Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Agustus 2010

Puasa dan Renungan Bathin

Mujtahid

HAMPIR semua agama dan filsafat keagamaan sejak dahulu sampai sekarang mengajarkan puasa untuk tujuan penyucian jiwa. Aliran filsafat Greko- Romawi Kuno, Pythagorean, berpendapat bahwa puasa adalah salah satu jalan untuk meraih kembali sifat dasar kesempurnaan manusia. Puasa bagi pemuka agama Hindu dan Jain merupakan kelaziman khususnya pada saat mempersiapkan diri untuk memasuki upacara dan perayaan keagamaan. Demikian pula halnya dengan tradisi klasik agama-agama di Cina. Chai (ritual, puasa fisik), yang kemudian dimodifikasi oleh aliran China Taoisme menjadi Hsin Chai (puasa jiwa) merupakan anjuran khusus. Konsep serupa juga berlaku dalam tradisi Confusionisme yang mencanangkan praktik puasa sebagai persiapan dalam melakukan penyembahan terhadap ruh nenek moyang.
Agama Budha tidak ketinggalan. Walaupun Sidharta Gautama mengajarkan moderasi dalam pelaksanaan puasa, tidak sedikit dari biarawan dan biarawati penganut Budhisme yang melakukan praktik puasa pada hari-hari biasa (hanya makan sekali sehari), dan berpuasa penuh pada awal dan pertengahan bulan. Masa kini penganut Budha banyak yang berpuasa empat kali sebulan saat-saat mengadakan introspeksi atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.
Puasa merupakan salah satu arena yang sangat tepat untuk melakukan sebuah dialog batin (inner dialog). Dengan proses dialog batiniah, hakikat puasa adalah latihan kejiwaan (riyadlah al-nafsiyah) manusia yang menggiring kepada kesadaran fitrah. Tanpa dialog batin tersebut, mustakhil penyucian diri akan terwujud dengan baik. Sebab, dialog batini adalah dialog, diskusi dan disputasi yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan ritualitas keagamaan, khususnya ibadah puasa.
Sebagai sebuah dialog batin, kesadaran ini termotivasi dari surat al- Syam yang ditegaskan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10). Selepas keluar dari dialog batin (puasa), diharapkan tidak hanya potensi yang dimiliki oleh manusia akan kembali kepada jalan dan tugasya masing-masing, namun juga menambah rasa keimanan, kecintaan manusia kepada Allah dan lebih-lebih memperoleh predikat taqwa. Artinya bahwa diri manusia selalu dekat dengan keagungan-Nya dalam menatap realitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Dialog batin merupakan sarana yang paling monumental sebagai proses penyucian diri (tazkiyah al-nafs) bagi kaum muslim. Karena potensi kejiwaan (nafsiyah) hanya dapat didekati dengan dialog batin. Pendekatan tersebut diasumsikan bahwa unsur ruhani identik dengan senyawa halus yang tidak terlihat secara kasatmata.
Dalam struktur kejiwaan itu, Allah memberikan seperangkat dasar yang cenderung berkembang, hal ini dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran behaviorisme disebut prepotence reflexs (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berubah-ubah). Dengan proses dialog batin berarti belajar melibatkan stimulasi dan respon. Sehingga apa yang disebut “kapasitas dan potensialitas manusia” dapat terwujud secara utuh.
Melalui proses dialog batin yang terjadi pada diri manusia akan terbangun sebuah kesadaran diri sebagai manusia yang mengemban tanggungjawab, kemampuan memilih, kepekaan hati nurani, keluasan pandangan, dan memiliki kekayaan pengalaman transendental.
Penyakit jiwa jika kita telusuri, pangkal tolaknya adalah hati. Karena hati merupakan jantung kehidupan manusia. Hati adalah penggerak perbuatan manusia. Dari hati nurani timbul suara kebenaran dan kebaikan, dan dari lubuk hati pula muncul bisikan-bisikan dan hawa nafsu. Hati dapat dimengerti sebagai tempat terpadu dua kutup yang saling tarik menarik antara kejujuran dan kebohongan, antara kebenaran dan kepalsuan antara keadilan dan kedzaliman.
Mengenai fungsi hati ini, Rasulullah bersabda “sesungguhnya dalam diri (tubuh) setiap manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh gerak-gerik (perbuatan tubuh) akan baik. Jika ia rusak, seluruh perbuatan (manusia) juga rusak. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim). Seiring dengan hadits tersebut, seorang ahli psikoanalisa modern, Eric Fromm, menyatakan bahwa sebagian besar penyakit manusia modern adalah karena penyakit hati, bukan penyakit fisik (lahir). Dengan demikian, untuk mengobati penyakit tersebut yang diperlukan, bukanlah memeriksakan diri ke dokter spisialis, melainkan kepada agama kebenaran, kepada agama yang mampu memberikan nilai-nilai kasih sayang, kepada al- Qur’an yang merupakan syifa’ (obat penawar).
Proses penyucian hati hanya dapat dilakukan dengan dialog batin, berkomunikasi, mengingat (dzikir) kepada Allah. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat al- Ra’ad “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang dan damai (QS. 13:28). Proses dialog batin berarti melatih perasaan jiwa (diri) supaya terdorong hatinya kepada jalan dan ridha Allah. Sebab ridha merupakan salah satu bagian dari akhlak seorang muslim kepada Allah. Tuhan yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.
Dialog batin berarti juga mendorong manusia pada sikap tawadhu’ (rendah diri). Tidak merasa dirinya yang paling benar dan semua yang datang selain dia dianggap salah. Sikap mulia ini termotivasi dari kesadaran batin yang bersih. Sehingga Allah mengingatkan kepada manusia dalam surat al Furqan “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah diri (tawadhu’) (QS. 25:63). Sikap tawadhu’ inilah yang mengangkat derajat manusia ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Sebagaimana Rasulullah bersabda; “Tawadhu’, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba keculai ketinggian (derajat). Oleh sebab itu tawadhu’lah kamu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu”. Orang yang tawadhu’ biasanya dibarengi dengan sikap muraqqabah (waspada). Dengan sikap ini berarti dialog batin mengajak hati manusia selalu melakukan muhasabah (introspeksi atau evaluasi diri), merenungkan sejauhmana kualitas amal yang diperbuat, seberapa jauh kepekaan hatinya terhadap realitas sosial, dan seterusnya.
Dari proses dialog batin, manusia diharapkan “kembali” kepada asalnya yakni keadaan fitrah (suci). Sikap kembali, bukan saja memerlukan sebuah loncatan keberanian, tetapi juga kesiapan segala perubahan dalam jiwa (diri) manusia. Dan puasa adalah waktu yang sangat tepat sebagai sarana untuk melakukan perubahan-perubahan (penyucian) diri itu. Puasa dianggap gagal kalau tidak membuahkan sebuah perubahan diri yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya. “Barang siapa yang hari ini sama seperti kemarin maka ia merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia pandai (beruntung), dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin, maka ia terlaknat (HR. Bahaqi). Semoga puasa yang kita jalankan pada bulan ini akan lebih baik dari puasa bulan kemarin.***

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang

Selasa, 17 Agustus 2010

Puasa: Dari Syari’at Menuju Hakikat

Oleh: Mujtahid
SALAH satu moment penting yang perlu kita renungkan dalam kaitannya dengan puasa adalah proses penyucian diri (tazkiyah al nafs). Bulan puasa tidak hanya dimengerti sebagai bulan suci, melainkan bulan penyucian diri. Puasa di samping sebagai kewajiban personal kepada Allah, juga berfungsi sebagai “kawah candradimuka” bagi umat muslim. Sebab kewajiban tersebut hanya datang satu bulan sekali dalam setahun. Sementara keadaan suci (fitrah) manusia telah ternodai dan berubah atas kuasa dan kelemahanya sendiri.
Hadirnya bulan puasa merupakan formulasi dan aktualisasi tentang fitrah pada diri manusia. Formulasi tersebut sebagaimana Allah firmankan dalam surat al- Rum ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalamciptaan llah, itulah agama yang lurus, tetapi kebayakan manusia tidak mengetahui” begitu juga disabdakan Nabi Muhammad, sebagaimana diriwayatkan Imam Bhukhari “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya yahudi, Nasrani dan Majusi”. Konsep fitrah tersebut dapat dipahami bahwa manusia itu lahir dalam keadaan kesucian, maka dia bersifat hanif. Artinya selalu cenderung kepada yang suci dan baik. Sebab struktur manusia dilengkapi dengan potensi-potensi ruhani. Allah selalu mengingatkan kepada manusia agar mengenal dirinya sendiri, sebagaimana tertera dalam surat al- Dzariyat “Dan di dalam dirimu apakah kamu tidak memperkatikan? (QS. 51: 21) dan dalam surat al Fusilat ditegaskan bahwa “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagai mereka bahwa al- Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwasesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu (QS. 41:53). Dengan mengenal dirinya manusia akan lebih mudah dapat melihat substansinya sendiri.
Sebagai makhluk yang paling unik, manusia merupakan karya Allah yang paling sempurna (complete) (QS. 95:4) dibanding dengan makhluk lainnya. Ia dibekali dengan potensi-potensi ruhani (al- Quwwah al- Ruhiyyah) yang berfungsi untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, ia juga potensi untuk memilih mana yang benar dan yang salah. Potensi tersebut merupakan salah satu kekuatan batin (inner bathin) yang paling berharga bagi manusia. Karena itu, setiap manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya “Dan orang-orang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anakcucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS. 52:21).
Dalam ajaran tasawuf, seruan agar manusia mengenal dirinya sendiri merupakan pilar utama menuju Tuhan, sebab dengan mengenal dirinya sendiri manusia akan mengenal Tuhannya, "Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, dia akan mengenal Tuhannya" demikian salah satu bunyi dalam ajaran tersebut. seiring dengan kalimat itu, al- Qur'an juga menyebutkan bahwa sebaiknya manusia merenungkan kembali dari mana ia diciptakan, "hendaklah memperhatikan dirinya sendiri, dari apa ia diciptakan"(QS. 86:5).
Menurut Ismail Raji al- Faruqi manusia merupakan karya Allah terbesar, dia satu-satunya makhluk yang perbuatannya mampu menciptakan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan dan menjadi sejarah, (QS. 5:56), dan ia makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan dalam kehidupan di dunia. Adapun kehidupan tersebut dalam diri manusia, jiwa (al- nafs) merupakan salah satu ciri khas yang tidak dapat dilihat dari luarnya, sehingga jiwa manusia dinamai jiwa rohani (spiritual soul).
Menurut Murtadha Mutahhari (1989:118-119), manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsur sorgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhhan dan benda-benda yang tak bernyawa, unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara alam nyata (materiil) dan metafisik (immateriil), antara rasa dan non rasa, antara jiwa dan raga, seperti yang termaktub dalam surat al- Sajdah; “yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (QS. 32:7-9).
Proses kejadian manusia terdiri dari dua substansi. Pertama, substansi jasad atau materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam ciptaan Allah. Dalam pertumbuhannya, ia tunduk pada dan pengikut sunnahtullah (antara ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta) kedua, substansi jiwa yaitu pengembusan roh (cipataan-Nya) ke dalam diri manusia, sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai berbagai alam potensial dan fitrah. Al Farabi menyebutnya ada unsur alam kholiq dan al amr (roh dari Tuhan). Dari kedua substansi tersebut, maka yang paling esensial adalah substansi immateri/jiwa. Manusia memang terdiri dari unsur jasad dan roh, tetapi yang hakikat dari kedua substansi itu adalah roh (jiwa).
Dengan demikian, manusia merupakan rangkain utuh antara substansi jasmani asan substansi rohani, komponen jasmani dari tanah (QS. 32:7) dan komponen rohani ditiupkan Allah (QS. 15:29). Dengan kata lain manusia adalah satu kesatuan dari mekanisme biologis, yang dapat dinyatakan berpusat pada jantung (sebagai pusat kehidupan) dan mekanisme kejiwaan yang berpusat pada otak (sebagai lambang berfikir, merasa, dan besikap).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merahnya, bahwa manusia pada dasarnya dapat ditempatkan dalam tida kategori. Pertama, manusia sebagai makhluk biologis (al- basyr) pada hakikatnya tidak berbeda dengan makhluk-makhluk biotik lain walaupun struktur organnya berbeda (QS.15:28) karena organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lain (QS. 95:4). Kedua, manusia sebagai makhluk psikis (al- Insan ) yang mempunyai potensi rohani seperti fitrah (QS. 30:30) akal (QS. 3:190-191), hati (QS. 22:46). Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi martabatnya (QS.17:70) yang berbeda dengan makhluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina (QS. 7:179) sedangkan insaniahnya (humanisme) terletak pada iman dan amalnya (QS. 54:6). Dan ketiga, manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta. Klasifikasi ketiga ini karena manusia berfungsi tidak hanya sebagai Abdullah (QS. 51:56) tetapi juga sebagai Khalifatullah (QS. 2:30, 10:14). Untuk mewujudkan kemakmuran, kebahagian, dalam kehidupan dinia akhirat (QS. 28:77).

Dialog Batin
Puasa merupakan salah satu arena yang tepat untuk melakukan sebuah dialog batin (inner dialog). Dengan proses dialog batiniah, puasa hakikatnya adalah latihan (riyadlah) kejiwaan manusia yang menggiring kepada kesadaran fitrah. Tanpa dialog batin tersebut, mustakhil penyucian diri akan terlaksana dengan baik. Sebab, dialog batini adalah dialog, diskusi dan disputasi yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan ritualitas keagamaan, khususnya puasa.
Perintah ini termotivasi dari surat al- Syam yang ditegaskan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yangmensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10). Setelah dari dialog batin (puasa) diharapkan tidak hanya seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia akan kembali kepada jalan dan tugasya masing-masing, namun juga menambah rasa keimanan manusia kepada Allah dan lebih-lebih mendapat predikat taqwa. Artinya diri manusia selalu dekat dengan keagungan Allah dalam realitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Dialog batin merupakan sarana yang paling tepat untuk penyucian diri (tazkiyah al- nafs) bagi kaum muslim. Karena potensi kejiwaan (nafsiyah) hanya dapat didekati dengan dialog batin. Pendekatan tersebut diasumsikanbahwa unsur ruhani identik dengan senyawa yang halus dan tidak terlihat secara kasatmata.
Dalam struktur kejiwaan itu, Allah memberikan seperangkat dasar yang cenderung berkembang, dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran psikologi behaviorisme disebut prepotence reflexs (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berubah-ubah). Dengan proses dialog batin berarti belajar melibatkan stimulasi dan respon. Sehingga apa yang disebut “kapasitas dan potensialitas manusia” dapat terwujud secara utuh.
Proses dialog batin yang terjadi pada diri manusia akan terbangun sebuah kesadaran diri sebagai manusia dalam mengembang tanggungjawab, kemampuan memilih, kepekaan hati nurani, keluasan pandangan, dan memiliki kekayaan pengalaman transendental.
Dalam batas-batas tertentu, dialog batin merupakan kerangka empirik yang mampu menelusuri tanda-tanda penyakit kejiwaan manusia. Penyakit kejiwaan hanya bisa disembuhkan dengan terapai-terapi, termasuk agama. Terapi itu misalnya shalat, puasa zakat dan rital keagamaan lainnya. Terapi kejiwaan hanya bisa dikembalikan kepada al- Qur’an sebagai sumber kebenaran, sebagai al- syifa li al- shudur al- nas.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang