<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277</id><updated>2011-12-17T19:19:45.634+07:00</updated><category term='wanita'/><category term='jurnalistik'/><category term='resensi buku'/><category term='sastra dan budaya'/><category term='peradaban islam'/><category term='sejarah Islam'/><category term='sosok'/><category term='pendidikan'/><category term='puasa'/><category term='anak'/><category term='kepemimpinan'/><category term='tokoh'/><category term='remaja'/><category term='agama'/><category term='filsafat islam'/><category term='ekonomi'/><category term='sosial'/><category term='hadits'/><title type='text'>mujtahid</title><subtitle type='html'>KOMUNITAS PENDIDIKAN</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>206</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-1055606447780391714</id><published>2011-11-14T02:22:00.001+07:00</published><updated>2011-11-14T02:24:46.995+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kepemimpinan'/><title type='text'>Karakteristik Kepemimpinan Profetik</title><content type='html'>KEPEMIMPINAN adalah upaya menggerakkan, mempengaruhi, mengelola, dan membawa berita gembira kepada semua orang. Seorang pemimpin itu merupakan tauladan (contoh), inspirator, motivator dan pembangkit semangat bagi para pengikutnya untuk tergerak hatinya, pikirannya dan perbuatannya mencapai harapan, cita-cita dan tujuan hidup yang ter baik dan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan profetik adalah model kepemimpinan yang digali dari cara rasul/nabi memimpin ummatnya. Para nabi dan rasul, sebagai pemimpin umat manusia di muka bumi ini, memiliki beberapa karakter dan sifat yang sangat agung dan mulia. Berbekalkan sifat dan karakter tersebut, maka semua nabi dan rasul sukses membawa perubahan dan kemajuan membangun sikap hidup pengikut dan masyarakatnya sesuai dengan zamannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan profetik dipandang sebagai pola kepemimpinan yang paling sukses dalam membentuk sebuah tatanan kehidupan manusia yang berkualitas. Nilai-nilai kepemimpinan profetik seyogyanya dapat ditransformasikan ke dalam model kepemimpinan pada lingkup organisasi sosial keagmaan, pendidikan, bahkan tata pemerintahan sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada tujuh karakteristik kepemimpinan profetik yang bisa saya uraikan dalam tulisan ini, yaitu antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memiliki karakter shidiq (jujur). Kepemimpinan profetik mengedepankan integritas moral (akhlak), satunya kata dan perbuatan, kejujuran, sikap dan perilaku etis. Sifat jujur merupakan nilai-nilai transedental yang mencintai dan mengacu kepada kebenaran yang datangnya dari Allah SWT (Shiddiq) dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Perilaku pemimpin yang ”shiddiq” (shadiqun) selalu mendasarkan pada kebenaran dari keyakinannya, jujur dan tulus, adil, serta menghormati kebenaran yang diyakini pihak lain yang mungkin berbeda dengan keyakinannya, bukan merasa diri atau pihaknya paling benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memiliki karakter amanah. Kepemimpinan profetik mengahadirkan nilai-nilai bertanggungjawab, dapat dipercaya, dapat diandalkan, jaminan kepastian dan rasa aman, cakap, profesional dalam melaksanakan tugas kepemimpinannya. Karakter tanggungjawab, terpercaya atau trustworthy (amanah) adalah sifat pemimpin yang senantiasa menjaga kepercayaan (trust) yang diberikan orang lain. Karakter amanah dapat menajamkan kepekaan bathin seorang pemimpin untuk bisa memisahkan antara kepentingan pribadi dan kepentingan publik/organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memiliki karakter tabligh. Kepemimpinan profetik menggunakan kemampuan komunikasi secara efektif, memiliki visi, inspirasi dan motivasi yang jauh ke depan. Seorang pemimpin itu memerlukan kemampuan komunikasi dan  diplomasi dengan bahasa yang mudah dipahami, diamalkan, dan dialami orang lain (tabligh). Sosok pemimpin (seperti karakter nabi dan rasul) bahasanya sangat berbobot, penuh visi dan menginspirasi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memiliki karakter fathanah (cerdas). Kepemimpinan profetik itu mempunyai kecerdasan, baik intelektual, emosional maupun spiritual, kreativitas, peka terhadap kondisi yang ada dan menciptakan peluang untuk kemajuan. Sosok pemimpin itu harus cerdas, kompeten, dan profesional (fathanah). Pemimpin yang mengacu sifat fathonah nabi adalah pemimpin pembelajar, mampu mengambil pelajaran/hikmah dari pengalaman, percaya diri, cermat, inovatif tetapi tepat azas, tepat sasaran, berkomitmen pada keunggulan, bertindak dengan motivasi tinggi, serta sadar bahwa yang dijalankan adalah untuk mewujudkan suatu cita-cita bersama yang akan dicapai dengan cara-cara yang etis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memiliki karekter istiqamah (konsisten/teguh pendirian). Kepemimpinan profetik mengutamakan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement (Istiqamah). Pemimpin yang istiqomah adalah pemimpin yang taat azas, tekun, disiplin, pantang menyerah, bersungguh-sungguh, dan terbuka terhadap perubahan dan pengembangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memiliki karakter mahabbah (cinta, kasih-sayang). Kepemimpinan profetik mengutamakan ajaran cinta (mahabbah) bukan kebencian dan pemaksaan.  Karakter pemimpin profetik selalu peduli (care) terhadap moral dan kemanusiaan, mudah memahami orang lain/berempati, suka memberi tanpa pamrih (altruistik), mencintai semua makhluk karena Allah, dan dicintai para pengikutnya dengan loyalitas sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Memiliki karakter shaleh/ma’ruf (baik, arif, bijak). Kepemimpinan profetik adalah wujud sebuah ketaatan kepada Allah dan mendarmabaktikan dirinya untuk kesalehan, kearifan dan kebajikan bagi masyarakatnya. Ketaatan dan keshalehan para nabi atau rasul berpedoman pada wahyu dan mu’jizat dari Allah. Karakter shaleh/arif dapat melahirkan pesona kharismatik yang merupakan ilham dari ilahi, yang terpancar pada permukaan kulit, tutur kata, pancaran mata, sikap, tindakan, dan penampilan. Seorang pemimpin yang shaleh mempunyai kualitas kepribadian individu yang utuh sehingga menyebabkan orang lain menaruh simpati, percaya dan menganut apa yang diinginkannya. Pemimpin shaleh berarti pemimpin yang dirinya diakui pengikut, karena ketaatannya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-1055606447780391714?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/1055606447780391714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/11/karakteristik-kepemimpinan-profetik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1055606447780391714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1055606447780391714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/11/karakteristik-kepemimpinan-profetik.html' title='Karakteristik Kepemimpinan Profetik'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-777147296534175044</id><published>2011-09-06T22:14:00.001+07:00</published><updated>2011-09-06T22:18:04.297+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Mengenal Budaya dan Kemajuan Lamongan</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMONGAN adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang mengalami pembangunan sangat cepat, terutama infrastruktur, industri dan wisata. Sejak satu dasawarsa terakhir, Lamongan dikenal sebagai daerah yang beberapa kali meraih penghargaan otonomi award dari propinsi Jawa Timur dan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM). Keberhasilan lainnya adalah merebut sebagai kabupaten yang mampu menciptakan  good goverment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan memiliki tradisi dan budaya yang beragam (multi culture). Warga lamongan sangat dikenal memiliki etos yang tinggi, pekerja keras, dan tidak mudah menyerah. Orang Lamongan sangat menghargai kesempatan dan waktu untuk digunakan hal-hal produktif. Orang Lamongan, baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja di sektor apa pun. Namun yang lebih mengesankan adalah adanya kerjasama dan komunikasi yang baik antara suami dan istri yang rela saling berbagi pekerjaan demi menunjang kesuksesan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas mata pencarian warga Lamongan adalah petani dan nelayan. Sisanya ada yang menjadi pedagang, Guru, PNS, dan TKI di negara jiran Malaysia. Budaya warga Lamongan adalah tidak selalu menggantungkan seorang suami sebagai kepala keluarga, tetapi suami-istri sama-sama mengambil peran masing-masing. Dalam soal pekerjaan untuk mendapatkan rezeki, suami-istri kerja di sawah adalah hal yang biasa. Suami pergi ke laut dan istri membetulkan jala/jaring adalah hal yang lumrah. Itulah hidup kebersamaan yang tampak sehat dan harminis. Hal lain yang dapat ditemui yaitu jarang terjadi perceraian suami-istri, sebagaimana orang yang hidup diperkotaan, apalagi perilaku seorang artis di ibu kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resep hidup kebersamaan itulah menjadi modal utama bagi orang Lamongan untuk membangun sebuah keluarga sakinah mawaddah warahmah. Orang Lamongan suka hidup apa adanya, tanpa harus menunjukkan sesuatu yang bukan menjadi milik dan kepunyaannya. Kehebatan budaya Lamongan ialah semangat menghargai dan mencintai kebersamaan dalam berbagai keberbedaan yang ada. Budaya seperti itu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dalam lingkup keluarga, dan lebih-lebih di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah Lamongan terbagi menjadi beberapa bagian, yakni pesisir, tengah kota dan pedalaman. Ketiga wilayah itu selain memiliki kesamaan juga memiliki kharakteristik dan ciri berbeda. Biasanya, budaya pesisir dikenal sebagai budaya yang keras dan orang-orangnya bermental pantang menyerah. Warga pesisir dijuluki sebagai warga yang berperilaku religius. Paham keagamaan mereka sangat kuat dan rajin menjalankan ibadah. Shalat jama'ah lima waktu dibeberapa masjid dan mushalla tampak ramai seperti shalat jum'at. Demikian halnya dengan puasa, walau mereka bekerja sangat berat dan menantang karena sengatan matahari begitu panas, akan tetapi mereka jarang sekali meninggalkan puasanya hanya gara-gara pekerjaan dan sengatan terik matahari. Hal ini sangat berbeda sekali dengan perilaku orang kota---- yang terbiasa hidup manja dan enak---- mereka mudah menggugurkan sebuah perintah dan kewajibannya hanya sebuah halangan dan tantangan yang tidak begitu berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentuhan Pemimpin Kreatif&lt;br /&gt;Sejak kepemimpinan Bupati Masfuk sepuluh tahun silam, Lamongan bagaikan disulap menjadi daerah yang maju, inovatif dan terkelola dengan baik. Potensi daerah yang selama ini masih belum tergali dan dimanfaatkannya, kini dioptimalkan dengan sangat luar biasa. Sebut saja misalnya, Masfuk membangun Wisata Bahari Lamongan (WBL), melengkapi Goa Maharani dengan binatang yang saat ini menjadi Maharani Zoo dan mendirikan hotel yang startegis di pesisir Laut Tanjung Kodok, membangun pelabuhan, pusat-pusat perbelanjaan, hingga sampai penciptaan becak bermotor, agar orang yang meraik becak tidak lagi bermodalkan "dengkul" tatapi dengan mesin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski potensi itu sudah ada sejak dulu kala, bahkan takdir sunnahtullah serasa tidak seperti sekarang ini yang kita bayangkan. Tanjung Kodok sebagai kelebihan bibir pantai Lamongan sama sekali tidak pernah dipikirkan. Melalui tangan dingin Masfuk, semua potensi tersebut dimanfaatkan sebagai objek wisata dengan menggandeng investor asing untuk menginvestasikan modalnya di Lamongan. Jadilah Wisata yang menawan para pengunjung dan penziarah untuk melihat keindahan yang Allah takdirkan berjuta-juta tahun yang silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini ikon Lamongan terpusat pada WBL, sebagai tempat jujukan wisata para datang dari mana pun. Sekalipun lamongan memiliki wisata yang begitu eksotik, tetapi Lamongan tidak mau meninggalkan buadanya, yaitu religius. Lihat saja, di area WBL dibangun sebuah Masjid yang megah dan strategis bagi para pengunjung yang akan menunaikan shalat. Para wisatawan yang hendak shalat tidak perlu lagi menemui kesulitan mencari tempat shalat sebagaimana tempat wisata lainnya. Itulah sebuah ciri khas Lamongan yang sekalipun mengusung budaya modern, tetapi tetapi menghargai nilai-nilai yang religius yang masih kental diyakini orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan WBL tidak lepas dari sebuah masyarakat pesisir Paciran-Lamongan. Masyarakat ini dikenal sangat kuat mempertahankan nilai-nilai religiusnya. Bahkan, untuk hari libur saja, orang Paciran lebih memilih hari jum'at ketimbang hari minggu. Tentu saja budaya tersebut lahir, bukan tanpa maksud. Bahwa hari jum'at adalah hari yang harus di hormati, karena seorang laki-laki wajib shalat jum'at. Sehingga sekolah/madrasah liburnya memilih hari jum'at, beberapa pekerja (nelayan dan buruh), memilih jum'at sebagai hari libur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Lamongan yang perlu diapresiasi adalah dari kabupaten yang sama sekali tidak diperhitungkan dan dikunjungi orang, kini menjadi kabupaten yang rata-rata perharinya tidak kurang dari 5000 pengunjung menengok keindahan wisata Lamongan, baik itu WBL, Maharani Zoo, maupun Makam Sunan Drajat. Bisa kita bayangkan, berapa putaran roda ekonomi yang terjadi dimasyarakat sekitarnya, yang mampu memberi penghidupan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Lamongan juga dikenal sebagai tempat makam salah satu walisongo, yaitu Sunan Drajat. Sunan Drajat adalah seorang wali yang hidupnya sangat sederhana dan memiliki kekhasan dalam berdakwah. Sunan Drajat berhasil mengislamkan daerah pesisir tanpa harus konfrontasi (berkonflik) dengan adat istiadat dan budaya setempat. Islam yang diajarkan Sunan Drajat adalah Islam mengayomi dan melindungi semua warga masyakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak luput perhatian dari pemimpin Lamongan, Masfuk memainkan Makam Sunan Drajat sebagai potensi religi yang sangat penting untuk dikelola sebagai tempat wisata yang menguntungkan daerah dan masyarakat sekitar. Potensi ekonomi menjadi hidup berdampingan dengan wisata budaya religi yang menyatu dengan daerah setempat. Setelah dibangun dan dilengkapi dengan berbagai pusat perbelanjaan, kini pengunjung Makam Sunan Drajat datang dari berbagai wilayah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamongan juga membangun sebuah pelabuhan bernama PT. Lamongan Integrated Shorebase (LIS). Pelabuhan ini akan difungsikan untuk menyediakan sentra logistik terpadu bertaraf internasional. Dengan adanya pelabuhan itu, maka sentra logistik akan mampu melayani industri Migas yang beroperasi di Jawa Timur dan Indonesia Timur dengan konsep One Stop Hypermarket. Capaian ini merupakan keberhasilan Lamongan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.&lt;br /&gt;Sumber potensi lamongan lainnya adalah padi dan ikan. Untuk Propinsi Jawa Timur, Lamongan telah surplus menyumbangkan beras untuk masyarakatnya dan kelebihannya di ekspor ke luar daerah Lamongan. Lamongan termasuk lumbungnya padi. Demikian halnya dengan ikan, Lamongan memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Jawa Timur, yaitu pelabuhan Brondong yang dulu diresmikan oleh Presiden Soeharto Tahun 1980an. Ikan yang bongkar muat di pelabuhan Brondong mampu mesuplai semua warga Lamongan hingga dapat dikomsumsi sampai ke berbagai daerah di pulau Jawa dan keluar pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cabang olah raga, Lamongan juga dikenal dengan sepak bolanya. Persatuan Sepak Bola Lamongan (Persela) mampu mengangkat reputasi nama Lamongan di pentas nasional. Persela beberapa kali telah menorehkan juara I Propinsi Jawa Timur. Tahun 2011 ini, persela U21 telah menyabet juara I Nasional. Prestasi demi prestasi yang lahir tentu bukan lahir dari sebuah ketidaksengajaan, akan tetapi merupakan upaya yang dirancang, dipersiapkan dan dikelola dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak kemajuan yang ditorehkan Lamongan tersebut, yang perlu mendapat aksentuasi (perhatian/penekanan) yaitu adanya sikap mau maju, serius dan komitmen dalam memegang tugas dan amanah. Warga Lamongan tidak suka hidup kepura-puraan, akan tetapi menyukai hidup yang lugas, apa adanya dan tanpa pamrih. &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-777147296534175044?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/777147296534175044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/09/mengenal-buadaya-dan-kemajuan-lamongan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/777147296534175044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/777147296534175044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/09/mengenal-buadaya-dan-kemajuan-lamongan.html' title='Mengenal Budaya dan Kemajuan Lamongan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-5311519087194791339</id><published>2011-09-01T22:12:00.000+07:00</published><updated>2011-09-06T22:14:19.468+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Menanam Kebajikan dengan Bersilaturrahim</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH sebulan berpuasa di bulan ramadhan, tradisi umat Islam tanah air adalah merayakan hari raya idul fitri. Hari raya idul fitri merupakan momentum saling kunjung mengunjungi dan bersalam-salaman, serta saling maaf memaafkan. Tradisi sangat mulia itu sudah turun temurun sejak zaman dahulu kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana silaturrahim seperti itu menjadi sangat indah dan mengesankan. Mengesankan karena silaturrahim sangat dianjurkan oleh Islam, bahkan menjadi sumber rezeki dan panjang umur seseorang. Tidak sebatas menjadi sumber rezeki dan memperpanjang umur, tetapi bahkan juga dikaitkan dengan melengkapi bulan suci ramadhan, yaitu sebagai penutup dan menyempurnakan ibadah puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat silaturrahim ialah menjadikan umat Islam agar bisa hidup bersatu dan saling menjaga kebersamaan. Kelebihan lainnya yaitu untuk mengenal lebih dekat para keluarga, sanak kerabat, teman sejawat, dan para kolega yang selama ini kita mengenalnya sebatas melalui bentuk formal, atau acara-acara tertentu yang serba terbatas. Silaturrahim dapat menyambungkan hati ke hati, pikiran ke pikiran dan obsesi-obsesi selama ini belum terjalin atau karena satu hal yang menyebabkan putus kontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah tradisi yang begitu mensejarah di negeri ini, silaturrahim belum dapat tergeser oleh arus teknologi informasi. Sekalipun sudah banyak handphone sebagai penggati alat komunikasi, tetapi rasanya masih kurang afdhal bila belum berkunjung dan berjabat tangan. Sebab, sebagai nilai-nilai tradisi di masyarakat, seseorang belum dikatakan silaturrahim manakala belum mengulurkan tangan dan bertemu langsung sebagai tanda permohonan maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pentingnya makna silaturrahim sebagai penyatu keluarga, mempererat ikatan kerabat, dan kolega ditempat kita bekerja, maka hari raya idul fitri menjadi ajang untuk saling kunjung mengunjungi, saling memberi dan menerima maaf satu sama lain. Bahkan tradisi jawa sebelum ramadhan dan hari raya tiba, biasanya ada ater-ater (mengantarkan nasi atau kuwe) dari rumah ke rumah sebagai tanda jalinan kemanusiaan untuk memupuk hati dan sanubari menjadi lebih subur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penuh kekerabatan dan persaudaraan itu mestinya tidak sebatas seremonial dan berbasa-basi di kulit luarnya (lahiriyah) saja, akan tetapi harus tumbuh secara utuh antara yang diucapkan/ditampakkan dan dihayati dan tercermin dalam hati sanubarinya. Sebab dengan begitu, makna silaturrahim akan memberikan kemantapan dan keberkahan mendalam sesama kita. Budaya saling memaafkan dan mendo'akan adalah anjuran yang sangat mulia yang perlu kita gerakkan dalam kehidupan sehari-sehari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tali silaturrahim membuka kesempatan untuk mengukuhkan sifat kemanusiaan yang paling mendasar untuk saling menjalin hubungan satu sama lain. Manusia diciptakan Allah tidak mungkin ada yang sempurna seperti halnya malaikat, karena dalam dirinya masih ada sifat jahat, riya', takabbur, dan seterusnya. Sehingga tali silaturrahim adalah upaya untuk membersihkan noda-noda dan segala macam sifat tercela yang pernah dilakukan oleh bani adam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat silaturrahim juga mengukuhkan bahwa hubungan sesama manusia itu sangat penting. Barangkali karena kita kurang berhubungan dengan sesema manusia, kita tidak dapat mengalami kemajuan yang cukup berarti. Sebab dimensi silaturrahim itu sangat luas---- tidak saja dalam konteks minal aidin wal faizin atau mohon maaf lahir dan batin ---akan tetapi berkaitan dengan segi pendidikan, moral, sosial, ekonomi dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah dulu banyak orang berhasil dan sukses karena ada suasana silaturrahim yang tumbuh dan berkembang secara alamiah. Para santri atau murid dulu sering bersilaturrahim kepada guru atau ulama untuk menimba ilmu kepadanya. Tidak saja ilmu yang ditimba, tetapi juga sifat dan perilaku gurunya. Inilah yang sekiranya perlu ditumbuhkan untuk memperbaiki generasi saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dulu, para santri rela menelusuri jalan yang berbelok dan gelap gulita demi mendapatkan ilmu dengan cara bertemu atau bersilaturrahim kepada guru yang didengarnya. Sebagai tamu (murid) maka selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh gurunya. Sebab tamu itu bagaikan mayit (al-dhuyuf kal mayyit). Seorang tamu tidak boleh mengatur tuan rumah (shahibul bait), apalagi sampai memerintah tuan rumahnya. Itu artinya sebagai tamu yang transaksional, suka mengatur dan hanya ingin untuknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga makna silaturrahim bila dikaitkan dengan panjang umur, itu memang benar karena silaturrahim yang berkualitas. Silaturrahim yang tidak saja sekedar berjabat tangan lalu pulang, akan tetapi yang mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu lalu seseorang akan dapat hidup yang bermutu dan sangat panjang jika ilmunya itu diamalkan kepada sesamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturrahim tidak boleh hanya untuk kepentingan politik (karena atasan, atau orang memiliki kuasa), apalagi untuk hal-hal yang sifatnya transaksional. Hidup ini harus dibangun antara gerak badan dan suara hati harus seirama. Tidak boleh kalau hati berbicara iya, lalu tangan dan mulut bicara tidak. Itu artinya hidup belum seirama dan sebangun antara luar dan dalamnya. Silaturrahim sesungguhnya menyatukan antara yang luar (lahiriyah) dan yang dalam (batiniyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyatukan lahiriyah dan batiniyah membutuhkan sikap wara'. Banyak orang yang secara luar terasa tampak indah dan manis, akan tetapi di dalamnya masih menyimpan rasa dendam dan musuh. Sifat inilah oleh Allah akan menjadi bahaya karena bertolak belakang dengan kehidupan sejatinya. Silaturrhamim harus mampu menghapus rasa dendam dan musuh yang selalu mengganjal dalam hati sanubarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga silaturrahim pada tahun ini dapat membuka lembaran baru guna melangkah hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama. Silaturrahim memberikan jalan kemudahan bagi siapapun untuk mendapatkan pertolongan dan bantuan. Silaturrahim dapat menghempaskan segala macam sifat keburukan dan menanamkan kebajikan untuk sesama manusia. Sehingga manusia dapat mencapai kehidupan yang mulia, baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana do'a yang selalu kita ucapkan "rabbana atina fi dunya hasanah wafil akhiratina hasanah". Itulah sesungguhnya silaturrahim yang hendak kita bangun agar hidup kita mampu menyeimbangkan kemuliyaan antara dimensi hidup di dunia dan di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-5311519087194791339?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/5311519087194791339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/09/menanam-kebajikan-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5311519087194791339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5311519087194791339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/09/menanam-kebajikan-dengan.html' title='Menanam Kebajikan dengan Bersilaturrahim'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8887861985710242047</id><published>2011-08-27T17:27:00.000+07:00</published><updated>2011-08-27T17:28:02.804+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Meraih Hari Kemenangan</title><content type='html'>&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBENTAR lagi, umat Islam akan merayakan hari raya idul fitri 1432 hijriyah. Jika puasa pada bulan ramadhan kali ini berusia 29 hari, maka hari raya (1 Syawal 1432) akan jatuh pada hari Selasa, 30 Agustus 2011. Tetapi umat Islam Indonesia masih menunggu hasil keputusan rukyat yang akan dilakukan Kementerian Agama RI di seluruh wilayah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun tahun ini misalnya harus berbeda penentuan hari raya idul fitri seperti yang pernah terjadi tahun-tahun sebelumnya, sebab Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1432 H bertepatan 30 Agustus 2011, tidak perlu ada perpecahan dan saling menghujat satu sama lain. Menurut prediksi beberapa pakar ilmu falak atau astronomi dikemukakan melalui media maupun dialog-dialog di sebuah forum, bahwa besar kemungkinan akan terjadi perbedaan dalam penentuan hari raya idul fitri kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini umat Islam memandang bahwa idul fitri adalah hari kemenangan, hari kembalinya jiwa umat Islam menjadi suci, baik dosa kepada Allah maupun sifat-sifat tercela yang dilakukan kepada sesamanya. Namun apakah setiap muslim secara otomatis mendapatkan hari kemenangan itu? Sebab ramadhan sebagai bulan "madrasatul nafs war ruh" hanyalah proses untuk memberikan pencerahan dan perubahan terhadap jiwa dan perilaku seseorang. Sebagai sarana pencerahan dan perubahan, maka apakah ramadhan dijadikan sebagai latihan pembiasaan yang mampu mengantarkan mereka untuk meraih prestasi kemenangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggapai kemenangan itu biasanya memerlukan beberapa syarat. Pertama, seseorang harus memiliki niat dan motivasi yang kuat. Sekalipun niat dan motivasi itu bentuknya sangat sulit diukur---- sebab niat itu muncul dalam hati atau jiwa ---namun pengaruh niat dan motivasi sangat besar dampaknya bagi keberhasilan untuk menuai sebuah kemenangan. Bahkan, Rasulullah memberikan penjelasan bahwa jika sebuah amal perbuatan tidak diiringi dengan niat, maka semua amal perbuatan tersebut akan sia-sia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan--- apapun bentuk dan macamnya---tidak selalu hadir dengan sendirinya tanpa dibarengi dengan usaha atau ikhtiar. Akan tetapi kemenangan adalah sebuah proses yang melibatkan mata hati dengan sungguh-sungguh tanpa pamrih, riya' dan takabbur. Niat dan motivasi selalu dikaitkan dengan tujuan, harapan dan cita-cita untuk mendapatkan sesuatu, ialah ridha Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat dan motivasi menjadikan seseorang mudah bergerak jiwa dan fisiknya untuk melakukan sesuatu, walaupun terkadang agak sulit dan berat dikerjakan. Puasa mendorong orang untuk bersabar, berdisiplin, bertawakkal, serta menjaga lisan dan perbuatan yang tidak pastas dilakukan. Karena dorongan niat dan motivasi, semuanya amal kebaikan yang kita kerjakan menjadi ringan dan mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi niat dan motivasi sepanjang bulan puasa itu adalah modal yang sangat besar untuk menggapai hari kemenangan idul fitri. Artinya pasca ramadhan, niat dan motivasi itu harus kita jaga, bila perlu kita tingkatkan menjadi sebuah kebiasaan yang dapat menyatu dengan jiwa dan raga ini. Itulah cara bagaimana meraih kemenangan harus bersumber pada niat dan motivasi yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kunci meraih kemenangan adalah kesediaan untuk berjuang dan berkorban. Ada banyak orang ingin menang dan berhasil dalam hidupnya, tetapi tidak dilakukan dengan berjuang dan berkorban. Cari ini biasanya didapat dengan cara curang, jalan pintas atau menghalalkan segala cara. Kemenangan mesti harus direbut melalui cara yang etis, sportif dan tanpa mengganggu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa selama satu bulan penuh senyatanya mengajarkan tentang pentingnya berjuang dan berkorban. Berjuang dan berkorban, selalu dikaitkan antara harta dan jiwa. Beberapa ayat dalam al-Qur'an, Allah memerintahkan bahwa berjuang dan berkorban itu harus dengan harta dan baru kemudian disusul dengan jiwa raga. Ayat al-Qur'an tersebut khithabnya ditujukan bagi orang yang sekiranya mampu, baik secara finansial (kekayaan) maupun kemampuan jiwa raganya. Namun bentuk pengorbanan itu dapat dikeluarkan sesuai tingkat kemampuannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tatkala kita melihat beberapa tayangan telivisi, bahwa orang yang selalu tulus ihlas berjuang dan berkorban adalah orang yang hidupnya sederhana, bahkan pas-pasan. Sebaliknya, banyak orang yang secara finalsial cukup dan kaya, tetapi justru semangat memperoleh rezeki dengan cara tidak halal dan menipu. Puasa sesungguhnya mengajari satunya hati dan perbuatan. Apa yang tertanam dihati tercermin atau tampak dari perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap berjuang dan berkorban itu mengalahkan segala macam rintangan serta godaan yang membelenggu kita. Tatkala puasa, kita berjuang untuk tidak marah, tidak menggunjing, tidak menyakiti dan berjuang untuk tidak meninggalkan amal ibadah yang diperintahkan Allah. Dengan berpuasa, kita terasa ringan untuk melaksanakan shalat malam berjama'ah, beri'tikaf di masjid atau mushalla, membaca al-Qur'an hingga khatam, serta masih banyak lagi. Namun anehnya, pasca idul fitri semua aktivitas yang indah dan mulia itu tidak terlihat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa juga membelajarkan umat Islam untuk membiasakan berkorban. Kalau saat ramadhan seseorang dengan ringan mengeluarkan sedekah, membantu pembangunan masjid, memberi ta'jil, mengeluarkan zakat, serta memberikan beberapa hadiah untuk orang-orang yang perlu mendapatkannya. Sikap berjuang dan berkorban inilah yang kira-kira akan menjadi kunci meraih sebuah hari kemenangan. Tanpa berjuang dan berkorban sulit rasanya untuk meraihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kunci kemenangan memerlukan komunikasi dengan Allah dan sesama manusia. Agar tidak melahirkan sikap takabbur dan egois, bahwa sesungguhnya kemenangan itu adalah semata-mata datangnya dari Allah. Kemenangan juga dapat terjadi karena upaya dan sentuhan oleh orang lain, walaupun usaha berasal dari diri sendiri. Sukses tentu melibatkan kehadiran Allah dan sesama manusia sebagai media yang menyebabkan kita berhasi menang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa membelajarkan manusia agar dekat dengan Allah dan dekat dengan sesama manusia. Tidak ada satu pun ayat atau hadits yang mengajarkan bahwa pada bulan puasa supaya kita uzlah (menyendiri) meninggalkan aktivitas dan kerjasama dengan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin dekat dengan Allah langkah seseorang untuk menjalankan kebaikan akan semakin mudah. Begitu pula dengan bersama-sama (berjama'ah) seseorang menjadi lebih ringan melangkan kakinya untuk datang shalat ke masjid, melantunkan tartil al-qur'an, serta meringankan tangannya untuk menyalurkan rezikinya untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa membelajarkan manusia agar terbangun hubungan yang kuat baik kepada Allah dan manusia (hablum minallah wa hablum minan nas). Barangkali karena hubungan kita kurang dekat dengan sesama manusia, maka rezeki menjadi macet, ilmu yang diperoleh tidak barakah (manfaat),serta tidak dapat menyumbangkan kontribusi untuk orang lain. Puasa selain untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga mendekatkan diri kepada sesamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ketiga kunci tersebut di atas, semoga kita termasuk orang yang akan mendapat predikat kemenangan itu. Walau kita nanti tidak berada pada bulan ramadhan, kita dapat mempertahankan dan meningkatkan amal ibadah sebagaimana selama bulan ramadhan itu. Orang yang merayakan hari kemenangan idul fitri adalah orang yang mampu mempertahankan serta meningkatkan seluruh amal ibadah seperti bulan ramadhan. Sebaliknya, orang yang tidak menang alias merugi adalah orang yang tidak mampu mempertahankan, apalagi meningkatkan kualitas amal ibadahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8887861985710242047?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8887861985710242047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/08/meraih-hari-kemenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8887861985710242047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8887861985710242047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/08/meraih-hari-kemenangan.html' title='Meraih Hari Kemenangan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6467346041267673835</id><published>2011-08-24T21:32:00.000+07:00</published><updated>2011-08-24T21:33:26.376+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Tradisi Mudik Kian Mengasyikkan</title><content type='html'>SETIAP tahun, jumlah pemudik lebaran mengalami peningkatan. Tahun ini diprediksi meningkat lebih banyak dari tahun kemarin. Ritual tahunan ini selain membuat ruas jalan transportasi arus utama menjadi sangat padat, juga rawan kecelakaan (bahaya) dan mengundang tindakan kriminal bagi sekelompok orang yang memanfaatkan kesempatan mudik ini. Tak hanya itu, harga tiketpun juga sebagian mengalami kenaikan sesaat yang dinilai sangat memberatkan para pemudik.&lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;Kalau setiap tahun mengalami kenaikan kuantitas pemudik, berarti pada setiap tahunnya juga mengalami “urbanisasi” pada semua kelas masyarakat, baik para pekerja, pelajar, pedagang, politisi ataupun para “pengemis”. Suasana mudik memang menjadi khas budaya Indonesia, yang memiliki makna dan nilai sangat urgent bagi kehidupan sosial. Mudik adalah tradisi masyarakat untuk merayakan hari raya atau hari besar Islam dengan cara kembali ke tanah air atau kampong halaman. Mereka mudik (kembali) ke kampong halamannya ialah untuk menjalin silaturrahim kepada orangtua, sanak saudara dan para tetangga yang dulu pernah hidup bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik dari tahun ke tahun tidak pernah mengalami sepi, melainkan justru semakin bertambah ramai. Ramainya para pemudik itu juga ikut menyemarakkan lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Mereka pulang kampong dengan membawa oleh-oleh khas, mulai dari barang yang berupa sandang/pakaian, makanan, buah-buahan yang sudah diawetkan, obat-obatan, hingga berupa harta/uang untuk dibagi kepada anggota keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya kita sebagai umat Islam, harus menyempurnakan ibadah puasa itu dengan menyambung silaturrahim kepada orangtua, sanak keluarga dan orang-orang yang selalu dekat dengan kita. Sehingga walaupun tempat/daerah itu terasa jauh, kita rela mudik dengan biaya, tenaga dan pengorbanan yang tidak ringan, demi untuk menjalin silaturrahim, saling berma’afan dan menikmati  “kebersamaan” atau “bercengkrama” dengan orang yang selama ini lama kita tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi mudik memang sangat unik. Dibilang unik karena ada sebuah ‘magnit batin’ atau ikatan emosional antara pelaku dengan keluarga, sanak saudara, komunitas kampungnya, serta kekhasan lain, seperti kerinduan akan makanan, minuman, budaya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya lebaran atau “riyayan” hingga saat ini ternyata masih sangat kuat. Padahal di zaman yang sudah mengalami perubahan sangat besar khususnya teknologi dan informasi juga tidak mampu menggantikan tradisi dan ritual tahunan ini. Sejak dulu masyarakat Indonesia, mulai dari aspek tradisi-budaya hingga kesukuan, memang dikenal sangat kuat jiwa paternalistiknya. Penyatuan mereka terasa kembali utuh jika mereka bisa bertemu dengan orang-orang dekat, keluarga, bahasa, kampung, serta karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa rindu, cinta, dan kasih sayang pantas hanya untuk insan (manusia) yang berhati suci. Tatkala mereka lama meninggalkan segala apa yang mereka tinggalkan, maka  ada saatnya mereka untuk bisa bertemu kembali, yaitu melalui mudik lebaran. Ada luapan perasaan dari lubuk hati sanubari yang dalam yakni suka cita yang terpancar disaat berkumpul bersama orangtua, suami, istri, anak, dan keluarga dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau boleh diilustrasikan, sepertinya ada semacam suntikan energi (cahaya/kekuatan baru) yang merasuk kedalam dada sanubari seorang insan, setelah bersilaturrahim dengan mereka itu. Jiwa saling memafkan, mendo’akan, “berbagi” merupakan “manhaj” atau jalan untuk melepaskan rasa kangen dan menyambung kembali tali ikat persaudaraan (ukhuwah) yang telah terputus, karena pekerjaan, tugas belajar, merantau mencari nasib keberuntungan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menata jalan ‘hidup yang panjang’ memang butuh nasehat, pengalaman, dan do’a dari orangtua, keluarga kerabat bahkan dari siapapun. Sehingga sesukses apapun orang, jalan itu sangat penting untuk tetap dilestarikan. Yaitu dengan cara menyapa orangtua, saudara, keluarga dekat, guru, serta siapa saja yang pernah berjasa. Moment lebaran adalah suasana untuk memperkukuh tali persaudaraan yang terputus dan melepaskan segala prasangka buruk dan keji kepada siapapun.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga para pemudik tahun ini dapat menemukan makna dan arti yang hakiki dari tradisi ritual yang mensejarah itu. Proses mudik yang dilakukan tidak menambah beban kepada banyak pihak, tetapi mampu menemukan solusi, menumbuhkan jiwa yang fitri, tulus, jujur dan sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6467346041267673835?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6467346041267673835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/08/tradisi-mudik-kian-mengasyikkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6467346041267673835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6467346041267673835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/08/tradisi-mudik-kian-mengasyikkan.html' title='Tradisi Mudik Kian Mengasyikkan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8236760406608495347</id><published>2011-08-14T09:14:00.000+07:00</published><updated>2011-08-14T09:27:15.277+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Asah Kreativitas Guru Melalui PLPG</title><content type='html'>&lt;br /&gt;Mujtahid*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK seminggu yang lalu Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menyelenggarakan kegiatan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) bagi guru-guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sekolah umum dan Islam. Pelatihan yang diikuti oleh para guru SD hingga SMA itu merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan Fakultas Tarbiyah sebagai lembaga LPTK yang berhak untuk mensertifikasi guru PAI dilingkungan Kementerian Agama RI.&lt;br /&gt;Berbeda dengan format tahun sebelumnya, saat ini sertifikasi guru langsung mengikuti PLPG tanpa melalui tahap uji penilaian portofolio guru seperti biasanya. Portofolio guru adalah kumpulan dokumen outentik yang pernah dilaksanakan atau diraih guru sepanjang menjabat tugas sebagai guru dan ditunjang dengan bukti-bukti administrasi lain yang sah. Sertifikasi guru melalui jalur penilain portofolio guru pada tahun ini sepertinya dihentikan karena beberapa alasan yang kurang efektif dan kredibel.&lt;br /&gt;Memang sejak awal digulirkan, sertifikasi guru melalui penilaian portofolio dipandang kurang efektif dan fokus untuk melihat dan mengukur kompetensi guru. Kalau ukurannya peningkatan kompetensi, rasanya sulit jika alat ukurnya adalah hanya melalui penilaian dokumen. Apalagi, akhir-akhir ini, tidak sedikit para guru yang berhasil lulus sertifikasi jalur portofolio itu justru bukan dari upayanya sendiri, melainkan atas sentuhan pihak lain atau dari upaya biro jasa (penyedia bukti-bukti fiktif) yang menjajakan kepada guru. Jadi tingkat kredibilitas kelulusan sertifikasi guru dianggap kurang mantap, karena ulah sebagian guru yang merekayasa dokumen palsu tersebut.&lt;br /&gt;Perubahan kebijakan seperti itu biasanya selalu membawa dampak atau pengaruh bagi pelaku, yakni para guru dan asesor. Bagi guru, perubahan tersebut berimplikasi positif atau menyenangkan karena mereka tidak lagi bersusah payah menghimpun lembar demi lembar berkas dokumen serta bukti-bukti administrasi yang begitu berat. Belum lagi penggadaan dokumen tersebut yang tentu saja akan merogoh kocek tidak sedikit yang harus mereka keluarkan untuk penggandaan portofolio.&lt;br /&gt;Sementara bagi asesor, kebijakan tersebut tentu saja tidak menggembirakan karena dapat mengurangi ‘pemasukan' yang biasanya lumayan besar. Meski demikian, kebijakan itu harus disambut dengan penuh rasa syukur dan gembira karena asesor masih memperoleh ‘berkah' dari kegiatan PLPG. Seperti biasanya, kegiatan PLPG dilaksanakan 10 hari sekali angkatan, yang tentu saja dapat mengganti penilaian berkas portofolio itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asah Kreativitas dan Tumbuhkan Inspirasi &lt;br /&gt;Kebijakan sertifikasi guru yang kini melalui jalur PLPG merupakan pilihan yang tepat dan efesien. Sebab, PLPG yang menggantikan penilaian dokumen adalah penilaian berbasis proses yang jauh lebih riil bermanfaatnya bagi para guru. Sekalipun hanya sepuluh hari lamanya, mereka dilatih dan dibimbing untuk memahami aspek kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian sebagaimana amanat PP. 19 tahun 2005.&lt;br /&gt;Pelaksanaan PLPG di LPTK Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang diformat sesuai dengan visi-misi dan tujuan universitas, yaitu mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dan akhlak, serta menyebarluaskan ilmu dan ketrampilan. Tak ketinggalan, semua peserta juga diajari shalawat irfan, yang merupakan ciri khas shalawat UIN Maliki Malang. Peserta PLPG juga diajak shalat jama'ah bersama, terutama shalat tarawih yang secara bergantian dari kelompok ke kelompok yang menjadi petugas adzan, imam, penceramah dan seterusnya adalah para guru itu sendiri. Pelatihan tersebut tanpak indah sekali dan benar-benar proses pendidikan yang mengajarkan kedisiplinan, ketulusan, serta menumbuhkan kebiasaan-kebiasan yang berbudi pekerti luhur.   &lt;br /&gt;Untuk mengasah kompetensi pedagogi, para peserta PLPG diajak mempelajari model/pendekatan dan strategi pembelajaran. Materi ini dikemas dengan pendekatan pembelajaran yang memadukan antara teori dan praktik. Para guru dibekali teori pembelajaran oleh masing-masing asesor dan kemudian dipraktikkan. Yang menyenangkan adalah mereka dapat saling bekerjasama, berbagi pengalaman, dan saling membantu dalam setiap kegiatan praktik mengajar.&lt;br /&gt;Target dari materi model pembelajaran ialah untuk meningkatkan kemampuan mendesain dan mempraktikkan pembelajaran yang kreatif, inovatif serta inspiratif. Melalu materi tersebut para guru dapat memacu kreatifitasnya guna memperoleh pengalaman baru dalam menggali bentuk-bentuk pembelajaran yang kontekstual dan unggul. Tujuannya materi ini ialah semua peserta diklat dapat menerapkan model dan strategi itu pada sekolahnya masing-masing. Dari PLPG itu dapat dipetik pelajaran bahwa mengasah "kreativitas" dan energi potensi positif agar tumbuh dan berkembang secara efektif, ternyata membutuhkan jiwa kebersamaan, kerjasama, saling percaya, berberjuang keras dan berkorban. Para peserta itu sepanjang yang saya lihat memiliki jiwa itu, walau mereka berasal dari berbagai daerah kabupaten/kota dan sekolah yang berbeda-beda pula.&lt;br /&gt;Sekalipun status mereka guru tetapi merasa dirinya tidak canggung walau jadi murid (peserta), yang siap menerima dan diminta untuk mempraktikkan model dan strategi pembelajaran. Tatkala salah seorang peserta diminta praktik/tampil untuk mencoba beberapa strategi pembelajaran, meraka juga dapat memposisikan diri sebagai murid, walau yang tampil adalah temannya sendiri. Modal kebersamaan dan kerjasama itulah sesungguhnya kekuatan sekaligus cara mulia untuk membangun kompetensi guru.&lt;br /&gt;Selain itu, para peserta PLPG juga mendapat materi pengembangan materi PAI, perencanaan pebelajaran, evaluasi pembelajaran dan penelitian tindakan kelas (PTK). Sama seperti materi model dan strategi pembelajaran, para guru juga lebih ditekankan pada praktik. Matari Pengembangan PAI misalnya, para guru membuat peta konsep tentang masing-masing kompetensi dasar PAI yang perlu dikembangkan secara luas dan integral dengan pengetahuan lain. Seperti membahas tentang binatang halal dan haram. Dalam sebuah diskusi kelompok itu ada yang mempresentasikan bahwa binatang haram seperti babi, sekarang ini menjadi halal. Halal karena daging babi diproses terlebih dahulu dan dicapur dengan bahan lain untuk digunakan makanan binatang lainnya, seperti ayam, bebek, ikan, dan seterusnya. Ternyata ikan, bebek, ayam tersebut menjadi lebih sehat dan cepat pertumbuhannya karena berkat asupan daging babi itu. Pengembangan seperti itu merupakan terobosan baru untuk memperluas materi fiqih yang selama ini memandang bahwa binatang babi adalah binatang haram dan secara serta merta kita sangat benci. Itulah gambaran inspirasi guru bagaimana membicarakan soal pengembangan materi yang biasanya sulit diterjemahkan oleh para guru PAI, dan masih banyak hal lagi yang mereka hadirkan pada kegiatan PLPG itu.&lt;br /&gt;Begitu halnya dengan materi-materi lainnya, para narasumber/instruktur mengasah mereka menumbuhkan sikap kreatif dan inspirasi kegiatan pembelajaran di PLPG. Kegiatan pembelajaran, apapun tingkatannya memang membutuhkan pergumulan, transfer pengalaman, serta keberanian dalam mengekspresikan potensi yang dimilikinya, tak terkecuali para guru itu sendiri. Semoga para guru yang telah mengikuti PLPG selama 10 hari itu mampu menggerakkan inovasi sekolahnya, menjadi pelopor para rekan sejawatnya, serta yang tidak kalah pentingnya ialah sebagai contoh tauladan bagi murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8236760406608495347?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8236760406608495347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/08/asah-kreativitas-guru-melalui-plpg.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8236760406608495347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8236760406608495347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/08/asah-kreativitas-guru-melalui-plpg.html' title='Asah Kreativitas Guru Melalui PLPG'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-290301719368625806</id><published>2011-05-26T21:53:00.000+07:00</published><updated>2011-06-26T22:00:41.591+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Kecerdasan Spiritual</title><content type='html'>MANUSIA adalah makhluk yang paling cerdas, dan Tuhan, melengkapi manusia dengan komponen kecerdasan yang paling kompleks. Sejumlah temuan para ahli mengarah pada fakta bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna dan akan menjadi sempurna asalkan bisa menggunakan keunggulan potensinya. Kemampuan menggunakan potensi tersebut sebagai faktor yang membedakan antara orang jenius dan orang yang tidak jenius di bidangnya.&lt;br /&gt;Bila kita lacak secara holistik, maka di dalam diri manusia terdapat banyak sekali kecerdasan. Thorndike (1994), membagi kecerdasan manusia menjadi tiga hal, yaitu kecerdasan abstrak (kemampuan memahami simbol matematis atau bahasa), Kecerdasan kongkrit (kemampuan memahami objek nyata) dan Kecerdasan Sosial  (kemampuan untuk memahami dan mengelola hubungan manusia yang dikatakan menjadi akar istilah Kecerdasan Emosional) &lt;br /&gt;Pakar lain seperti Charles Handy (1990) juga punya daftar kecerdasan yang lebih banyak, yaitu: Kecerdasan Logika (menalar dan menghitung), Kecerdasan Praktek (kemampuan mempraktekkan ide), Kecerdasan Verbal (bahasa komunikasi), Kecerdasan Musik, Kecerdasan Intrapersonal (berhubungan ke dalam diri), Kecerdasan Interpersonal (berhubungan ke luar diri dengan orang lain) dan Kecerdasan Spasial) &lt;br /&gt;Bahkan pakar Psikologi semacam Howard Gardner &amp; Associates konon memiliki daftar 25 nama kecerdasan manusia termasuk misalnya saja Kecerdasan Visual/Spasial, Kecerdasan Natural (kemampuan untuk menyelaraskan diri dengan alam), atau Kecerdasan Linguistik (kemampuan membaca, menulis, berkata-kata), Kecerdasan Logika (menalar atau menghitung), Kecerdasan Kinestik/Fisik (kemampuan mengolah fisik seperti penari, atlet, dll), Kecerdasan sosial yang dibagi menjadi Intrapersonal dan Interpersonal.&lt;br /&gt;Danah Zohar dan Ian Marshall, menambahkan bahwa dalam diri manusia terdapat kecerdasan spiritual. Suatu kecerdasan yang memberikan pencerahan jiwa manusia. Ia menuangkan betapa pentingnya kecerdasan spiritual memengaruhi setiap prilaku, sikap dan tindakan manusia, baik yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik. Di samping kecerdasan intelektual dan emosi, kecerdasan spiritual mengangkat jalan hidup manusia lebih bermakna.&lt;br /&gt;Untuk menjadi diri sendiri yang handal, seseorang tidak hanya perlu memiliki kecerdasan intelektual dan emosi, melainkan juga kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual itu merupakan kemampuan seseorang untuk menyelaraskan hati dan budi sehingga menjadi orang yang berkarakter dan berwatak positif.&lt;br /&gt;Plato, seorang filosof pernah berucap bahwa kesengsaraan pada dasarnya disebabkan oleh kebodohan (ignorance). Kebodohan tersebut berakar pada ketidakmampuan seseorang mengenali dirinya sendiri. Oleh karena itu, unsur spiritual sangat diperlukan seperti halnya unsur fisik agar seseorang mampu melihat lebih dalam.&lt;br /&gt;Danah Zohar dan Ian Marshall menekankan bahwa kecerdasan spiritual mampu mengarahkan manusia pada pencarian hakikat kemanusiaannya. Sebab, hakikat manusia itu bisa ditemukan dalam perjumpaan manusia dengan Tuhan. Mistisisme membantu manusia untuk mencari something out there that are unknown (sesuatu di luar sana yang tidak diketahui).&lt;br /&gt;Sehingga kecerdasan spiritual sangat membantu meningkatkan kompetensi seseorang untuk mengambil jalan hidup yang lebih hakiki. Tujuan SQ adalah untuk menaklukkan diri dan mengatur hidup begitu rupa sehingga tidak ada suatu pandangan hidup di bawah pengaruh sikap kelekatan pada apa pun. Kecerdasan spiritual  bersifat eksistensial dan memiliki sense of mission.&lt;br /&gt;Kecerdasan spiritual yang memadukan antara kecerdasan intelektual dan emosional menjadi syarat penting agar manusia dapat lebih memaknai hidup dan menjalani hidup penuh berkah. Terutama pada masa sekarang, di mana manusia modern terkadang melupakan mata hati dalam melihat segala sesuatu.&lt;br /&gt;Danah Zohar dan Ian Marshall, sebagai penggagas awal istilah tehnis SQ (Kecerdasan Spiritual) mengatakan bahwa kalau IQ bekerja untuk melihat ke luar (mata pikiran), dan EQ bekerja mengolah yang di dalam (telinga perasaan), maka SQ (spiritual quotient) menunjuk pada kondisi ‘pusat-diri’. &lt;br /&gt;Kecerdasan ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi ter-kavling-kavling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.&lt;br /&gt;Perlu diakui bahwa IQ, EQ dan SQ adalah perangkat yang bekerja dalam satu kesatuan sistem yang saling terkait (interconnected) di dalam diri manusia, sehingga tak mungkin juga dapat dipisah-pisahkan fungsinya. Berhubungan dengan orang lain tetap membutuhkan otak dan keyakinan sama halnya dengan keyakinan yang tetap membutuhkan otak dan perasaan. Seperti kata Thomas Jefferson atau Anthony Robbins, meskipun keputusan yang dibuat harus berdasarkan pengetahuan dan keyakinan sekuat batu karang, tetapi dalam pelaksanaannya, perlu dijalankan sefleksibel orang berenang.  &lt;br /&gt;Aplikasi dari kecerdasan spiritual dan didukung dengan kecerdasan lainnya hanyalah satu dari sekian tak terhitung cara hidup, dan seperti kata Bruce Lee, strategi yang paling baik adalah strategi yang kita temukan sendiri di dalam diri kita. “Kalau kamu berkelahi hanya berpaku pada penggunaan strategi yang diajarkan buku di kelas, namanya bukan berkelahi (tetapi belajar berkelahi)”.&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-290301719368625806?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/290301719368625806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/05/kecerdasan-spiritual.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/290301719368625806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/290301719368625806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/05/kecerdasan-spiritual.html' title='Kecerdasan Spiritual'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-427809763519074049</id><published>2011-04-18T13:21:00.000+07:00</published><updated>2011-04-18T13:23:19.296+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Menjadikan Islam Sebagai Pandangan Hidup</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK dulu, umat Islam dalam memahami ajaran Islam tak pernah surut. Segala potensi dan metodologis digunakan untuk memberi jalan kemudahan mengenal Islam dari berbagai sudut dimensi. Singkatnya, banyak jalan bagaimana memahami Islam secara utuh dan komprehensif.&lt;br /&gt;Islam adalah denyut nadi yang mensejarah sepanjang peradaban manusia. Sampai kapan pun, Islam tak akan pernah kering dari perhatian orang. Studi-studi agama menempatkan Islam sebagai kajian menarik yang dilakukan setiap orang. Lebih dari itu, kini Islam di Barat menjadi perhatian orang-orang yang tengah kehilangan pegangan hidup yang pasti. Tidak sedikit, orang Barat tertarik mempelajari Islam, bahkan memeluknya sebagai pegangan hidup.&lt;br /&gt;Intensitas pengkajian terhadap Islam sungguh di luar dugaan. Tidak saja di pesantren-pesantren, sebagai basis mendalami ajaran Islam, melainkan di perguruan tinggi ramai mempelajari Islam. Meski ajaran Islam terkesan doktriner dan final, tetapi justru membuat banyak orang tertarik melakukan pengkajian terhadapnya. Cara pandang seseorang pun bisa berbeda, orang awam berbeda dengan kaum cendikiawan, orang kaya berbeda dengan orang miskin, politikus berbeda dengan ekonom, dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;Memang, dari dulu ajaran Islam tetap sama. Namun setiap kepala orang dapat berbeda dalam mengartikulasikan Islam. Hal ini karena Islam mengandung nilai universalitas yang cukup memberi peluang setiap pemeluknya untuk berbeda. Meski berbeda memahami Islam, semangat untuk menghayati dan mengamalkan Islam justru semakin dinamis. Hal ini bisa terlihat dari semangat banyaknya organisasi Islam yang tak pernah sepi dari upaya kreatif memahami Islam.&lt;br /&gt;Upaya-upaya tersebut di atas, sebenarnya mengajak para pemeluk Islam untuk melakukan sebuah refleksi baru mengenai apa yang disebut Kuntowijoyo sebagai “reinterpretasi ajaran Islam”. Tugas ini merupakan suatu keniscayaan, sebagai salah satu upaya dalam rangka peningkatan kualitas dakwah dan pendidikan Islam, baik dilingkungan formal, informal, maupun nonformal. Islam dapat berkembang maju pesat karena dua kekuatan itu, yakni melalui dakwah dan pendidikan. &lt;br /&gt;Salah satu tugas dakwah dan pendidikan Islam yang paling berat adalah “mengislamkan orang-orang Islam”. Tantangan ini semakin gamblang ketika penelitian Martin Van Bruinessen menyebutkan bahwa orang Islam yang masuk ke nusantara ini cenderung bercorak kefiqhian. Realita sejarah seperti itu, disadari atau tidak, telah membentuk karakter Islam tersendiri. Sehingga oleh Nurcholis Madjid menyebutnya dengan Islam Indonesia, sebuah ciri khas Islam lokal. Ke depan, Islam harus tampil sebagai agama yang menjawab segala kebutuhan umat manusia, tidak saja masalah ritual keagamaan, tetapi masalah peradaban dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;Islam perlu dihadirkan kembali sesuai dengan sejatinya. Berbagai alternatif memahami Islam banyak ditampilkan cendikiawan muslim. Apalagi Islam masuk ke nusantara banyak melewati babakan sejarah panjang dengan berbagai motif budaya lokal yang kental. Tidak ada cara lain kecuali menerjemahkan kembali Islam sebagai ajaran murni sesuai dengan petunjuk kitab suci yang sangat kaya tentang masalah sosial, ilmu pengetahuan, pendidikan dan seterusnya. Pendek kata, perlu semacam recoveri strategi dalam memahami Islam yang betul-betul otentik demi mengembangkan kualitas umat Islam. &lt;br /&gt;Memahami ajaran Islam membutuhkan rujukan aslinya. Dari sumber itu baru dapat dipahami secara korelatif, integratif dan berkesinambungan. Dengan melibatkan berbagai pendekatan (interdisipliner), secara utuh Islam dapat dipahami lebih terbuka dan kontekstual sesuai dengan tingkat peradaban umat manusia. Islam tampil sebagai kekuatan penggerak spiritual, moral, ilmu dan amal saleh.&lt;br /&gt;Aktualisasi ajaran Islam adalah penting. Hal ini seperti pesan Qur’an maupun hadits yang menyuruh umat Islam agar selalu mengerahkan ‘aql atau pemikiran dan sekaligus menyesuaikan perkembangan dan perubahan zaman. &lt;br /&gt;Islam sebagai agama sekaligus doktrin, setidaknya ada tiga hal yang pertu dipetik, yakni Islam sebagai sumber kekuatan dan keyakinan spiritual, Islam sebagai wawasan dan pandangan hidup (world view) dan Islam sebagai komitmen hidup dan perjuangan. Pemahaman seperti inilah akan memberikan jawaban terhadap persolaan di tengah tantangan kehidupan manusia dewasa ini. Islam menjadi petunjuk yang selalu up to date sepanjang masa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-427809763519074049?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/427809763519074049/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/04/menjadikan-islam-sebagai-pandangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/427809763519074049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/427809763519074049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/04/menjadikan-islam-sebagai-pandangan.html' title='Menjadikan Islam Sebagai Pandangan Hidup'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8263120823310762774</id><published>2011-03-18T13:23:00.000+07:00</published><updated>2011-04-18T13:24:59.505+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Peran Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;DINAMIKA pendidikan Islam atau yang sering disebut dengan istilah sekolah yang berlabelkan Islam, nampaknya masih menjadi kajian menarik. Pada dekade terakhir ini, sekolah yang bernafaskan Islam seringkali mendapat sorotan yang cenderung kurang menggembirakan dan membanggakan bagi semua pihak.  Secara kolektif, hampir rata-rata mutu sekolah Islam rendah, bahkan lulusan sekolah Islam tergolong minoritas yang bisa masuk perguruan tinggi. &lt;br /&gt;Menurut pengamatan A. Malik Fadjar, bahwa kenyataan mendasar dari sebagian dari lembaga pendidikan Islam kini telah kehilangan “mekanisme alokasi posisional”. Artinya, bahwa sistem kelembagaan pendidikan Islam telah kehilangan kepercayaan dari masyarakat untuk menyalurkan peserta didiknya ke dalam posisi-posisi ideal tertentu. Berdasarkan pengamatan ini, penulis semakin percaya bahwa lembaga pendidikan Islam pasti ada “sesuatu” yang tidak berjalan secara wajar dan fungsional.&lt;br /&gt;Lebih jauh lagi, sorotan yang lebih menukik ke dalam dataran sistem pendidikan dan pengajaran yang terjadi pada sejumlah lembaga pendidikan Islam di kesankan bahwa kelembagaan pendidikan Islam tanpaknya masih dalam posisi “cagar budaya” untuk menumbuhkan faham-faham keagamaan tertentu, belum berorientasi pada “taraf dan mutu”. Artinya, dalam kerangka pembelajaran belum menempatkan peserta didik atau lulusannya pada “taraf dan mutu”, serta pada konteks kemasyarakatan yang lebih luas.&lt;br /&gt;Masalah kualitas, mulai dari raw-in put, proses maupun  out put dinilai sangat rendah. Salah satu indikatornya adalah rata-rata nilai NEM siswa hasil didikan sekolah Islam tertinggal jauh dari sekolah negeri ataupun sekolah lain yang dikelola orang luar Islam. Kehadiran lembaga pendidikan seperti itu, secara tidak sadar akan menempatkan dirinya pada “kelas pinggiran”, yang satu persatu mengalami penyusutan karena kehilangan kepercayaan dari ummat maupun peminatnya.  Kalau sistem pendidikan semacam ini masih tetap dipartahankan, maka boleh jadi pendidikan bukan saja tidak menolong masa depan peserta didik, tapi lebih jauh dari itu dapat dinilai sebagai perbuatan yang merugikan. Pendidikan yang tidak dikelola dan didasarkan pada orientasi yang jelas dapat mengakibatkan kegagalan dalam hidup secara berantai dari generasi ke genarasi. Oleh karena itu, persoalan mendasar ini termasuk bagian dari masalah yang peka dan rawan.&lt;br /&gt;Sebagai lembaga pendidikan yang mengemban misi pencerahan peradaban umat masa depan, biasanya pendidikan Islam mudah terjebak pada determinisme-ideologis sehingga mengabaikan proporsionalitas dan profesionalitas serta proses-proses pengelolaannya. Dalam pandangan A. Malik Fadjar, bahwa ada sementara pihak dari kalangan umat Islam yang tidak risau menyaksikan masih lemahnya daya saing mutu lulusan sekolah-sekolah Islam dibanding dengan lulusan sekolah umum lainnya. Jika fenomena tersebut masih menjadi sikap umum sebagai dasar penyelenggaraan pendidikan Islam, maka dalam perspektif metodologis-pedagogis jelas demikian itu telah menyimpang dari aspek-aspek fundamental dalam dunia pendidikan. &lt;br /&gt;Dari pelbagai penilaian pakar pendidikan, ada yang menyatakan bahwa sistem pendidikan Islam, baik yang bernaung dalam Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, maupun Yayasan-yayasan Islam lainnya, tengah mengalami penurunan kreativitas, metodologis, dan kekaburan orientasi pengajaran.  Bahkan sebagian pendapat mensinyalir bahwa pendidikan Islam kurang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM).  Orientasi pendidikan Islam lebih terjebak pada kegiatan yang formalistik, dan tidak ada sedikitpun terlihat nuansa pengembangan keilmuan.&lt;br /&gt;Ironisnya, pada setiap level kehidupan, hampir semua sektor lembaga formal maupun non-formal, termasuk di dalamnya lembaga pendidikan (sekolah) sedang mengembangkan suatu sikap tentang adanya tuntutan utama yakni profesionalisme dan modernisme. Di samping itu, bagi lembaga pendidikan diharuskan mencari model dan pola baru yang lebih inovatif guna memberikan nuansa segar bagi penyelenggaraan proses belajar-mengajar di sekolah. &lt;br /&gt;Jika inovasi lembaga pendidikan Islam selalu dilakukan setiap saat, maka kemungkinan besar dirinya akan bertahan kokoh dalam menghadapi perubahan-perubahan dan perkembangan mutakhir yang semakin kompleks ini. Karena itu, pada batas-batas tertentu sesuatu yang sebelumnya sudah dianggap mapan, kini hal itu bisa menjadi ketinggalan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Eksistensi Guru&lt;br /&gt;Guru merupakan salah satu komponen terpenting dalam dunia pendidikan. Ruh pendidikan sesungguhnya terletak dipundak guru. Bahkan, baik buruknya atau berhasil tidaknya pendidikan hakikatnya ada di tangan guru. Sebab, sosok guru memiliki peranan yang strategis dalam ”mengukir” peserta didik menjadi pandai, cerdas, terampil, bermoral dan berpengetahuan luas.&lt;br /&gt;Namun kini banyak gelombang aksi tuntutan mengenai profesionalisme guru.  Eksistensi guru menjadi bagian inheren yang tidak dapat dipisahkan dari satu kesatuan interaksi pedagogis dalam sistem pengelolaan pengajaran pendidikan (sekolah). Dalam pengamatan penulis, tuntutan tersebut sejalan dengan cita-cita yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana yang termaktub dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3, yang berbunyi: &lt;br /&gt;“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.&lt;br /&gt;Karena itu, sikap profesionalisme dalam dunia pendidikan (sekolah), tidak sekadar dinilai formalitas tetapi harus fungsional dan menjadi prinsip dasar yang melandasai aksi operasionalnya. Tuntutan demikian ini wajar karena dalam dunia modern, khususnya dalam rangka persaingan global, memerlukan sumber daya manusia yang bermutu dan selalu melakukan improvisasi diri secara terus menerus. Sehingga dapat dikatakan bahwa tenaga pendidik atau guru merupakan cetak biru (blueprint) bagi penyelenggaran pendidikan. &lt;br /&gt;Seorang guru yang baik adalah mereka yang memenuhi persyaratan kemampuan profesional baik sebagai pendidik maupun sebagai pengajar atau pelatih. Di sinilah letak pentingnya standar mutu profesional guru untuk menjamin proses belajar mengajar dan hasil belajar yang bermutu. &lt;br /&gt;Seperti yang terungkap di atas, bahwa salah satu “kejenuhan” yang di alami pendidikan Islam akhir-akhir ini adalah kualitas guru. Sejalan dengan tuntutan dunia kerja modern, termasuk lapangan kerja dalam bidang pelayanan jasa seperti sekolah, secara kualitatif menuntut seseorang mengusai metode, cara dan alat kerja yang efesien, efektif, dan canggih (modern). Metode pelayanan yang masih menggunakan cara lama harus diubah dengan cara pelayanan baru yang memperoleh daya guna secara efektif dan efesien sehingga tercapainya tujuan yang maksimal.&lt;br /&gt;Sebagai tenaga edukatif dalam lingkup sekolah, guru harus memiliki kompetensi-kompetensi dasar kependidikan. Sebab dalam interaksi pembelajaran peserta didik, seorang guru harus bisa melakukan demonstrasi yang hidup dan menyenangkan bagi peserta didik. Sehingga kompetensi tersebut menyebabkan pembelajaran semakin bertambah baik.&lt;br /&gt;Untuk menuju proses kegiatan belajar yang baik, maka tugas pokok guru adalah mempersiapkan rancangan-rancangan pembelajaran yang sistematis dan berkelanjutan. Membuat perangkat pembelajaran tersebut merupakan bagian dari tugas pendidik. Di samping ia juga harus memiliki kemampuan tertentu yang sesuai dengan nilai dan norma yang seharusnya dimilikinya. Misalnya, berkepribadian dewasa, mandiri dan bertanggung jawab terutama secara moral sehingga dapat dijadikan identifikasi peserta didiknya. &lt;br /&gt;Itulah mengapa seorang guru harus memiliki jiwa profesionalisme. Keberadaan guru yang sangat strategis tersebut diharapkan melalui jiwa profesionalisme dapat mengembangkan kegiatan pembelajaran yang berkualitas dan menjadi tonggak yang kokoh bagi lembaga pendidikan. Oleh karena itu, kata profesionalisme perlu kita kaji secara mendalam guna melahirkan pemahaman yang holistik dan komprehensif. &lt;br /&gt;Kata dasar profesionalisme sesungguhnya berakar dari kata profesi, yakni memerlukan kepandaian khusus untuk menjelaskannya.  Sutisno mendefisikan profesional adalah menggunakan waktu penuh untuk menjalankan pekerjaannya, terikat oleh pandangan hidup (world view atau weltanschaung) tertentu yang dalam hal ini ia memerlukan pekerjaannya sebagai seperangkat norma, kepatuhan terhadap perilaku, dan terikat pada syarat-syarat kompetensi serta kesadaran berprestasi dan pengabdian.  Dengan demikian, istilah profesional yang dimaksud adalah serangkaian keahlian yang dipersyaratkan untuk melakukan suatu pekerjaan yang dilakukan secara efesien dan efektif dengan tingkat keahlian yang tinggi dalam mencapai tujuan pekerjaan tersebut. &lt;br /&gt;Maksud dari sikap profesionalisme tersebut paling tidak mencerminkan empat ciri mendasar berikut ini, yakni pertama, tingkat pendidikan spesialisasinya menuntut seseorang melaksanakan jabatan/pekerjaan dengan penuh kapabilitas, kemandirian dalam mengambil keputusan (independent judgement), mahir dan terampil dalam mengerjakan tugasnya. Kedua, motif dan tujuan utama seseorang memilih jabatan/pekerjaan itu adalah pengabdian kepada kemanusiaan, bukan imbalan kebendaan (bayaran) yang menjadi tujuan utama. Ketiga, terdapat kode etik jabatan yang secara sukarela diterima mejadi pedoman perilaku dan tindakan kelompok profesional yang bersangkutan. Kode etik tersebut menjadi standar perilaku pekerjaannya. Keempat, terdapat kesetia-kawanan seprofesi, yang diwujudkan dengan saling menjalin kerja sama dan tolong menolong antar anggota dalam suatu komunitas tertentu. &lt;br /&gt;Seseorang dikatakan profesional, bilamana pada dirinya melekat sikap dedikatif yang tinggi terhadap tugasnya, sikap komitmen terhadap mutu proses dan hasil kerja, serta sikap continous improvement, yakni selalu berusaha memperbaiki dan memperbarui model-model atau cara kerjanya sesuai dengan tuntutan zamannya, yang dilandasi oleh kesadaran yang tinggi bahwa tugas mendidik adalah tugas menyiapkan generasi penerus yang akan hidup pada zaman di masa depan. &lt;br /&gt;Sesuai dengan UU RI No. 14 tahun 2005 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt;Dari rumusan tersebut di atas bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan perpaduan antara bimbingan, pengajaran dan latihan. Kegiatan bimbingan lebih ditekankan pada proses pengembangan mental spiritual (rohaniah, moral dan sosial). Kegiatan pengajaran ditekankan pada proses pengembangan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Guru sebagai pendidik yang profesional, berarti harus mempunyai keahlian dalam mengelola ketiga kegiatan tersebut.  &lt;br /&gt;Sebagai sebuah institusi, lembaga sekolah dalam prosesnya harus selalu berupaya meningkatkan profesionalisme guru dan inovasi pembelajaran. Salah satu upaya untuk meningkatan mutu pembelajaran di sekolah adalah terbentuknya kultur dan sikap profesionalisme guru yang dedikatif tinggi. &lt;br /&gt;Sudah menjadi kewajiban bagi suatu lembaga pendidikan (sekolah), bahwa pengembangan profesionalisme guru merupakan tanggung jawab besar yang tidak bisa ditunda lagi. Sebab, menunda hal ini berarti mengorbankan generasi masa depan yang notabenenya sebagai cagar peradaban umat. Karenanya, proses peningkatan kualitas bagi lembaga pendidikan seharusnya menyadari dan melakukan pembenahan sedini mungkin supaya pengembangan kualitas kelembagaan sekolah dan lulusannya dapat memenuhi harapan masyarakat luas. Mutu tidaknya sebuah sekolah akan dapat dilihat dari mekanisme struktural di dalamnya, apakah ada rencana yang terstruktur, sistematis, terprogram dan berkelanjutan. &lt;br /&gt;Dari paparan tersebut, sudah sepatutnya lembaga pendidikan/sekolah untuk lebih meningkatkan pada orientasi mutu, termasuk salah satu di dalamnya mutu profesi guru dan sistem kegiatan belajar mengajarnya. Orientasi pendidikan yang berjalan saat ini, bukan tidak mungkin akan kehilangan elan vital-nya di masa depan, sebab kurang didukung oleh pengelola pendidikan yang profesional. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa guru merupakan faktor penting yang menetukan keberhasilan mutu pendidikan.  Hasil ini menunjukkan bahwa sampai saat ini betapa eksisnya peran guru diperlukan dalam dunia pendidikan. &lt;br /&gt;Salah satu upaya untuk mengatasi kebutuhan tersebut adalah mengubah orientasi sekolah yang masih berpola lama dengan inovasi yang berpola baru. Artinya, kalau sekolah masih dikelola dengan cara lama maka sudah saatnya digantikan dengan cara baru. Hal ini penting, mengingat peran lembaga pendidikan akan selalu berdialektika dengan perubahan yang terus berkembang.&lt;br /&gt;Karena itu, sudah saatnya lembaga pendidikan harus mempertegas visi dan misi yang akan dikembangkan di masa mendatang, supaya tidak terjadi kekaburan orientasi dan kehilangan arah yang pasti. Sebab, jika tidak dilakukan maka akan berdampak pada kualitas sekolah itu sendiri. Salah satu ukuran kualitas lembaga pendidikan dapat dilihat dari proses kegiatan (non fisik), selain sarana fisiknya juga mendukung. Sehingga berbagai upaya peningkatan mutu perlu ada komitmen yang kuat dari pihak penyelenggara sekolah. &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8263120823310762774?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8263120823310762774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/03/peran-guru-dalam-meningkatkan-mutu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8263120823310762774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8263120823310762774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/03/peran-guru-dalam-meningkatkan-mutu.html' title='Peran Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-4120952288762285475</id><published>2011-02-18T13:25:00.000+07:00</published><updated>2011-04-18T13:27:02.281+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Studi  tentang Pengembangan Profesi Guru</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;Studi tentang pengembangan profesi guru memang membutuhkan keseriusan dalam sebuah tata administrasi modern. Disadari ataupun tidak, hakikat segala sesuatu yang tergelar di dunia ini perlu diatur. Pengaturan dimaksud mengarah kepada usaha kelancaran, keteraturan, kedinamisan dan ketertiban suatu usaha. Menurut Charles A. Beard,  seperti yang dikutip oleh Albert Lepawzley dalam bukunya “Administration”- dan dikutip kembali oleh Siagian, bahwa “tidak ada satu hal untuk abad modern sekarang ini yang lebih penting dari administrasi.”&lt;br /&gt;Menurut The Liang Gie bahwa administrasi adalah segenap serangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh kelompok orang dalam bekerjasama mencapai tujuan tertentu. Memahami maksud tersebut bahwa “segala pengaturan atau penataan seluruh sumber daya (manusia dan non manusia) dalam rangka kerjasama untuk mencapai tujuan bersama” terdapat kandungan makna penting yaitu 1) adanya kegiatan pengaturan atau penataan, 2) adanya sumber daya yang ditata, 3) adanya kerjasama dalam menata, dan 4) adanya tujuan bersama dari kegiatan pengaturan atau penataan.&lt;br /&gt;Pengertian yang hampir senada juga disampaikan Sondang P. Siagian,  bahwa administrasi merupakan keseluruhan proses kerjasama antara dua orang manusia atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dari pemahaman ini ada beberapa unsur penting yaitu; 1) adanya dua manusia atau lebih, 2) adanya tujuan yang akan dicapai, 3) adanya tugas-tugas yang harus dilaksanakan, 4) adanya perlengkapan atau peralatan untuk melaksanakan, dan 5) adanya proses kerjasama.&lt;br /&gt;Dengan mendalami pengertian administrasi sekolah secara luas diharapkan terdapat keluasan horizon pemahaman terhadap aktivitas di dalamnya. Jadi administrasi bukan lagi terbayang sebagai pekerjaan tulis-menulis dibelakang meja, tetapi mencakup pengaturan manusia dan non-manusia yang dilakukan secara kerjasama.&lt;br /&gt;Administrasi sekolah modern mendudukkan faktor manusia dalam puncak hierarkhi, sehingga menjadi faktor yang menentukan.  Sejarah manusia dalam berorganisasi menunjukkan bahwa tiadanya peran manusia akan menghancurkan sistem administrasi. Manusialah yang membuat policy, melaksanakan, menata, mengkoordinasikan dan mengevaluasi segala aktivitas pendidikan.&lt;br /&gt;Dalam studi ilmu manajemen, terdapat lima gugusan penting dalam pendidikan, yang salah satunya yaitu guru. Dalam proses belajar-mengajar, guru merupakan sosok  yang memiliki peran besar dalam membantu keberhasilan siswanya. Ia menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan setiap upaya pendidikan. Meskipun diakui ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses belajar-mengajar, akan tetapi guru tetap menjadi faktor yang dominan. &lt;br /&gt;Syukri Zarkasyi, pengasuh pondok modern Gontor pernah menyatakan: “al-thariqatu ahammu min al- maddah, walaakinna al-mudarrisa ahammu min al-thariqah, wa ruh al-mudarris ahammu min al-mudarris nafsihi” (Metode itu lebih penting dari pada materi, akan tetapi guru  lebih penting dari metode, dan jiwa guru lebih penting dari guru itu sendiri). Ungkapan ini menegaskan bahwa faktor guru sangat menentukan dalam keberhasilan proses belajar-mengajar. Guru yang baik dan profesional akan dapat menyampaikan materi apapun secara optimal kepada anak didiknya dengan metode apa saja. Begitu juga sebaliknya, guru yang tidak memiliki kapabilitas dan profesionalisme tidak dapat menyampaikan materi secara optimal meskipun telah dipilihkan metode dan materi yang terbaik sekalipun. Oleh karena itu profesionalisme dalam proses belajar mengajar mutlak diperlukan bagi seorang guru. &lt;br /&gt;Persoalan guru dalam dunia pendidikan senantiasa mendapat perhatian besar dari pemerintah maupun masyarakat. Pemerintah memandang mereka sebagai media yang sangat penting artinya bagi pembinaan dan pengembangan bangsa. Mereka adalah pengemban tugas-tugas sosio-kultural yang berfungsi mempersiapkan generasi muda sesuai dengan cita-cita bangsa.  &lt;br /&gt;Sementara masyarakat memandang pekerjaan guru merupakan pekerjaan istimewa yang berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan lain. Dalam pandangan masyarakat, pekerjaan guru bukan semata-mata sebagai mata pencaharian belaka yang sejajar dengan pekerjaan tukang kayu atau pedagang atau yang lain. Pekerjaan guru menyangkut pendidikan anak, pembangunan negara dan masa depan bangsa.  Masyarakat menaruh harapan besar pada guru guna melahirkan generasi masa depan yang lebih baik. Mereka diharapkan menjadi suri tauladan bagi anak didiknya dan mampu membimbing mereka menuju pola hidup yang menjunjung tinggi moral dan etika. Guru telah diposisikan sebagai faktor terpenting dalam proses belajar mengajar. Kualitas dan kompetensi guru dianggap memiliki pengaruh terbesar terhadap kualitas pendidikan. &lt;br /&gt;Oleh sebab itu sudah sewajarnya apabila guru dituntut untuk bertindak secara profesional dalam melaksanakan proses belajar mengajar guna meningkatkan kualitas pendidikan yang mereka lakukan. Tuntutan seperti ini sejalan dengan perkembangan masyarakat modern yang menghendaki bermacam-macam spesialisasi yang sangat diperlukan dalam masyarakat yang semakin lama semakin kompleks. Tuntutan kerja secara profesional juga dimaksudkan agar guru berbuat dan bekerja sesuai dengan profesi yang disandangnya. &lt;br /&gt;Profesionalisme berasal dari kata profesi, yakni jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para anggotanya. Sebagai sebuah profesi, tidak bisa dikerjakan oleh sembarangan orang yang tidak terlatih dan tidak dipersiapkan secara khusus untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.  Semantara makna profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dikerjakan oleh mereka yang secara khusus dipersiapkan untuk itu. &lt;br /&gt;Berbicara tentang kinerja yang profesional maka perlu diketahui terlebih dahulu pengertian profesi sebagai bentuk dasar kata profesional tersebut. Sikun Pribadi sebagaimana dikutip oleh Oemar Hamalik mendefinisikan profesi sebagai berikut:&lt;br /&gt;“Profesi itu pada hakikatnya adalah suatu pernyataan atau janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, karena orang tersebut merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu.”  &lt;br /&gt;Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa sebuah profesi mengandung sejumlah makna yang dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan. (2) Profesi dipilih oleh seseorang atas kesadaran yang dalam. (3) Dalam profesi terkandung unsur pengabdian.&lt;br /&gt;Dengan demikian, bekerja secara profesional berarti bekerja secara baik dan dengan penuh pengabdian pada satu pekerjaan tertentu yang telah menjadi pilihannya. Guru yang profesional akan bekerja dalam bidang kependidikan secara optimal dan penuh dedikasi guna membina anak didiknya menjadi tenaga-tenaga terdidik yang ahli dalam bidang yang menjadi spesialisnya.  &lt;br /&gt;Hal tersebut dengan sendirinya menuntut adanya kemampuan atau ketrampilan kerja tertentu. Dari sisi ini maka ketrampilan kerja merupakan salah satu syarat dari suatu profesi. Namun tidak setiap orang yang memiliki ketrampilan kerja pada satu bidang tertentu dapat disebut sebagai profesional. Ketrampilan kerja yang profesional didukung oleh konsep dan teori terkait. Dengan dukungan teori ini memungkinkan orang yang bersangkutan tidak saja menguasai bidang itu akan tetapi juga mampu memprediksi dan mengontrol suatu gejala yang dijelaskan oleh teori itu. Atas dasar inilah maka pekerjaan profesional memerlukan pendidikan dan latihan yang bertaraf tinggi yang kalau diukur dari jenjang pendidikan yang ditempuh memerlukan pendidikan pada tingkat perguruan tinggi. &lt;br /&gt;Selain itu, bekerja secara profesional juga menuntut kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilakukannya. Ini bererati bahwa pekerjaan tersebut dilakukan melalui pertimbangan yang matang dan pemikiran yang mendalam dengan senantiasa mempertimbangkan dinamika kehidupan masyarakat yang mengitarinya.&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas, Muhammad Ali memberikan batasan bahwa sebuah pekerjaan dapat dikatakan profesional apabila memiliki tolok ukur sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.  Adanya ketrampilan kerja yang dilandasi konsep dan teori dari cabang ilmu yang terkait.&lt;br /&gt;2.  Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang yang terkait dengan profesi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;3.  Secara formal menuntut adanya persyaratan penyelesaian tingkat pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakan&lt;br /&gt;5. Memungkinkan pengembangan sejalan dengan dinamika perkembangan tuntutan dalam kehidupan. &lt;br /&gt; Dengan memperhatikan kriterian profesional tersebut, maka tuntutan agar guru bertindak secara profesional tidak dapat dilepaskan dari tugas profesi dan sosial guru. Pekerjaan guru merupakan profesi atau jabatan yang memerlukan keahlian khusus. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan. Menurut Moh. Uzeir Usman, tugas profesi guru meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan tehnologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan ketrampilan-ketrampilan kepada anak didik. &lt;br /&gt;Sementara tugas sosial guru tidak hanya terbatas pada masyarakat saja, akan tetapi lebih jauh guru adalah orang yang diharapkan mampu mencerdaskan bangsa dan mempersiapkan manusia-manusia yang cerdas, trampil dan beradab yang akan membangun masa depan bangsa dan negara. Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya sumber daya manusia yang handal dalam melakukan pembangunan bangsa. &lt;br /&gt;Tuntutan agar guru bekerja secara profesional tidak mungkin diabaikan guna mempersiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi perkembangan zaman. Tuntutan tersebut tentu saja membutuhkan kompetensi-kompetensi tertentu. Kompetensi yang dimaksud adalah hal-hal  yang oleh Muhammad Ali disebutkan memiliki indikator sebagi berikut:&lt;br /&gt;1. Kompetensi ditunjang oleh latar belakang pengetahuan&lt;br /&gt;2. Kompetensi dapat dikenali dari adanya penampilan dalam melakukan pekerjaan itu sesuai dengan tuntutan.&lt;br /&gt;3. Dalam melakukan kegiatan itu digunakan prosedur dan teknik yang jelas dan nalar&lt;br /&gt;4. Dapat dikenalinya hasil pekerjaan yang dicapai.  &lt;br /&gt;Dengan melihat indikator di atas, dapat dipahami bahwa kompetensi menggambarkan adanya ketrampilan dan kecakapan khusus yang ditunjang oleh konsep atau teori. Apabila hal ini dikaitkan dengan pekerjaan guru di lapangan, maka perlu harus diketahui kompetensi-kompetensi apa yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Pengenalan terhadap kompetensi-kompetensi tersebut penting untuk dikaji dalam rangka memahami dan mengukur serta mempersiapkan tenaga pengajar yang berkualitas yang mampu melakukan kerja secara efektif dan efesien dalam proses belajar mengajar sehingga dapat melahirkan produk dan out put yang berkualitas pula.&lt;br /&gt;Lebih jauh Muhammad Ali mengatakan, bahwa secara umum kompetensi guru merujuk kepada tiga faktor utama, yaitu kompetensi pribadi, kompetensi profesional, dan kompetensi kemasyarakatan. Dengan mengutip kriteria yang ditetapkan oleh Asian Institute for Teacher Educators ia merumuskan perincian kompetensi seorang guru sebagi berikut:&lt;br /&gt;1.  Kompetensi pribadi yang berkaitan dengan:&lt;br /&gt;a. Pengetahuan tentang adat istiadat (sosial dan agama)&lt;br /&gt;b. Pengetahuan tentang tradisi dan budaya&lt;br /&gt;c. Pengetahuan tentang inti demokrasi&lt;br /&gt;d. Pengetahuan tentang estetika&lt;br /&gt;e. Apresiasi dan kesadaran sosial&lt;br /&gt;f. Sikap yang benar terhadap pengetahuan dan pekerjaan&lt;br /&gt;g. Setia kepada harkat dan martabat manusia&lt;br /&gt;2. Kompetensi mata pelajaran, yakni mempunyai pengetahuan yang memadahi tentang mata pelajaran yang menjadi tanggungjawabnya.&lt;br /&gt;3.  Kompetensi profesional, mencakup kemampuan dalam hal:&lt;br /&gt;a. Mengerti dan dapat menerapkan landasan pendidikan, baik filosofis, psikologis, maupun landasan lainnya.&lt;br /&gt;b. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai dengan tingkat perkembangan perilaku anak&lt;br /&gt;c. Mampu menangani mata pelajaran yang ditugaskan kepadanya&lt;br /&gt;d. Mengerti dan dapat menerapkan metode mengajar yang sesuai&lt;br /&gt;e. Dapat menggunakan berbagai alat pelajaran dan fasilitas belajar lain&lt;br /&gt;f. Dapat mengorganisasi dan melaksanakan program pengajaran&lt;br /&gt;g. Dapat melaksanakan evaluasi&lt;br /&gt;h. Dapat menumbuhkan kepribadian anak  &lt;br /&gt;Kompetensi yang ditetapkan di atas memberikan penegasan tentang tugas dan fungsi guru yang diharapkan mampu memahami tradisi dan budaya yang berkembang dalam masyarakatnya di samping menguasai bidang ilmu yang menjadi spesialisnya serta diharapkan memiliki kapabilitas untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi dan budaya serta ilmu pengetahuan tersebut kemudian mentranfer dan menanamkannya pada anak didik melalui proses pendidikan yang efektif dan efesien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-4120952288762285475?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/4120952288762285475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/02/studi-tentang-pengembangan-profesi-guru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4120952288762285475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4120952288762285475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/02/studi-tentang-pengembangan-profesi-guru.html' title='Studi  tentang Pengembangan Profesi Guru'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6144751574476350226</id><published>2011-01-12T22:13:00.001+07:00</published><updated>2011-01-12T22:17:30.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>PERENCANAAN MADRASAH DAN SEKOLAH ISLAM UNGGULAN</title><content type='html'>A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Lahirnya lembaga pendidikan Islam unggulan dewasa ini merupakan buah dari gagasan modernisasi Islam di Indonesia. Pembaruan pemikiran Islam dan pelaksanaan pendidikan Islam di tanah air tidak selalu sejalan lurus dengan cita-cita dan semangat ajaran Islam. Islam selain dipahami sebagai ajaran ritual dan sumber nilai, juga sebagai sumber ilmu pengetahuan dan peradaban umat manusia. Seperti yang pernah diungkapkan oleh HAR. Gibb, bahwa “Islam is indeed much more than a system of teology, if is complete civilization” (Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap).  Pernyataan tersebut, berarti Islam merupakan agama yang aktual, relevan dengan segala urusan manusia, termasuk di bidang pendidikan.&lt;br /&gt;Dalam konteks Indonesia, lembaga pendidikan Islam unggulan (madrasah dan sekolah Islam) telah menemukan momentumnya pada akhir abad ke 20. Meskipun pada awal abad tersebut telah muncul beberapa model lembaga pendidikan Islam dengan format dan tampilan yang berbeda, untuk tidak mengatakan modern, dari karakteristik lembaga pendidikan Islam yang ada sebelumnya, misalnya lembaga pendidikan dibawah naungan organisasi Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama’. &lt;br /&gt; Secara umum lembaga pendidikan Islam unggulan diformat dengan model dan gaya modern yang mengadopsi sisi-sisi meritokrasi dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan tradisional atau konvensional sebelumnya. Bahkan, lembaga pendidikan Islam unggulan mencoba menawarkan bentuk sintesa baru yang mengkolaborasi antara tujuan pendidikan umum dengan tujuan pendidikan (agama) Islam yang sepadan. Bentuk sintesa ini kemudian diiringi dengan dukungan kualitas akademik, sumber daya manusia (SDM), sarana prasarana, sumber pendanaan yang kuat serta penciptaan lingkungan yang baik.&lt;br /&gt;Kalau melihat gejala dan nuansa kebangkitan lembaga pendidikan Islam unggulan (madrasah dan sekolah Islam) nampaknya pada wilayah praksis baru muncul tahun 1980-an atau 1990-an. Baik madrasah maupun sekolah Islam unggulan mengadopsi dari sistem pendidikan umum, yang hal itu merupakan warisan dari sistem pendidikan kolonial Belanda, melalui modernisasi dari para pelaku dan praktisi pendidik orang muslim dengan menambahkan porsi materi agama Islam lebih banyak.&lt;br /&gt;Eksistensi madrasah dan sekolah Islam unggulan tersebut diharapkan mampu menjawab tantangan dan tuntutan modernisasi, kemajuan globalisasi dan informasi. Hadirnya lembaga pendidikan Islam unggulan dalam konstelasi nasional sempat memancing perhatian dan perbincangan dari berbagai pakar dan ahli pendidikan untuk menangkap makna terhadap gejala dan fenomena yang terpendam dibalik itu. Hal ini wajar, karena sistem pendidikan nasional masih dianggap belum mampu menunjukkan mutu pendidikan yang signifikan.&lt;br /&gt;Mencuatnya resesi moral (akhlak), perkelahian, tindak anarkhis, serta berbagai tindakan menyimpang dikalangan pelajar merupakan reasoning (pemikiran) tersendiri bagi para pelaku pendidikan untuk menghadirkan madrasah dan sekolah Islam unggulan. Wajah baru lembaga pendidikan Islam Unggulan tersebut, selain ingin menampilkan lulusan yang unggul di bidang akademiknya, juga unggul di bidang akhlak dan spiritualnya. Untuk meraih kedua misi tersebut diperlukan ”wadah baru” berupa madrasah atau sekolah Islam yang benar-benar memberikan corak dan ciri khas yang kuat dan handal dari segala lingkup dan komponennya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Defenisi Madrasah dan Sekolah Islam Unggulan&lt;br /&gt;Sebelum mendefinisikan madrasah atau sekolah Islam unggulan, terlebih dahulu penulis ingin mengemukakan tentang beberapa sebutan istilah atau term yang barangkali memiliki makna hampir serupa. Kata lain dari ”unggulan” seringkali disebuat dengan istilah ”model” atau ”percontohan”. Selain itu juga ada yang memakai istilah ”terpadu”, ”laboratorium” atau ”elite”.&lt;br /&gt;Beberapa lembaga pendidikan Islam ada yang lebih senang memakai istilah ”model” ketimbang ”unggulan”. Sehingga wajar saja kalau ada istilah ”sekolah/madrasah model”, ”sekolah/madrasah percontohan”, atau ”sekolah/madrasah terpadu”. Madrasah atau sekolah Islam model (unggulan) merupakan representasi dari kebangkitan umat Islam untuk kalangan menengah. &lt;br /&gt; Dari segi pelabelan namanya, nampak sudah jelas dapat ditebak bahwa sekolah atau madrasah model (unggulan) semacam itu tampil dengan penuh visi dan inspirasi yang mengundang penasaran banyak orang. Dari segi nama, tampaknya lebih gagah dan menjanjikan kualitas masa depan para murid. &lt;br /&gt; Istilah sekolah unggul pertama kali diperkenalkan oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Wardiman Djojonegoro, tepatnya setahun setelah pengangkatannya, tahun 1994. Istilah sekolah unggul lahir dari satu visi yang jauh menjangkau ke depan, wawasan keunggulan. Menurut Wardiman, selain mengharapkan terjadinya distribusi ilmu pengetahuan, dengan membuat sekolah unggul ditiap-tiap propinsi, peningkatan SDM menjadi sasaran berikutnya. Lebih lanjut, Wardiman menambahkan bahwa kehadiran sekolah unggul bukan untuk diskriminasi, tetapi untuk menyiapkan SDM yang berkualitas dan memiliki wawasan keunggulan. &lt;br /&gt; Di lingkungan kementerian agama, definisi madrasah unggulan adalah madrasah program unggulan yang lahir dari sebuah keinginan untuk memiliki madrasah yang mampu berprestasi di tingkat nasional dan dunia dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi ditunjang oleh akhlakul karimah. Sementara sekolah Islam unggulan adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran (out put) pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut, maka masukan (input), proses pendidikan, guru dan tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut. &lt;br /&gt;Menurut Moedjirto, setidaknya dalam praktik dilapangan terdapat tiga tipe madrasah atau sekolah Islam unggulan. Pertama, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis pada anak cerdas. Tipe seperti ini sekolah atau madrasah hanya menerima dan menyeleksi secara ketat calon siswa yang masuk dengan kriteria memiliki prestasi akademik yang tinggi. Meskipun proses belajar-mengajar di lingkungan madrasah atau sekolah Islam tersebut tidak terlalu istimewa bahkan biasa-biasa saja, namun karena input siswa yang unggul, maka mempengaruhi outputnya tetap berkualitas.&lt;br /&gt; Kedua, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis pada fasilitas. Sekolah Islam atau madrasah semacam ini cenderung menawarkan fasilitas yang serba lengkap dan memadahi untuk menunjang kegiatan pembelajarannya. Tipe ini cenderung memasang tarif lebih tinggi ketimbang rata-rata sekolah atau madrasah pada umumnya. Untuk tingkat dasar, madrasah atau sekolah Islam unggulan di Kota Malang, misalnya, rata-rata uang pangkalnya saja bisa sekitar lebih dari 5 hingga 10 juta. Biaya yang tinggi tersebut digunakan untuk pemenuhan sarana dan prasarana serta sejumlah fasilitas penunjang lainnya.&lt;br /&gt; Ketiga, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasi pada iklim belajar. Tipe ini cenderung menekankan pada iklim belajar yang positif di lingkungan sekolah/madrasah. Lembaga pendidikan dapat menerima dan mampu memproses siswa yang masuk (input) dengan prestasi rendah menjadi lulusan (output) yang bermutu tinggi. Tipe ketiga ini termasuk agak langka, karena harus bekerja ekstra keras untuk menghasilkan kualitas yang bagus. &lt;br /&gt; Dari uraian di atas dapat didefinisikan bahwa sekolah Islam atau madrasah unggulan adalah lembaga pendidikan Islam yang memiliki komponen unggul, yang tercermin pada sumber daya manusia (pendidik, tenaga kependidikan, dan siswa) sarana prasarana, serta fasilitas pendukung lainnya untuk menghasilkan lulusan yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi secara terampil, memiliki kekokohan spiritual (iman dan/atau Islam), dan memiliki kepribadian akhlak mulia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Unsur Pendukung Madrasah dan Sekolah Islam Unggulan&lt;br /&gt;Dalam pelaksanaannya, madrasah dan sekolah Islam unggulan perlu mendapat dukungan beberapa unsur pokok yang harus terpenuhi. Idealnya kata unggulan itu memiliki performansi yang sebanding lurus dengan amanah yang diembannya guna memenuhi harapan dan kepercayaan dari stakeholders, orangtua siswa, masyarakat dan pemerintah.&lt;br /&gt;Menurut Imron Arifin, unsur pendukung madrasah atau sekolah Islam berprestasi (unggul) itu setidaknya ada sembilan faktor, yaitu:&lt;br /&gt;1. Faktor sarana dan prasarana. Meliputi (a) fasilitas sekolah yang lengkap dan memadahi, (b) sumber belajar yang memadahi dan (c) sarana penunjang belajar yang memadahi.&lt;br /&gt;2. Faktor guru. Meliputi (a) tenaga guru mempunyai kualifikasi memadahi, (b) kesejahteraan guru terpenuhi, (c) rasio guru-murid ideal, (d) loyalitas dan komitmen tinggi, dan (e) motivasi dan semangat kerja guru tinggi.&lt;br /&gt;3. Faktor murid. Meliputi (a) pembelajaran yang terdiferensiasi, (b) kegiatan intra dan ekstrakulikuler bervariasi, (c) motivasi dan semangat belajar tinggi, (d) pemberdayaan belajar bermakna.&lt;br /&gt;4. Faktor tatanan organisasi dan mekanisme kerja. Meliputi (a) tatanan organisasi yang rasional dan relevan, (b) program organisasi yang rasional dan relevan, (c) mekanisme kerja yang jelas dan terorganisasi secara tepat.&lt;br /&gt;5. Faktor kemitraan. Meliputi (a) kepercayaan dan harapan orangtua tinggi, (b) dukungan dan peran serta masyarakat tinggi, (c) dukungan dan bantuan pemerintah tinggi.&lt;br /&gt;6. Faktor komitmen/sistem nilai. Meliputi (a) budaya lokal yang saling mendukung, (b) nilai-nilai agama yang memicu timbulnya dukungan positif.&lt;br /&gt;7. Faktor motivasi, iklim kerja, dan semangat kerja. Meliputi (a) motivasi berprestasi pada semua komunitas sekolah, (b) suasana, iklim kerja dan iklim belajar sehat dan positif, dan (c) semangat kerja dan berprestasi tinggi.&lt;br /&gt;8. Faktor keterlibatan Wakil Kepala sekolah dan guru-guru. Meliputi (a) keterwakilan kepala sekolah dalam pembuatan kebijakan dan pengimplementasiannya, (b) keterwakilan kepala sekolah dan guru-guru dalam menyusun kurikulum dan program-program sekolah, dan (c) keterlibatan wakil kepala sekolah dan guru-guru dalam perbaikan dan inovasi pembelajaran.&lt;br /&gt;9. Faktor kepemimpinan kepala sekolah. Meliputi (a) piawai memanfaatkan nilai religio-kultural, (b) piawai mengkomunikasikan visi, inisiatif, dan kreativitas, (c) piawai menimbulkan motivasi dan membangkitkan semangat, (d) piawai memperbaiki pembelajaran yang terdiferensiasi, (e) piawai menjadi pelopor dan teladan, dan (f) paiwai mengelola administrasi sekolah.  &lt;br /&gt;Selain dari pandangan di atas, penulis ingin menjelaskan dan barangkali menambahkan beberapa unsur pendukung utama yang harus dimiliki oleh madrasah dan sekolah Islam unggulan. Paling tidak, ada tiga hal yang perlu tersedia, yaitu (1) sumber daya manusia unggul, (2) sarana prasarana akademik yang representatif, dan (3) fasilitas penunjang internalisasi nilai keislaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sumberdaya Manusia Unggul&lt;br /&gt;Sumber daya manusia (SDM) merupakan asset terpenting yang dimiliki oleh madrasah dan sekolah Islam unggulan. Rekrutmen dan pengembangan SDM harus dilakukan secara terus menerus karena merupakan salah satu perioritas untuk menggapai kualitas/mutu akademik yang baik. Sumber daya manusia dimaksud meliputi; guru, tenaga administrasi (karyawan), dan tenaga laboran. &lt;br /&gt;Sebagai lembaga unggulan, madrasah dan sekolah Islam harus membuat profil sumber daya manusia, terutama bagi guru-guru, dengan kreteria performent sebagai berikut: &lt;br /&gt;1. Menampakkan diri sebagai sosok muslim dimana saja ia berada.&lt;br /&gt;2. Memiliki wawasan keilmuan yang luas dan profesionalisme yang tinggi, kreatif, dinamis dan inovatif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;3. Menunjukkan sikap dan perilaku jujur, amanah dan berakhlak mulia serta dapat menjadi panutan bagi kolega, siswa dan siapa saja.&lt;br /&gt;4. Menampakkan dedikasi dan disiplin tinggi serta mematuhi kode etik profesi guru&lt;br /&gt;5. Memiliki kesadaran tinggi dalam bekerja yang didasari oleh niat beribadah dan selalu berupaya meningkatkan kualitas pribadi&lt;br /&gt;6. Bertindak secara arif dan bijak dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap masalah.&lt;br /&gt;7. Memiliki sifat sabar, ikhlas dan akomodatif dalam pergaulan&lt;br /&gt;8. Mengedepankan prasangka baik dan menjahui prasangka buruk&lt;br /&gt;Dari delapan performent tersebut di atas diharapkan cita-cita dan harapan masyarakat terhadap madrasah dan sekolah Islam unggulan lebih mantap dan yakin. Sebab lembaga pendidikan Islam dituntut menjadi pionir dan tauladan dalam mengedepankan kualitas, menjunjung etika atau moral dan sikap profesionalisme.&lt;br /&gt;Profesionalisme guru sangat dibutuhkan untuk mengembangkan mutu dan daya saing institusi. Dalam Kamus Besar Indonesia, profesionalisme mempunyai makna; mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau yang profesional.  Profesionalisme merupakan sikap dari seorang profesional. Artinya sebuah term yang menjelaskan bahwa setiap pekerjaan hendaklah dikerjakan oleh seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidangnya atau profesinya. &lt;br /&gt;Menurut Supriadi, penggunaan istilah  profesionalisme menunjuk pada derajat penampilan seseorang sebagai profesional atau penampilan suatu pekerjaan sebagai suatu profesi, ada yang profesionalismenya tinggi, sedang dan rendah. Profesionalisme juga mengacu kepada sikap dan komitmen anggota profesi untuk bekerja berdasarkan standar yang tinggi dan kode etik profesinya. &lt;br /&gt;Konsep profsionalisme, seperti yang dikembangkan oleh Hall, kata tersebut banyak digunakan peneliti untuk melihat bagaimana para profesional memandang profesinya, yang tercermin dari sikap dan perilaku mereka.  Konsep profesionalisme seperti yang dijelaskan Sumardi,  bahwa ia memiliki lima prinsip atau muatan pokok, yaitu: pertama, afiliasi komunitas (community affilition) yaitu menggunakan ikatan profesi sebagai acuan, termasuk di dalamnya organisasi formal atau kelompok-kelompok kolega informal sumber ide utama pekerjaan. Melalui ikatan profesi ini para profesional membangun kesadaran profesi.&lt;br /&gt;Kedua, kebutuhan untuk mandiri (autonomy demand) merupakan suatu pendangan bahwa seseorang yang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain (pemerintah, klien, mereka yang bukan anggota profesi). Setiap adanya campur tangan (intervensi) yang datang dari luar, dianggap sebagai hambatan terhadap kemandirian secara profesional. Banyak yang menginginkan pekerjaan yang memberikan hak-hak istimewa untuk membuat keputusan dan bekerja tanpa diawasi secara ketat. Rasa kemandirian dapat berasal dari kebebasan melakukan apa yang terbaik menurut yang bersangkutan dalam situasi khusus. Ketiga, keyakinan terhadap peraturan sendiri/profesi (belief self regulation) dimaksud bahwa yang paling berwenang dalam menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, bukan “orang luar” yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka. &lt;br /&gt;Keempat, dedikasi pada profesi (dedication) dicerminkan dari dedikasi profesional dengan menggunakan pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki. Keteguhan tetap untuk melaksanakan pekerjaan meskipun imbalan ekstrinsik dipandang berkurang. Sikap ini merupakan ekspresi dari pencurahan diri yang total terhadap pekerjaan. Pekerjaan didefinisikan sebagai tujuan. Totalitas ini sudah menjadi komitmen pribadi, sehingga kompensasi utama yang diharapkan dari pekerjaan adalah kepuasan ruhani dan setelah itu baru materi, dan yang kelima, kewajiban sosial (social obligation) merupakan pandangan tentang pentingnya profesi serta manfaat yang diperoleh baik oleh masyarakat maupun profesional karena adanya pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;Kelima pengertian di atas merupakan kreteria yang digunakan untuk mengukur derajat sikap profesional seseorang. Berdasarkan defenisi tersebut maka profesionalisme adalah konsepsi yang mengacu pada sikap seseorang atau bahkan bisa kelompok, yang berhasil memenuhi unsur-unsur tersebut secara sempurna. Itulah gambaran bagaimana sikap profesionalisme sumber daya manusia unggul yang disertai dengan jiwa dan semangat yang tinggi terhadap profesi (pekerjaan) yang disandangnya.&lt;br /&gt;2. Sarana dan Prasarana Akademik&lt;br /&gt;Untuk menunjang program pendidikan yang berkualitas tinggi diperlukan sarana dan prasarana akademik yang representatif. Setidaknya ada lima hal yang harus dipenuhi dalam menunjang kegiatan pendidikan di madarsah dan sekolah Islam unggulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Ruang Belajar yang Representatif&lt;br /&gt;Madrasah dan sekolah unggulan biasanya dapat dengan mudah kita dilihat dari segi fisiknya, yaitu tatanan gedung sekolah yang megah dan indah yang mampu menciptakan lingkungan yang edukatif. Gedung sekolah memang setidaknya menjadi daya tarik dan sekaligus kenyamanan dalam suasana belajar. Faktor eksternal ini penting, karena pembelajaran sangat membutuhkan sebuah ruang belajar yang memadahi dan representatif.&lt;br /&gt;Untuk mendukung efektifitas dan efesiensi belajar, madrasah dan sekolah Islam unggulan perlu menyediakan ruang belajar yang asri dan nyaman bagi para murid. Ruang belajar merupakan sarana yang urgen dan pokok, sehingga semua ruang kelas belajar dapat dipenuhi fasilitas yang menunjang kegiatan belajar, misalnya dilengkapi LCD dan komputer, VCD player untuk menjelaskan materi yang berbasis CD/VCD, bahkan bila mungkin setiap ruang/gedung dilengkapi dengan CCTV agar proses belajar mengajar dapat dipantau secara maksimal. Untuk kebutuhan khusus, ruang belajar dapat didesain secara menarik, agar terjadi interaksi dan pergumulan belajar yang mampu menumbuhkan budaya dan kultur akademik yang tinggi. &lt;br /&gt;Melalui ruang belajar yang representatif itu perlu dikembangkan lebih lanjut dengan pembelajaran yang menerapkan sistem berbasis klasikal dan dipadu dengan berbasis riset atau eksperimen melalui laboratorium atau ruang yang khusus untuk pembelajaran materi tertentu. Bila perlu, terdapat layanan free hotspot yang telah di back up (disterilkan dari website terlarang) terlebih dahulu untuk  menambahkan suasana belajar lebih menarik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Perpustakaan&lt;br /&gt;Perpustakaan adalah jantungnya sebuah lembaga pendidikan. Keberadaaan perpustakaan sekolah atau madrasah dimaksudkan untuk menampung koleksi buku, jurnal, majalah, CD pembelajaran yang berguna mengembangkan keilmuan para peserta didik di sekolah dan madrasah. &lt;br /&gt;Sesuai dengan tingkat kebutuhan para pelajar, perpustakaan dapat dilengkapi dengan alat digital yang canggih untuk melayani sistem peminjaman dan pengembalian secara elektronik. Buku-buku yang terkoleksi tidak saja berbahasa Indonesia, akan tetapi bahasa asing (arab dan/atau inggris). Selain buku, perpustakaan juga menyediakan sumber koleksi jurnal, hasil penelitian, CD corner, dan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Laboratorium&lt;br /&gt;Sebagai penunjang mutu pengembangan akademik, laboratorium difungsikan untuk meningkatkan kompetensi dan skill siswa. Melalui laboratorium para guru dan siswa dapat melakukan riset dan eksperimen bersama-sama guna menghasilkan temuan-temuan yang handal, hebat dan bermanfaat yang berguna tidak saja bagi pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk kebutuhan masyarakat luas. &lt;br /&gt;Dalam madrasah dan sekolah Islam unggulan semestinya laboratorium dirancang untuk menghasilkan temuan-temuan baru yang berbasis integratif, yakni dengan memadukan antara perspektif Islam (al-Qur’ani –Hadits) dan sains. Bila hal ini dapat dilakukan para guru dan siswa, maka kontekstualisasi pembelajaran semakin lebih berbobot. &lt;br /&gt;Para siswa diajak untuk melihat gejala dan fenomena ilmu pengetahuan dengan sentuhan nilai-nilai ajaran Islam, yakni al-Qur’an  dan hadits. Laboratorium sebagai pusat pembelajaran sangat menjanjikan kualitas masa depan para siswa, karena melalui observasi, riset dan eksperimen mereka akan mendapat pengalaman yang lebih berarti bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Fasilitas Penunjang Internalisasi Nilai Keislaman&lt;br /&gt;a. Boarding (Asrama/ma’had)&lt;br /&gt;Beberapa madrasah dan sekolah Islam unggulan yang ada di tanah air, baik tingkat dasar sampai menengah atas, ada yang memadukan antara sistem pendidikan madrasah atau sekolah dengan sistem pesantren (ma’had/asrama). Keberadaan ma’had ini sangat penting dan strategis untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu terwujudnya kepribadian, kemandirian, serta menanamkan nilai-nilai spiritual dan akhlak kepada siswa.&lt;br /&gt;Di samping itu, fungsi ma’had adalah untuk mengembangkan pembelajaran bahasa asing, yaitu bahasa Arab dan Inggris. Sebagai salah bentuk keunggulan yang harus dimiliki oleh madrasah atau sekolah Islam unggulan. Tujuan didirikannya ma’had dilingkungan madrasah atau sekolah Islam adalah untuk menciptakan suasana kondusif bagi pembiasaan belajar berkomunikasi bahasa asing, melatih dan membiasakan shalat berjama’ah, membaca dan menghafalkan al-qur’an, serta melakukan kajian-kajian keislaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Masjid&lt;br /&gt;Masjid merupakan pilar utama yang dikembangkan di lingkungan madrasah dan sekolah Islam. Untuk menerjemahkan visi-misi dan tujuan pendidikan madrasah dan sekolah Islam unggulan itu, maka masjid dapat difungsikan untuk mengisi kedalaman spiritual bagi semua warga sekolah atau madrasah. Melalui masjid, kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, para guru dan karyawan, serta semua siswa dapat membiasakan shalat jama’ah, dzikir bersama, khatmul qur’an, hifdzul qur’an serta sebagai pusat kajian-kajian keislaman.&lt;br /&gt; Kalau madrasah dan sekolah Islam itu menerapkan sistem boarding (asrama), maka peran masjid menjadi sangat sentral. Semua warga sekolah atau madrasah dapat secara bersama sama memfungsikan masjid sebagai sarana ibadah dan tempat mendalami kandungan al-qur’an dan hadits. Masjid digunakan sebagai wahana pembinaan spiritual bagi seluruh siswa, terutama menumbuh-kembangkan mental, moral dan karakter siswa yang mereka selama 24 jam hidup di lingkungan madrasah atau sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Perencanaan Madrasah dan Sekolah Unggulan&lt;br /&gt;1. Reformulasi Visi-Misi dan Tujuan Kelembagaan&lt;br /&gt;Setiap madrasah dan sekolah Islam unggulan memiliki visi-misi dan tujuan yang berjangkaun luas. Hadirnya pendidikan madrasah dan sekolah Islam unggulan adalah untuk mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas dan memberi kontribusi pada perbaikan kualitas SDM Indonesia yang lebih mumpuni.&lt;br /&gt;Umat Islam pada umumnya merindukan sebuah lembaga pendidikan Islam yang unggul dan berprestasi. Menurut Azumardi Azra, bahwa tujuan munculnya madrasah atau sekolah Islam unggulan merupakan proses “santrinisai” masyarakat muslim Indonesia. Proses santrinisasi itu dapat digambarkan melalui dua cara. Pertama, siswa pada umumnya telah mengalami “islamisasi” namun perlu mendapat perhatian dan penekanan lebih mendalam lagi, selain mempelajari ilmu-ilmu umum secara berkualitas. Mereka dibimbing lebih intensif bagaimana membaca al-Qur’an secara fasih, melaksanakan shalat dengan tepat dan benar, hingga memahami nilai-nilai ajaran substansial dalam Islam.&lt;br /&gt;Kedua, ketika para siswa belajar di madrasah dan sekolah Islam unggulan itu pulang ke rumah, mereka dapat mengajarkan kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya. Paling tidak, para siswa memiliki rasa tanggungjawab kepada orangtua dan keluarganya untuk mendakwahkan misi dan tujuan Islam yang mulia itu. &lt;br /&gt;Untuk menjadikan madrasah dan sekolah Islam itu benar-benar unggul, perlu sebuah formulasi konsep, visi-misi dan tujuan yang hendak dicapai oleh lembaga itu. Sekolah Islam/madrasah unggulan bukan sekadar slogan dan nama, melainkan mengemban amanah yang mulia untuk melahirkan lulusan yang mutunya baik. Visi-misi dan tujuan itu kemudian dijadikan sebagai acuan dan nilai-nilai bagi para pimpinan, guru dan karyawan serta para siswa untuk mendasari setiap aktivitas dan kegiatan pembelajarannya.&lt;br /&gt;Melalui visi-misi dan tujuan itu, maka madrasah dan sekolah Islam unggulan akan dapat memetakan rencana strategis dan serangkaian program yang relevan dan signifikan. Misalnya apakah sistem madrasah dan sekolah Islam itu diformat dengan sistem perpaduan antara pesantren dengan pendidikan madrasah/sekolah, atau menentukan program full day school sebagai langkah dan upaya untuk mencapai kualitas pembelajaran yang diinginkannya. &lt;br /&gt;Penyusunan visi-misi dan tujuan kelembagaan membutuhkan kerja kolektif antara pimpinan, para guru dan warga sekolah/madrasah. Sebab, rumusan itu harus dapat diterima oleh semua pihak dan dapat dijalankan siapa saja yang berada di lingkungan institusi tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Analisis Kebutuhan Sistem Akademik dan kelembagaan&lt;br /&gt;Madrasah dan sekolah Islam unggulan membutuhkan perencanaan yang holistik dan padu. Misalnya analisis tentang pengembangan sumberdaya, sarana dan prasarana, manajemen kesiswaan, peningkatan manajerial kepala madrasah/sekolah dan pengembangan kurikulum. &lt;br /&gt;Keunggulan madrasah dan sekolah Islam bisa dilihat dalam dalam beberapa ciri pokok yaitu: (1) kepemimpinan dan manajemen yang kuat (2) kualitas sumberdaya yang unggul (3) input siswa berkualitas (4) sarana dan prasarana yang mendukung, termasuk sistem asrama jika dimungkinkan (5) kurikulum yang berkembang secara adaptif, termasuk ekstrakurikuler (6) kerjasama kelembagaan dan dukungan masyarakat luas.&lt;br /&gt;Pada aspek kepemimpinan dan manajemen, kepemimpinan madrasah dan sekolah Islam unggulan dipacu dengan peningkatan kualitas kepribadian, peningkatan kemampuan manajerial dan pengetahuan konsep-konsep pendidikan kontemporer yang dilakukan melalui pendidikan short-course, orientasi program, yang dilaksanakan secara simultan dan kontinyu.&lt;br /&gt;Peningkatan kualitas sumberdaya dimulai dengan peningkatan kualitas guru bidang studi dengan memberikan kesempatan belajar kejenjang pendidikan S-2/S-3 di dalam dan luar negeri dan short-course sesuai dengan kebutuhan. Peningkatan kualitas tenaga kependidikan seperti tenaga ahli perpustakaan, laborat dan administrasi juga merupakan fokus garapan dalam peningkatan kualitas madrasah/sekolah unggulan. Program-program yang dikembangkan juga beragam. Dan yang unik, peningkatan kualitas sumberdaya manusia juga melibatkan komite madrasah/sekolah, pengawas pendidikan, pengurus Kelompok Kerja Guru (KKG) baik ditingkat kecamatan, maupun kota/kabupaten.&lt;br /&gt;Peningkatan mutu sarana dan prasarana pendidikan difokuskan untuk pengadaan peralatan dan ruangan Laboratorium terpadu, Lab Fisika, Biologi, Bahasa dipadukan dengan Lab. Komputer. Dengan adanya Lab terpadu ini, madrasah dan sekolah Islam unggulan dimungkinkan dapat melakukan pembelajaran mandiri, sebab sudah dilengkapi dengan modul-modul yang memacu pembelajaran aktif (active learning) dan pembelajaran berbasis kompetensi. Selain itu fasilitas penunjang lain seperti masjid dan pesantren dapat difungsikan untuk memacu soft skill bagi para guru dan siswa.&lt;br /&gt;Kurikulum madrasah dan sekolah Islam juga digarap sedemikian rupa untuk memacu keunggulan dalam aspek muatan lokal, ketrampilan-ketrampilan vokasional, dan ekstra kurikuler. Dalam pengembangan muatan lokal di madrasah model dimungkinkan penambahan jam belajar diluar jam sekolah/madrasah, sehingga siswa berada lebih lama di lingkungan sekolah/madrasah. Muatan lokal bisa berbentuk ciri khas keunggulan daerah seperti kesenian, budaya, bahasa, ketrampilan khusus, sesuai dengan kebutuhan.&lt;br /&gt;Ketrampilan vokasional merupakan ketrampilan yang dibutuhkan untuk memperoleh kahlian khusus di bidang-bidang pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus, seperti pertanian, perbengkelan, tata-busana, tata-boga, dan lain-lain. Sedangkan kegiatan ekstra adalah kegiatan pendukung yang memungkinkan siswa untuk meningkatkan minat dan bakat, misalnya seni, pramuka, palang-merah, pecinta-alam, organisasi siswa, koperasi pelajar, musik, drumband, komputer, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Kerjasama kelembagaan dan menggerakkan dukungan msyarakat merupakan keunggulan madrasah dan sekolah Islam yang memang sudah menjadi ciri khas, sebab pada dasarnya madrasah dan sekolah Islam  merupakan community based education. Ketersediaan pendanaan sektor pendidikan madrasah yang terbatas dan sustainabilitas program pengembangan madrasah mutlak membutuhkan dukungan masyarakat dan kerjasama dengan instansi-instansi pemerintah maupun swasta. Hal ini sudah dirintis sejak program perintisan madrasah model, unggulan dan terpadu, seagai sebuah exit strategy yang diterapkan dengan melibatkan masyarakat dan pemrintah terkait dalam perencanaan program dan evaluasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memahami Konteks Geografis dan Budaya&lt;br /&gt;Dewasa ini kecenderungan madrasah dan sekolah Islam unggulan dapat tumbuh dan menjamur di mana-mana. Pada dekade 90-an, sekolah Islam unggulan semacam itu hanya dapat tumbuh di sejumlah kota, seperti Jakarta, Surabaya, Cirebon, Semarang dan beberapa kota lainnya. Kini sekolah Islam unggulan itu tidak selalu identik dengan budaya kota, tetapi telah merambah ke desa-desa.&lt;br /&gt;Ada kelebihan dan keunggulan yang tampak dimiliki oleh madrasah dan sekolah Islam unggulan bila posisinya berada di wilayah desa, bila dibanding dengan berada di kota-kota besar. Kelebihan itu adalah tingkat atmosfir dan dialektika pergaulan sehari-hari para siswa masih alami dan natural, dibanding dengan wilayah kota, yang telah terkontaminasi oleh kultur/budaya asing, bahasa, dan pergaulan yang bebas.&lt;br /&gt; Dalam lingkup konteks Malang misalnya, sekolah Islam unggulan itu justru berada di wilayah pinggiran kota. Misalnya Al-Rahma dan Al-Izza yang letaknya di pinggiran kota, saat ini menjadi salah satu sekolah Islam unggulan yang cukup mendapat animo dan minat di hati masyarakat, tidak saja dari warga Malang Raya, tetapi juga dari luar wilayah Malang. Nuansa lokal itu akan lebih memberikan iklim dan budaya belajar lebih baik, karena jauh dari keramaian dari pusat perbelanjaan (mall), tempat pertunjukan dan permainan, serta godaan lainnya. Apalagi sistem pendidikannya dipadu dengan model pesantren, mereka harus tinggal di dalam asrama hingga tamat belajar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;E. Pengembangan Madrasah dan Sekolah Unggulan&lt;br /&gt;Dalam rangka mewujudkan pengembangan madrasah dan sekolah Islam unggulan memerlukan langkah dan upaya yang fisibel dan kredibel. Sebab saat ini madrasah dan sekolah Islam unggulan harus bersaing dengan beberapa lembaga pendidikan yang sedang mencanangkan program rintisan madrasah bertaraf internasional (RMBI) atau rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI). &lt;br /&gt;Perencanaan (pengembangan) membutuhkan langkah strategis untuk mengembangkan keunggulan madrasah dan sekolah Islam unggulan. Penguatan keunggulan lembaga tersebut melalui cara membangun cita dan kultur akademik yang kokoh. Cita-cita didirikannya madrasah dan sekolah Islam adalah sangat mulia, yaitu ingin melahirkan lulusan yang unggul di bidang akademik, spiritual dan moral. Selama ini, hanya ada dua lembaga pendidikan yang melahirkan identitas ilmuwan yang berbeda. Yaitu pondok pesantren yang ingin melahirkan ulama’ (ahli agama) dan sekolah umum yang ingin melahirkan kaum intelektual (akademis). Madrasah dan sekolah Islam unggulan selama ini sesungguhnya bercita-cita ingin meraih kedua corak tersebut, yakni mencetak calon ulama’ sekaligus intelek atau intelek yang sekaligus ulama’.&lt;br /&gt;Visi dan misi yang ideal tersebut harus diperjuangkan dan diwujudkan melalui pembenahan berbagai aspek, baik terkait dengan konsep bangunan keilmuannya (kurikulum), sumber daya manusia, pengembangan sarana dan prasarana, kelembagaan maupun leadership dan managerialnya. &lt;br /&gt;Langkah strategis untuk melakukan pengembangan madrasah dan sekolah Islam unggulan tersebut memerlukan upaya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membangun Mindset Secara Kolektif&lt;br /&gt;Untuk mengembangkan mutu madrasah dan sekolah Islam unggulan membutuhkan pandangan, cita-cita, imajinasi, nilai-nilai keyakinan yang kuat dan kolektif. Walaupun seringkali muncul sebuah perbedaan (konflik) di madrasah atau sekolah Islam, yang cukup mengganggu kepentingan institusi yang akan dikembangkan bersama-sama. Tatkala tumbuh konflik kepentingan, antara kepentingan individu dan institusi, maka yang harus dimenangkan adalah kepentingan institusi. Aspek kepentingan institusi harus dibangun secara kolektif dengan orientasi yang sama. Kepentingan institusi harus dikedepankan daripada kepentingan individu.&lt;br /&gt;Mindset yang perlu dibangun pada lembaga pendidikan Islam unggulan adalah menanamkan keyakinan dan tekad bersama kepada seluruh warga sekolah atau madrasah. Mereka digerakkan untuk memperjuangkan keunggulan institusi, dengan cara mengimplementasikan visi, misi, tradisi, orientasi dan mimpi-mimpinya ke depan selalu disosialisasikan oleh pimpinan di semua tingkatan melalui berbagai bentuk publikasi, baik secara lisan, tulisan dan bahkan media lainnya secara terus menerus ke seluruh warga madrasah atau sekolah.&lt;br /&gt;Mindset secara kolektif tersebut menjadi modal sosial (social capital) bagi pengembangan kultur akademik di madrasah atau sekolah Islam unggulan ke depan. Madrasah atau sekolah unggulan membutuhkan lingkungan akademik yang handal dan tekad bersama. Inspirasi dan semangat inilah yang harus dibangun dan dikembangkan untuk meningkatkan mutu akademik dan institusinya. &lt;br /&gt;Pengembangan cita dan kultur akademik sesungguhnya selaras dengan visi dan misi madrasah dan sekolah Islam unggulan. Kata ”keunggulan” menyiratkan adanya kekuatan dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain pada umumnya. Ciri dan karakteristik tersebut harus dijaga sekaligus dihidupkan agar persepsi masyarakat tidak salah tangkap. Istilah unggulan bukan hanya sekadar nama dan label, akan tetapi merupakan gambaran utuh yang didalamnya terdapat suasana akademik yang unggul, kultur lembaga (budaya organisasi) yang efektif, kualitas pembelajaran (learning quality) yang kreatif dan inovatif, serta internalisasi nilai-nilai keislaman yang aktual dalam setiap perilaku, sikap dan perbuatan sehari-hari di madrasah dan sekolah Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menciptakan Inovasi secara Terus Menerus &lt;br /&gt;Keunggulan lembaga madrasah dan sekolah Islam sesungguhnya terletak pada inovasinya. Inovasi merupakan usaha dan kerja nyata untuk mencari dan membuat hal baru demi meraih kemajuan dan keunggulan bagi lembaga pendidikan itu sendiri. Inovasi harus didasarkan pada kebutuhan idealita dan realita agar lembaga madrasah dan sekolah Islam itu terus maju dan berkembang. &lt;br /&gt;Inovasi tiada henti harus terus menerus digerakkan untuk memacu kualitas dan daya saing yang tinggi. Inovasi tidak saja diperlukan untuk selalu menyempurnakan kondisi madrasah, tetapi juga penting untuk membangun keutuhan (holistika) tujuan pendidikan madrasah dan sekolah Islam. Usaha dan kerja nyata itu ditempuh secara serentak, menyeluruh dan padu di antara beberapa elemen yang ada di madrasah dan sekolah Islam.&lt;br /&gt;Bentuk inovasi itu misalnya, perbaikan atau penambahan sarana fisik, akademik, tenaga guru dan karyawan, perekrutan siswa dan seluruh aspek yang ada. Inovasi lainnya misalnya menciptakan kultur madrasah atau sekolah Islam berbasis bilingual, mentradisikan hafalan al-qur’an, menggerakkan pusat seni dan olah raga, dan seterusnya. Modal seperti inilah yang harus dituangkan dalam visi dan orientasi madrasah dan sekolah Islam unggul itu.&lt;br /&gt;Melalui usaha demikian dimaksudkan agar madrasah dan sekolah Islam unggulan dapat  menawarkan sesuatu yang baru,  yang khas dan memiliki keunikan yang diperhitungkan oleh banyak orang. Tugas ini membutuhkan seorang pemimpin yang imajinatif dan didukung oleh warga sekolah atau mdrasah yang dedikatif dan istiqamah. Tanpa modal itu inovasi sulit diwujudkan dalam kerangka operesional di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memanfaatkan Teknologi Informasi&lt;br /&gt;Menurut hemat penulis, untuk memajukan madrasah dan sekolah Islam yang merata dan berkualitas membutuhkan energi pikiran, tenaga dan usaha yang tiada henti. Madrasah dan sekolah Islam unggulan saatnya mengembangkan pembelajaran berbasis digital, selain yang sudah ada, guna mengefektifkan program dan kegiatan pendidikan yang lebih maksimal. &lt;br /&gt;Pendidikan madrasah dan sekolah Islam unggulan jangan sampai tertinggal di bidang teknologi informasinya. Dengan pemanfaat IT tersebut para siswa dapat belajar lebih intensif, disamping melalui sistem reguler dan kurikuler. IT dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang mudah dan berjangkauan luas, tanpa hambatan waktu dan tempat. &lt;br /&gt;Untuk menciptakan mutu layanan akademik, menurut hemat penulis dapat kembangkan sistem digital di sekolah atau madrasah. Hampir semua aktivitas akademik melibatkan internet, sehingga program-program sekolah atau madrasah dapat berjalan secara sinergis antara unit satu dengan unit-unit lainnya. Melalui proses digital ini, upaya untuk memajukan madrasah atau sekolah sangatlah mudah diukur dan dirasakan oleh para pengguna. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Arifin, Imron, 2008. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengelola Sekolah Berprestasi, Yogyakarta: Aditya Media.&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta:Logos.&lt;br /&gt;M. Natsir, 1954. Kapita Selekta, Jakarta: Bulan Bintang.  &lt;br /&gt;Moedjiarto, 2002. Sekolah Unggul, Surabaya: Duta Graha Pustaka.&lt;br /&gt;Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka. Edisi III.&lt;br /&gt;SINERGI, Jurnal Populer Seumber Daya Manusia, Volume 1, No. 1 Januari-Maret 1998. &lt;br /&gt;Sjafri Sairin, Membangun Profesionalisme Muhammadiyah, (Yogyakarta: Lembaga Pengembangan Tenaga Profesi [LPTP], 2003), hal 37.&lt;br /&gt;Sumardi, Pengaruh Pengalaman Terhadap Profesionalisme Serta Pengaruh Profesionalisme Terhadap Kinerja dan Kepuasan Kerja, Tesis, Undip, 2001.&lt;br /&gt;Supiana, 2008. Sistem Pendidikan Madrasah Unggulan, Depag RI: Balitbang dan Diklat.&lt;br /&gt;Supriadi, Dedi, 1998. Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. &lt;br /&gt;Yohanes Sri Guntur, dkk., Analisis Pengalaman Terhadap Profesionalisme dan Analisis Pengaruh Profesionalisme Terhadap Hasil Kerja, dalam Jurnal Manajemen dan Sistem Informasi (MAKSI) Undip, Semarang, Vol. 1, Agustus 2002.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6144751574476350226?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6144751574476350226/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/01/perencanaan-madrasah-dan-sekolah-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6144751574476350226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6144751574476350226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2011/01/perencanaan-madrasah-dan-sekolah-islam.html' title='PERENCANAAN MADRASAH DAN SEKOLAH ISLAM UNGGULAN'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-1793919499241641966</id><published>2010-12-22T10:49:00.001+07:00</published><updated>2010-12-22T10:54:03.950+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Dari Civil Society menuju Global Society</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI sejumlah pengalaman banyak negara, demokrasi merupakan jalan berliku dan penuh duri yang membutuhkan terobosan manajemen gerakan dari aktor organisasi masyarakat sipil. Dalam konteks Indonesia misalnya, kebekuan demokrasi selama bertahun-tahun hanya mampu dilawan dan dipecahkan lewat peran masyarakat sipil. &lt;br /&gt; Peran civil society (masyarakat sipil) dimungkinkan dapat menembus lintas batas sektoral yang menghadangnya. Sebab tantangan serius bagi civil society, baik secara domestik maupun global, pasti akan berhadapan dengan “kekuasaan” dan “kekuatan kapital” yang itu merupakan musuh internal dan eksternal suatu bangsa.&lt;br /&gt; Saat ini negara-negara maju menginginkan bagaimana caranya agar civil society mefungsikan peran-peran organisasi sosialnya; seperti media, perguruan tinggi, ormas, kelompok agama, kelompok adat, ikut berpartisipasi melakukan check and balance terhadap power negara dan tekanan kapital yang meruntuhkan pilar-pilar demokrasi.&lt;br /&gt; Dengan mengefektifkan organisasi sosial tersebut, sendi-sendi demokrasi dapat dibangun di atas kepentingan bersama, walaupun harus berbeda partai, suku, agama, status pendidikan dan sosial,  demi memajukan pembangunan bangsa. &lt;br /&gt; Harus diakui bahwa sampai saat ini, organisasi civil society di Indonesia masih lemah dan memiliki kapasitas terbatas. Hal ini terutama disebabkan karena sebagian besar dari organisasi tersebut belum mandiri, khususnya ketika bersinggungan dengan pendanaan, yang ujung-ujungnya sering ketergantungan dengan “agen asing” dari yang memberikan bantuan itu.&lt;br /&gt; Dalam pandangan Andiwidjayanto (2007), dikatakan bahwa betapa derasnya arus perubahan sosial, budaya dan politik terjadi ditingkat global yang ikut mempengaruhi dinamika kehidupan nasional. Akibat fenomena ini, maka organisasi masyarakat sipil seharusnya mengadopsi sebuah prinsip atau jargon “think globlly, act locally”.&lt;br /&gt; Prinsip di atas mengajarkan bahwa dalam bentindak pada level lokal, seseorang harus pula memahami bagaimana kekuatan global (pengaruh eksternal) mempengaruhi realitas keadaan lokal (internal). Prinsip ini hendak mengatakan bahwa upaya menghadapi masalah-masalah lokal tanpa mengetahui dan memahami kekuatan proses tingkat global yang semakin meningkat merupakan kesalahan taktik.&lt;br /&gt; Menurut Rajesh Tandon, mantan ketua CIVICUS: World Alliance for Citizen Parcipation, mengusulkan bahwa para aktivis sosial perlu berpikir secara global dan bertindak secara lokal, karena kenyataan globalisasi telah merasuk ke dalam jantung tatanan nasional kita.&lt;br /&gt; Saat ini, terdapat sejumlah aktor global civil society actor, termasuk keorganisasi internasional seperti Amnesty International dan Greenpeace, juga ornop international otonom seperti human right watch. Jejeringan masyarakat sipil telah berkembang di sekitar area-area isu spesifik yang menjadi perhatian sebagian besar masyarakat di dunia.&lt;br /&gt; Gerakan-gerakan transnational civil society movements terus melakukan proses pemantauan terhadap power dan praktik sistem negara-bangsa. Mereka telah menentang hukum internasional dan terpenting menentang geopolitik negara-negara kaya dunia yang dianggap hanya memenuhi ambisi mereka sendiri.&lt;br /&gt; Liberalisasi kapital dan perkembangan teknologi membawa dampak positif dan negatif terhadap eksistensi masyarakat sipil. Masalah tatanan dunia global terletak pada keputusan-keputusan yang diambil oleh pusat-pusat kekuasaan, yakni negara, institusi multilateral, dan perusahaan internasional serta modal keuangan telah melampaui batas teritorial negara. Padahal, partisipasi demokrasi dan kesepakatan sosial tetap berdasarkan batasan teritorial dalam sebuah negara.&lt;br /&gt; Dengan menggerakkan partisipasi masyarakat sipil dalam pembuatan kebijakan global, maka menjadi alternatif untuk menjadikan sistem global lebih demokratis, membatasi hegemoni negara dalam praktikan hukum rimba di dalam forum internasional serta mengusahakan keterbukaan proses pengambilan keputusan di hadapan publik dunia.&lt;br /&gt; Kehadiran masyarakat sipil global diyakini akan memperbaiki sistem karena adanya keterwakilan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Samuel Huntington misalnya, menyatakan bahwa demokratisasi, khususnya yang ia sebut sebagai demokratisasi gelombang ketiga, disuburkan oleh kehadiran masyarakat sipil.&lt;br /&gt; Peran masyarakat sipil di Indonesia, seperti yang pernah dibahas oleh AS. Hikam dan Buchori dalam sebuah forum diskusi, dinyatakan bahwa civil society sangat mempengaruhi pada debirokratisasi dan desentralisasi dalam proses pengambilan keputusan masyarakat. Hal serupa juga digambarkan oleh Eldridge, bahwa organisasi civil society mampu mengembangkan kapasitas self-management di antara kelompok-kelompok yang seringkali sangat dirugikan.&lt;br /&gt; Proses transnasionalisasi masyarakat sipil harus disertai dengan inisiasi suatu cara pandang baru yang dapat menghubungkan poros warga dengan poros negara dan atau poros pasar. Cara pandang baru tersebut harus meletakkan poros masyarakat akar rumput sebagai  batu penjuru yang akan menopang bekerjasama suatu proses tranformasi global.&lt;br /&gt;Masyarakat sipil bukanlah institusi yang berorientasi pada kekuasaan dan bertujuan maksimalisasi kapital. Kelompok ini lahir dari rahim kesadaran untuk memperjuangkan nilai-nilai universal manusia yang tidak melihat pada perbedaan bangsa, status sosial, ekonomi, ideologi, agama, dan identitas primordial lainnya.&lt;br /&gt; Untuk menegakkan nilai-nilai demokrasi di atas kepentingan nasionalisme, membutuhkan apresiasi yang positif dari siapapun, mulai dari kaum awam, intelektual hingga kaum pejabat-birokrat ditingkat pemerintahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-1793919499241641966?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/1793919499241641966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/12/dari-civil-society-menuju-global.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1793919499241641966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1793919499241641966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/12/dari-civil-society-menuju-global.html' title='Dari Civil Society menuju Global Society'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-3056266131193814291</id><published>2010-12-12T10:25:00.001+07:00</published><updated>2010-12-22T10:34:00.127+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Melacak Jejak Spiritual Abdul Muhyi</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK pertengahan abad ke tujuh belas, tokoh besar sekaligus ulama sufi Abdul Muhyi mendakwakan ajaran Islam di Jawa Barat. Ulama tersohor ini konon dikenal juga sebagai seorang wali di kalangan masyarakat; khususnya di Tasikmalaya Selatan, Kecamatan Bantarkalong. Jejak spiritualitasnya meninggalkan magnit luar biasa terhadap para pengikutnya sampai sekarang  ini.&lt;br /&gt; Abdul Muhyi sendiri aslinya adalah dari Jawa Tengah, Mataram-Surakarta. Dia sempat dibesarkan di Gresik dari ibu Raden Ajeng Tangeunjiah dan bapak Lebe Wartakusumah. Ulama sufi ini mengaku masih ada hubungan hereditas dengan keluarga Rasulullah Saw. dari jalur keluarga ibunya.&lt;br /&gt; Perjalanan dakwah dan spiritual Abdul Muhyi tidak bisa dilepaskan dengan Gua Pamijahan. Melalui Gua Pamijahan, yang terletak di kaki bukit Bantarkalong, disinilah dia menemukan ketenangan bathiniyah, sekaligus sebagai tempat “riyâdhah spiritual”. Titik pusat  penyebaran ajaran-ajarannya memang diawali dari tempat itu. Bahkan, sampai sekarang Gua tersebut masih di keramatkan oleh sebagian warga setempat.&lt;br /&gt; Abdul Muhyi adalah ulama yang menyambung mata rantai ajaran tarekat syathâriyah di pulau Jawa. Dia meneruskan paham gurunya Syekh Abdul Rauf al-Sinkili. Jalan spiritual atau tarekat menurut ajaran Muhyi sendiri adalah ketetapan dzikir rohani, yang mengungkapkan keyakinan yang berpusat pada kalimah thayyibah atau kalimah tauhîd yang tertuang dalam lafadz lâ ilâha illallâh.&lt;br /&gt; Makna kalimah thayyibah tersebut, kata Abdul Muhyi, bila dihayati secara benar dan baik, maka ia bisa menjadi modal fondasi yang kokoh untuk kebaikan hidup seseorang. Tarekat Syathâriyah membolehkan dzikir secara sirr (di dalam hati) maupun secara jahrr (suara keras).&lt;br /&gt; Tarekat Syathâriyah yang dikembangkan Abdul Muhyi merupakan perpaduan antara tarekat Qâdiriyah dan Naqsabandiyah. Warna lain kedua tarekat ini terlihat kuat di dalam sistem dzikir yang dipakai Abdul Muhyi, yaitu dzikir al-jahr dan dzikir al-sirr. Dzikir al-jahr adalah dzikir yang digunakan oleh Tarekat Qâdiriyah, yaitu menyuarakan keras-keras kalimah thayyibah kemudian diresapkan ke dalam hati, agar hati tercerahkan dengan cahaya ilahiyah. Sedangkan dzikir al-sirr adalah dzikir yang praktekkan oleh Tarekat Naqsabandiyyah, yakni dengan menghaluskan bacaan di dalam hati dengan pendekatan nafyi (tiada Tuhan) dan istbât (kecuali Allah).&lt;br /&gt; Untuk menuju tahapan spiritual menjadi sufi, Abdul Muhyi mensyaratkan seseorang empat tahapan, yaitu murid mubtadî, murid mutawâssith, murid kâmil, dan murid kâmil mukammil.&lt;br /&gt; Pertama, murid mubtadî yaitu murid yang masih berbuat maksiat, akan tetapi hatinya tetap tertuju kepada Allah semata. Atau hatinya masih salim (selamat) dari perbauatan syirik dan sifat munafik. Seperti lazimnya tradisi sufi, ia dalam perjalanan spiritualnya akan mendapatkan keadaan Fanâ, yakni proses integrasi atau peleburan diri dalam kebesaran Tuhan.  &lt;br /&gt; Kedua, murid mutawâssith adalah seorang yang mempunyai hati sudah bersih dari getaran kalbu selain kepada Allah, disebut juga dengan hati tawajjuh, yaitu hati yang senantiasa ingat dan tertuju kepada Allah semata. Adapun tingkatan Fanâ kelompok ini adalah Fanâ di dalam sifat, maqamnya adalah maqam al-jam’ yaitu tingkat integrasi dengan Allah, karena selalu mengingat dan merasa disertai Allah.&lt;br /&gt; Ketiga, murid kâmil adalah kalangan dengan hati dan suasana rohani yang sudah bersih dari seluruh getaran selain Allah. Kalangan ini berhasil menjauhkan dirinya secara utuh dari seluruh daya tarik makhluk (materi), yang berarti hatinya sudah murni (Mujarrad). Bentuk dzikir tingkatan ini adalah dzikir muntahâ, yakni menyebut maujud (ada) kecuali Allah. Kalangan ini sudah lebih tinggi, setingkat âlam jabarrût (pandangan ruhaninya telah sirna, menyatu di dalam dzat Allah). &lt;br /&gt; Keempat, murid kâmil mukammil, yaitu seorang murid yang sudah memiliki penyaksian yang kuat (syuhûd) dan menyatu di dalam zat Allah. Hati seperti ini adalah hati rabbani, yakni hati yang sudah diliputi dan dinaungi hanya oleh Allah. Tingkatan ilmunya sudah mencapai akmâl yaqîn (dapat melihat dan mengetahui Allah secara nyata). Abdul Muhyi menyebutnya dengan wahda al-syuhûd. &lt;br /&gt; Ajaran lain yang bisa diambil dari Abdul Muhyi sendiri berkaitan dengan proses perjalanan spritual seseorang dalam dunia sufistik adalah konsepsinya tentang  syâhadataian. Dia membaginya menjadi dua bagian, yaitu lâ ilâha illallâh sebagai hakikat dan Muhammad Rasulullâh sebagai syarî’ah; keduanya disebut dengan tarekat Muhammadiyah. Kedua-duanya, antara syari’at dan hakikat  harus menyatu, sebab kedua merupakan komponen yang saling melengkap kualitas keimanan seseorang. &lt;br /&gt; Keberhasilan Abdul Muhyi dalam mengembangkan ajaran syathâriyah tidak luput dari jaringan dengan ulama-ulama besar, baik dalam maupun luar Nusantara. Keterikatan jaringan inilah yang memengaruhi jalan pemikirannya. Hasil penelitian M. Wildan Yahya (2007), menyebutkan bahwa beliau sempat kontak dengan ajaran Wujudiyyah di Aceh, ajaran Khalwatiyyah di Makassar, ajaran Samaniyah di Palembang dan di Banjarmasing. &lt;br /&gt; Abdul Muhyi juga tercatat sebagai tokoh kunci yang meletakkan dasar ajaran “martabat tujuh” di tanah Jawa.  Ajaran beliau kemudian mengembang dan meluas hingga mewarnai berbagai paham dan budaya pada kepustakaan mistik Islam (perpaduan antara tradisi Jawa dengan unsur-unsur ajaran Islam) di Jawa. Ajaran “martabat tujuh” hanya mengakui bahwa Tuhan merupakan aspek batin dari segala yang ada di alam semesta. Semua yang ada di alam semseta adalah wujûd majâzî dari satu hakikat yang tunggal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-3056266131193814291?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/3056266131193814291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/12/melacak-jejak-spiritual-abdul-muhyi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/3056266131193814291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/3056266131193814291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/12/melacak-jejak-spiritual-abdul-muhyi.html' title='Melacak Jejak Spiritual Abdul Muhyi'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-204513963747018749</id><published>2010-12-01T11:43:00.000+07:00</published><updated>2010-12-08T11:45:55.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Memaknai Kembali Misi Hijrah</title><content type='html'>Oleh: Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI sebuah agama, Islam adalah ajaran yang menekankan bentuk kepasrahan totalitas. Seperti namanya, sebuah kata dalam bahasa Arab bahwa makna Islam yaitu sikap pasrah kepada Allah secara keseluruhan, karena menaruh kepercayaan kepada Allah Swt.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kitab suci al-qur’an ditegaskan bahwa manusia tidak dibenarkan bertindak setengah-setengah. Dijelaskan di dalam al-Qur’an, bahwa manusia boleh memilih untuk berpihak kepada Sang Pencipta (Allah), dan menerima tantangan moral-Nya. Jika ia memilih jalan ini, jalan menuju Allah, maka Allah dengan rahmat-Nya akan membimbing manusia beriman, dan menentukannya menuju berbagai jalan untuk menjadikan dirinya pribadi yang lurus dan bersih, bahagia dan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dan Kenabian &lt;br /&gt;Islam sebagai agama terakhir yang dibawa Nabi Muhammad Saw memiliki dimensi kesejarahan yang sangat menarik. Menarik bukan saja dari segi doktrin dan risalahnya, namun juga tidak kalah pentingnya adalah dari sudut peristiwa-peristiwa kenabian (profetik) yang dialaminya sebagai rasul terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilihat dari sudut ajarannya, Islam adalah agama yang memiliki banyak piranti, diantaranya; dimensi pembaruan (tajdid), pembebasan (tauhid) dan universal (rahmatan lil alamin). Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-qur’an bahwa misi kerasulan Muhammad Saw adalah titah universal, yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu (QS. 21:107). Mengemban misi universalisme Islam, berarti dalam kerasulannya bukan hanya mendemontrasikan aspek-aspek kehidupan yang bersifat ukhrawi (sakral), melainkan juga memberikan tauladan kemanusiaan, bahwa Nabi Muhammad sendiri menekankan betapa pentingya aspek-aspek kehidupan duniawi (profan) yang tidak bisa diabaikan begitu saja (QS. 28:77). Karena aspek yang kedua ini merupakan bagian dari sekian banyak pilar yang akan ikut memformat kehidupan kehidupan jangka panjang atau eskatologis (ukhrawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijrah sebagaimana yang dikenal dalam sejarah kenabian (Muhammad) adalah rangkaian dari misi kerasulannya sebagai figur mujaddid (reformer, pembaru) moral kemanusiaan. Ia telah melakukan tranformasi kehidupan besar-besaran, dari sosio-kultural yang otoritatif  (zalim, musyrik) menuju tatanan masyarakat madani (civil society), adil dan penuh kerahmatan. Jika ditilik dari segi termenologis, kata hijrah berasal dari bahasa arab, yang artinya pindah atau perpindahan. Dengan demikian, hijrah berarti perjalanan dengan niat religius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan itu dimaksudkan untuk membuka era baru yang selama ini kehilangan makna, dan menghadapi segala penindasan. Sehingga hijrah dimengerti sebagai perubahan dari tatanan semula yang kurang beradab menjadi beradab, baik menyangkut masalah keyakinan maupun masalah kaidah-kaidah kemasyarakatan.&lt;br /&gt;Hijrah mengadung pesan moral yang sangat tinggi untuk merespons ancaman terhadap kelangsungan hidup dan keamanan sosial (QS. 2:218). Pesan hijrah diantaranya adalah telah melahirkan sendi-sendi kehidupan yang berprinsip pada tauhid (liberty). Semula orang Arab menganggap bahwa benda patung adalah Tuhan mereka, yang dianggap mampu memberikan kepastian dan keselamatan hidup. Dengan kedatangan Muhammad, masyarakat Arab berubah keyakinan menjadi monotheisme, meski tidak semua penduduk mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, pesan moral hijrah adalah adanya pengakuan prinsip equality (persamaan). Kehadiran Nabi Muhammad di tengah-tengah masyarakat, tidak pernah menomorduakan warganya, lantaran sentimen agama, kelompok, ras dan budaya. Semua warga memiliki hak yang sama untuk dihormati dan diperhatikan sebagaimana yang lain, selama tidak saling mengganggu dan memusuhinya.&lt;br /&gt;Kesaksian hijrah ditunjukkan dengan sikap moral yang luhur bahwa betapa  pentingnya sikap tasamuh (toleransi) dalam kehidupan sosial. Kemauan bertasamuh merupakan sikap moral yang sadar dan terbuka. Kemauan ini berarti menuntut keberanian dalam menerima perbedaan-perbedaan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan moral selanjutnya adalah adanya negara hukum. Sebagai sebuah perangkat kehidupan masyarakat, hukum merupakan jantung dari sendi-sendi kedamaian dan keadilan. Rasa kedamain dan keadilan merupakan tujuan kehidupan manusia dalam membangun cita-cita masyarakat, bangsa dan negara. Jadi hijrah merupakan kemauan dalam menegakkan hukum untuk melindungi segala kedzaliman yang terjadi. Tujuan ini adalah melindungai jiwa dan agama sekaligus mengurangi penderitaan kaum tertindas akibat perbuatan yang melanggar hukum (QS. 3:195, 4:100). Seruan ini dipraktekkan Muhammad selama dalam proses kenabiaannya. Dengan ketegasannya itu ia mengatakan bahwa ‘’jika Fathimah (putrinya) mencuri, maka ia akan dipotong tangannya”, seruan ini benar-benar tegas dan lugas tidak memangdang status sosial apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak heran kalau kebanyakan pakar melihat bahwa semangat profetik, jika dikaji dari kacamata akademis bukanlah hal yang berlebihan. Namun, pada kenyataannya Nabi Muhammad sebagai figur historis tidak hanya diakui oleh penganutnya sendiri, tetapi juga diakui orang atheis sekalipun. Maxim Rodinson misalnya, ilmuan atheis yang memiliki andil besar dalam memperkenalkan ketokohan Muhammad kepada masyarakat Barat. Belum lagi ilmuan lain seperti Montgomery Watt, Annemarie Schimmel, Martin Lings, ataupun Karen Armstrong yang selama 9 tahun aktif sebagai biarawati. Mereka itu, melalui karya tulisannya dengan segala kelebihan dan kekurangan telah melakukan pembelaan historis-akedemis terhadap reputasi Nabi Muhammad sebagai salah seorang dari sekian tokoh sejarah yang meletakkan dasar, pedoman dan spirit bagi pembangunan peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, merupakan keharusan ilmiah belaka jika ilmuan semacam Philip K. Kitti ataupun Marshall G. Hodgson melihat Nabi Muhammad dan agama Islam yang diwariskannya telah sanggup menyulap dunia Arab dari padang pasir gundul menjadi mata air peradaban yang pada gilirannya secara signifikan ikut mewarnai wacana dan perjalanan panjang sejarah dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak ilmuan Barat di atas mengakui bahwa Muhammad tidak hanya menjadi panutan umat muslim, tetapi merupakan manusia pilihan yang memiliki integritas moral kemanusiaan yang sangat luhur dan bijak.  yang menjunjung tinggi moral kemanusiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, hijrah merupakan tahap paling peting dalam perjalanan spiritual manusia kepada jalan ilahi (ketentraman dan kedamaian). Begitu juga, implikasi sosialnya sangat luas dalam membersihkan bentuk-bentuk kemunkaran dan kedzaliman menuju proses pembersihan diri demi tegaknya agama, sebagai pandangan hidup dalam memformat sistem kemasyarakatan, kebangsaan dan ketatanegaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-204513963747018749?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/204513963747018749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/12/memaknai-kembali-misi-hijrah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/204513963747018749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/204513963747018749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/12/memaknai-kembali-misi-hijrah.html' title='Memaknai Kembali Misi Hijrah'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-4903283364708221959</id><published>2010-11-22T16:03:00.002+07:00</published><updated>2010-11-22T16:39:25.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tokoh'/><title type='text'>Meneladani Spirit Gajah Mada</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU kita mendengar nama Gajah Mada, selalu teringat kesaktian, ketulusan dan keuletannya dalam mengabdi pada kerajaan/pemerintahan. Dalam kisah sejarah, beliau adalah orang yang lahir dari keluarga biasa, alias bukan dari kaum bangsawan. Namun namanya menjadi agung dan mengangungkan tanah jawa, yang tatkala waktu itu masih dibawah kekuasaan kerajaan terbesar di Tanah Jawa, yaitu kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt; Sebagai seorang yang berlatar belakang biasa, Gajah Mada menjadi sangat penting kita angkat sebagai contoh tauladan kehidupan manusia saat ini. Ketenaran dan kebesaran nama yang disandangnya itu bukan melekat dengan sendirinya, melainkan dengan usaha dan tekad yang kuat untuk memberikan prestasi dan kontribusi yang besar bagi kerajaan dan rakyat jelata kala itu.&lt;br /&gt; Pengabdiannya kepada raja tidak pernah dijadikan ukuran untuk naik pangkat dan merebut jabatan. Tetapi apa yang diperbuat adalah bagaimana khalayak umum (masyarakat) dapat menikmati kehidupan yang tentram dan nyaman. Sikap dan perilakunya yang jauh dari nilai transaksional, mengakibatkan banyak orang menaruh kepercayaan dan simpatik kepadanya.&lt;br /&gt; Itulah kehebatan Gajah Mada dalam mengemban tugas dan tanggungjawabnya, baik tatkala masih menjadi prajurit, patih, hingga panglima perang. Sosok yang tegas, berwibawa dan komitmen mengalahkan sikap kebimbangan dan segala bentuk keraguan yang muncul, baik dari dirinya sendiri maupun dari teman seperjuangannya.&lt;br /&gt; Gajah Mada dikenal sebagai sosok yang arif dan bijaksana. Ketauladanan itu sudah dibuktikan dengan banyak prestasi yang beliau berikan kepada sang raja dan kerajaan itu, tetapi ia tidak pernah meminta jabatan, apalagi ingin menguasai dan merebut menjadi raja. Sikap itu barangkali yang membedakan dengan kawan-kawannya, yang ketika sudah sukses sedikit lantas meminta jabatan, proyek, dan hal lain yang dapat menguntungkan untuk dirinya.&lt;br /&gt; Tatkala kerajaan Majapahit diserang oleh Ra Kuti--- salah seorang anak asuh dari Ramapati---Gajah Mada menyelematkan raja Jayanagara beserta keluarganya. Apa yang diperbuatnya merupakan tugas mulia yang tidak pernah dipikirkan untuk mendapatkan apa ketika kelak mampu menumpas habis dan lari tunggang langgang para pemberontak itu. Hal itu berbeda dengan saat ini, ketika sudah sukses mengantarkan seseorang jadi bupati/walikota, gubernur, presiden, lalu mereka akan menagih apa imbalan yang bakal diterimanya. Sikap transaksional inilah mendorong tumbuh suburnya KKN (korupsi, kolosi dan nepotisme) ditengah masyarakat kita yang justru menjadi biang kerok kehancuran negeri ini.&lt;br /&gt; Gajah Maja dijuluki sebagai sosok yang tahan luwih (poso/puasa). Bahkah beliau tidak akan meninggalkan puasa sebelum menyatukan nusantara. Kenyataan itulah yang sering kita kenal dengan sebutan sumpah Palapa. Tugas yang amat berat itu ia lakoni dengan menahan diri dari segala godaan sifat duniawi demi meraih cita-cita itu. Berikut saya berikan kutipan sumpah Palapa yang pernah diucapkan Gajah Mada: &lt;br /&gt;Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa". &lt;br /&gt;Terjemahannya:&lt;br /&gt;Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa". &lt;br /&gt; Andaikan saja para pimpinan di negeri ini mau meniru dan meneladani Gajah Mada, maka lembaga penegak hukum menjadi ringan tugasnya. Penyakit dan penyebab ketidakadilan hukum adalah karena pemimpinya tidak tegas, tidak memiliki wibawa dan tidak ulet (komitmen) dengan pendirian dirinya sendiri. Mungkin karena terlalu banyak orang yang berjasa pada dirinya (pemimpin), sehingga tidak dapat berlaku adil dan bijak untuk menghukum orang itu. Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada kala itu mampu menembus batas-batas hereditas (kekeluargaan), persahabatan/perkawanan, dan segala hal yang justru mengakibatkan penghalang untuk maju dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata, Titi, dan Tutu&lt;br /&gt; Semboyan yang dapat kita petik dari Gajah Mada adalah Tata, Titi, dan Tutu. Istilah itu berasal dari bahasa jawa, yang artinya tata (perencanaan dan pelaksanan yang sesuai), titi (tegas, teguh pendirian, komitmen), dan tutu (proses pejuangan, latihan, penggemblengan). Ketiga hal itulah mejadi cerminan dari sikap, perilaku dan tindakan Gajah Mada di manapun ia berada.&lt;br /&gt; Barangkalai saat ini yang diperlukan untuk membekali seorang pemimpin adalah tiga hal di atas, selain modal ilmu pengetahuan yang unggul. Dan kelihatannya, slogan itu dipraktikkan dalam pendidikan militer. Seorang prajurit militer harus memiliki sikap perencanaan yang matang, komitmen yang tinggi dalam membela kedaulatan tanah air, serta dengan proses perjuangan yang tinggi.&lt;br /&gt; Gajah Mada mengajarkan bahwa apa yang tergelar di muka bumi ini harus di-tata (dikelola/dimanej) secara baik. Salah dalam merencanakan, maka akibatnya akan berdampak luas bagi kelanjutan bagi sebuah dinamika organisasi atau lembaga itu sendiri. Perencanaan yang baik membutuhkan proses berfikir yang jernih, imajinasi, dan mimpi-mimpi yang mampu membakar semangat. Hal itu telah ditanamkan Gajah Mada jauh sebelum konsep-konsep modern yang saat ini berkembang.&lt;br /&gt; Untuk mewujudkan perencanaan tersebut, Gajah Mada mendidik kita agar teguh pendirian dan komitmen. Banyak orang mampu merencakanan dengan baik, tetapi tidak dapat menjaga dan merawat perencanaan itu secara komit, kukuh dan tegas. Sehingga di tengah perjalanan goyah pendirian dan justru dimanfaatkan oleh lawan-lawan politiknya. Walau ditengah perjalanan harus memaksa berubah haluan, karena satu hal situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, namun tetap harus sesuai dengan tujuan perencanaan semula. Komitmen dan perjuangan tanpa mengenal lelah akan membuah hasil yang maksimal dan bermanfaat bagi semua pihak. &lt;br /&gt;Pengalaman yang ajarkan Gajah Mada kepada kita tentang “tutu” adalah perjuangan tanpa embel-embel (pamrih). Implikasi dari perjuangan tanpa pamrih adalah jauh akan melahirkan daya (kekuatan) yang berlipat ganda, yang mampu mengajak semua orang untuk bahu menbahu, saling memikul peran dan tanggungjawab, karena keikhlasan yang dicontohkan oleh seorang pemimpin.&lt;br /&gt;  Dalam kehidupan masyarakat dibutuhkan seorang pemimpin yang mau berkorban untuk ummatnya, yang rela segala “kepunyaannya” disedekahkan untuk mengangkat kemakmuran dan kesejahteraan rakyat banya. Bukan seorang pemimpin yang berlindung dengan kekuasaannya untuk meraih dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan golongannya, partainya, apalagi untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt; Kini nama Gajah Mada diabadikan sebagai nama sebuah universitas di Jogjakarta, dan sebutan sumpah “palapa” dipakai untuk sebuah jaringan telekomunikasi. Kehormatan dan kemuliaan Gajah Mada tidak cukup hanya dijadikan sebagai simbol nama sebuah lembaga/organisasi atau usaha, melainkan harus diwarisi spiritnya, perjuangan dan kiprahnya dalam menyatukan dan mensejahterahkan nusantara ini. &lt;br /&gt; Rintangan dan tanjakan karier Gajah Mada juga perlu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Tidak ada ceritanya orang tiba-tiba menjadi sukses, terkenal dan mendapatkan amanah jabatan yang prestisius tanpa sebuah perjuangan dan pengorbanan yang terlebih dahulu. Karier Gajah Mada dilalui mulai setapak demi setapak hingga sampai menjadi panglima yang sangat disegani dan dihormati. &lt;br /&gt; Dewasa ini, spirit Gajah Mada seperti itu masuk kategori barang langka, yang kiranya perlu direnungkan kembali untuk menumbuhkan nasionalisme kebangsaan. Budaya kerja keras, bersungguh-sungguh, serta tidak pernah berpretensi mendapatkan jabatan, proyek dan sejenisnya harus menjadi mental dan sikap kita. Sebab, mencari jiwa seorang ”Gajah Mada” baru membutuhkan sejarah lain yang syarat dengan pendidikan berkarakter, bersumber pada nilai-nilai spiritual dan kesadaran.&lt;br /&gt; Semoga para pemimpin negeri ini dapat belajar dari sosok Gajah Mada, dalam mewujudkan cita-cita persatuan dan kesatuan nusantara dalam bingkai budaya, agama dan etos (semangat) yang kuat. Gajah Mada--- walau tanpa bekal titel/gelar akademik apapun---mampu menorehkan sejumlah prestasi dan hasil yang mencengangkan banyak orang, maka saat ini pemimpin dengan sederet pengalaman akademik, dan politiknya harus lebih baik dari Gajah Mada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-4903283364708221959?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/4903283364708221959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/meneladani-spirit-gajah-mada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4903283364708221959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4903283364708221959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/meneladani-spirit-gajah-mada.html' title='Meneladani Spirit Gajah Mada'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6156085220433448306</id><published>2010-11-19T06:13:00.001+07:00</published><updated>2010-11-19T06:41:21.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Konsep, Karakteristik dan Rasional Supervisi Pendidikan</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada rumusan UU RI No. 20 Tahun 2003 bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. &lt;br /&gt;Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari segala aspek dan dimensinya. Salah satu usaha untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia ialah melalui proses pengajaran/pembelajaran di sekolah/madrasah. Dalam usaha meningkatkan kualitas sumber daya pendidikan, guru merupakan komponen sumber daya manusia yang harus dibina dan dikembangkan terus-menerus. Pembentukan profesi guru seperti amanah Peraturan Pemerintah (PP) No. 19. Tahun 2005 pada Bab I, Pasal 1, ayat 7, adalah dilaksanakan melalui program pendidikan pra-jabatan maupun program dalam jabatan. Tidak semua guru yang dididik di lembaga pendidikan terlatih dengan baik dan kualified. Potensi sumber daya guru itu perlu terus bertumbuh dan berkembang agar dapat melakukan fungsinya secara potensial. Selain itu pengaruh perubahan yang serba cepat mendorong guru-guru untuk terus-menerus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta mobilitas masyarakat. &lt;br /&gt; Mungkin sudah terlanjur, bahwa masyarakat saat ini telah mempercayai, mengakui dan menyerahkan sepenuhnya kepada guru untuk mendidik anak-anak mereka. Kepercayaan, keyakinan, dan penerimaan ini merupakan substansi dari pengakuan masyarakat terhadap profesi guru. Namun seringkali tak sebanding lurus dengan apa yang diharapkan. Karena sudah terlanjur seperti itu, maka implikasinya adalah guru harus memiliki kualitas yang memadai. Kualitas tidak hanya pada tataran normatif, melainkan juga dalam tataran yuridis-empiris, bahwa seorang guru harus menunjukkan empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi personal (kepribadian), kompetensi profesional, maupun kompetensi sosial dalam selubung aktualisasi kebijakan pendidikan.  Hal tersebut karena guru merupakan penentu keberhasilan pendidikan melalui kinerjanya pada tataran institusional dan tataran strategis, sehingga upaya meningkatkan mutu pendidikan harus dimulai dari aspek "guru" dan tenaga kependidikan lainnya yang menyangkut kualitas keprofesionalannya dalam satu manajemen pendidikan yang meritokratis.&lt;br /&gt;Membangun kualitas pendidikan sangat erat kaitannya dengan membangun kualitas pembelajaran. Sementara kualitas pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas tenaga pendidik (guru). Meski guru bukanlah satu-satunya instrumen dalam dunia pendidikan, tetapi gurulah yang memegang peranan penting serta sebagai ujung tombak sukses dan gagalnya suatu pendidikan.  Mulyasa mensinyalir bahwa dalam proses pembelajaran seringkali guru melakukan kesalahan. Setidaknya Mulyasa mengidentifikasi ada tujuh kesalahan yang sering dilakukan guru, yaitu 1). mengambil jalan pintas dalam pembelajaran, 2). menunggu peserta didik berperilaku negatif, 3). Menggunakan destructive dicipline, 4) mengabaikan perbedaan peserta didik, 5). Merasa paling pandai, 6) tidak adil (diskriminatif), dan 7). Memaksa hak peserta didik.  &lt;br /&gt;Dari uraian di atas itulah, pentingnya mengapa guru memerlukan layanan supervisi (pembinaan) pengajaran, karakteristik dan rasional apa yang dilakukan dalam supervisi pengajaran sebagai upaya peningkatan kualitas guru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian Supervisi Pengajaran&lt;br /&gt; Istilah supervisi pengajaran sebenarnya bukanlah istilah yang baru dalam pendidikan. Namun seringkali tidak semua orang mengerti dan paham apa hakikat sebenarnya. Kadang-kadang pahami sama dengan penilai atau inspeksi. Padahal tidak demikian maksudnya.&lt;br /&gt;Ada sebuah konsep modern dirumuskan oleh Kimball Wiles (1967) sebagai berikut: “Supervision is assistance in the devolepment of a better teaching learning situation”. Supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi pembelajaran yang lebih baik. Rumusan ini mengisyaratkan bahwa layanan supervisi meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar (goal, material, technique, method, teacher, student, an environment). Situasi belajar inilah yang seharusnya diperbaiki dan ditingkatkan melalui layanan kegiatan supervisi. Dengan demikian layanan supervisi tersebut mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Konsep supervisi tidak bisa disamakan dengan inspeksi, inspeksi lebih menekankan kepada kekuasaan dan bersifat otoriter, sedangkan supervisi lebih menekankan kepada persahabatan yang dilandasi oleh pemberian pelayanan dan kerjasama yang lebih baik diantara guru-guru, karena bersifat demokratis. &lt;br /&gt;Istilah supervisi pendidikan dapat dijelaskan baik menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang terkandung dalam perkataan itu (semantik). Secara etimologi, istilah supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “Supervision” artinya pengawasan di bidang pendidikan. Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor. Sedangkan secara morfologis, supervisi dapat dijelaskan menurut bentuk perkataannya. Supervisi terdiri dari dua kata Super berarti atas, lebih. Visi berarti lihat, tilik, awasi. Seorang supervisor memang mempunyai posisi diatas atau mempunyai kedudukan yang lebih dari orang yang disupervisinya. Adapun dari segi semantik, pada hakikatnya isi yang terandung dalam definisi yang rumusannya tentang sesuatu tergantung dari orang yang mendefinisikan. Wiles secara singkat telah merumuskan bahwa supervisi sebagai bantuan pengembangan situasi mengajar belajar agar lebih baik. &lt;br /&gt;Menurut Adam dan Dickey seperti yang dikutip Sahertian &amp; Frans Mataheru, merumuskan supervisi sebagai pelayanan khususnya menyangkut perbaikan proses belajar mengajar.  Sebuah program yang berencana untuk memperbaiki hal belajar dan mengajar. Sedangkan Depdiknas (1994) merumuskan supervisi sebagai berikut: “Pembinaan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah agar mereka dapat meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik“. Dengan demikian, supervisi ditujukan kepada penciptaan atau pengembangan situasi belajar mengajar yang lebih baik. &lt;br /&gt;Untuk itu ada dua hal yang perlu diperhatikan: a). Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. b). Hal-hal yang menunjang kegiatan belajar mengajar. Karena aspek utama adalah guru, maka layanan dan aktivitas kesupervisian harus lebih diarahkan kepada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar. Untuk itu guru harus memiliki empat kompetensi yakni: 1) kompetensi Pedagogik, 2) kompetensi profesional 3) kompetensi personal, dan 4) kompetensi sosial. Melalui keempat kompetensi tersebut, seorang guru mampu dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pengajarannya.&lt;br /&gt;Atas dasar uraian diatas, maka pengertian supervisi dapat dirumuskan sebagai berikut “serangkaian usaha pemberian bantuan kepada guru dalam bentuk layanan profesional yang diberikan oleh supervisor (Pengawas sekolah, kepala sekolah, dan pembina lainnya) guna meningkatkan mutu proses dan hasil belajar mengajar. &lt;br /&gt;Karena supervisi atau pembinaan guru tersebut lebih menekankan pada “pembinaan profesional guru“, maka pembinaan lebih diarahkan pada upaya memperbaiki dan meningkatkan kemampuan profesional guru. Supervisi dapat kita artikan sebagai pembinaan. Sedangkan sasaran pembinaan tersebut bisa untuk kepala sekolah, guru, pegawai tata usaha. Namun yang menjadi sasaran supervisi diartikan pula pembinaan guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakteristik Supervisi Pengajaran&lt;br /&gt;Di abad sekarang ini,  yaitu era globalisasi dimana semuanya serba digital, akses informasi sangat cepat dan persaingan hidup semakin ketat, semua bangsa berusaha untuk meningkatkan sumber daya manusia. Hanya manusia yang mempunyai sumber daya unggul dapat bersaing dan mempertahankan diri dari dampak persaingan global yang ketat. Termasuk sumber daya pendidikan. Yang termasuk dalam sumber daya pendidikan yaitu ketenagaan, dana dan sarana dan prasarana.  &lt;br /&gt;Guru merupakan pelaku yang menentukan tujuan pengajaran. Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 Bab II, Pasal 39 ayat 2 di jelaskan bahwa Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.&lt;br /&gt;Sahertian mengemukakan ada dua metafora untuk menggambarkan pentingnya pengembangan sumber daya guru. Pertama, jabatan guru diumpamakan dengan sumber air. Sebagai sumber air, maka ia harus terus menerus bertambah, sehingga sungai itu dapat mengalirkan air terus-menerus dan tidak pernah asat (kering). Sebab, bila tidak dilakukan demikian, maka sumber air itu lama kelamaan akan habis dan kering. Demikianlah bila seorang guru tidak pernah membaca informasi yang baru, tidak menambah ilmu pengetahuan tentang apa yang diajarkan, maka ia tidak mungkin memberi ilmu dan pengetahuan dengan cara yang lebih menyegarkan kepada peserta didik. Kedua, jabatan guru diumpamakan dengan sebatang pohon buah-buahan. Pohon itu tidak akan berbuah lebat, bila akar induk pohon tidak menyerap zat-zat makanan yang berguna bagi pertumbuhan pohon itu. Begitu juga dengan jabatan guru yang perlu bertumbuh dan berkembang. Baik itu pertumbuhan pribadi guru maupun pertumbuhan profesi guru. Setiap guru perlu menyadari bahwa pertumbuhan dan pengembangan profesi merupakan suatu keharusan untuk menghasilkan output pendidikan berkualitas. &lt;br /&gt;Itulah sebabnya guru perlu belajar terus menerus, membaca informasi terbaru dan mengembangkan ide-ide kreatif dalam pembelajaran agar suasana belajar mengajar menggairahkan dan menyenangkan baik bagi guru apalagi bagi peserta didik.Peningkatan sumber daya guru bisa dilaksanakan dengan bantuan supervisor, yaitu orang ataupun instansi yang melaksanakan kegiatan supervisi terhadap guru. Perlunya bantuan supervisi terhadap guru berakar mendalam dalam kehidupan masyarakat. &lt;br /&gt;Menurut Swearingen, seperti yang dikutip Sahertian, mengungkapkan latar belakang perlunya supervisi berakar mendalam dalam kebutuhan masyarakat dengan latar belakang sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Latar belakang Kultural. Pendidikan berakar dari budaya arif lokal setempat. Sejak dini pengalaman belajar dan kegiatan belajar-mengajar harus diangkat dari isi kebudayaan yang hidup di masyarakat itu. Sekolah bertugas untuk mengkoordinasi semua usaha dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang dicita-citakan.&lt;br /&gt;2. Latar belakang filosofis. Suatu sistem pendidikan yang berhasil guna dan berdaya guna bila ia berakar mendalam pada nilai-nilai filosofis pandangan hidup suatu bangsa. &lt;br /&gt;3. Latar belakang psikologis. Secara psikologis supervisi itu berakar mendalam pada pengalaman manusia. Tugas supervisi ialah menciptakan suasana sekolah yang penuh kehangatan sehingga setiap orang dapat menjadi dirinya sendiri. &lt;br /&gt;4. Latar belakang sosial. Seorang supervisor dalam melakukan tanggung jawabnya harus mampu mengembangkan potensi kreativitas dari orang yang dibina melalui cara mengikutsertakan orang lain untuk berpartisipasi bersama. Supervisi harus bersumber pada kondisi masyarakat.&lt;br /&gt;5. Latar belakang sosiologis. Secara sosiologis perubahan masyarakat punya dampak terhadap tata nilai.  Supervisor bertugas menukar ide dan pengalaman tentang mensikapi perubahan tata nilai dalam masyarakat secara arif dan bijaksana.&lt;br /&gt;6. Latar belakang pertumbuhan jabatan. Supervisi bertugas memelihara, merawat dan menstimulasi pertumbuhan jabatan guru. Diharapkan guru menjadi semakin professional dalam mengemban amanat jabatannya dan dapat meningkatkan posisi tawar guru di masyarakat dan pemerintah, bahwa guru punya peranan utama dalam pembentukan harkat dan martabat manusia. Permasalahan yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan pendidikan adalah bagaimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif, yaitu sikap yang menciptakan situasi dan relasi di mana guru-guru merasa aman dan diterima sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu, supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang objektif. &lt;br /&gt;Menurut Supandi, ada dua hal yang mendasari pentingnya supervisi dalam proses pengajaran. Pertama, perkembangan kurikulum merupakan gejala kemajuan pendidikan. Perkembangan tersebut sering menimbulkan perubahan struktur maupun fungsi kurikulum. Pelaksanaan kurikulum tersebut memerlukan penyesuaian yang terus-menerus dengan keadaan nyata di lapangan. Hal ini berarti bahwa guru-guru senantiasa harus berusaha mengembangkan kreativitasnya agar daya upaya pendidikan berdasarkan kurikulum dapat terlaksana secara baik. Namun demikian, upaya tersebut tidak selamanya berjalan mulus. Banyak hal sering menghambat, yaitu tidak lengkapnya informasi yang diterima, keadaan sekolah yang tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum, masyarakat yang tidak mau membantu, keterampilan menerapkan metode yang masih harus ditingkatkan dan bahkan proses memecahkan masalah belum terkuasai. Dengan demikian, guru dan Kepala Sekolah yang melaksanakan kebijakan pendidikan di tingkat paling mendasar memerlukan bantuan-bantuan khusus dalam memenuhi tuntutan pengembangan pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt;Kedua, pengembangan personel senantiasa dilakukan guna meningkatkan upaya yang terus-menerus dalam suatu organisasi. Pengembangan personal dapat dilaksanakan secara formal dan informal. Pengembangan formal menjadi tanggung jawab lembaga yang bersangkutan melalui penataran, tugas belajar, lokakarya dan sejenisnya. Sedangkan pengembangan informal merupakan tanggung jawab pegawai sendiri dan dilaksanakan secara mandiri atau bersama dengan rekan kerjanya, melalui berbagai kegiatan seperti kegiatan ilmiah, latihan suatu metode mengajar, dan lain sebagainya. Kegiatan supervisi pengajaran merupakan kegiatan yang wajib dilaksanakan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pelaksanaan kegiatan supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah dan pengawas sekolah dalam memberikan pembinaan kepada guru. Hal tersebut karena proses belajar-mengajar yang dilaksakan guru merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu kegiatan supervisi dipandang perlu untuk memperbaiki kinerja guru dalam proses pembelajaran.&lt;br /&gt;Secara umum ada dua kegiatan yang termasuk dalam kategori supevisi pengajaran, yakni: pertama, supervisi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah kepada guru-guru. Secara rutin dan terjadwal Kepala Sekolah melaksanakan kegiatan supervisi kepada guru-guru dengan harapan agar guru mampu memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan. Dalam prosesnya, kepala sekolah memantau secara langsung ketika guru sedang mengajar. Guru mendesain kegiatan pembelajaran dalam bentuk rencana pembelajaran kemudian kepala sekolah mengamati proses pembelajaran yang dilakukan guru. Saat kegiatan supervisi berlangsung, kepala sekolah menggunakan lembar observasi yang sudah dibakukan, yakni Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). APKG terdiri atas APKG 1 (untuk menilai Rencana Pembelajaran yang dibuat guru) dan APKG 2 (untuk menilai pelaksanaan proses pembelajaran) yang dilakukan guru.&lt;br /&gt;Kedua, supervisi yang dilakukan oleh Pengawas Sekolah kepada Kepala Sekolah dan guru-guru untuk meningkatkan kinerja. Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh Pengawas Sekolah yang bertugas di suatu Gugus Sekolah. Gugus Sekolah adalah gabungan dari beberapa sekolah terdekat, biasanya terdiri atas 5-8 Sekolah. Hal-hal yang diamati pengawas sekolah ketika melakukan kegiatan supervisi untuk memantau kinerja kepala sekolah, di antaranya administrasi sekolah, meliputi: &lt;br /&gt;a. Bidang Akademik, mencakup kegiatan: 1) menyusun program tahunan dan semester, 2) mengatur jadwal pelajaran, 3) mengatur pelaksanaan penyusunan model satuan pembelajaran, 4) menentukan norma kenaikan kelas, 5)   menentukan norma penilaian, 6) mengatur pelaksanaan evaluasi belajar, 7)  meningkatkan perbaikan mengajar, 8) mengatur kegiatan kelas apabila guru tidak hadir, dan 9)  mengatur disiplin dan tata tertib kelas.&lt;br /&gt;b. Bidang Kesiswaan, mencakup kegiatan: 1) mengatur pelaksanaan penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru, 2)  mengelola layanan bimbingan dan konseling, 3) mencatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa, dan 4) mengatur dan mengelola kegiatan ekstra kurikuler.&lt;br /&gt;c. Bidang Personalia, mencakup kegiatan: 1) mengatur pembagian tugas guru, 2) mengajukan kenaikan pangkat, gaji, dan mutasi guru, 3) mengatur program kesejahteraan guru, 4)  mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru, dan 5)  mencatat masalah atau keluhan-keluhan guru.&lt;br /&gt;d. Bidang Keuangan, mencakup kegiatan: 1) menyiapkan rencana anggaran dan belanja sekolah, 2) mencari sumber dana untuk kegiatan sekolah, 3)  mengalokasikan dana untuk kegiatan sekolah, dan 4) mempertang-gungjawabkan keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku. &lt;br /&gt;e. Bidang Sarana dan Prasarana, mencakup kegiatan: 1) penyediaan dan seleksi buku pegangan guru, 2)  layanan perpustakaan dan laboratorium, 3) penggunaan alat peraga, 4)  kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah, 5) keindahan dan kebersihan kelas, dan 6) perbaikan kelengkapan kelas.&lt;br /&gt;f. Bidang Hubungan Masyarakat, mencakup kegiatan: 1) kerjasama sekolah dengan orangtua siswa, 2) kerjasama sekolah dengan Komite Sekolah, 3)  kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga terkait, dan 4) kerjasama sekolah dengan masyarakat sekitar. &lt;br /&gt;Sedangkan ketika mensupervisi guru, hal-hal yang dipantau pengawas juga terkait dengan administrasi pembelajaran yang harus dikerjakan guru, diantaranya: penggunaan program semester, penggunaan rencana pembelajaran, penyusunan rencana harian, program dan pelaksanaan evaluasi, kumpulan soal, buku pekerjaan siswa, Buku daftar nilai, buku analisis hasil evaluasii. Buku program perbaikan dan pengayaan, buku program Bimbingan dan Konseling, Buku pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasional Supervisi Pengajaran&lt;br /&gt;Dewasa ini, setiap pekerjaan menuntut adanya sikap profesional. Apalagi profesi guru yang sehari-hari menangani makhluk hidup yang berupa anak-anak atau siswa dengan berbagai karakteristik yang berbeda. Pekerjaaan guru menjadi lebih berat tatkala menyangkut peningkatan kemampuan anak didiknya, sedangkan kemampuan dirinya mengalami stagnasi. Guru yang profesional adalah mereka yang memiliki kemampuan profesional dengan berbagai kapasitasnya sebagai pendidik. Studi yang dilakukan oleh Ace Suryani menunjukkan bahwa Guru yang bermutu dapat diukur dengan lima indikator, yaitu: pertama, kemampuan profesional (professional capacity), sebagaimana terukur dari ijazah, jenjang pendidikan, jabatan dan golongan, serta pelatihan. Kedua, upaya profesional (professional efforts), sebagaimana terukur dari kegiatan mengajar, pengabdian dan penelitian. Ketiga, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional (teacher's time), sebagaimana terukur dari masa jabatan, pengalaman mengajar serta lainnya. Keempat, kesesuaian antara keahlian dan pekerjaannya (link and match), sebagaimana terukur dari mata pelajaran yang diampu, apakah telah sesuai dengan spesialisasinya atau tidak, serta kelima, tingkat kesejahteraan (prosperiousity) sebagaimana terukur dari upah, honor atau penghasilan rutinnya. Tingkat kesejahteraan yang rendah bisa mendorong seorang pendidik untuk melakukan kerja sambilan, dan bilamana kerja sambilan ini sukses, bisa jadi profesi mengajarnya berubah menjadi sambilan. Guru profesional memiliki pengalaman mengajar, kapasitas intelektual, moral, keimanan, ketaqwaan, disiplin, tanggungjawab, wawasan kependidikan yang luas, kemampuan manajerial, trampil, kreatif, memiliki keterbukaan profesional dalam memahami potensi, karakteristik dan masalah perkembangan peserta didik, mampu mengembangkan rencana studi dan karir peserta didik serta memiliki kemampuan meneliti dan mengembangkan kurikulum. &lt;br /&gt; Akhir-akhir ini banyak guru, dengan berbagai alasan dan latar belakangnya menjadi sangat sibuk sehingga mereka tidak dapat fokus mencapai tujuan pengajaran. Seringkali kesejahteraan yang kurang atau gaji yang rendah menjadi alasan bagi sebagian guru untuk menyepelekan tugas utamanya. Implikasinya adalah banyak kegiatan pengajaran yang tidak sesuai dengan tujuan umum pengajaran, kebutuhan siswa, dan tujuan sekolah. Guru memasuki kelas tidak mengetahui tujuan yang pasti, yang penting demi menggugurkan kewajiban. Idealisme menjadi luntur ketika yang dihadapi ternyata masih anak-anak dan kalah dalam pengalaman. Banyak guru enggan meningkatkan kualitas pribadinya dengan kebiasaan membaca untuk memperluas wawasan. Jarang pula yang secara rutin pergi ke perpustakaan untuk melihat perkembangan ilmu pengetahuan. Kebiasaan membeli buku menjadi suatu kebiasaan yang mustahil dilakukan karena guru sudah merasa puas mengajar dengan menggunakan LKS (Lembar Kegiatan Siswa) yang berupa soal serta sedikit ringkasan materi. Dapat dilihat daftar pengunjung di perpustakaan sekolah maupun di perpustakaan umum, jarang sekali guru memberi contoh untuk mengunjungi perpustakaan secara rutin. &lt;br /&gt;Jurnal terkemuka manajemen pendidikan, Educational Leadership pernah menurunkan laporan mengenai tuntutan guru professional. Menurut Jurnal tersebut, untuk menjadi professional, seorang guru dituntut memiliki lima hal, yakni: 1)  Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya. Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswanya. 2)  Guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkan serta cara mengajarkannya kepada siswa. Bagi guru, hal ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. 3) Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai teknik evaluasi, mulai cara pengamatan dalam perilaku siswa sampai tes hasil belajar. 4) Guru mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya, dan belajar dari pengalamannya. Artinya, harus selalu ada waktu untuk guru guna mengadakan refleksi dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya. Untuk bisa belajar dari pengalaman, ia harus tahu mana yang benar dan salah, serta baik dan buruk dampaknya pada proses belajar siswa. 5) guru seyogianya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya, misalnya PGRI dan organisasi profesi lainnya. &lt;br /&gt;Dalam konteks yang aplikatif, dengan adanya supervisi pengajaran diharapkan para guru menguasai sepuluh kompetensi sebagai berikut: &lt;br /&gt;1) Menguasai bahan, meliputi: a) menguasai bahan bidang studi (standar kompetensi dan kompetensi dasar seperti digariskan dalam kurikulum, b) menguasai bahan pengayaan/penunjang bidang studi atau pengembangan bahan ajar yang lebih luas. &lt;br /&gt;2) Mengelola program belajar-mengajar, meliputi: a) merumuskan tujuan pembelajaran, b) mengenal dan menggunakan prosedur pembelajaran yang tepat, c) melaksanakan program belajar-mengajar, d) mengenal kemampuan anak didik. &lt;br /&gt;3) Mengelola kelas, meliputi: a) mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran, b) menciptakan iklim belajar-mengajar yang serasi.&lt;br /&gt;4) Penggunaan media atau sumber, meliputi: a) mengenal, memilih dan menggunakan media, b) membuat alat bantu yang sederhana, c) menggunakan perpustakaan dalam proses belajar-mengajar, d) menggunakan micro teaching untuk unit program pengenalan lapangan.&lt;br /&gt;5) Menguasai landasan-landasan pendidikan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pengajaran.&lt;br /&gt;6) Mengelola interaksi-interaksi belajar-mengajar yang dapat menyentuh aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.&lt;br /&gt;7) Dapat mengevaluasi hasil belajar dan pengajaran yang menjadi bahan pertimbangan untuk membenahi kepentingan pelajaran selanjutnya. &lt;br /&gt;8) Mengenal fungsi layanan bimbingan dan konseling di sekolah, meliputi: a) mengenal fungsi dan layanan program bimbingan dan konseling, b) menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling. &lt;br /&gt;9) Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.&lt;br /&gt;10) Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. &lt;br /&gt;Alasan rasional mengapa supervisi itu penting adalah untuk perbaikan pengajaran/pembelajaran. Adapun untuk mendukung proses pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh berbagai unsur dinamis yang akan ada di dalam sekolah dan lingkungannya sebagai suatu kesatuan sistem. Menurut Townsend dan Butterworth, ada sepuluh faktor penentu terwujudnya proses pembelajaran yang bermutu, yakni:&lt;br /&gt;1)      keefektifan kepemimpinan kepala sekolah&lt;br /&gt;2)      partisipasi dan rasa tanggung jawab guru dan staf,&lt;br /&gt;3)      proses belajar-mengajar yang efektif, &lt;br /&gt;4)      pengembangan staf yang terpogram,&lt;br /&gt;5)      kurikulum yang relevan, &lt;br /&gt;6)      memiliki visi dan misi yang jelas,&lt;br /&gt;7)      iklim sekolah yang kondusif,&lt;br /&gt;8)      penilaian diri terhadap kekuatan dan kelemahan, &lt;br /&gt;9)      komunikasi efektif baik internal maupun eksternal, dan&lt;br /&gt;10)  keterlibatan orang tua dan masyarakat secara instrinsik. &lt;br /&gt;Melalui supervisi pengajaran, maka peran guru secara lebih luas, didorong untuk meningkatkan mutu dan makna sebagai suatu kadar proses dan hasil pendidikan secara keseluruhan yang ditetapkan sesuai dengan pendekatan dan kriteria tertentu.&lt;br /&gt;Dalam konteks pengajaran, seorang guru menentukan mulai dari input, proses, dan output.  Input pengajaran adalah segala sesuatu sumber dan bahan ajar yang tersedia untuk berlangsungnya proses pengajaran. Proses pengajaran merupakan transformasi sumber belajar dalam kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan input sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning), mampu mendorong motivasi dan minat belajar, dan benar-benar mampu memberdayakan peserta didik. Output pengajaran adalah kinerja guru yang dapat diukur dari kualitasnya, efektivitasnya, produktivitasnya, efisiensinya, inovasinya melalui prestasi hasil belajar siswa. &lt;br /&gt;Makna positif lain yang dapat dipetik dari supervisi adalah mengurangi beban guru. Fullan &amp; Stiegerbauer dalam "The New Meaning of Educational Change" mencatat bahwa setiap tahun banyak guru yang berurusan dengan banyak problem yang hal itu menjasi sumber stres bagi mereka. Mungkin tak aneh bila dilaporkan banyak guru mengalami stres dan jenuh.  Dengan dukungan supervisi, maka guru dapat dibantu untuk memecahkan serangkaian problema yang mereka derita itu. Sehingga dengan demikian mereka dapat terkurangi bebannya.&lt;br /&gt;Supervisi juga menjadi pertukaran pengalaman dan transfer pengetahuan baru. Supriadi mengatakan: "orang yang mendalami teori difusi inovasi akan segera tahu bahwa setiap perubahan atau inovasi dalam bidang apa pun, termasuk dalam pengajaran, memerlukan tahap-tahap yang dirancang dengan benar sejak ide dikembangkan hingga dilaksanakan".  Sejak awal, supervisi harus di sesuaikan dengan sebuah kondisi yang perlu diperhitungkan, mulai substansi sampai kondisi-kondisi lokal tempat institusi itu diimplementasikan. Intinya, supervisi merupakan cara untuk melakukan suatu perubahan yang mendasar, melibatkan banyak pihak, dan dengan skala yang luas akan selalu memerlukan pikiran, tenaga dan waktu. Supervisi dijalankan berdasarkan kriteria yang jelas, terukur dan realistik dalam sasarannya, dan dirasakan manfaatnya oleh pihak yang melaksanakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balitbang Depdiknas. 2001. Data Standardisasi Kompetensi Guru. (http://www.depdiknas.go.id.html).&lt;br /&gt;Berliner, David. 2000. Educational Reform in an Era of Disinformation. (http://www.olam.asu.edu/epaa/v1n2.html). &lt;br /&gt;Depdiknas. 1997. Petunjuk Pengelolaan Adminstrasi Sekolah Dasar.Jakarta: Depdiknas. &lt;br /&gt;Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (Buku 1). Jakarta: Depdiknas. &lt;br /&gt;Fullan &amp; Stiegerbauer. 1991. The New Meaning of Educational Change. Boston: Houghton Mifflin Company. &lt;br /&gt;http://s1pgsd.blogspot.com/2009/02/supervisi-pendidikan-1.html&lt;br /&gt;Mujtahid, 2009. Pengembangan Profesionalisme Guru, Malang: UIN-Malang Press.&lt;br /&gt;Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Rosdakarya.&lt;br /&gt;Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan kompetensi Guru.&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah RI, Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.&lt;br /&gt;Sahertian, Piet A. 2000. Konsep-Konsep dan Teknik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta. &lt;br /&gt;Sapari, Achmad. Pemahaman Guru Terhadap Inovasi Pendidikan. Kompas (16 Agustus 2002). &lt;br /&gt;Supandi. 1996. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka. &lt;br /&gt;Suparlan, 2005. Menjadi Guru Efektif, Yogyakarta: Hikayat. &lt;br /&gt;Supriadi, Dedi. 1999. Mengangkat Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. &lt;br /&gt;Supriadi, Dedi. Laporan Akhir Tahun Bidang Pendidikan &amp; Kebudayaan. Kompas, 2002. &lt;br /&gt;Suprihatin, MD. 1989. Administrasi Pendidikan, Fungsi dan Tanggung Jawab Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Supervisor Sekolah. Semarang: IKIP Semarang Press. &lt;br /&gt;Suryasubrata.1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. &lt;br /&gt;Townsend, Diana &amp; Butterworth. 1992. Your Child's Scholl. New York: A Plime Book. &lt;br /&gt;Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen&lt;br /&gt;Usman, Moh Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya &lt;br /&gt;Wardani, IGK. 1996. Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Jakarta: Dirjen Dikti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6156085220433448306?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6156085220433448306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/konsep-karakteristik-dan-rasional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6156085220433448306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6156085220433448306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/konsep-karakteristik-dan-rasional.html' title='Konsep, Karakteristik dan Rasional Supervisi Pendidikan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6271738487371225147</id><published>2010-11-18T08:55:00.002+07:00</published><updated>2010-11-18T09:08:19.461+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Mendaki Puncak Kemabruran Haji</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RITUAL haji adalah perjalanan spiritual menuju baitullah (rumah Allah). Dalam rukun Islam, haji ditempatkan pada rukun yang terakhir sebagai puncak tangga menuju kesempurnaan menjalankan syari’at Islam. Berbeda dengan shalat, zakat, dan puasa, ibadah haji lebih memperlihatkan sebuah sarana pendakian yang unik, karena ritual haji dapat langsung mempertemukan dimensi ruhani di pusat kiblat umat Islam se-alam semesta.&lt;br /&gt; Secara kodrati, manusia pasti menginginkan sebuah kesempurnaan dalam segala aspek kehidupannya, juga termasuk ibadah haji. Jadi wajar kalau ada orang ingin kaya, terhormat, pinter dan seterusnya. Bahkan, seberat apa pun kendala dan rintangan menghadangnya, seorang begitu gigih dan kuat demi meraih apa yang menjadi keinginan dan cita-citanya. &lt;br /&gt; Kegigihan untuk mencapai kesempurnaan itu, kata Paul G. Stoltz, adalah AQ (Adversity Quotient). Yakni satu kecerdasan berupa kegigihan untuk mengatasi segala rintangan demi mendaki tangga kesempurnaan yang diinginkan. Hidup ini tak ubahnya seperti mendaki gunung. Kesuksesan atau kepuasan diperoleh melalui upaya yang tak kenal lelah untuk terus mendaki, walau terkadang langkah demi langkah yang ditapaki terasa lambat dan menyakitkan.&lt;br /&gt; Menyempurnakan Gagasan Paul G. Stoltz seperti di atas, C. Ramli Bihar Anwar dan Haidar Bagir menambahkan dengan istilah "spiritual". Hal itu seperti tanpak pada judul bukunya “Adversity Spiritual Quotient (ASQ) (2004. AQ (Adversity Quotient)saja bulum cukup, akan tetapi membutuhkan “rasa kendali” dengan kekuatan Tuhan. Jadi suasana batin ke Atas (kepada Sang Khaliq) akan membuat orang selalu siap untuk segera bangkit dari ketersungkuran yang paling dalam sekalipun. &lt;br /&gt; ASQ (adversity Spiritual Quotient) adalah cara baru untuk menyusun kiat-kiat kesuksesan yang tidak hanya terbatas material, tetapi juga kesuksesan dan kepuasan spiritual. ASQ ingin membawa makna fitrah ke pengertian yang seutuhnya. Secara fitriyah, manusia pada dasarnya punya ketergantungan dengan sang Pencipta, yang hal ini diwujudkan melalui bentuk ritual keagamaan. Haji termasuk bagian penting untuk mencari kesuksesan bathin dan spiritual.&lt;br /&gt; Dengan ASQ, manusia dapat meraih kekuatan fitriyahnya. Kekuatan ini sebagai sumber kesucian dan kebaikan dalam dirinya. Sementara Haji adalah sarana terpenting di dalam mengembalikan fitriahnya manusia. Terlebih dapat berjumpa dengan pusat peribadatan yang menjadi kiblatnya Islam seluruh umat muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Mabrur&lt;br /&gt; Kemabruran haji, sesungguhnya dapat diukur dengan beberapa hal. Pertama, ongkos yang digunakan untuk membayar perjalanan haji harus halal. Sebab, jika tidak, akan sangat mengganggu konsentrasi ibadah, bahkan perhatian ibadahnya bukan ditujukan kepada Allah melainkan sebagai cara untuk mendapatkan derajad sosial di tengah kehidupan masyarakat. &lt;br /&gt;Kedua, kesiapan mental yang bersih, tulus, serta ihklas karena ingin bertaqarrup kepada Allah. Kemabruran haji, bisa diukur dari sifat ini selepas dari tanah suci dengan peningkatan spiritualnya semakin bagus. Cara mengukurnya adalah seberapa rajin para hujjaj yang datang dari Tanah Suci itu melakukan shalat jama’ah, menyantuni anak yatim dan orang fakir miskin, dan seterusnya.&lt;br /&gt;Ketiga, menjauhkan diri dari sifat-sifat jelek yang dapat mengotori fitrah. Jika sifat-sifat yang bertentangan masih menjadi kebiasaan, maka itu tandanya kegagalan meraih kemabruran haji. Tidak melakukan tindakan tercela, baik berupa kata-kata maupun tindakan/perbuatan. Tanda haji mabrur adalah orang yang semakin bertambah tawadhu’ dan istiqamah nilai kebaikannya, bukan malah menjadi rakus dan tama’ dalam hidup kesehariannya. Sikap benci, sombong, riya dan sejenisnya seyogyanya terhempas suhu spiritualitas haji selama di Makkah al-Mukarramah. &lt;br /&gt;Keempat, mendapatkan ketenangan bathin yang semakin mantap dan teguh dalam memegangi ajaran agama. Begitu juga kecerdasan atau kepekaan spiritual dan sosialnya semakin meningkat. Sehingga selepas melaksanakan haji, bukannya semakin jauh dari agama, lari dari tanggungjawab sosial, tetapi justru semakin dekat dengan Tuhan dan peka terhadap urusan kemanusiaan.&lt;br /&gt;Dari beberapa indikator di atas, sesungguhnya ibadah haji adalah ibadah penyempurnya dari serangkaian ibadah-ibadah lainya. Oleh karena itu, puncak kemabruran haji tidak bisa hanya diukur dengan menjalankan sahnya ritualitas di tanah suci saja. Akan tetapi, ditandai dengan keberangkatannya mulai bekal syahadah, shalat, zakat dan puasa. Keempat bekal tersebut tidak bisa dilompati hingga ada salah satu yang kosong. Pendek kata, harus sempurna dulu menjalankan rukun-rukun sebelumnya, barulah bisa mendapat tiket untuk berhaji.  &lt;br /&gt;  Setelah syarat dan rukun haji dijalankan selama prosesi haji di Tanah Suci, yang merupakan ritual pokoknya, maka yang tidak kalah pentingnya yaitu memaknai kembali ritualitas itu. Proses haji harus dihayati dan dimalkan setelah tiba di Tanah Air dengan melahirkan sikap kesalehan yang lebih sempurna pada jiwa dan raganya. Kalau itu dapat diwujudkan, maka dampaknya adalah semakin meningkatnya akhlak dan spiritual umat Islam. &lt;br /&gt; Semoga kegigihan meraih haji mabrur para jama’ah haji dari tahun ke tahun dapat terwujud dan hal itu menjadi modal penting untuk memperbaiki kondisi dan keadaan bangsa yang sedang dilanda krisis moral ini. Bangsa ini merindukan solidaritas agung yang tulus ikhlas dari semua para jama’ah yang menjadi tauladan dan contoh bagi masyarakat dan bangsanya. Ialah seorang yang dapat ditiru dan digugu dari segala sikap, perilaku, pikiran, ucapan dan tindakannya.&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6271738487371225147?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6271738487371225147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/mendaki-puncak-kemabruran-haji.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6271738487371225147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6271738487371225147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/mendaki-puncak-kemabruran-haji.html' title='Mendaki Puncak Kemabruran Haji'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-3096538533757370015</id><published>2010-11-17T05:22:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T05:23:52.649+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Memahami Etos Pembaruan Pendidikan Muhammadiyah</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SECARA geneologis, kelahiran Muhammadiyah diilhami oleh dua hal, yaitu pemahaman terhadap sumber ajaran Islam yakni al-qur’an dan hadits serta keprihatinan atas fenomena sosial keagamaan yang mendera kehidupan umat Islam. Dua hal itulah menjadi spirit KH. Ahmad Dahlan dan kawan-kawan mendirikan organisasi Muhammadiyah yang didalamnya melahirkan amal usaha di bidang pendidikan. Menurut kisah sejarah, pendidikan yang kini menjadi amal usaha terbesar Muhammadiyah itu, konon lebih tua ketimbang usia gerakan Muhammadiyah itu sendiri.&lt;br /&gt; Kemunculan pendidikan Muhammadiyah merupakan perjuangan yang gigih dan tak kenal kelah para pendirinya, yang tanpa pamrih mereka rela mengorbankan apa saja demi tercapainya misi pendidikan modern dan mampu menjawab tantangan zaman. Pendidikan Muhammadiyah memiliki ciri khas, yaitu mensintesakan antara pendidikan yang dikelola kolonial Belanda yang mengajarkan ilmu-ilmu alam dan sosial (profan) dengan pendidikan berciri khas Islam, seperti madrasah, pesantren atau sejenisnya yang mengajarkan masalah agama (sakral). Bagi Muhammadiyah, keduanya sangat penting untuk diraih agar umat Islam hidupnya berkualitas, baik di dunia maupun akhirat kelak.&lt;br /&gt; Dari sisi landasannya, sesungguhnya pendidikan Muhammadiyah sudah sangat tepat, karena mengintegrasikan antara al-Qur’an dan Hadits dengan pemikiran pembaruan, antara muatan keilmuan umum yang berguna untuk meraih keunggulan duniawi dengan muatan ilmu agama yang menjadi basis kekuatan spiritual dan moral. Paradigma tersebut adalah spirit etis yang menjadi inti perjuangan yang dikembangkan oleh Muhammadiyah untuk merancang, mendesain pendidikan yang berkualitas sesuai dengan tuntutan masyarakat global.&lt;br /&gt; Memenuhi tuntutan global saat ini, pendidikan Muhammadiyah perlu kembali mereformulasi konsep baru yang relevan dengan kebutuhan stakeholders, memunculkan ide-ide yang inspiratif, hingga strategi dan cara-cara inovatif untuk mengembangkan pendidikan. Dengan begitu pendidikan yang mengemban misi peradaban ummat mampu melahirkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan keadaan zaman.&lt;br /&gt; Pendidikan Muhammadiyah sesungguhnya bukanlah pendidikan yang baru kemarin berdiri, melainkan telah mengarungi rentang masa yang cukup lama, yakni lebih dari satu abad lamanya. Bahkan, sebelum pendidikan nasional berkiprah, pendidikan Muhammadiyah telah lebih dulu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. &lt;br /&gt; Namun, akhir-akhir ini pendidikan Muhammadiyah tengah menghadapi problematika yang tidak ringan. Dikatakan tidak ringan, karena selain gempuran sekolah atau madrasah negeri yang tidak memberikan ruang gerak pada pendidikan swasta, kebijakan pemerintah yang kurang menguntungkan pendidikan swasta, juga ditambah dengan semangat dan kreasi para pelaku pendidikan Muhammadiyah agak mulai menurun. Beberapa sekolah Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah yang dulu tampak sangat maju dan ramai peminatnya, kini mengalami suasana yang cukup rawan dan mengkhawatirkan, bahkan tidak sedikit mengalami stagnasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos Pembaruan&lt;br /&gt;Peta persoalan tersebut di atas, perlu dipikirkan dan dicarikan jalan pemecahannya agar pendidikan Muhammadiyah terus berkibar dan survive di tengah persaingan yang kompetitif itu. Saatnya para pimpinan Muhammadiyah mulai dari tingkat pusat, wilayah, daerah hingga cabang dan ranting memusatkan perhatian pada bidang pendidikan, selain bidang-bidang lainnya untuk terus mengembangkan etos pembaruan yang selama ini dipahami dan diyakini oleh warga Muhammadiyah.&lt;br /&gt; Tatkala dulu KH. Ahmad Dahlan masih aktif berkecimpung dalam pendidikan, pesan yang  beliau ajarkan adalah etos kemajuan. Melalui etos kemajuan itulah setapak demi setapak pendidikan Muhammadiyah menunjukkan keberhasilan yang membanggakan umat Islam. Nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang dibarengi dengan jiwa tulus ikhlas yang dulu tampak menjadi spirit etis pendiri Muhammadiyah, kini perlu dipupuk kembali dan dijadikan tema besar untuk membangkitkan pendidikan Muhammadiyah yang cemerlang.&lt;br /&gt; Memasuki abad kedua, Muhammadiyah perlu memetakan sebuah gerakan yang sesuai dengan konteks zaman saat ini. Menjelang muktamar ke 46 di Yogyakarta, ada tema yang cukup menarik yang sering dibahas pada forum-forum diskusi terbatas, baik di kantor-kantor PDM maupun di amal usaha Muhammadiyah, yaitu gerakan ilmu. Dan pendidikan merupakan salah satu gerakan yang relevan untuk mewujudkan gerakan ilmu tersebut, yang sekaligus menandai dan menjadi ciri utama gerakan Muhammadiyah.&lt;br /&gt; Membangun gerakan ilmu atau pendidikan adalah membangun peradaban, melahirkan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas, serta menumbuhkan sikap dewasa dan kearifan manusia. Supaya gerakan itu berhasil, maka membutuhkan spirit perjuangan bagi semua pihak, baik para pimpinan Muhammadiyah maupun pelaku di masing-masing sekolah atau madrasah. Spirit perjuangan dan etos pembaruan itu sesungguhnya modal utama untuk membangun prestasi pendidikan Muhammadiyah. &lt;br /&gt;Dibanding dengan organisasi lain, Muhammadiyah telah memiliki sumber daya manusia (SDM) yang lebih baik. Artinya, itu merupakan modal yang sangat berharga untuk diajak membenahi pendidikan Muhammadiyah. Namun pertanyaannya, apakah mereka yang secara SDM sangat baik, mau dan mampu meluangkan waktunya, tenaganya serta segala yang dimilikinya untuk memajukan pendidikan Muhammadiyah. &lt;br /&gt;Menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita renungkan pepatah yang pernah diwariskan oleh sang pendiri Muhammadiyah, yaitu ”hidup hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari kehidupan di Muhammadiyah”. Pepatah itu relevan bahwa tidak sedikit saat ini orang cenderung serba transaksional, suka jabatan dan cari kesempatan, yang ujung-ujungnya akan jadi penghambat pendidikan Muhammadiyah itu sendiri.  Berbekal dengan nilai-nilai etos pembaruan diharapkan semua pelaku pendidikan Muhammadiyah mampu menghayati dan mengamalkan dalam setiap aktivitasnya untuk mengambil kebijakan dan keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) PPs UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-3096538533757370015?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/3096538533757370015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/memahami-etos-pembaruan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/3096538533757370015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/3096538533757370015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/memahami-etos-pembaruan-pendidikan.html' title='Memahami Etos Pembaruan Pendidikan Muhammadiyah'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-2048274368012065494</id><published>2010-11-16T12:44:00.000+07:00</published><updated>2010-11-16T12:45:33.443+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Menjangkau Pendidikan Murah Melalui BOS</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;SEJAK Juli 2005 yang lalu, pemerintah memunculkan kebijakan strategis, sebagai langkah serius, nyata dan urgen untuk mewujudkan wajib belajar (wajar) 9 tahun, yaitu Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kebijakan stretegis itu dimaksudkan untuk pemerataan sekaligus penyegaran kembali akan pentingnya kesadaran pendidikan yang terjangkau (murah) dan bermutu bagi semua anak negeri di tanah air. &lt;br /&gt; Cita-cita dan amanat UUD 1945 yang menjadi payung hukum tertinggi di negeri ini serta UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas sebagai pijakan pemerintah, melalui Kemendiknas agar semua warga negara berusia 7-15 tahun atau setingkat SD hingga SMP wajib memperoleh hak untuk mendapat pendidikan. Hal ini selaras dengan misi dunia bahwa pendidikan adalah untuk semua (education for all) yang menembus batas benua, negara, pulau, etnis, ras, suku dan agama.&lt;br /&gt; Perbedaan geografis bangsa Indonesia yang begitu majemuk, mengakibatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat atau daerah tidak dapat berkembang secara pesat dan merata. Faktor perbedaan sosial-ekonomi itulah sebagai salah satu kendala utama, selain faktor-faktor lain, dalam rangka menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Sebagai upaya menjembatani perbedaan itu dan ditambah dengan jumlah masyarakat kurang mampu (miskin) yang tidak sedikit, pemerintah melalui Kemendiknas memberikan program BOS guna pemenuhan kebutuhan belajar mengajar siswa yang diterimakan langsung ke semua sekolah tingkat dasar (SD/SMP). Artinya, program BOS mendorong agar semua warga negara Indonesia mengenyam pendidikan sekurang-kurangnya tingkat dasar.&lt;br /&gt; Dari rentang waktu lima tahun terakhir, besaran program BOS dari tahun 2005 hingga tahun 2009 telah mengalami peningkatan secara signifikan. Program BOS merupakan program yang sebanding lurus dengan kebijakan pemerintah yang mengalokasikan anggaran pendidikan 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sebagai amanat Undang-Undang Dasar 1945. Manfaatnya, lebih dari 30 juta murid SD/MI dan 12,5 juta SMP/MTs telah merasakan program BOS yang hasilnya sangat positif untuk pengentasan wajib belajar 9 tahun.&lt;br /&gt; Bahkan, menurut laporan Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, penuntasan program wajar 9 tahun mengalami peningkatan secara signifikan, yaitu mencapai 98,11% Angka Partisipasi Kasar (APK). Prestasi ini melebihi target dari yang dirancang sebelumnya, yakni untuk menuntaskan wajar 9 tahun paling lambat tahun 2015. Program BOS dinilai menghasilkan kemajuan yang pesat. Secara riil, indikator keberhasilan program BOS adalah mampu mengurangi beban orangtua untuk biaya pendidikan anaknya, sehingga menurunkan angka putus sekolah (drop out), mengurangi angka mengulang kelas, meminimalisir tingkat ketidakhadiran, dan meningkatkan angka melanjutkan dari SD/MI ke SMP/MTs.&lt;br /&gt; Seiring dengan prestasi yang menggembirakan tersebut di atas, pengelolaan program BOS dituntut harus sesuai dan tepat sasaran. Sebab, tak jarang program BOS juga masih menyisakan persoalan yang perlu mendapat perhatian lebih lanjut. Persoalan dimaksud, yaitu tentang transparansi, pertanggungjawaban (akuntabilitas) dan partisipasi. Program BOS adalah program sensitif yang seringkali menimbulkan mosi saling tidak percaya antara satu pihak dengan pihak yang lain, disamping juga rawan penyelewengan. Untuk menjawab persoalan sekaligus anggapan itu, sekolah sebagai pihak penerima program BOS perlu secara bersama-sama merancang, menyusun dan melaksanakannya secara kolektif, yakni melibatkan peran komite sekolah, orangtua dan masyarakat.&lt;br /&gt; Komitmen pelaksanaan program BOS harus dijalankan di atas kesepahaman dan kesepengetahuan bersama tanpa harus ditutup-tutupi, apalagi dirahasiakan. Program BOS adalah uang rakyat bersumberkan pada APBN, maka dalam aturannya harus dikelola dengan transparan dan akuntabel, baik secara moral, teknis, legal dan administrasinya. Melalui program BOS, diharapkan kepala sekolah/madrasah lebih kreatif dan imajinatif dalam mengembangkan mutu pendidikan baik aspek muatan kurikulumnya, kegiatan pembelajarannya dan aspek-aspek kegiatan lainnya. Hadirnya program BOS, dimaksudkan bukan malah menghambat dan menjadikan kepala sekolah/madrasah tidak berkembang, karena takut salah dan menyeret dirinya masuk ke dalam lembaga pemasyarakatan (LP). Kalau itu terjadi, maka kita yakin sebabnya adalah karena mereka tidak memahami pedoman dan menyalahi aturan terkait dengan transparansi dan akuntabilitasnya.&lt;br /&gt; Pemerintah, selain meningkatkan anggaran program BOS, dari 5,1 triliun pada awal program BOS digulirkan tahun 2005 hingga menjadi 19,4 triliun saat ini, juga meningkatkan sosialisasi dan pengawasannya. Upaya ini dilakukan, karena tidak sedikit dari sekolah/madrasah yang menerima program BOS terkadang kurang memahami cara pengelolaan dan penggunaannya. Langkah yang ditempuh oleh pemerintah melalui Ditjen Mandikdasmen adalah menerbitkan buku pedoman yang harus dipahami segenap stakeholder program BOS, mulai pejabat pusat, daerah, hingga sekolah. Meski buku pedoman itu sudah ada sebelumnya, tahun ini buku tersebut lebih disempurnakan. Agar terukur dan terbukti tingkat transparansi dan akuntabilitasnya, program BOS dilakukan audit kinerja dan audit keuangan secara khusus oleh BPKP secara tahunan, dan pengawas/penyidik oleh pihak berwenang.&lt;br /&gt; Akses penggunaan program BOS dapat dinikmati oleh semua pihak. Tidak saja bagi orangtua siswa, yang secara ekonomi menjadi lebih ringan beban tanggungannya, melainkan juga bagi sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran yang lebih maksimal. Program BOS juga tidak menghalangi peserta didik, orangtua, atau pihak-pihak lain (pemda/swasta) yang mampu untuk memberikan sumbangan sukarela yang tidak mengikat kepada sekolah. &lt;br /&gt; Program BOS yang diberikan pemerintah kepada sekolah harus disyukuri bersama. Sebab ditengah kehidupan yang demikian sulit sekarang ini apapun bentuk dan upaya yang dilakukan oleh pemerintah harus ditunaikan secara jujur dan penuh tanggungjawab. Hanya dengan tekad yang kuat dan semangat yang besar disertai dengan kejujuran dan amanah, mutu pendidikan Indonesia dapat bersaing di belahan dunia. Program BOS hanyalah salah satu cara pemerintah untuk mengentaskan dari secuil persoalan yang mendera pendidikan kita.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan dan meningkatkan program BOS agar lebih efektif, maka diperlukan keluasan berpikir dan kedalaman hati (nurani) dari semua pihak. Upaya-upaya untuk menyalahgunakan program BOS merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Sebab pendidikan adalah kebutuhan dasar manusia yang harus dijalankan sesuai dengan cara-cara manusiawi. Kalau saja diingkari, apalagi dimiliki untuk diri sendiri, maka tamatlah harapan dan cita-cita generasi unggul, tunas bangsa, generasi yang akan mewarisi dan melanjutkan peradaban masa depan bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;Melalui program BOS diharapkan semua warga negara Indonesia dapat menikmati pendidikan yang terjangkau, murah dan bermutu. Meski banyak orang bertanya, apakah dengan biaya pendidikan murah dapat menjamin pendidikan bermutu? Anggapan itu harus dijawab, bahwa melalui program BOS, pendidikan Indonesia harus bisa bangkit untuk mencapai standar mutu pendidikan yang layak dibanggakan. Negeri ini kaya akan pengalaman dan tradisi bagaimana cara memainkan sumber ”kekuatan minimal” menjadi sumber kesuksesan dan keberhasilan, ialah ketekunan, keuletan, kearifan, perjuangan dan pengorbanan. &lt;br /&gt;Ibarat senjata, program BOS adalah bambu runcing yang mampu bicara dan mengantarkan negeri ini menjadi merdeka. Bambu runcing kala itu mampu mengalahkan senjata pistol, bahkan meriam kolonial. Sebenarnya, letak kehebatan itu bukan karena pistol atau bambu runcingnya, tetapi karena tekad, semangat perjuangan dan pengorbanan itulah yang mampu mengantarkan kesuksesan bangsa ini. Kalau kita bicara atau diskusi terus menerus soal ”senjata”, tidak akan pernah selesai sampai kapan pun. Semoga program BOS mampu menjadi alternatif pendidikan yang terjangkau, murah dan bermutu ditengah mahalnya biaya pendidikan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-2048274368012065494?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/2048274368012065494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/menjangkau-pendidikan-murah-melalui-bos.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2048274368012065494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2048274368012065494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/menjangkau-pendidikan-murah-melalui-bos.html' title='Menjangkau Pendidikan Murah Melalui BOS'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6649660587322266133</id><published>2010-11-15T07:47:00.000+07:00</published><updated>2010-11-15T07:48:40.423+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi'/><title type='text'>Bisnis dan Layanan Prima</title><content type='html'>SALAH satu elemen marketing yang kini mulai digemari pebisnis adalah servis (pelayanan). Pelaku bisnis berpikir bahwa servis sudah merupakan the ultimate level. Artinya, sudah tidak ada lagi konsep paling tinggi dari ini. Servis menjadi penting, karena tuntutan persaingan (competition), perubahan (change), perseroan (company) yang harus bergerak terus.&lt;br /&gt; Dewasa ini, banyak perusahaan-perusahaan besar mulai membidik pangsa pasarnya dengan menanamkan nilai kepercayaan melalui pelayanan (service). Servis dimaksudkan sebagai pilihan efektif pemasaran, ketimbang dengan cara memasang iklan di media apapun. Hermawan Kartajaya menyebut istilah ini sebagai “gethok tular” atau word of mouth. Pelanggan yang terpuaskan dengan sendirinya akan “ngomong” tentang  produk yang dihasilkan.&lt;br /&gt; Dengan sistem baru ini, perusahaan dapat mengurangi pengeluaran dari pemasangan iklan yang menguras jutaan rupiah. Cara hemat ini sudah terbukti dalam bisnis perbankan, baik kelas regional, nasional maupun kalas dunia. Kesusksesan yang sama juga pernah diterapkan di beberapa perusahaan di negara-negara modern atau maju.&lt;br /&gt; Hermawan Kartajaya, selaku presiden Markplus&amp; Co sudah belasan tahun mengamati model marketing yang ada di negara-negara luar. Menurutnya, salah satu indikator dari keberhasilan perusahaan adalah melakukan pelayanan yang memuaskan (service exellence). Pelaku bisnis harus bisa mengerti dan menunjukkan kebutuhan pelanggan, karena tidak setiap pelanggan mengerti dan tahu kebutuhannaya. Pelayanan lebih seperti inilah menjadi nilai tambah (core value) dan daya tawar bagi kelangsungan bisnis yang baik.&lt;br /&gt; Pelayanan merupakan suatu proses yang menghasilkan kepuasan atau produk yang diberikan kepada konsumen. Pelayanan dapat dibedakan mejadi tiga kelompok. Pertama, core service yaitu suatu pelayanan yang ditawarkan kepada pelanggan yang merupakan produk utamanya. Kedua, facilitating service, yaitu fasilitas layanan tambahan yang diberikan pada konsumen. Ketiga, supporting service yaitu pelayanan tambahan (pendukung) untuk meningkatkan nilai pelayanan atau untuk membedakan dengan pelayanan-pelayanan dari pesaingnya. &lt;br /&gt; Pelayanan bisnis (service business) merupakan suatu proses interaksi antara konsumen dan perusahaan. Pelayanan juga bertujuan untuk memberdayakan pelanggan agar mereka tetap percaya terhadap produk atau jasa yang Anda diberikan. Bagi perusahaan yang berorientasi profite (keuntungan), servis dapat dipandang sebagai jurus untuk meningkatkan pendapatan yang lebih tinggi. &lt;br /&gt; Selama ini, masih banyak orang belum mengerti tentang  konsep pelayanan. Pelayanan sering disama-artikan dengan keramahan. Padahal, servis adalah tindakan aktif dan nyata, baik dari segi produk maupun jasa. Pramugari pesawat misalnya, dapat memberi contoh kualitas tidaknya layanan jasa kepada para pelanggan. Begitu pula terjadi pada layanan produk, HP Nokia 810 Car Phone sebagai contoh bentuk layanan kumunikasi dalam mobil, yang di jaman modern seperti ini sangat dibutuhkan untuk kenyamanan bagi pengemudi mobil.&lt;br /&gt; Dengan pelayanan yang baik, selanjutnya akan terjadi kemitraan pelanggan. Kemitraan pelanggan yang efektif membuat palanggan terus kembali, apa pun yang terjadi dalam keadaan baik atau buruk, di masa senang dan susah. Kemitraan pelanggan ini harus selalu dipupuk dengan pelayanan yang prima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idikator Layanan&lt;br /&gt;Untuk mengukur baik atau tidaknya kualitas layanan, dapat ditilik dari lima hal. Pertama, reability, yaitu seberapa jauh Anda bisa memenuhi apa yang anda janjikan atau yang anda tawarkan kepada pelanggan. Banyak produk hancur karena setelah rumusan janji tidak sesuai dengan kenyataannya. Ini justru berbahaya, bahkan bisa membunuh karakter Anda sendiri. Yang jelas jangan sampai terjadi over-promise under promise. Jika sampai terjadi, pelanggan akan mengecap Anda sebagai tukang bohong, hancurlah kredibilitas Anda di mata pelanggan.&lt;br /&gt;Kedua, Responsiveness, yaitu kemampuan untuk memenuhi permintaan pelanggan sesuai dengan perubahan perkembangan lingkungan usaha. Setiap produk yang Anda hasilkan harus berkelanjutan dan relevan dengan berbagai perubahan dalam lingkungan bisnis, seperti perubahan persaingan, perilaku pelanggan, perubahan sosial budaya, dan sebagainya. Jika produk/layanan Anda merasa tidak relevan dengan kondisi lingkungan, maka Anda harus segera merubahnya (repositioning) agar tidak di cap kuno.&lt;br /&gt;Ketiga, assurance yang terkait dengan kemampuan atau sumber daya yang dimiliki dan akan menentukan mampu atau tidaknya memenuhi apa yang ditawarkan ataupun yang dijanjikan. &lt;br /&gt;Keempat, empathy, upaya memahami diri sang pelanggan. Layanan yang baik yaitu harus mencerminkan bagaimana pelanggan dapat terpuaskan sesuai dengan kebutuhannya. Sikap empathy yang ditunjukkan kepada pelanggan harus spartan (totalitas), karena dengan begitu jati diri Anda semakin kuat dan mudah dikenang di benak mereka.&lt;br /&gt;Kelima, tangible, yaitu penampilan fisik yang membuat suatu layanan akan berlangsung lebih baik. Layanan itu harus mencerminkan “keunikan”, yang berarti dengan mudah mendiferensiasikan (membedakan) diri dari para kompetitor. Cara seperti ini sangat efektif untuk menanakman kecintaan kepada pelanggan. Karena positioning Anda akan sulit ditiru (diduplikat) oleh pesaing Anda. Dari positioning  ini akan mengangkat citra Anda dan sekaligus akan menjaga sutainable lebih lama lagi. &lt;br /&gt; Dari kelima standar layanan di atas, sampai saat ini service masih dipahami sebagai cara yang efektif dalam membangun citra Anda di mata pelanggan. Karena service akan menempatkan usaha Anda lebih dipercaya oleh pelanggan. Jika terjadi demikian, maka Anda termasuk berhasil dalam membangun kesan, image, di benak konsumen, bahwa layanan produk atau jasa Anda layak dipercaya dan kompeten.&lt;br /&gt; Sebagai bekal untuk mengefektifkan usaha atau aktivitas Anda, maka indikator-indikator layanan di atas sangat cocok menjadi pijakan dalam memberikan kesan dan hasil yang baik. Tindakan melayani orang merupakan akumulasi dari sebuah analisis rasional, taktis dan sistematis sehingga siapa saja yang Anda layani merasa terpuaskan. Dengan tindakan seperti itu sebenarnya akhirnya menjadi investasi yang luar biasa dan sulit untuk dilupakan oleh orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Humas UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6649660587322266133?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6649660587322266133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/bisnis-dan-layanan-prima.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6649660587322266133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6649660587322266133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/bisnis-dan-layanan-prima.html' title='Bisnis dan Layanan Prima'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-1953617706390324888</id><published>2010-11-01T05:29:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T05:32:30.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Menjaga Hati Agar Tetap Bersih</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM jiwa manusia, terdapat dua tabiat yang cenderung bersifat paradoks, yaitu tabiat hasanah (baik) dan sayyi’ah (jelek). Selain manusia dikenal sebagai makhluk yang kasih sayang, lemah lembut, suka menolong, juga dikenal sebagai makhluk yang kejam, otoriter, dan sadis. Kedua tabiat tersebut mengiringi organisme manusia sepanjang hayatnya. &lt;br /&gt;Tetapi, tabiat yang bertolak belakang secara diametral tersebut, masih sangat ditentukan oleh eksistensi kalbu, sebagai potensi (al-quwwah, fakultas) yang menentukan pilihan dan tindakan (action) manusia. Dengan potensi kalbu, manusia dapat membedakan antara baik dan buruk; antara benar dan salah.&lt;br /&gt; Menurut Ibnu Athaillah Al- Sakandari (seorang yang kapasitasnya sebagai sufi), bahwa Dunia tasawuf (sufi) merupakan dunia yang dikenal dekat dengan hati (kalbu). Karena salah satu aspek untuk mencapai derajat sampai ma’rifat, ia harus dapat menundukkan kalbunya terlebih dahulu. Untuk menjadi sufi, sepintas memang terkesan agak sulit, tetapi jika dijalani dengan penuh kesungguhan dan istiqamah tentu pasti akan tercapai. Lantas, bagaimana metode menundukkan hati (kalbu)? Buku yang berjudul Menjaga Kesucian Kalbu, telah menyuguhkan kurang lebih 40 essai supaya kita benar-benar sukses menjaga kesucian kalbu ini.&lt;br /&gt; Sederetan nama sufi, Athaillah merupakan tokoh ulama yang zahid, wara’ serta sebagai duta orang-orang ‘arif dan imam para sufi. Sufi asal Iskandariyah itu sejak usia dini memang memiliki semangat berguru pada mursid-mursid (guru sufi) pendahulunya. Atas keberhasilannya, ia sangat dikagumi pada zamannya, khususnya kepiawiannya dalam bidang ilmu syari’at dan hakikat. Demikianlah sekilas “otobiografi” sang penulis buku ini.&lt;br /&gt; Dalam sebuah tulisannya, Athaillah menegaskan bahwa untuk meraih derajat tinggi dan tempat mulia di hadapan Allah, diperlukan kedalaman pengetahuan pada diri Muhammad Saw, sebagai utusan Allah. Bagi kaum Muslim, figur utama yang perlu diikuti dan dihormati adalah Rasulullah, kata Athailah dengan nada semangat. Dengan mengikuti sunnah Rasul, secara pasti kehidupan ini akan terbimbing ke arah jalan yang diridhai Allah. &lt;br /&gt; Metode ampuh untuk menjaga kesucian kalbu adalah dengan taubat. Secara bahasa, taubat berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Artinya kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat yang terpuji, kembali lari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridha’i-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, dan seterusnya.&lt;br /&gt; Jalan taubat sengaja di buka oleh Allah guna apabila seorang Muslim melakukan kesalahan, baik yang besar maupun kecil, ia wajib segera kembali kepada jalan Allah. Dengan mengutip ayat al-Qur’an, Athaillah menyerukan: “Kembalilah kamu sekalian kepada jalan Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. Mengapa manusia perlu bertaubat? Kata Athailah, karena manusia dihidupkan dan dimatikan hanya oleh Allah. Sehingga modal untuk kembali kepada Allah hanyalah dengan keadaan Suci (fitrah) dari segala bentuk dosa dan perbuatan maksiat, yang menentang kemahakuasaan Allah.&lt;br /&gt; Hal menarik lainnya dari essai Athaillah adalah muhasabah (introspeksi diri). Manusia seharusnya punya kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah di manapun ia berada, baik siang maupun malam. Dengan demikian, manusia akan terdorong untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri, perhitungan, evaluasi) terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap kalbunya sendiri. Menurut Athailah, Muhasabah dapat direncanakan sebelum melakukan sesuatu dengan secara tepat dan matang. Mempertimbangkan terlebih dahulu baik-buruk dan manfaat perbuatannya itu. &lt;br /&gt; Satu hal lagi yang menjadi catatan Athaillah agar Kalbu tetap suci adalah sikap ikhlas. Secara etimologis, ikhlas berakar dari khalasha yang berarti bersih, jernih, murni; tidak tercampur. Ikhlas bagaikan air bening yang belum tercapur oleh zat apapun. Sikap ikhlas berarti membersihkan atau memurnikan dari setiap kemauan, keinginan yang didasarkan bukan kepada Allah.&lt;br /&gt; Masih mangenai ikhlas, ia menjelaskan bahwa segala amal perbuatan yang dikerjakan manusia jika tidak ikhlas, maka amal perbuatan tersebut tidak diterima Allah. Dengan kata lain, ihklas mengajarkan supaya manusia berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah.. Karenanya, setiap perbuatan  harus diawali dengan kata niat. Seperti yang dianjurkan Nabi: “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-1953617706390324888?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/1953617706390324888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/menjaga-hati-agar-tetap-bersih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1953617706390324888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1953617706390324888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/11/menjaga-hati-agar-tetap-bersih.html' title='Menjaga Hati Agar Tetap Bersih'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8851709579054858934</id><published>2010-10-17T14:06:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:07:06.238+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='hadits'/><title type='text'>Wacana Studi Kritik Hadits</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBEDA dengan al-Qur’an, keotentikan hadits seringkali dipersoalkan. Sejumlah kritikan ditujukan kepada hadits, bahkan ada yang menolaknya. Sekalipun telah sekian lama melengkapi sumber ajaran agama Islam (al-qur’an), hadits sekiranya masih perlu diuji keabsahan dan validitasnya. Salah satu penyebabnya adalah selain tidak adanya jaminan yang tegas, juga akibat keterlambatan penulisan hadits. Sehingga sangat mungkin diduga periwayatan hadits banyak yang palsu.&lt;br /&gt; Mengapa kritik hadits itu perlu dilakukan, karena banyak silang pendapat, perbedaan, serta konflik di tengah kehidupan masyarakat muslim akibat hadits-hadits yang mengundang interpretatif, baik dari sanad dan matannya. Padahal, hadits adalah pendamping al-Qur’an yang keduanya harus menjadi sumber rujukan sebagai penjelas (bayan), petunjuk (hudan), serta sebagai obat (syifa) bagi ummatnya. &lt;br /&gt; Sebagai sumber kedua ajaran Islam, tentunya bukanlah hadits sembarangan. Yaitu hadits yang kadar sanad dan matanya tidak jelas dan tidak memiliki sandaran yang kuat. Untuk mengukur kedhabitan (mantap/valid) hadits, biasa dikalangan akademis lebih memilih istilah kritik hadits. Ialah sebuah acara untuk menilai dan menimbang dari berbagai sisi, baik dari segi sanad dan matannya yang memungkinkan diterimanya keabsahan dan kedhabitan hadits tersebut. &lt;br /&gt; Wacana studi kritik hadits selain dipandang penting untuk menguji validitas hadits, juga untuk melahirkan ilmu hadits. Sebab semakin berkembang ilmu hadits, akan menjadikan wilayah studi Islam semakin luas. Dengan begitu diharapkan wacana studi kritik hadits bermanfaat bagi dinamika perkembangan peradaban Islam.&lt;br /&gt;Menurut Badri Khaeruman, seperti yang tertuang dalam karyanya ”Otentisitas hadits,” (2004) mengatakan bahwa tujuan dari kritik hadits adalah menjamin keselamatan hadits itu sendiri. Kritik hadits membuka peluang untuk melakukan studi terhadap keabsahan dan validitasnya, baik segi taman dan sanadnya. Setelah itu, baru kita dapat menilai posisi hadits tersebut, apakah masuk kategori hadits shahih, maqbul (diterima) atau dha’if, mardud (ditolak).&lt;br /&gt;Dengan adanya kritik hadits, diharapkan agar kita mengetahui dengan pasti otentisitas suatu riwayat. Selain itu, kritik hadis juga bermanfaat untuk menguji validitasnya dalam rangka menetapkan suatu riwayat. Sebuah kritik merupakan kerja intelektual yang melibatkan cabang ilmu hadits (Ulum al-Hadits). Kerja intelektual ini dalam ilmu hadits masuk dalam konsep al-Jarh wa al-Ta’dil, suatu ilmu untuk menilai diterima dan ditolaknya seorang sanad dan rawi hadits.&lt;br /&gt;Salah seorang kritikus hadits terkenal, Abu Ruyyah, menggugat adanya kaidah yang berbunyi al-Shahabatu Kullum Udul (para sahabat adalah adil). Dalam sebuah bukunya yang ternama “Adwa ala al-Sunnah Muhammadiyah aw Difa’u an al-Hadits (1957), Abu Ruyyah menyanggah bahwa tidak semua sahabat itu tergolong adil dalam meriwayatkan hadits. Pandangan Abu Ruyyah terhadap hadits, melalui karya “kotroversial” ini pernah menggemparkan dunia Islam, khususnya Mesir. Terutama fokus yang digugat atau dikritiknya adalah Abu Hurairah, seorang sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits. &lt;br /&gt;Dalam pandangan Abu Ruyyah, masa pergaulan Nabi Muhammad Saw dengan Abu Hurairah hanya berkisar satu tahun. Ukuran waktu yang singkat.  Sehingga sangat tidak wajar kalau waktu yang sangat singkat itu Abu Hurairah dapat meriwayatkan hadits begitu banyak. Padahal, sahabat Nabi yang sejak awal mendampinginya tidak sebanyak hadits Abu Hurairah.&lt;br /&gt;Gugatan keabsahan dan validitas hadits Abu Hurairah disampaikan banyak kalangan. Tidak hanya Abu Ruyyah, Muhammad al-Gahazali dan Musthafa al-‘Azami juga mempertanyakannya, bahkan menurut Jalaluddin Rahmad (kang Jalal), menilai Abu Hurairah  sebagai tadlis, yang tidak dipercaya.&lt;br /&gt;Adanya kritik dan penilaian tersebut, menurut Badri, merupakan kesadarna sejarah yang kuat dalam kalangan umat Islam tempo dulu. Dengan kesadaran inilah kebenaran sejarah akan mampu menepis setiap bentuk penyimpangan (bid’ah) dari ajaran yang sebenarnya di masa yang akan datang. Sehingga kemurnian Islam khususnya yang disampaikan Nabi akan tetap abadi hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;Pengkajian terhadap hadits selalu menarik perhatian. Menarik karena dalam sejarahnya, pernah terjadi “musibah” besar yang menimpa sejumlah kalangan yang sejatinya sebagai sanad hadits. Di lihat dari kodifikasinya, hadits baru terkumpul sekitar seratus tahun setalah Nabi Muhammad wafat. Belum lagi, masalah  pemalsuan hadits yang berdasarkan kepentingan mereka, terutama kepentingan politik dan mazhab fiqh. Karena itu, untuk ‘mensterilkan’ hadits dari noda-noda tersebut, diperlukan kritik dan penelitian yang sangat mendalam.&lt;br /&gt;Sebagian besar kritikus hadits menilai bahwa jika ada sebuah hadits yang bertentangan dengan makna ayat al-Qur’an, maka hadits itu dinyatakan jelas-jelas palsu. Sebab posisi hadits di depan al-Qur’an hanya sebagai bayan (penjelas) terhadap sebagian ayat al-Qur’an yang masih memerlukan penjelasan yang lebih rinci. Sementara hadits yang demikian ini, masih merajalela dan berkeliaran di kalangan masyarakat Islam.&lt;br /&gt;Muhammad al-Ghazali misalnya, mengkritik sebagian kalangan umat Islam yang menyibukkan diri “memelihara” hadits yang sejatinya bertolak belakang dengan al-Qur’an. Bahkan, untuk menilai hadits, kata al-Ghazili, perlu di konfirmasikan terlebih dahulu dengan al-Qur’an. Jadi tidak ada kata “pembelaan” dari ulama sekalipun, kalau memang benar-benar ditemukan bahwa hadits itu tidak sepaham dengan al-Qur’an. Sikap seperti ini bukan dipandang sebagai sikap anti hadits, tetapi justru sebaliknya yakni ingin menjunjung tinggi nilai dan harga diri hadits.&lt;br /&gt; Sebagai sebuah kajian ilmu hadis, wacana kritik hadits memang dipandang perlu untuk menambah keyakinan dan kemantapan kita terhadap hadits itu. Dengan semakin banyak informasi yang diperoleh, baik dari sisi riwayat dan pesan yang terkandung di dalmnya, kita akan semakin mantap dan yakin untuk menjadikan sebagai dasar dalam kehidupan sehari-hari. Studi kritik hadits difungsikan untuk menguji kualitas dan otensitasnya agar kita dapat membedakan dan mengambil yang terbaik dari sekian hadits-hadits yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8851709579054858934?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8851709579054858934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/wacana-studi-kritik-hadits.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8851709579054858934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8851709579054858934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/wacana-studi-kritik-hadits.html' title='Wacana Studi Kritik Hadits'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-5420128599974395911</id><published>2010-10-10T14:05:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:05:52.408+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Cinta dalam Etika Islam dan Kristen</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RELASI antara Islam dan Kristen merupakan relasi teologis-dialektis. Keduanya sama-sama lahir dari satu rumpun agama, yakni agama monoteisme. Bahkan, sebagian sumber ajaran dan doktrinnya terdapat persamaan-persmaan yang sulit dipisahkan satu sama lain.&lt;br /&gt; Namun belakangan ini, tak jarang kedua agama tersebut terkadang menyimpan rasa kecurigaan dan kebenciaan. Dalam beberapa hal, mereka tidak lagi menunjukkan keharmonisan dan kerukunan. Ketidakharmonisan itu akan lebih tampak, ketika mereka telah mengkaji teks-teks sucinya. Tentu saja, ketika mereka memahami doktrin-doktrin secara “artifisial” dengan mengesampingkan interpretatif kontekstual, sehingga mengakibatkan perbedaan yang cenderung mengundang konflik dan bencana.&lt;br /&gt; Dalam sebuah karya berjudul “Wajah Cinta Islam dan Kristen” (2004) yang ditulis Mahnaz Heydarpoor –seorang ilmuan muda Syi’ah berkebangsaan Iran- mengelaborasi bagaimana makna cinta dari dua sudut agama tersebut. Makna cinta sebenarnya yang terdapat pada agama apa pun, tak terkecuali agama Islam dan Kristen. Sisi lain yang menjadi kontribusi dari studi Mahnaz adalah menyumbangkan bentuk ‘dialog’ antar agama yang mampu memberikan jalan tengah sebagai alternatif meredam konflik yang ada selama ini. Selain itu, hasil studi yang dilakukan Mahnaz adalah upaya untuk mencari pemahaman yang benar dan terbebas dari strereotipe kuno dan modern yang lebih mengedepankan di Barat, berkat karya sarjana seperti John Esposito dan Ninian Smart.&lt;br /&gt; Di kalangan teolog-teolog Kristen maupun Muslim, ada sejumlah sarjana yang percaya pada ketergantungan penuh ‘moralitas’ (etika) pada perintah dan wahyu Tuhan, sebagaimana juga ada sebagian sarjana lainnya percaya pada otonomi moralitas. Menurut kelompok pertama, “benar secara moral” berarti ‘diperintah Tuhan’, dan “salah secara moral” berarti ‘salah oleh Tuhan’.&lt;br /&gt; Etika agama dapat didefinisikan sebagai sejenis etika yang memperoleh keabsahannya dari otoritas keagamaan. Karena itu, ajaran-ajaran yang diwahyukan’ dari otoritas itu memiliki peran penting dalam memutuskan apa yang “benar” dan apa yang “salah”. Ajaran-ajaran otoritas itu ditemukan dalam kitab suci agama tersebut, seperti al-Kitab untuk umat Kristen dan al-Qur’an untuk umat Islam. Sehingga Kitab suci Kristen maupun Islam, pada intinya adalah sumber moral atau etika yang utama.&lt;br /&gt; Selain kitab suci, sumber etika kedua adalah institusi dan tradisi agama. Dalam agama Kristen misalnya, sumber-sumber dalam tradisi Katolik Romawi berbicara tentang Gereja sebagai mekanisme yang ditetapkan oleh Tuhan untuk menafsirkan kitab suci bagi setiap zaman baru. Sementara dalam Islam, terdapat Sunnah Nabi, yang menjadi pelengkap dan penyempurna Kitab suci (al-Qur’an).&lt;br /&gt; Sumber kekuatan etika ketiga yaitu akal/rasio. Dalam Islam, akal ditempatkan sebagai sumber yang signifikan. Karena kemampuan inilah yang secara potensial telah membedakan antara manusia dengan makhluk lainnya. Akal merupakan pemberian Tuhan yang berguna untuk melengkapi potensi-potensi lain yang melekat pada diri manusia. &lt;br /&gt;Sumber pengetahuan etika keempat adalah keteraturan alam. Menurut Ian Markham, separti yang dikutip Heydarpoor, bahwa agama Katolik Roma adalah tradisi terbaik yang dikenal menggunakan prinsip keteraturan alam. Dia merujuk St. Thomas Aquinas (yang mengikuti Aristoteles) yang meyakini bahwa Tuhan telah menetapkan hukum alam di dalam struktur ciptaan-Nya.&lt;br /&gt; Baik Islam dan Kristen, memandang bahwa cinta itu ditujukan kepada Tuhan dan manusia. Cinta Tuhan merupakan cinta abadi (kekal), suatu cinta yang substantif, karena Tuhan sendiri adalah Cinta. Sementara cinta manusia merupakan cinta predikat, sesuatu yang bersifat kontingen (tidak niscaya), dan dapat terlepas dari esensinya. &lt;br /&gt; Terakhir, sumber nilai-nilai etika adalah pengalaman religius. Beberapa tradisi meyakini bahwa kita dapat menemukan apa yang diinginkan Tuhan bagi kita melalui pengalaman keagamaan dan do’a, dan kadang-kadang berlawanan dengan etika zaman yang diterima.&lt;br /&gt; Dari beberapa sumber etika di atas, terdapat komitmen bersama di antara agama-agama untuk saling mencintai dan menyayangi. Sekalipun dipahami dengan cara berbeda dalam tradisi yang berbeda, hal ini merupakan kebajikan yang diakui secara universal. Dalam agama-agama ini, ritual memiliki peran sentral dalam membentuk manusia yang berakhlak mulia. Ritual adalah mekanisme yang bertujuan menciptakan kehidupan religius. Ritual mempertalikan seluruh aspek kehidupan, termasuk awal dan akhir kehidupan. Kalender-kalender keagamaan melibatkan ritual pada hari, pekan, bulan, dan tahun tertentu. Puasa pada hari-hari suci tertentu lazim dijumpai pada hampir seluruh tradisi agama.ritual membantu dalam mendukung moralitas dan membentuk disiplin yang melindungi manusia dari kejahatan.&lt;br /&gt;Dalam Islam, cinta dipahami sesuatu yang abstrak dan transenden. Sedangkan dalam Kristen, cinta Tuhan kepada manusia benar-benar tampak dalam parental (hubungan orangtua terhadap anak). Cinta Tuhan memiliki kualitas tentang ideal dan tidak mementingkan diri sendiri. Tuhan tidak mendapatkan apa pun dari cinta itu sendiri atau dari yang ia cintai. Tuhan menciptakan dunia ini untuk menunjukkan kebenaran, kebaikan, dan keindahan-Nya sendiri. Tuhan menciptakan manusia agar dikenal.&lt;br /&gt; Sebagai sebuah gagasan yang mengusung tema studi ‘komparatif’ agama, tentunya apa yang disampaikan Mahnaz perlu dikaji kembali untuk meningkatkan pemahaman akan titik temu kesamaan dari kedua agama berbeda tersebut. Dengan begitu diharapkan akan muncul sebuah hasil temuan yang mampu menyadarkan bagi semua pemeluk agama, khususnya Islam dan Kristen. Implikasinya adalah untuk melahirkan sikap “toleran” yang tanpa mencurigai dan membenci, melainkan tumbuh sikap harmonisasi sebagai bentuk persaudaraan umat beragama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-5420128599974395911?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/5420128599974395911/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/cinta-dalam-etika-islam-dan-kristen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5420128599974395911'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5420128599974395911'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/cinta-dalam-etika-islam-dan-kristen.html' title='Cinta dalam Etika Islam dan Kristen'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8718448673903403628</id><published>2010-10-02T14:01:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:02:35.264+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Beriman Kepada Allah melalui Alam Semesta</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BELAKANGAN ini, para sarjana Muslim Barat sedang giat melakukan pengkajian ilmu-ilmu alam (kosmologi). Berbeda dengan para saintis modern, sarjana muslim melihatnya dari perspektif qur’ani (wahyu). Bahkan, mereka memadukan pengkajian keteraturan alam itu dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan normatif dan ilmiah. Pendekatan normatif biasanya lebih menggunakan kitab suci (al-qur’an) sebagai rujukan pertama, sedangkan pendekatan ilmiah memilih pada ilmu atau penciptaan alam semesta ini. Keduanya saat ini menjadi sangat penting untuk dikembangkan agar terjadi titik temu yang sama-sama membuka jalan untuk menambah keimanan kepada Allah Swt. (Sang Maha Pencipta).&lt;br /&gt; Adalah Bruno Guiderdoni, --- seorang sarjana Muslim Prancis ahli di bidang Fisika dan Astronomi modern--- mengemukakan bahwa “Alam Semesta” sesungguhnya mampu menjadi kitab (bacaan) yang menggiring kepada manusia untuk mendekatkan diri kepada sang khaliq. Dalam sebuah karyanya berjudul “Membaca Alam Membaya Ayat” (2004), Bruno memperlihatkan kepada kita bahwa mempelajari alam sama halnya dengan mempelajari ayat al-qur’an. Artinya, bahwa tanda-tanda ayat Tuhan bukan hanya termaktub dalam wahyu normatif, melainkan juga terhampar luas di muka bumi ini.&lt;br /&gt; Islam sangat menghargai kreatifitas manusia. Temuan-temuan sains modern yang merupakan hasil kreasi manusia itu kini semakin membuktikan kebenaran bahwa Islam adalah agama yang bersumber pada kitab integratif, yakni teologis yang berupa wahyu kitab suci dan kosmologis yang berupa hamparan alam semesta berserta isinya itu. Melalui kreasi dan riset-riset ilmiah diharapkan kepada saintis Muslim modern mampu membuktikan banyak temuan-temuan ilmiah yang mampu mengundang daya ta’jub dan kebesaran akan Allah Swt. melalui hasil penciptaan-Nya itu.&lt;br /&gt; Islam memberi kesempatan kepada manusia supaya mendayagunakan intelektualnya untuk mencari kebenaran. Pemikiran kosmologi seperti yang diungkapkan Guiderdoni, menunjukkan kepada kita bahwa aspek kauniyah masih langka disentuh manusia. Selama ini, kata Guiderdoni, wilayah kosmologi sering dipandang terpisah dari kesatuan bangunan Islam maupun iman.&lt;br /&gt; Padahal, Islam/iman merupakan bentuk pengakuan bathiniyah dan lahiriyah yang secara bersama-sama harus terjalin erat secara sepadan. Urusan iman bukan hanya seputar masalah teologi, tetapi juga menyangkut masalah tatanan alam. Banyak kesalahpahaman terhadap masalah ini. Akibatnya, kepekaan manusia pada masalah alam sangat rendah. Tak berlebihan, jika penggundulan hutan menyeruak, pencemaran dan polusi terjadi dimana-mana, lantaran ketimpangan kesadaran yang tidak integratif.&lt;br /&gt; Tuhan telah menciptakan alam ini untuk kepentingan manusia. Dan salah satu fungsi utama dari adanya gagasan tentang Tuhan adalah untuk menjelaskan keteraturan dan kesatuan alam semesta. Dalam Islam, kesatuan alam semesta dipandang sebagai citra kesatuan prinsip ilahi (tauhid).&lt;br /&gt; Kesatuan alam yang berdasarkan prinsip tauhid telah melahirkan tata kosmos dan energi pada kehidupan manusia. Tata kosmos, baik secara makro maupun mikro adalah refleksi-refleksi ilahiyah yang membuktikan adanya “eksistensi” yang realistis, yang mustahil bisa diingkari manusia. Sebab, ketergantungan manusia kepada alam selama ini adalah ketergantungan kepada Allah Swt yang mengatur dan menentukan nasip manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;Keabsahan tata kosmos memunculkan dirinya sebagai tanda-tanda yang dahsyat yang sulit diukur dengan jangkauan logika. Tata kosmos besar, yang beredar dalam formasi spiral, memberi keterangan kepada manusia bahwa sesuatu yang teratur menurut garis aturnya disengajakan oleh satu energi dahsyat yaitu energi Tuhan.&lt;br /&gt;Energi adalah dinamika spiritual yang ghaib yang hanya dimiliki Tuhan. Tuhan melimpahkan energi itu kepada wujud-wujud material. Semua benda yang ada di dalamnya mempunyai tenaga dan daya. Semua benda di alam ini hidup dan bergerak dengan arah yang pasti sesuai garis takdir-Nya.&lt;br /&gt;Temuan-temuan sains Guiderdoni seputar kosmologis adalah kebenaran yang korelatif dengan ayat-ayat Tuhan. Tujuan sains dalam Islam adalah untuk memperlihatkan kesatuan alam semesta. Yaitu keteraturan seluruh bagian aspeknya, bahwa tidak ada pelanggaran hukum (sunnahtullah) dalam jagad raya ini merupakan kesalahan organis. &lt;br /&gt;  Aspek Rububiyah dalam Islam adalah menjamin pertumbuhan alam melalui tahapan-tahapan yang berbeda-beda sampai mencapai kesempurnaan. Karenanya, alam bersifat teleologis, berorientasi pertumbuhan dan ditakdirkan menuju kesempurnaan. Sebab kalau tidak ada capur tangan Tuhan dalam keteraturan alam ini niscaya tidak terpenuhi.&lt;br /&gt; Jadi, kapasitas hukum-hukum yang mengatur keteraturan dan keharmonisan alam ini karena alam ini di ciptakan Tuhan dengan benar. Kebenaran alam ciptaan Tuhan ini mengandung implikasi bahwa alam tunduk dan patuh tanpa syarat kepada aturan dan hukum-hukum-Nya.&lt;br /&gt; Pemahaman dan pandangan kosmologi menghendaki keterlibatan positif manusia dalam hidup dunia ini. Sehingga kosmologi mengandung dalam dirinya bahwa alam ini tertib, harmonis, indah, bermakna (mempunyai tujuan, kegunaan, tidak sia-sia). Pendek kata, kosmologi membimbing kita kepada sikap berpengharapan atau optimis kepada alam ciptaan Tuhan, yang sikap itu sendiri merupakan konsekuensi sikap serupa kepada Tuhan.&lt;br /&gt; Dari konsep ini, Islam menuntut manusia agar menyelidiki dan memahami pola-pola Tuhan dalam alam, tidak hanya pola-pola yang terkandung dalam ilmu-ilmu kealaman, tapi juga yang termanifestasi dalam tatanan umum dan keindahan alam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8718448673903403628?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8718448673903403628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/beriman-kepada-allah-melalui-alam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8718448673903403628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8718448673903403628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/beriman-kepada-allah-melalui-alam.html' title='Beriman Kepada Allah melalui Alam Semesta'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-3316559912115199444</id><published>2010-10-01T14:04:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:04:46.217+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Menggali Keunggulan KTSP</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERUBAHAN kurikulum sering dilakukan oleh pemerintah. Tujuannya untuk meningkatkan mutu/kualitas pendidikan nasional. Sejak tahun 2006 lalu, KTSP (kurikulum Tingkat Satuan pendidikan) merupakan kurikulum resmi yang harus diimplementasikan para pendidik di sekolah/madrasah. Dengan munculnya kebijakan kurikulum baru tersebut berarti para praktisi dan pengembang pendidikan harus di update kembali agar mereka menyesuaikan diri dengan kebijakan mutakhir tersebut.&lt;br /&gt;Di tengah penerapan kurikulum baru tersebut, kini masih terjadi diskusi dan kajian bagi para praktisi dan konseptor pendidikan.  Mereka masih disibukkan membicarakan tentang seluk-beluk KTSP. Model kurikulum ini akan memberi ruang kepada sekolah untuk mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya agar implementasi kurikulum dan sasaran pembelajarannya sesuai kebutuhan masyarakat dan stakeholders.&lt;br /&gt; Sebagai sebuah produk kebijakan, KTSP memang butuh sosialisasi yang efektif kepada semua lembaga pendidikan. Hal ini karena KTSP dipahami sebagai implementasi Undang-undang Nomor 20 tentang  sistem pendidikan nasional yang dijabarkan dalam sejumlah Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang  Standar Nasional Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip-prinsip Implementasi KTSP&lt;br /&gt;Implementasi KTSP akan didasarkan tujuh prinsip. Pertama, didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi peserta didik untuk mengusai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini, peserta didik harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu serta memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis, dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Kedua, kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar, yakni belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Belajar untuk memahami dan menghayati, Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, Belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.&lt;br /&gt;Ketiga, Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapatkan pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi siswa yang berdimensi ketuhanan, individu, sosial, dan moral.&lt;br /&gt;Keempat,  Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat, dengan tut-wuri handayani, ing-madya mangun karsa, ing ngarsa sung-tulada (di belakang memberikan daya kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan memberi contoh dan teladan). &lt;br /&gt;Kelima, kurikulum diterapkan dengan menggunakan pendekatan multistrategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar dengan prinsip alam jadi guru. Artinya semua yang tegelar dan berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan.&lt;br /&gt;Keenam, kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.&lt;br /&gt;Ketujuh, kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antarkelas dan jenis serta jenjang pendidikan.&lt;br /&gt; Bersadarkan prinsip-prinsip tersebut, KTSP dikonsep sesuai jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memperhatikan tujuan pendidikan nasional. Yaitu meningkatkan iman dan taqwa, akhlak mulia, potensi, kecerdasan minat dan bakat peserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, perkembangan iptek dan seni, agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.&lt;br /&gt; Implementasi KTSP diharapkan memberi otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggungjawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat. Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran peserta didik serta tuntutan masyarakat.&lt;br /&gt; KTSP mendorong terwujudnya kepemimpinan yang demokratis dan profesional. Kepala sekolah dan tenaga pelaksana kurikulum merupakan pelaku yang memiliki kemampuan dan integritas profesional yang harus ditunjang dengan tim-kerja (team-work) yang kompak dan transparan, melibatkan komite sekolah dan dewan pendidikan, serta dukungan partisipasi  masyarakat dan orang tua.&lt;br /&gt; Dengan melibatkan pihak tersebut di atas dalam pengembangan kurikulum, diharapkan mampu membangkitkan gairah dan rasa memiliki (sense of belonging) yang lebih tinggi, dan rasa tanggungjawab (sense of responbility) yang lebih besar terhadap kurikulum, serta ikut memikirkan kualitas pendidikan (quality of education). &lt;br /&gt; Langkah mendesak yang perlu segera dipersiapkan yaitu bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga pendidik, dan penyediaan sistem evaluasi serta informasi yang valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunggulan KTSP&lt;br /&gt; Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, mengamanatkan bahwa setiap sekolah atau madrasah harus mengambangkan KTSP berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) dan berpedoman kepada panduan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).&lt;br /&gt; KTSP membuka peluang agar dikembangkan sesuai dengan potensi sekolah/daerah, sosial budaya masyarakat setempat dan karakteristik peserta didik. Tujuan KTSP yaitu untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum.&lt;br /&gt; Berkaitan dengan standar nasional pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan aspek pendidikan yang harus distandarkan, dan yang sudah rampung baru dua standar yaitu standar isi dan standar kompetensi lulusan (SKL). Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah telah disahkan menteri dengan peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006. Sedangkan SKL di sahkan Mendiknas No. 23 Tahun 2006. Mendiknas juga telah mengeluarkan peraturan No. 24 Tahun 2006 tentang  pelaksanaan Permen No. 22 dan 23 Tahun 2006 tersebut.&lt;br /&gt; KTSP disusun sesuai jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan memperhatikan tujuan pendidikan nasional. Yaitu meningkatkan iman dan taqwa, akhlak mulia, potensi, kecerdasan minat dan bakat peserta didik, keragaman potensi daerah dan lingkungan, tuntutan pembangunan daerah dan nasional, tuntutan dunia kerja, perkembangan iptek dan seni, agama, dinamika perkembangan global, persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.&lt;br /&gt; Dalam permendiknas No. 24 dikatakan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari yang telah ditetapkan, dengan memperhatikan panduan penyusunan KTSP pada satuan pendidikan dasar dan menengah yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan.&lt;br /&gt; Implementasi KTSP diharapkan memberi otonomi luas kepada sekolah dan satuan pendidikan, disertai seperangkat tanggungjawab untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan kondisi setempat. Sekolah dan satuan pendidikan juga diberi kewenangan dan kekuasaan yang luas untuk mengembangkan pembelajaran peserta didik serta tuntutan masyarakat.&lt;br /&gt; KTSP juga menuntut adanya kepemimpinan yang demokratis dan profesional. Kepala sekolah dan guru-guru sebagai tenaga pelaksanan kurikulum merupakan pelaku yang memiliki kemampuan dan integritas profesional. Selain itu, demi kesuksesan penerapan KTSP butuh tim-kerja (team-work) yang kompak dan transparan dari berbagai pihak yang terlibat; seperti komite sekolah dan dewan pendidikan, serta dukungan partisipasi  masyarakat dan orang tua  yang tinggi.&lt;br /&gt; Keterlibatan pihak-pihak tersebut dalam pengembangan kurikulum, berdasarkan self determination theory, dapat membangkitkan gairah dan rasa memiliki yang lebih tinggi, serta tanggungjawab yang lebih besar terhadap kurikulum, yang diharapkan dapat mendongkrak kualitas pendidikan. &lt;br /&gt;  Dengan tatanan konsep inilah memberi otonomi sekolah untuk memiliki “full authority and responsibility” dalam menetapkan kurikulum dan pembelajaran sesuai visi, misi, dan tujuannya. Namun, yang masih jadi pertanyaan adalah apakah semua sekolah mampu mewujudkan impian tersebut di atas? Jawabannya tentu saja kembali kepada kesiapan dan kemampuan sekolah untuk menangkap arah perubahan kurikulum tersebut.&lt;br /&gt; Upaya yang harus dipersiapkan yaitu bagaimana sekolah dan satuan pendidikan dapat mengoptimalkan kinerja, proses pembelajaran, pengelolaan sumber belajar, profesionalisme tenaga pendidik, dan penyediaan sistem evaluasi serta informasi yang valid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-3316559912115199444?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/3316559912115199444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/menggali-keunggulan-ktsp.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/3316559912115199444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/3316559912115199444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/10/menggali-keunggulan-ktsp.html' title='Menggali Keunggulan KTSP'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-1376946173580056748</id><published>2010-09-20T06:38:00.000+07:00</published><updated>2010-11-19T06:39:40.724+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Manajerial Kepala Sekolah</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARADIGMA baru manajemen pendidikan di negeri ini, telah membuka peluang bagi kepala sekolah untuk melakukan perombakan dan pengembangan sekolahnya lebih kreatif dan progresif. Sebab, kini kepala sekolah memiliki kewenangan yang terbuka untuk merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, serta  mengendalikan kemajuan sekolah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kunci agar kepala sekolah tetap eksis di tengah-tengah perubahan itu adalah ia harus memahami posisi dan kesiapan untuk menjadi bagian dari dunia baru yang berbeda dari pola dan paradigma selama ini. Perubahan yang demikian kompleks, terutama agenda penerapan model manajemen berbasis sekolah (MBS) dan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan tugas yang perlu dikerjakan kepala sekolah, selain agenda dan program lain yang harus mendapat perhatian lebih fokus lagi.&lt;br /&gt;E. Mulyasa, dalam buku “Menjadi Kepala Sekolah Profesional” (2005) telah menyuguhkan pendekatan, strategi dan manajemen menangani sekolah secara modern. Selain itu, dia juga mengemukakan beberapa resep atau kiat menangani tugas-tugas sebagai pemimpin (kepala sekolah), seperti mengambil keputusan, memimpin rapat, memainkan manajemen konflik, mengatasi keuangan sekolah, menjalin hubungan masyarakat, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari salah satu hasil penelitian (2004), disebutkan bahwa ada indikasi pengaruh antara kepimimpinan (kepala) sekolah dengan produktivitas kerja. Antara prestasi sekolah (performent, lulusan) dengan profil kepemimpinan memiliki hubungan yang sangat erat, bahkan sebagai salah satu indikator justifikasi (pembenaran). Meski juga banyak faktor lain yang ikut mempengaruhi produktivitas itu. Pola kepemimpinan yang rendah/tinggi berimplikasi terhadap kualitas sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralihan paradigma desentraliasasi pendidikan memberi keluasan bagi kepala sekolah berkreasi dalam meningkatkan mutu lembaganya sesuai dengan tuntutan perubahan masyarakat global. Dipundak kepala sekolah terdapat sejumlah harapan wali siswa, masyarakat, stakeholder, serta bangsa dan negara. Atas dasar itulah, Mulyasa menyarankan agar momentum perubahan tersebut disadari sebagai angin keberuntungan untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan berbagai jalan yang efektif dan efesien.&lt;br /&gt;Untuk melewati babakan tersebut di atas, kata Mulyasa, perlu digunakan jurus analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat), sebagai langkah awal pemetaan agar mudah mengenali sumber/potensi (kekuatan dan peluang), sekaligus memecahkan/mengantisipasi (kelemahan dan tantangan) yang seringkali terlupakan dari aktivitas kepala sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memahami analisis SWOT, jurus selanjutnya adalah membenahi sumber daya manusia (SDM) ke arah yang lebih baik. Di samping juga harus meningkatkan kualitas pelayanan (service), dan manajemen kontrol sekolah. Sedikitnya, ada lima sifat pelayanan yang harus diwujudkan agar “pelanggan” puas yaitu meliputi (1) kepercayaan (reliability); layanan sesuai dengan yang dijanjikan, (2) keterjaminan (assurance); mampu menjamin kualitas yang diberikan, (3) penampilan (tangible); iklim sekolah yang kondusif, (4) perhatian (emphaty); memberikan penuh kepada peserta didik, (5) ketanggapan (responsiveness); cepat tanggap terhadap kebutuhan peserta didik.&lt;br /&gt;Tugas lain kepala sekolah yaitu menciptakan budaya mutu, teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, kemandirian, partisipasi warga sekolah dan masyarakat, keterbukaan manajemen, kemauan untuk berubah (psikologis dan fisik), evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, responsif dan antisipasif terhadap kebutuhan, akuntabilitas, dan sustainabilitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan perkembangan masyarakat modern, setidak-tidaknya ada tujuh prasyarat bagi kepala sekolah, yaitu berperan sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator di sekolahnya. Ketujuh kreteria tersebut, ia wajib mendorong visi menjadi aksi, cita-cita menjadi realita, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah dapat terlihat bahwa untuk memenuhi standar mutu di atas memang membutuhkan kemampuan dan kerja keras. Kepala sekolah harus menjalankan visi dan misi sekolah serta menjabarkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas. Karena itu, tugas tersebut merupakan amanah peradaban yang tentu saja harus pandai-pandai bergumul dengan wacana peradaban itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi yang bisa kita gali dari buku ini, khususnya berkenaan dengan hal-hal teknis manajemen yang harus dilakukan kepala sekolah. Sukses tidaknya sekolah sangat tergantung oleh pemimpin yang menggerakkan setiap komponen yang ada di dalamnya. Dengan demikian, tawaran kreatif yang suguhkan Mulyasa dalam karya ini merupakan secercah harapan baru yang bisa kita petik bersama untuk memperkokoh sekolah . &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah Uinversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-1376946173580056748?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/1376946173580056748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/09/manajerial-kepala-sekolah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1376946173580056748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/1376946173580056748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/09/manajerial-kepala-sekolah.html' title='Manajerial Kepala Sekolah'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-323803988775457090</id><published>2010-09-10T06:32:00.000+07:00</published><updated>2010-11-19T06:32:52.315+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Beda Fakultas, Beda Egoisme</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAMPAI sekarang ini, masih dirasakan bahwa pada sebuah Perguruan Tinggi terdapat dikotomi antar fakultas yang luar biasa. Dikotomi itu akhirnya melahirkan sikap egoisme, bahkan juga mendorong timbulnya konflik. Rasa egoisme muncul, karena kesadaran pengetahuan yang dimiliki oleh masing-masing personal masih bersifat parsial. Hal itu terjadi karena cara pandang mereka dalam memandang disiplin ilmu tidak sama, alias berbeda mind set. &lt;br /&gt;Jika egoisme itu muncul, maka yang lahir adalah berpikir parsial (sempit dan tertutup). Berpikir parsial itu terjadi, karena kesalahpahaman dalam melihat “ilmu pengetahuan” yang dikaji dan mungkin akibat salah dalam menempatkan kerangka filosofis bidang “ilmu pengetahuan” itu sendiri. Sehingga lahirlah sentimen antar fakultas, antar mahasiswa, antar dosen dan seterusnya. &lt;br /&gt; Hampir di setiap Perguruan Tinggi (PT) terjangkit sesuatu yang namanya gejala sindrom egoisme fakultas (syndrom faculty). Fakultas-fakultas besar (favorit) merasa lebih “berkuasa” menentukan arah kebijakan di tingkat atas ketimbang fakultas-fakultas kecil. Jika hal ini terjadi, maka diversity (keberagaman) fakultas merupakan cermin yang tidak sehat lagi. Artinya egoisme fakultas bisa menyebabkan kehancuran masa depan PT itu sendiri. Bahkan, yang menjadi korban berikutnya adalah mahasiwa. Mahasiswa juga mengkait-kaitkan dengan nama fakultasnya masing-masing. Mahasiswa “fakultas elit” sampai tidak mau bergelut dengan mahasiwa “fakultas bawah”. Sehingga lahirlah sindrom mahasiswa (syndrom student) dalam memilih teman bergaul, diskusi sampai bertempat tinggal.&lt;br /&gt; Gejala tidak sehat itu, sudah bisa dilihat ketika mahasiswa menjatuhkan pilihannya terhadap fakultas atau program studi jurusan. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa yang memilih fakultas dengan pertimbangan yang kurang logis, tetapi lebih karena pertimbangan sensual “fakultas favorit” yang mereka anggap menjanjikan masa depannya kelak. &lt;br /&gt;Kuatnya sindrom “fakultas favorit” jika diimbangi dengan substansi semangat keilmuan, penelitian dan pengabdian yang baik tentu saja tidak masalah, tetapi jika tidak, maka akan menjadi keropos. Sikap egoisme dan cara berpikir parsial ini banyak terjadi di kalangan mahasiswa. Mereka lebih memilih “gengsi” dengan cara mengekor pada fakultas tertentu, ketimbang harus menerima fakultas yang bercorak kelas ekonomi dengan semangat belajar yang tinggi. &lt;br /&gt;Cara berpikir parsial seperti itu mudah kita temukan. Salah satu contoh konkritnya adalah fakultas kedokteran. Mereka menganggap bahwa dengan masuk pada fakultas tersebut, keberhasilan dan kesuksesan masa depan sudah diambang pintu. Pikiran egoisme ini muncul karena fakutas tersebut, dipandang lebih cepat menghasilkan materiil (uang). Namun kenyataannya tidak demikian, lulusan kedokteran belum tentu bisa melakukan praktek langsung, dan harus menempuh ke jenjang berikutnya sampai menjadi dokter spesialis, dan baru bisa buka prkatek. &lt;br /&gt;Cara berpikir parsial itu muncul juga karena animo publik atau legalitas, yang belum tentu benar. Banyak mahasiswa yang terjebak masuk PT karena ingin mencari simbol gelar akademis untuk mencari pekerjaan. Padahal, kesempatan dunia kerja saat ini, tidak hanya berpatokan kepada legalitas, tetapi harus ditunjukkan dengan ketrampilan dan kemampuan, dan di sinilah justru yang sangat menjanjikan itu.&lt;br /&gt;Bila cara berpikir egois dan parsial itu menjadi karakter mahasiswa, maka secara terang-terangan bertentangan dengan keadaan pendidikan (being educated). Sebab, suatu pendidikan tidak bisa terpisah dari aspek sosial, ekonomi, politik dan budaya. Hal ini yang perlu dipikirkan ke depan ketimbang harus mengklaim bahwa pilihan (fakultas) seolah-olah mampu mengatasi segala permasalahan yang ada. Karena itu, tugas fakultas adalah menempatkan kerangka di atas sebagai wujud kepedulian terhadap keadaan masyarakat (being society). Nilai-nilai strategis inilah yang sejatinya dilakukan oleh setiap fakultas untuk mencetak lulusan yang benar-benar berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-323803988775457090?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/323803988775457090/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/09/beda-fakultas-beda-egoisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/323803988775457090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/323803988775457090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/09/beda-fakultas-beda-egoisme.html' title='Beda Fakultas, Beda Egoisme'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7024080199045466899</id><published>2010-09-01T06:45:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T06:46:28.751+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Menalar Pendidikan Progresif  John Dewey</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara tokoh pendidikan, John Dewey (1859-1952) merupakan salah seorang pakar yang sangat terkenal dibelantika pendidikan. Dia termasuk filosof yang sangat berpengaruh dari semua filosof Amerika. Karir akademisnya juga luar biasa dan dipercaya mengajar dibeberapa perguruan tinggi terkemuka, termasuk Chicago dan Columbia.&lt;br /&gt; Sebelum meninggal tahun 1952, dia telah memperoleh reputasi internasional untuk pendekatan pragmatisnya dalam bidang filsafat, psikologi dan politik liberal. Bila kita telusuri hasil pemikirannya, setidaknya dapat ditemukanan karya-karyanya yang spektakuler, seperti How We Think (1910), Democracy and Education (1916), Reconstruction in Philosophy (1920), Experience and Natur (1925), dan Logic: The Theory Inquiry (1938). &lt;br /&gt; Selain itu, gagasan-gagasan dan pemikirannya menghiasi sejumlah karya Masterpiece-nya, yang seringkali menjadi sumber rujukan utama oleh banyak tokoh pendidikan (pedagog) belakangan ini. Karya yang berjudul “Experience and Education” ini merupakan karya penutup (ihtitâm) yang mengemukakan visi baru pendidikan progresif dan sekaligus mempertegas soal paham pragmatismenya.&lt;br /&gt;Pendidikan Progresif&lt;br /&gt; Dalam karya yang cukup padat itu, Dewey menegaskan bahwa pengalaman merupakan nilai yang sangat penting agar dijadikan sebagai paradigma untuk membangun pendidikan. Melalui karya inilah dia berusaha melengkapi dan menyempurnakan pondasi filsafat pendidikan, yang sebelumnya masih didominasi karya kaum tradisionalis-konservatif.&lt;br /&gt; Problem mendasar yang dirasakan Dewey terhadap proses pendidikan pada kala itu adalah tidak adanya kesinambungan dan interaksi antara pelajar (siswa) dengan sesuatu yang ia dipelajari (materi). Sehingga sistem pendidikan (sekolah), seringkali mereduksi kenyataan, dan anehnya justru bertentangan dengan kenyataan itu sendiri. Karena itu, supaya tidak terjadi ‘salah didik’, kata Dewey, pendidikan harus berupaya dan bergerak secara progresif untuk mengakomodasi sisi-sisi pengalaman menjadi basis atau sumber pembelajaran yang dapat ditransfer ke dunia pendidikan. &lt;br /&gt; Dalam tafsir (pemahaman) Dewey, bahwa proses pendidikan merupakan metode ilmiah untuk mempelajari dunia, memperoleh pengetahuan tentang makna dan nilai secara kumulatif. Maka dengan menggunakan pisau analisis filsafat pragmatisnya, Dewey ingin mengatakan bahwa pendidikan merupakan instrumen strategis yang betul-betul hidup dalam situasi sosial. Proses pendidikan bukan suatu instrumen kosong, terasing dan akontekstual.&lt;br /&gt; Kritik pedas yang disuguhkan Dewey pada kaum tradisionalis, bahwa pendidikan tak ubahnya gerbong yang berjalan tanpa arah dan tujuan yang pasti. Dia menemukan suatu fenomena menarik yang terjadi di kalangan tradisional, ketika mata pelajaran sebagai standar tingkah laku yang diwarisi dari masa lalu, maka sikap para murid seluruhnya harus merupakan sikap kepatuhan, penerimaan, dan ketaatan.buku, terutama teks,  menjadi represensati utama dari pengetahuan dan kebijaksanaan masa lampau, sedang guru adalah perangkat yang efektif menghubungkan murid dengan bahan pelajaran. Guru menjadi pelaku yang menyampaikan pengetahuan dan ketrampilan, serta memaksakan peraturan kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt; Akibatnya, pelajaran menjadi tidak peka terhadap ide, dan berapa banyak kehilangan dorongan untuk belajar yang mereka alami. Begitu banyak yang menemukan apa yang mereka pelajari ternyata begitu asing dengan situasi kehidupan di luar sekolah, sehingga tidak memberi mereka kekuatan untuk mengendalikan dalam situasi tersebut. Selain itu, sistem pendidikan tradisional lebih memperlihatkan suasana otoritarian dalam proses pengajarannya. Sebuah sistem yang bertolak belakang dengan kebebasan fitrah manusia. &lt;br /&gt; Fenomena di atas terjadi, karena kesalahan pandangan dalam meletakkan dasar dan fondasi filsafat pendidikan. Maka untuk meluruskan dasar filosofis pendidikan, kata Dewey, harus dilakukan pembenahan secara sistematis, dengan cara membangun dasar filosofis yang sistematis, positif dan konstruktif. Oleh karena itu, menurut Dewey, aspek pengalaman adalah nilai penting yang harus menjadi dasar filosofis pendidikan. &lt;br /&gt; Pengalaman tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan, bahkan keduanya saling lengkap-melengkapi. Hubungan antara pengalaman dan pendidikan adalah hubungan yang afirmatif. Suatu hubungan (sinergi) yang saling menguatkan dan mengokohkan satu sama lain. Jadi dengan meletakkan pengalaman sebagai basis pendidikan, kata Dewey, akan memberi kecenderungan positif yang menjadi cita-cita setiap proses pendidikan yang hendak diinginkan. Sejalan dengan teori progresif, proses pendidikan dapat perpihak pada partisipasi aktif dan kontekstual.&lt;br /&gt; Dalam hal ini, Dewey menegaskan bahwa rencana dan proyek pendidikan, yang melihat pendidikan dari segi pengalaman kehidupan, berkewajiban untuk membingkai dan mengadopsi teori yang cerdas, yakni teori filsafat pengalaman. Sebuah kategori kesinambungan, atau rangkaian kesinambungan pengalaman (experiental continuum), Prinsip ini dilibatkan dalam setiap usaha untuk memisahkan antara pengalaman edukatif yang bermanfaat dan yang tidak berguna sama sekali.&lt;br /&gt; Dari uraian inilah pendidikan menjadi proses manusiawi yang menghargai kreatifitas dan kebebasan yang dimiliki setiap subyek didik. Mereka dapat tumbuh dan berkembang selalu dipengaruhi oleh pengalaman, baik perubahan fisik, intelektual maupun moral yang berlangsung secara kontinuitas. Dengan menempatkan pengalaman sebagai bagian dari pendidikan, maka setiap gerak pendidikan merupakan langkah untuk menentukan nasip sebuah generasi di masa depan. Sebab, masa depan generasi sangat ditentukan oleh kondisi pengalaman sebelumnya, dan hal ini dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi edukatif.&lt;br /&gt;Benang Merah&lt;br /&gt; Sebagai penegasan, Dewey menarik “benang merah” bahwa pengalaman sangat compatible dengan sarana dan tujuan pendidikan. Karena, tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan masyarakat. Sebuah tujuan yang didasarkan pada pengalaman kehidupan aktual individu dalam masyarakat. Dengan demikian, potensialitas pendidikan akan ditentukan oleh pengalaman. &lt;br /&gt; Walau gagasan kreatif ini tumbuh dari percikan Barat (Amerika), apa yang digagas Dewey sejatinya merupakan keprihatinan dan sekaligus alternatif agar proses pendidikan itu tidak terasing dengan alam kenyataan. Dan rasanya, kenyataan itu tidak bisa ditutup-tutupi lagi bahwa pendidikan belum sepenuhnya jadi jaminan untuk meretaskan peserta didik mampu hidup mandiri sebagaimana teori dan praktek yang didapat dari bangku pendidikan. Dengan kata lain, unsur pengalaman harus menjadi bagian “senyawa” yang harus ditumbuhkan dalam dunia pendidikan ini. &lt;br /&gt; Sebagai kekayaan khazanah di bidang pendidikan, pemikiran yang digagas John Dewey tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi setiap pelaku pendidikan di bumi Nusantara ini. Terlebih, untuk mencari tatanan baru yang sampai saat ini belum kunjung dapat, dan masih merambah jalan yang penuh terjal dan berduri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7024080199045466899?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7024080199045466899/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/09/menalar-pendidikan-progresif-john-dewey.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7024080199045466899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7024080199045466899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/09/menalar-pendidikan-progresif-john-dewey.html' title='Menalar Pendidikan Progresif  John Dewey'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-5159491018173922319</id><published>2010-08-29T06:55:00.000+07:00</published><updated>2010-11-19T06:57:24.441+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><title type='text'>Mewarisi Tradisi Intelektual Cak Nur</title><content type='html'>Oleh: Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GENAP lima tahun sudah Nurcholish Madjid meninggalkan kita semua, sejak 29 Agustus 2005 yang lalu. Sebagai seorang Intelektual Muslim yang dibesarkan oleh pendidikan Barat, beliau tetap sangat mencintai, menghargai dan menjunjung tinggi tradisi, budaya, dan nilai-nilai sosial dan kultur keagamaan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sulit bagi kaum intelektual muslim mengenal sosok Nurcholish Madjid, yang biasa akrap di sapa dengan sebutan “Cak Nur”. Kepulangannya lima tahun silam telah menggetarkan bagi bangsa ini, karena beliau adalah seorang pemikir muslim yang tetap konsisten terhadap gagasan dan ide-idenya sejak tahun 70-an. Cak Nur termasuk putra bangsa yang paling banyak menghiasi khazanah pemikiran keislaman, terutama lewat karya-karya monumentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pemikiran Cak Nur yang khas, ikut mewarnai belatika ragam wacana yang melintasi batas-batas pemikiran keislaman pada umumnya. Hal inilah yang menjadi titik “keberanian” yang dimiliki sosok Cak Nur. Dia berani menerima “hujatan” atau tanggapan yang pedas, miring dan sporadis dari lawan-lawan pemikirnya dengan penuh kejernihan jiwa dan kematangan intelektual yang mapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalam tulisan ini, saya ingin menegaskan bahwa betapa ”besar pengaruhnya” pemikiran Cak Nur dalam belantikan pemikiran Islam abad ke-20 itu. Banyak kolega, kawan, lawan diskusi dan beberapa tokoh ternama, telah menulis tentang biografi beliau secara lengkap, yang tak sedikit yang dipublikasikan melalui buku, jurnal dan majalah, bahkan media massa. Yang perlu digarisbawahi adalah beliau merupakan sosok yang kukuh dalam mengembangkan kajian keislaman; yang mampu merambah Islam kemodernan yang akomodatif, dan penggerak moralitas publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara metodologis, kecenderungan kuat wacana Cak Nur adalah saikapnya terhadap modernisasi Barat. Pengamatan kualitatif ini menunjukkan bahwa sejak awal inspirasi modernisasi Barat ini begitu nyata dalam wacana pemikiran Cak Nur. Bahkan, dari gebrakan pembaharuan sampai gagasan pluralismenya juga disemangati oleh pencerahan wacana peradaban Barat. Pada Cak Nur, hasrat mempersambungkan Islam dengan tradisi setempat atau "Islam lokal" tampak dominan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cak Nur menyadari bahwa ancaman serius bagi setiap pemikiran keagamaan adalah kemandekan, kebuntuan, dan ketiadaan semangat inovasi. Kondisi semacam itu akan menyebabkan agama kehilangan relevansinya dengan zaman dan masyarakat yang terus berubah. Pemikiran keagamaan dalam bentuk tafsir, teologi, dan lebih-lebih hukum (fiqih), bagaimanapun merupakan hasil interaksi dengan semangat zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mandeknya pemikiran keagamaan akan berdampak langsung pada irelevansi agama dan akhirnya peminggiran agama dari denyut nadi kehidupan manusia. Itulah sebabnya, di setiap kurun waktu selalu ada orang atau kelompok yang gelisah bahwa agama mereka akan kehilangan elan vital untuk menyesuaikan diri dengan-atau menjawab-tantangan zaman. Mereka berusaha mempelopori perubahan dan melampaui pemikiran status quo. Namun, gerakan semacam itu tidak selalu berjalan mulus karena akan ditantang oleh mereka yang juga "cemas" dengan kemurnian iman mereka apabila perubahan dilakukan di wilayah-wilayah keagamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah kemunculan gerakan-gerakan keagamaan (Islam) di Tanah Air dengan jelas menunjukkan hasrat kepada perubahan di satu kutub, dan pada saat bersamaan muncul perlawanan dari kutub lain yang mencoba mempertahankan apa yang mereka anggap "kebenaran mutlak" yang tidak bisa diganggu gugat. Cak Nur juga tidak ketinggalan, ketika pada dekade 1970-an, ia dan teman-temannya mendeklarasikan perlunya kelompok pembaru yang liberal, yang menjangkau kawasan lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui berbagai ceramah dan tulisannya, Cak Nur mengajak umat Islam untuk melakukan perubahan-perubahan yang mendalam supaya dapat mengikuti perkembangan zaman. Ia mengajukan argumen bahwa organisasi-organisasi Islam yang selama ini mengklaim sebagai pembaru telah berhenti sebagai pembaru, karena mereka tidak sanggup menangkap semangat dari ide pembaruan itu sendiri, yaitu dinamika dan progresivitas. Lebih jauh, menurut dia, ide-ide dan pemikiran Islam yang diwadahi dan hendak diperjuangkan oleh partai-partai Islam ketika itu sudah memfosil, usang, kehilangan dinamika, sehingga tidak menarik lagi. Karena itu, kemudian ia mengajukan tesis: Islam Yes, Partai Islam No!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan ketua umum PB HMI dua periode itu juga mengkritik ide Negara Islam yang menurutnya hanya merupakan suatu apologi, yaitu apologi terhadap ideologi-ideologi Barat modern seperti demokrasi, sosialisme,dan komunisme. Sebagai apologi, ujarnya, pikiran-pikiran itu hanya mempunyai efektivitas yang berumur pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tesis itulah (Islam Yes Partai Islam No, dan Tidak Ada Negara Islam), yang menyulut kontroversi berkepanjangan. Tetapi, ia juga banyak diakui telah menyegarkan kembali pemahaman Islam yang dianggap telah lama membeku, dan seraya itu memberikan "rasa aman teologis" bagi kaum Muslim tanpa harus bergabung dengan partai Islam atau mendirikan negara Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau akhir-akhir ini lahir kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal) yang kebanyakan dipelopori oleh anakanak muda NU, yang inspirasinya hampir tak jauh beda dengan Cak Nur, sesungguhnya tidaklah begitu membuat sesuatu yang baru dan eksplosif sebagaimana Cak Nur. Cak Nur dengan segala kearifannya masih kental dengan nuansa Islamnya seperti penggunaan istilah masyarakat madani, sementara JIL memakai istilah lain, seperti masyarakat sipil (civil Society). Sehingga keberadaan JIL, tak sebesar dan sedalam ide-ide Cak Nur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari catatan di atas, apa yang telah dibangun dan digagas Cak Nur melalui gerakan pemikiran Islam modern, yang dimulai 1970-an bukanlah untuk menegaskan supremasi dan prestise. Karena sesuai informasi hadits, dalam setiap generasi, atau seratus tahun (seabad) akan muncul seorang pembaharu (mujaddid). Nah, untuk konteks Indonesia, gerakan pembaruan Cak Nur digulirkan pada masa transisi masyarakat dan bangsa dari era Orde Lama ke era Orde Baru, yang menyebabkan munculnya tuntutan-tuntutan baru yang perlu diberikan jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fak. Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-5159491018173922319?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/5159491018173922319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/mewarisi-tradisi-intelektual-cak-nur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5159491018173922319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5159491018173922319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/mewarisi-tradisi-intelektual-cak-nur.html' title='Mewarisi Tradisi Intelektual Cak Nur'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-764370430138063496</id><published>2010-08-27T14:12:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:13:45.478+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa dan Renungan Bathin</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMPIR semua agama dan filsafat keagamaan sejak dahulu sampai sekarang mengajarkan puasa untuk tujuan penyucian jiwa. Aliran filsafat Greko- Romawi Kuno, Pythagorean, berpendapat bahwa puasa adalah salah satu jalan untuk meraih kembali sifat dasar kesempurnaan manusia. Puasa bagi pemuka agama Hindu dan Jain merupakan kelaziman khususnya pada saat mempersiapkan diri untuk memasuki upacara dan perayaan keagamaan. Demikian pula halnya dengan tradisi klasik agama-agama di Cina. Chai (ritual, puasa fisik), yang kemudian dimodifikasi oleh aliran China Taoisme menjadi Hsin Chai (puasa jiwa) merupakan anjuran khusus. Konsep serupa juga berlaku dalam tradisi Confusionisme yang mencanangkan praktik puasa sebagai persiapan dalam melakukan penyembahan terhadap ruh nenek moyang. &lt;br /&gt;Agama Budha tidak ketinggalan. Walaupun Sidharta Gautama mengajarkan moderasi dalam pelaksanaan puasa, tidak sedikit dari biarawan dan biarawati penganut Budhisme yang melakukan praktik puasa pada hari-hari biasa (hanya makan sekali sehari), dan berpuasa penuh pada awal dan pertengahan bulan. Masa kini penganut Budha banyak yang berpuasa empat kali sebulan saat-saat mengadakan introspeksi atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan.&lt;br /&gt;Puasa merupakan salah satu arena yang sangat tepat untuk melakukan sebuah dialog batin (inner dialog). Dengan proses dialog batiniah, hakikat puasa adalah latihan kejiwaan (riyadlah al-nafsiyah) manusia yang menggiring kepada kesadaran fitrah. Tanpa dialog batin tersebut, mustakhil penyucian diri akan terwujud dengan baik. Sebab, dialog batini adalah dialog, diskusi dan disputasi yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan ritualitas keagamaan, khususnya ibadah puasa.&lt;br /&gt;Sebagai sebuah dialog batin, kesadaran ini termotivasi dari surat al- Syam yang ditegaskan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10). Selepas keluar dari dialog batin (puasa), diharapkan tidak hanya potensi yang dimiliki oleh manusia akan kembali kepada jalan dan tugasya masing-masing, namun juga menambah rasa keimanan, kecintaan manusia kepada Allah dan lebih-lebih memperoleh predikat taqwa. Artinya bahwa diri manusia selalu dekat dengan keagungan-Nya dalam menatap realitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;Dialog batin merupakan sarana yang paling monumental sebagai proses penyucian diri (tazkiyah al-nafs) bagi kaum muslim. Karena potensi kejiwaan (nafsiyah) hanya dapat didekati dengan dialog batin. Pendekatan tersebut diasumsikan bahwa unsur ruhani identik dengan senyawa halus yang tidak terlihat secara kasatmata.&lt;br /&gt;Dalam struktur kejiwaan itu, Allah memberikan seperangkat dasar yang cenderung berkembang, hal ini dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran behaviorisme disebut prepotence reflexs (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berubah-ubah). Dengan proses dialog batin berarti belajar melibatkan stimulasi dan respon. Sehingga apa yang disebut “kapasitas dan potensialitas manusia” dapat terwujud secara utuh.&lt;br /&gt;Melalui proses dialog batin yang terjadi pada diri manusia akan terbangun sebuah kesadaran diri sebagai manusia yang mengemban tanggungjawab, kemampuan memilih, kepekaan hati nurani, keluasan pandangan, dan memiliki kekayaan pengalaman transendental.&lt;br /&gt;Penyakit jiwa jika kita telusuri, pangkal tolaknya adalah hati. Karena hati merupakan jantung kehidupan manusia. Hati adalah penggerak perbuatan manusia. Dari hati nurani timbul suara kebenaran dan kebaikan, dan dari lubuk hati pula muncul bisikan-bisikan dan hawa nafsu. Hati dapat dimengerti sebagai tempat terpadu dua kutup yang saling tarik menarik antara kejujuran dan kebohongan, antara kebenaran dan kepalsuan antara keadilan dan kedzaliman. &lt;br /&gt;Mengenai fungsi hati ini, Rasulullah bersabda “sesungguhnya dalam diri (tubuh) setiap manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, seluruh gerak-gerik (perbuatan tubuh) akan baik. Jika ia rusak, seluruh perbuatan  (manusia) juga rusak. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim). Seiring  dengan hadits tersebut, seorang ahli psikoanalisa modern, Eric Fromm, menyatakan bahwa sebagian besar penyakit manusia modern adalah karena penyakit hati, bukan penyakit fisik (lahir). Dengan demikian, untuk mengobati penyakit tersebut yang diperlukan, bukanlah memeriksakan  diri ke dokter spisialis, melainkan kepada agama kebenaran, kepada agama yang mampu memberikan nilai-nilai kasih sayang, kepada al- Qur’an yang merupakan syifa’ (obat penawar).&lt;br /&gt;Proses penyucian hati hanya dapat dilakukan dengan dialog batin, berkomunikasi, mengingat (dzikir) kepada Allah. Seperti yang difirmankan Allah dalam surat al- Ra’ad “Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang dan damai (QS. 13:28). Proses dialog batin berarti melatih perasaan jiwa (diri) supaya terdorong hatinya kepada jalan dan ridha Allah. Sebab ridha merupakan salah satu bagian dari akhlak seorang muslim kepada Allah. Tuhan yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang.&lt;br /&gt;Dialog batin berarti juga mendorong manusia pada sikap tawadhu’ (rendah diri). Tidak merasa dirinya yang paling benar dan semua yang datang selain dia dianggap salah. Sikap mulia ini termotivasi dari kesadaran batin yang bersih. Sehingga Allah mengingatkan kepada manusia dalam surat al Furqan “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah diri (tawadhu’) (QS. 25:63). Sikap tawadhu’ inilah yang mengangkat derajat manusia ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Sebagaimana Rasulullah bersabda; “Tawadhu’, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba keculai ketinggian (derajat). Oleh sebab itu tawadhu’lah kamu, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu”. Orang yang tawadhu’ biasanya dibarengi dengan sikap muraqqabah (waspada). Dengan sikap ini berarti dialog batin mengajak hati manusia selalu melakukan muhasabah (introspeksi atau evaluasi diri), merenungkan sejauhmana kualitas amal yang diperbuat, seberapa jauh kepekaan hatinya terhadap realitas sosial, dan seterusnya. &lt;br /&gt;Dari proses dialog batin, manusia diharapkan “kembali” kepada asalnya yakni keadaan fitrah (suci). Sikap kembali, bukan saja memerlukan sebuah loncatan keberanian, tetapi juga kesiapan segala perubahan dalam jiwa (diri) manusia. Dan puasa adalah waktu yang sangat tepat sebagai sarana untuk melakukan perubahan-perubahan (penyucian) diri itu. Puasa dianggap gagal kalau tidak membuahkan sebuah perubahan diri yang jauh lebih baik dari hari sebelumnya. “Barang siapa yang hari ini sama seperti kemarin maka ia merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin maka ia pandai (beruntung), dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dari kemarin, maka ia terlaknat (HR. Bahaqi). Semoga puasa yang kita jalankan pada bulan ini akan lebih baik dari puasa bulan kemarin.*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-764370430138063496?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/764370430138063496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-renungan-bathin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/764370430138063496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/764370430138063496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-renungan-bathin.html' title='Puasa dan Renungan Bathin'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7638708727235844920</id><published>2010-08-17T14:09:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:10:32.553+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puasa'/><title type='text'>Puasa: Dari Syari’at Menuju Hakikat</title><content type='html'>Oleh: Mujtahid&lt;br /&gt;SALAH satu moment penting yang perlu kita renungkan dalam kaitannya dengan puasa adalah proses penyucian diri (tazkiyah al nafs). Bulan puasa tidak hanya dimengerti sebagai bulan suci, melainkan bulan penyucian diri. Puasa di samping sebagai kewajiban personal kepada Allah, juga berfungsi sebagai “kawah candradimuka” bagi umat muslim. Sebab kewajiban tersebut hanya datang satu bulan sekali dalam setahun. Sementara keadaan suci (fitrah) manusia telah ternodai dan berubah atas kuasa dan kelemahanya sendiri.&lt;br /&gt; Hadirnya bulan puasa merupakan formulasi dan aktualisasi tentang fitrah pada diri manusia. Formulasi tersebut sebagaimana Allah firmankan dalam surat al- Rum ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah), (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan dalamciptaan llah, itulah agama yang lurus, tetapi kebayakan manusia tidak mengetahui” begitu juga disabdakan Nabi Muhammad, sebagaimana diriwayatkan Imam Bhukhari “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), kedua orangtuanyalah yang membuatnya yahudi, Nasrani dan Majusi”. Konsep fitrah tersebut dapat dipahami bahwa manusia itu lahir dalam keadaan kesucian, maka dia bersifat hanif. Artinya selalu cenderung kepada yang suci dan baik. Sebab struktur manusia dilengkapi dengan potensi-potensi ruhani. Allah selalu mengingatkan kepada manusia agar mengenal dirinya sendiri, sebagaimana tertera dalam surat al- Dzariyat “Dan di dalam  dirimu apakah kamu tidak memperkatikan? (QS. 51: 21) dan dalam surat al Fusilat ditegaskan bahwa “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagai mereka bahwa al- Qur’an itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwasesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu (QS. 41:53). Dengan mengenal dirinya manusia akan lebih mudah dapat melihat substansinya sendiri.&lt;br /&gt;Sebagai makhluk yang paling unik, manusia merupakan karya Allah yang paling sempurna (complete) (QS. 95:4) dibanding dengan makhluk lainnya. Ia dibekali dengan potensi-potensi ruhani (al- Quwwah al- Ruhiyyah) yang berfungsi untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, ia juga potensi untuk memilih mana yang benar dan yang salah. Potensi tersebut merupakan salah satu kekuatan batin (inner bathin) yang paling berharga bagi manusia. Karena itu, setiap manusia bertanggung jawab terhadap apa yang dikerjakannya  “Dan orang-orang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anakcucu mereka dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya (QS. 52:21).&lt;br /&gt;Dalam ajaran tasawuf, seruan agar manusia mengenal dirinya sendiri merupakan pilar utama menuju Tuhan, sebab dengan mengenal dirinya sendiri manusia akan mengenal Tuhannya, "Barang siapa yang mengenal dirinya sendiri, dia akan mengenal Tuhannya" demikian salah satu bunyi dalam ajaran tersebut. seiring dengan kalimat itu, al- Qur'an juga menyebutkan bahwa sebaiknya manusia merenungkan kembali dari mana ia diciptakan, "hendaklah memperhatikan dirinya sendiri, dari apa ia diciptakan"(QS. 86:5). &lt;br /&gt;Menurut Ismail Raji al- Faruqi manusia merupakan karya Allah terbesar, dia satu-satunya makhluk yang perbuatannya mampu menciptakan bagian tertinggi dari kehendak Tuhan dan menjadi sejarah, (QS. 5:56), dan ia makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan dalam kehidupan di dunia. Adapun kehidupan tersebut dalam diri manusia, jiwa (al- nafs) merupakan salah satu ciri khas yang tidak dapat dilihat dari luarnya, sehingga jiwa manusia dinamai jiwa rohani (spiritual soul).&lt;br /&gt;Menurut Murtadha Mutahhari (1989:118-119), manusia dalam fitrahnya memiliki sekumpulan unsur sorgawi yang luhur, yang berbeda dengan unsur-unsur badani yang ada pada binatang, tumbuhhan dan benda-benda yang tak bernyawa, unsur-unsur itu merupakan suatu senyawa antara  alam nyata  (materiil) dan metafisik (immateriil), antara rasa dan non rasa, antara jiwa dan raga, seperti yang termaktub dalam surat al- Sajdah; “yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur (QS. 32:7-9).&lt;br /&gt;Proses kejadian manusia terdiri dari dua substansi. Pertama, substansi jasad atau materi, yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam ciptaan Allah. Dalam pertumbuhannya, ia tunduk pada dan pengikut sunnahtullah (antara ketentuan, hukum Allah yang berlaku di alam semesta) kedua, substansi jiwa yaitu pengembusan roh (cipataan-Nya) ke dalam diri manusia, sehingga manusia merupakan benda organik yang mempunyai berbagai alam potensial dan fitrah. Al Farabi menyebutnya ada unsur alam kholiq dan al amr (roh dari Tuhan). Dari kedua substansi tersebut, maka yang paling esensial adalah substansi immateri/jiwa. Manusia memang terdiri dari unsur jasad dan roh, tetapi yang hakikat dari kedua substansi itu adalah roh (jiwa). &lt;br /&gt;Dengan demikian, manusia merupakan rangkain utuh antara substansi jasmani asan substansi rohani, komponen jasmani dari tanah (QS. 32:7) dan komponen rohani ditiupkan Allah (QS. 15:29). Dengan kata lain manusia adalah satu kesatuan dari mekanisme biologis, yang dapat dinyatakan berpusat pada jantung (sebagai pusat kehidupan) dan mekanisme kejiwaan yang berpusat pada otak (sebagai lambang berfikir, merasa, dan besikap).&lt;br /&gt;Dari penjelasan di atas dapat ditarik benang merahnya, bahwa manusia pada dasarnya dapat ditempatkan  dalam tida kategori. Pertama, manusia sebagai makhluk biologis (al- basyr) pada hakikatnya tidak berbeda dengan makhluk-makhluk biotik lain walaupun struktur organnya berbeda (QS.15:28) karena organ manusia lebih sempurna dibandingkan dengan makhluk lain (QS. 95:4). Kedua, manusia sebagai makhluk psikis (al- Insan ) yang mempunyai potensi rohani seperti fitrah (QS. 30:30) akal (QS. 3:190-191), hati (QS. 22:46). Potensi tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi martabatnya (QS.17:70) yang berbeda dengan makhluk lainnya, artinya apabila potensi psikis tidak digunakan, manusia tak ubahnya seperti binatang bahkan lebih hina (QS. 7:179) sedangkan insaniahnya (humanisme) terletak pada iman dan amalnya (QS. 54:6). Dan ketiga, manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai tugas dan tanggung jawab sosial terhadap alam semesta. Klasifikasi ketiga ini karena manusia berfungsi tidak hanya sebagai Abdullah (QS. 51:56) tetapi juga sebagai Khalifatullah (QS. 2:30, 10:14). Untuk mewujudkan kemakmuran, kebahagian, dalam kehidupan dinia akhirat (QS. 28:77).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialog Batin &lt;br /&gt;Puasa merupakan salah satu arena yang tepat untuk melakukan sebuah dialog batin (inner dialog). Dengan proses dialog batiniah, puasa hakikatnya adalah latihan (riyadlah) kejiwaan manusia yang menggiring kepada kesadaran fitrah. Tanpa dialog batin tersebut, mustakhil penyucian diri akan terlaksana dengan baik. Sebab, dialog batini adalah dialog, diskusi dan disputasi yang terjadi dalam diri seseorang ketika melakukan ritualitas keagamaan, khususnya puasa.&lt;br /&gt;Perintah ini termotivasi dari surat al- Syam yang ditegaskan bahwa “Sesungguhnya beruntunglah orang yangmensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (QS. 91: 9-10). Setelah dari dialog batin (puasa) diharapkan tidak hanya seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia akan kembali kepada jalan dan tugasya masing-masing, namun juga menambah rasa keimanan manusia kepada Allah dan lebih-lebih mendapat predikat taqwa. Artinya diri manusia selalu dekat dengan keagungan Allah dalam realitas dan aktivitas kehidupan sehari-hari. &lt;br /&gt;Dialog batin merupakan sarana yang paling tepat untuk penyucian diri (tazkiyah al- nafs) bagi kaum muslim. Karena potensi kejiwaan (nafsiyah) hanya dapat didekati dengan dialog batin. Pendekatan tersebut diasumsikanbahwa unsur ruhani identik dengan senyawa yang halus dan tidak terlihat secara kasatmata.&lt;br /&gt;Dalam struktur kejiwaan itu, Allah memberikan seperangkat dasar yang cenderung berkembang, dalam ilmu psikologi disebut potensialitas atau disposisi, yang menurut aliran psikologi behaviorisme disebut prepotence reflexs (kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berubah-ubah). Dengan proses dialog batin berarti belajar melibatkan stimulasi dan respon. Sehingga apa yang disebut “kapasitas dan potensialitas manusia” dapat terwujud secara utuh.&lt;br /&gt;Proses dialog batin yang terjadi pada diri manusia akan terbangun sebuah kesadaran diri sebagai manusia dalam mengembang tanggungjawab, kemampuan memilih, kepekaan hati nurani, keluasan pandangan, dan memiliki kekayaan pengalaman transendental.&lt;br /&gt;Dalam batas-batas tertentu, dialog batin merupakan kerangka empirik yang mampu menelusuri tanda-tanda penyakit kejiwaan manusia. Penyakit kejiwaan hanya bisa disembuhkan dengan terapai-terapi, termasuk agama. Terapi itu misalnya shalat, puasa zakat dan rital keagamaan lainnya. Terapi kejiwaan hanya bisa dikembalikan kepada al- Qur’an sebagai sumber kebenaran, sebagai al- syifa li al- shudur al- nas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7638708727235844920?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7638708727235844920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/puasa-dari-syariat-menuju-hakikat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7638708727235844920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7638708727235844920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/puasa-dari-syariat-menuju-hakikat.html' title='Puasa: Dari Syari’at Menuju Hakikat'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7154199244806813127</id><published>2010-08-11T14:41:00.000+07:00</published><updated>2010-08-11T14:42:08.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Puasa dan Keseimbangan Diri</title><content type='html'>Oleh: Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANPA diragukan lagi bahwa puasa merupakan ladang paling subur untuk mempertebal keimanan, ketaqwaan serta wahana penciptaan nilai moral serta tanggung jawab setiap kaum muslim. Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukkan bahwa puasa sesungguhnya mendidik orang supaya mawas diri, dan menghadirkan kemahabesaran dan keagungan Tuhan di tengah badai keseimbangan diri manusia yang sedang diuji.&lt;br /&gt; Dalam kaitannya dengan aspek sosial misalnya, puasa merupakan jalan untuk meningkatkan sistem solidaritas dan kesetiakawanan sosial yang selama ini dinilai renggang. Solidaritas ini bisa terwujud di bulan ramadhan karena mereka menyadari bahwa hakikat puasa bukan semata-mata menjalankan dimensi ritual ubudiyah semata, melainkan juga dimensi tasawuf/etis. Seperti kita lihat bahwa dengan puasa orang mudah mengelurkan rezkinya, ringan menjalankan shalat berjama’ah, bertadarrus, dan seterusnya. Keseimbangan diri inilah yang perlu dipupuk selama bulan ramadhan ini agar terbentuk jiwa raga yang kamil.&lt;br /&gt; Secara kualitas, setiap amalan yang dikerjakan dibulan ramadhan banyak mengandung makna ibadah, dalam arti yang sesungguhnya. Sehingga dalam bulan ramadhan dilukiskan bahwa puasa merupakan ibadah miliki Allah. Artinya, amalan-amalan yang dilakukan di bulan ini memiliki nilai yang tambah dihadapan-Nya, begitu juga kalau melakukan amalan-amalan yang berdimensi sosial.&lt;br /&gt;Puasa sebagaimana yang diperintahkan Allah selain memiliki hubungan vertikal juga melambangkan hubungan horizontal. Perintah menjalankan puasa sejatinya menyeimbangkan antara dimensi teologis dan sosiologis. Karena itu, Allah membuka peluang bagi kaun aghniya’ (orang kaya) untuk memperbanyak ibadah baik secara bathiniyah maupun secara material. Janji Allah terhadap mereka yang mampu melaksanakan keseimbangan ibadah ini pasti pahalanya akan dilipatgandakan.&lt;br /&gt; Untuk meraih janji-janji Tuhan itu, kemudian lahirlah keinginan dan semangat berlomba-lomba dalam melakukan amalan, baik amalan sunnah maupun wajib. Perlombaan inilah kemudian membentuk manusia memiliki kepedulian terhadap diri sendiri dan kepedulian bagi sesama. Kepedulian ini lahir bukan karena terpaksa, dipaksa namun lahir karena panggilan hati nurani. Jiwa atau hati yang bersih akan lahir sebuah perbuatan yang bersih dan begitu sebaliknya jiwa yang kotor akan menjerumuskan diri sendiri dan bukan tidak mungkin pada orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembentukan Moral&lt;br /&gt; Moral merupakan nilai-nilai yang biasa dijadikan patokan, dasar dalam melakukan tindakan. Sehingga dalam prakteknya seorang tentu tidak terlepas dari apa yang disebut moral. Moral sangat kerap kali disebut dalam setiap perbuatan manusia. Pertanyaannya adalah apakah tindakan itu berdasarkan moral atau tidak? Pertanyaan inilah yang sering muncul dalam benak hati manusia. Dan bisikan-bisikan pasti itu pasti lahir di dalam jiwa manusia.&lt;br /&gt; Moral dan puasa memiliki kaitan yang sangat erat serta tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lain. Karena puasa adalah sarana untuk membentuk moral kemanusiaan universal. Maka pendidikan moral secara tidak langsung dapat terwujud dengan baik di bulan puasa ini. Penyimpangan moral yang sering terjadi di luar bulan ramadhan merupakan manifestasi dari tipisnya kesadaran memiliki Tuhan, diri sendiri dan kemanusiaan. Rapuhnya moral karena tidak meletakkan dirinya sebagai pelaku sosial. &lt;br /&gt; Tepatlah apa yang terkandung dalam sebuah hadits bahwa “dalam diri manusia terdapat segumpal daging, jika ia baik maka perbuatannya akan baik dan jika ia rusak maka perbuatannya akan rusak, ketauhilah bahwa itu adalah hati. Moral kaitannya dengan hati adalah sebuah pilihan-pilihan atau pertimbangan. Artinya hati merupakan timbangan yang akan menentukan pilihan antara kebenaran dan kebatilan. Jadi, keberadaan hati akan sangat berpengaruh terhadap pilihan. &lt;br /&gt; Moral sesungguhnya pilihan-pilihan yang berdasar pada pertimbangan-pertimbangan. Dan pertimbangan itu tidak terlepas dari pertimbangan hati, akal serta pertimbangan rasa kemanusian. Jika pertimbangan ini tidak dilakukan, maka tidak mustahil pilihan dan tindakan yang akan dilakukan berdampak buruk. Dalam menjatuhkan pilihan, diri manusia selalu kembali pada kekuatan hati dan akal sebagai alat atau potensi yang bisa memberikan pilihan.&lt;br /&gt; Puasa yang dilakukan berdasarkan imanan wa ihtisaban (atas kesadaran keimanan dan perhitungan) akan melahirkan nilai moral yang sesungguhnya. Dapat dipastikan bahwa puasa mendidik manusia untuk mewujudkan moral kemanusian itu. Sehingga yang tampak adalah sebuah tindakan yang mencerminkan nilai ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan. &lt;br /&gt; Bobot puasa sesungguhnya terletak pada dua nilai tersebut di atas. Kesadasar vertikal harus imbangi dengan kesadaran horizontal. Karena kesadaran vertikal saja tidaklah cukup bagi kesalehan pribadi, sedangkan kesadaran horizontal terabaikan. Jadi puasa meletakkan nilai-nilai yang menjunjung kesadaran kolektif. Dan keharmonisan nilai ini sangat mudah terwujud dengan puasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguatan Tanggungjawab&lt;br /&gt; Konsep tanggung jawab dalam al-qur’an biasa disebut dengan amanah. Yang artinya dapat dipercaya, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan. Lebih tepat lagi jika konsep amanah ini kemudian diterjemahkan dalam dimensi kehidupan, baik secara personal maupun kolektif (sosial). Karena dalam kehidupan manusia, tanggung jawab merupakan salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sehingga manusia tidak bisa menghindar dari  tanggung jawab. Sebab, Allah menjadikan manusia di muka bumi ini disamping sebagai Abdullah, juga sebagai khalifahtullah (wakil atau duta) yang penuh dengan tanggung jawab sosial. &lt;br /&gt; Pelajaran penting yang terkandung dalam puasa adalah membentuk tanggung jawab manusia. Karena puasa merupakan ibadah khusus yang salah satunya untuk melatih bertanggung jawab pribadi. Karena itu, hubungan pribadi dengan Tuhannya akan menciptakan kesucian jiwa (batin). Sedangkan tanggung jawab pribadi terhadap sosial bisa membentuk sistem tatanan sosial yang baik. Apabila kedua-duanya bisa dilakukan maka tatanan kehidupan dari yang kecil sampai yang besar akan tercipta sebuah sistem yang harmonis dan anggun. &lt;br /&gt; Mestinya, puasa kaitannya dengan kehidupan sosial, politik, dan lainnya dapat dapat dimengerti sebagai suumbangan tata nilai kehidupan, baik secara individu maupun  sosial. Karena dengan meletakkkan dasar tanggung jawab personal, tentu segala ucapan dan tindakan selalu akan dimintai laporan. Karena itu, orang yang tidak bertanggung jawab berarti tidak mengakui kesadaran bertuhan dan berkemanusiaan. Artinya tanggung jawab merupakan salah satu bagian yang memperteguh keimanan dan bukti kepercayaan terhadap beban yang dipikulnya. &lt;br /&gt; Salah satu sarana yang paling tepat untuk melatih tanggung jawab adalah berpuasa. Puasa dan tanggungjawab merupakan entitas yang dapat membentuk kepribadian yang utuh. Kesempurnaan manusia bukan diukur dari kelebihan-kelebihan fisik melainkan banyak diukur dari kelebihan-kelebihan non fisik. Kesadaran ruhiyyah merupakan sentral aktivitas manusia yang mempengaruhi cara pandangnya.&lt;br /&gt; Dari uraian di atas, puasa selain sebagai perintah Tuhan, juga membina terhadap pembentukan moral dan tanggung jawab. Dengan puasa berarti menuntut adanya penciptaan moral dan tanggung jawab bagi setiap orang supaya terbentuk integritas dalam dirinya nilai-nilai spiritual dan sosial yang sepadan. Karena itu, puasa selain menekankan hubungan vertikal juga menekankan hubungan horizontal.&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7154199244806813127?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7154199244806813127/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-keseimbangan-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7154199244806813127'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7154199244806813127'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-keseimbangan-diri.html' title='Puasa dan Keseimbangan Diri'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8935832855064793116</id><published>2010-07-30T14:46:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:47:23.146+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi'/><title type='text'>Strategi Komunikasi Terpadu dalam Pencitraan Usaha</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KRISIS ekonomi (krismon) 1997 yang mendera bangsa Indonesia, selain menimbulkan kesulitan bagi kebanyakan orang, juga menimbulkan peluang berupa tumbuhnya segmen baru bagi pemasar yang mampu mencermatinya. Krisis melahirkan perubahan pola konsumsi, gaya hidup, penghasilan, dan tingkat kesejahteraan yang makin menurun. Perubahan pasar dan konsumen inilah yang disiasati oleh pemasar yang cerdik dengan melihat aspek psikografis masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt; Akibat perubahan pola komunikasi pemasaran di atas, maka diperlukan strategi yang sesuai dengan gaya dan pola psikografis masyarakat. Kalau dicermati secara mendalam. paling tidak ada lima perubahan penting yang membuat komunikasi pemasaran seakan-akan “jungkir balik” dari segi konsep, gaya komunikasi, bentuk interaksi, pendekatan dan isi pesan,  yaitu pergesaran dari selling telling, gaya iklan yang semula menolong menjadi komunikasi dialogis dan interaktif, pergeseran interaksi dari konsumen pasif ke konsumen aktif terlibat dan hubungan yang lebih intim, pendekatan pemasaran massal berubah menjadi pemasaran individual, dan isi pesan berubah dari pesan tunggal ke pesan seragam (customize message)&lt;br /&gt;Hifni Alifahmi, dalam buku “Sinergi Komunikasi Pemasaran” (2005) menjelaskan bahwa strategi dan teknik komunikasi pemasaran yang bisa dipilih untuk mendatangkan hasil tak terbatas dengan  biaya terbatas, yaitu pertama, memilih senjata komunikasi pemasaran. Ragam “senjata” komunikasi pemasaran yang bisa digunakan demikian bervariasi, namun dapat dimulai dari identitas, citra, dan reputasi yang kokoh dan selain itu juga bisa dipilih iklan, promosi penjualan, humas pemasaran, pemasaran langsung, hingga pemasaran getok-tular. Pemilihan teknik komunikasi pemasaran, ibarat memilih jenis senjata yang tepat untuk membidik sasaran, dan untuk memilih teknik yang efektif, maka perlu merujuk pada sasaran yang ditetapkan. Setiap teknik atau jenis senjata komunikasi pemasaran tidak berdiri sendiri, tetapi saling terkait antara satu dengan yang lain.&lt;br /&gt;Kedua, mencermati iklan korporat. Sering iklan dikeluarkan oleh perusahaan untuk menanamkan suatu ide atau kesan tertentu, sehingga iklan seperti itu disebut iklan korporat. Ketiga, keluwesan iklan multiguna. Iklan multiguna dirancang bukan hanya untuk mencapai suatu tujuan, melainkan banyak tujuan atau sasaran sekaligus. Misalnya memperkenalkan produk, menginformasikan tawaran, potongan harga, mempengaruhi perilaku pembelian, membangun citra, dan masih banyak lagi. &lt;br /&gt;Keempat, iklan peduli ala Indonesia. Selama krismon, iklan berisi pesan moral semacam ini memang makin ramai, seakan berlomba menghiasi halaman media cetak, serta gencar ditayangkan televisi dan bahkan tak ketinggalan terdengar di radio. Ada kecenderungan menarik jika kita mengamatisituasi krisis yang berlarut-larut dikaitkan dengan periklannan. Nada iklan semakin manusiawi dan menyentuh hati nurani. &lt;br /&gt;Kelima, menggencarkan promosi silang. Ada tiga langkah yang perlu dicermati agar promosi silang efektif. Pertama, perhatikan karakteristik produk dan keterkaitannya dengan produk lain, dan akan mudah dilakukan bila masing-masing produk saling melengkapi, misalnya: komputer dengan disket. Kedua, amati profil konsumen, kebiasaan membeli dan memakai produk, serta gaya hidup mereka terkait dengan produk. Ketiga, seleksi mitra promosi silang, dengan memahami karakteristik produk dan profil konsumen maka kita lebih mudah untuk menemukan mitra promosi silang yang tepat.  &lt;br /&gt;Keenam, menggelar promosi simpatik. Apabila sebuah perusahaan pernah berpromosi dengan sikap peduli yang mengundang simpati, setidaknya citra nya di masyarakat menjadi lebih baik. Cercaan yang biasanya muncul bisa di redam.&lt;br /&gt;Ketujuh, menggaet pemburu diskon. Dengan diskon yang etis, para pemasar tidak hanya bisa menggaet para pemburu diskon, tetapi sekaligus mampu menjaga citra positif untuk jangka panjang.&lt;br /&gt;Kedelapan, sukses pemasaran dengan sentuhan PR (public relation). Ada empat kriteria agar suatu program disebut MPR (marketing public relation), yaitu memiliki nilai berita tinggi sehingga muncul lewat publikasi media cetak, elektronik, atau interaktif; mengundang rasa simpati publij sehingga banyak khalayak berdecak kagum aatu mendukung; melibatkan khalayak massal yang terkait dengan program kehumasan untuk pemasaran suatu produk atau jasa; dan menjadi sarana penyampaian pesan kehumasan dan kampanye pemasaarn.   &lt;br /&gt;Kesemblian, terobosan humas pemasaran menembus krisis. Terobosan baru dalam bidang pemasaran secara konseptual disebut humas pemasaran atau Marketing Public Relation (MPR). Ada beragam wujud program MPR di Indonesia khususnya di masa krisis, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa  kategori, antara lain: Iklan bernilai berita atau iklan peduli, Promosi Simpatik, kehumasan untuk pemulihan citra, dan Pemasaran dengan sikap peduli.  &lt;br /&gt;Kesepuluh, publitising: Iklan dengan nilai berita. Publitising berasal dari kata publicity (publisitas) dan advertising (iklan).  Jadi Publisiting merupakan gabungan antara dimensi periklanan dengan jurnalistik. Kesebelas, sensasi keterpaduan AFI dan Indonesian Idol. Program AFI dan Indonesian Idol menjadi ajang promosi yang menjadi tambahan pemirsa dan pengiklan, juga menjadi sarana Public Relation(PR) yang simpatik dan edukatif. &lt;br /&gt;Keduabelas, keampuhan pemasaran Getok-Tular. Ada satu prinsip penting yang perlu diterapkan dalam pemasaran getok-tular, yaitu berusahalah melampaui harapan konsumen, jangan hanya sebatas membuat mereka puas. &lt;br /&gt; Dari beberapa tawaran tersebut di atas, maka selusin strategi yang bisa diciptakan yaitu sinergii pesan tematik, egmentasi media, gaya komunikasi dialogis, kombinasi reputasi korporat dan citra produk, iklan multiguna, promosi penjualan simpatik, pemasaran berbasis data, humas pemasaran, pemasaran getok-tular, promosi di titik penjualan, ajang khusus pemasaran, dan komunikasi akrab pelanggan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, HUMAS UIN MALIKI MALANG&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8935832855064793116?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8935832855064793116/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/strategi-komunikasi-terpadu-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8935832855064793116'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8935832855064793116'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/strategi-komunikasi-terpadu-dalam.html' title='Strategi Komunikasi Terpadu dalam Pencitraan Usaha'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7182125665856682324</id><published>2010-07-29T16:03:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T16:04:01.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi'/><title type='text'>Cara Mempromosikan Usaha Yang Sukses</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM  dunia kerja, pemasaran dan komunikasi merupakan dua bidang yang sering beriringan dan terkadang sulit dibedakan dalam segi keilmuan maupun penerapannya. Komunikasi pemasaran yang berkembang pesat selama satu dasawarsa terakhir ini memancarkan kecerahan bagi para pelaku komunikasi dan pemasaran dunia bisnis, organisasi nirlaba maupun dikalangan akademisi. Hal ini tercermin dalam pembaharuan konsep dan penerapannya, serta luasnya profesi di bidang ini.&lt;br /&gt; Ada tiga sisi menarik dari perkembangan terbaru komunikasi pemasaran, pertama, strategi yang ditawarkan begitu segar, menyodorkan terobosan baru yang mengombinasikan iklan, promosi, kehumasan sebagai alternatif ketimbang paradigma lama yang lebih mengedepankan iklan dan promosi sebagai bintang. Kedua, pendekatannya bersifat holistik (menyeluruh). Tidak melihat persoalan secara terpisah-pisah, tetapi merangkai pihak terkait (stakeholders) baik di internal organisasi maupun semua pihak luar yang berkepentingan. Ketiga, keluwesan dalam memadukan berbagai disiplin ilmu dan jenjang personil yang menjalankan fungsi yang berbeda-beda untuk menghasilkan sinergi.&lt;br /&gt; Pelopor komunikasi pemasaran, Don E. Schultz, mengatakan model perencanaan komunikasi pemasaran terpadu melalui tujuh tahap rencana komunikasi pemasaran, yaitu klasifikasi dan segmentasi pelanggan dari bank data, menemukan titik kontak konsumen, menetapkan sasaran dan strategi komunikasi, menemukan dan memetakan jejaring merek, menemukan sasaran pemasaran, meramu berbagai teknik komunikasi pemasaran yang paling sesuai, dan memilih taktik komunikasi pemasaran. &lt;br /&gt; Dengan ketujuh perencanaan komunikasi tersebut dimaksudkan sebagai sebuah keutuhan terpadu (integrasi) dalam pemasaran. Pemasaran terpadu (integrated marketing) merupakan proses antar fungsi dalam mengelola hubungan merek (brand relationships) yang menguntungkan dengan mengarahkan integrasi antara sumber daya manusia dan pengalaman perusahaan untuk memelihara konsistensi strategis dalam komunikasi merek, disertai dialog yang memberikan manfaat timbal balik dengan pelanggan dan semua pihak terkait, serta memasarkan misi korporat yang memperkuat kepercayaan terhadap merek. Namun konsep asli pemasaran sebenarnya adalah integrasi.&lt;br /&gt; Semua upaya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan selera pelanggan. Dalam pemasaran terpadu, kita harus kembali pada akar pemasaran, hanya saja situasi lingkungan yang dihadapi telah berubah sedemikian rumit, dengan kata lain pemasaran terpadu tidak lain adalah mengelola kerumitan (complexity). Maka untuk menghadapi kerumitan lingkungan tersebut perusahaan perlu memadukan enam bidang, yaitu: 1). Keahlian dan keterampilan karyawan di berbagai lapisan atau bagian dari generalis hingga spesialis, 2). Pelanggan dan semua pihak terkait (stakeholders) didekati dengan pesan komunikasi yang seragam, 3). Tiap interaksi, transaksi, dan perilaku pelanggan dihimpun dalam bank data yang bisa dipakai semua karyawanguna meningkatkan pelayanan pelanggan dan nilai merek, 4). Menjaga konsistensi positioning merek yang memperkuat identitas dan reputasi perusahaan, 5). Memiliki satu ide dasar kreatif (big kreatif idea) yang dijabarkan dalam semua pesan komunikasi pemasaran, 6). Menjabarkan misi korporat dalam pemasaran.&lt;br /&gt; Pemasaran terpadu menawarkan banyak manfaat seperti menciptakan keunggulan kompetitif pada produk agar tidak menjadi komoditas, menguatkan loyalitas merek, mengurangi pemberitaan negatifdi media massa, menghubungkan khalayak diseluruh dunia melalui saluran komunikasi dan bank data on-line, memperkecil penolakan konsumen atas pesan komersial; mengangkat merek lokal menjadi merek global, memperkuat kepercayaan publik terhadap perusahaan.       Dalam suasana persaingan yang semakin sengit, banyak pemasar memilih untuk saling bersanding ketimbang harus bertanding atau bersaing. Alasannya sederhana, mengapa harus terus bersiteru kalau bisa bekerja sama dan mengapa harus menyingkirkan pesaing kalau bisa berjalan beriringan? Dan juga ada pameo, “if you can’t beat them, join them!” Jika anda tidak mampu memukul mereka, bergabung sajalah!&lt;br /&gt; Cara seperti itu, mencerminkan paradigma baru pemasaran dalam melihat pesaing sebagai kawan, bukan lawan yang harus dihabisi, melainkan dibiarkan hidup agar mendorong persaingan yang sehat. Pada era 1990-an muncul konsep kemitraan strategis (strategic partnerships) dan pemasaran persahabatan (relationship marketing) yang diperkenalkan oleh Regis Mc Kenna atau kemitraan pemasaran (marketing partnering) yang meliputi kemitraan promosi, dan yang lebih canggih lagi berupa kemitraan bank data yang diungkapkan Stan Rapp &amp; Tom Collins.&lt;br /&gt; Secara garis besar kemitraan dapat dibagi menjadi dua, yaitu aspek strategis yang menyeluruh (yang berupa kemitraan atau aliansi strategis), serta aspek operasional atau fungsional yang parsial, seperti kemitraan teknologi, produksi, logistik, operasi, dan pemasaran. Dari beragam kemitraan fungsional, kemitraan pemasaran cukup menarik perhatian karena dampaknya terasa hingga konsumen dan masyarakat, dan lebih jelasnya ada enam pola kemitraan pemasaran, yaitu: kemitraan iklan (cooperative ad), kemitraan promosi (promotion Partnering), kemitraan bank data (database Partnering), kemitraan jaringan distribusi (network partnering), kemitraan pelanggan (customer Partnering), kemitraan merek (co-branding).&lt;br /&gt; Pemasaran citra (image marketing) bukan sekedar tampil manis dalam iklan atau menyatakan diri sebagai terbesar atau terbaik. Lebih dari itu, pemasaran citra mengupayakan agar nama dan reputasi (perusahaan atau produk) serta persepsi publik makin positif, sehingga memperluas pengenalan perusahaan atau produk yang ujung-ujungnya mendongkrak perolehan pangsa pasar. Citra mencerminkan apa yang dipikirkan, emosi dan persepsi individu. Dan untuk bisa memasarkan citra, maka terlebih dulu memiliki citra yang ingin dimunculkan, lalu mengidentifikasi pasar sasaran yang dituju, merumuskan positioning yang tepat untuk mencerminkan citra itu, serta merancang pesan dan media kampanye.&lt;br /&gt; Agar kampanye pemasaran efektif, ada sepuluh langkah yang harus ditempuh, yaitu menemukan alasan konsumen membeli, membandingkan realitas produk versus persepsi konsumen, mengenali situasi persaingan, mengetahui manfaat utama produk bagi konsumen dibanding pesaing, merancang program komunikasi pemasaran, menciptakan kepribadian merek, menetapkan sasaran dan tindakan komunikasi, menciptakan efek perseptual, menemukan titik kontak konsumen, merencanakan riset untuk masa yang akan datang.  &lt;br /&gt; Salah satu kesuksesan program komunikasi pemasaran modern yaitu ditandai dengan adanya sinergi atau integrasi antara iklan, public relations, dan promosi yang memberi kesan unik, kreatif, menggemparkan atau membuat heboh kepada pelanggan (customer).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Humas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7182125665856682324?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7182125665856682324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/cara-mempromosikan-usaha-yang-sukses.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7182125665856682324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7182125665856682324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/cara-mempromosikan-usaha-yang-sukses.html' title='Cara Mempromosikan Usaha Yang Sukses'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-5527002017159100030</id><published>2010-07-21T16:15:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T16:17:20.705+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Reimprovisasi Tujuan Pendidikan</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDIDIKAN adalah kekuatan masa depan (future power). Tanpa pendidikan, dunia akan mengalami dekadensi ilmu pengetahuan dan akan menjadikan peradaban manusia suram. Pendidikan dipandang sebagai alat perubahan yang sangat ampuh untuk menyesuaikan cara berpikir dalam menghadapi tantangan dunia yang makin kompleks, cepat berubah, serta sulit diramalkan.&lt;br /&gt; Edgar Morin (2006) melakukan beberapa kritik terhadap kontens (isi) pendidikan selama ini. Pendidikan kurang menyentuh hal-hal atau problem-problem mendasar yang itu sangat penting untuk dielaborasi kembali melalui kegiatan pendidikan. Untuk mengatasi problem tersebut, direktur Emeritus ini menghadirkan sebuah konsep yang beliau sebut dengan sebutan “Tujuh Pelajaran Komplek”, sebagai sebuah alat untuk mencermati ulang konsep dan praktik pendidikan selama ini.&lt;br /&gt;Secara ideal, tujuan pendidikan (education goal) dimaksudkan sebagai penerusan atau alih pengetahuan (knowledge) dari generasi tua ke genarasi muda, ketrampilan (skill) dan sikap atau prilaku (attitude). Sasaran inilah sebagai sebuah tugas suci pendidikan untuk membangun generasi masa depan yang handal dan cemerlang. Selain ketiga hal itu, ada hal lain sangat penting yaitu nilai-nilai karakter, sikap, dan jiwa kreatif yang dapt tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebutuhan lingkungan.&lt;br /&gt;Namun pada kenyataannya, pendidikan justru gagal menangkap realitas tersebut secara holistik dan integralistik. Selama ini, pendidikan baru mampu menghasilkan sosok manusia super dalam pengetahuannya, tapi gagal dalam membentuk watak dan karakter sifat dasar kemanusiannya itu. Padahal, manusia adalah makhluk yang unik, kompleks potensi fisik dan psikisnya yang itu merupakan anugerah yang harus digali dan ditumbuh-kembangkan secara maksimal.&lt;br /&gt; Selain itu, pendidikan seharusnya memperlihatkan bahwa dalam derajat tertentu, belajar rentan akan kekeliruan dan ilusi. Teori informasi menunjukkan bahwa resiko kekeliruan akibat gangguan mesti ada dalam seluruh penyaluran informasi, serta semua penyampaian pesan-pesan komunikasi.&lt;br /&gt; Itulah sebabnya, pendidikan masa depan dihadapkan pada masalah universal, bahwa proses belajar kita masih terkotak-kotak, sekelumit dan terpisah-pisah. Pola pembelajaran demikian ini tentu tidak memadai untuk menangkap realitas dan permasalahan yang makin global, trans-nasional, multi-dimensional, transversal, serta polidisiplin.&lt;br /&gt; Menghadapi tuntutan yang sangat kompleks tersebut, pendidikan masa depan harus menjadi pendidikan utuh (universal), yang mengajarkan tentang kondisi manusiawi serta melakukan upaya untuk menyatukan kembali pengetahuan yang berserakan mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, ilmu humaniora, dan mengintegrasikan ke dalam ilmu pengetahuan ilmiah, filsafat, sejarah, sastra, agama dan lain sebagainya.&lt;br /&gt; Pendidikan harus menunjukkan dan menggambarkan berbagai wajah takdir manusia (takdir spesies manusia, individu, sosial, sejarah). Semua takdir tersebut bercampur tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Salah satu panggilan utama pendidikan masa depan adalah menggali dan mempelajari kompleksitas manusia yang akan mengantarkan cita-cita hidup dan kehidupannya.&lt;br /&gt; Kesulitan yang dihadapi dalam mengelola dunia pendidikan seringkali diperburuk oleh cara berpikir kita yang cenderung membekukan kemampuan untuk mengkontektualisasi, mengglobalisasi, multidimensionalitas serta kompleksitas multikultural. Sikap kebekuan (jumud) ini jangan sampai menyelimuti pendidikan kita dan saatnya perlu mengubah cara berpikir untuk memahami makna konteks tersebut.&lt;br /&gt; Berbicara soal pendidikan adalah berbicara mengenai interaksi belajar antar pendidik dan peserta didik. Belajar merupakan suatu petualangan untuk mengungkap segala bentuk ketidakpastian menjadi pasti dan nyata. Cara penyampaian materi yang bersifat dogmatis, doktriner, dan tidak toleran harus diakhiri dan diganti dengan cara-cara yang elegan yang mampu membangkitkan kreativitas dan performance anak didik yang bermutu.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi stagnasi itu, perlu sebuah upaya pembaruan model pendidikan yang sesuai dengan keadaan dan tingkat kebutuhan zaman sekarang ini. Yakni pendidikan masa depan yang diharapkan mampu membentuk kesadaran baru bagi munculnya generasi yang berkualitas, berkarakter dan berjiwa besar. Dalam prosesnya, pendidikan sebagai aksi nyata berkewajiban untuk menanamkan pengalaman empiris ke dalam jiwa generasi mendatang. Pendidikan harusnya mengajarkan materi yang relevan dengan kenyataan hidup di masyarakat dan bukan bententangan dengan kondisi empiris di lapangan. &lt;br /&gt;Aksi berisiko pada kegagalan serta bisa mengakibatkan penyimpangan atau kebalikan dari tujuan awal. Maka cara efektif untuk untuk menghadapi ketidakpastian aksi adalah kesadaran penuh tentang  taruhan yang terlibat dalam keputusan, dan bantuan strategi.&lt;br /&gt;Dari kaca mata pedagogis, pembelajaran adalah proses manusiawi yang menghargai kreatifitas dan kebebasan yang dimiliki setiap subyek didik. Mereka dapat tumbuh dan berkembang selalu dipengaruhi oleh materi dan dipadukan dengan pengalaman, baik perubahan fisik, intelektual maupun moral yang berlangsung secara kontinuitas. &lt;br /&gt;Dengan memilih materi yang sesuai dan dipadu dengan pengalaman yang cukup usaha pendidikan itu akan menemukan cahaya yang cerah. Membangun pendidikan yang handal harus menitiktekankan pada aspek keterbukaan, keluasan pemikiran dan kualitas metodologis, di samping tetap menghargai nilai-nilai luhur bangsa yang relevan harus perlu dipertahankan sebagai warisan sejarah&lt;br /&gt;Itulah ulasan bagaimana cara menarik “benang merah” antara cita-cita dan tujuan pendidikan. Yaitu dengan cara mengelaborasi dan memperbaiki materi pendidikan yang dipadu dengan pengalaman (experience) yang compatible dan relevan akan sangat membantu mencapai tujuan dan cita-cita atau visi-misi pendidikan. Karena, tujuan pendidikan pada hakikatnya yaitu tujuan masyarakat atau bangsa. Sebuah tujuan yang didasarkan pada pengalaman aktual individu dalam bermasyarakat dan berbangsa. Dengan demikian, potensialitas pendidikan akan ditentukan oleh seberapa berbobot materi dan seberapa luas pengalaman yang diusung dalam interaksi edukatif yang dapat diserap oleh peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-5527002017159100030?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/5527002017159100030/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/reimprovisasi-tujuan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5527002017159100030'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5527002017159100030'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/reimprovisasi-tujuan-pendidikan.html' title='Reimprovisasi Tujuan Pendidikan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-4201418230881644793</id><published>2010-07-17T14:31:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T14:32:15.868+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='peradaban islam'/><title type='text'>Keagungan Akhlak Nabi Muhammad</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA setiap zaman, lahir seorang tokoh besar. Muhammad saw lahir sebagai utusan Tuhan untuk menyempurnakan risalah para nabi dan rasul sebelumnya. Secara historis, kelahirannya memang sangat tepat bila dilihat dari setting kurun waktu dan tempat geografis yang benar-benar membutuhkan seorang sosok agung seperti nabi Muhammad.&lt;br /&gt;Tidak berlebihan jika Michael Hart dalam buku best sellernya “Seratus Tokoh Dunia”, mengakui secara jujur dan objektif menempatkan Muhammad saw diurutan pertama di antara deretan nama-nama seratus tokoh yang paling terkenal di dunia. Muhammad, selain dikenal sebagai Nabi dan Rasul umat Islam, beliau juga dipandang sebagai pemimpin negara yang sukses di Tanah Arab. Prestasi gemilang yang beliau tunjukkan memang tidak saja kaum muslim yang mengakui, tetapi diluar itu juga banyak yang menyatakan demikian.&lt;br /&gt;Pada kenyataannya, nabi Muhammad sebagai figur historis tidak hanya diakui oleh penganutnya sendiri, tetapi juga diakui seorang atheis sekalipun. Maxim Rodinson misalnya, ilmuan atheis yang memiliki andil besar dalam memperkenalkan ketokohan Muhammad kepada masyarakat Barat. Ketokohan Muhammad dikenal sebagai sosok manusia agung, yang memiliki jiwa dan moral yang bersih. Banyak kisah biografi beliau yang telah ditulis orang, dan semuanya mereka mengatakan bahwa Muhammad adalah figur sejarah umat Islam sepanjang zaman, kecuali orang yang kufur hati dan jiwanya.&lt;br /&gt;Belum lagi, ilmuan lain seperti Montgomery Watt, Annemarie Schimmel, Martin Lings, ataupun Karen Armstrong yang selama 9 tahun aktif sebagai biarawati. Mereka itu, melalui karya tulisannya dengan segala kelebihan dan kekurangan telah melakukan pembelaan historis-akedemis terhadap reputasi Nabi Muhammad sebagai salah seorang dari sekian tokoh sejarah yang meletakkan dasar, pedoman dan spirit bagi pembangunan peradaban manusia.&lt;br /&gt;Merupakan keharusan ilmiah belaka jika ilmuan semacam Philip K. Kitti ataupun Marshall G. Hodgson melihat Nabi Muhammad dan agama Islam yang diwariskannya telah sanggup menyulap dunia Arab dari padang pasir gundul menjadi mata air peradaban yang pada gilirannya secara signifikan ikut mewarnai wacana dan perjalanan panjang sejarah dunia.&lt;br /&gt;Dari pengakuan para tokoh di atas, menunjukkan kepada kita bahwa Nabi Muhammad telah melakukan transformasi akhlak terhadap tatanan kemasyarakatan kala itu. Kejujuran dan keluhuran pekertinya tidak hanya diakui oleh kaum muslim, tetapi juga non muslim.&lt;br /&gt;Membaca sejarah hidup Muhammad saw kian lama kian mengasyikkan dan tidak pernah bosan. Semakin kita mengenal nabi, semakin banyak keistimewaan yang ada padanya. Dengan mengetahui keistimewaan tersebut kita akan bertambah cinta dan taat menjalankan sunah-sunahnya. Jika sebuah pepatah ”tak kenal maka tak sayang”  itu menjadi pijakan kita, maka tak salah kalau kita harus membaca biografi beliau secara tuntas. Sehingga akhirnya kita dapat meneladani dan mencintai sunnah-sunnah yang beliau lakukan setia hari.&lt;br /&gt;Bagi seorang muslim, Rasululah saw adalah sumber teladan utama yang patut diikuti. Karena sunnah-sunnahnya mengajari umatnya bagaimana meneguhkan iman dan taqwa, bersabar dalam setiap musibah, bersyukur ketika mendapatkan anugerah, bersikap ridha dan tawakal dalam setiap urusan, bertindak jujur dalam segenap keadaan, serta berjiwa ikhlas dalam beramal.&lt;br /&gt; Akhlak nabi yang demikian luhur dan agung itu karena selalu dipancari dengan kekokohan iman. Sehingga para ulama membuat tiga rumusan kadar iman yaitu; penegasan hati, ucapan dan tindakan. Al-Ghazali misalnya, menyebut kalbu merupakan poros tempat beredarnya iman, ucapan lisan sebagai syarat iman, dan amal perbuatan merupakan pelengkap dan penyempurnya iman.”&lt;br /&gt; Sementara itu, dalam diri nabi Muhammad juga terpatri jiwa taqwa. Yaitu suatu daya atau potensi yang terpancang dalam jiwa yang mampu secara aktif mencegah seseorang dari melakukan larangan Tuhan, dan mendorongnya untuk melaksanakan titah-Nya.&lt;br /&gt;Dalam hidupnya, nabi Muhammad juga selalu sabar. Sikap sabar adalah sikap berhati-hati dalam bertindak, berupaya dengan kemantapan hati yang teguh untuk mencapai hasil yang diharapkan, disertai dengan do’a atau permohonan kepada sang khaliq. &lt;br /&gt;Keteladanan nabi berikutnya yaitu sikap syukur. Ia selalu bersyukur atas pemberian yang diberikan kepadanya. Karena syukur merupakan sikap lahiriyah untuk menunjukkan terima kasih atas suatu nikmat kepada Sang Pemberi nikmat. Pernyataan syukur mengandung empat unsur dan kewajiban, yaitu manifestasi kegembiraan, menyatakan kegembiraan itu dengan ucapan dan perbuatan, mendayagunakan nikmat yang diterima dengan amanah, dan membalas pemberian nikmat itu sesuai dengan tata cara yang ditentukan.  &lt;br /&gt; Tak kalah pentingnya lagi, sikap diri nabi yaitu ridha dan tawakkal. Sikap ini yaitu menerima dengan sepenuh hati atas apa yang ditetapkan Tuhan. Adapun tawakkal adalah menyerahkan nasib diri sebagai usaha kepada Tuhan. Dua sikap ini menjadikan seseorang lebih berhati-hati dalam meraih sesuatu. Karena tak jarang banyak orang prustasi lantaran cita-citanya kadang kandas ditengah jalan.&lt;br /&gt;Salah satu bekal keteladanan dari nabi itu adalah taubat. Secara bahasa, taubat berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Artinya kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat yang terpuji, kembali lari larangan Tuhan menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci Tuhan menuju yang diridha’i-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, dan seterusnya.&lt;br /&gt; Nabi walaupun sudah dijamin masuk surga, tetapi ia selalu taubat atas kesalahan yang dilakukannya. Taubat artinya kembali kepada jalan Tuhan. Dengan mengutip ayat al-Qur’an, nabi saw menyerukan: “Kembalilah kamu sekalian kepada jalan Tuhan, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. Mengapa manusia perlu bertaubat? Kata nabi, karena manusia dihidupkan dan dimatikan hanya oleh Tuhan. Sehingga modal untuk kembali kepada Tuhan hanyalah dengan keadaan Suci (fitrah) dari segala bentuk dosa dan perbuatan maksiat, yang menentang kemahakuasaan Tuhan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-4201418230881644793?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/4201418230881644793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/keagungan-akhlak-nabi-muhammad.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4201418230881644793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4201418230881644793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/keagungan-akhlak-nabi-muhammad.html' title='Keagungan Akhlak Nabi Muhammad'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6405662312564695260</id><published>2010-07-01T05:33:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T05:34:20.488+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Kiat Sukses Menjadikan Hati Tetap Suci</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM jiwa manusia, terdapat dua tabiat yang cenderung bersifat paradoks, yaitu tabiat hasanah (baik) dan sayyi’ah (jelek). Selain manusia dikenal sebagai makhluk yang kasih sayang, lemah lembut, suka menolong, juga dikenal sebagai makhluk yang kejam, otoriter, dan sadis. Kedua tabiat tersebut mengiringi organisme manusia sepanjang hayatnya. &lt;br /&gt;Tetapi, tabiat yang bertolak belakang secara diametral tersebut, masih sangat ditentukan oleh eksistensi kalbu, sebagai potensi (al-quwwah, fakultas) yang menentukan pilihan dan tindakan (action) manusia. Dengan potensi kalbu, manusia dapat membedakan antara baik dan buruk; antara benar dan salah.&lt;br /&gt; Menurut Ibnu Athaillah Al- Sakandari (seorang yang kapasitasnya sebagai sufi), bahwa Dunia tasawuf (sufi) merupakan dunia yang dikenal dekat dengan hati (kalbu). Karena salah satu aspek untuk mencapai derajat sampai ma’rifat, ia harus dapat menundukkan kalbunya terlebih dahulu. Untuk menjadi sufi, sepintas memang terkesan agak sulit, tetapi jika dijalani dengan penuh kesungguhan dan istiqamah tentu pasti akan tercapai. Lantas, bagaimana metode menundukkan hati (kalbu)? Buku yang berjudul Menjaga Kesucian Kalbu, telah menyuguhkan kurang lebih 40 essai supaya kita benar-benar sukses menjaga kesucian kalbu ini.&lt;br /&gt; Sederetan nama sufi, Athaillah merupakan tokoh ulama yang zahid, wara’ serta sebagai duta orang-orang ‘arif dan imam para sufi. Sufi asal Iskandariyah itu sejak usia dini memang memiliki semangat berguru pada mursid-mursid (guru sufi) pendahulunya. Atas keberhasilannya, ia sangat dikagumi pada zamannya, khususnya kepiawiannya dalam bidang ilmu syari’at dan hakikat. Demikianlah sekilas “otobiografi” sang penulis buku ini.&lt;br /&gt; Dalam sebuah tulisannya, Athaillah menegaskan bahwa untuk meraih derajat tinggi dan tempat mulia di hadapan Allah, diperlukan kedalaman pengetahuan pada diri Muhammad Saw, sebagai utusan Allah. Bagi kaum Muslim, figur utama yang perlu diikuti dan dihormati adalah Rasulullah, kata Athailah dengan nada semangat. Dengan mengikuti sunnah Rasul, secara pasti kehidupan ini akan terbimbing ke arah jalan yang diridhai Allah. &lt;br /&gt; Metode ampuh untuk menjaga kesucian kalbu adalah dengan taubat. Secara bahasa, taubat berakar dari kata taaba yang berarti kembali. Artinya kembali dari sifat-sifat tercela menuju sifat yang terpuji, kembali lari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci Allah menuju yang diridha’i-Nya, kembali dari yang saling bertentangan menuju yang saling menyenangkan, dan seterusnya.&lt;br /&gt; Jalan taubat sengaja di buka oleh Allah guna apabila seorang Muslim melakukan kesalahan, baik yang besar maupun kecil, ia wajib segera kembali kepada jalan Allah. Dengan mengutip ayat al-Qur’an, Athaillah menyerukan: “Kembalilah kamu sekalian kepada jalan Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. Mengapa manusia perlu bertaubat? Kata Athailah, karena manusia dihidupkan dan dimatikan hanya oleh Allah. Sehingga modal untuk kembali kepada Allah hanyalah dengan keadaan Suci (fitrah) dari segala bentuk dosa dan perbuatan maksiat, yang menentang kemahakuasaan Allah.&lt;br /&gt; Hal menarik lainnya dari essai Athaillah adalah muhasabah (introspeksi diri). Manusia seharusnya punya kesadaran bahwa dirinya selalu dalam pengawasan Allah di manapun ia berada, baik siang maupun malam. Dengan demikian, manusia akan terdorong untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri, perhitungan, evaluasi) terhadap amal perbuatan, tingkah laku dan sikap kalbunya sendiri. Menurut Athailah, Muhasabah dapat direncanakan sebelum melakukan sesuatu dengan secara tepat dan matang. Mempertimbangkan terlebih dahulu baik-buruk dan manfaat perbuatannya itu. &lt;br /&gt; Satu hal lagi yang menjadi catatan Athaillah agar Kalbu tetap suci adalah sikap ikhlas. Secara etimologis, ikhlas berakar dari khalasha yang berarti bersih, jernih, murni; tidak tercampur. Ikhlas bagaikan air bening yang belum tercapur oleh zat apapun. Sikap ikhlas berarti membersihkan atau memurnikan dari setiap kemauan, keinginan yang didasarkan bukan kepada Allah.&lt;br /&gt; Masih mangenai ikhlas, ia menjelaskan bahwa segala amal perbuatan yang dikerjakan manusia jika tidak ikhlas, maka amal perbuatan tersebut tidak diterima Allah. Dengan kata lain, ihklas mengajarkan supaya manusia berbuat tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah.. Karenanya, setiap perbuatan  harus diawali dengan kata niat. Seperti yang dianjurkan Nabi: “Sesungguhnya segala amal perbuatan bergantung kepada niat. Dan sesungguhnya setiap orang memperoleh sesuatu sesuai dengan niatnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6405662312564695260?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6405662312564695260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/kiat-sukses-menjadikan-hati-tetap-suci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6405662312564695260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6405662312564695260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/07/kiat-sukses-menjadikan-hati-tetap-suci.html' title='Kiat Sukses Menjadikan Hati Tetap Suci'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-2239974924362366185</id><published>2010-06-20T16:48:00.000+07:00</published><updated>2010-11-17T16:49:19.478+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Kepemimpinan dan Manajemen Mutu Pendidikan</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH satu aspek terpenting yang mempengaruhi kualitas pendidikan adalah kepemimpinan dan manajemen mutu. Banyak hasil penelitian membuktikan bahwa melalui manajemen mutu (management quality) dan kepemimpinan yang efektif, kondisi sekolah atau Perguruan Tinggi (PT) dapat terselenggara secara  lebih baik. Bahkan, akhir-akhir ini telah banyak lembaga pendidikan yang memiliki penjaminan mutu (Quality Assurance) yang akuntable, otonom, dan transparan guna memberikan pelayanan dan meningkatkan aktivitas pembelajaran yang terukur.&lt;br /&gt; Salah seorang pakar manajeman pendidikan terkemuka Amerika Serikat, Sammon (1994), merekomendasikan dalam sebuah penelitiannya bahwa “efektifitas dan kemajuan sekolah di negara-negara modern” itu karena dibangun mulai dari sisi kepemimpinan dan penataan kembali manajemennya. Ia meyakini bahwa kedua variabel inilah yang mampu menyulap pendidikan dari yang biasa menjadi luar biasa, yang “jenuh” menjadi maju.&lt;br /&gt; Pendapat yang serupa juga disampaikan Tony Bush dan M. Coleman. Tampak lebih, jika membaca karyanya berjudul “Leadership and Strategic Management In Education” (2006), bahwa manajemen sekolah dan Perguruan Tinggi di beberapa negara, misalnya Amerika, Australia, Hongkong, Inggris, dan Selandia Baru dapat maju dan berkembang, karena didukung melalui kepemimpinan dan manajemen yang unggul. Negara-negara tersebut sejak lama telah menerapkan manajeman yang canggih guna meningkatkan produk kualitas lulusannya, baik itu pada level lembaga sekolah maupun universitas.&lt;br /&gt; Pendidikan adalah lembaga yang bergerak dalam bidang noble industry (industri mulia) yang mengemban misi ganda, yaitu setengah profit dan sosial. Dikatakan profit, karena tanpa modal dan dukungan finalsial yang cukup, pendidikan juga tidak dapat berlangsung secara baik. Namun bukan untuk mengambil keuntungan yang sebagaimana perusahaan itu. &lt;br /&gt;Pada prinsip pengelolaannya, baik sekolah maupun perguruan tinggi sama-sama membutuhkan penjaminan mutu sebagai tolak ukur untuk menilai keberhasilan atau kegagalannya. Sebab, tanpa adanya penjaminan mutu, lembaga pendidikan sulit melihat sejauhmana ketercapaian kualitas atau daya saing yang dimiliki.&lt;br /&gt; Tony Bush dan M. Coleman menambahkan, bahwa membangun sistem kepemimpinan dan manajemen mutu terkadang memang sulit dibedakan, tetapi yang jelas keduanya saling memiliki relasi yang sangat erat. Kepemimpinan bila tidak dibarengi dengan visi dan misi manajemen yang baik, maka melahirkan tipe pemimpin yang buruk. Jadi keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk membangun sistem lembaga pendidikan yang kredibel, kuat dan unggul.&lt;br /&gt; Kalau lembaga pendidikan tidak didukung oleh pemimpin yang kualitas yang paham tentang seluk beluk manajemen, maka rawan bahkan mengkhawatirkan memunculkan  sistem manajemen yang kurang efektif. Yang ujung-ujungnya lembaga pendidikan akan mengalami stagnasi dan status quo. Bisa jadi malah akan meruntuhkan sendi-sendi organisasi kepemimpinannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Manajemen Mutu&lt;br /&gt; Tujuan dari manajemen mutu pendidikan adalah untuk memelihara dan meningkatkan kualitas pendidikan secara berkalanjutan (sustainable), yang dijalankan secara sistemik untuk memenuhi kebutuhan stakeholders. Pencapaian ini butuh sebuah manajemen yang efektif dan kepemimpinan yang kuat agar tujuan tersebut mampu memenuhi harapan dan keinginan para pelanggan atau masyarakat.&lt;br /&gt;Karena itu, visi manajemen mutu lembaga pendidikan harus mengambil peran aktif mewujudkan keinginan stakeholders. Agar keinginan tersebut tercapai, maka sangat dibutuhkan seorang pemimpin pendidikan yang kaya ide, dan berani mengambil keputusan-keputusan strategis. &lt;br /&gt;Keputusan strategis yang diambil adalah keputusan yang menggunakan pendekatan integratif, tampa mengesampingkan beberapa hal yang harus dikorbankan. Sebab, manajemen pendidikan selalu memberikan peluang guna mengatur dan mencapai berbagai tujuan, baik itu untuk institusi pendidikannya maupun bagi kepentingan masyarakat. &lt;br /&gt; Sebagai imbas dari persaingan pendidikan yang ada, kini sekolah atau PT dituntut punya visi dan misi yang realistis dan transparan. Bahkan, institusi pendidikan diharuskan memiliki sumbangsih riil bagi kemajuan masyarakat. Inilah saatnya bagi dunia pendidikan-- khususnya di negeri ini-- menimbang kembali konsep atau paradigma lama yang dijadikan acuan selama ini.&lt;br /&gt; Membangun mutu manajemen pendidikan harus menjadi agenda dan kerja nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan visi dan misi baru. Visi dan misi yang dibangun harus menegaskan adanya tujuan, filosofi dan nilai-nilai pendidikan, yang merupakan referensi penting dalam membuat keputusan, menentukan strategi, kebijakan dan implementasinya. &lt;br /&gt;Pendidikan sebagai sebuah organisasi juga butuh kerjasama yang kompak, kebersamaan dan komitmen. Dengan adanya kerjasama dan dukungan dari beberapa pihak, maka kepemimpinan dan manejeman memainkan peran-peran strategis. Mengatur “benda hidup” jauh lebih sulit dibanding dengan benda mati. Di sinilah letak pentingya seorang pemimpin menggunakan manajemen yang sesuai napas dan kepentingan banyak orang. &lt;br /&gt;Untuk itu, penciptaan kultur organisasi modern dalam pendidikan sangat penting dilakukan. Kultur organisasi modern akan membentuk orang pada disiplin yang tinggi, membentuk karakter dan sikap yang bertanggungjawab pada pekerjaanya dan memiliki jiwa untuk pengabdian bagi kepentingan khalayak umum. Jika hal ini diterapkan dalam dunia pendidikan, maka perubahan kualitas yang baik akan segera tanpak dari sebelumnya.&lt;br /&gt;Kultur organisasi yang efektif bagi lembaga pendidikan memerlukan kolaborasi dan kooperasi antar komunitas, baik intern maupun ektern. Kolaborasi dan kooperasi yang intensif hanya dapat tercapai manakala tumbuh dari style manajemen dan pola kepemimpinan yang efektif. &lt;br /&gt;Membangun sinergi (synergy building) antar instansi pendidikan juga perlu keluasan dan kelincahan dari sosok pemimpin. Karena itu, jawaban sepenuhnya akan kembali seberapa efektifkah kepemimpinan dan manejemen tumbuh dan berkembang dalam pendidikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-2239974924362366185?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/2239974924362366185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/kepemimpinan-dan-manajemen-mutu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2239974924362366185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2239974924362366185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/kepemimpinan-dan-manajemen-mutu.html' title='Kepemimpinan dan Manajemen Mutu Pendidikan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6738455133598676450</id><published>2010-06-15T07:41:00.000+07:00</published><updated>2010-11-19T07:42:33.236+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Belajar dari Keunikan SAIMS</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MERENGGANGNYA genggaman pemerintah dalam regulasi dunia pendidikan, membawa dampak cukup positif bagi tumbuhnya ide-ide menyenangkan dan inovatif di Tanah Air. Semangat otonomi dan pencanangan manajemen berbasis sekolah turut mendukung terwujudnya pembenahan pendidikan yang didalangi oleh masyarakat.&lt;br /&gt; Secara sporadis muncul sekolah-sekolah yang mencoba menjawab tantangan zaman dengan kreativitas sendiri. Hal ini akan terjadi pluralitas model sekolah dan memacu kegairahan sektor swasta dalam mengelola pendidikan. Banyak bermunculan sekolah-sekolah dengan inovasi baru yang menjadi daya tarik masyarakat di tengah persaingan pendidikan saat ini.&lt;br /&gt; Tulisan ini akan mencoba memotret pendidikan di Surabaya, yaitu ”Sekolah Alam Insan Mulia” yang biasa disingkat SAIMS.  Saat ini SAIMS menjadi salah satu sekolah favorit di kota Surabaya. Sekolah tersebut didesain dengan memadukan antara sentra alam (ayat kauniyah) dengan dimensi nilai-nilai ketauhidan, moral dan spiritual yang itu bersumber pada al-qur’an dan sunnah Nabi (ayat qauliyah). Inilah yang cukup unik dan menarik perhatian bagi semua kalangan.&lt;br /&gt; SAIMS memang sengaja diformat demikian karena melihat pendidikan sekarang ini masih jauh dari harapan. Model baru yang mereka tampilkan bertujuan untuk menghasilkan generasi masa depan yang memiliki integritas kepribadian yang unggul. Sehingg pendidikan di SAIMS dikemas dengan mengahadirkan nilai-nilai ketauhidan, keilmiahan, keindahan, kenyamanan, keteraturan, serta keharmonisan alam yang menular pada kehidupan dan mampu memposisikan pola pendidikan yang humanis yang sesuai dengan kebutuhan manusia saat ini.&lt;br /&gt; SAIMS di Surabaya sengaja didesain dengan kegiatan belajar mengajar yang membuat peserta didik dikenalkan pada alam sekitar atau alam lingkungan kehidupannya sesuai dengan tingkat kematangannya. Anak-anak dengan riang ceria menyantap menu belajar yang diberikan guru setiap harinya. Sejak masuk kelas/sekolah mereka diajari tatakrama, salam bersama, membiasakan hidup bersih, hingga sampai bagaimana baca do’a dan shalat. Ilmu yang sampaikan guru kepada murid senantiana dipadukan dengan kenyataan keseharian, sejarah dan fenomena sosial yang biasa terjadi.&lt;br /&gt;Alam memiliki makna lebih jauh mendekati dan memengaruhi kehidupan anak. Secara alamiah sebagaimana ciri sebuah dunia anak selalu terikat dengan lingkungan sekitar. Anak bukan miniatur orang dewasa, sehingga anak adalah anak yang mempunyai keunikan dunianya sendiri. Anak-anak masih ingin dimanja, ingin selalu bermain, gelak tawanya lepas, minta dilayani, empatinya sangat dominan, selalu ingin tahu, serta sangat lugu dan polos.&lt;br /&gt;Di sekolah alam ini, anak tidak lagi dipandang sebagai objek, melainkan subjek, karena bersama pendidik anak diajak untuk mengoptimalkan kemampuannya sejak dini, menjadi manusia yang selalu ingat Tuhannya, terpuji dan paripurna, sehingga dapat dikatakan sekolah alam berupaya membentuk insan-insan mulia.&lt;br /&gt;Peserta didik juga diajak memecahkan masalah-masalah keseharian, dibiasakan menghadapi problem riil, baru kemudian mereka diajari ilmunya. Sehingga cocok untuk membentuk anak menjadi sosok entrepreneur.&lt;br /&gt;Dalam sistem pembelajarannya anak seringkali masih belum bisa mengungkapkan pikirannya secara verbal (tulisan), melainkan lewat bentuk gambar. Gambar merupakan bahasa anak, sehingga dimanapun dunia anak selalu suka menggambar. Sebelum anak mengenal tulisan, maka bahasa komunikasi, kegembiraan, serta keinginannya di ekspresikan dalam wujud coretan gambar.&lt;br /&gt;Cara yang tepat untuk menilai gambar anak yaitu ajaklah anak-anak ke kebun binatang dan minta mereka membuat dua atau tiga gambar dari apa yang dilihatnya. Kemudian minta setiap anak menyusun gambarnya sendiri dari yang mereka anggap paling baik hingga yang kurang baik. Perhatikan dan pelajari, lama-lama kita akan tahu gambar seperti apa yang dianggap baik dari kaca mata anak-anak sendiri. &lt;br /&gt;Sudah semestinya aspek kreativitas mendapat perhatian lebih dalam dunia pendidikan. Tetapi di SAIMS, perhatian akan kreativitas justru tidak dimunculkan secara eksplisit sebagai mata pelajaran kreativitas, serta dimunculkan pada kegiatan yang bersifat kesenian. Kreativitas dipahami dalam makna yang demikian luas sehingga tidak muncul secara parsial tetapi menjadi spirit bagi semua kegiatan.&lt;br /&gt;Membuat anak kerasan merupakan kata kunci dari penerapan pembelajaran yang menyenangkan. Salah satu aspek yang penting agar anak betah belajar berlama-lama disekolah adalah kondisi lingkungan yang nyaman. Lingkungan ini menyangkut kondisi bangunan fisik gedung sekolah, kelas, halaman, hingga fasilitas pendukung lainnya.&lt;br /&gt;SAIMS yang dibangun di atas lahan seluas 1,1 hektar ini bercorak back to nature yang menampilkan model dan ornamen klasik, modern, kontemporer tetapi tetap menonjolkan jiwa yang menyatu dengan alam. &lt;br /&gt;Ada tiga model yang dikembangkan dalam sistem pendidikan di SAIMS. Yaitu pertama, alam dalam pengertian memperlakukan anak secara alami, sehingga semua proses pembelajaran mengikuti kodrat alami anak. Metode sambil bermain misalnya, menjadi acuan yang sangat relevan.  Pendidikan itu diformulasikan dengan mengedepankan sentra alam yang merupakan tempat dimana manusia ini bertempat tinggal. Dengan menjadikan alam sebagai sentra belajar, siswa lebih cepat peka dan berhasil dalam menghayati dan mengamalkan ilmu yang dimiliki.&lt;br /&gt;Kedua, alam dalam pengertian proses pembelajaran peserta didik diupayakan selalu berangkat dari alam nyata, baru kemudian ditarik ke wilayah konsep atau teori. Anak dikenalkan lebih dulu dengan hal-hal yang nyata dan relevan dengan kebutuhannya, lalu diajak mencari, merangkum, sampai menyimpulkan dan membangun teori sendiri baik konstektual dan konstruktivistik. Dari model ini dikembangkan bahwa pembelajaran di sekolah merupakan kenyataan yang dialami sehari-hari.&lt;br /&gt;Ketiga, alam dalam pengertian alam fisik. Karena anak-anak sekarang terutama anak kota perlu mengetahui kehidupan alam fisik. Misalnya mereka harus dikenalkan bahwa nasi yang mereka makan berasal dari beras, berasal dari padi yang tumbuh di sawah. Melalui model seperti itu bertujuan memberikan pelajaran berharga bagi anak agar dapat mengenal betapa hubungan timbal balik antara satu profesi dengan profesi lainnya. Bahkan tidak cukup sampai di situ, manfaat lainya adalah melahirkan sikap kesadaran dan rasa empati kepada orang yang memiliki pekerjaan yang mulia, seperti petani itu. Yang mampu memberikan suplai berupa hasil tanamannya untuk orang yang tinggal di kota. &lt;br /&gt;Dari ketiga hal di atas, maka secara filosofis nuansa sekolah alam mencerminkan nilai-nilai ideal, sesuai dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk menwujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.&lt;br /&gt; Apa yang dikembangkan SAIMS merupakan sebuah usaha kreatif dalam mencari model pendidikan yang cocok sesuai kebutuhan masyarakat modern saat ini. Usaha-usaha seperti inilah yang perlu kita contoh agar peningkatan mutu pendidikan di Indonesia terus berkembang dan maju. Apa tergambar dalam catatan tersebut adalah sekelumit pengalaman yang dilakukan para penggerak pendidikan di SAIMS. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fak. Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6738455133598676450?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6738455133598676450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/belajar-dari-keunikan-saims.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6738455133598676450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6738455133598676450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/belajar-dari-keunikan-saims.html' title='Belajar dari Keunikan SAIMS'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-352435327221601930</id><published>2010-06-07T09:24:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T09:30:32.710+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Gagasan Sosialisme Islam Ali Syari’ati</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBICARA mengenai sosialisme, tentu juga berbicara tentang suatu paham Marxisme. Sebab ajaran-ajaran sosialisme dipandang sebagai cikal bakal yang mengilhami --untuk tidak menyebut mewariskan-- cara berpikir selanjutnya pada Marxisme. Padahal, hingga kini masih terjadi polarisasi ekstrim antara agama di satu pihak, dengan Marxisme di pihak lain. Agama dan Marxisme adalah dua kekuatan kontradiktif yang cenderung bertolak belakang secara diametral. Lantas, mengapa bisa muncul gagasan sosialisme Islam seperti yang dikemukakan oleh Ali Syariati?&lt;br /&gt;Memasuki masyarakat Dunia Ketiga, Ali Syari’ati dipandang sebagai tokoh yang revolusioner mengembalikan citra Islam dari tuduhan yang statis, anti kemajuan dan anti kemapanan. Sebab, Dunia Ketiga telah sepenuhnya terkena penyakit apa yang dikenal ”westruckness” (mabuk kepayang terhadap Barat dan materialism syndrom) kegilaan terhadap kemegahan materialistik. Padahal modernisme yang dibungkus dengan paham materialisme yang berkembang saat ini tidaklah mampu mengantarkan kebahagiaan dan ketentraman hidup manusia. &lt;br /&gt; Menghadapi syndrom yang serba ke barat-baratan itu, Ali Syari’ati telah membuktikan kepada dunia, bahwa Islam tidaklah reaksioner, pasif, dan status quo. Islam pun menggerakkan manusia melawan berhala-berhala peradaban duniawi itu. Islam adalah revolusioner. Yaitu menata perubahan hidup dari sistem jahiliyah menuju sistem yang berkeadaban dan berkemanusiaan. &lt;br /&gt;Sosok Ali Syari’ati dikenal sebagai intelektual Muslim yang spektrum pemikirannya telah melintas batas geografis dan batas waktu. Ketokohannya dilambangkan dengan berapi-api pidato dan berderet-deret karya tulis yang menggugah semangat, telah membuktikan bahwa dirinya adalah cermin seorang rausyan fikr, sosok manusia ideal yang menjadi cita-citanya.&lt;br /&gt;Pandangan sosialisme Islam Syari’ati sangat berbeda dengan ajaran yang dikembangkan oleh Karl Marx (Marxisme). Marxisme menolak eksistensi agama. Bahkan lebih keras lagi, agama menurut Marx, adalah doktrin sesat yang tidak perlu diikuti. Marxisme menyatakan bahwa agama adalah candu masyarakat (religion is opium). Agama dianggap telah mengalienasi manusia sendiri. Sikap antipati Marxisme terhadap agama tersebut bahkan dijadikan sebagai salah satu pandangan Marxisme yang dikonsepsikan dalam The Alienating Effect of Religion.&lt;br /&gt;Sementara sosialisme Islam seperti yang dinyatakan Syari’ati, adalah paham yang berpihak pada kaum terindas (mustadzafin), dan meluruskan perjalanan sejarah dari kekuasaan tiran menjadi kekuasaan kelompok tercerahkan, berpihak pada kelas bawah (proletar) bersama orang-orang yang berada di jalan Tuhan. Secara jelas, aspek ini berbeda sama sekali dengan padangan Marxisme.&lt;br /&gt;Dengan berlatar belakang keagamaan yang kuat dan mendalam, Syari’ati mengemukakan beberapa ide-ide sosialisme Islam secara berani dan brilian. Gagasannya ditujukan kepada seluruh rakyat Iran, mulai dari lapisan intelektual, mahasiswa, ulama, sampai berbagai kelompok sosial-pekerja. Dari sanalah sosialisme Islam mendapatkan tempat dan mulai ada kesadaran akan perubahan bagi kondisi yang lebih baik, keberanian untuk bergerak, dan kesadaran kelas mulai geliat muncul.&lt;br /&gt;Untuk mengubah tatanan sistem dunia yang serba ”Marxis” seperti itu dibutuhkan kesadaran tauhid, yaitu sebuah pandangan dunia mistik-filosofis yang memandang jagad raya sebagai sebuah organisme hidup tanpa dikotomisasi, semua adalah kesatuan (tauhid) dalam trinitas antara tiga hipotesis; Tuhan, Manusia dan Alam. Pandangan ini dengan sendirinya membantah eksistensi ajaran Marxisme, yang tidak mengakui kesatuan trinitas itu. Bagi Syari’ati, tauhid memandang dunia sebagai suatu imperium, sedangkan lawannya syirik memandang dunia sebagai suatu feodal. Dengan pandangan ini maka dunia memiliki kehendak, kesadaran diri, tanggap, cita-cita, dan tujuan.&lt;br /&gt;Syari’ati juga punya concern terhadap nasip negara Dunia Ketiga, di mana mereka dijajah secara ekonomi, politik, dan kultural oleh Barat. Dalam konteks Iran, untuk menyerang imperium seperti itu, Syari’ati mengangkat ideologisasi Islam. Dengan mengekspresikan akar tradisi Islam, semua bentuk realitas kedzaliman pasti bisa teratasi sepanjang jiwa Islam dipahami secara benar. Barangkali sikap demikian ini, Syari’ati memanfaatkan warisan masa silam dari dinasti Shafawi, atau mungkin dari khalifah Ali, sebagai inspiratornya. Syari’ati tidak pernah diam berbuat dan berpikir demi kemajuan negaranya. Beliau ingin menghidupkan Rausyan fikr kembali, sebagai sosok yang mempunyai kesadaran dan tanggungjawab untuk menghasilkan lompatan besar dalam sejarah dunia.&lt;br /&gt;Dalam dunia sosial-politik, Syari’ati dikenal memiliki komitmen luar biasa pada keadilan dan membela kaum rakyat tertindas. Bahkan diakui, Syari’ati telah memberikan kontribusi dan sekaligus sebagai inspirator terhadap gerakan-gerakan Islam radikal dipelbagai belahan dunia Islam, terutama dalam melawan rezim otoriter. Rezim otoriter yang dibawah pimpinan Syah Iran yang disetir Barat, di luluh-luntakkan oleh Syari’ati. Dengan demikian keberhasilan revolusi Iran pada 1979 telah memberikan dampak yang cukup besar pada dunia Arab.&lt;br /&gt;Melihat sosoknya yang begitu meledak-ledak, sampai seorang pemikir Marxis terkenal bernama Fred Halliday mengakui bahwa kaum Marxis di seluruh dunia merasa iri dengan revolusi Iran 1979, oleh karena revolusi massal Iran mampu menarik berjuta-juta rakyat Iran turun ke jalan menumbangkan rezim Syah yang sedang berkuasa dengan otoriternya. Padahal secara “revolution en massre”, yaitu revolusi yang benar-benar diledakkan oleh massa seperti Iran itulah –suatu revolusi yang didorong oleh ide-ide Islam revolusioner- suatu revolusi yang diimpi-impikan oleh Karl Marx dan Engels selama ini.&lt;br /&gt;Sosialisme Islam seperti yang digubah oleh Syari’ati memiliki visi yang cemerlang bagi peningkatan kesadaran masyarakatnya. Islam sebagai agama tidak hanya dipahami sekadar aktivitas ritual dan fiqh yang tidak menjangkau wilayah politik, apalagi masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Islam harus dikonstruk sebagai sumber inspirasi emansipasi dan pembebasan. Yaitu nilai-nilai yang menjungjung tinggi keadilan dan kesamaan derajat. Islam tidak mengenal kelas/kasta yang membelenggu tatanan sosial, yang sebagaimana itu diciptakan dalam paham Marxisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-352435327221601930?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/352435327221601930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/gagasan-sosialisme-islam-ali-syariati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/352435327221601930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/352435327221601930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/gagasan-sosialisme-islam-ali-syariati.html' title='Gagasan Sosialisme Islam Ali Syari’ati'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-346275716710528149</id><published>2010-06-06T12:01:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T12:01:51.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Memahami Ranah Pendidikan</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBICARA pendidikan adalah berbicara tentang keyakinan, pandangan dan cita-cita tentang hidup dan kehidupan umat manusia dari generasi ke generasi. Pendidikan tidak dapat dipahami secara terbatas hanya “proses pengajaran” mentransfer pengetahuan, melainkan menanam nilai-nilai sikap dan tingkah laku (akhlaq) serta menumbuh-kembangkan kecakapan hidup (life skill) manusia.&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan proses pendewasaan dan sekaligus ‘memanusiakan’ manusia. Dikatakan ”memanusiakan”, karena manusia lahir hanya membawa bekal potensi. Dengan pendidikan, potensi manusia diharapkan dapat tumbuh dan berkembang secara wajar dan sempurna, sehingga ia dapat melaksanakan tugas sebagai manusia sejati.&lt;br /&gt;Pendidikan pada hakikatnya adalah kerja akal budi atas fitrah yang dibekalkan Tuhan kepadanya. Potensi yang diberikan oleh Tuhan memang dapat dikatakan masih setengah jadi, sehingga butuh sentuhan proses pendidikan agar potensi tersebut berkembang maksimal. Dalam Islam, mengenyam pendidikan dipandang sebagai kewajiban personal sepanjang hayat manusia (life long education). &lt;br /&gt; Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia dibekali oleh sang khaliq dengan protensi kodrat yang sempurna, yaitu potensi cipta, rasa dan karsa. Potensi berharga inilah yang mengantarkan bahwa manusia adalah khalifah di dunia ini. Dengan dukungan potensi tersebut, manusia tidak selalu memiliki orientasi yang tinggi untuk mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan yang terkandung pada realitas yang ada.&lt;br /&gt;Melalui proses pendidikan itulah hidup manusia akan mencapai sebuah kehidupan yang baik. Segala sesuatu yang tergelar di jagat raya ini pasti membutuhkan ilmu, baik ilmu duniawi maupun ukhrawi. Kedua ilmu  tersebut harus dikuasai secara seimbang, karena “masa depan” manusia juga ditentukan oleh seberapa jauh manusia menguasainya. Keberhasilan menggapai duniawi maupun ukhrawi akan sangat ditentukan kadar keilmuan yang diraihnya.&lt;br /&gt;Ilmu dalam pendidikan adalah objek utama manusia. Sehingga dapat dikatakan bahwa ilmu dan pendidikan bagaikan dua sisi pada mata uang, keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan. Pendidikan sebagai proses ‘transfer’ ilmu yang umumnya dilakukan melalui tiga cara; lisan, tulisan, dan perbuatan.&lt;br /&gt;Begitu pentingnya kedudukan ilmu, sehingga Islam menganjurkan manusia agar meraihnya sampai titik paripurna. Ilmu juga dipandang ikut mengiringi atau menentukan nasip baik buruk manusia. Dan pembicaraan ilmu dalam pendidikan fikih ini, minimal mencakup tujuh unsur; yaitu pendidikan keimanan, etika/akhlak, fisik/jasmani, rasio/akal, kejiwaan/hati nurani, sosial kemasyarakatan, dan seksual.&lt;br /&gt;Kegiatan pendidikan harus dimulai dari pendidikan pribadi atau keluarga, lembaga sekolah, dan masyarakat. Ketiganya harus terjalin dan berlangsung secara terpadu, selaras, serasi, seimbang, dan harmonis. Pendidikan tidak akan berfungsi dengan baik bila hanya berjalan parsial. Karenanya dibutuhkan pengelolaan secara integratif dengan memadukan semua unsur yang mendukungnya. Dari sinilah pendidikan akan menghasilkan sosok pribadi yang tangguh.&lt;br /&gt;Pendidikan harus dimulai dari institusi keluarga, sekolah dan masyarakat secara sinkron dan integrated dalam memberikan pengaruh pendidikan kepada anak. Problemnya kini banyak keluarga yang kurang perhatian dan tidak memberikan reference person (suri tauladan) kepada anak. Begitu pula dengan aturan-aturan masyarakat yang sangat longgar sehingga memunculkan pergaulan bebas yang mutatif. Padahal pendidikan keluarga dan masyarakat merupakan pendidikan yang bersifat pembentukan karakter dan tabi’at, ketimbang kognitif.&lt;br /&gt;Selain pembentukan sosok pribadi di atas, tujuan pendidikan diharapkan mampu mencetak manusia berjiwa tauhid (berkedalaman spiritual), beramal shalih (berbuat dengan ilmunya), ulil albab (pemikir, ahli dzikir dan amal shaleh), serta berakhlak mulia. &lt;br /&gt;Untuk mewujudkan pendidikan yang ideal tersebut diperlukan usaha dan kerja keras serta dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Bila perlu, rekonstrusi sistem pendidikan baik secara mikro maupun makro sudah harus dilakukan. Dengan berbekal masa lalu, pengalaman untuk menangani dan menyelesaikan persoalan pendidikan masa kini dan masa yang akan datang butuh penanganan secara lebih serius, matang dan cermat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-346275716710528149?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/346275716710528149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/memahami-ranah-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/346275716710528149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/346275716710528149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/memahami-ranah-pendidikan.html' title='Memahami Ranah Pendidikan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-4174353630176720340</id><published>2010-06-05T12:52:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T12:52:36.971+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>“Kisah Sejarah” dalam Al-Qur’an</title><content type='html'>Mujtahid &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBEDAAN interpretasi dalam memaknai konteks ayat al-Qur’an merupakan bagian dari naluri kemanusiaan. Dalam segala hal, perbedaan jangan dianggap sebagai penghalang, yang memisahkan semangat manusiawi dengan kemampuan-kemampuan yang diberikan Allah untuk mengetahui kebenaran wahyu sepanjang ia berada di dalamnya.&lt;br /&gt; Selama ini, para penafsir sering melakukan pengkajian kisah sejarah dalam al-Qur’an dianggap benar (pernah) terjadi. Padahal, sejarah bukanlah semata-mata tujuan utama al-Qur’an. Begitu pula dengan sebagian penafsir, interpretasi tentang kisah dalam al-Qur’an lebih terjebak pada pendekatan historis seperti halnya membaca teks-teks kitab sejarah.&lt;br /&gt; Menurut Khalafullah, seorang Sarjana Doktoral Mesir di bidang Sastra Arab yang melakukan penelitian berjudul “al-Fann al-Qashashi fi al-Qur’an al-Karim, dengan pendekatan metodologi sastra dalam melihat kisah-kisah dalam al-Qur’an. Untuk menjelaskan nilai-nilai kisah dalam al-Qur’an sangat membutuhkan interpretasi dan metodologi sartra. Dalam tradisi barat, sastra adalah sebuah karya dan warisan sejarah memiliki kemampuan dalam mengekspresikan sisi logika, psikologis, dan seni dalam sebuah teks. Melalui pendekatan metodologis sastra semacam ini akan banyak terungkap dimensi seni dan sastra yang dimiliki al-Qur’an sebagai salah satu kemukjizatannya.&lt;br /&gt; Penggunaan metodologis seperti ini masih tergolong baru dan belum pernah diterapkan. Karena itu, karya yang ditulis oleh Khalafullah sempat menjadi perdebatan dan polemik di kalangan ulama, politisi dan Guru Besar Mesir, terutama bagi anggota tim penguji yang sebelumnya menampakkan ketidaksetujuannya atas gagasan itu. Artinya, sebuah pemikiran baru dipandang berbahaya bagi agama dan merusak keimanan mereka yang melakukannya. Bahkan, polemik tersebut lebih bersifat politis ketimbang mendahulukan pertimbangan ilmiah dan kebenaran agama.&lt;br /&gt; Seperti yang diungkap Khalafullah, bahwa pokok perbedaan yang sebenarnya disebabkan karena kelambanan dan kurangnya pemahaman saja. Penjelasan tentang ayat-ayat al-Qur’an yang selalu disebut al-Qur’an sebagai al-Haqq (kebenaran) bukanlah seperti yang dipercayai umat Islam umumnya. Karena kata al-Haqq sesungguhnya menjadi kontroversial karena kata tersebut diiringi dengan kata amtsâl (perumpamaan).&lt;br /&gt;Begitu pula dengan pandangan tentang al-matsl juga ditujukan untuk al-qishshah (kisah), karena al-matsl sering dijadikan sebuah kisah, atau sebaliknya sebuah kisah sering dijadikan al-matsl (perumpamaan).  Padahal dalam al-Qur’an, penggunaa al-matsl didahului al-dharb (membuat). Hal itu menunjukkan unsur kesengajaan atau frase yang digunakan untuk menceritakan peristiwa tertentu yang serupa dan sama dengan yang dialami.&lt;br /&gt; Menurut hasil intrepretasi dan analisis teks selama ini, Khalafullah berkeyakinan bahwa sepanjang pengetahuannya para penafsir jarang yang mau menyentuh metode pendekatan sastra. Justru mereka mencari alternatif lain yang kurang tepat. Langkah-langkah penafsir dalam menyikapi unsur-unsur sejarah sebuah kisah ini mengakibatkan munculnya fenomena-fenomena penafsiran yang beragam dan menemukan kejanggalan-kejanggalan penafsiran.&lt;br /&gt; Menyikapi hal itu, rekomendasi dari temuanya, Khalafullah menjelaskan tentang beberapa hal yang patut menjadi bahan pemikiran. Pertama, penafsir yang menjadikan sejarah sebagai pendekatan, sering berpanjang-lebar membahas persoalan-persoalan sejarah. Sehingga seolah-olah kisah al-Qur’an tersebut dijadikan tema pokok dan dibahas sebagaimana dilakukan dalam buku sejarah. Kedua, pendekatan yang diyakini penafsir sebagai sebuah cara yang tepat untuk menafsirkan kisah-kisah al-Qur’an membuat mereka fanatik. Dengan pendekatan semacam ini, mereka mengganggap metode pendekatan sastra sangat tidak relevan untuk diterapkan. Ketiga, ketergantungan penafsir kepada pengetahuan sejarah, israiliyat, dan perkiraan analisa, ternyata tidak dapat membantu mereka memecahkan misteri dan menyingkap tabir kisah.&lt;br /&gt; Jika masih menggunakan pendekatan sejarah, maka dikhawatirkan materi kisah dan kebenarannya, seringkali justru membuat penafsir keliru dalam menyikapi kisah-kisah itu. Sebab, kebanyakan materi kisah atau peristiwa yang diceritakan tersebut tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui dari sejarah. Melalui nalar Islam, kisah-kisah sejarah tidak dapat dipahami sebagai sebuah realitas sejarah, kecuali dengan pelbagai macam takwil.&lt;br /&gt; Barangkali pandangan dan pemikiran yang digagas oleh Khalafullah itu dapat menjadi diskusi lebih lanjut oleh para mufassir dan ahli sastra di perguruan tinggi. Untuk mengisi ruang kevakuman selama ini, ada baiknya jika gagasan tersebut mendapat perhatian dari kalangan yang mendalami ilmu tafsir. Dengan begitu diharapkan wacana dan hasil pemikiran semacan ini dapat menambah wawasan  dan pengetahuan baru bagi orang yang mendalami ilmu-ilmu al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-4174353630176720340?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/4174353630176720340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/kisah-sejarah-dalam-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4174353630176720340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4174353630176720340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/kisah-sejarah-dalam-al-quran.html' title='“Kisah Sejarah” dalam Al-Qur’an'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6371723920415330279</id><published>2010-06-04T09:31:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T09:33:00.913+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Memburu Makna Agama</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGAMA adalah bentuk pengakuan adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi. Istilah agama diambil dari kata Sankrit, yang tersusun dari kata a (tidak) dan gam (pergi), jadi agama itu tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi turun-temurun. Memang, agama memiliki sifat dasar yang demikian, begitulah Kata Harun Nasution, ketika mengulas arti agama, dalam bukunya berjudul “Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya”. Lantas, mengapa agama harus di buru? &lt;br /&gt; Secara artifisial, agama tidaklah pernah pergi. Sebab, jika agama pergi, maka Tuhan juga akan ikut pergi. Maknanya adalah jika agama itu pergi, maka agama dipandang tidak sanggup lagi menghadirkan nilai-nilai kedamaian, kerahmatan serta keadilan bagi manusia. Sebab yang harus di cari adalah “makna” atau “pesan suci” yang terselip dijantung agama itu, barangkali sudah jauh meninggalkan kita yang telah hilang dan tak berfungsi lagi untuk mengontrol kehidupan ini. Sehingga memburu makna agama, seperti yang tanpak pada judul di atas, adalah kewajiban personal yang harus dilaksanakan setiap manusia, untuk menelusuri makna yang sudah menyimpang dari jalurnya.&lt;br /&gt; Dalam kajian agama, pasti tidak terlepas dari pembicaraan mengenai Tuhan, manusia, alam; tentang iblis dan malaikat; tentang dosa dan pahala; tentang neraka dan surga; tentang masa kini, masa lalu/lampau, dan masa depan yang tak berujung; tentang yang terpikirkan dan yang tak terpikirkan. Pokok pembicaraan di atas, sudah menjadi kajian sehari-hari, baik perkuliahan di kampus-kampus, ceramah di tempat peribadatan, hingga dakwah kampung dari rumah ke rumah. &lt;br /&gt; Adalah Wilfred C. Smith, seorang pakar studi studi agama-agama dunia,  beranggapan bahwa memahami sebuah agama (religius) seharusnya memerlukan cara dan konteks baru. Hal ini penting, karena kesadaran manusia selalu mengalami evolusi yang setiap saat bisa berubah. Apalagi perubahan itu kini didorong oleh kemajuan berpikir manusia dan kepesatan sains, teknologi serta informasi.&lt;br /&gt;  Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman religius manusia selalu mengalami perubahan. Bahkan, setua usia manusia itu pengalaman religius itu mengalami perubahan. Istilah religius berakar dari kata religi, yang artinya mengumpulkan, membaca. Maksudnya, dengan agama manusia dianjurkan membaca aturan-aturan yang telah ditetapkan Tuhan kepadanya. Religi juga punya makna mengikat. Artinya, dengan agama manusia dibatasi dengan norma dan doktrin yang menjadi sumber ajaran kenenaran.&lt;br /&gt; Setiap mukmin (orang beriman) memiliki kesadaran dan penghayatan yang berbada-beda sesuai dengan tingkat pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya. Bahkan, persepsi berbeda-beda itu bisa muncul dalam satu komunitas keagamaan pada satu masyarakat. Sebab, di satu pihak, kadang-kadang esensi agama hanya menjadi tolak ukur (pandangan) bagi manusia (spektator). Tetapi di lain pihak, agama menjadi bagian intrinsik yang ia lakukan setiap detak nafas manusia (aktor). Sehingga kebenaran (makna) agama terkadang sangat pelik diukur, bahkan ruwet untuk menggambarkan mana yang sesungguhnya paling hakiki itu.&lt;br /&gt;Wilfred C. Smith menawarkan solusi bagi umat beragama, yaitu dengan cara memahami dan menambah keyakinan bahwa agama merupakan sumber nilai kebaikan untuk keutuhan hidup dan kehidupan manusia. Berbeda dengan para pengkaji modern, bahwa agama cenderung dipisahkan dari kehidupan nyata (profan). Agama hanya dimaknai sebagai ritual, yang terbatas pada penyembahan secara sempit. Sehingga agama seolah-olah tidak menyentuh kehidupan duniawi.&lt;br /&gt;Cara beragama seperti itu, kemudian dibantah oleh Smith, bahwa dengan agama justru menjadi penopang semangat dan sumber inspirasi dan kreasi hidup manusia. Karena dibalik yang “nyata” itu ada sesuatu yang “metafisis’, dan justru sebagai ikon penting yang harus diperhatikan manusia. Dengan begitu, kata Smith, manusia akan menemukan “makna” agama yang semestinya.&lt;br /&gt;Agama diturunkan adalah mengatur kehidupan manusia agar damai, selamat dan penuh keberkahan. Agama dapat efektif bagi manusia, apabila manusia mampu mencari “makna-makna” yang tersurat maupun tersirat secara bersunguh-sungguh. Upaya ini penting dilakukan, karena tak jarang agama hanya sebagai simbol religius seseorang yang tidak fungsional bagi pembentukan perilaku dan perbuatan. Agama hanya diekspresikan “makna” luarnya saja, yang cenderung formal, monolilitik, asosial, dan eksklusif. Agama hanya menjadi sumber perbedaan dan permusuhan, yang ujung-ujungnya menggiring pada konflik dan peperangan.&lt;br /&gt;Untuk membuka lebar-lebar kesadaran terhadap proses pencarian makna agama yang sejati, dibutuhkan upaya serius para pelaku dan pemeluk agama. Caranya adalah dengan merefleksi ulang apa yang sudah kita lakukan selama ini, dan menambah pengetahuan baru mengenai makna-makna agama itu untuk memperbaiki aktualitas kehidupan di dunia ini.&lt;br /&gt; Semangat universal yang terpancar agama sungguh merupakan misi mulia yang harus ditegakkan di muka dunia ini. Masyarakat modern yang justru memisahkan agama dan dunia, kini harus dilawan dengan cara memahami agama secara integral tanpa mendikotomi agama dan dunia. Dengan cara itulah diharapkan muncul kesadaran baru yang anggun, beradab dan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6371723920415330279?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6371723920415330279/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/memburu-makna-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6371723920415330279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6371723920415330279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/memburu-makna-agama.html' title='Memburu Makna Agama'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8109657684143154799</id><published>2010-06-03T12:29:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T12:30:01.784+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Kegagalan Demokrasi dalam Negara Islam</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM putaran sejarah global, perdebatan hubungan antara Islam dan demokrasi belum pernah tuntas. Dalam sejarahnya, tak jarang mereka menepis argumentasi satu sama lain dengan saling menjatuhkan. Perdebatan itu misalnya, bisa kita lacak dalam korpus argumen Abul A’la al-Maududi, Hasan al-Banna yang mewakili anti demokrasi di satu pihak, sementara argumen Ali Abdur Raziq, Fazlur Rahman yang lebih mendorong pada cita-cita demokrasi di lain pihak.&lt;br /&gt; Adalah Bernard Lewis, dkk, yang menulis buku berjudul ”Islam Liberalisme Demokrasi; Membangun Sinergi Warisan Sejarah Doktrin dan Konteks Global” Dalam buku ini, Bernard Lewis, dkk, menjelaskan gagasan-gasan baru yang tergolong  cukup ‘langka’, yaitu menampilkan nuansa dan wacana baru mengenai relasi antara Islam dan demokrasi yang holistik. Tesis utama yang menjadi sorotan dalam antologi itu adalah mengapa demokrasi justru gagal dipraktekkan di negara-negara Islam? Negara yang mayoritas berpenduduk muslim justru jauh dari prinsip-prinsip demokrasi. Indonesia misalnya, termasuk kategori tersebut karena upaya untuk membangun demokrasi di negeri ini masih jauh dari panggang api. Menanggapi masalah ini, ada sebagian pakar yang masih tetap optimis dan sebaliknya ada yang pesimis bahwa demokrasi itu bisa muncul di negara Islam.&lt;br /&gt; Menurut Mun’im A. Sirry, bahwa ‘kelangkaan demokrasi’ di dunia Islam paling tidak dipetakan menjadi tiga hal berikut ini. Pertama, adanya pemahaman doktrinal yang menghambat demokrasi. Elie Kedourie mengembangkan dalam teorinya bahwa “gagasan demokrasi masih cukup asing dalam mind-set Islam.” Kaum muslim memahami bahwa demokrasi adalah sesuatu yang bertentangan dengan Islam. Di sinilah letak kekeliruan cara pandang umat Islam. Karenanya, perlu adanya liberalisasi pemahanan keagamaan, termasuk mencari konsensus teori-teori yang berkembang di dunia modern.&lt;br /&gt; Kedua, kurangnya pengalaman demokrasi, yang seterusnya menjadi persoalan kultur. Experimentasi demokrasi yang selalu gagal diterapkan di negara Islam, karena sudah terbiasa dengan ‘otokrasi dan kepatuhan pasif’. Betulah ungkap Bernard Lewis dan Ajami dalam teorinya. Karena itu, perlu ada penjelasan kultural kenapa demokrasi tumbuh subur di Eropa, tetapi di wilayah dunia Islam malah otoritarianisme yang berkembang. Dengan demikian, sebenarnya lokus perdebatannya bukan terletak pada “apakah Islam compatible dengan demokrasi” melainkan bagaimana keduanya saling memperkuat (mutually reinforcing).&lt;br /&gt; Ketiga, adanya sikap yang terburu-buru menilai kegagalan demokrasi yang di experimenkan di negara Islam, dan hal ini berarti bertentangan dengan sifat dasar demokrasi. Padahal upaya membangun demokrasi diperlukan sifat kesungguhan dan kasabaran. Demikianlah optimisme yang muncul dari Esposito dan Voll.&lt;br /&gt; Melalui pengalaman sejarah, Islam dan demokrasi dipandang sebagai dua sistem politik yang berbeda. Sebagai sistem politik, Islam tidak dapat disubordinasikan kepada demokrasi. Islam dipandang sebagai suatu sistem nilai yang akomodatif terhadap demokrasi yang didefinisikan secara prosedural dan dipraktekkan di Barat. Pemahaman inilah yang mempengaruhi hubungan tersebut sulit menyatu dalam format yang ideal.&lt;br /&gt; Salah satu jalan untuk bergerak netral adan upaya mensintesiskan antar keduanya. Seiring dengan intensitas kajian tentang relasi Islam dan demokrasi, persolannya kini menjadi bergeser bukan lagi menyangkut kompatibilitas Islam dengan demokrasi, melainkan bagaimana demokrasi dapat build-in dalam tradisi muslim, baik secara paradigmatik, etik maupun epistemologis. Demokrasi tidak selalu dipahami secara tunggal, Islam juga bukanlah tafsir yang monolitik. Karena itu, yang memungkinkan keduanya berhubungan secara dialektis.&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8109657684143154799?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8109657684143154799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/kegagalan-demokrasi-dalam-negara-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8109657684143154799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8109657684143154799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/kegagalan-demokrasi-dalam-negara-islam.html' title='Kegagalan Demokrasi dalam Negara Islam'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7135890566110253138</id><published>2010-06-02T10:01:00.001+07:00</published><updated>2010-06-02T10:06:45.557+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='remaja'/><title type='text'>Menyelami Problema Kehidupan Remaja</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;DUNIA remaja selalu identik dengan problem. Bukan remaja kalau bukan punya problem, begitulah kira-kira ungkapan yang tepat. Akibatnya, kini banyak orangtua yang bingung menghadapi anaknya ketika memasuki usia remaja. Bahkan, kadangkala orangtua ikut larut stress lantaran anaknya yang sedang menghadapi usia-usia transisi (remaja). &lt;br /&gt; Di Amerika Serikat, pernah dilakukan sebuah penelitian tentang kehidupan remaja. Dari penelitian itu merekomendasikan bahwa kaula muda (remaja) adalah tempat berseminya sebuah problem. Bev Cobain misalnya, seperti yang terungkap dalam bukunya “When Nothing Matters Anymore: a Survival Guide for Depressed Teens”  menyatakan, ada sekitar 18 juta penduduk Amerika mengalami problem depresi. Dua puluh persennya adalah Siswa Menengah Atas (SMA) atau usia remaja, yang rata-rata punya masalah psikiatris. Remaja yang terus menerus sedih, marah, kalut, salah paham, atau memberontak, kemungkinan besar adalah mengalami problem.&lt;br /&gt; Tidak ada orangtua yang tidak sedih ketika melihat anaknya diterpa tekanan batin, patah semangat, free sex, pecandu narkotika, suka tawuran dan lain-lain. Lebih-lebih, kini kehidupan di kota-kota besar sangat mengerikan. Metropolitan sebagai simbol kota yang bebas dan “serba ada” cenderung mengiring keadaan menjadi problem remaja. Tidak salah, kalau problematika usia remaja kini semakin komplek. Akibatnya, menyebabkan keprustasian, kegagalan, bahkan kematian remaja.&lt;br /&gt; Dalam bukunya “Menyentuh Hati Remaja: Bimbingan Islami untuk Mengatasi Problem-problem Remaja” Ruqayyah Waris Maqsood dengan tekun dan jeli bagaimana menerapi problem anak pada umumnya. Melalui sentuhan-sentuhan Islam, Ruqayyah berhasil mengatasi segudang problema yang dihadapi anak-anak remaja. Pengalaman terapi islami inilah membuka mata hati para remaja yang terbalut permasalahan, akhirnya keluar dan kini menjadi anak yang ditanganinya itu menjadi anak yang menyenangkan, berbahagia dan bisa menikmati usia remaja sejatinya.&lt;br /&gt; Semua orang pasti pernah melewati dan merasakan usia remaja. Namun, semua orang berbeda ketika memasuki usia gejolak itu. Saat-saat kakek-nenek kita dulu remaja, sangat berbeda dengan remaja sekarang. Jadi, standar problem remaja tempo dulu berbeda sama sekali dengan problem remaja kini. Sehingga pendekatan yang dipakai harus secara up to date sesuai dengan problem yang dihadapi remaja modern. &lt;br /&gt; Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah Islam sebagai keyakinan hidup telah memberikan terapi yang sangat bijak. Dan, jarang potensi ini dimanfaatkan orangtua untuk mendekati problem anaknya. Padahal, jika berbicara dengan nuansa bathin agama, anak akan dengan mudah menerima dan bangkit kembali ke jalan yang benar. Yang sering kita jumpai justru sebaliknya. Anak berbuat salah kadang-kadang malah ditekan, dihukum bahkan ada yang kelewat batas hingga diusir keluar dari rumah. Dari sudut pandang apa pun, cara seperti ini kurang tepat untuk mengatasi problem remaja. Bahkan, hal ini akan menambah problem orangtua dan bagi remaja itu sendiri&lt;br /&gt; Mengatasi problem remaja memang membutuhkan kesabaran, pengalaman, dan kondisi yang tepat. Sebagai orangtua harus mengerti kapan ia harus berlaku lunak dan lemah lembut, juga kapan ia harus bersikap tegas dan didisiplin. Tidak bisa orangtua hanya bersikap kasar terus-terusan, atau sebaliknya. Pendek kata, orangtua harus sering-sering menjalin komunikasi secara dialogis. Proses dialogis yang santun dengan sentuhan agama akan menambah harmonisasi antara orangtua dan remaja.&lt;br /&gt; Orangtua adalah teladan pertama bagi anak. Baik buruknya anak sangat tergantung orangtua dalam membimbing dan mengarahkan anaknya. Bahkan, ada sebuah ungkapan yang ekstrim menyatakan “anak merupakan cermin orangtua”. Meski ungkapan ini tidak bisa dijadikan pegangan, tetapi menyiratkan arti bahwa anak adalah bagian dari identitas orangtua. Sehingga orangtualah yang pertama memecahkan problem anaknya sebelum orang lain ikut mengatasinya.&lt;br /&gt; Keberhasilan anak sangat tergantung orangtua. Karena orangtualah yang banyak mengerti kondisi psikis dan fisiologis seorang anak. Setidaknya, ada lima kiat yang dapat dilakukan orangtua dalam mengatasi problem dunia remaja. Pertama, otangtua dapat mencari cara untuk mengembangkan potensi remaja itu dan mengarahkannya menjadi lebih optimal. Dengan cari ini potensi anak akan tersalurkan pada kegiatan-kegiatan yang positif, bermanfaat dan disertai dengan arahan orangtua. Selama ini banyak orangtua yang justru memberikan kebebasan anaknya, tanpa diiringi dengan bimbingan dan arahan yang tepat. Akibatnya anak menjadi salah pergaulan, salah menyalurkan kegiatan sehingga yang muncul justru persoalan-persoalan baru.&lt;br /&gt;Kedua, cara mengajarkan kedisiplinan, kemandirian, dan tanggungjawab. Setiap anak sejatinya dididik agar dapat mandidi dan tanggungjawab. Orangtua tidak perlu sering “memanjakan” anak agar tidak terjadi ketergantungan dengan orang lain. Orangtua dapat memberikan tanggungjawab dan berbagi peran dalam urusan keluarga. Dengan begitu anak akan terbiasa lebih disiplin pada pekerjaanya, punya rasa tanggungjawab dan mandiri.&lt;br /&gt; Ketiga, cara menanamkan nilai-nilai akhlak karimah pada diri anak/remaja. Lingkungan keluarga adalah sarana penanaman dasar-dasar moral atau akhlak pada usia anak. Sebagai pendidikan pertama dan utama, di keluarga anak mulai dikenalkan sikap, perilaku hubungan dalam keluarga. Orangtua dapat menamkan sifat-sifat empati, rasa saling menolong, membantu, memberi dan sebagainya. Begitu pula remaja menjalin hubungan dengan kerabat, tetangga, dan teman-teman mereka. Tak jarang remaja salah pergaulan dalam menjalin hubungan tersebut.&lt;br /&gt; Keempat, metode membangun komunikasi yang efektif bersama remaja. Seiring dengan pertumbuhan usia remaja, biasanya orangtua mulai berkurang hubungan komunikasi dengan anaknya. Karena memasuki remaja, biasanya anak tersebut mulai banyak memiliki teman dan dalam proses mencari pengakuan/identitas diri agar tidak dicap sebagai remaja yang tidak gaul. Disaat inilah peran orangtua dibutuhkan tetap menjalin komunikasi yang intensif, untuk  menanyakan hal-hal mendasar yang semestinya orangtua ketahui. Faktanya, justru seringkali orangtua membiarkan dan terkadang bangga kalau anaknya sudah memiliki banyak teman. Padahal itu sangat berbahya jika orangtua membiarkan tanpa campur tangan.&lt;br /&gt;Kelima, mengajarkan pendidikan seks yang benar dan islami kepada remaja. Munculnya pergaulan bebas dikalangan remaja, menimbulkan rasa cemas orangtua dan siapa saja yang memiliki anak remana. Orangtua berkewajiban menanamkan pendidikan seks pada anak-anaknya sejak usia dini dalam lingkup keluarga. Kebebasan yang diberikan orangtua kepada anaknya seringkali menjadikan tidak terarah dengan baik. Meski begitu, orangtua juga tidak boleh terlalu kaku dan keras untuk mengekang anaknya tanpa penjelasan pemahaman yang menyadarkannya.&lt;br /&gt;  Dari kelima cara tersebut, barangkali masih belum cukup. Karena tingkat problema remaja saat ini begitu kompleks. Sehingga upaya pemecahannya sangat mungkin bisa variasi sesuai dengan kadar persoalan yang dihadapinya. Mengekplorasi problematika remaja memang butuh kejelian dan kesabaran yang tinggi. Sebab berbagai persoalan remaja, terutama memasuki tahap pertumbuhan, baik fisik maupun psikis, dengan segala keunikannya memerlukan pengetahuan dan pengalaman yang memadahi. Barangkali orangtua juga perlu membaca buku-buku, majalah, atau mengikuti seminar tentang remaja agar dapat menyelami berbagai problem remaja dewasa ini. Dengan bekal itulah, orangtua diharapkan bertambah pengetahuan dan pengalamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7135890566110253138?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7135890566110253138/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/menyelami-problema-kehidupan-remaja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7135890566110253138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7135890566110253138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/menyelami-problema-kehidupan-remaja.html' title='Menyelami Problema Kehidupan Remaja'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8153117342584807730</id><published>2010-06-01T09:34:00.002+07:00</published><updated>2010-06-07T09:36:06.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Mengenal Gaya Komunikasi Efektif</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJALAN dengan akselerasi teknologi informasi (komunikasi), kini peradaban manusia mencapai kemajuan yang sangat pesat. Dengan dukungan teknologi informasi, batas interaksi manusia semakin tak terbatas, mulai dari lintas budaya, lintas negara, bahkan lintas Benua, akibat kecanggihan alat komunikasi. Hampir setiap kejadian baru atau event penting di belahan dunia ini, kita bisa langsung melihatnya dalam tempo waktu itu juga. Luar bisa kemujuan teknologi komunikasi saat ini.&lt;br /&gt; Komunikasi adalah proses berbagi makna melalui perilaku verbal dan nonverbal. Segala perilaku dapat disebut komunikasi jika melibatkan dua orang atau lebih. Komunikasi terjadi jika setidaknya suatu sumber membangkitkan respons pada penerima melalui penyampaian suatu pesan dalam bentuk tanda atau simbol, baik bentuk verbal (kata-kata) atau bentuk non-verbal (non kata-kata), tanpa harus memastikan terlebih dahulu bahwa kedua belah pihak punya sistem simbol yang sama. &lt;br /&gt; Dalam karyanya, yang berjudul “Komunikasi Efektif,” Deddi Mulyana, menjelaskan bahwa komunikasi itu memiliki berbagai jenis, gaya dan karakter yang berbeda yang dapat kita temui di muka bumi ini. Sebagai seorang pakar komunikasi, Mulyana menjelaskan bagaimana seseorang mampu membangun citra dirinya melalui komunikasi efektif ketika akan berhadapan dengan ‘orang-orang Asing’, terutama mereka yang punya latar belakang berbeda-beda.&lt;br /&gt;Model komunikasi dapat dipetakan menjadi dua hal, yaitu komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Komunikasi konteks tinggi adalah komunikasi yang bersifat implisit dan ambigu, yang menuntut penerima pesan agar menafsirkannya sendiri. Komunikasi konteks tinggi bersifat tidak langsung, tidak apa adanya. Ciri komunikasi model ini yaitu kalau mau mengutarakan sesuatu pesan cenderung dengan basa-basi terlebih dahulu, bahkan sering menggunakan kata-kata kiasan yang sekiranya bisa menyentuh, dengan tidak menyebutkan pesan secara langsung. &lt;br /&gt;Model semacam ini, sering digunakan alm. Gus Dur (Abdurrahman Wahid) sewaktu beliau masih hidup dalam memberi keterangan atau tuduhan kepada lawan bicaranya. Pesan atau makna yang terkandung dalam komunikasi beliau sering tidak mudah ditangkap oleh para masyarakat, terutama masyarakat awam. Karena pesan yang disampaikan menggunakan bahasa yang imlpisit dan banyak kiasan. Model komunikasi demikian, dapat dijumpai dari budaya Jawa dan Timur Tengah yang sering ditandai dengan menggunakan bahasa kiasan/sindiran dengan ungkapan halus, tapi sebenarnya menegur/memuji. Dalam hal komunikasi, orang Jawa dan orang Timur Tengah sesungguhnya memiliki kemiripan dalam mengungkapkan pesan dengan sering di dahului ”basa-basi” terlebih dahulu.&lt;br /&gt;Sementara komunikasi konteks rendah adalah komunikasi yang bersifat langsung, apa adanya, lugas tanpa berbelit-belit ngalor-ngidul. Karakter komunikasi semacam ini biasa terjadi di Barat, mereka sukanya to the point tidak suka basa-basi seperti orang Jawa. Pokok pembicaraan (pesan) yang dituju sangat mudah diterima oleh lawan bicaranya (penerima pesan), tanpa harus menafsirkan lagi dari pokok pembicaaran yang berlangsung. Komunikasi model ini, sering dipakai Amien Rais atau Nurcholish Madjid ketika melakukan kritik atau tanggapan pada lawan-lawannya. Cukup alasan, karena kedua tokoh tersebut merupakan jebolan Barat (Amerika). Komunikasinya jelas tanpa tedeng aling-aling (ditutup-tutupi) lagi bahwa yang dimaksud memang apa adanya seperti itu.&lt;br /&gt;Nah, lalu apa yang dimaksud dengan komunikasi efektif itu? Menurut Mulyana, komunikasi efektif adalah bentuk kolaborasi antara sisi-sisi positif komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Gaya komunikasi efektif lebih mencerminkan ketulusan, keterbukaan, kejernihan, keterus-terangan, kesederhanaan dan kesantunan dalam berbicara. Komunikasi fektif bukan suatu komunikasi yang pesan-pesannya penuh humor dan kiasan, begitu juga bukan komunikasi yang menohok dan menyakitkan orang lain.&lt;br /&gt;Komunikasi efektif dibangun berdasarkan sistem kepercayaan dan sistem nilai/tata krama. Karena itu, komunikasi akan menjadi bermakna, manakala kita dapat menempatkan diri pada situasi dan kondisi berdasarkan sistem kepercayaan dan sistem nilai itu. Jika kedua hal tersebut, dapat dikuasai dan dihayati, maka kita akan mudah melakukan interaksi dengan siapa pun dan di mana pun. Komunikasi efektif menjadikan sarana untuk memahami segala karakter budaya, kultur dan gaya interaksi manusia di jagad raya ini.&lt;br /&gt;Komunikasi efektif tidak selalu identik dengan verbal (kata-kata). Komunikasi efektif bisa saja menggunakan isyarat (gesture), seperti gerakan tubuh, gerakan kepala, ekspresi wajah, kontak mata merupakan perilaku-perilaku yang semuanya disebut bahasa tubuh yang mengandung makna pesan yang efektif dan potensial dapat dimengerti oleh lawan bicara. Di antara sekian banyak perilaku non-verbal, senyuman, pandangan mata, atau sentuhan seseorang sering merupakan perilaku non-verbal paling berpengaruh.&lt;br /&gt;Konon, menurut para alumni yang pernah belajar di negara-negara Eropa, bahwa bahasa tubuh merupakan indikator dari tingkat pendidikan dan kesopanan seseorang-suatu hubungan yang agak diabaikan di Amerika Serikat. Dengan komunikasi non-verbal, orang dapat membaca keadaan emosional orang lain melalui pengamatan atas perilaku non-verbal dengan tingkat kecermatan yang memadahi. Dengan demikian, komunikasi non-verval tetap harus diperhatikan sebagai sebuah cara membangun komunikasi efektif pada diri seseorang.&lt;br /&gt;Sebagai sarana pengembangan diri, komunikasi efektif dapat dipraktikkan bagi siapa saja, baik itu profesinya sebagai marketing, pebisnis, politikus, ilmuan, birokrat, hingga para diplomat. Karena melalui gaya komunikasi itulah sesungguhnya cermin kredibilitas seseorang dapat dibaca dan diukur sejauhmana keefektifan dalam menempatkan pergaulan dengan para tamu dan koleganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8153117342584807730?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8153117342584807730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/mengenal-gaya-komunikasi-efektif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8153117342584807730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8153117342584807730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/06/mengenal-gaya-komunikasi-efektif.html' title='Mengenal Gaya Komunikasi Efektif'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-5754391511309629818</id><published>2010-05-31T12:00:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T12:00:54.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi'/><title type='text'>Mengatasi Kredit Bermasalah</title><content type='html'>Mujtahid &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KALAU kita sadari, hampir tidak ada satu pun bagian dari hidup ini yang tidak tersentuh uang (finansial). Setiap aktivitas dan organisme yang bergerak, baik  secara personal (individu) maupun sosial (kolektif), pasti membutuhkan finansial. Sedemikian pentingnya, sampai dikatakan bahwa uang merupakan sumber kekuatan dan tumpuan utama yang mampu menggerakkan sendi-sendi sektor publik.&lt;br /&gt; Apalagi di saat percaturan dunia modern seperti sekarang ini, yang ditandai dengan meningkatnya usaha (bisnis) yang begitu luar biasa, maka posisi finansial adalah kunci utama. Sebab, beberapa aspek usaha (bisnis) secara langsung atau tidak, berhubungan dengan sumber-sumber finansial, dan tentu saja pada akhirnya juga berhubungan dengan bank. Bank merupakan sebuah prasarana untuk menabung, mentranfer, dan meminjam bagi para konsumen (nasabah). Dengan adanya bank sebagai lembaga intermediasi, maka ia juga berdampak pada setiap sistem usaha (bisnis) perseorangan atau kelembagaan menjadi lebih efektif dan efesien.&lt;br /&gt; Akhir-akhir ini banyak masalah kredit yang ujung-ujungnya sampai pada penyitaan dan hal itu sangat melelahkan bagi semua pihak. Untuk menyelesaikan masalah itu, cara yang biasanya ditempuh adalah melalui jalur yuridis. Tentu, hal demikian tidak diinginkan oleh siapapun, karena selain bertambah ruwet dan melelahkan, juga menambah biaya yang cukup besar untuk menuntaskan persengketaan tersebut.&lt;br /&gt; Sebagai usaha di bidang jasa, bank selalu ingin memberikan “trust” kepada nasabah. Karena keduanya memiliki citra yang saling terkait, maka dalam operasionalnya diperlukan sebuah perangkat peraturan yang memberikan batasan-batasan bagi para pihak dalam transaksi perbankan. Dengan demikian, bahwa transaksi perbankan adalah hubungan ‘hukum’ antara bank dan nasabah di bidang bisnis, yang di dalamnya kedua belah pihak saling memerlukan. Transaksi tersebut, terjadi atas transaksi di bidang pendanaan dan transaksi di bidang pengkreditan.&lt;br /&gt; Bank sebagai lembaga penyedia dana (pengkreditan) bagi pihak debitur, baik itu berupa kredit investasi, kredit modal kerja, kredit usaha kecil, dan sejenisnya, merupakan transaksi yang berbentuk interpersonal. Karena transaksi interpersonal, maka kedua belah pihak seharusnya mempunyai informasi. Terutama informasi yang dibutuhkan sebagai persyaratan kredit, baik dari pihak nasabah maupun dari pihak bank. Setelah terjadi saling “kesepahaman”, lalu diperkenankan untuk membentuk kesepakatan, dan selanjutnya melahirkan kepercayaan atau kredit (pinjam-meminjam uang). Supaya terjadi ikatan yang sah, pemberian pengkreditan oleh perbankan membutuhkan sebuah persyaratan yang perlu dituangkan ke dalam suatu perjanjian atau akad kredit.&lt;br /&gt; Hingga saat ini, perjanjian kredit bank belum terdapat pengaturan yang transparan bagi para pihak yang mengikatkan diri. Sehingga dalam pelaksanaannya, debitur lebih diarahkan oleh bank untuk menyesuaikan dengan fasilitas-fasilitas kredit yang diberikan bank agar dapat bermanfaat penuh. Fasilitas tersebut, dirumuskan dalam klausula sebagai bentuk prestasi dan kontra prestasi yang harus dilakukan oleh kedua belah-pihak. Klausula memiliki urgensi yang sangat besar bagi bank untuk menjamin pengembalian kredit tepat waktu.&lt;br /&gt; Nah, sebagai salah satu perumusan masalah klausula yang erat berkaitan dengan penyelesaian pinjaman adalah klausula default dan ciollateral, artinya dengan dibuktikan adanya kelalaian dan debitur beri’tikad buruk, bank dapat menuntaskan pinjaman dengan jaminan yang tersedia, baik dengan pengimpasan (self-off) atau akta penyelesaian pinjaman.&lt;br /&gt; Melalui adanya perumusan klausula cross default dan cross collateral, maka risiko pemberian kredit yang dilakukan bank dapat terkurangi secara signifikan. Bagi pihak bank, perumusan klausula cross default dan cross collateral, merupakan cara untuk memudahkan dalam menjamin hubungan kontraktual, baik dari satu atau beberapa debitur dengan berbagai fasilitas dan perjanjian kredit yang saling terkait.&lt;br /&gt; Dengan demikian, adanya klausula cross default merupakan sumber atas kelalain/kegagalan debitur atas kejadian-kejadian tertentu yang dapat merugikan bank, dan hal tersebut terkait antara beberapa perjanjian kredit yang menimbulkan hubungan kontraktual antara bank dan debitur. Sehingga kelalaian dari satu perjanjian kredit memberikan hak bagi bank untuk mengakhiri seluruh perjanjian kredit yang saling terkait. &lt;br /&gt; Sementara klausula cross collateral merupakan sumber atas agunan yang diserahkan oleh debitur untuk ‘mengcover’ hutang-hutang debitur yang timbul setelah diikatnya perjanjian kredit sebagai upaya terakhir bila debitur tidak dapat menyelesaikan seluruh kewajibannya atas kelayakan usaha. Collateral yang terkait untuk ‘mengcover’ seluruh kewajiban silang (coss obligations) harus bersifat secured dan marketable, artinya tidak terdapat kelemahan-kelemahan berdasarkan pertimbangan yuridis dan ekonomis serta mudah dicairkan untuk menutup kewajiban-kewajiban yang disyaratkan oleh bank Indonesia atas kredit bermasalah.&lt;br /&gt; Dari dua perumusan klausula tersebut di atas, merupakan upaya penyelesaian yang ditempuh secara non litigasi bagi pihak-pihak yang berselisih sehingga memberikan kemanfaatan bagi kedua belah pihak. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-5754391511309629818?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/5754391511309629818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/mengatasi-kredit-bermasalah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5754391511309629818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/5754391511309629818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/mengatasi-kredit-bermasalah.html' title='Mengatasi Kredit Bermasalah'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8008724802502221402</id><published>2010-05-30T12:02:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T12:03:32.051+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Prinsip-prinsip Ukhuwah Islamiyah</title><content type='html'>Mujtahid &lt;br /&gt;SALAH satu dimensi ajaran Islam yang autentik untuk diwujudkan dalam praktik kehidupan ini adalah ukhuwah (integritas). Aspek ajaran ini tentu saja telah sering disampaikan oleh para muballigh/da’i ketika menyampaikan misinya mengajak umat untuk bersama-sama dalam membangun ukhuwah sesama komunitas iman, agama, suku, ras yang secara multikultural memang diciptakan berbeda satu sama lain.&lt;br /&gt; Kata ukhuwah, seperti yang tergali dari ajaran Islam ternyata memiliki makna yang tidak sederhana. Kata tersebut bisa saja dimaknai sebagai persaudaraan, atau bersaudara. Ukhuwah berasal dari akar kata akh dengan arti teman akrap atau sahabat. Bentuk jamak dari akh dalam al-Qur’an ada dua macam, yaitu pertama ikhwan, yang biasanya digunakan untuk persaudaraan dalam arti tidak sekandung. Sementara yang kedua ikhwat, yang biasanya hanya digunakan dalam makna persaudaraan seketurunan, kecuali pada satu ayat al-Hujurat ayat 10.&lt;br /&gt;Dalam wilayah kehidupan sosial, hubungan sesama manusia seringkali memunculkan problem atau konflik serta perpecahan antar sesama umat beragama maupun antar agama. Perpercahan itu sudah ditunjukkan oleh putra nabi Adam Qabil dan Habil. Suatu kenyataan historis kemanusiaan yang boleh jadi karena hidup mereka didorong oleh tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda. Apalagi sekarang ini bahwa kita hidup di suatu negara yang sangat beragam latar belakang agama, suku, etnis, ras serta sampai pada warna partai politik.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah umat Islam, seperti yang tercover dalam lembar historis, konflik semacam itu telah muncul sejak wafatnya Nabi Muhammad Saw, baik yang menyangkut urusan teologis, sosiologis atau politik. Menyikapi kenyataan sejarah demikian itu, banyak pihak mulai memikirkan agar mencari format baru untuk senantiasa manusia ini bersatu damai dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Ibnu Taimiyyah misalnya, seperti yang dikutip Miftah (2003) menjelaskan, pernah mengusulkan sebuah doktrin yaitu universal chaliphate. Suatu doktrin yang memandang bahwa umat Islam boleh saja berada di wilayah terpisah-pisah dengan negara-negara yang otonom, tetapi umat Islam harus merasakan kesatuan jiwa yang tidak membeda-membedakan satu sama lain.&lt;br /&gt; Oleh karena itu, kita perlu kembali menegaskan bahwa perbedaan pada hakikatnya adalah prasarat mutlak bagi terpenuhinya kesempurnaan iman. Suatu cara pandang yang diadopsi dari prinsip “filsafat proses” yang menegaskan bahwa justru dalam keberbedaan, masing-masing individu bisa belajar banyak dari yang lainnya. Belajar adalah syarat mutlak keberhasilan seseorang dalam memperbaiki dirinya, dan untuk bisa belajar harus ada keanekaan paham. Lewat cara inilah seluruh paham dianggap sebagai modal bagi pembentukan individu sempurna (insan kamil) dan masyarakat sempurna (ummatan wasatha).&lt;br /&gt;Gagasan tentang Islam ukhuwah, merupakan kebutuhan mendesak, seperti situasi Islam keindonesiaan yang terjadi dua sumbu yang saling tarik menarik, yakni sumbu fundamentalisme dan liberalisme. Suhu perbedaan keduanya meski tampak serius, kita tetap harus menjungjung tinggi nilai sportifitas untuk damai dan menghargai secara tulus. Sebab dilihat dari kacamata prosesnya, kita bisa mengambil sinergi yang bisa mengakomodasi semangat keduanya agar tidak saling bertentangan. Maksud dari sinergi itu adalah antara fundamentalisme dan liberalisme seharusnya saling berukhuwah (berintegrasi).&lt;br /&gt;Pertentangan kedua sumbu tersebut, pada satu sisi berguna untuk pembelajaran cara beragama yang dialogis. Dengan munculnya silang pendapat tersebut, masyarakat dapat menilai dengan cukup jernih mana yang lebih tepat dipraktikkan dalam kehidupan keseharian. Namun dari sisi yang berbeda, situasi pertentangan ini akan bersitegang mempertahankan masing-masing pahamnya.&lt;br /&gt;Dengan paradigma Islam ukhuwah, kita dapat mengambil ibrah (pelajaran) dari ibadah mahdhah seperti haji, zakat shalat dan puasa dengan pisau analisis Islam ukhuwah. Dalam beberapa hal dimensi ritual itu sanggup menunjukkan bahwa semua ibadah pada dasarnya mengajak manusia untuk menyadari pentingnya kebersamaan dan cara pandang tidak menghukumi. Tidak saja menghukumi namun ia juga menunjukkan pentingnya saling relasi, yang merupakan pesan inti dari ibadah tersebut.&lt;br /&gt;Belajar dari cara Rasulullah dalam mendakwahkan ayat-ayat khamr, maka strategi dakwah dalam memberantas kemunkaran harus bertahap, tidak bisa sekali selesai. Prinsip ini kemudian dijadikan sebagai cara untuk merumuskan skema dakwah yang tidak hanya berceramah (tabligh) tapi memprasyaratkan adanya keterlibatan semua umat untuk memberikan ruang sosial yang kondusif bagi mereka yang terbuang, yang melupa dan tertindas.&lt;br /&gt;Gagasan dan ide seperti yang disampaikan alm. Nurcholish Madjid, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid dapat menjadi model dalam membangun dakwah yang mengedepankan kesalehan sosial. Kita perlu menawarkan gagasan Islam yang inklusif, seperti halnya yang pernah dipraktikkan di kota Madinah al-Munawwarah. Rasul sangat toleran dan menghargai pluralitas tanpa menindas kelompok kecil dan lemah, para musuh-musuhnya yang sudah menyerah, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8008724802502221402?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8008724802502221402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/prinsip-prinsip-ukhuwah-islamiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8008724802502221402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8008724802502221402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/prinsip-prinsip-ukhuwah-islamiyah.html' title='Prinsip-prinsip Ukhuwah Islamiyah'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-17649938936990802</id><published>2010-05-29T10:06:00.000+07:00</published><updated>2010-06-02T10:07:58.245+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra dan budaya'/><title type='text'>Membaca Spiritual Rumi Melalui Karyanya</title><content type='html'>Mujtahid &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MESKI telah meninggal tujuh abad yang silam, namun penyair ulung Jalaluddin Rumi masih terasa hangat di peredaraan zaman. Hal ini terbukti dengan sejumlah karya-karya Masterpiece Rumi yang masih diminati banyak kalangan, baik kaum Muslim maupun non Muslim. Daya magnit yang ia tinggalkan, seolah sekeping emas yang dicari-cari banyak orang. Selain itu, reputasi Rumi agaknya sulit ditandingkan dengan penyair-penyair lain.&lt;br /&gt; Sosok Rumi yang begitu populer mampu menyedot perhatian semua klas masyarakat dunia, mulai dari rakyat jelata hingga kalangan istana atau raja. Bahkan, tak sedikit karya-karya Rumi menjadi koleksi perpustakaan kerajaan pada era keemasan Islam (Golden Age of Islam) abad 13 hingga abad pertengahan. &lt;br /&gt;Lebih dari itu, peminat karya sastra Rumi semakin terus meningkat dari waktu ke waktu, kini karya sastra Rumi justru menggemparkan di dunia Barat. Di mana saat-saat orang Barat banyak mengalami “kekeringan” spiritual, warisan karya Rumi bagaikan “hujan” di musim kemarau yang mampu membasahi dan menghidupkan kembali spiritual mereka.&lt;br /&gt; Menurut catatan tabloid Christian Science Monitor tahun 1970 di Amerika, karya ‘penyair sufi’ tersebut menjadi “idola” yang membanjiri dan memenangi pasar karya sastra. Banyak orang terheran-heran mengapa bahasa intuitifnya, humanitas, dan ramalan kosmosnya masih terus berpengaruh secara mendalam dan ditafsirkan tiada henti secara beragam. Tak hanya itu, kini ada kecenderungan para pengagum Barat cenderung mencabut Rumi dari konteks sejarahnya dan merangkulnya sebagai miliknya sendiri.&lt;br /&gt; Sosok Rumi merupakan salah seorang penyair langka. Ia dipuja karena punya bakat dan kemampuan beda. Artinya, kemampuannya yang langka itu sekaligus membedakan dirinya dengan penyair lazimnya. Letak beda dan kekhasannya yaitu ia memiliki empati yang sangat tinggi terhadap manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan. Kemurnian pribadinya mengantarkan sampai menuju puncak ajaran wahdah al wujud (peleburan/manunggaling) dengan Allah swt. Suatu maqam ajaran tasawuf tertinggi.&lt;br /&gt; Karya Rumi itu, kini terus dibaca dan diteliti sejumlah sastrawan dan siapa pun yang meminatinya. Sebuah buku yang ditulis Leslie Wines (2004) berjudul “Menari Menghampiri Tuhan; Biografi Spiritual Rumi”, termasuk bagian dari penelitian terhadap sejumlah karya Rumi yang berserakan di mana-mana. Tak kurang dari sepuluh tema, Wines menyuguhkan tentang sejarah biografi almarhum Rumi secara komprehensif.&lt;br /&gt; Masa hidup Rumi, kata Wines, lebih banyak di perantauan ketimbang di kampungnya sendiri. Dari kecil hingga dewasa, Rumi biasa keluar masuk kota. Dalam benak Rumi, tak ada kehidupan tanpa perubahan. Perubahan adalah tanda kehidupan, begitulah keyakinan Rumi. Karena dengan mau berubah, seseorang akan berpikir dan bertindak maju dan kreatif. Tak hanya masalah duniawi yang maju, tetapi spiritual juga harus semakin kokoh.&lt;br /&gt; Jadi, Rumi terbiasa hidup malang-melintang ditengah sengatan Gurun Sahara. Dengan semangat yang tinggi, Rumi menelusuri perjalanan spiritualnya tanpa menyerah, berkeluh kesah dan tanpa batas. Penjelajahan inilah yang mempertemukan Rumi dengan para tokoh ternama. Ia berusaha banyak belajar dari pengalaman orang lain. Karena belajar adalah wajib dilakukan setiap Muslim, mulai dari lahir sampai akhir hayat. Begitulah doktrin yang dipengangi Rumi.&lt;br /&gt; Kondisi yang nomadis akhirnya mempengaruhi sikap spiritual Rumi. Kehidupan spiritual, kata Rumi, merupakan perjalanan tanpa akhir, suatu pencarian akan kebenaran Ilahi, yang terus menerus disadarinya. Keharusan untuk berpindah-pindah, dan bukannya menancapkan akar yang dalam disuatu tempat, pasti sekali waktu terasa menyakitkan. Bahkan, ia rela berpisah dari istri dan anak-anaknya dalam waktu yang relatif lama demi mencapai kesempurnaan spiritualnya &lt;br /&gt;  Hampir semua karya Rumi mengusung dimensi spiritual yang amat tinggi. Pikiran-pikiran Rumi ibarat“ice breaking” (pemecah kebekuan) spiritual yang banyak dialami manusia dewasa ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-17649938936990802?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/17649938936990802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/membaca-spiritual-rumi-melalui-karyanya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/17649938936990802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/17649938936990802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/membaca-spiritual-rumi-melalui-karyanya.html' title='Membaca Spiritual Rumi Melalui Karyanya'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-8480549257636345200</id><published>2010-05-28T10:08:00.000+07:00</published><updated>2010-06-02T10:09:18.860+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Mengenal Jenis dan Gaya Belajar</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pasti memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar merupakan kebiasaan yang dilakukan seseorang untuk memahami, menghayati, mempraktikkan ilmu yang dipelajari. Munculnya gaya belajar pada diri sesorang, karena dorongan potensi atau kemampuan yang dominan pada dirinya yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, kebiasaan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jenis Belajar&lt;br /&gt;Menurut M. Gagne, seperti dalam karyanya “The Conditions of Learning”, jenis belajar dapat dikategorikan menjadi lima hal:&lt;br /&gt;1. Belajar Informasi Verbal. Yaitu belajar untuk memperoleh pengatahuan yang dimiliki dengan bentuk bahasa lisan atau tulisan. Misalnya, melalui Cap Nama seperti; buku, majalah, tabloid, dll. dan melalui data/fakta seperti kenyataan yang tertulis dalam Dasar Negara Indonesia (Pancasila), UUD 45, GBHN, dst.&lt;br /&gt;Kalau dihubungkan dengan teorinya Bloom, maka jenis belajar ini lebih mengarah pada pembentukan ingatan atau intelektual yang turut mempengaruhi cara pandang hidup seseorang. Informasi verbal mudah diterima/didapat melalui interaksi komunikasi dengan saluran-saluran yang tersedia seperti yang cakup di atas.&lt;br /&gt;2. Belajar Kemahiran Intelektual. Yaitu kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan disekitarnya melalui saluran persep, konsep, kaidah dan prinsip. Persep ialah hasil mental dari pengamatan terhadap objek/benda. Konsep ialah satuan arti yang mewakili sejumlah benda/objek yang memiliki ciri-ciri yang sama. Kaidah ialah pengungkapan dari hubungan antara beberapa konsep. Prinsip ialah kombinasi dari beberapa kaidah, yang lebih tinggi dan lebih kompleks. &lt;br /&gt;3. Belajar pengaturan kegiatan kognitif/intelektual. Yaitu kemampuan untuk mengatur kegiatan aktivitas inteleknya sendiri.&lt;br /&gt;4. Belajar ketrampilan motorik. Yaitu belajar yang melibatkan keterampilan, serangkaian gerakan tubuh secara terpadu.&lt;br /&gt;5. Belajar sikap. Yaitu belajar untuk melatih diri berperilaku/bersikap secara baik melalui pemahaman, penghayatan, dan pengamalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaya Belajar&lt;br /&gt;Secara umum, gaya belajar dapat dipetakan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Gaya Belajar Siswa pada Permulaan belajar (Field Dependence  x Field independence)&lt;br /&gt;a. Field dependence yaitu gaya belajar siswa yang mau memulai belajar apabila ada pengaruh atau perintah dari orang lain (orangtua/guru). Model gaya seperti ini berdampak pada kepatuhan terhadap perintah, atau akan melahirkan budaya otoriter.&lt;br /&gt;b. Field independence yaitu gaya belajar yang dilakukan secara mandiri, tanpa harus dipaksa orang lain. Gaya otonom ini atas dasar kepuasan, kebutuhan dan kesadaran yang tinggi bahwa belajar merupakan kewajiban yang harus dilakukannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Gaya Belajar Siswa dalam Menerima Pelajaran&lt;br /&gt;a. Gaya Belajar Preceptive yaitu kecenderungan siswa dalam menerima pelajaran/informasi atau mengumpulkan informasi dalam belajar dilakukan dengan beraturan sebab akibat.&lt;br /&gt;b. Gaya belajar Receptive yaitu kecenderungan siswa dalam menerima pelajaran dilakukan dengan menerima informasi tanpa berusaha untuk membulatkan/mengorganisir konsep-konsep informasi yang diterimanya.&lt;br /&gt;3. Gaya Belajar Siswa dalam Menyerap Pelajaran&lt;br /&gt;a. Gaya Belajar Impulsif yaitu cara belajar siswa dalam menyerap pelajaran cenderung dengan cepat-cepat mengambil keputusan tanpa memikirkan secara mendalam untuk memahami konsep-konsep informasi yang telah diterimanya.&lt;br /&gt;b. Gaya Belajar Reflektif yaitu cara belajar siswa dalam menyerap pelajaran melalui pertimbangan, memikirkan semua kosep informasi yang telah diterimanya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan/dipahami.&lt;br /&gt;4. Gaya Belajar Siswa dalam Memecahkan Pelajaran&lt;br /&gt;a. Gaya Belajar Intuitif yaitu cara siswa memecahkan masalah/menjawab pertanyaan dilakukan hanya secara intuisi atau menurut perasaan saja. &lt;br /&gt;b. Gaya belajar Sistematis yaitu cara siswa mengerjakan pertanyaan dengan melihat struktur masalahnya, mengumpulkan bahan, dan menetapkan alternatif jawaban yang paling tepat untuk menjawab masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-8480549257636345200?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/8480549257636345200/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/mengenal-jenis-dan-gaya-belajar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8480549257636345200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/8480549257636345200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/mengenal-jenis-dan-gaya-belajar.html' title='Mengenal Jenis dan Gaya Belajar'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-4544516281616553652</id><published>2010-05-27T11:58:00.000+07:00</published><updated>2010-06-07T11:59:01.815+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Menulis Untuk Investasi</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP penulis pemula, sedikit banyak pasti pernah merasakan rasa minder dan tidak percaya diri. Apalagi, ketika tulisan dibaca banyak orang. Hal ini wajar saja. Namanya juga pemula, segala sesuatu serba amatir, namun setelah lama kelamaan juga akan terbiasa. Bahkan, akhirnya bisa menilai kadar kualitas tulisannya sendiri. Dulu ketika mengawali menulis, saya juga merasakan begitu. Tetapi setelah belajar dan melakukannya terus menerus akhirnya rasa itu mulai berkurang. Yang penting dijaga dalam menekuni menulis adalah bagaimana cara membangkitkan ruh menulis itu.&lt;br /&gt; Hampir setiap penulis, pasti pernah mengalami saat-saat menghadapi keletihan atau kevacuman. Apalagi tulisannya sering tertolak terus oleh media, bagi yang memang tulisannya untuk publikasi media. Nah, yang seperti ini kalau tidak didorong ileh roh menulis yang kuat, bisa-bisa kita berhenti menulis, akhirnya jadi “mantan penulis’. &lt;br /&gt;Pengalaman ditolak media adalah hal biasa yang dialami oleh penulis. Ditolak ataupun diterima oleh media massa merupakan konsekuensi logis yang harus tetap disyukuri, karena kita telah melalukan refleksi otak yang itu justru menyehatkan ruhani dan menunda kepikunan. Yang terpenting adalah membangun motivasi diri agar tetap meluangkan kesempatan menulis untuk menyalurkan ide/gagasan agar menyumbangkan jalan pemecahan untuk orang lain. Karena itu janganlah sampai berhenti menulis, sebab menulis itu bagian dari aktivitas hidup.&lt;br /&gt;Lalu mengapa kita terus-terusan ngotot menulis, sedangkan beberapa tulisan sebelumnya tidak dimuat media. Alasannya yaitu kita harus menerima kegagalan, tetapi butuh keyakinan kuat akan bisa dan tanpa takut. Jadilah diri Anda seperti Napoleon Hill, Patih Gajah Mada, Mbah Surip, Mbah Marijan, mereka ini tergolong orang yang ngotot dan akhirnya sukses menyulap sesuatu yang tidak nyata menjadi kenyataan. Artinya, bekal keyakinan kuat dan dibarengi usaha kreatif itu sangat penting. &lt;br /&gt; Dalam setiap diri sebenarnya sudah ada roh menulis. Tapi roh itu perlu terlebih dahulu dibangunkan, dikelola dan diperkuat. Membangunkan, mengelola dan memperkuat roh menulis memang butuh rangsangan untuk membangkitkan motivasi yang tinggi. Yaitu dengan cara membaca tulisan orang lain, mengunjungi pameran atau toko-toko buku, terlibat pada diskusi-diskusi/seminar.&lt;br /&gt; Banyak keuntungan yang diperoleh jadi penulis. Kalau jadi penulis berarti tergolong manusia langka. Bukan persoalan bakat,-seperti yang sering diomongkan orang- tetapi menulis merupakan aktivitas langka dan unik. Artinya, tidak semua orang bisa melakukannya, bukan karena sulit tetapi lebih disebabkan kebiasan dan keberanian saja. Dalam pandangan psikologis, masalah bakat atau minat hanya sepuluh persen saja, selebihnya adalah usaha berlatih dan kerja keras.&lt;br /&gt; Keuntungan lainnya adalah pekerjaan menulis sama halnya dengan investasi atau menabung. Berbeda dengan menabung di bank, menabung tulisan akan jauh lebih besar manfaatnya. Selain yang ditabung berupa pengetahuan dan keahlian, menulis sebenarnya sama dengan menabung uang. Semakin kita produktif menulis, berati semakin berpeluang saldo tabungan kita bertambah besar. Pengalaman ini sudah pernah saya buktikan bertahun-tahun dan memang buktinya sangat riil. &lt;br /&gt;Selain keuntungan tersebut, bahwa menulis merupakan sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Semangat berbagi merupakan ajaran mulia Islam. Bahkan, wahyu yang turun pertama kali memerintahkan agar kita membaca. Maknanya adalah kita diperintah untuk membaca gelaja sosial/alam, yang itu merupakan anugerah ilahi untuk dieksplorasi melalui penelitian atau tulisan. Melalui kerja menulis inilah transformasi peradaban dan kebudayaan ini dapat berkembang secara cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-4544516281616553652?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/4544516281616553652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/menulis-untuk-investasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4544516281616553652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4544516281616553652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/menulis-untuk-investasi.html' title='Menulis Untuk Investasi'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7434401149359892464</id><published>2010-05-26T10:41:00.002+07:00</published><updated>2010-05-26T10:43:19.939+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><title type='text'>Mengasah Kecerdasan (otak) dengan Menulis</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GURU selalu mengatakan kepada para muridnya “menulis adalah berpikir”. Para guru yang mencoba membuai mereka itu meyakini bahwa apabila mampu berpikir lebih jelas dan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, maka menulis dapat mengekspresikan pikiran, unek-unek di atas kertas.&lt;br /&gt; Nasehat guru di atas, bisa menjadi “guru” yang berharga bagi insan yang berjiwa penulis. Dengan sentuhan menulis, pikiran atau otak akan menjadi lebih hidup. Sebab menulis telah melibatkan banyak potensi-potensi psikis yang ada dalam diri manusia. Dan aktifitas seperti ini merupakan salah satu ketrampilan atau keahlian langka yang dimiliki oleh orang lain. Lain halnya dengan bicara, sejak balita manusia sudah dilatih ngomong.&lt;br /&gt;Menulis bukanlah sekadar merangkai huruf, frase dan kata-kata, melainkan cara untuk mengasah otak manusia agar jadi genius. Menulis merupakan pengerahan atas potensi pokok yang ada dalam benak pikiran/otak manusia. Menulis juga sebagai refleksi untuk mengubah dari sesuatu ide atau gagasan menjadi narasi ilmiah yang bisa dibaca oleh banyak orang.&lt;br /&gt; Kecerdasan otak (genius) adalah anugerah tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tetapi, anugerah yang diberikan Tuhan itu tidak pernah ada dalam sekali jadi. Melainkan harus di bentuk dan diproses dengan sungguh-sungguh, berlatih secara terus menerus agar menjadi tumbuh dan berkembang. Seringkali sikap malaslah yang mengalahkan anugerah tersebut, sehingga sedikit saja orang yang dapat dipandang sebagai seorang yang benar-benar genius.&lt;br /&gt; Mark Levy (2005) membuktikan kalau seseorang ingin genius dapat ditempuh melalui menulis. Seperti yang dikemukakan dalam karyanya yang berjudul“Menjadi Genius dengan Menulis.” Mark Levy mengajarkan pengalaman kepada kita tentang bagaimana cara memulai, menata dan mengembangkan cara menulis dengan cepat dan sistematis. Sekalipun berlatar-belakang pebisnis ternama, Levy tidak pernah berhenti menulis. Karena menulis merupakan kebutuhan untuk mengungkapkan pikiran dan pengalamannya kepada orang lain.&lt;br /&gt; Mengapa menjadi genius harus dengan menulis? Karena menulis merupakan suatu aktivitas yang melibatkan banyak “pancaindra” manusia. Aktivitas menulis jelas memerlukan kesadaran tinggi dengan disertai penghayatan yang dalam. Orang menulis tidak bisa sambil tidur atau pun ngelamun, melainkan harus dengan keadaan sadar dan didukung sistematika yang teratur.&lt;br /&gt;Kegiatan menulis selalu diawali dengan memusatkan pikiran terlebih dahulu hingga menggerakkan organ tangan. Inilah bedanya dengan ceramah, cerita atau dongeng. Jadi, keunikan menulis yaitu menyentuh sesuatu elan vital dalam diri manusia. &lt;br /&gt;Menurut Levy ada enam “skenario rahasia” membuat tulisan. Pertama, lakukanlah menulis dengan santai. Artinya, aktivitas menulis jangan sampai menghabiskan energi hingga ketahanan tubuh menjadi lemah dan jatuh pingsan. Justru dengan ketegangan yang tinggi biasanya menulis cenderung kurang mengalir (seret) dan sulit keluar ide-ide yang cemerlang.&lt;br /&gt;Kedua, berlatih menulis dengan cepat secara terus-menurus. Menulis merupakan bentukan ketrampilan yang dilakukan secara terus-menerus. Untuk menulis dengan cepat, Anda harus menyiapkan bahan yang memadahi untuk ditulis, dan reasoning itu sudah ada di benak dan pikiran Anda.&lt;br /&gt;Ketiga, bekerjalah dengan tenggat waktu. Tenggat waktu menjadi sangat penting untuk membiasakan proses menulis. Mulailah dengan latihan menulis selama tiga menit, ambillah buku, majalah, koran atau mengakses media lainnya sebagai rangsangan untuk menghadirkan ide kembali. Tuangkan ide tersebut ke dalam tulisan yang sistematis dan enak dibaca. Setelah tiga menit, lakukanlah dengan menambah waktu yang cukup lama, hingga menjadi bagian dari aktivitas harian Anda.&lt;br /&gt;Keempat, tulislah sesuai dengan yang Anda pikirkan. Kegiatan menulis adalah mentransfer sesuatu yang ada dalam benak pikiran Anda. Walau kadang disertai mengutip, tetapi harus tetap melewati pikiran dan otak terlebih dahulu. Gunakanlah bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, setidak-tidaknya bagi Anda sendiri. Karena hasil tulisan harus bermanfaat, sekalipun untuk diri sendiri. Anda harus memakai logika yang jelas, pilihan kata yang baku, dan sedikit menarik perhatian.&lt;br /&gt;Kelima, ikutilah pemikiran Anda. Pada saat Anda menulis, pikiran dan ide harus dituangkan apa adanya sesuai dengan logika yang benar. Kalau butuh bandingan, pilihlah bandingan yang signifikan dengan fokus pikiran Anda. Carilah hubungan dengan sesuatu yang mungkin telah lebih dulu ditulis orang lain, tetapi cobalah tetap konsisten dengan pikiran yang Anda alami.&lt;br /&gt;Keenam, arahkan kembali perhatian Anda dengan pengubah fokus. Menulis selalu membutuhkan evaluasi, yaitu untuk melihat sampai sejauhmana tingkat ketajaman dan kelemahan dari fokus apa yang hendak ditulis. Bila perlu, komentari tulisan Anda sendiri sebagai bentuk perhatian anda terhadap tulisan yang sudah anda dilakukan. Sebelum menulis, ajukanlah sebuah pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu, agar dapat memompa pikiran dan merangsang gairah untuk menulis Anda.&lt;br /&gt;Dari keenam skenario tersebut, hanyalah sebuah teori saja. Yang penting adalah kita perlu mencoba dan membuktikan apakah dengan menulis mampu membuat otak kita cerdas. Tentu saja, butuh keberanian dan keajegan (istiqamah) agar apa yang dilakukan  tidak menambah beban pikiran, yang justru akan menyebabkan stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7434401149359892464?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7434401149359892464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/mengasah-kecerdasan-otak-dengan-menulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7434401149359892464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7434401149359892464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/mengasah-kecerdasan-otak-dengan-menulis.html' title='Mengasah Kecerdasan (otak) dengan Menulis'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-2669717691141821197</id><published>2010-05-25T14:18:00.002+07:00</published><updated>2010-05-25T14:20:35.869+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah Islam'/><title type='text'>Relung-relung Sejarah Islam</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISLAM adalah agama yang menarik perhatian banyak orang. Islam tidak sekadar doktrin perintah dan larangan, melainkan juga mengandung sumber peradaban yang amat tinggi. Ungkapan HAR. Gibb, misalnya, bahwa “Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap”. &lt;br /&gt;Meski Islam lahir di tanah Arab yang dipengaruhi oleh sistem budaya yang kuat, akan tetapi ia dapat menembus batas kultural, etnis serta geografis ke luar Arab. Kelenturan Islam menjadi daya tarik setiap orang. Misi Islam, selain membebaskan diri dari sekat-sekat kelas sosial, juga memberi kesempatan yang sama antar sesema manusia.&lt;br /&gt;Perjalanan Islam dari konteks Arab (masa awal) hingga kini (masa modern) tetap memperlihatkan karakteristik yang sama. Pedoman al-qur’an dan sunnah, serta rasulnya tetap sama. Mungkin, yang terlihat berubah adalah cara orang menafsirkan doktrin. Sebab, realitas masa lalu berbeda dengan realitas sekarang.&lt;br /&gt;Syed Mahmudunnasir (2006) menghadirkan tiga kajian Islam, yaitu prinsip Islam, aspek sejarah dan doktrin Islam. Ketiga kajian ini memang tidak boleh dipisah-pisahkan satu sama lain. Islam mengalami perkembangan yang pesat hingga ekspansi keberbagai penjuru dunia. Karenanya, kajian sejarah Islam pasti melibatkan aspek prinsip, sejarah dan doktrin.&lt;br /&gt;Selain prinsip dan doktrin Islam, kaum muslim juga harus mengerti aspek sejarahnya. Dengan memiliki kesadaran sejarah yang komprehensif diharapkan pandangan umat islam akan luas, luwes mempraktikkan doktrin dan prinsip ajaran Islam. Sejarah akan selalu bertalian dari satu fase dengan fase berikutnya. Agama Islam akan berdialektika dengan kehidupan zaman yang terus berubah dari sejak Islam turun hingga akhir zaman.&lt;br /&gt; Maju mundurnya umat Islam sangat ditentukan oleh sejarah. Sehingga perjalanan umat Islam sampai kapan pun sesungguhnya tidak terputus dari mata rantai sejarah masa silam. Karena itu, menafsir makna sejarah merupakan keharusan ilmiah bagi umat Islam. Sejarah adalah rekonstruksi realitas masa lalu, kini dan akan datang yang memiliki nilai dan makna yang amat berharga. &lt;br /&gt; Dalam konteks saat ini, kita butuh sebuah kesadaran yang tinggi dalam memperkaya keutuhan sejarah Islam itu. Sebab, jika dilihat dari substansinya, sejarah Islam sarat dengan aspek kronologis dan warisan peradaban yang sangat tinggi. Sejarah Islam memuat rekaman dinamika kehidupan umat Islam dari masa kenabian atau kerasulan,  Islam pra modern hingga modern dewasa ini.&lt;br /&gt;Mahmudunnasir melalui ” Islam; Its Concept and History” menyuguhkan tentang pertumbuhan peradaban Islam masa Rasulullah dan Khulafa’ al-Rasidun. Pada masa kerasulan merupakan suatu tahapan penting di mana Nabi dan para shahabatnya meletakkan dasar-dasar peradaban Islam di Jazirah Arab, khususnya di Makkah dan Madinah. &lt;br /&gt;Sementara era kekhalifahan, dapat diidentikkan dengan keberhasilannya yang disebut “ekspansi” atau perluasan daerah kekuasaan umat Islam. Namun akhirnya masa lebih dipengaruhi oleh suhu politik yang semakin memanas sehingga tidak dapat dibendung, sampai akhirnya membawa pada ‘skisme’ (perpecahan) di kalangan umat Islam sendiri.&lt;br /&gt; Selanjutnya, dikupas mengenai perkembangan peradaban Islam masa Banu Umaiyyah dan Abasiyah. Peradaban Islam pada masa ini disebut juga dengan sistem dinasti (kerajaan) yang secara turun temurun kekuasaan didasarkan pada keturunan raja. &lt;br /&gt;Banyak bentuk-bentuk kemajuan yang diperoleh dari kedua sistem dinasti tersebut, seperti lahirnya ilmuan-ilmuan muslim atau filosof muslim; lahirnya fatwa-fatwa hukum Islam (mazhab), munculnya aliran-aliran dalam Islam; khawarij, murjiah, syi’ah, jabariyah, qadariyah, mu’tazilah dan asy-Ariyah.&lt;br /&gt;Di samping itu, upaya kodifikasi hadits yang dilakukan pada dinasti Umar ibn `Abd Aziz telah memperlihatkan kemajuan berpikir yang menangkap pesan Islam harus merujuk pada bukti-bukti otentik. Penerjemahan karya-karya Persia dan Yunani di masa al- Ma’mun, yang di wujudkan dengan pendirian laboratorium Bait al- Hikmah juga merupakan karya terbesar sepanjang sejarah perabadan umat Islam. Dan masih banyak lagi dinamika sejarah umat Islam yang monumental setelah itu.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-2669717691141821197?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/2669717691141821197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/relung-relung-sejarah-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2669717691141821197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2669717691141821197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/relung-relung-sejarah-islam.html' title='Relung-relung Sejarah Islam'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-6193165431103982670</id><published>2010-05-24T14:20:00.000+07:00</published><updated>2010-05-25T14:34:40.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Agama dan Eksistensi Tuhan</title><content type='html'>Mujtahid &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESADARAN masyarakat Barat dalam menelusuri eksistensi Tuhan tak pernah mengalami titik akhir. Tidak saja menggunakan kerangka agama sebagai sarana pencariannya, tetapi sains merupakan cara mutakhir untuk menapaki jati diri Tuhan yang sebenarnya dengan menguji dan meneliti kreasi-Nya melalui hasil penciptaan di alam semesta ini.&lt;br /&gt; Berbagai karya dari sarjana, intelektual, dan ilmuan Barat telah menjadikan “sains” sebagai sebuah mediasi efektif untuk menemukan nilai kebenaran sejati yang tiada tara, yakni Tuhan. Dengan ketajaman rasio dan metodologi yang mumpuni, mereka dapat mencari keberadaan sang khalik dengan jalan dan sudut pandang sains yang dimilikinya.&lt;br /&gt; Ian G Barbour misalnya, melalui karyanya memaparkan sebuah pergulatan ‘komunitas elit intelektual’ yang selama ini tak pernah berhenti ingin “menemukan” Tuhan. Sebuah pergolakan positif tentang hadirnya kembali kesadaran “ber-Tuhan” dengan memakai pendekatan kolaboratif yaitu agama dan sains sebagai basis mediatornya. Selama ini, Tuhan cenderung dipahami dari sisi normatif, yang akhirnya Tuhan itu terkesan ‘melangit’ sehingga jarang berbenturan dengan apa yang ada di ‘bumi’. Padahal semua yang tampak di muka bumi ini sesungguhnya bagian dari ‘wajah Tuhan’ itu sendiri.&lt;br /&gt; Sains dengan segala objektifitasnya melahirkan suatu pandangan tentang ‘konsep Tuhan’ yang nampaknya lebih mudah dipahami oleh manusia. Walaupun secara tekstual (wahyu), Tuhan secara jelas dapat ditemukan dan harus diyakini, tetapi nuansanya agak kurang memuaskan jika tanpa ditopang oleh sarana ilmiah (sains). Karena saat ini, bahwa konsep Tuhan itu tidak sekadar hanya cukup dirasakan secara batini, melainkan juga bisa diterima dan memuaskan secara akal sehat. &lt;br /&gt;Tak kalah menariknya, kini ada sebuah pesepsi dan apresiasi baru, bahwa eksistensi Tuhan adalah kekuatan supranatural yang tidak bisa digantikan dengan apapun sepanjang hidup dan zaman. Sains yang dulu dianggap mampu menggantikan Tuhan (agama), belakangan ini ia justru berubah menjadi sebuah bentuk ‘ancaman’ bagi keselamatan manusia. Atas dasar inilah Tuhan merupakan sosok yang terus-menerus tak pernah dilupakan manusia.&lt;br /&gt; Secara kodrati, manusia diciptakan dan dididik oleh Tuhan. Manusia ditugasi hanya untuk memikirkan sesuatu ciptakan-Nya dan bukan malah memikirkan yang mencipta. Karena itu, Barbour merekomendasikan bahwa agama atau risalah Tuhan, merupakan sumber ajaran yang sejatinya menjadi pegangan, pedoman dan orientasi hidup serta sebagai jalan keselamatan. Hampir tak ada satu pun agama di dunia ini, yang mengajarkan bahwa Tuhan itu menyesatkan makhluknya, melainkan justru membimbingnya ke jalan yang lurus dan terhormat. Kalau toh manusia tersesat, itu merupakan kesalahannya sendiri karena tidak mau terikat oleh agama.&lt;br /&gt;Barbour menegaskan bahwa agama dan sains terjadi suatu hubungan integralistik. Baik agama maupun sains, keduanya selalu melengkapi satu sama lain. Agama tidak bisa meyingkirkan sains, dan sains juga tidak bisa meninggalkan agama. Seperti kata fisikawan besar, Albert Einsten yang terkenal dengan semboyan “Religion without science is blind; science without religion is lame” Tanpa sains, agama menjadi buta, dan tanpa agama, sains menjadi lumpuh. &lt;br /&gt;Merujuk pada ungkapan Albert Einsten tersebut, kini perkembangan sains mutakhir, gagasan mengenai Tuhan mulai kembali mendapat tempat. Seperti yang terungkap pada kerangka teoritisasi mutakhir melalui fisika kuantum, astrofisika, biologi molekuler, rekayasa genetika, hingga neurosains mempunyai implikasi teologis yang semakin positif. &lt;br /&gt;Peta perkembangan mutakhir ini, kata Barbour, bahwa ada sebuah keinginan sains memberi kesempatan Tuhan agar ‘dirujukkan’ ke dalam hakikat-Nya. Dan fenomena ini disambut antusias oleh para ‘teolog progresif’, khususnya di kalangan Kristen. Melalui teolog progresif inilah lahir sebuah teologi baru yang disebut teologi proses. Yakni suatu pandangan utama, yang seperti, diformulasikan oleh Charles Hartshorne sebagai hasil pengaruh dari filsafat proses Alfred Whitehead.&lt;br /&gt;Sebagai guru besar fisika dan teologi Carleton College Amerika, Barbour menyerukan agar terjadi sebuah integrasi sains dan agama berdasarkan teologi proses tersebut. Karena itu, melalui hasil-hasil temuan sains mutakhir kini menjadikan bukti dan landasan kuat eksistensi Tuhan. Dan berdasarkan teologi proses, dari hasil-hasil pencapaian sains mutakhir tersebut dijadikan sebagai jalan untuk mengintegrasikan sains dan agama.&lt;br /&gt;Dari kaca mata teologi proses, bahwa Tuhan sesungguhnya telah “menghadiahkan” ilham pada makhluknya agar bertindak secara mandiri dengan kemampuan energi kreatifnya. Manusia memiliki qudrah (kreasi) guna menelusuri misteri yang terkandung di alam jagad raya ini. Antara kreasi Tuhan dan kreasi manusia sejatinya sama, akan tetapi jika terjadi benturan maka kreasi manusia harus di “rujukkan” kembali pada kreasi pertama (Tuhan).&lt;br /&gt;Apa yang ditawarkan Barbour merupakan konsepsi teologi proses untuk melihat kesejatian hubungan antara sains dan agama. Sains yang diidentikkan dengan rasio tak selamanya bersebrangan dengan agama. Karena Tuhan sendiri yang menciptakan rasio dan sekaligus agama. Keeratan relasional antara sains dan dan agama semakin menunjukkan eksistensi Tuhan benar-benar tidak pernah menciptakan sesuatu ini bertolakbelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-6193165431103982670?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/6193165431103982670/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/agama-dan-eksistensi-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6193165431103982670'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/6193165431103982670'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/agama-dan-eksistensi-tuhan.html' title='Agama dan Eksistensi Tuhan'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7578369228675258706</id><published>2010-05-23T09:07:00.000+07:00</published><updated>2010-05-26T09:08:08.812+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Jalan Memahami Islam</title><content type='html'>Mujtahid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJAK dulu, umat Islam dalam memahami ajaran Islam tak pernah surut. Segala potensi dan metodologis digunakan untuk memberi jalan kemudahan mengenal Islam dari dalam. Singkatnya, banyak jalan bagaimana memahami Islam secara utuh dan komprehensif.&lt;br /&gt; Islam adalah denyut nadi yang mensejarah sepanjang peradaban manusia. Sampai kapan pun, Islam tak pernah kering dari perhatian orang. Studi-studi agama menempatkan Islam sebagai kajian menarik yang dilakukan setiap orang. Lebih dari itu, kini Islam di Barat menjadi perhatian orang-orang yang tengah kehilangan pegangan hidup yang pasti. Tidak sedikit, orang Barat tertarik mempelajari Islam, bahkan memeluknya sebagai pegangan hidup.&lt;br /&gt; Intensitas pengkajian terhadap Islam sungguh di luar dugaan. Tidak saja di pesantren-pesantren, sebagai basis mendalami ajaran Islam, melainkan di perguruan tinggi ramai mempelajari Islam. Meski ajaran Islam terkesan doktriner dan final, tetapi justru membuat banyak orang tertarik melakukan pengkajian terhadapnya. Cara pandang seseorang pun bisa berbeda, orang awam berbeda dengan kaum cendikiawan, orang kaya berbeda dengan orang miskin, politikus berbeda dengan ekonom, dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt; Memang, dari dulu ajaran Islam tetap sama. Namun setiap kepala berbeda mengartikulasikan Islam. Hal ini karena Islam mengandung nilai universalitas yang cukup memberi peluang setiap pemeluknya untuk berbeda. Meski berbeda memahami Islam, semangat untuk menghayati dan mengamalkan Islam justru semakin dinamis. Hal ini bisa terlihat dari semangat banyaknya organisasi Islam yang tak pernah sepi dari upaya kreatif memahami Islam.&lt;br /&gt; Kita mengajak pembaca untuk melakukan sebuah refleksi baru mengenai apa yang disebut Kuntowijoyo sebagai “reinterpretasi ajaran Islam”. Tugas ini merupakan suatu keniscayaan, sebagai salah satu upaya dalam rangka peningkatan kualitas dakwah dan pendidikan Islam, baik dilingkungan formal, informal, maupun nonformal. &lt;br /&gt; Salah satu tugas dakwah dan pendidikan Islam yang paling berat adalah “mengislamkan orang-orang Islam”. Tantangan ini semakin gamblang ketika penelitian Martin Van Bruinessen menyebutkan bahwa orang Islam yang masuk ke nusantara ini cenderung bercorak kefiqhian. Realita sejarah seperti itu, disadari atau tidak, telah membentuk karakter Islam tersendiri. Sehingga oleh Nurcholis Madjid menyebutnya dengan Islam Indonesia, sebuah ciri khas Islam lokal.&lt;br /&gt; Islam perlu dihadirkan kembali sesuai dengan sejatinya. Berbagai alternatif memahami Islam banyak ditampilkan cendikiawan muslim. Apalagi Islam masuk ke nusantara banyak melewati babakan sejarah panjang dengan berbagai motif budaya lokal yang kental. Tidak ada cara lain kecuali menerjemahkan kembali Islam sebagai ajaran murni sesuai dengan petunjuk kitab suci. Pendek kata, perlu semacam recoveri strategi dalam memahami Islam yang betul-betul otentik dari sumber aslinya. &lt;br /&gt;Memahami ajaran Islam membutuhkan rujukan aslinya. Dari sumber itu baru dapat dipahami secara korelatif, integratif dan berkesinambungan. Dengan melibatkan berbagai pendekatan (interdisipliner), secara utuh Islam dapat dipahami lebih terbuka dan kontekstual sesuai dengan tingkat peradaban umat manusia.&lt;br /&gt;Aktualisasi ajaran Islam adalah penting. Hal ini seperti pesan Qur’an maupun hadits yang menyuruh umat Islam agar selalu mengerahkan ‘aql atau pemikiran dan sekaligus menyesuaikan perkembangan dan perubahan zaman.&lt;br /&gt;Islam sebagai agama sekaligus doktrin, setidaknya ada tiga hal yang pertu dipetik, yakni Islam sebagai sumber kekuatan dan keyakinan spiritual, Islam sebagai wawasan dan pandangan hidup (world view) dan Islam sebagai komitmen hidup dan perjuangan. Pemahaman seperti inilah akan memberikan jawaban terhadap persolaan di tengah tantangan kehidupan manusia dewasa ini. Islam menjadi petunjuk yang selalu up to date sepanjang masa. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, dosen Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7578369228675258706?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7578369228675258706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/jalan-memahami-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7578369228675258706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7578369228675258706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/jalan-memahami-islam.html' title='Jalan Memahami Islam'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-4156706112795038036</id><published>2010-05-22T15:41:00.000+07:00</published><updated>2010-05-25T15:42:02.681+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Menuju Rektualisasi Ajaran Islam</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ISLAM adalah agama monoteisme yang mengandung ajaran paling lengkap. Sampai-sampai HAR. Gibb menyatakan “Islam sesungguhnya bukan hanya satu sistem teologi semata, tetapi ia merupakan peradaban yang lengkap”. Pernyataan di atas, berarti Islam merupakan agama yang aktual, relevan dengan segala urusan manusia.&lt;br /&gt;Islam tidak pernah sepi dan padam dari pandangan hidup (way of life). Islam diturunkan memang bertujuan agar menjadi pegangan dan keyakinan hidup manusia di muka bumi ini. Karena sifat dasarnya yang demikian, maka kaum pemikir Muslim, bahkan sebagian non Muslim- tertarik mempelajari Islam. Akhirnya, berbagai metodologis muncul hanya semata-mata untuk memudahkan memahami Islam. &lt;br /&gt;Untuk memaknai Islam memang butuh pendekatan atau metode yang tepat agar proses mempelajari Islam dan penghayatan dan pengamalannya dapat aktual. Umat Islam perlu menengok kembali keberagamaannya dengan cara memahami Islam secara up to date. Dengan begitu, Islam menjadi lebih bermakna bagi kehidupan, baik secara individu maupun komunitas sosial.&lt;br /&gt;Kehadiran Islam di muka bumi ini membawa misi atau tujuan tertentu bagi manusia. Ajaran Islam memuat banyak pesan normatif serta mengandung sarat nilai-nilai ilahiyah yang permanen maupun immanen. Sebab, Islam adalah sumber peradaban manusia. Dari hakikat inilah, seharusnya umat Islam lebih kreatif mempelajari ajaran Islam dengan tiada henti.&lt;br /&gt;Dewasa ini, Islam baik secara doktriner maupun institusional, menjadi kajian menarik. Pengkajian itu ada yang secara bersifat formal maupun nonformal. Secara formal, seperti dilakukan di dunia akademis (pendidikan), sedangkan nonformal seperti lewat pengajian-pengajian dakwah kultural di majelis, kampung, masjid dan tempat-tempat lain. &lt;br /&gt;Beberapa kecenderungan mutakhir menunjukkan bahwa Islam merupakan salah satu lahan studi agama-agama di pelbagai universitas-universitas yang membuka studi konsentrasi agama. Selain itu, kini terlihat hampir setiap bidang keilmuan di dunia akademis Islam selalu mengkaitkan dengan perspektf Islam. Jadi, dengan ramainya orang memahami Islam, baik secara personal maupun kolektif, berarti sangat positif menambah angin segar terhadap perkembangan Islam. &lt;br /&gt;Dulu, dalam masyarakat kita, kalau ingin mempelajarai Islam secara mendalam harus masuk ke sebuah pesantren. Nah, sekarang Islam tidak lagi identik dengan pesantren, tetapi setiap lembaga-lembaga pendidikan telah menempatkan Islam sebagai materi pokok yang wajib di pelajari oleh setiap peserta didik Muslim, mulai dari tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi. &lt;br /&gt;Meski sudah empat belas abad ajaran Islam dilahirkan, ia tetap memerlukan pemahaman yang cerdas dan kritis. Sebab, tanpa pemahaman yang cerdas dan kritis akan mengakibatkan ummat Islam terjerembab kepada pemahaman dan pengamalan yang keliru. &lt;br /&gt;Kehadiran Islam sesungguhnya cocok bagi siapa saja. Tidak mengenal perbedaan tempat, status, usia maupun jenis kelamain. Siapa saja boleh mempelajari Islam asal tujuannya baik dan benar. Anjuran belajar seperti yang terungkap dalam salah sastu hadits ditujukan kepada semua manusia dengan tidak mengenal perbedaan.&lt;br /&gt;Menyadari bahwa Islam sampai kapan pun, bisa dipelajari dengan metode berbeda, maka Islam harus relevan dengan perubahan zaman. Karenanya, reinterpretasi ajaran Islam merupakan keharusan ilmiah yang tidak boleh surut dari perhatian umat Islam. Sebab, hal ini menjadi tanggungjawab setiap seorang Muslim. Jika dapat dilakukan, maka kualitas dakwah dan pendidikan Islam akan jauh lebih baik.&lt;br /&gt;Hingga kini, tantangan terberat tugas dakwah dan pendidikan Islam adalah bagaimana cara mengislamkan orang-orang Islam. Aneh rasanya, tetapi bukan tanpa sebab. Pemikir-pemikir ternama menyuguhkan bukti bahwa Islam masuk ke wilayah ini memang cenderung bercorak fiqh. Seperti yang diakui oleh Van Bruinessn dan Nurcholish Madjid, bahwa kedatangan Islam ke Nusantara sangat toleran dengan budaya lokal, bahkan sebagian jaran tercampur (sinkritisme) dengan sistem kepercayaan nenek moyang. Jadinya, Islam selain cenderung sangat kefiqhian, juga terkontaminasi dengan budaya lokal.&lt;br /&gt;Melihat corak Islam yang demikian ini, memunculkan ghirah penulis untuk menghadirkan kembali Islam yang sesuai dengan ajaran pokoknya. Meski sudah sering dilakukan pemikir Muslim sebelumnya, namun pekerjaan mempelajari Islam adalah tugas yang tak pernah berhenti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-4156706112795038036?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/4156706112795038036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/menuju-rektualisasi-ajaran-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4156706112795038036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/4156706112795038036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/menuju-rektualisasi-ajaran-islam.html' title='Menuju Rektualisasi Ajaran Islam'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-7968984298247097176</id><published>2010-05-21T13:59:00.001+07:00</published><updated>2010-05-26T09:14:54.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Kawin Beda Agama dalam Perspektif Islam</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKAWINAN adalah ekspresi percintaan dua insan yang paling beradab. Namun dalam konteks Indonesia dua insan yang punya keyakinan berbeda seringkali tidak dapat mewujudkan impiannya. Atas dasar beda agama, mengakibatkan tali percintaan mereka  kandas ditengah jalan.&lt;br /&gt; Larangan tentang kawin lintas agama memang sempat menjadi perdebatan para ulama’ sejak zaman dulu. Sumber larangan sekaligus sebaliknya sesungguhnya berakar dari doktrin (teks al-qur’an). Dari situlah para mufassir, fuqaha’ (ahli fiqh) dan majelis Ulama Indonesia memulai menimbang dan menfatwakan pengharaman kawin beda agama. &lt;br /&gt; Menyikapi penafsiran tersebut, Suhadi (2006) melakukan penelitian dengan pendekatan dekonstruksi konsep kawin lintas agama dengan meminjam teori kritik nalar Islam Arkoun. Hasil penelitiannya mengangkat wacana agama yang lebih damai, humanis dan sekaligus membela kepentingan agama dan manusia.&lt;br /&gt; Menurut Suhadi, larangan praktik kawin lintas agama sering diwarnai suhu politik agama. Masalah kawin lintas agama, umat Islam telah lama terkungkung dalam apa yang disebut sebagai “nalar politik-agama”. Suasana demikian ini hingga berakibat tidak melahirkan nalar religi yang positif.&lt;br /&gt; Untuk konteks Indonesia, larangan kawin beda agama digulirkan sejak tahun 1970-an. Berbegai keputusan yang sifatnya memberikan pedoman bagi masyarakat Islam Indonesia mencapai pada puncaknya dengan dikeluarkannya fatwa MUI pada 1 Juni 1980. Setelah keputusan ini ditetapkan, juga diikuti oleh ormas-ormas Islam dan para ahli hukum Islam Indonesia.&lt;br /&gt; Ideologi dan kepentingan yang ada pada larangan kawin lintas agama semakin transparan dalam pelacakan Atho Mudzhar yang menyingkap bahwa sebenarnya dikeluarkannya fatwa MUI itu didorong oleh keinsyafan akan adanya persaingan (soal kuantitas pemeluk) agama. &lt;br /&gt; Dasar inilah secara tersirat menjadi ide mengapa sampai MUI mengeluarkan fatwa larangan kawin lintas agama. Atho Mudzhar dalam penelitiannya menemukan bahwa karena persaingan itu sudah dianggap rawan bagi pertumbuhan masyarakat muslim, maka kawin lintas agama harus ditutup sama sekali.&lt;br /&gt; Bertambahnya jumlah pemeluk agama lain menimbulkan kekhawatiran tersendiri dikalangan Islam politik dan memberi kontribusi bagi munculnya ketegangan hubungan antaragama. Dalam kacamata pemerintah, hubungan antaragama memiliki peran besar dalam &lt;br /&gt; Pada masa Orde Baru, pemerintah sangat jeli melihat potensi ketegangan masalah ini. Kekhawatiran akan memanasnya pasar konversi agama ini pernah menjadi pendorong pemerintah untuk mengumpulkan kelompok antaragama di Jakarta pada November 1967 agar semua agama membuat pernyataan untuk tidak mengincar umat agama resmi lain dalam upaya mengajak orang tersebut masuk agamanya.&lt;br /&gt; Kawin lintas agama yang seringkali menyeret muslim pindah agama telah menimbulkan ketakutan tersendiri dikalangan ulama. Sehingga para ulama merasa dirinya harus menjaga agar jumlah umat Islam tidak semakin berkurang dengan cara melarang kaum muslim kawin beda agama. Ketakutan para elit Islam semakin nyata karena fatwa MUI itu sebagai tindakan preventif yang terlembagakan dalam sistem pemerintahan yang notabene-nya mengakomodasi semua golongan umat Islam.&lt;br /&gt; Alasan yang melatari pelarangan kawin lintas agama itu disebabkan oleh ideologi dan kepentingan agama. Fatwa MUI di atas merupakan konstruksi awal sebagai upaya preventif mengurangi perpindahan agama. Kepentingan ini dibangun dalam suasana perebutan jumlah pemeluk agama, khususnya antara Islam dan Kristen.&lt;br /&gt; Konstruksi larangan kawin lintas agama yang bermula sebagai diskursus sipil, kemudian bergeser menjadi diskursus kekuasaan, setelah berlangsungnya kontestasi antara Islam politik dan Kristen politik untuk menjadikan negara sebagai lokus kontestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-7968984298247097176?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/7968984298247097176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/kawin-beda-agama-dalam-perspektif-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7968984298247097176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/7968984298247097176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/kawin-beda-agama-dalam-perspektif-islam.html' title='Kawin Beda Agama dalam Perspektif Islam'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3199925506919825277.post-2377452579437967816</id><published>2010-05-20T14:17:00.000+07:00</published><updated>2010-05-23T14:21:30.128+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Transnasionalisasi Masyarakat Sipil</title><content type='html'>Mujtahid*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASYARAKAT sipil bukanlah institusi yang berorientasi pada kekuasaan dan bertujuan maksimalisasi kapital. Kelompok ini lahir dari rahim kesadaran untuk memperjuangkan nilai-nilai universal manusia yang tidak melihat pada perbedaan bangsa, status sosial, ekonomi, ideologi, agama, dan identitas primordial lainnya.&lt;br /&gt;Kehadiran masyarakat sipil diidentifikasi sebagai pilar utama yang mendukung kelancaran proses transisi demokrasi serta mampu mengurangi akibat sifat negatif dari isu global. Peran masyarakat sipil sebagai pilar demokrasi terlihat dari kesadaran yang kuat dalam memberdayakan individu dalam masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya dan menggerakkan proses politik global ke arah yang lebih partisipatoris. &lt;br /&gt;Sebagai pilar demokrasi, peran masyarakat sipil mengedepankan nilai-nilai edukatif yang menjunjung tinggi organisasi masyarakat sipil melalui pemberian informasi yang akuntable dan tranparan. Karena dengan meningkatnya partisipasi publik dapat meningkatkan awareness rakyat terhadap proses demokratisasi yang tengah berlangsung. &lt;br /&gt;Menurut Andi Widjajanto, organisasi masyarakat sipil dapat memunculkan isu-isu krusial dan temporal yang perlu didiskusikan, misalnya isu lingkungan, hak asasi manusia dan kemiskinan yang nantinya dapat disuarakan kepada pemerintah agar membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt;Selain itu, dapat digambarkan bahwa masyarakat sipil juga dapat memobilisasi rakyat untuk memaksa pemerintah lebih transparan dalam menjalankan pemerintahan serta melakukan pemantauan terhadap implementasi dan akibat yang ditimbulkan dari sebuah kebijakan yang diambil ditingkat global.&lt;br /&gt;Peran masyarakat sipil dalam sebuah negara baru dapat optimal jika tersedia sistem sipil yang mampu mengartikulasikan kebutuhan dan kepentingan kelompok masyarakat secara santun (civilized) dan tersedia aturan main yang menjaga keseluruhan proses dalam koridor dinamika sosial yang tidak mengabaikan hak-hak fundamental individu dan komunitas.&lt;br /&gt;Peran civil society merupakan salah satu pilar penting dalam transisi demokrasi yang dapat terukur karena aktivitas-aktivitas yang dilakukannya mampu membawa rakyat akar rumput ke arah yang lebih partisipatoris. Menurut Linz dan Alfred Stepan, untuk mempetegas peran civil society sebagai pilar utama demokrasi dengan memetakan peranan yang dimiliki oleh masyarakat sipil dalam arena-arena demokratisasi. Mereka membedakan transisi dan konsolidasi demokrasi dalam proses demokratisasi, dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam berbagai arena pada tahapan konsolidasi demokrasi.&lt;br /&gt;Masyarakat sipil mempunyai kemampuan untuk meningkatkan partisipasi rakyat dan membuat suara dari “bawah” lebih terdengar, dengan memunculkan diskusi baru yang sebelumnya tidak diperhitungkan sebagai masalah-masalah politis seperti kekerasan dan hak penduduk asli terhadap tanah leluhurnya.&lt;br /&gt;Manifestasi masyarakat sipil yang paling terlihat dan berpengaruh di antara bentuk masyarakat sipil yang lain adalah lembaga swadaya masyarakat atau organisasi nonpemerintah yang lebih dikenal dengan Organisasi Masyarakat Sipil.&lt;br /&gt;Dalam tahapan demokratisasi yang terkait dengan aktifitas donor, organisasi civil society dapat berperan ganda, yaitu sebagai “penyalur” bantuan dan pemberi bantuan itu sendiri. Suatu permasalahan di tingkat lokal bisa menyebar dengan cepat serta menjadi sebuah permasalahan yang mendapat perhatian masyarakat di tingkat global. Isu demokratisasi dan transisi pemerintahan suatu negara ke bentuk yang lebih demokratis menjadi salah satu isu populer di tingkat global.&lt;br /&gt;Fenomena demokrasi serta menguatnya kesadaran sipil pada tingkat global merupakan aspek terpenting dalam perjalanan demokrasi terutama di dunia ketiga yang kebetulan menjadi proyek “mercu suar” dan program PBB. Pada tingkat dunia, melalui fungsi akuntabilitas demokratik, organisasi masyarakat sipil juga dapat mendorong otoritas ditingkat global agar lebih bertanggungjawab terhadap publik atas tindakan dan kebijakan yang telah diambilnya. &lt;br /&gt;Membangun demokrasi suatu bangsa bukannya tanpa rintangan dan halangan. Sebab dari sejumlah pengalaman banyak negara, demokrasi merupakan jalan berliku dan penuh duri yang membutuhkan terobosan manajemen gerakan dari aktor organisasi masyarakat sipil. &lt;br /&gt;Untuk menggerakkan organisasi masyarakat sipil, sendi-sendi demokrasi dapat dibangun di atas kepentingan kolektif dengan mempertimbangkan aspek-aspek pluralitas. Warna keragaman itu harus dijaga karena di dalamnya terdapat perbedaan partai, suku, agama, status pendidikan dan sosial, demi percepatan proses pembangunan suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Mujtahid, Dosen UIN Maliki Malang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3199925506919825277-2377452579437967816?l=mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/feeds/2377452579437967816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/transnasionalisasi-masyarakat-sipil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2377452579437967816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3199925506919825277/posts/default/2377452579437967816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mujtahid-komunitaspendidikan.blogspot.com/2010/05/transnasionalisasi-masyarakat-sipil.html' title='Transnasionalisasi Masyarakat Sipil'/><author><name>Mujtahid</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06831835229595170415</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='26' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_5CdSzW1u2IU/TQRLHNbd9nI/AAAAAAAAADA/qtrQI8u0-IM/S220/100_5559-1.jpg'/></author><thr:total>0</th
