Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Maret 2016

Membangun Peradaban Islam Washatan

Pendahuluan
Islam merupakan pandangan hidup (whay of life) yang menerangi jalan hidup para pemeluknya, yang mampu mengatur semua urusan kehidupan manusia mulai dari masalah peribadatan, ritual hingga masalah keduniaan. Oleh sebab itu, pantaslah seorang pujangga ahli sejarah H.A.R. Gibb memuji Islam dengan ungkapan “Islam indeed much more a system of theology, if is complete civilisation” (Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap).[1]

Islam mengajarkan umatnya agar berkualitas, unggul dan mampu berkontribusi positif untuk kelangsungan hidup di alam semesta (rahmatan lil alamin). Sebagaimana pesan Rasulullah, bahwa tugas hidup seorang muslim ialah menanam kebaikan dan kemanfaatan untuk sesama. “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. 

Untuk menerjemahkan Islam ke dalam lingkup tatanan kehidupan sosial, perlu sebuah pandangan yang lurus serta mendalam. Dalam hal ini, Nurcholis Madjid pernah menawarkan gagasan tentang pentingnya “al-hanifiat al-samhah”. Suatu pandangan yang tidak lagi terkotak dalam wujud komunalisme atau bentuk yang cenderung mengurung diri pada struktural tertentu. Pemahaman seperti  ini mendorong seseorang agar terpanggil untuk berpartisipasi pada agenda-agenda besar dan luas yang bermanfaat, yang bukan saja bagi internal golongannya, melainkan juga bermuara pada semua golongan manusia. Islam memuat agenda dan cita-cita universal, yaitu mewujudkan keselamatan, keadilan, kedamaian, yang bersendikan pada nilai-nilai tauhid dan sifat dasar kemanusiaan. Tesis Nurcholis Madjid tersebut, intinya adalah munculnya sikap yang moderat dan inklusif dalam memperjuangkan agenda-agenda universal untuk kemajuan peradaban umat manusia.[2]

Apa yang menjadi cita-cita Islam sesungguhnya telah diterangkan secara utuh, holistik dan komprehensif dalam ummul kitab, yaitu surah al-Fatihah. Surat al-Fatihah memuat saripati ajaran Islam yang benar-benar memiliki misi universalitas dan iklusivitas yang mengajak umatnya agar mendapat petunjuk dan kasih sayang-Nya. Sulit diingkari bahwa ajaran pokok Islam, seperti yang terkandung surat al-Fatihah merupakan jalan yang lurus, petunjuk yang menjadi pegangan sekaligus haluan hidup manusia.

 Ayat pertama sebagai pembuka surat, dimulai dengan bacaan basmalah, “bismillahirrahmanirrahim”. Pesan teologisnya ialah kasih sayang Allah Swt. tidak terbatas bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Seperti yang diungkapkan Komaruddin Hidayat, bahwa cinta ilahi merupakan sumber dan spirit kehidupan itu sendiri, “the spirit of life is love, the divine love”.[3] Pesan etisnya yaitu setiap pembaca ayat ini harus mengedepankan kasih sayang, menyebarkan rahmat, dan menjunjung tinggi cahaya kebenaran. Basmalah mengajak setiap pembaca untuk mengenali Allah Swt sebagai pemilik kasih sayang, yang tiada henti selalu memberi rahmat dan kasih sayang-Nya kepada semua ciptaannya.

Ummatan Washatan
Termenologi ummatan washatan diambil dari surat al-Baqarah ayat 143: “Dan dengan demikian Kami (Allah Swt) telah menciptakan kamu (kaum Muslimin) sebagai ummatan washatan agar kamu sekalian dapat menjadi saksi atas diri kamu sekalian; dan sesungguhnyalah Rasul (utusan Allah) menjadi saksi atas diri kamu sekalian.” Penggunaan termenologi ini ditujukan kepada umat Islam yang berada garis tengah (seimbang), atau tidak ekstrim dalam pemahaman dan pengamalan Islam. Di saat kondisi Islam yang dikesankan sebagai agama radikal dan teroris oleh bangsa-bangsa Barat, maka sebutan ummatan washatan menemukan momentumnya untuk menjadi jalan tengah sebagai pengerim laju tindakan-tindakan pelaku umat Islam yang kaku dan ekstrim itu, ulah itu jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam.

Di Indonesia penggunaan term ummatan washatan telah muncul sejak akhir abad ke 12 dan 13, dengan ditandainya Islamisasi yang damai, toleran jauh dari konfrontasi dan perlawanan. Islam diajarkan oleh para da’i/mubaligh kepada masyarakat melalui perdagangan di pasar, pertanian di sawah, nelayan di pesisir dengan penuh santun dan toleran. Proses penyebaran Islam di Indonesia membutuhkan waktu berabad-abad, karena Islam mengambil jalur damai dan mengedepankan etika, tanpa konfrontasi yang menimbulkan gejolak sosial, apalagi sampai mengambil jalan pintas dengan kekerasan atau pertumpahan darah.

Kehadiran Islam di Indonesia, seperti yang disebut oleh Van Leur,[4] merupakan indikasi bahwa Islam bukan saja sebagai sistem keagamaan semata, namun sekaligus merupakan alternatif yang cukup diperhitungkan dalam mengubah setiap bentuk tatanan kehidupan yang tidak sesuai dengan harkat kemanusiaan. Kedatangan Islam di Indonesia tampil dengan sangat elegan, ramah dan lentur hingga mendapat simpati yang sangat luar biasa sampai ke pelosok penjuru tanah air.
Berbeda dengan penyebaran Islam di Cordova atau Andalusia, dan negara-negara sekitarnya, penyebaran Islam di Indonesia lebih mengedepankan jalur kultural, serta terkadang mengambil cara “kompromi” dengan sistem budaya dan kepercayaan yang ada, namun pelan-pelan akhirnya Islam dapat diterima dengan senang hati. Ada tiga hal yang  menyebabkan kesuksesan dakwah Islam di Indonesia, yang merupakan sebagai perwujudan kekuatan Islam Washatan, yaitu:
Pertama, Islam mengajarkan sistem tauhid. Ajaran ini merupakan pembebas dari segala bentuk kekuatan selain Allah Swt. Secara teologis, manusia dihadapan Allah adalah sama, tanpa ada stratifikasi sosial seperti yang ditunjukkan dalam kehidupan masyarakat sebelumnya. Prinsip tauhid mengajarkan asas keadilan dan kesamaan dalan sistem tata kehidupan masyarakat. Ajaran tauhid lebih manusiawi ketimbang ajaran-ajaran sebelumnya yang terkotak-kotak dalam sistem kasta. Sehingga Islam lebih diterima ketimbang melanggengkan ajaran yang selama ini mereka jalani. Ajaran Islam menempatkan pemeluknya lebih terhormat dan mulia, ketimbang ajaran dan kepercayaan yang mereka yakini. 

Kedua, Ajaran Islam relevan dengan roda perubahan zaman. Ajaran Islam sangat lentur, fleksibel sesuai dengan dimensi ruang dan waktu. Melalui pendekatan ma’ruf, Islam mudah beradaptasi dengan budaya dan tata kehidupan masyarakat. Hal-hal yang menjadi kebiasaan masyarakat kala itu, kalau tidak bertentangan dengan ajaran Islam, maka tidak perlu ditolak atau dibubarkan, tetapi cukup diluruskan atau dibumbui dengan nilai-nilai Islam. Tapi sebaliknya, kalau kebiasaan itu tidak sesuai dengan prinsip Islam, maka tidak henti-hentinya para da’i mengajak untuk meninggalkannya. Pendekatan ma’ruf, ini merupakan bagian “jalan tengah” (washatan) dalam memahami dan menjalankan aktivitas Islam.

Ketiga, Islam mengajarkan prinsip tasamuh dan fastabiqul khairat. Prinsip Islam sangat kental dengan keterbukaan, tidak setengah-setengah, melainkan harus kaffah. Islam menjunjung tinggi sikap tasamuh, toleransi serta apresiasi terhadap sesuatu kebenaran dari manapun datangnya. Oleh karenanya, apakah pada aspek fikih (mazhab), tasawuf (sufi), maupun aliran teologi, umat Islam Indonesia sangat terbuka dan biasa berbeda dalam hal itu.  Begitu juga tak kalah pentingnya dalam menyumbangkan kesuksesan penyebaran Islam yaitu sikap daya juang, berlomba-lomba dalam kebaikan. Para da’i, ulama’ dan kyai membuat caranya masing-masing dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat. Peran dan kiprah para tokoh-tokoh Islam dengan prinsip fastabiqul khairat  lalu diwujudkan dengan sarana dakwah, antara lain misalnya;  mendirikan lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, serta lembaga lainnya. 

Dalam pandangan Azyumardi Azra, ummatan washatan atau Islam washatiyyah di Indonesia menemukan model khas yang terumuskan dalam Pancasila, sebagai kalimatun sawa’ merupakan prinsip-prinsip yang sama (common flatform) yang merekatkan kemajemukan dan kebhinekaan anak bangsa.[5] Sebagai negara yang besar dan mayoritas penduduknya muslim, Islam Washatiyyah tampil dengan berdirinya berbagai organisasi Islam, seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persis, Al-Khairat, dan lain-lain. Masing-masing organisasi tersebut mengambil jalan tengah (washatan), baik  tercermin dalam pemahaman dan pengamalan praksis keislamannya, maupun dalam sikap sosial, budaya dan politiknya. 

Islam washatan mengambil peran-peran kemanusian lintas batas, yang tanpa sekat primordial dan komunal. Muhammadiyah misalnya, meski sebagai organisasi Islam atau pesyarikatan Islam, telah mendedikasikan diri dalam berbagai bidang, seperti bidang sosial keagamaan, pendidikan dan kesehatan kepada semua masyarakat tanpa pandang status ras, suku, budaya dan agama, demi kemajuan peradaban bangsa. Islam hadir sebagai penggerak peradaban, yang mendorong transformasi sosial kearah tatanan kehidupan yang berperikemanusiaan dan kedamaian.

 Islam dan Realitas Sosial

Secara teologis, Islam disamping menjadi dasar keyakinan, juga memerankan dirinya sebagai sumber nilai yang mutlak dan universal. Sebagai sebuah sumber nilai, Islam menjadi kerangka etis dalam membangun realitas kehidupan masyarakat. Islam diyakini sebagai risalah atau ajaran suci dari Tuhan yang bersifat theo-centris, sementara kehidupan bermasyarakat merupakan bagian dari antropo-centris yang menitik beratkan pada persoalan hubungan manusia antar sesama.

      Antara Islam dan kehidupan manusia tidaklah mungkin dipisahkan. Sebab, Islam merupakan sumber nilai-nilai kebenaran hakiki yang mengajarkan tentang tatakrama dalam membangun relasi humanitas dalam konteks pergumulan antar sesamanya.[6] Islam harus mewarnai segala tindakan, ucapan dan perilaku pemeluknya, sehingga terwujud keadaban dan kemuliaan baik untuk dirinya maupun sesamanya.

      Sebagai makhluk sosial yang dibekali potensi religi (fitrah), manusia diharapkan bisa bertindak netral dan bersikap objektif dalam segala hal. Sebagai abdullah dan khalifatullah, seorang muslim seharusnya tidak membiarkan dirinya berperilaku secara destruktif, melainkan harus menunjukkan citra dirinya sebagai sosok insan kamil yang memiliki kesadaran moral dan etis yang lahir dari spirit keimanan atau keyakinannya.

Oleh karenanya, iman adalah tonggak tertinggi dalam diri manusia yang tidak akan mungkin terpisah dari amal perbuatannya. Amal perbuatan yaitu cabang dari pohon iman. Makin banyak amal kebajikannya, maka makin besar dan tinggi pohonnya. Makin kuat iman seseorang, makin banyak amal saleh yang dikerjakannya. Gambaran tersebut seperti yang diilustrasikan Allah Swt. sebagai berikut:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat” (QS. Ibrahim[14]:24-25)

Islam memberikan petunjuk kepada umatnya agar tugas hidup di muka bumi ini laksana pohon yang punya akar kuat yang menghujam ke tanah, rimbun daun dan buahnya bisa menjadi makanan bagi makhluk yang ada disekitarnya.  Seorang muslim harus menjadi pohon lebat yang akarnya menunjam kuat. Artinya harus punya pondasi iman yang kuat. Selain itu, juga rindang sehingga membuat siapa pun yang berinteraksi dengan dirinya merasa teduh, nyaman, dan betah tanpa curiga. Islam harus diyakini sekaligus diamalkan secara utuh, sehingga mampu membuahkan kemanfaatan, kebajikan bagi semua makhluk disekitarnya.

Islam sebagai dasar keyakinan sekaligus sumber nilai diharapkan menjadi inspirasi, spirit bagi pemeluknya agar selalu menegakkan kebajikan, keadilan, moralitas (moral force) dalam semua urusan dimuka bumi ini. Seperti yang diungkapkan H.A.R. Gibb sebelumnya, bahwa Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap. Artinya, Gibb memandang dalam Islam terdapat perpaduan (integritas) antara dimensi sakral (ilahiyah) dan profan (duniawi) merupakan satu entitas utuh yang sulit dipisahkan. Sehingga antara yang profan dan yang sakral tidak terdapat kepincangan atau kesenjangan baik dari segi pemahaman maupun pengamalannya.

             Pendapat yang serupa juga disampaikan oleh M. Natsir dan Sidi Gazalba, bahwa Islam meliputi semua aspek masyarakat dan kebudayaan, serta menolak pengertian Islam sebagai agama dalam arti sempit, maka sesungguhnya mereka lebih banyak berbicara tentang impian, daripada bertitik tolak dari kenyataan yang terjadi disebagian besar bumi Indonesia.

            Begitu juga pendapat Ernest Gellner, bahwa dalam tradisi Islam terdapat jalinan kuat antara spirit dan hukum keagamaan dengan wilayah sosial. Berbeda dengan agama Kristen, Islam tidak pernah padam dari suatu ideologi. Bahkan Islam akan tidak pernah terpisah dari persoalan-persoalan sosial-budaya. Karena itu, tidak perlu heran kalau Islam pernah mengukir sejarah dunia. Islam telah mengalami kejayaan gemilang dan dirasakan sebagai warisan dan blueprint sosial yang masih sangat mungkin dapat dihidupkan kembali pada zaman yang berbeda.

            Bertolak dari ketiga pandangan di atas, kajian Islam (Islamic studies) saat ini yang harus dihadapi adalah perumuskan metodologis guna melihat makna keagamaannya secara koheren. Sebab jika tidak dilakukan, maka kajian Islam akan mengalami penurunan yang cenderung mengabaikan makna keagamaannya itu sendiri. Amin Abdullah menyatakan bahwa fenomena beragama bukanlah fenomena sederhana seperti yang biasa dibayangkan orang lain. Karena sikap beragama membutuhkan kesadaran dan kemauan untuk menerima suatu keberbedaan.[7]

            Sikap keberagamaan di Indonesia dalam kajian sosiologis, dapat dipetakan menjadi beberapa tipologis. Komaruddin Hidayat di Majalah Ummat (1996) menggambarkan bahwa ada lima tipologi sikap keberagamaan. Pertama, ekslusivisme berpandangan bahwa sikap keberagamaan akan melahirkan pandangan bahwa ajaran yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya. Agama lain sesat, sehingga dipandang wajib dikikis atau pemeluknya terkutuk dalam pandangan Tuhan. Kedua, sikap inklusivisme berpandangan bahwa di luar agama yang dipeluknya juga terdapat kebenaran, meskipun tidak seutuh dan sesempurnya agama yang dianutnya. Di sini masih didapatkan toleransi teologis dan iman. Ketiga, pluralisme, lebih moderat lagi, berpandangan bahwa secara teologis pluralitas agama dipandang sebagai suatu realitas niscaya yang masing-masing berdiri sejajar sehingga semangat missionaris atau dakwah dianggap tidak relevan. Keempat, eklektivisme, yaitu suatu sikap keberagamaan yang berusaha memilih dan mempertemukan berbagai segi ajaran agama yang dipandang baik dan cocok untuk dirinya sehingga format akhir dari sebuah agama menjadi semacam mosaik yang bersifat eklektik. Kelima, universalisme, beranggapan bahwa pada dasarnya semua agama adalah satu dan sama, hanya saja karena faktor historis-antropologis maka agama lalu tampil dalam format formal.

 

Islam dan Sosial Budaya

Banyak para ahli, baik sarjana dalam negeri maupun luar negeri yang menfokuskan kajiannya tentang Islam dan sosial budaya. Rata-rata pusat kajian mereka menggunakan pendekatan atau sudut pandang sosio-antropologis. Salah satu studi penelitian sosial-budaya yang paling menumental mengenai aspek keberagamaan atau perilaku Islam di Indonesia adalah Clifford Geertz yang hingga saat ini masih menjadi primadona, sebagai rujukan utama. Meskipun penelitian itu pada akhirnya juga akan terjadi sebuah pergeseran dan keotentikan hasil, karena dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang jauh berbeda.
Seperti yang ditulis dalam The Religion of Java, Geertz membedakan kebudayaan Jawa dalam tiga tipe; abangan, santri dan priyayi. Abangan, mewakili suatu kelompok yang lebih menitik beratkan pada aspek animistik dari sinkretisme Jawa dan secara luas dihubungkan dengan elemen petani. Santri, mewakili suatu titik berat pada aspek Islam dari sinkretisme itu dan umumnya dihubungkan dengan elemen dagang dan juga elemen tertentu di kalangan petani. Priyayi, mewakili suatu kelompok yang lebih menekankan aspek-aspek Hindu dihubungkan dengan elemen birokratik. [8]

Ketiga varian tersebut adalah gambaran atau tafsiran subjektif peneliti yang sangat dipengaruhi oleh situasional dan kondisi pada lokasi itu. Namun temuan tersebut seolah-olah dapat ditranfer kesemua tempat di Indonesia dimana Islam itu ada. Ketika Geertz membukukan hasil penelitiannya di Mojokuto (nama samaran sebuah kota kecil, Pare di Jawa Timur) pada awal tahun 1950-an, ia mungkin belum membayangkan bahwa akan terjadi perubahan kultural di kalangan abangan, santri dan  priyayi.  Terlepas dari kritik yang banyak ditujukan oleh ilmuwan sosial atas kategorisasi itu, sampai saat ini dalam analisis ilmu-ilmu sosial trikotomi tersebut masih kerap digunakan, meskipun dengan sikap yang berhati-hati. 

Kritik sekaligus ingin mematahkan tesis Gertz dilakukan banyak tokoh. Misalnya M. Bambang Pranowo, menyebutkan bahwa kelompok abangan yang sarat akan mistiknya itu telah menerapkan prisip-prinsip Islam, walaupun dengan cara melegitimasi melalui narasi-narasi atau bacaan-bacaan teks kitab suci. Tetapi mereka (abangan) justru sangat lentur dan tak sering konflik dalam kehidupan masyarakat. Hal ini berbeda dengan kelompok santri yang justru lebih mudah memantik perbedaan dan percecokan.

Seperti halnya disinyalir para pengamat, Indonesia saat ini terjadi peningkatan antusiasme dalam berislam yang ditandai dengan semakin meningkatnya gairah dalam menjalankan Islam baik secara pribadi, yaitu dengan semakin banyaknya orang yang mengunjungi tempat-tempat ibadah dan juga penampakan identitas keislaman yang lebih jelas. Gejala-gejala yang bersifat umum, misalnya banyaknya lembaga-lembaga keagamaan, munculnya banyak penerbitan Islam dan meningkatnya intelektualitas umat. Situasi ini oleh Esposito disebut sebagai "kebangkitan Islam" atau "aktivisme Islam" dan oleh Azyumardi disebut sebagai intensitas santrinisasi. Secara umum hal ini dapat diartikan sebagai tampilnya Islam sebagai kekuatan baru yang diperhitungkan oleh kawan maupun lawan dalam segala aspek kehidupan.

Atas dasar tersebut, maka ada dua kemungkinan dalam hal ini, mereka yang mengalami peningkatan antusiasme keagamaan adalah mereka yang semula masih dalam kategori abangan kemudian berubah menjadi santri. Kemungkinan lain, mereka sebelumnya sudah menjadi santri kemudian secara kualitatif mengalami  peningkatan kembali kualitas kesantriannya. 

Sejalan dengan kemungkinan yang pertama, dalam suatu kesempatan wawancara dengan Islamika, Hefner mengatakan bahwa "peta kaum abangan sekarang ini  mulai berkurang, meskipun mulai  dari Batu sampai Pare, boleh dikatakan masih tetap ada orang-orang yang menyebut dirinya sebagai Kejawen". Semakin menyusutnya jumlah abangan ini dijelaskan Hefner banyak penyebabnya, tetapi mereka yang sedang mengalami proses transformasi  kultural ini selain yang terbesar menjadi santri, ada juga yang masuk aliran kebatinan atau berbagai aliran kepercayaan.

Kategori abangan dan santri juga dapat diletakkan dalam dua pendekatan, yakni dari segi kualitas keagamaan dan stratifikasi sosial, atau sebagai golongan sosio-religius dan sebagai kekuatan sosio-politik. Kategori ini juga tidak bersifat statis, misalnya antara priyayi dan wong cilik karena adanya mobilitas sosial maka mengalami pergeseran. Begitu juga dengan perbedaan antara abangan dan santri tidak selalu bersifat antagonis, tetapi merupakan sekala budaya dan pemahaman agama. Sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi transformasi dan pergeseran baik wong cilik menjadi priyayi maupun abangan menjadi santri. Seperti dikatakan Hefner, ada priyayi yang abangan dan yang santri, juga ada abangan yang agak priyayi, santri agak priyayi dan sebaliknya.[9]     

Tesis yang penting diajukan adalah mengapa terjadi transformasi kultural? Atau mengapa abangan berubah menjadi santri? Jawaban tentatif tentu dapat bermacam-macam, misalnya karena modernisasi, politik, pendidikan dan tidak menutup kemungkinan adalah peran para elit Islam yang dengan semangat kuat membimbing dan mengajak mereka untuk lebih taat dalam beragama. Ada beberapa asumsi sebagai penyebab berubahnya kaum abangan menjadi santri. 

Menurut Nurcholish Madjid maupun Daliar Noer di atas dapat dirujuk pula dari kesimpulan beberapa pengamat Islam kontemporer, misalnya Robert N. Bellah dan Ernest Gellner. Menurut Bellah yang dikutip Madjid dari Beyond Belief, bahwa Islam menurut zaman dan tempatnya, adalah sangat modern, bahkan terlalu modern sehingga gagal. Dan kegagalan itu disebabkan karena tidak adanya prasarana sosial di Timur Tengah saat itu guna mendasari penerimaan sepenuhnya ide modernitas Islam dan pelaksanaannya yang tepat.[10] 

Selanjutnya Madjid menjelaskan, jika Islam sebuah modernitas, maka zaman modern akan memberi kesempatan kepada orang-orang Islam untuk dapat melaksanakan ajaran agamanya secara baik, dan menjadi modern dapat dipandang sebagai penyiapan lebih jauh infrastruktur sosial guna melaksanakan ajaran Islam secara sepenuhnya. Berarti pula, bahwa di zaman modern ini orang-orang Islam akan dapat memahami ajaran agamanya dan menangkap makna ajaran agama itu sedemikian rupa sehingga "api" Islam, atau spirit dan ruh atau subtansi ajaran Islam dapat bersinar dan memebri kontribusi yang berarti dalam kehidupan Muslim secara pribadi maupun dalam masyarakat secara luas.

Sedangkan Gellner, mengatakan bahwa para sosiolog yang telah lama akrab dan sering membenarkan teori sekularisasi mengatakan bahwa dalam masyarakat ilmiah-industri, iman dan amalan agama akan menurun.[11] Banyak argumen yang dapat dikedepankan untuk memberi topangan intelektual atas pandangan tersebut, dapat pula dalam hal ini dikedepankan bukti-bukti empiris. Tetapi, harus ada pengecualian yang dramatis dan mecolok, yaitu Islam. Menganggap sekularisasi telah melanda Islam tidaklah berlebihan. Namun anggapan itu salah, sebab saat ini Islam tetap kuat seperti seabad yang lampau, bahkan mungkin lebih kuat. 

            Sebagai agama, Islam dapat dilihat sebagai gejala sosial-budaya. Atha Mudzhar menjelaskan bahwa agama dapat diteliti kalau telah menjadi gejala budaya. Dalam perspektif ilmu sosial kajian budaya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebab, kajian budaya selalu unik yang hampir tidak pernah selesai dibahas dan diteliti oleh manusia. 

            Paling tidak, gejala agama dapat dilihat dari lima sudut. Pertama, berkenaan dengan teks-teks atau sumber ajaran agama. Kedua, dilihat dari sikap dan prilaku para pemimpin dan penganutnya. Ketiga, dilihat dari ritus-ritus, lembaga-lembaga dan ibadat-ibadatnya. Keempat, alat-alat atau media peribadatan, dan kelima, organisasi keagamaan sebagai sarana mereka berperan dan bertindak.[12]

Kuntowijoyo menjelaskan bahwa perubahan kebudayaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang terjadi secara natural, disebut sebagai "transformasi"; dan yang terjadi secara artifisial, atau dibuat disebut sebagai "rekayasa". Transformasi bisa berkenaan dengan nilai, bisa juga berkenaan dengan struktur. Transformasi dalam studi ini berkenaan dengan nilai, yaitu agama yang dihayati oleh pemeluk-pemeluknya. Dalam hal ini golongan abangan menunjukkan kecenderungan peningkatan kualitas dalam hal keagamaannya dari sekadar muslim secara formal menjadi muslim secara subtansial, atau spiritual.

Penutup
            Islam sebagai pandangan hidup manusia, menempatkan dua tujuan utama, yakni kesuksesan di dunia dan di akhirat. Seperti kata Malinowski, agama (Islam) adalah "wishful thinking", yaitu suatu harapan yang muncul karena manusia melihat bahwa kehidupannya akhirnya akan berakhir dengan kematian. Ia tampaknya masih memandang agama sebagai sesuatu yang memiliki nilai positif. Karena Islam dapat menolong untuk mengatasi frustasi dan membantu mewujudkan persatuan sosial. 

Islam menekankan dua aspek penting, yakni adanya hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum Minannas) secara integral. Keutuhan dan keseimbangan hubungan itu akan menjadikan seseorang dapat bergaul dengan sangat luwes dan tidak sempit. Sebab keutuhan Islam dibangun mulai dari sistem kepercayaan (belief), peribadatan (ritual), masyarakat (community), lembaga atau kelembagaan (institution) dan masalah pengalaman keagamaan (religious experience).

Islam menempatkan kitab suci sebagai petunjuk atau "suatu kekuatan hidup yang tertinggi". Apa yang terlihat di dalamnya adalah suatu yang mampu mengatasi segala kebutuhan makhluknya. Melalui kitab suci ini setiap muslim terdorong untuk melakukan pengabdian, penghambaan dan bahkan pengorbanan untuk mewujudkan kehidupan yang bermafaat bagi kemaslahatan ummat.

Daftar Bacaan
Abdullah, M. Amin, Studi Islam, Normativitas atau Historisitas.? Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998.
Ali, Fachry dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam; Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia, Bandung: Mizan, 1986.
Ali, Fachry, dalam Pengantar Nurcholish, Madjid, Dialog Keterbukaan, Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer, Jakarta: Paramadina, 1998
Aziz, M. Amin, The Power al-Fatihah,   Cet. III, Jakarta: Pinbuk Press, 2008
Azra, Azyumardi, Islam Indonesia: Kontribusi pada Peradaban Global, MAKALAH, belum diterbitkan.
Geertz, Clifford.  The Religion of Java. [terj]. Aswab Mahasin. Jakarta: Pustaka Jaya, 1983
Gellener, Ernest, Muslim Society, Combridge University Press Gellner, 1994
Gibb, H.A.R. Whither Islam, London: Victor Gollanez Ltd., 1932.
Hefner, Robert W. ICMI dan Perjuangan Kelas Menengah Muslim Indonesia, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994, hal. 59.
Hidayat, Komaruddin, Tragedi Raja Midas Moralitas Agama dan Krisis Modernitas, Jakarta: Paramadina, 1998.
M. Natsir, Capita Selecta, I., Jakarta: Bulan Bintang, 1973.
Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, Jakarta: Paramadina, 1992.
Mudzhar, Atha, Pendekatan Studi Islam, dalam Teori dan Praktek, Yogayakarta: Pustaka Pelajar, 1998.



[1] Gibb, H.A.R. Whither Islam, London: Victor Gollanez Ltd., 1932. hal. 12. seperti yang dikutip M. Natsir, Capita Selecta, I., (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hal. 15.
[2] Ali, Fachry, dalam Pengantar Nurcholish, Madjid, Dialog Keterbukaan, Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer, (Jakarta: Paramadina, 1998), hal. xlv-xlvi
[3] Aziz, M. Amin, The Power al-Fatihah,   Cet. III, (Jakarta: Pinbuk Press, 2008), Hal. xxviii.
[4] Lihat, Ali, Fachry dan Bahtiar Effendy, Merambah Jalan Baru Islam; Rekonstruksi Pemikiran Islam Indonesia, (Bandung: Mizan, 1986) hal. 32.
[5] Azra, Azyumardi, Islam Indonesia: Kontribusi pada Peradaban Global, MAKALAH, belum diterbitkan..
[6] Hidayat, Komaruddin, Tragedi Raja Midas Moralitas Agama dan Krisis Modernitas, (Jakarta: Paramadina, 1998), hal. 9.
[7]Abdullah, M. Amin, Studi Islam, Normativitas atau Historisitas.? (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hal. 23.
[8] Geertz, Clifford.  The Religion of Java. [terj]. Aswab Mahasin. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983), hal. 8.
[9]Hefner, Robert W. ICMI dan Perjuangan Kelas Menengah Muslim Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994), hal. 59.
[10] Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Paramadina, 1992), hal. lxxiv.
[11] Gellener, Ernest, Muslim Society, (Combridge University Press Gellner, 1994), hal. 16-17.
[12] Mudzhar, Atha, Pendekatan Studi Islam, dalam Teori dan Praktek, (Yogayakarta: Pustaka Pelajar,1998), hal 14.

Minggu, 15 Juni 2014

Mengemas Dakwah sebagai Edukasi Sosial


Judul Buku   : Kajian Dakwah Multiperspektif

Penulis         : Asep Muhyiddin, dkk

Penerbit       : Rosdakarya, Bandung

Cetakan       : I (Pertama),  2014

Tebal           : 336 halaman

Peresensi      : Mujtahid *


DAKWAH adalah seruan atau ajakan yang dilaksanakan para penda’i untuk mengajak dan ”mengilhami” semua orang agar mereka senantiasa berbuat baik. Umumnya, pandangan tentang dakwah, masih dimaknai sebatas kegiatan keagamaan (memuaskan dimensi spiritualitas), pengajian (syukuran, peringatan hari besar Islam), dan siraman rohani yang hanya bermuara dakwah bil lisan (ceramah) melalui mimbar, takshow, atau orasi bebas.  


Padahal, dakwah era kontemporer saat ini tidak cukup hanya dengan lisan (ceramah), melainkan harus dengan aksi nyata (bil hal) dan media tulisan (bil kalam). Model dakwah yang menyentuh dan berdampak positif akan membuat masyarakat lebih merasakan langsung ketimbang dengan ceramah melalui mimbar-mimbar, walaupun hal itu penting.


Dakwah merupakan jalan penerang kehidupan manusia. Para nabi dan rasul diutus untuk menjadi penerang (tanwir) yang mengajak umatnya untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan (fastabiqul khairat). Secara historis, kesuksesan dakwah para nabi/rasul adalah karena pilihan format dan tindakan dakwahnya yang sangat menyentuh dan adaptif terhadap kebutuhan umatnya. Dakwah para nabi/rasul tidak mengambil jalan konfrontatif, apalagi menggunakan cara-cara anarkhis. Strategi dakwah profetik (kenabian) selalu mengedepankan nilai-nilai ”keadaban” dan ”kemanusian” yang agung dan mulia.


Misi besar Islam yang diterjemahkan para nabi, rasul serta para penda’i adalah membuat tatanan masyarakat menjadi cerdas, unggul dan maju. Dakwah sebagai tugas mulia, memiliki makna penting yang luarbiasa dalam membangun alam kesadaran intelektual dan perilaku sosial umat manusia yang etis dan luhur.

Merespon cita-cita mendasar seperti hal di atas, Asep Muhyiddin, dkk melalui buku ini, menghadirkan konstruksi teoritis dan praktis mengemas model dakwah yang solutif. Para pegiat dakwah akan melihat fenomena sosial, membaca realitas masyarakat serta mengaitkan isu-isu global dengan nilai-nilai Islam. Selain berlandaskan teoritis dan praktis, karya ini juga menyuguhkan kajian akademik bersumber pada riset-riset ilmiah tentang problem-problem kajian dakwah.


Misi Dakwah: Edukasi Sosial

Dakwah dapat dimaknai sebagai proses edukasi (pembelajaran) oleh pendidik (nabi/rasul, guru, mursyid) kepada semua orang.  Dakwah merupakan wahana untuk mencerdaskan pikiran (otak), menumbuhkan-suburkan spiritual (jiwa/hati), serta membekali ketrampilan (skill) kepada umat. Peran nyata yang diakibatkan oleh kegiatan dakwah, yaitu melakukan misi edukasi sosial yang terus menerus sepanjang zaman.


Dakwah  era kontemporer sekarang ini membutuhkan metode yang tepat sasaran dan efektif. Mengatasi hal itu, kita perlu mengemas strategi dakwah dengan pendekatan multidimensional, yakni melalui cara-cara adaptif-efektif yang relevan dengan kondisi dan situasi masyarakat. Strategi dakwah yang melintas batas bidang kehidupan, seperti masalah sosial, ekonomi, budaya, keagamaan, politik, pendidikan, pertanian, kelautan, kesehatan  dan seterusnya. Dakwah bil hal akan semakin manjur dan efektif dalam membangun akselerasi tatanan kehidupan sosial lebih baik.


Dakwah era kontemporer dapat dilakukan dengan bentuk pendidikan dan latihan (diklat) yang hasilnya lebih kontributif dan nyata (riil). Selain dakwah yang sifatnya monolog (ceramah), kiranya perlu dipikirkan terobosan baru dengan aksi dan kreasi yang kompatibel dengan persoalan umat. Dakwah adalah solusi mengentaskan persoalan (problem solving) umat, dan bukan malah menambah beban umat. Dakwah menjadikan umat ”teredukasi” (tercerahkan, terpelajar) yang dampaknya mereka mampu mengatasi problematika masing-masing.

Upaya hal tersebut memerlukan peran dakwah secara kolektif, yaitu melalui organisasi masyarakat (ormas), terutama Ormas Islam (Muhammadiyah, Al-Irsyad, Nahdlatul Ulama, Persis, Hidayatullah, dll) sebagai pilihan utama untuk mencerdaskan dan membangun kualitas masyarakat terpelajar. Gerakan dakwah perlu diubah dari bersifat monolog (seremonial), menuju aksi (tindakan) nyata, misalnya memperbesar porsi dakwah dibidang pendidikan, kesehatan, pertanian dan kelautan melalui pembinaan budidaya tanaman dan perikanan, ekonomi melalui pelatihan usaha kecil dan menengah (UKM), serta bentuk-bentuk usaha kreatif lainnya.


Dakwah masa depan diangankan menjadi kebutuhan edukatif umat dan sebagai jalan solusi problem sosial keagamaan. Sebagai rujukan para juru dakwah, sumber bacaan seperti ini diharapkan menjadi inspirasi dan bekal praktis untuk merespons isu-isu strategis dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman.


Gagasan para akademisi ini meneguhkan semangat akademik untuk terus mematangkan dan mengembangkan konstruksi ilmu dakwah, baik secara metodologis maupun ketegasan batasan dan wilayah kajiannya, termasuk menggambarkan ragam problem dan tantangan yang dihadapinya. Selamat Membaca!


*) Mujtahid, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang



Senin, 10 Februari 2014

Meneladani Spirit Hidup Nabi Muhammad SAW

Mujtahid*

SUDAH menjadi tradisi turun temurun di tanah air, bahwa setiap 12 Rabiul Awwal hijriyah umat Islam memperingati kelahiran (milad) Nabi Muhammad Saw. Tradisi itu bahkan dilembagakan oleh kelompok thariqat atau majelis dzikir tertentu dengan memperingatinya berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan hingga berbulan-bulan.

Nabi Muhammad Saw lahir sebagai seorang anak yatim [QS. 93:6] di tanah Jazirah Arab 14 abad yang silam. Kelahiran tersebut telah disetting oleh Sang Khaliq sebagai aktor pencerah (tanwir) yang agung dan mengagungkan peradaban umat manusia. Jejak perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw telah mampu mengubah tatanan masyarakat jahiliyah (awwam) menjadi masyarakat yang cerdas (khawas), beradab dan berakhlak mulia dalam lintasan ruang dan waktu.

Sebagai Nabi dan Rasul, Muhammad Saw berhasil mengubah kultur dari perilaku warga yang suka perpecahan (konflik/skisme) menjadi warga yang bersaudara (ukhuwah) antar bani, suku dan ras. Misi besar kerasulan berikutnya adalah menata sistem keyakinan (keimanan) umat manusia dari yang bercorak aninisme atau dinamisme menjadi pengikut yang monotheisme (tauhid). Perjuangan dan pengorbanan Nabi Muhammad Saw hingga mencapai keberhasilan seperti itu memakan rentang waktu lebih kurang 22 tahun lamanya.
           
Teladan Umat Manusia
Nabi Muhammad Saw ditunjuk oleh Allah sebagai panutan, suri tauladan dan pemimpin umat manusia. Sungguh tidak ada manusia di muka bumi ini yang mampu menandingi budi pekerti, kepribadian dan watak perangainya itu. Dari berbagai sumber referensi shirah nabawiyyah, Nabi Muhammad Saw dikenal sebagai pemimpin yang jujur (shidiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah) dan komunikatif (tabligh) kepada siapa saja melintas batas hereditas, primordialisme maupun sekat-sekat kesukuan, ras dan keyakinan sekalipun.

Pentingnya memperingati milad Nabi Muhammad Saw setiap tahun itu adalah agar kita dapat meneladani “nilai-nilai kepribadian agung”  tersebut menjadi sumber energi jiwa raga pemeluk umat Islam. Peringatan miladurrasul bukan berhenti sebatas seremonial belaka, melainkan kita peringati melalui aksi nyata dengan mencontoh spirit keluhuran budi pekerti dan perangai Rasulullah itu dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw (Muhammadiyah), umat Islam harus tampil sebagai pelaku atau aktor penggerak kemajuan dan keunggulan komunitas, masyarakat, dan negara (khaira ummah) [QS. 3:110]. Kunci-kunci meraih kesuksesan hidup, baik di alam dunia maupun akhirat, juga sudah banyak diperagakan oleh Nabi Muhammad Saw. Pertanyaanya, apakah kita sudah sepenuhnya “memperingati” miladurrasul secara sungguh-sungguh, masuk menjadi bagian dari kepribadian kita?

Gambaran ideal sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw adalah orang yang dapat menjalankan ritme hidupnya bermanfaat bagi orang lain, keterpaduan antara ucapan dan perbuatannya, keberadaan dirinya dirindukan oleh sesamanya, seimbang antara kesalehan ritual (ibadah) dan sosialnya, serta menjadi sosok yang mampu membaca tanda-tanda perubahan zaman.

Sebagai teladan umat manusia, kehebatan Nabi Muhammad Saw adalah mampu memadukan pandangan integralistik Islam secara komprehensif (utuh/holistik) dalam menjaga hubungan dirinya dengan Sang Khaliq (Hablum Minaallah) dan hubungan dirinya dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Cara pandang inilah sebagai kata kunci (keyword) untuk menjadikan diri sebagai manusia pilihan, manusia mulia dan agung, yang terbalut oleh budi pekerti, akhlak mulia dan cerdik cendikia.

Menjaga hubungan dekat antara diri kita dengan Allah dan sesama manusia bukanlah hal yang ringan. Sebab godaan dan rintangan selalu menghadang di mana pun dan kapan pun. Mungkin, kita tidak terasa telah berkongsi (bersekutu) dengan syetan dan Iblis, sehingga jauh dari Allah dan manusia. Nabi Muhammad Saw sukses dan berhasil dalam mengemban misinya, karena teguh dan istiqamah dalam menjaga keseimbangan (equilibrium) hidup antara dekat dengan Tuhan dan Manusia.

Sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw, sepantasnya kita perlu merenungkan kembali seraya menata diri untuk memperbaiki kualitas hidup sesuai dengan prinsip dan nilai-nilai ajaran Islam. Kalau hari ini kita belum dapat merubah diri secara menyeluruh, maka kita mulai lakukan dari hal-hal yang mudah dan sederhana terlebih dahulu.  Setelah yang mudah dan sederhana terlewati, kemudian berikutnya kita gerakkan jiwa, pikiran dan hati untuk berkarya yang lebih besar dan berbobot.

Melalui momentum miladurrasul 1435 hijriah, marilah kita sinergikan antara antara gerak pikiran, jiwa dan hati nurani untuk menebarkan kebaikan, kemanfaatan bagi sesama (rahmatan lil ’alamin) sesuai profesi (bidang pekerjaan) kita masing-masing. Tujuan besar dan misi mulia itu akan terwujud, manakala fungsi kesadaran jiwa hidup, kepekaan hati hidup, dan kecerdasan akal juga hidup seperti teladan Nabi Muhammad Saw. Tidak ada bekal yang kekal yang akan kita miliki, kecuali amal shalih dan ketaqwaan kepada Allah serta mencintai dengan cara meneladani spirit hidup Rasulullah Saw.

*) Dosen PAI FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang



Jumat, 19 April 2013

Islam dan Cita-cita Hidup Manusia

SEBAGAI sebuah agama, Islam adalah ajaran yang menekankan bentuk kepasrahan totalitas. Seperti namanya, sebuah kata dalam bahasa Arab bahwa makna Islam ialah sikap pasrah kepada Allah secara keseluruhan, karena menaruh kepercayaan dan menambatkan hidupnya hanya kepada Allah Swt. Dalam kitab suci al-qur’an ditegaskan bahwa manusia tidak dibenarkan bertindak setengah-setengah. Sebagai makhluk Allah, manusia harus tunduk taat dan patuh kepada Sang Pencipta (Allah), terhadap segala perintah dan larangannya. Allah dengan rahmat-Nya akan membimbing manusia beriman---orang yang hati, lisan dan perbuatannya---berbuah kebajikan untuk dirinya, keluarganya dan masyarakat dan negaranya. Islam memberikan jalan yang menyelamatkan dirinya agar hidupnya bersih, bahagia dan selamat. Islam sebagai agama terakhir yang dibawa Nabi Muhammad Saw memiliki dimensi kesejarahan yang sangat menarik. Menarik bukan saja dari segi doktrin dan risalahnya, namun juga tidak kalah pentingnya adalah dari sudut peristiwa-peristiwa kenabian (profetik) yang dialaminya sebagai rasul terakhir. Islam memuat segala bidang kehidupan. Al-Qur’an membiarakan agar orang mukmin itu selalu berdzikir kepada Allah, berpikir untuk melahirkan ilmu pengetahuan, menggali dan mengeksplorasi ciptaan Allah, serta mengantarkan bahwa ciptaan Allah itu benar-benar membuktikan keagungan-Nya. Jika dilihat dari sudut ajarannya, Islam adalah agama yang memiliki banyak piranti, diantaranya; dimensi pembaruan (tajdid), pembebasan (tauhid) dan universal (rahmatan lil alamin). Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-qur’an bahwa misi kerasulan Muhammad Saw adalah titah universal, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu (QS. 21:107). Mengemban misi universalisme Islam, berarti dalam kerasulannya bukan hanya mendemontrasikan aspek-aspek kehidupan yang bersifat ukhrawi (sakral), melainkan juga memberikan tauladan kemanusiaan, bahwa Nabi Muhammad sendiri menekankan betapa pentingya aspek-aspek kehidupan duniawi (profan) yang tidak bisa diabaikan begitu saja (QS. 28:77). Karena aspek yang kedua ini merupakan bagian dari sekian banyak pilar yang akan ikut memformat kehidupan kehidupan jangka panjang atau eskatologis (ukhrawi). Hijrah sebagaimana yang dikenal dalam sejarah kenabian (Muhammad) adalah rangkaian dari misi kerasulannya sebagai figur mujaddid (reformer, pembaru) akhlak dan moral manusia. Muhammad Saw. melakukan tranformasi kehidupan besar-besaran, dari sosio-kultural yang otoritatif, yang dzalim dan musyrik, menuju tatanan masyarakat madani (civil society). Seorang rasul itu mengemban tugas menyalakan lentara keadilan dan kerahmatan semua manusia. Pesan moral Islam yang digubah rasulullah itu dimaksudkan untuk membuka tatanan baru yang telah kehilangan makna, dengan menawarkan cara hidup yang berkualitas dan berbuah kebaikan. Semangat hijrah dapat dimengerti sebagai perubahan dari tatanan semula yang kurang beradab menjadi beradab, baik menyangkut masalah keyakinan maupun masalah kaidah-kaidah kemasyarakatan. Hijrah mengadung pesan moral yang sangat tinggi untuk merespons ancaman terhadap kelangsungan hidup dan keamanan sosial (QS. 2:218). Pesan hijrah diantaranya adalah telah melahirkan sendi-sendi kehidupan yang berprinsip pada tauhid (liberty). Semula orang Arab menganggap bahwa benda patung adalah Tuhan mereka, yang dianggap mampu memberikan kepastian dan keselamatan hidup. Dengan kedatangan Muhammad, masyarakat Arab berubah keyakinan menjadi monotheisme, meski tidak semua penduduk mempercayainya. Di samping itu, pesan moral hijrah adalah adanya pengakuan prinsip equality (persamaan). Kehadiran Nabi Muhammad di tengah-tengah masyarakat, tidak pernah menomorduakan warganya, lantaran sentimen agama, kelompok, ras dan budaya. Semua warga memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperhatikan sebagaimana yang lain, selama tidak saling mengganggu dan memusuhinya. Kesaksian hijrah ditunjukkan dengan sikap moral yang luhur bahwa betapa pentingnya sikap tasamuh (toleransi) dalam kehidupan sosial. Kemauan bertasamuh merupakan sikap moral yang sadar dan terbuka. Kemauan ini berarti menuntut keberanian dalam menerima perbedaan-perbedaan yang ada. Seruan moral selanjutnya adalah adanya negara hukum. Sebagai sebuah perangkat kehidupan masyarakat, hukum merupakan jantung dari sendi-sendi kedamaian dan keadilan. Rasa kedamain dan keadilan merupakan tujuan kehidupan manusia dalam membangun cita-cita masyarakat, bangsa dan negara. Jadi hijrah merupakan kemauan dalam menegakkan hukum untuk melindungi segala kedzaliman yang terjadi. Tujuan ini adalah melindungai jiwa dan agama sekaligus mengurangi penderitaan kaum tertindas akibat perbuatan yang melanggar hukum (QS. 3:195, 4:100). Seruan ini dipraktekkan Muhammad selama dalam proses kenabiaannya. Dengan ketegasannya itu ia mengatakan bahwa ‘’jika Fathimah (putrinya) mencuri, maka ia akan dipotong tangannya”, seruan ini benar-benar tegas dan lugas tidak memangdang status sosial apapun. Tidak heran kalau kebanyakan pakar melihat bahwa semangat profetik, jika dikaji dari kacamata akademis bukanlah hal yang berlebihan. Namun, pada kenyataannya Nabi Muhammad sebagai figur historis tidak hanya diakui oleh penganutnya sendiri, tetapi juga diakui orang atheis sekalipun. Maxim Rodinson misalnya, ilmuan atheis yang memiliki andil besar dalam memperkenalkan ketokohan Muhammad kepada masyarakat Barat. Belum lagi ilmuan lain seperti Montgomery Watt, Annemarie Schimmel, Martin Lings, ataupun Karen Armstrong yang selama 9 tahun aktif sebagai biarawati. Mereka itu, melalui karya tulisannya dengan segala kelebihan dan kekurangan telah melakukan pembelaan historis-akedemis terhadap reputasi Nabi Muhammad sebagai salah seorang dari sekian tokoh sejarah yang meletakkan dasar, pedoman dan spirit bagi pembangunan peradaban manusia. Karena itu, merupakan keharusan ilmiah belaka jika ilmuan semacam Philip K. Kitti ataupun Marshall G. Hodgson melihat Nabi Muhammad dan agama Islam yang diwariskannya telah sanggup menyulap dunia Arab dari padang pasir gundul menjadi mata air peradaban yang pada gilirannya secara signifikan ikut mewarnai wacana dan perjalanan panjang sejarah dunia. Dari sekian banyak ilmuan Barat di atas mengakui bahwa Muhammad tidak hanya menjadi panutan umat muslim, tetapi merupakan manusia pilihan yang memiliki integritas moral kemanusiaan yang sangat luhur dan bijak. yang menjunjung tinggi moral kemanusiaan. Dengan demikian, hijrah merupakan tahap paling peting dalam perjalanan spiritual manusia kepada jalan ilahi (ketentraman dan kedamaian). Begitu juga, implikasi sosialnya sangat luas dalam membersihkan bentuk-bentuk kemunkaran dan kedzaliman menuju proses pembersihan diri demi tegaknya agama, sebagai pandangan hidup dalam memformat sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan ketatanegaraan. *) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Kamis, 01 September 2011

Menanam Kebajikan dengan Bersilaturrahim

Mujtahid

SETELAH sebulan berpuasa di bulan ramadhan, tradisi umat Islam tanah air adalah merayakan hari raya idul fitri. Hari raya idul fitri merupakan momentum saling kunjung mengunjungi dan bersalam-salaman, serta saling maaf memaafkan. Tradisi sangat mulia itu sudah turun temurun sejak zaman dahulu kala.

Suasana silaturrahim seperti itu menjadi sangat indah dan mengesankan. Mengesankan karena silaturrahim sangat dianjurkan oleh Islam, bahkan menjadi sumber rezeki dan panjang umur seseorang. Tidak sebatas menjadi sumber rezeki dan memperpanjang umur, tetapi bahkan juga dikaitkan dengan melengkapi bulan suci ramadhan, yaitu sebagai penutup dan menyempurnakan ibadah puasa.

Manfaat silaturrahim ialah menjadikan umat Islam agar bisa hidup bersatu dan saling menjaga kebersamaan. Kelebihan lainnya yaitu untuk mengenal lebih dekat para keluarga, sanak kerabat, teman sejawat, dan para kolega yang selama ini kita mengenalnya sebatas melalui bentuk formal, atau acara-acara tertentu yang serba terbatas. Silaturrahim dapat menyambungkan hati ke hati, pikiran ke pikiran dan obsesi-obsesi selama ini belum terjalin atau karena satu hal yang menyebabkan putus kontak.

Sebagai sebuah tradisi yang begitu mensejarah di negeri ini, silaturrahim belum dapat tergeser oleh arus teknologi informasi. Sekalipun sudah banyak handphone sebagai penggati alat komunikasi, tetapi rasanya masih kurang afdhal bila belum berkunjung dan berjabat tangan. Sebab, sebagai nilai-nilai tradisi di masyarakat, seseorang belum dikatakan silaturrahim manakala belum mengulurkan tangan dan bertemu langsung sebagai tanda permohonan maaf.

Begitu pentingnya makna silaturrahim sebagai penyatu keluarga, mempererat ikatan kerabat, dan kolega ditempat kita bekerja, maka hari raya idul fitri menjadi ajang untuk saling kunjung mengunjungi, saling memberi dan menerima maaf satu sama lain. Bahkan tradisi jawa sebelum ramadhan dan hari raya tiba, biasanya ada ater-ater (mengantarkan nasi atau kuwe) dari rumah ke rumah sebagai tanda jalinan kemanusiaan untuk memupuk hati dan sanubari menjadi lebih subur.

Rasa penuh kekerabatan dan persaudaraan itu mestinya tidak sebatas seremonial dan berbasa-basi di kulit luarnya (lahiriyah) saja, akan tetapi harus tumbuh secara utuh antara yang diucapkan/ditampakkan dan dihayati dan tercermin dalam hati sanubarinya. Sebab dengan begitu, makna silaturrahim akan memberikan kemantapan dan keberkahan mendalam sesama kita. Budaya saling memaafkan dan mendo'akan adalah anjuran yang sangat mulia yang perlu kita gerakkan dalam kehidupan sehari-sehari.

Tali silaturrahim membuka kesempatan untuk mengukuhkan sifat kemanusiaan yang paling mendasar untuk saling menjalin hubungan satu sama lain. Manusia diciptakan Allah tidak mungkin ada yang sempurna seperti halnya malaikat, karena dalam dirinya masih ada sifat jahat, riya', takabbur, dan seterusnya. Sehingga tali silaturrahim adalah upaya untuk membersihkan noda-noda dan segala macam sifat tercela yang pernah dilakukan oleh bani adam itu.

Semangat silaturrahim juga mengukuhkan bahwa hubungan sesama manusia itu sangat penting. Barangkali karena kita kurang berhubungan dengan sesema manusia, kita tidak dapat mengalami kemajuan yang cukup berarti. Sebab dimensi silaturrahim itu sangat luas---- tidak saja dalam konteks minal aidin wal faizin atau mohon maaf lahir dan batin ---akan tetapi berkaitan dengan segi pendidikan, moral, sosial, ekonomi dan lain-lain.

Itulah dulu banyak orang berhasil dan sukses karena ada suasana silaturrahim yang tumbuh dan berkembang secara alamiah. Para santri atau murid dulu sering bersilaturrahim kepada guru atau ulama untuk menimba ilmu kepadanya. Tidak saja ilmu yang ditimba, tetapi juga sifat dan perilaku gurunya. Inilah yang sekiranya perlu ditumbuhkan untuk memperbaiki generasi saat ini.

Pada zaman dulu, para santri rela menelusuri jalan yang berbelok dan gelap gulita demi mendapatkan ilmu dengan cara bertemu atau bersilaturrahim kepada guru yang didengarnya. Sebagai tamu (murid) maka selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh gurunya. Sebab tamu itu bagaikan mayit (al-dhuyuf kal mayyit). Seorang tamu tidak boleh mengatur tuan rumah (shahibul bait), apalagi sampai memerintah tuan rumahnya. Itu artinya sebagai tamu yang transaksional, suka mengatur dan hanya ingin untuknya sendiri.

Sehingga makna silaturrahim bila dikaitkan dengan panjang umur, itu memang benar karena silaturrahim yang berkualitas. Silaturrahim yang tidak saja sekedar berjabat tangan lalu pulang, akan tetapi yang mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu lalu seseorang akan dapat hidup yang bermutu dan sangat panjang jika ilmunya itu diamalkan kepada sesamanya.

Silaturrahim tidak boleh hanya untuk kepentingan politik (karena atasan, atau orang memiliki kuasa), apalagi untuk hal-hal yang sifatnya transaksional. Hidup ini harus dibangun antara gerak badan dan suara hati harus seirama. Tidak boleh kalau hati berbicara iya, lalu tangan dan mulut bicara tidak. Itu artinya hidup belum seirama dan sebangun antara luar dan dalamnya. Silaturrahim sesungguhnya menyatukan antara yang luar (lahiriyah) dan yang dalam (batiniyah).

Untuk menyatukan lahiriyah dan batiniyah membutuhkan sikap wara'. Banyak orang yang secara luar terasa tampak indah dan manis, akan tetapi di dalamnya masih menyimpan rasa dendam dan musuh. Sifat inilah oleh Allah akan menjadi bahaya karena bertolak belakang dengan kehidupan sejatinya. Silaturrhamim harus mampu menghapus rasa dendam dan musuh yang selalu mengganjal dalam hati sanubarinya.

Semoga silaturrahim pada tahun ini dapat membuka lembaran baru guna melangkah hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Silaturrahim memberikan jalan kemudahan bagi siapapun untuk mendapatkan pertolongan dan bantuan. Silaturrahim dapat menghempaskan segala macam sifat keburukan dan menanamkan kebajikan untuk sesama manusia. Sehingga manusia dapat mencapai kehidupan yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana do'a yang selalu kita ucapkan "rabbana atina fi dunya hasanah wafil akhiratina hasanah". Itulah sesungguhnya silaturrahim yang hendak kita bangun agar hidup kita mampu menyeimbangkan kemuliyaan antara dimensi hidup di dunia dan di akhirat.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Sabtu, 27 Agustus 2011

Meraih Hari Kemenangan




SEBENTAR lagi, umat Islam akan merayakan hari raya idul fitri 1432 hijriyah. Jika puasa pada bulan ramadhan kali ini berusia 29 hari, maka hari raya (1 Syawal 1432) akan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Tetapi umat Islam Indonesia masih menunggu hasil keputusan rukyat yang akan dilakukan Kementerian Agama RI di seluruh wilayah Indonesia.

Sekalipun tahun ini misalnya harus berbeda penentuan hari raya idul fitri seperti yang pernah terjadi tahun-tahun sebelumnya, sebab Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1432 H bertepatan 30 Agustus 2011, tidak perlu ada perpecahan dan saling menghujat satu sama lain. Menurut prediksi beberapa pakar ilmu falak atau astronomi dikemukakan melalui media maupun dialog-dialog di sebuah forum, bahwa besar kemungkinan akan terjadi perbedaan dalam penentuan hari raya idul fitri kali ini.

Selama ini umat Islam memandang bahwa idul fitri adalah hari kemenangan, hari kembalinya jiwa umat Islam menjadi suci, baik dosa kepada Allah maupun sifat-sifat tercela yang dilakukan kepada sesamanya. Namun apakah setiap muslim secara otomatis mendapatkan hari kemenangan itu? Sebab ramadhan sebagai bulan "madrasatul nafs war ruh" hanyalah proses untuk memberikan pencerahan dan perubahan terhadap jiwa dan perilaku seseorang. Sebagai sarana pencerahan dan perubahan, maka apakah ramadhan dijadikan sebagai latihan pembiasaan yang mampu mengantarkan mereka untuk meraih prestasi kemenangan itu.


Untuk menggapai kemenangan itu biasanya memerlukan beberapa syarat. Pertama, seseorang harus memiliki niat dan motivasi yang kuat. Sekalipun niat dan motivasi itu bentuknya sangat sulit diukur---- sebab niat itu muncul dalam hati atau jiwa ---namun pengaruh niat dan motivasi sangat besar dampaknya bagi keberhasilan untuk menuai sebuah kemenangan. Bahkan, Rasulullah memberikan penjelasan bahwa jika sebuah amal perbuatan tidak diiringi dengan niat, maka semua amal perbuatan tersebut akan sia-sia.


Kemenangan--- apapun bentuk dan macamnya---tidak selalu hadir dengan sendirinya tanpa dibarengi dengan usaha atau ikhtiar. Akan tetapi kemenangan adalah sebuah proses yang melibatkan mata hati dengan sungguh-sungguh tanpa pamrih, riya' dan takabbur. Niat dan motivasi selalu dikaitkan dengan tujuan, harapan dan cita-cita untuk mendapatkan sesuatu, ialah ridha Allah Swt.

Niat dan motivasi menjadikan seseorang mudah bergerak jiwa dan fisiknya untuk melakukan sesuatu, walaupun terkadang agak sulit dan berat dikerjakan. Puasa mendorong orang untuk bersabar, berdisiplin, bertawakkal, serta menjaga lisan dan perbuatan yang tidak pastas dilakukan. Karena dorongan niat dan motivasi, semuanya amal kebaikan yang kita kerjakan menjadi ringan dan mudah.


Jadi niat dan motivasi sepanjang bulan puasa itu adalah modal yang sangat besar untuk menggapai hari kemenangan idul fitri. Artinya pasca ramadhan, niat dan motivasi itu harus kita jaga, bila perlu kita tingkatkan menjadi sebuah kebiasaan yang dapat menyatu dengan jiwa dan raga ini. Itulah cara bagaimana meraih kemenangan harus bersumber pada niat dan motivasi yang benar.


Kedua, kunci meraih kemenangan adalah kesediaan untuk berjuang dan berkorban. Ada banyak orang ingin menang dan berhasil dalam hidupnya, tetapi tidak dilakukan dengan berjuang dan berkorban. Cari ini biasanya didapat dengan cara curang, jalan pintas atau menghalalkan segala cara. Kemenangan mesti harus direbut melalui cara yang etis, sportif dan tanpa mengganggu orang lain.


Puasa selama satu bulan penuh senyatanya mengajarkan tentang pentingnya berjuang dan berkorban. Berjuang dan berkorban, selalu dikaitkan antara harta dan jiwa. Beberapa ayat dalam al-Qur'an, Allah memerintahkan bahwa berjuang dan berkorban itu harus dengan harta dan baru kemudian disusul dengan jiwa raga. Ayat al-Qur'an tersebut khithabnya ditujukan bagi orang yang sekiranya mampu, baik secara finansial (kekayaan) maupun kemampuan jiwa raganya. Namun bentuk pengorbanan itu dapat dikeluarkan sesuai tingkat kemampuannya masing-masing.

Namun tatkala kita melihat beberapa tayangan telivisi, bahwa orang yang selalu tulus ihlas berjuang dan berkorban adalah orang yang hidupnya sederhana, bahkan pas-pasan. Sebaliknya, banyak orang yang secara finalsial cukup dan kaya, tetapi justru semangat memperoleh rezeki dengan cara tidak halal dan menipu. Puasa sesungguhnya mengajari satunya hati dan perbuatan. Apa yang tertanam dihati tercermin atau tampak dari perbuatannya.

Sikap berjuang dan berkorban itu mengalahkan segala macam rintangan serta godaan yang membelenggu kita. Tatkala puasa, kita berjuang untuk tidak marah, tidak menggunjing, tidak menyakiti dan berjuang untuk tidak meninggalkan amal ibadah yang diperintahkan Allah. Dengan berpuasa, kita terasa ringan untuk melaksanakan shalat malam berjama'ah, beri'tikaf di masjid atau mushalla, membaca al-Qur'an hingga khatam, serta masih banyak lagi. Namun anehnya, pasca idul fitri semua aktivitas yang indah dan mulia itu tidak terlihat kembali.


Puasa juga membelajarkan umat Islam untuk membiasakan berkorban. Kalau saat ramadhan seseorang dengan ringan mengeluarkan sedekah, membantu pembangunan masjid, memberi ta'jil, mengeluarkan zakat, serta memberikan beberapa hadiah untuk orang-orang yang perlu mendapatkannya. Sikap berjuang dan berkorban inilah yang kira-kira akan menjadi kunci meraih sebuah hari kemenangan. Tanpa berjuang dan berkorban sulit rasanya untuk meraihnya.

Ketiga, kunci kemenangan memerlukan komunikasi dengan Allah dan sesama manusia. Agar tidak melahirkan sikap takabbur dan egois, bahwa sesungguhnya kemenangan itu adalah semata-mata datangnya dari Allah. Kemenangan juga dapat terjadi karena upaya dan sentuhan oleh orang lain, walaupun usaha berasal dari diri sendiri. Sukses tentu melibatkan kehadiran Allah dan sesama manusia sebagai media yang menyebabkan kita berhasi menang.


Puasa membelajarkan manusia agar dekat dengan Allah dan dekat dengan sesama manusia. Tidak ada satu pun ayat atau hadits yang mengajarkan bahwa pada bulan puasa supaya kita uzlah (menyendiri) meninggalkan aktivitas dan kerjasama dengan orang lain.


Semakin dekat dengan Allah langkah seseorang untuk menjalankan kebaikan akan semakin mudah. Begitu pula dengan bersama-sama (berjama'ah) seseorang menjadi lebih ringan melangkan kakinya untuk datang shalat ke masjid, melantunkan tartil al-qur'an, serta meringankan tangannya untuk menyalurkan rezikinya untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat.

Puasa membelajarkan manusia agar terbangun hubungan yang kuat baik kepada Allah dan manusia (hablum minallah wa hablum minan nas). Barangkali karena hubungan kita kurang dekat dengan sesama manusia, maka rezeki menjadi macet, ilmu yang diperoleh tidak barakah (manfaat),serta tidak dapat menyumbangkan kontribusi untuk orang lain. Puasa selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga mendekatkan diri kepada sesamanya.

Dari ketiga kunci tersebut di atas, semoga kita termasuk orang yang akan mendapat predikat kemenangan itu. Walau kita nanti tidak berada pada bulan ramadhan, kita dapat mempertahankan dan meningkatkan amal ibadah sebagaimana selama bulan ramadhan itu. Orang yang merayakan hari kemenangan idul fitri adalah orang yang mampu mempertahankan serta meningkatkan seluruh amal ibadah seperti bulan ramadhan. Sebaliknya, orang yang tidak menang alias merugi adalah orang yang tidak mampu mempertahankan, apalagi meningkatkan kualitas amal ibadahnya.

*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Kamis, 26 Mei 2011

Kecerdasan Spiritual

MANUSIA adalah makhluk yang paling cerdas, dan Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. Sejumlah temuan para ahli mengarah pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna dan akan menjadi sempurna asalkan bisa menggunakan keunggulan potensinya. Kemampuan menggunakan potensi tersebut sebagai faktor yang membedakan antara orang jenius dan orang yang tidak jenius di bidangnya.
Bila kita lacak secara holistik, maka di dalam diri manusia terdapat banyak sekali kecerdasan. Thorndike (1994), membagi kecerdasan manusia menjadi tiga hal, yaitu kecerdasan abstrak (kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa), Kecerdasan kongkrit (kemampuan memahami objek nyata) dan Kecerdasan Sosial (kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional)
Pakar lain seperti Charles Handy (1990) juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu: Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial)
Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner & Associates konon memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual/Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraskan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik/Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal.
Danah Zohar dan Ian Marshall, menambahkan bahwa dalam diri manusia terdapat kecerdasan spiritual. Suatu kecerdasan yang memberikan pencerahan jiwa manusia. Ia menuangkan betapa pentingnya kecerdasan spiritual memengaruhi setiap prilaku, sikap dan tindakan manusia, baik yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Di samping kecerdasan intelektual dan emosi, kecerdasan spiritual mengangkat jalan hidup manusia lebih bermakna.
Untuk menjadi diri sendiri yang handal, seseorang tidak hanya perlu memiliki kecerdasan intelektual dan emosi, melainkan juga kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual itu merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hati dan budi sehingga menjadi orang yang berkarakter dan berwatak positif.
Plato, seorang filosof pernah berucap bahwa kesengsaraan pada dasarnya disebabkan oleh kebodohan (ignorance). Kebodohan tersebut berakar pada ketidakmampuan seseorang mengenali dirinya sendiri. Oleh karena itu, unsur spiritual sangat diperlukan seperti halnya unsur fisik agar seseorang mampu melihat lebih dalam.
Danah Zohar dan Ian Marshall menekankan bahwa kecerdasan spiritual mampu mengarahkan manusia pada pencarian hakikat kemanusiaannya. Sebab, hakikat manusia itu bisa ditemukan dalam perjumpaan manusia dengan Tuhan. Mistisisme membantu manusia untuk mencari something out there that are unknown (sesuatu di luar sana yang tidak diketahui).
Sehingga kecerdasan spiritual sangat membantu meningkatkan kompetensi seseorang untuk mengambil jalan hidup yang lebih hakiki. Tujuan SQ adalah untuk menaklukkan diri dan mengatur hidup begitu rupa sehingga tidak ada suatu pandangan hidup di bawah pengaruh sikap kelekatan pada apa pun. Kecerdasan spiritual bersifat eksistensial dan memiliki sense of mission.
Kecerdasan spiritual yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan emosional menjadi syarat penting agar manusia dapat lebih memaknai hidup dan menjalani hidup penuh berkah. Terutama pada masa sekarang, di mana manusia modern terkadang melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu.
Danah Zohar dan Ian Marshall, sebagai penggagas awal istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) mengatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’.
Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.
Perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri manusia, sehingga tak mungkin juga dapat dipisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. Seperti kata Thomas Jefferson atau Anthony Robbins, meskipun keputusan yang dibuat harus berdasarkan pengetahuan dan keyakinan sekuat batu karang, tetapi dalam pelaksanaannya, perlu dijalankan sefleksibel orang berenang.
Aplikasi dari kecerdasan spiritual dan didukung dengan kecerdasan lainnya hanyalah satu dari sekian tak terhitung cara hidup, dan seperti kata Bruce Lee, strategi yang paling baik adalah strategi yang kita temukan sendiri di dalam diri kita. “Kalau kamu berkelahi hanya berpaku pada penggunaan strategi yang diajarkan buku di kelas, namanya bukan berkelahi (tetapi belajar berkelahi)”.
*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang