) pada hakikatnya tidak berbeda dengan makhluk-makhluk biotik lain walaupun struktur organnya berbeda (QS.15:28) karena organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lain (QS. 95:4). Kedua, manusia sebagai makhluk psikis (al- Insan ) yang mempunyai potensi rohani seperti fitrah (QS. 30:30) akal (QS. 3:190-191), hati (QS. 22:46). Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi martabatnya (QS.17:70) yang berbeda dengan makhluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina (QS. 7:179) sedangkan insaniahnya (humanisme) terletak pada iman dan amalnya (QS. 54:6). Dan ketiga, manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta. Klasifikasi ketiga ini karena manusia berfungsi tidak hanya sebagai Abdullah (QS. 51:56) tetapi juga sebagai Khalifatullah (QS. 2:30, 10:14). Untuk mewujudkan kemakmuran, kebahagian, dalam kehidupan dinia akhirat (QS. 28:77).

Dialog Batin
Puasa merupakan salah satu arena yang tepat untuk melakukan sebuah dialog batin (inner dialog). Dengan proses dialog batiniah, puasa hakikatnya adalah latihan (riyadlah) kejiwaan manusia yang menggiring kepada kesadaran fitrah. Tanpa dialog batin tersebut, mustakhil penyucian diri akan terlaksana dengan baik. Sebab, dialog batini adalah dialog, diskusi dan disputasi yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan ritualitas keagamaan, khususnya puasa.
Perintah ini termotivasi dari surat al- Syam yang ditegaskan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yangmensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10). Setelah dari dialog batin (puasa) diharapkan tidak hanya seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia akan kembali kepada jalan dan tugasya masing-masing, namun juga menambah rasa keimanan manusia kepada Allah dan lebih-lebih mendapat predikat taqwa. Artinya diri manusia selalu dekat dengan keagungan Allah dalam realitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Dialog batin merupakan sarana yang paling tepat untuk penyucian diri (tazkiyah al- nafs) bagi kaum muslim. Karena potensi kejiwaan (nafsiyah) hanya dapat didekati dengan dialog batin. Pendekatan tersebut diasumsikanbahwa unsur ruhani identik dengan senyawa yang halus dan tidak terlihat secara kasatmata.
Dalam struktur kejiwaan itu, Allah memberikan seperangkat dasar yang cenderung berkembang, dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran psikologi behaviorisme disebut prepotence reflexs (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berubah-ubah). Dengan proses dialog batin berarti belajar melibatkan stimulasi dan respon. Sehingga apa yang disebut “kapasitas dan potensialitas manusia” dapat terwujud secara utuh.
Proses dialog batin yang terjadi pada diri manusia akan terbangun sebuah kesadaran diri sebagai manusia dalam mengembang tanggungjawab, kemampuan memilih, kepekaan hati nurani, keluasan pandangan, dan memiliki kekayaan pengalaman transendental.
Dalam batas-batas tertentu, dialog batin merupakan kerangka empirik yang mampu menelusuri tanda-tanda penyakit kejiwaan manusia. Penyakit kejiwaan hanya bisa disembuhkan dengan terapai-terapi, termasuk agama. Terapi itu misalnya shalat, puasa zakat dan rital keagamaan lainnya. Terapi kejiwaan hanya bisa dikembalikan kepada al- Qur’an sebagai sumber kebenaran, sebagai al- syifa li al- shudur al- nas.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Rabu, 11 Agustus 2010

Puasa dan Keseimbangan Diri

Oleh: Mujtahid*

TANPA diragukan lagi bahwa puasa merupakan ladang paling subur untuk mempertebal keimanan, ketaqwaan serta wahana penciptaan nilai moral serta tanggung jawab setiap kaum muslim. Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa puasa sesungguhnya mendidik orang supaya mawas diri, dan menghadirkan kemahabesaran dan keagungan Tuhan di tengah badai keseimbangan diri manusia yang sedang diuji.
Dalam kaitannya dengan aspek sosial misalnya, puasa merupakan jalan untuk meningkatkan sistem solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang selama ini dinilai renggang. Solidaritas ini bisa terwujud di bulan ramadhan karena mereka menyadari bahwa hakikat puasa bukan semata-mata menjalankan dimensi ritual ubudiyah semata, melainkan juga dimensi tasawuf/etis. Seperti kita lihat bahwa dengan puasa orang mudah mengelurkan rezkinya, ringan menjalankan shalat berjama’ah, bertadarrus, dan seterusnya. Keseimbangan diri inilah yang perlu dipupuk selama bulan ramadhan ini agar terbentuk jiwa raga yang kamil.
Secara kualitas, setiap amalan yang dikerjakan dibulan ramadhan banyak mengandung makna ibadah, dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga dalam bulan ramadhan dilukiskan bahwa puasa merupakan ibadah miliki Allah. Artinya, amalan-amalan yang dilakukan di bulan ini memiliki nilai yang tambah dihadapan-Nya, begitu juga kalau melakukan amalan-amalan yang berdimensi sosial.
Puasa sebagaimana yang diperintahkan Allah selain memiliki hubungan vertikal juga melambangkan hubungan horizontal. Perintah menjalankan puasa sejatinya menyeimbangkan antara dimensi teologis dan sosiologis. Karena itu, Allah membuka peluang bagi kaun aghniya’ (orang kaya) untuk memperbanyak ibadah baik secara bathiniyah maupun secara material. Janji Allah terhadap mereka yang mampu melaksanakan keseimbangan ibadah ini pasti pahalanya akan dilipatgandakan.
Untuk meraih janji-janji Tuhan itu, kemudian lahirlah keinginan dan semangat berlomba-lomba dalam melakukan amalan, baik amalan sunnah maupun wajib. Perlombaan inilah kemudian membentuk manusia memiliki kepedulian terhadap diri sendiri dan kepedulian bagi sesama. Kepedulian ini lahir bukan karena terpaksa, dipaksa namun lahir karena panggilan hati nurani. Jiwa atau hati yang bersih akan lahir sebuah perbuatan yang bersih dan begitu sebaliknya jiwa yang kotor akan menjerumuskan diri sendiri dan bukan tidak mungkin pada orang lain.

Pembentukan Moral
Moral merupakan nilai-nilai yang biasa dijadikan patokan, dasar dalam melakukan tindakan. Sehingga dalam prakteknya seorang tentu tidak terlepas dari apa yang disebut moral. Moral sangat kerap kali disebut dalam setiap perbuatan manusia. Pertanyaannya adalah apakah tindakan itu berdasarkan moral atau tidak? Pertanyaan inilah yang sering muncul dalam benak hati manusia. Dan bisikan-bisikan pasti itu pasti lahir di dalam jiwa manusia.
Moral dan puasa memiliki kaitan yang sangat erat serta tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lain. Karena puasa adalah sarana untuk membentuk moral kemanusiaan universal. Maka pendidikan moral secara tidak langsung dapat terwujud dengan baik di bulan puasa ini. Penyimpangan moral yang sering terjadi di luar bulan ramadhan merupakan manifestasi dari tipisnya kesadaran memiliki Tuhan, diri sendiri dan kemanusiaan. Rapuhnya moral karena tidak meletakkan dirinya sebagai pelaku sosial.
Tepatlah apa yang terkandung dalam sebuah hadits bahwa “dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka perbuatannya akan baik dan jika ia rusak maka perbuatannya akan rusak, ketauhilah bahwa itu adalah hati. Moral kaitannya dengan hati adalah sebuah pilihan-pilihan atau pertimbangan. Artinya hati merupakan timbangan yang akan menentukan pilihan antara kebenaran dan kebatilan. Jadi, keberadaan hati akan sangat berpengaruh terhadap pilihan.
Moral sesungguhnya pilihan-pilihan yang berdasar pada pertimbangan-pertimbangan. Dan pertimbangan itu tidak terlepas dari pertimbangan hati, akal serta pertimbangan rasa kemanusian. Jika pertimbangan ini tidak dilakukan, maka tidak mustahil pilihan dan tindakan yang akan dilakukan berdampak buruk. Dalam menjatuhkan pilihan, diri manusia selalu kembali pada kekuatan hati dan akal sebagai alat atau potensi yang bisa memberikan pilihan.
Puasa yang dilakukan berdasarkan imanan wa ihtisaban (atas kesadaran keimanan dan perhitungan) akan melahirkan nilai moral yang sesungguhnya. Dapat dipastikan bahwa puasa mendidik manusia untuk mewujudkan moral kemanusian itu. Sehingga yang tampak adalah sebuah tindakan yang mencerminkan nilai ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan.
Bobot puasa sesungguhnya terletak pada dua nilai tersebut di atas. Kesadasar vertikal harus imbangi dengan kesadaran horizontal. Karena kesadaran vertikal saja tidaklah cukup bagi kesalehan pribadi, sedangkan kesadaran horizontal terabaikan. Jadi puasa meletakkan nilai-nilai yang menjunjung kesadaran kolektif. Dan keharmonisan nilai ini sangat mudah terwujud dengan puasa.

Penguatan Tanggungjawab
Konsep tanggung jawab dalam al-qur’an biasa disebut dengan amanah. Yang artinya dapat dipercaya, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Lebih tepat lagi jika konsep amanah ini kemudian diterjemahkan dalam dimensi kehidupan, baik secara personal maupun kolektif (sosial). Karena dalam kehidupan manusia, tanggung jawab merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sehingga manusia tidak bisa menghindar dari tanggung jawab. Sebab, Allah menjadikan manusia di muka bumi ini disamping sebagai Abdullah, juga sebagai khalifahtullah (wakil atau duta) yang penuh dengan tanggung jawab sosial.
Pelajaran penting yang terkandung dalam puasa adalah membentuk tanggung jawab manusia. Karena puasa merupakan ibadah khusus yang salah satunya untuk melatih bertanggung jawab pribadi. Karena itu, hubungan pribadi dengan Tuhannya akan menciptakan kesucian jiwa (batin). Sedangkan tanggung jawab pribadi terhadap sosial bisa membentuk sistem tatanan sosial yang baik. Apabila kedua-duanya bisa dilakukan maka tatanan kehidupan dari yang kecil sampai yang besar akan tercipta sebuah sistem yang harmonis dan anggun.
Mestinya, puasa kaitannya dengan kehidupan sosial, politik, dan lainnya dapat dapat dimengerti sebagai suumbangan tata nilai kehidupan, baik secara individu maupun sosial. Karena dengan meletakkkan dasar tanggung jawab personal, tentu segala ucapan dan tindakan selalu akan dimintai laporan. Karena itu, orang yang tidak bertanggung jawab berarti tidak mengakui kesadaran bertuhan dan berkemanusiaan. Artinya tanggung jawab merupakan salah satu bagian yang memperteguh keimanan dan bukti kepercayaan terhadap beban yang dipikulnya.
Salah satu sarana yang paling tepat untuk melatih tanggung jawab adalah berpuasa. Puasa dan tanggungjawab merupakan entitas yang dapat membentuk kepribadian yang utuh. Kesempurnaan manusia bukan diukur dari kelebihan-kelebihan fisik melainkan banyak diukur dari kelebihan-kelebihan non fisik. Kesadaran ruhiyyah merupakan sentral aktivitas manusia yang mempengaruhi cara pandangnya.
Dari uraian di atas, puasa selain sebagai perintah Tuhan, juga membina terhadap pembentukan moral dan tanggung jawab. Dengan puasa berarti menuntut adanya penciptaan moral dan tanggung jawab bagi setiap orang supaya terbentuk integritas dalam dirinya nilai-nilai spiritual dan sosial yang sepadan. Karena itu, puasa selain menekankan hubungan vertikal juga menekankan hubungan horizontal.
*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang

Jumat, 30 Juli 2010

Strategi Komunikasi Terpadu dalam Pencitraan Usaha

Mujtahid*

KRISIS ekonomi (krismon) 1997 yang mendera bangsa Indonesia, selain menimbulkan kesulitan bagi kebanyakan orang, juga menimbulkan peluang berupa tumbuhnya segmen baru bagi pemasar yang mampu mencermatinya. Krisis melahirkan perubahan pola konsumsi, gaya hidup, penghasilan, dan tingkat kesejahteraan yang makin menurun. Perubahan pasar dan konsumen inilah yang disiasati oleh pemasar yang cerdik dengan melihat aspek psikografis masyarakat Indonesia.
Akibat perubahan pola komunikasi pemasaran di atas, maka diperlukan strategi yang sesuai dengan gaya dan pola psikografis masyarakat. Kalau dicermati secara mendalam. paling tidak ada lima perubahan penting yang membuat komunikasi pemasaran seakan-akan “jungkir balik” dari segi konsep, gaya komunikasi, bentuk interaksi, pendekatan dan isi pesan, yaitu pergesaran dari selling telling, gaya iklan yang semula menolong menjadi komunikasi dialogis dan interaktif, pergeseran interaksi dari konsumen pasif ke konsumen aktif terlibat dan hubungan yang lebih intim, pendekatan pemasaran massal berubah menjadi pemasaran individual, dan isi pesan berubah dari pesan tunggal ke pesan seragam (customize message)
Hifni Alifahmi, dalam buku “Sinergi Komunikasi Pemasaran” (2005) menjelaskan bahwa strategi dan teknik komunikasi pemasaran yang bisa dipilih untuk mendatangkan hasil tak terbatas dengan biaya terbatas, yaitu pertama, memilih senjata komunikasi pemasaran. Ragam “senjata” komunikasi pemasaran yang bisa digunakan demikian bervariasi, namun dapat dimulai dari identitas, citra, dan reputasi yang kokoh dan selain itu juga bisa dipilih iklan, promosi penjualan, humas pemasaran, pemasaran langsung, hingga pemasaran getok-tular. Pemilihan teknik komunikasi pemasaran, ibarat memilih jenis senjata yang tepat untuk membidik sasaran, dan untuk memilih teknik yang efektif, maka perlu merujuk pada sasaran yang ditetapkan. Setiap teknik atau jenis senjata komunikasi pemasaran tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait antara satu dengan yang lain.
Kedua, mencermati iklan korporat. Sering iklan dikeluarkan oleh perusahaan untuk menanamkan suatu ide atau kesan tertentu, sehingga iklan seperti itu disebut iklan korporat. Ketiga, keluwesan iklan multiguna. Iklan multiguna dirancang bukan hanya untuk mencapai suatu tujuan, melainkan banyak tujuan atau sasaran sekaligus. Misalnya memperkenalkan produk, menginformasikan tawaran, potongan harga, mempengaruhi perilaku pembelian, membangun citra, dan masih banyak lagi.
Keempat, iklan peduli ala Indonesia. Selama krismon, iklan berisi pesan moral semacam ini memang makin ramai, seakan berlomba menghiasi halaman media cetak, serta gencar ditayangkan televisi dan bahkan tak ketinggalan terdengar di radio. Ada kecenderungan menarik jika kita mengamatisituasi krisis yang berlarut-larut dikaitkan dengan periklannan. Nada iklan semakin manusiawi dan menyentuh hati nurani.
Kelima, menggencarkan promosi silang. Ada tiga langkah yang perlu dicermati agar promosi silang efektif. Pertama, perhatikan karakteristik produk dan keterkaitannya dengan produk lain, dan akan mudah dilakukan bila masing-masing produk saling melengkapi, misalnya: komputer dengan disket. Kedua, amati profil konsumen, kebiasaan membeli dan memakai produk, serta gaya hidup mereka terkait dengan produk. Ketiga, seleksi mitra promosi silang, dengan memahami karakteristik produk dan profil konsumen maka kita lebih mudah untuk menemukan mitra promosi silang yang tepat.
Keenam, menggelar promosi simpatik. Apabila sebuah perusahaan pernah berpromosi dengan sikap peduli yang mengundang simpati, setidaknya citra nya di masyarakat menjadi lebih baik. Cercaan yang biasanya muncul bisa di redam.
Ketujuh, menggaet pemburu diskon. Dengan diskon yang etis, para pemasar tidak hanya bisa menggaet para pemburu diskon, tetapi sekaligus mampu menjaga citra positif untuk jangka panjang.
Kedelapan, sukses pemasaran dengan sentuhan PR (public relation). Ada empat kriteria agar suatu program disebut MPR (marketing public relation), yaitu memiliki nilai berita tinggi sehingga muncul lewat publikasi media cetak, elektronik, atau interaktif; mengundang rasa simpati publij sehingga banyak khalayak berdecak kagum aatu mendukung; melibatkan khalayak massal yang terkait dengan program kehumasan untuk pemasaran suatu produk atau jasa; dan menjadi sarana penyampaian pesan kehumasan dan kampanye pemasaarn.
Kesemblian, terobosan humas pemasaran menembus krisis. Terobosan baru dalam bidang pemasaran secara konseptual disebut humas pemasaran atau Marketing Public Relation (MPR). Ada beragam wujud program MPR di Indonesia khususnya di masa krisis, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kategori, antara lain: Iklan bernilai berita atau iklan peduli, Promosi Simpatik, kehumasan untuk pemulihan citra, dan Pemasaran dengan sikap peduli.
Kesepuluh, publitising: Iklan dengan nilai berita. Publitising berasal dari kata publicity (publisitas) dan advertising (iklan). Jadi Publisiting merupakan gabungan antara dimensi periklanan dengan jurnalistik. Kesebelas, sensasi keterpaduan AFI dan Indonesian Idol. Program AFI dan Indonesian Idol menjadi ajang promosi yang menjadi tambahan pemirsa dan pengiklan, juga menjadi sarana Public Relation(PR) yang simpatik dan edukatif.
Keduabelas, keampuhan pemasaran Getok-Tular. Ada satu prinsip penting yang perlu diterapkan dalam pemasaran getok-tular, yaitu berusahalah melampaui harapan konsumen, jangan hanya sebatas membuat mereka puas.
Dari beberapa tawaran tersebut di atas, maka selusin strategi yang bisa diciptakan yaitu sinergii pesan tematik, egmentasi media, gaya komunikasi dialogis, kombinasi reputasi korporat dan citra produk, iklan multiguna, promosi penjualan simpatik, pemasaran berbasis data, humas pemasaran, pemasaran getok-tular, promosi di titik penjualan, ajang khusus pemasaran, dan komunikasi akrab pelanggan.

*) Mujtahid, HUMAS UIN MALIKI MALANG

Kamis, 29 Juli 2010

Cara Mempromosikan Usaha Yang Sukses

Mujtahid*

DALAM dunia kerja, pemasaran dan komunikasi merupakan dua bidang yang sering beriringan dan terkadang sulit dibedakan dalam segi keilmuan maupun penerapannya. Komunikasi pemasaran yang berkembang pesat selama satu dasawarsa terakhir ini memancarkan kecerahan bagi para pelaku komunikasi dan pemasaran dunia bisnis, organisasi nirlaba maupun dikalangan akademisi. Hal ini tercermin dalam pembaharuan konsep dan penerapannya, serta luasnya profesi di bidang ini.
Ada tiga sisi menarik dari perkembangan terbaru komunikasi pemasaran, pertama, strategi yang ditawarkan begitu segar, menyodorkan terobosan baru yang mengombinasikan iklan, promosi, kehumasan sebagai alternatif ketimbang paradigma lama yang lebih mengedepankan iklan dan promosi sebagai bintang. Kedua, pendekatannya bersifat holistik (menyeluruh). Tidak melihat persoalan secara terpisah-pisah, tetapi merangkai pihak terkait (stakeholders) baik di internal organisasi maupun semua pihak luar yang berkepentingan. Ketiga, keluwesan dalam memadukan berbagai disiplin ilmu dan jenjang personil yang menjalankan fungsi yang berbeda-beda untuk menghasilkan sinergi.
Pelopor komunikasi pemasaran, Don E. Schultz, mengatakan model perencanaan komunikasi pemasaran terpadu melalui tujuh tahap rencana komunikasi pemasaran, yaitu klasifikasi dan segmentasi pelanggan dari bank data, menemukan titik kontak konsumen, menetapkan sasaran dan strategi komunikasi, menemukan dan memetakan jejaring merek, menemukan sasaran pemasaran, meramu berbagai teknik komunikasi pemasaran yang paling sesuai, dan memilih taktik komunikasi pemasaran.
Dengan ketujuh perencanaan komunikasi tersebut dimaksudkan sebagai sebuah keutuhan terpadu (integrasi) dalam pemasaran. Pemasaran terpadu (integrated marketing) merupakan proses antar fungsi dalam mengelola hubungan merek (brand relationships) yang menguntungkan dengan mengarahkan integrasi antara sumber daya manusia dan pengalaman perusahaan untuk memelihara konsistensi strategis dalam komunikasi merek, disertai dialog yang memberikan manfaat timbal balik dengan pelanggan dan semua pihak terkait, serta memasarkan misi korporat yang memperkuat kepercayaan terhadap merek. Namun konsep asli pemasaran sebenarnya adalah integrasi.
Semua upaya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan selera pelanggan. Dalam pemasaran terpadu, kita harus kembali pada akar pemasaran, hanya saja situasi lingkungan yang dihadapi telah berubah sedemikian rumit, dengan kata lain pemasaran terpadu tidak lain adalah mengelola kerumitan (complexity). Maka untuk menghadapi kerumitan lingkungan tersebut perusahaan perlu memadukan enam bidang, yaitu: 1). Keahlian dan keterampilan karyawan di berbagai lapisan atau bagian dari generalis hingga spesialis, 2). Pelanggan dan semua pihak terkait (stakeholders) didekati dengan pesan komunikasi yang seragam, 3). Tiap interaksi, transaksi, dan perilaku pelanggan dihimpun dalam bank data yang bisa dipakai semua karyawanguna meningkatkan pelayanan pelanggan dan nilai merek, 4). Menjaga konsistensi positioning merek yang memperkuat identitas dan reputasi perusahaan, 5). Memiliki satu ide dasar kreatif (big kreatif idea) yang dijabarkan dalam semua pesan komunikasi pemasaran, 6). Menjabarkan misi korporat dalam pemasaran.
Pemasaran terpadu menawarkan banyak manfaat seperti menciptakan keunggulan kompetitif pada produk agar tidak menjadi komoditas, menguatkan loyalitas merek, mengurangi pemberitaan negatifdi media massa, menghubungkan khalayak diseluruh dunia melalui saluran komunikasi dan bank data on-line, memperkecil penolakan konsumen atas pesan komersial; mengangkat merek lokal menjadi merek global, memperkuat kepercayaan publik terhadap perusahaan. Dalam suasana persaingan yang semakin sengit, banyak pemasar memilih untuk saling bersanding ketimbang harus bertanding atau bersaing. Alasannya sederhana, mengapa harus terus bersiteru kalau bisa bekerja sama dan mengapa harus menyingkirkan pesaing kalau bisa berjalan beriringan? Dan juga ada pameo, “if you can’t beat them, join them!” Jika anda tidak mampu memukul mereka, bergabung sajalah!
Cara seperti itu, mencerminkan paradigma baru pemasaran dalam melihat pesaing sebagai kawan, bukan lawan yang harus dihabisi, melainkan dibiarkan hidup agar mendorong persaingan yang sehat. Pada era 1990-an muncul konsep kemitraan strategis (strategic partnerships) dan pemasaran persahabatan (relationship marketing) yang diperkenalkan oleh Regis Mc Kenna atau kemitraan pemasaran (marketing partnering) yang meliputi kemitraan promosi, dan yang lebih canggih lagi berupa kemitraan bank data yang diungkapkan Stan Rapp & Tom Collins.
Secara garis besar kemitraan dapat dibagi menjadi dua, yaitu aspek strategis yang menyeluruh (yang berupa kemitraan atau aliansi strategis), serta aspek operasional atau fungsional yang parsial, seperti kemitraan teknologi, produksi, logistik, operasi, dan pemasaran. Dari beragam kemitraan fungsional, kemitraan pemasaran cukup menarik perhatian karena dampaknya terasa hingga konsumen dan masyarakat, dan lebih jelasnya ada enam pola kemitraan pemasaran, yaitu: kemitraan iklan (cooperative ad), kemitraan promosi (promotion Partnering), kemitraan bank data (database Partnering), kemitraan jaringan distribusi (network partnering), kemitraan pelanggan (customer Partnering), kemitraan merek (co-branding).
Pemasaran citra (image marketing) bukan sekedar tampil manis dalam iklan atau menyatakan diri sebagai terbesar atau terbaik. Lebih dari itu, pemasaran citra mengupayakan agar nama dan reputasi (perusahaan atau produk) serta persepsi publik makin positif, sehingga memperluas pengenalan perusahaan atau produk yang ujung-ujungnya mendongkrak perolehan pangsa pasar. Citra mencerminkan apa yang dipikirkan, emosi dan persepsi individu. Dan untuk bisa memasarkan citra, maka terlebih dulu memiliki citra yang ingin dimunculkan, lalu mengidentifikasi pasar sasaran yang dituju, merumuskan positioning yang tepat untuk mencerminkan citra itu, serta merancang pesan dan media kampanye.
Agar kampanye pemasaran efektif, ada sepuluh langkah yang harus ditempuh, yaitu menemukan alasan konsumen membeli, membandingkan realitas produk versus persepsi konsumen, mengenali situasi persaingan, mengetahui manfaat utama produk bagi konsumen dibanding pesaing, merancang program komunikasi pemasaran, menciptakan kepribadian merek, menetapkan sasaran dan tindakan komunikasi, menciptakan efek perseptual, menemukan titik kontak konsumen, merencanakan riset untuk masa yang akan datang.
Salah satu kesuksesan program komunikasi pemasaran modern yaitu ditandai dengan adanya sinergi atau integrasi antara iklan, public relations, dan promosi yang memberi kesan unik, kreatif, menggemparkan atau membuat heboh kepada pelanggan (customer).

*) Mujtahid, Humas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Rabu, 21 Juli 2010

Reimprovisasi Tujuan Pendidikan

Mujtahid*

PENDIDIKAN adalah kekuatan masa depan (future power). Tanpa pendidikan, dunia akan mengalami dekadensi ilmu pengetahuan dan akan menjadikan peradaban manusia suram. Pendidikan dipandang sebagai alat perubahan yang sangat ampuh untuk menyesuaikan cara berpikir dalam menghadapi tantangan dunia yang makin kompleks, cepat berubah, serta sulit diramalkan.
Edgar Morin (2006) melakukan beberapa kritik terhadap kontens (isi) pendidikan selama ini. Pendidikan kurang menyentuh hal-hal atau problem-problem mendasar yang itu sangat penting untuk dielaborasi kembali melalui kegiatan pendidikan. Untuk mengatasi problem tersebut, direktur Emeritus ini menghadirkan sebuah konsep yang beliau sebut dengan sebutan “Tujuh Pelajaran Komplek”, sebagai sebuah alat untuk mencermati ulang konsep dan praktik pendidikan selama ini.
Secara ideal, tujuan pendidikan (education goal) dimaksudkan sebagai penerusan atau alih pengetahuan (knowledge) dari generasi tua ke genarasi muda, ketrampilan (skill) dan sikap atau prilaku (attitude). Sasaran inilah sebagai sebuah tugas suci pendidikan untuk membangun generasi masa depan yang handal dan cemerlang. Selain ketiga hal itu, ada hal lain sangat penting yaitu nilai-nilai karakter, sikap, dan jiwa kreatif yang dapt tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.
Namun pada kenyataannya, pendidikan justru gagal menangkap realitas tersebut secara holistik dan integralistik. Selama ini, pendidikan baru mampu menghasilkan sosok manusia super dalam pengetahuannya, tapi gagal dalam membentuk watak dan karakter sifat dasar kemanusiannya itu. Padahal, manusia adalah makhluk yang unik, kompleks potensi fisik dan psikisnya yang itu merupakan anugerah yang harus digali dan ditumbuh-kembangkan secara maksimal.
Selain itu, pendidikan seharusnya memperlihatkan bahwa dalam derajat tertentu, belajar rentan akan kekeliruan dan ilusi. Teori informasi menunjukkan bahwa resiko kekeliruan akibat gangguan mesti ada dalam seluruh penyaluran informasi, serta semua penyampaian pesan-pesan komunikasi.
Itulah sebabnya, pendidikan masa depan dihadapkan pada masalah universal, bahwa proses belajar kita masih terkotak-kotak, sekelumit dan terpisah-pisah. Pola pembelajaran demikian ini tentu tidak memadai untuk menangkap realitas dan permasalahan yang makin global, trans-nasional, multi-dimensional, transversal, serta polidisiplin.
Menghadapi tuntutan yang sangat kompleks tersebut, pendidikan masa depan harus menjadi pendidikan utuh (universal), yang mengajarkan tentang kondisi manusiawi serta melakukan upaya untuk menyatukan kembali pengetahuan yang berserakan mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, dan mengintegrasikan ke dalam ilmu pengetahuan ilmiah, filsafat, sejarah, sastra, agama dan lain sebagainya.
Pendidikan harus menunjukkan dan menggambarkan berbagai wajah takdir manusia (takdir spesies manusia, individu, sosial, sejarah). Semua takdir tersebut bercampur tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Salah satu panggilan utama pendidikan masa depan adalah menggali dan mempelajari kompleksitas manusia yang akan mengantarkan cita-cita hidup dan kehidupannya.
Kesulitan yang dihadapi dalam mengelola dunia pendidikan seringkali diperburuk oleh cara berpikir kita yang cenderung membekukan kemampuan untuk mengkontektualisasi, mengglobalisasi, multidimensionalitas serta kompleksitas multikultural. Sikap kebekuan (jumud) ini jangan sampai menyelimuti pendidikan kita dan saatnya perlu mengubah cara berpikir untuk memahami makna konteks tersebut.
Berbicara soal pendidikan adalah berbicara mengenai interaksi belajar antar pendidik dan peserta didik. Belajar merupakan suatu petualangan untuk mengungkap segala bentuk ketidakpastian menjadi pasti dan nyata. Cara penyampaian materi yang bersifat dogmatis, doktriner, dan tidak toleran harus diakhiri dan diganti dengan cara-cara yang elegan yang mampu membangkitkan kreativitas dan performance anak didik yang bermutu.
Untuk mengatasi stagnasi itu, perlu sebuah upaya pembaruan model pendidikan yang sesuai dengan keadaan dan tingkat kebutuhan zaman sekarang ini. Yakni pendidikan masa depan yang diharapkan mampu membentuk kesadaran baru bagi munculnya generasi yang berkualitas, berkarakter dan berjiwa besar. Dalam prosesnya, pendidikan sebagai aksi nyata berkewajiban untuk menanamkan pengalaman empiris ke dalam jiwa generasi mendatang. Pendidikan harusnya mengajarkan materi yang relevan dengan kenyataan hidup di masyarakat dan bukan bententangan dengan kondisi empiris di lapangan.
Aksi berisiko pada kegagalan serta bisa mengakibatkan penyimpangan atau kebalikan dari tujuan awal. Maka cara efektif untuk untuk menghadapi ketidakpastian aksi adalah kesadaran penuh tentang taruhan yang terlibat dalam keputusan, dan bantuan strategi.
Dari kaca mata pedagogis, pembelajaran adalah proses manusiawi yang menghargai kreatifitas dan kebebasan yang dimiliki setiap subyek didik. Mereka dapat tumbuh dan berkembang selalu dipengaruhi oleh materi dan dipadukan dengan pengalaman, baik perubahan fisik, intelektual maupun moral yang berlangsung secara kontinuitas.
Dengan memilih materi yang sesuai dan dipadu dengan pengalaman yang cukup usaha pendidikan itu akan menemukan cahaya yang cerah. Membangun pendidikan yang handal harus menitiktekankan pada aspek keterbukaan, keluasan pemikiran dan kualitas metodologis, di samping tetap menghargai nilai-nilai luhur bangsa yang relevan harus perlu dipertahankan sebagai warisan sejarah
Itulah ulasan bagaimana cara menarik “benang merah” antara cita-cita dan tujuan pendidikan. Yaitu dengan cara mengelaborasi dan memperbaiki materi pendidikan yang dipadu dengan pengalaman (experience) yang compatible dan relevan akan sangat membantu mencapai tujuan dan cita-cita atau visi-misi pendidikan. Karena, tujuan pendidikan pada hakikatnya yaitu tujuan masyarakat atau bangsa. Sebuah tujuan yang didasarkan pada pengalaman aktual individu dalam bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian, potensialitas pendidikan akan ditentukan oleh seberapa berbobot materi dan seberapa luas pengalaman yang diusung dalam interaksi edukatif yang dapat diserap oleh peserta didik.

*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang