Selasa, 13 Oktober 2015



Menjadi Penulis itu (Sungguh) Menguntungkan dan Mencerdaskan
  

SETIAP penulis pemula, sedikit banyak pasti pernah merasakan rasa minder dan tidak percaya diri. Apalagi, ketika tulisan dibaca banyak orang. Hal ini wajar saja. Namanya juga pemula, segala sesuatu serba amatir, namun setelah lama kelamaan juga akan terbiasa. Bahkan, akhirnya bisa menilai kadar kualitas tulisannya sendiri. Dulu ketika mengawali menulis, saya juga merasakan begitu. Tetapi setelah belajar dan melakukannya terus menerus akhirnya rasa itu mulai berkurang. Yang penting dijaga dalam menekuni menulis adalah bagaimana cara membangkitkan ruh menulis itu.

Hampir setiap penulis, pasti pernah mengalami saat-saat menghadapi keletihan atau kevacuman. Apalagi tulisannya sering tertolak terus oleh media, bagi yang memang tulisannya untuk publikasi media. Nah, yang seperti ini kalau tidak didorong oleh ruh menulis yang kuat, bisa-bisa kita berhenti menulis, akhirnya jadi “mantan penulis”.

Pengalaman ditolak media adalah hal biasa yang dialami oleh penulis. Ditolak ataupun diterima oleh media massa merupakan konsekuensi logis yang harus tetap disyukuri, karena kita telah melalukan refleksi otak yang itu justru menyehatkan ruhani dan menunda kepikunan. Yang terpenting adalah membangun motivasi diri agar tetap meluangkan kesempatan menulis untuk menyalurkan ide/gagasan agar menyumbangkan jalan pemecahan untuk orang lain. Karena itu janganlah sampai berhenti menulis, sebab menulis itu bagian dari aktivitas hidup.

Lalu mengapa kita terus-terusan ngotot menulis, sedangkan beberapa tulisan sebelumnya tidak dimuat media. Alasannya yaitu kita harus menerima kegagalan, tetapi butuh keyakinan kuat akan bisa dan tanpa takut. Jadilah diri Anda seperti Napoleon Hill, Patih Gajah Mada, K.J. Rowling, mereka ini tergolong orang yang ngotot dan akhirnya sukses menyulap sesuatu yang tidak nyata menjadi kenyataan. Artinya, bekal keyakinan kuat dan dibarengi usaha kreatif (ikhtiar) itu sangat penting dan menentukan kesuksesan seseorang.

Menulis = Investasi
Dalam setiap diri sebenarnya sudah ada ruh menulis. Tapi ruh itu perlu terlebih dahulu dibangunkan, dikelola, dan diperkuat. Membangunkan, mengelola dan memperkuat ruh menulis memang butuh rangsangan untuk membangkitkan motivasi yang tinggi. Yaitu dengan cara membaca tulisan orang lain, mengunjungi pameran atau toko-toko buku, terlibat pada diskusi-diskusi/seminar.

Banyak keuntungan yang diperoleh jadi penulis. Kalau jadi penulis berarti tergolong manusia langka. Bukan persoalan bakat,-seperti yang sering diomongkan orang- tetapi menulis merupakan aktivitas langka dan unik. Artinya, tidak semua orang bisa melakukannya, bukan karena sulit tetapi lebih disebabkan kebiasan dan keberanian saja. Dalam pandangan psikologis, masalah bakat atau minat hanya sepuluh persen saja, selebihnya adalah usaha berlatih dan kerja keras.

Keuntungan lainnya adalah pekerjaan menulis sama halnya dengan investasi atau menabung. Berbeda dengan menabung di bank, menabung tulisan akan jauh lebih besar manfaatnya. Selain yang ditabung berupa pengetahuan dan keahlian, menulis sebenarnya sama dengan menabung uang. Semakin kita produktif menulis, berati semakin berpeluang saldo tabungan kita bertambah besar. Pengalaman ini sudah pernah saya buktikan bertahun-tahun dan memang buktinya sangat riil.

Selain keuntungan tersebut, bahwa menulis merupakan sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Semangat berbagi merupakan ajaran mulia Islam. Bahkan, wahyu yang turun pertama kali memerintahkan agar kita membaca. Maknanya adalah kita diperintah untuk membaca gejala sosial/alam, yang itu merupakan anugerah ilahi untuk dieksplorasi melalui penelitian atau tulisan. Melalui kerja menulis inilah transformasi peradaban dan kebudayaan ini dapat berkembang secara cepat.


Penulis = Genius

Guru selalu mengatakan kepada para muridnya “menulis adalah berpikir”. Para guru yang mencoba membuai mereka itu meyakini bahwa apabila mampu berpikir lebih jelas dan menggunakan bahasa percakapan sehari-hari, maka menulis dapat mengekspresikan pikiran, ide, gagasan, unek-unek di atas kertas maupun di unggah di media elektronik.

Nas
ihat guru di atas, bisa menjadi “guru” yang berharga bagi insan yang berjiwa penulis. Dengan sentuhan menulis, pikiran atau otak akan menjadi lebih hidup. Sebab menulis telah melibatkan banyak potensi-potensi psikis yang ada dalam diri manusia. Dan aktifitas seperti ini merupakan salah satu keterampilan atau keahlian langka yang dimiliki oleh orang lain. Lain halnya dengan bicara, sejak balita manusia sudah dilatih ngomong cas cis cus.

Menulis bukanlah sekadar merangkai huruf, frase dan kata-kata, melainkan cara untuk mengasah otak manusia agar jadi genius. Menulis merupakan pengerahan atas potensi pokok yang ada dalam benak pikiran/otak manusia. Menulis juga sebagai refleksi untuk mengubah dari sesuatu ide atau gagasan menjadi narasi ilmiah yang bisa dibaca dan dinikmati oleh banyak orang.

Kecerdasan otak (genius) adalah anugerah tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia. Tetapi, anugerah yang diberikan Tuhan tersebut tidak pernah ada dalam sekali jadi. Melainkan harus dibentuk dan diproses dengan sungguh-sungguh, berlatih secara terus menerus agar menjadi tumbuh dan berkembang. Seringkali sikap malaslah yang mengalahkan anugerah tersebut, sehingga sedikit saja orang yang dapat dipandang sebagai seorang yang benar-benar genius.

Mark Levy (2005) membuktikan kalau seseorang ingin genius dapat ditempuh melalui menulis. Seperti yang dikemukakan dalam karyanya yang berjudul “Menjadi Genius dengan Menulis.” Mark Levy mengajarkan pengalaman kepada kita tentang bagaimana cara memulai, menata dan mengembangkan cara menulis dengan cepat dan sistematis. Sekalipun berlatar-belakang pebisnis ternama, Levy tidak pernah berhenti menulis. Karena menulis merupakan kebutuhan untuk mengungkapkan pikiran dan berbagi pengalamannya kepada orang lain.

Mengapa menjadi genius harus dengan menulis? Karena menulis merupakan suatu aktivitas yang melibatkan banyak “pancaindra” manusia. Aktivitas menulis jelas memerlukan kesadaran tinggi dengan disertai penghayatan mendalam. Orang menulis tidak bisa sambil tidur atau pun ngelamun, melainkan harus dengan keadaan sadar dan didukung sistematika yang teratur.

Kegiatan menulis selalu diawali dengan memusatkan pikiran dan berimajinasi terlebih dahulu hingga menggerakkan organ jari-jari tangan. Inilah bedanya dengan ceramah, cerita atau dongeng. Jadi, keunikan menulis yaitu kegiatan alamiah yang menggerakkan otak, saraf, rasa, memory, serta organ fisik dalam diri manusia dalam waktu yang bersamaan.

Menurut Levy ada enam “skenario rahasia” membuat tulisan. Pertama, lakukanlah menulis dengan santai. Artinya, aktivitas menulis jangan sampai menghabiskan energi hingga ketahanan tubuh menjadi lemah dan jatuh pingsan. Justru dengan ketegangan yang tinggi biasanya menulis cenderung kurang mengalir (seret) dan sulit keluar ide-ide yang cemerlang.

Kedua, berlatih menulis dengan cepat secara terus-menurus. Menulis merupakan bentukan keterampilan yang dilakukan secara terus-menerus. Untuk menulis dengan cepat, Anda harus menyiapkan bahan yang memadahi untuk ditulis, dan reasoning itu sudah ada di benak dan pikiran Anda.

Ketiga, bekerjalah dengan tenggat waktu. Tenggat waktu menjadi sangat penting untuk membiasakan proses menulis. Mulailah dengan latihan menulis selama tiga menit, ambillah buku, majalah, koran atau mengakses media lainnya sebagai rangsangan untuk menghadirkan ide kembali. Tuangkan ide tersebut ke dalam tulisan yang sistematis dan enak dibaca. Setelah tiga menit, lakukanlah dengan menambah waktu yang cukup lama, hingga menjadi bagian dari aktivitas harian Anda.

Keempat, tulislah sesuai dengan yang Anda pikirkan. Kegiatan menulis adalah mentransfer sesuatu yang ada dalam benak pikiran Anda. Walau kadang disertai mengutip, tetapi harus tetap melewati pikiran dan otak terlebih dahulu. Gunakanlah bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, setidak-tidaknya bagi Anda sendiri. Karena hasil tulisan harus bermanfaat, sekalipun untuk diri sendiri. Anda harus memakai logika yang jelas, pilihan kata yang baku, dan sedikit menarik perhatian.

Kelima, ikutilah pemikiran Anda. Pada saat Anda menulis, pikiran dan ide harus dituangkan apa adanya sesuai dengan logika yang benar. Kalau butuh bandingan, pilihlah bandingan yang signifikan dengan fokus pikiran Anda. Carilah hubungan dengan sesuatu yang mungkin telah lebih dulu ditulis orang lain, tetapi cobalah tetap konsisten dengan pikiran yang Anda alami.

Keenam, arahkan kembali perhatian Anda dengan pengubah fokus. Menulis selalu membutuhkan evaluasi, yaitu untuk melihat sampai sejauhmana tingkat ketajaman dan kelemahan dari fokus apa yang hendak ditulis. Bila perlu, komentari tulisan Anda sendiri sebagai bentuk perhatian terhadap tulisan yang sudah Anda hasilkan. Sebelum menulis, ajukanlah sebuah pertanyaan-pertanyaan terlebih dahulu, agar dapat memompa pikiran dan merangsang gairah dalam menuangkan tulisan yang lebih segar dan tajam.

Dari keenam skenario tersebut, hanyalah sebuah teori saja. Yang penting adalah kita perlu mencoba dan membuktikan apakah dengan menulis mampu membuat otak kita cerdas (smart). Tentu saja, butuh keberanian dan keajegan (istiqamah) agar apa yang Anda lakukan tidak menambah beban pikiran, yang justru akan menyebabkan stres.
[]
Mujtahid, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)  UIN Maulana Malik Ibrahim Malang




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar